Only Yes [Chapter 1&2]

Title                 : Only Yes [Chapter 1(A Development)&Chapther 2(Pink Dress)]

Genre              : Romance, Friendship, Entertaiment, etc.

Length             : Chapter(Series)

Main Cast        :

    • Xi Luhan
    • Kim Hyeri (OC)
    • Lee Hyera (OC)
    • Kim Chery
    • Kim Taeyeon

A Development

 

Tok

Tok

“Hyeri-ah, kau di dalam?” teriak seseorang yeoja dari luar pintu sebuah apartemen.

“Kau ini” sahut seorang namja yang juga berdiri di sebelah yeoja tadi. “Seperti  tidak mengenal sahabatmu itu.” Katanya seraya mengenggam knop pintu apartemen itu dan memutarnya perlahan.

“Bukan begitu.” Titah si yeoja. “Hanya memastikan kalau ia tak lagi dalam keadaan buruk.”

“Keadaan buruk? Apa maksudmu?”

“Ya… seperti sedang mengganti pakaiannya atau mungkin sedang bersama namja lain di apartemennya.” Jelas si yeoja. “Apa kau mengerti Luhan-ssi?”

Arraseo. Tapi… aku tak bisa percaya kalau ia membawa seorang namja ke apartemennya.” Jawab namja yang sedaritadi bersama yeoja.

Waeyo?

“Aneh kalau seorang namja menyukai seorang yeoja yang sering menyamar sepertinya, apa kau mengerti Hyera-ssi?” ucap Lu Han dengan penekanan pada kalimat terakhirnya.

Yeoja yang tak lain dan tak bukan adalah Hyera mendengus kesal mendengar ucapan Luhan yang tak lain adalah saudara dari kakak iparnya. Ia pun memutuskan untuk mengunjungi Hyeri yang biasanya sedang asik di kamarnya, dan benar saja. Yeoja itu benar-benar sibuk berhayal dengan earphone di telinganya.

‘Setiap saat begini, pantas saja kau tidak mendengar suaraku daritadi’ Batin Hyera.

Dengan satu gerakan Hyera berhasil melepas earphone yang sedaritadi menempel di telinga sahabatnya itu, Hyeri.

Hyeri yang merasa terganggu pun membatin kesal, Ya! Apa-apaan ini, siapa kau berani-beraninya menganggu pagiku! Akan ku hajar kau!

Ia mendonggakkan kepalanya ke arah orang yang mengambil earphone-nya dengan paksa itu, tapi seketika niatnya untuk menghajar orang itu menghilang ketika tau siapa yang melakukannya.

“Hyeri-ah! Kalau setiap pagi seperti ini aku lelah!” bentak Hyera sambil terus menatap Hyeri dengan tatapan tajamnya seakan-akan sedang menerkam seorang anak harimau.

“Aku tidak menyuruhmu kemari Hyera-ya, lagipula untuk apa kau kemari?” Balas Hyeri.

Eommaku menyuruhku mengantarkanmu sarapan, kalau bukan karna Eommaku aku tidak akan ke sini dan memarahimu seperti ini.” Jelasnya masih dengan nada membentak. Sedangkan yang dibentak  masih tetap bermalas-malasan di kasurku tanpa memperdulikannya.

“Bangun Hyeri! Aku tau kau ada kuliah pagi hari ini jadi cepatlah! Kita berangkat bersama hari ini!” teriak Hyera tepat di salah satu telinga sahabatnya, yang sukses membuat Hyeri menutup telinga kanannya.

“Aku tunggu kau di luar, cepat!” ucapnya seraya keluar dari kamar Hyera.

‘Ah, setidaknya aku tak perlu mendengar suaranya yang bisa membunuhku itu.’ batin Hyeri.

Hyeri melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian dan mulai memilih pakaian yang biasa ia pakai untuk menutupi dirinya -anggap saja menyamar. Dan setelah itu beranjak pergi ke kamar mandi.

~~~~~

Hyeri melangkahkan kakinya menuju meja rias yang berada di kamarnya dengan berbagai properti tersedia di atas meja rias. Khusus hari ini simple saja cukup dengan dua buah karet jepang untuk menguncir rambutnya, sepasang softlense berwarna coklat yang biasa ia pakai, dan kacamata yang tidak terlalu besar sudah menjadikannya tampak berbeda. Dan… seperti inilah keseharian seorang Kim Hyeri.

“Hyeri-ah, jangan terlalu lelet aku bisa terlambat karnamu.” Suara namja yang sangat terdengar dari luar kamar Hyeri, itu Luhan. Dia… laki-laki pertama yang membuat Hyeri malas untuk menyamar setiap hari –lebih tepathya sejak awalnya pertemuan dengan Luhan, tapi ia tak bisa berhenti menyamar hanya karna seorang namja.

Flashback

Hyeri sedikit terlambat tadi, ya bagaimanapun juga ia masih harus tetap menyamar untuk bisa datang ke acara yang di hadiri oleh orang-orang dari segala penjuru negara –ah tidak, maksudnya orang-orang dari segala penjuru daerah atau negara yang merupakan saudara Hyera.

Hyera? Dia adalah sahabat Hyeri. Sahabat baik Hyeri sejak ia meninggalkan segalanya –walaupun tidak sepenuhnya ditinggalkan, melainkan ia yang di tinggalkan. Ya, Eomma dan Appa-nya sudah tidak ada di dunia ini. Mereka meninggalkan Hyeri untuk selamanya sejak umurnya bersiar sekitar 10 tahun dan saat itu juga Hyeri melihatnya –Hyera. Dia, menangis sendirian di bawah pohon besar yang ada di dareah tempat makam Eomma dan Appaku. Hyeri mengingat semuanya, saat Hyera pertama kali melihatnya, dan bagaimana reaksi Hyera saat mendengar nama Hyeri. Kau tahu, Kim Hyeri dan Lee Hyera, tidakkah itu hampir sama? Tapi wajah dan sikap kita benar-benar berbeda.

“Hyera-ah, kemana kau akan membawaku?! Kau tau di sini sangat ramai dan kau juga tau kalau aku benci tempat yang ramai seperti ini” tanya Hyeri pada Hyera yang masih sibuk dengan kegiatannya, Hyera terus saja menarik tangannya paksa sampai akhirnya Hyeri menyadari sesuatu. Ia menabrak seseorang, dan orang itu… Luhan.

“Mi- mianhae, aku tidak sengaja” kata Hyeri pelan.

Ia tersenyum, senyum pertama yang ia berikan pada Hyeri, dan saat itu juga Hyeri merasa jatuh –Jatuh cinta maksudnya, dan… untuk yang pertama kalinya.

“Gwenchanayo?” bukannya merespon kata-kata Hyeri tadi ia justru menanyakan keadaan yeoja yang menabraknya,

‘Sungguh namja ini, benar-benar.’ Pikir Hyeri.

“Ah, gwenchana. Neo gwenchanayo?” jawab Hyeri sekaligus mengembalikan pertanyaannya.

Ia tersenyum (lagi) kepada Hyeri, dan itu sempat membuat seorang Kim Hyeri ingin mencubitnya gemas. Hyera yang tadi menarik tangannya paksa pun melepas genggaman tangannya.

“Kau… boleh ku tau siapa namamu?”

 “Kim Hyeri.” Sahut Hyera yang membuat Hyeri sedikit tersentak kaget, begitu pun dengan namja di hadapannya. “Waeyo? Ada yang salah dengan namanya?” Hyera terus menerus menekan namja yang berdiri tepat di depan Hyeri.

“Aniyo. Aku sering melihatnya sebelumnya, sangat mirip sebenarnya tapi kurasa bukan dia orangnya. Ah iya, nama kalian mirip, hampir sama. Lee Hyera dan Kim Hyeri, hanya butuh mengubah marga dan satu huruf saja bukan?”

Deg

‘bagaimana bisa namja ini mengenaliku? Apa ia salah satu dari mereka? Ah tidak mungkin orang korea mengenalku.’

 “Xi Lu Han imnida.” Ia mengulurkan tangannya pada Hyeri, dan itu sontak membuat Hyeri terkejut. Baru kali ini ada seorang namja yang mau mengenalnya. Dengan segera Hyeri raih tangannya dan menjabatnya.

~~~~~

“Jadi kali ini hanya sesimple ini penyamaranmu?” celetuk Luhan yang sukses membuat Hyeri tersendak minumannya. “Berhati-hatilah Hyeri-ah, kau bisa mati kalau seperti itu.”

Hyeri tak menghiraukan pertanyaan dan ucapan Luhan tadi, dengan segera ia lanjutkan kegiatannya sebelumnya.

“Memang apa yang kau inginkan dari penyamarannya?” kali ini suara Hyera terdengar jelas di ruangan itu.

“Tak ada, hanya saja itu mengganggu. Setiap pergi bersama ia selalu seperti itu.”

“Biarkan saja, itu kemauannya. Yang penting selama ia bersama kita, ia tak pernah menyamar.”

Hyera mengalihkan pandangannya ke arah mereka-Hyera dan Luhan- yang sedang menonton televisi di apartemenku.

“Aku mendengarnya!” Hyeri berteriak dengan mulut yang masih dipenuhi makanan.

Mereka–Luhan dan Hyera– memandang Hyeri tidak peduli, ‘baiklah kali ini aku yang mengalah’

Dengan cepat ia menghabiskan makanannya dan mengambil tas yang biasa ia gunakan untuk kuliah.

“Aku beres, cepatlah. Kau bilang kau tak mau terlambat karnaku bukan?” katanya mendahului mereka keluar dari apertemennya.

Ketiganya–Hyera, Hyeri, dan Luhan–berangkat dengan menggunakan sebuah taksi. Universtias mereka memang sama, tapi hanya jurusan dan gedungnya saja yang berbeda. Luhan dibagian pemimpin perusahaan, Hyeri dibagian hukum, dan Hyeri dibagian seni.

Berbeda dengan Hyeri, Luhan dan Hyeri selalu mempunyai banyak teman dekat di kelas mereka, sedangkan Hyeri hanya biasa berdua dengan Chery. Seorang yeoja yang juga sama dengannya –sama dalam hal asal orangtua mereka, sama-sama berasal dari Amerika.

~~~~~

“Hyeri-ah!” Teriakan seorang yeoja menggema di sekeliling tempat Hyeri, membuat yeoja yang di panggil memandangnya sejanak dan bertanya dengan nada malas.

“M-mwo?”

“Bagaimana perkembangannya?”

“Perkembangan apa maksudmu?” Hyeri memandang yeoja di depannya tak mengerti.

“Sudahlah, jangan berpura-pura tidak tau apa pun. Apa kau lupa? aku sudah sering mengatakan hal ini, jadi ku rasa tak perlu ku jelaskan lagi. Bagaimana?”

Hyeri metarik nafasku sebelum menjelaskan semuanya padanya, ya dia–Chery–tau semuanya tentang perasaan seorang Kim Hyeri pada Luhan. Dengan begitu, tidak bisa diragukan lagi kalau selama ini Hyeri selalu berbagi perasaannya dengan sahabat-sahabatnya. Terkecuali Luhan.

“Tak ada yang spesial” satu kalimat simple yang mewakilkan seluruh kekecewaannya pada Luhan.

“M-mwo? Ba-ba-bagaimana bisa?” Chery bertanya dengan tergagap.

“Tidak ada yang tidak bisa di dunia ini Chery-ah, nothing imposible in the world” jelas Hyeri, tapi Chery tetap memandang Hyeri dengan tatapan tak percayanya itu.

“Kalau begitu pasti bisa ada yang spesial denganmu dan Luhan, jadi katakan saja Kim Hyeri”

“Aku tau, tapi apa yang harus ku katakan padamu? Sudah ku bilang tidak ada yang spesial ya… memang seperti itu kenyataannya.”

“Bukan padaku, tapi padanya.” Hyeri ternganga, bagaimana bisa Chery mengatakan hal itu dengan mudahnya?  Hanya ada satu jawaban yang bisa meyakinkan Hyeri. Itu karna Chery tidak merasakan, jadi wajar saja.

“Katakan padanya kalau kau mencintainya!” kali ini ia berteriak, dan sontak Hyeri bergerak cepat untuk mengunci mulutnya.

“Pelankan suaramu! Kau membuatku malu!”

“Ah…” ia menghela nafasnya. “Baiklah” satu kata yang berhasil membuat Hyeri merasa lebih lega.

“Kalau kau pendam terus menerus seperti ini, kau yang akan menyesal. Apalagi dengan jarak yang semakin dekat antara Hyera dan dirinya, bukankah itu bisa mengecewakanmu?”

Hyeri tersentak mendengarnya. “Apa maksudmu bicara seperti itu kepadaku? Apa kau fikir Hyera akan menusukku dari belakang? Seperti itu?” katanya dengan nada yang sedikit dingin, dan seketika Hyeri menyadari kalau raut wajah Chery yang berubah. “Kau tau, dia sahabatku sejak aku kecil, dia yang menemaniku saat aku sendirian di apartemen, dia dan keluarganya yang memberiku makanan lezat setiap harinya. Dan kau tau… dia tau semua mengenai perasaanku, jadi ku rasa ia tak mungkin ia mengecewakanku.” Jelasnya.

Setelahnya terjadi keheningan, mungkin sekitar 3 sampai 5 menit.

“Maafkan aku Chery-ah, Mianhae..” kata Hyeri mengalah.

“Bukan sepenuhnya salahmu Hyeri-ah, aku… aku juga minta maaf padamu”  ucapnya pelan.

~~~~~


 

Pink Dress

 

“Hyeraa! Cepat turun!”

Mendengar seseorang memanggil nama Hyera bahkan menyuruhnya turun dari kamarnya yang terletak di lantai atas, membuat Hyera dengan cepat melangkahkan kakinya menuju asal suara yaitu Eomma-nya.

“Ne, ada apa eomma?” tanyanya.

“Cepat antarkan ini pada Hyeri-ssi, jangan lupa beritahu dia kalau lusa kita akan mengadakan pesta kecil-kecilan dan eomma ingin dia ikut hadir esok.”

“Pesta? Pesta apa eomma? Kenapa aku baru tahu soal pesta ini, apa eomma merahasiakannya dariku?” tanya Hyera penasaran sekaligus kesal.

“Jadi kau lupa?” ucapnya yang diiringi dengan helaan nafasnya. “Kau lupa dengan ulang tahun saudaramu itu, keterlaluan sekali kau.”

Deg

‘Ah iya! Lusa Luhan berulangtahun, bagaimana bisa aku lupa! Ah Hyera paboya!’

Mianhae, eomma. Aku benar-benar lupa eomma. Mianhae eommajeongmal mianhae

“Sudahlah, cepat antarkan itu. Tidak baik kalau kau terus menundanya.” Ucapnya tanpa memperhatikan Hyera sedikitpun.

“Kalau begitu aku pergi dulu eomma” pamit Hyera sambil mencium pipi Eomma-nya lembut sebelum beranjak pergi.

~~~~~

Tok

Tok

Seseorang mengetuk pintu apartemen Hyeri sebelum akhirnya sosok seorang Kim Chery muncul tepat di hadapan pintu itu. Chery mengajak orang tersebut masuk, dan memintanya untuk menaruh barang yang ia bawa di meja makan.

“Kemana perginya miss music itu?” tanya Hyera padanya yang Chery sedang asik menonton televisi.

Nuguya? Hyeri-ah?”

Hyera menganggukkan kepalanya.

“Dia sedang mandi, ada apa? Apa kau sedang buru-buru?” tanya Chery.

Aniyo, hanya saja ada yang ingin ku sampaikan padanya”

Chery menatap Hyera penasaran. “Tentang Luhan?” tanyanya yang dijawab dengan anggukan secepat mungkin. “Ada apa?”

“Lusa Luhan berulangtahun, jadi eommaku mengundangnya untuk datang. Waeyo? Sepertinya kau penasaran sekali?” kali ini Hyera yang bertanya.

“Ahh…” ia menghela nafasnya sebentar dan kemudian menatap Hyera. “Kau tidak akan mengecewakannya kan?”

“A-a-ap-apa maksudmu?” suara Hyera terdengar terbata.

“Ku lihat, kau dan Luhan semakin hari semakin dekat dan aku takut itu membuat Hyeri jatuh lagi. Kau tau bukan, selama ini dia hidup sendirian di Korea. Aku takut kalau ia merasa sendiri lagi seperti awalnya.”

Deg

Entah apa yang membuat Hyera menjadi seperti ini, tapi rasanya hatinya benar-benar pecah. Tapi untuk apa? toh Hyera tau semua itu, dan bahkan Hyera juga tidak pernah tertarik dengan Luhan. Lalu… ada apa dengannya?!

Hyera membiarkan otaknya berfikir sejenak, berusaha mencari kata-kata yang sesuai untuk menjawab pertanyaan Chery tadi.

“Aku ini sahabatnya, aku pasti mengerti dirinya. Bukankah kau juga sahabatnya? Jadi sebaiknya kau bantu aku agar ia tak terlalu jauh dalam soal ini. Aku sendiri takut kalau hasilnya nihil.” Jelasnya pada Chery, dan yang mendapat penjelasan pun tampak mengerti dan memberi sebuah anggukan sebagai  respon dari perkataan Hyera tadi.

“Sebaiknya memang seperti itu” katanya tanpa memandang Hyera.

Setelahnya Hyera hanya bisa diam, berfikir, dan terus menyerap kata demi kata perkataan Chery tadi. Begitupun Chery, sibuk dengan kegiatannya sebelumnya tanpa memperdulikannya di sini.

“Hyera-ya! Sejak kapan kau disini?” suara Hyeri terdengar di telinga keduanya, dan itu membuat Hyera semakin merasa bersalah –meskipun ia sendiri tak tau apa penyebabnya.

“Sejak tadi” jawabnya singkat –tentunya masih menyesuaikan kondisinya sekarang ini.

“Ada apa?” tanya nya lagi. Kali ini ia jawab dengan pandangannya pada tupperware yang ia bawa tadi, dan dengan benar Hyeri mengikuti pandangannya. “Makanan? Untukku?”

“Tentu saja, kau kira untuk siapa? Ahiya, lusa datanglah ke rumahku. Eomma ku mengadakan pesta kecil-kecilan menyambut ulangtahun Luhan, jadi jangan sampai telat.” Ucapnya dengan nada se-normal mungkin.

“Ha? Tanggal berapa sekarang? Ah iya, aku lupa! Katakan padanya aku akan datang secepat mungkin dengan Chery esok.”

Merasa namanya disebut Chery memandang Hyera dan Hyeri bergantian.

“Kenapa denganku? akukan tidak di undang, jadi sebaikanya kau datang sendiri Hyeri-ah”

Gwenchana, datanglah bersama” kata Hyera. “Dan ingat, jangan menyamar!” sambungnya dengan telunjuk yang berada tepat di depan wajah Hyeri.

Hyeri sedikit tersentak mendengar ucapan Hyera tadi. “M-mwo? Bagaimana bisa?”

“Hanya sehari Hyeri-ah, berdandanlah yang cantik untuk Luhan hari itu. Jangan kecewakan aku ataupun Luhan, ne?” Hyeri mengangguk pasrah menanggapi ucapan Hyera.

“Baiklah, kalau begitu aku pamit.” Ucap Hyera seraya berjalan menuju pintu apartemen. “Chery-ah, dandani Hyeri secantik mungkin!” teriaknya sebelum pergi.

Hyeri yang sedang melamun, menyadari kepergian Hyera.

Bodoh! Kalau tidak menyamar, bisa-bisa ada yang mengenalimu Hyeri! Bagaimana kalau semuanya ketahuan? Mungkin kau akan langsung sibuk setiap harinya. Ah, aku ke Korea untuk kuliah bukan untuk mempersibuk diriku!

“Hyeri!!!” teriakkan Chery menyadarkan Hyeri dari semua hal yang sedang ia fikirkan. “Apa yang kau fikirkan? Luhan?”

“Ah, aniyo. Aku memikirkan lusa Chery-ah, bisa kau bantu aku?” pinta Hyeri.

“Bantu apa? kalau aku bisa, akan ku lakukan untukmu” jawabnya.

“Dandani aku secantik mungkin, tapi tetap pada tema penyamaranku. Bagaimana? Bisa?”

“M-mwo?” Chery terbelalak. “Katakan padaku sekali lagi apa yang kau katakan tadi.”

“Dandani aku secantik mungkin, tapi tetap pada tema penyamaranku!” ucap Hyeri sedikit kencang dengan penekanan di setiap katanya. “Maksudku agar mereka tidak mengenaliku.” Tambahnya.

“Aku bisa saja melakukannya, tapi berikan aku satu alasan kenapa aku harus melakukannya?!” tanyanya sedikit kasar.

Ah, ini sulit untuk dijelaskan. Dan bagaimana bisa aku menjelaskannya, memberitahu seseorang tandanya aku menghancurkan semua rencanaku. Bagaimana ini?!

“Apa kau tau orang-orang yang mencari seseorang dan kemudian mereka menculiknya untuk dibunuh. Apa kau tau hal itu? Seperti itulah aku.” Dusta Hyeri sepenuhnya.

“Kau bohong”

“Bagaimana kau tau?” tanyanya di luar kendali.

“Sudah kuduga” ucap Chery tanpa menatap Hyeri. “Ceritakan yang sejujurnya, atau aku yang tak akan mau jadi sahabatmu.”

Skakmat. Mati kau Hyeri, hidup seperti biasanya atau kau kembali ke Amerika. Hanya dua itu pilihanmu Hyeri.

“Baiklah ku ceritakan” kata Hyeri pasrah. Dengan perlahan ia menceritakan semuanya pada Chery, mengenai siapa dirinya dan kenapa ia memilih di Korea. Dan benar saja, reaksinya sama seperti tebakan Hyeri –antara percaya dan tidak percaya.

~~~~~

 

Ne, tunggu sebentar” kata Hyera seraya beranjak dari kasur dan membuka pintu kamarnya.

Deg

Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya, ah lagi-lagi seperti ini. Ada apa sebenarnya denganku? kenapa setiap melihat Luhan rasanya jadi berbeda seperti ini? Apa mungkin aku menyukainya? Ah tidak, diakan saudara dari kakak iparku. Jadi tidak mungkin kalau aku menyukainya, lagipula selama ini yang ku tau Hyerilah yang menyukainya.

“Ada apa?” tanya Hyera penasaran. Tidak biasanya Luhan datang ke kamarnya pagi-pagi sekali, apalagi ini hari libur. Jadi pasti ada hal lain yang ingin dia bicarakan.

Luhan tak mengatakan apa pun, tangannya hanya bergerak mendekati Hyera. Seketika tangannya berhenti mendekat, dan ia lihat Luhan memegang sebuah kotak di tangannya. Tanpa bertanya, ia raih kotak itu dan memandangnya dengan pandangan tak mengerti.

“Pakai ini besok, jangan lupa untuk berdandan secantik mungkin besok. Jangan memalukanku.”

Deg

Apa? Apa katanya tadi? Memalukannya? Apa maksudnya? Ah bodoh! Mengatakan sesuatu yang membuatku semakin merasakan hal aneh itu.

Tak lama, Luhan berlalu dari hadapan Hyera. Menyisakan dirinya dan sebuah kotak dari seorang Xi Luhan yang kini ada dalam genggamannya. Sadar dari pemikirannya tadi, dengan satu gerakan ia tutup pintu kamarnya dan mulai membuka penutup kotak itu.

Matanya terbelalak, benar-benar terbelalak –bisa dibilang kagum. Hyera terhenyak seketika mengingat perkataan Luhan tadi, ‘Pakai ini besok, dan jangan lupa untuk berdandan secantik mungkin…’ Jadi maksud ucapannya itu… gaun ini?

Gaun ini… benar-benar menakjubkan. Bentuknya yang mungil dan indah itu benar-benar membuat Hyera terkagum-kagum, belum lagi dengan warnanya –Merah muda. Benar-benar terlihat manis dan cocok di kulitnya dengan berbagai aksesoris yang menempel di gaun ini.

‘Tapi… untuk apa Luhan memberiku gaun secantik ini? Apa tujuannya?’ pikirnya dalam hati. Ah sudahlah, inikan acaranya. Mungkin memang ia mau yang terbaik untuk acaranya besok.

Dengan segera, ia coba gaun itu di badannya. Dan benar saja, gaunnya pas dan terlihat manis di badannya. Ah karna gaun ini, aku jadi tidak sabar untuk besok!

~~~~~

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s