Happiness (Chapter 2)

Happiness.

Genre  : Romance.

Rating : NC-21

Cast     : Kim Myung Soo–Jung Eun Ji–other cast as showing.

Part 2

Myung Soo melirik jam tangannya yang terpasang rapi di pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir pukul 9 malam dan Eun Ji masih belum bicara. Untuk satu permintaan, Myung Soo yakin Eun Ji mempunyai berbagai penjelasan di dalamnya. Walaupun pada kenyataannya Myung Soo mengerti apa yang dimaksud Kyung Won. Hanya saja, alasan dan obat jenis apa yang Eun Ji pakai, ia tidak tahu menahu soal itu.

“Kapan kau akan mulai bicara?” Myung Soo mendapati dirinya bicara. Terdengar serak dan rendah. Hampir tidak mengenali suaranya sendiri.

Tidak ada jawaban. Eun Ji masih diam, larut dalam pikirannya sendiri dan menatap langit-langit apartemennya.

Sejak kedatangan Kyung Won ke tempat anak-anak pinggiran, Myung Soo menyadari perubahan raut wajah Eun Ji. Terutama setelah ia meminta penjelasan dari gadis itu. Ia hanya tidak ingin salah mengartikan sesuatu yang sangat-sangat-berbeda-dari-apa-yang-Eun-Ji-lakukan.

Kyung Won bilang Eun Ji selalu mengganti pasangannya setiap malam, pasangan dalam hal apa? Kyung Won bilang Myung Soo adalah korban Eun Ji yang selanjutnya, korban apa? Kyung Won bilang Eun Ji dapat menghubungi Kyung Won jika memang membutuhkan bantuan setelah memakai obat itu, bantuan dalam bentuk apa dan.. obat apa yang dimaksud Kyung Won?

Myung Soo mengacak rambutnya sendiri frustasi. Terlalu banyak ‘kata Kyung Won’ di pikirannya. Bagaimana pun, yang ia butuhkan adalah ‘kata Eun Ji’ bukan ‘kata Kyung Won’. Eun Ji lah yang merasakannya dan Eun Ji lah yang tahu banyak semua tentang dirinya sendiri. Lalu sekarang apa? Gadis itu hampir tidak bicara selama satu jam.

“Sudah hampir satu jam dan kau masih belum bicara. Sebaiknya aku kembali ke apartemenku. Mungkin yang dikatakan Kyung Won tadi benar, sebentar lagi pasti akan datang laki-laki ke sini.”

Myung Soo bangkit dari kursinya, berjalan perlahan menuju pintu apartemen Eun Ji dan memegang pegangan pintu sampai akhirnya Eun Ji memintanya menunggu. Myung Soo memutar tubuh dan memandang Eun Ji yang sudah bangkit dari tempatnya duduk.

Menit berikutnya mereka lewati dengan suasana yang lebih serius. Keduanya duduk saling berhadapan, sedangkan di tengah mereka, sebuah botoh dan satu alat suntikan berhasil membuat Myung Soo kembali bertanya-tanya. Obat apa dan siapa yang menggunakan obat ini?

Dan detik selanjutnya benar-benar menegangkan. Eun Ji baru saja membaca pikirannya dan berkata, “Ini obat yang dimaksud Kyung Won tadi. Bukan narkoba atau sejenisnya yang menyebabkan kecanduan, kau bisa mengeceknya jika kau mau.”

Untuk beberapa saat Myung Soo merasa ragu. Tangannya gemetar meraih obat itu, di tatapnya Eun Ji yang juga menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Myung Soo merasa harus mengecek obat itu, entah mendapat keberanian darimana, dengan gerakan cepat obat itu sudah berada di tangannya.

Ia memandang beberapa hangul yang tertulis tepat di badan botol obat tersebut. Kemudian matanya terbuka, keterangan obat itu benar-benar mengejutkannya, dan ia memandang Eun Ji. Kali ini giliran gadis itu yang bicara.

“Itu yang selalu ku gunakan ketika aku merasa kebahagiaanku menghilang. Terbang terbawa tiupan angin, dan entah mendarat dimana. Yang aku tahu saat itu aku membutuhkan kebahagiaanku kembali, dan dengan satu suntikan di sini,” Eun Ji menunjuk lengannya. “Dan satu sambungan telpon ke bar terdekat di sini, kebahagiaan itu datang lagi.”

“Dengan menjual dirimu sendiri? Membiarkan jati dirimu di ambil laki-laki bajingan yang memanfaatkanmu?” Myung Soo berkata meremehkan.

Eun Ji menangis, satu tetes air mata pertama yang dilihat Myung Soo tepat di hari pertama mereka bertemu. Kali ini tidak ada rasa simpati dalam diri Myung Soo, ia merasa amarahnya memimpin kendali atas dirinya.

Bahkan bidadari saja bisa menjual dirinya.

“Aku tidak menjual diriku, dan mereka juga tidak memanfaatkanku. Caranya memang salah, tapi sebuah kebahagiaan tidak bisa datang dengan sendirinya. Kau bisa mengatakan aku bodoh atau pelacur, tapi kau tidak bisa mengatakan aku menjual diriku. Karna semua yang kulakukan jelas berbeda dengan apa yang kau pikirkan.”

“Dimana letak perbedaannya?!” tanya Myung Soo dengan suara yang lebih tinggi. “Kau bahkan mengakui dirimu sebagai pelacur. Seharusnya sebagai wanita kau menjaga semua yang kau miliki, memberikannya hanya untuk suamimu seorang. Bukannya membiarkan dirimu ditiduri oleh laki-laki hanya untuk mendapatkan kembali kebahagianmu.”

***

Sakit. Eun Ji merasakan sakit di dadanya yang tidak tertahankan. Bahkan Myung Soo yang baru dikenalnya hari ini, mampu membuatnya merasakan rasa sakit yang minggu lalu ia rasakan. Rasa sakit karna seorang Kyung Won. Dan saat ini, rasa sakit karna seorang Kim Myung Soo.

“Kau tidak mengerti.” teriak Eun Ji di tengah isaknya.

Habis sudah kekuatan Eun Ji untuk menghadapi Myung Soo. Ia tahu ia memang tidak pantas untuk memiliki seorang teman, bahkan hanya untuk satu teman.

Eun Ji mendongakkan kepalanya ketika Myung Soo berada tepat di hadapannya. Entah sejak kapan laki-laki itu berjongkok di hadapannya, menarik kepalanya, dan mempertemukan mata mereka berdua. Air mata Eun Ji tidak bisa tidak berhenti mengalir, tapi juga ia tidak bisa menghapusnya. Tatapan mata Myung Soo benar-benar mempengaruhi tubuhnya.

“Jelaskan padaku,” kata Myung Soo lebih lembut, “Apa yang tidak ku mengerti.”

Tangis Eun Ji pecah tepat setelah suara lembut Myung Soo mengelegar di telinganya. Untuk yang pertama kalinya ia menangis di depan seorang laki-laki, yang bahkan baru dikenalinya hari ini. Sebelumnya, Eun Ji tidak tertarik sedikit pun untuk menangis di depan laki-laki, terkecuali anak-anak laki-laki di ZIA. Keluarga laki-lakinya.

“Saat itu, tepat ketika hari ulang tahun pertama hubunganku dengan Kyung Won, kami pergi bersama. Aku, ZIA, dan Kyung Won.” Eun Ji memaksakan satu senyum tipis di wajahnya, “Hanya makan malam biasa, dan Kyung Won berjanji mentraktik anak-anak. Aku percaya dan kami pergi dengan mobil yang berbeda. Kyung Won denganku, dan anak-anak dengan mobil Kyung Won yanglainnya.

“Kami makan di salah satu restoran di daerah Gangnam. Setelah cukup lama berada di sana, anak-anak kembali ke panti asuhan lebih dulu dengan mobil yang sama, meninggalkanku dengan Kyung Won. Di sanalah semuanya terjadi. Kyung Won memberikanku minuman dan setelah itu meninggalkanku sendirian di sana dengan alasan pergi ke kamar mandi.”

Eun Ji menutup matanya sejenak, menarik tangan Myung Soo yang sampai saat ini berada di dagunya. Menggenggamnya dan tidak melepaskannya. Tubuhnya bergetar, kenangan buruk itu kembali harus diceritakannya.

“Di sana, sakit itu menyerangku. Sangat sakit sampai aku tidak mampu berdiri dan menemukan Kyung Won. Meskipun pada akhirnya ia datang dan mengajakku pergi, tanpa bertanya aku membiarkan dirinya memopong tubuhku memasuki mobilnya, membawaku pergi menuju hotelnya.

“Aku sadar apa yang terjadi dan apa yang ia lakukan padaku. Sakit. Itu pertama kalinya bagiku, dan aku masih tidak biasa dengan rasa sakit itu. Sampai akhirnya sesuatu melesat ke dalam perutku, meninggalkan rasa hangat di dalamnya, dan kembali menenangkanku. Kau tahu apa yang dikatakannya?”

Myung Soo menggeleng, meminta Eun Ji untuk melanjutkan ceritanya.

“’semua yang terjadi malam ini, seutuhnya mengembalikan kebahagiaanmu’. Benar-benar omong kosong bukan? Tapi bodohnya aku mempercayai semua perkataannya. Kami melakukan itu lagi dan lagi, sampai akhirnya aku tahu apa yang Kyung Won inginkan dariku.”

“Apa?” tanya Myung Soo cepat. Lebih cepat dari perkiraannya sendiri.

“Panti asuhan. Ia mengambil tempat tinggal ZIA dan ia memanfaatkanku. Aku tidak mempermasalahkan diriku yang dimanfaatkannya, karna aku tahu, yang ia katakan benar. Obat itu ataupun apa yang ku lakukan, berhasil membuat masalahku pergi, walau untuk sementara.

“Sejak saat itulah, anak-anak dan ibuku harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Minhwa dan teman-temannya menemukan bantaran kali dan mengajak ibuku tinggal di sana. Namun, Ibu lebih memilih untuk kembali ke rumah lamanya. Dan aku masih harus bertanggung jawab atas ZIA…”

“Kenapa kau masih harus menggunakan obat itu?”

“Karna obat itu membantuku menenangkan diriku sendiri. Membantuku kembali mendapatkan kebahagiaan di dunia, walaupun dengan cara yang salah.”

Eun Ji menundukkan kepalanya, merasa malu dengan semua cerita buruknya yang tidak menyentuh hati siapapun. Ia tahu reaksi apa yang akan diterimanya dari Myung Soo, laki-laki itu pasti akan menganggap rendah dirinya dan pergi begitu saja. Sama seperti yang lain yang pernah ia temui sebelumnya.

Entah mendapat keberanian darimana, Eun Ji yakin Myung Soo lah yang memeluknya. Eun Ji tidak tahu apa yang ada dipikiran Myung Soo saat ini, yang ia tahu dirinya saat ini sedang kacau dan harus melakukan sesuatu untuk menghilangkan kekacauannya.

Ditengah pelukan itu, Eun Ji mendengar sesuatu, dan ia yakin Myung Soo juga mendengarnya, karna kemudian laki-laki itu mengangkat telpon tepat di hadapannya.

“Ya… Apa… Dimana… Baiklah.”

Obrolan singkat namun juga jelas menandakan suatu kesibukkan. Mata mereka kembali beradu dan Eun Ji merasakan adanya kecemasan di mata Myung Soo.

“Aku harus pergi.”

Eun Ji tahu sebuah cerita memliki akhir. Dan inilah akhir ceritanya hari ini, sebuah perpisahan. Seperti yang biasa ia lakukan. Semuanya pasti memilih untuk berpisah dengannya.

Eun Ji menahan air matanya, takut-taku tumpah di depan Myung Soo yang masih menatapnya intens. Sedikit ada perasaan menyesal dalam benak Eun Ji, kenapa laki-laki itu harus datang kalau akhirnya ia juga harus pergi dari hidup Eun Ji?

Tanpa menunggu jawaban Eun Ji, Myung Soo pun melangkah menuju satu-satunya pintu masuk dan pintu keluar.  Eun Ji di tempatnya, hanya memandang tubuh Myung Soo yang menghilang di balik pintu apartemen.

Untuk yang kesekian kalinya, Eun Ji menangis. Menangisi kebodohan dirinya dan menangisi semua yang terjadi pada dirinya. Kenapa ia terlalu bodoh dalam hal memilih laki-laki?

Mengingat kembali hari ini, Eun Ji kembali menyadari kebahagiaannya yang pergi ketika Myung Soo melangkah melewati batasan apartemennya. Pergi dari hidupnya. Bukan hatinya yang menginginkan keberadaan Myung Soo, tapi dirinya yang menginginkan seorang Myung Soo yang mampu membuat hari ini terasa lebih menyenangkan.

Merasa kebahagiaannya pergi, Eun Ji mengambil jarum suntikan dan mengisi tabungnya beberapa mili obatnya. Setelah yakin dengan keputusannya, ia memandang jarum suntik itu dan mendekatkan lengannya padan jarum suntik.

Dan menit berikutnya sambungan telpon terdengar.

***

Myung Soo merasa sebagian dirinya masih tersisi di dalam apartemen Eun Ji. Pemandangan ketika ia melihat Eun Ji memainkan piano kembali terputar di dalam pikirannya. Dan ketika Eun Ji menggandeng lengan-lengan mungil yang hidup kekurangan, Myung Soo merasa dirinya baru saja melihat seorang Ibu. Seorang Ibu yang benar-benar seorang Ibu, tidak seperti Ibunya.

Ibunya terlalu sibuk untuk sekedar menelpon atau menemui Myung Soo di apartemennya. Jadwal penerbangan yang selalu menunggu dan banyaknya pemegang saham dunia terlalu menjadi masalah bagi seorang Nyonya Kim. Bahkan terkadang Myung Soo berpikir, hidup di panti asuhan lebih menyenangkan.

Walaupun saat ini ia tahu kebenarannya.

Hidup di panti asuhan tidak semudah yang ia bayangkan. Anak-anak itu, hidup dengan kekurangan dan kesederhanaan. Namun ada kalanya, ia merasa bahagia berada di dekat anak-anak panti. Termasuk berada di dekat Eun JI.

Gadis itu. Caranya menikmati hidupnya. Caranya meraih kebahagiaannya. Dan caranya mengatasi semua masalahnya. Bahkan disaat sedih ia masih bisa melakukan hal sebodoh itu. Menghilangkan air mata dengan cara yang sangat tidak masuk akal dan memalukan…

Tunggu. Myung Soo memutar kembali semua perkataannya. Mulai dari sedih sampai dengan menangis. Keraguan menimpanya. Diabaikannya panggilan dari ruang informasi dan segera berlalri menuju apartemen Eun Ji. Dengan gerakan secepat kilat, ia membuka pintu apartemen tersebut.

Terlambat. Pemandangan di depannya benar-benar menyisahkan rasa sakit.

“Aku butuh bantuan salah satu temanmu, alamat biasa.”

Satu kalimat itu meluncur dengan mudahnya dari mulut Eun Ji. Myung Soo berlari menghampiri Eun Ji dan menarik paksa ponsel gadis itu. memutuskan sambungan telpon dan mengadu mata mereka. Lagi, ia merasa dibodohi seorang Jung Eun Ji.

Myung Soo mengalihkan pandangannya, mengelilingi ruang tengah apartemen Eun Ji. Matanya terpaku pada obat yang tadi dibacanya. Obat itu terbuka dan ia bisa melihat bekas cairan dalam suntikan di sebelahnya. Eun Ji berhasil menggunakan obat itu tadi. Dan ia terlambat. Sangat terlambat.

“Kembalikan ponselku Myung Soo-ssi.” Pinta Eun Ji mengalihkan perhatian Myung Soo.

Berlawanan arah, Myung Soo memasukan ponsel itu ke saku celananya. Menatap Eun Ji dengan pandangan mengerikan.

“Berhenti melakukan hal-hal bodoh. Hal seperti ini hanya akan menyiksamu!” kata Myung Soo dengan emosi yang tertahan.

“Demi kebahagiaan, aku siap menerima siksaan yang tidak akan bertahan lama.” tanggap Eun Ji yakin, “Dan kau, kenapa kembali? Bukankah kau bilang kau akan pergi?”

Myung Soo menatap Eun Ji dalam. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada gadis ini, dan ia tidak ingin Eun Ji merasakannya lagi. Namun, ponselnya kembali berdering. Menyuruhnya untuk pergi.

“Tidak ada laki-laki bajingan untuk malam ini. Tunggu di sini dan kau akan kehilangan rasa sakitnya.” Ucap Myung Soo berusaha menenangkan.

Eun Ji tertawa meremehkan dan berjalan mendekati Myung Soo untuk meraih ponselnya. Myung Soo berjalan mundur dan berniat melangkah keluar ketika Eun Ji berteriak padanya.

“Kau tidak tahu bagaimana sakitnya menggunakan obat itu tanpa laki-laki yang siap menidurimu Kim Myung Soo!”

“Aku tahu. Kau salah kalau berpikir aku tidak pernah melakukan hal seperti itu. Tidak ada laki-laki untuk malam ini, dan kau akan sembuh. Percaya padaku Eun Ji-ah.”

Satu kalimat terakhir dari Myung Soo sebelum akhirnya ia benar-benar pergi menuju ruang informasi. Bulat sudah keputusan yang dibuatnya secara mendadak itu. Ia tahu ia tidak bisa membiarkan Eun Ji menahan sakit di perutnya, tapi bagian diri Myung Soo berkata tidak jika Eun Ji memanggil laki-laki ke apartemennya.

Hanya sebentar Eun Ji-ah. Tahan dan bersabarlah.

***

“Kami baru saja memikirkan kerja sama perusahaan kami dengan apartemen Anda. Dan menurut kami hal itu cukup bagus untuk kedua belah pihak. Jadi, ku rasa anda tentu akan bekerja sama dengan kami, bukan?”

“Tentu saja.”

Myung Soo menjawab perkataan rekan bisnisnya dengan perasaan gelisah. Sudah hampir 20menit ia berada di kantornya, dan sudah hampir setengah jam Eun Ji menahan sakitnya.

Perkiraan dengan apa yang terjadi pada Eun Ji terus menghantui pikirannya. Berawal dari bagaimana gadis itu menyuntikan dirinya satu takaran penuh obat perangsang, sampai bagaimana akhirnya gadis itu menahan efek-efek yang ditimbulkan dari obat itu.

Membayangkan gadis itu berteriak kesakitan di telinganya membuat Myung Soo semakin tidak tahan untuk tidak menemui gadis itu. Tetapi, rekan kerja di depannya seolah berkata lain dan tetap memintanya untuk duduk dengan setianya.

Lagi, Myung Soo melirik jam tangannya. Sudah hampir 45menit, dan ia yakin sebentar lagi kemungkinan terburuk dari efek obat itu akan segera menyiksa Eun Ji.

“Bagaimana jika kita membuat surat perjanjiannya sekarang dan menyepakati kerja sama ini secara resmi pada hari ini juga. Bukankah itu lebih baik?”

Satu kutukan keluar dari tatapan Myung Soo. Laki-laki paruh baya yang menjadi rekan kerjanya benar-benar meminta Myung Soo untuk melayangkan satu pukulan di wajahnya. Bagaimana bisa ia mementingkan urusan pekerjaan di bandingkan nyawa seseorang yang berada di tangannya?

Sebuah penyesalan menyesap ke dalam hati Myung Soo. Seharusnya ia tidak memarahi Eun Ji, seharusnya ia tidak membuat Eun Ji kehilangan kebahagiaannya, seharusnya ia tidak mengambil ponsel Eun Ji, seharusnya ia tidak meninggalkan Eun Ji sendirian, seharusnya ia melakukan hal itu tadi…

“Ah…”

Myung Soo mendapati dirinya berteriak layaknya orang frustasi. Dengan dua orang rekan kerja dan satu asisten di depannya, Myung Soo tidak merasa malu sedikit pun. Dan otaknya, berpikir bagaimana caranya memulai sesuatu yang tidak di rencanakan sama sekali.

Myung Soo tahu ini bukan yang pertama kalinya untuk Eun Ji. Ia sendiri juga sering melakukan hal ini jika mendapat masalah. Namun, sesuatu membuatnya merasa geli pada dirinya sendiri. Ia harus meniduri Eun Ji tapi ia tidak tahu bagaimana cara memulainya.

Bodoh.

Di tengah rasa sakitnya, di tengah kegiatannya menahan rasa sakit. Myung Soo harus menolong gadis itu dengan menidurinya. Bagaimana bisa, bagaimana caranya, bagaimana menghentikan rasa sakit itu?

Jelas ia membutuhkan rangsangan dari Eun Ji untuk memulai hal seperti itu. Myung Soo sedikit mendapat kepercayaan diri bahwa ia bisa melakukan hal seperti itu, tapi bagaimana dengan Eun Ji? Myung Soo tidak mungkin menyerangnya dengan berbagai tindakan yang tidak memberikan hasil. Ia takut kalau pada akhirnya hanya ia yang menikmati rasa nikmat itu sendirian.

***

Eun Ji meringkuk di tempatnya dengan tangan yang memeluk perutnya dari sisi yang berlawanan. Rasa sakit yang dulu menyiksanya kembali terasa. Rasa sakit ketika Kyung Won meninggalkannya ke kamar mandi.

Tapi kali ini lebih sakit.

Dan tidak ada Kyung Won yang akan datang padanya.

Satu-satunya harapan Eun Ji adalah Myung Soo. Eun Ji butuh laki-laki itu, ia berjanji tidak akan menjadikan Myung Soo korbannya selama laki-laki itu mau menyerahkan ponsel milik Eun Ji. Tapi untuk saat ini, ponsel tidak lagi menjadi yang terpenting.

Yang terpenting adalah Kim Myung Soo. Tubuh Kim Myung Soo. Diri Kim Myung Soo. Dan lagipula, laki-laki itu sudah berjanji akan menyembuhkannya.

Satu jam berlalu, tapi Myung Soo belum juga datang. Eun Ji bisa merasakan bagian tubuhnya yang basah. Waktunya hanya tinggal sedikit, ia tahu semuanya tidak seperti apa yang Myung Soo janjikan. Ia tahu semua ucapan Myung Soo hanya omong kosong.

Myung Soo tidak pernah membantunya.

Myung Soo menginginkan kematian seorang pelacur sepertinya.

Eun Ji menutup matanya. Menggigit bibir bawahnya yang sudah terluka, mencengkram erat bajunya yang masih setia menemani rasa sakitnya. Gelap dalam pandangannya, merah di bawah dirinya.

Pendarahan.

Eun Ji yakin dirinya baru saja akan mati ketika di dengarnya suara pintu yang di buka. Tubuhnya tidak bisa berhenti bergerak, bergulat dengan lingkungan sekitarnya dan perlahan lengan Myung Soo lah yang menarik tubuhnya kedalam genggaman laki-laki itu. Menggendongnya sambil terus mengecupi keningnya yang sudah penuh dengan keringat.

Setelah merasakan tangan Myung Soo yang berada di sekitarnya, Eun Ji mengeram kesakitan. Sedangkan ia tidak tahu apa yang kini di perhatikan Myung Soo. Yang pasti, Myung Soo berada di dekatnya, berada di sebelahnya, di atas kasur yang sama.

***

Pemandangan yang mengejutkan setelah satu jam lebih menunggu waktu keluar. Jung Eun Ji yang sedang berperang dengan rasa sakit yang ditimbulkannya dan dibiarkan seorang Myung Soo.

Dengan gerakan cepat, Myung Soo memopong tubuh Eun Ji ke dalam kamarnya dan membiarkan gaids itu duduk di atas kasurnya sambil terus menggenggam tangannya. Satu hal yang membuat Myung Soo terperangah di tempatnya:

Tangannya yang memerah.

Seketika itu juga tubuhnya membeku, Eun Ji benar-benar mengalami rasa sakit, sakit se-sakit sakitnya orang sakit yang berada di rumah sakit. Myung Soo mengutuk dirinya yang diam mematung memperhatikan wajah pucat Eun Ji. Ia tahu ia harus segera bertindak. Sesegera mungkin. Dengan atau tanpa izin Eun Ji atas perlakuannya nanti.

“Aku minta maaf. Tapi ku harap kau tidak menolaknya.” Kata Myung Soo tepat sebelum bibirnya bertemu dengan bibir Eun Ji.

Eun Ji tidak membalas, juga tidak menolak ciuman yang dilontarkan Myung Soo secara mendadak. Tangannya terlalu sibuk untuk mencengkram lengan Myung Soo, menjadikannya pelampiasan rasa sakit.

Tangan Myung Soo yang tadi menjadi tempat pelampiasan Myung Soo, kini bergerak menurunkan pengait baju Eun Ji. Kulit pucat Eun Ji pun terpampang di sana, dengan satu kait bra. Meskipun baju yang tadi dipakai Eun Ji tidak sepenuhnya turun. Namun, sudah cukup untuk Myung Soo bisa melihat bagian atas tubuh Eun Ji.

Bibir Myung Soo bergerak perlahan mengecup setiap bagian bahu Eun Ji. Ciumannya terus naik ke leher, dia hanya mengecup dan mencium tanpa menghisap dan meninggalkan kissmark  di sana.

“Myunggh…myungsohh…myunghh…”

Myung Soo mendengar Eun Ji menyebut namanya ketika ia menjelajahi lekukan leher Eunji dengan lidahnya yang basah dan hangat.

Myung Soo menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Tubuhnya jatuh menindih Eun Ji. Masih tetap memaikan bibirnya tanpa memperdulikan Eun Ji yang menahan perutnya dengan kedua tangannya.

“Sakit Myung Soo, sakit.” Erang Eun Ji ketika Myung Soo memberinya ruang untuk mengambil udara di sekelilingnya.

Myung Soo kehilangan akalnya. Ia berani saja membuka celananya dan langsung memainkan inti dari permainan ini. Tapi bagaimana dengan Eun Ji? Bagaimana kalau Eun Ji merasa di remehkan?

“Ahhh…” pekik Eun Ji, menyadarkan Myung Soo dari semua perkiraannya.

Tidak ada bagaimana dalam hal menyelamatkan.

Myung Soo melepaskan pakaiannya dan dengan gerakan cepat membantu Eun Ji membuka pakaiannya. Sekarang keduanya jelas sudah siap memulai inti permainan. Tanpa basa basi, Myung Soo kembali menyerang bibir pucat milik Eun Ji sambil terus mencoba mencari tubuh dalam Eun Ji.

“Unghh…”

Eun Ji melepas ciumannya ketika merasakan sesuatu memasuki tubunya. Myung Soo yang menyadari hal itu merasa bahwa dirinya baru saja menambah rasa sakit Eun Ji.

“Maaf.” Bisik Myung Soo di telinga Eun Ji lalu mengecupi keningnya.

“Nghhh…Myungsohh…sakit nghh…”

Eun Ji mengecup lembut bahu Myung Soo. Menghirup aromanya dalam-dalam. Tangannya turun ke bawah mengusap punggungnya yang basah oleh keringat.

“Aaaah…”

Myung Soo menyadari kekejutan yang dirasakan Eun Ji ketika ia mempercepat gerakannya. Myung Soo terpaksa melakukan itu, ia yakin Eun Ji tahu apa yang ia maksud dengan terpaksa.

“Nghh…nggh”

Myung Soo membenamkan wajah Eun Ji ke dalam lehernya saat ia mulai bergerak. Tangannya memeluk pinggang Eun Ji, menariknya lebih rapat.

***

“Nghhh…aahh…aaahh…” desah Eun Ji di tengah sakitnya.

Rasa sakitnya memang masih sangat terasa. Tapi, entah karna tubuh Myung Soo yang menyaatuh dengan tubuhnya, atau karna sentuhkan laki-laki itu, Eun Ji merasa rasa sakit tidak lah penting. Walaupun sesekali, ia masih berteriak kesakitan.

“Myunghh..cepat ah… sakit nghh bodoh” ucap Eun Ji susay payah.

Eun Ji merasakan Myung Soo yang menghisap kulit lehernya, sementara tubuh bagian bawah laki-laki itu semakin mempercepat gerakannya.

“Nggh..nghh…”

Pinggul Eun Ji bergoyang mengikuti gerakan Myung Soo. Bunyi benturan alat kemaluan keduanya terdengar sangat menggairahkan dan menimbulkan kecurigaan.

Myung Soo menghujamkannya dalam-dalam lalu, “Aaaaaaaaarrrgghh.…”

Tubuh keduanya mengejang sambil melenguh bersamaan saat kenikmatan itu meledak membuat vagina Eun Ji berdenyut kuat mengeluarkan cairannya dan ia merasakan sesuatu mengalir di bawah perutnya. Spermanya.

Tanpa menatap dan melepas kontak tubuh mereka, Myung Soo berhenti sejenak. Memberikan jeda pada Eun Ji untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Ia yakin, Eun Ji sudah tidak merasakan rasa sakit yang separah tadi.

“Sudah lebih baik?”

Eun Ji mengerjap beberapa kali. Ia tidak bisa menatap mata atau wajah Myung Soo. Kepalanya berada tepat di leher laki-laki itu. Mendongak saja tidak mampu, apalagi menatap wajah Myung Soo.

Dan ia pun mengangguk. Rasanya ingin sekali ia mengeluarkan suaranya, tapi semua itu tersumbat. Seperti ada sesuatu yang mengganggu pita suaranya. Dan detik berikutnya, Myung Soo memperenggang pegangan dan berniat melepas kontak tubuh mereka.

Tidak. Jangan sekarang. Jangan pergi lagi. Jangan.

Myung Soo masih belum beranjak dari atas tubuh Eun Ji, tubuh mereka pun masih menyatu. Untuk sejenak, tatapan mata mereka beradu. Menyalurkan berbagai emosi dan kata-kata yang tidak bisa di ungkapkan oleh mulut mereka.

Keduanya diam, menatap mata-satu-sama-lain dan tidak juga bersuara. Lalu perlahan, wajah Myung Soo mendekat dan Eun Ji memejamkan mata. Myung Soo mengecup bibir Eun Ji lembut dengan teramat pelan.

“Mmhh…”

Myung Soo menghisap bibir atas dan bawah Eun Ji bergantian. Mengulumnya sambil menekan-nekannya lebih dalam. Membawa mereka kembali ke dalam surga dunia. Melupakan semua masalah, dan tujuan awal Myung Soo.

“Jangan pergih… Ku nghh mohon nghh…” kata Eun Ji disela-sela ciuman mereka.

Myung Soo, di depannya, terus mencium dan menggerakkan bagian bawah tubuhnya. Sambil sesekali menarik dan mendorong tubuh sekaligus tengkuk Eun Ji agar memperdalam baik kontak tubuh dan kontak bibir mereka.

Eun Ji merasakan sesuatu yang lembut memaksa bibirnya untuk terbuka. Dibukanya bibir Eun Ji dengan lidah Myung Soo, lalu menyusup masuk ke dalam. Salah satu tangannya menahan tengkuk Eun Ji, memperdalam ciuman mereka.

“Nghh…nghhh…aaahh…”

Tubuh Eun Ji terhentak-hentak saat Myung Soo mempercepat gerakannya. Ia bisa merasakan gesekan junior Myung Soo di dinding vaginanya. Membentur-bentur dinding rahimnya.

Myung Soo memperdalam tusukannya dan mempercepat gerakannya. Eun Ji merasakan ada yang ingin meledak di dalam vaginanya. Ruangan terasa panas, padahal Myung Soo yakin semua pendingin ruangan repasang dengan baik. Tubuh keduanya bahkan sudah basah dan lengket oleh keringat juga cairan-cairan dan saliva dari kecupan-kecupan.

Tubuh Myung Soo mengejang. Ia semakin kuat menghentak ke dalam vagina Eun Ji. Ujung penisnya membentur keras dinding rahim Eun Ji. Vagina Eun Ji terasa semakin sesak karena juniornya yang semakin membengkak.

“Myunghh…aahh…myungsoohh…nghhh…”

Berbeda dengan permainan awal. Kali ini Myung Soo bergerak lebih tidak teratur. Napsu dan desahan yang terus dikeluarkan Eun ji, membuatnya tidak tahan. Eun Ji mungkin tidak suka dengan tindakannya. Tapi semua sudah terlambat, napsu itu mengendalikan diri Myung Soo.

Myung Soo memutar tubuhnya. Membuat Eun Ji berada di atasnya. Menciumnya dan menghisap pundak mulus milik Eun Ji, meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana.

“Aaahhh…nghhh…ashh…”

Myung Soo mulai menggerakkan kembali pinggulnya perlahan. Eun Jimengimbangi permainannya dengan menggerakan pinggulnya berlawanan arah dengan Myung Soo.

Tanpa sadar dan tanpa permisi, cairan Eun Ji dan sperma Myung Soo keluar bersama lenguhan panjang dan berakhirnya perang bibir mereka. Bercampur menjadi satu, mengalir didalam rahim Eun Ji, dan sebagian menetes keluar. Vagina Eun Ji dan junior Myung Soo masih berdenyut-denyut kuat.

Tubuh Eun Ji ambruk tepat di atas di atas tubuh Myung Soo. Wajahnya jatuh di sebelah wajah Myung Soo. Perlahan, mengatur napas dan terisak.

Myung Soo yang menyadari isak tangis Eun Ji, memeluk gadis itu dan mengecup pipi Eun Ji lembut. Masih belum berniat untuk melepas kontak tubuh mereka, masih membiarkan dirinya berada di dalam tubuh Eun Ji, masih membiarkan tubuh mereka menyatu.

Terlalu cepat untuk mengakhiri semua ini.

“Jangan pergi… Ku mohon.”

Myung Soo mendapati dirinya tersenyum mendengar suara Eun Ji, mendengar permintaan gadis itu.

Eun Ji memintanya untuk tetap tinggal. Memintanya untuk tetap berada di sisi gadis itu. bahkan seorang Eun Ji baru saja memohon kepada seorang Kim Myung Soo.

Hal langka yang membuatnya tersenyum cerah.

Entah bagaimana caranya gadis itu berhasil membuat malam yang seharusnya penuh dengan penyesalan, justru menjadi malam yang penuh dengan kebahagiaan.

Myung Soo mensyukuri malam itu. Tanpa sengaja, ia mensyukuri tindakan bodohnya untuk melarang Eun Ji menelpon laki-laki lain dan menunggunya. Eun Ji mungkin bisa mati jika ia tidak segera datang dan melakukan hal itu.

Tapi Myung Soo. Bisa saja tidak mendapatkan kebahagiaannya jika ia tidak mengambil ponsel Eun Ji.

“Tidak akan.” Bisik Myung Soo tepat di telinga Eun ji.

Myung Soo melepas kontak tubuh keduanya, memberikan sedikit tempat untuk Eun Ji di sebelahnya. Kemudian menarik selimut yang menutupi tubuh polos keduanya. Saling berhadapan di atas tempat tidur dan saling tersenyum. Myung Soo tersenyum melihat wajah sedih Eun Ji, sedangkan Eun Ji tersenyum karna Myung Soo berada di sebelahnya.

Myung Soo mengecup mata kiri Eun Ji, beralih ke mata kanan, kening, pipi, dan berhenti sebelum ia mengecup bibir Eun Ji.

“Berhenti menangis,” kata Myung Soo seraya mengecup bibir Eun Ji perlahan. “Dan tidurlah.” Tambahnya setelah melepas ciuman singkat tersebut.

Eun Ji tersenyum sesaat, lalu menutup matanya tepat di hadapan Myung Soo. Membiarkan laki-laki itu memandanginya saat tertidur. Dan ia yakin akan bermimpi indah selama Myung Soo berada di sampingnya.

Myung soo tersenyum dan mengaitkan salah satu lengannya pada tubuh Eun Ji. Memeluknya, memberikan kehangatan dalam tidurnya.

TBC

5 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s