Only Yes [Chapter 3&4]

Title                 : Only Yes [Chapter 3(Food)&Chapther 4(Lonely, I’m not Alone)]

Genre              : Romance, Friendship, Entertaiment, etc.

Length             : Chapter(Series)

Main Cast        :

  • Xi Luhan
  • Kim Hyeri (OC)
  • Lee Hyera (OC)
  • Kim Chery
  • Kim Taeyeon

Food

“Cheeery! Percepat dirimu!” Hyeri berteriak kesal.

Saat ini Hyeri memang sedang menunggu Chery yang sibuk di dalam sebuah kamar mandi yang tepat berada di  toilet kampus mereka. Toilet itu memang sepi, tapi tetap saja Hyeri merasa tidak nyama dengan sekitarnya. Karna bagaimana pun, ia menunggu di toilet.

Tak lama kemudian Chery keluar dengan tas make up nya.

“Sudah ku bilang, aku hanya akan mencari pakaian untuk besok bukan untuk mencari seorang namja.” Kata Hyeri yang tak setuju dengan cara Chery.

“Apa bedanya? Kau mencari pakaian yang membuatmu semakin cantik untuk mengikat seorang namja bukan? Jadi kurasa aku harus memulainya dari sekarang” jawab Chery yang tak bisa dimengerti sama sekali.

“Besok saja Chery. Aku tak mungkin melepas penyamaranku sekarang, kau tau ini masih di lingkungan kampus jadi tidak mungkin aku melakukannya” jelas Hyeri.

“Aku tau, tapi setidaknya aku hanya ingin menyocokkan saja dengan kulitmu.”

Hyeri menghela nafasnya sesaat kemudian memandang Chery. Ia melihat seorang Kim Chery yang sudah siap dengan sebuah lipstick di tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya menggenggam tas make up nya erat. Tangannya bergerak cepat memakaikan lipstick itu di bibir Hyeri, cepat tapi lembut. Dan hasilnya juga menarik.

“Cocok.” Komentarnya. “Kau tau, kau itu cantik meskipun kau tidak dengan make up mu. Tapi sayangnya kau menyembunyikannya dengan cara menyamarmu.”

“Tidak untuk Luhan Chery-ah” ucap Hyeri cepat. “Dia tau wajah asliku tanpa menyamar, bahkan ku fikir ia mengenalku awalnya. Tapi ternyata ia tidak berani untuk memastikannya, walaupun aku memang tidak berharap ia mengetahui identitasku. Tapi tetap saja dia tak pernah bilang kalau aku cantik ataupun menawan.”

“Ayolah Hyeri… hanya karna ia takk mengatakan hal itu bukan berarti ia tidak peduli denganmu” sergah Chery lembut.

“Sudahlah lupakan. Kau tau, waktuku tak banyak hari ini. aku masih harus membersihkan apartemenku, karna besok aku pasti tak akan sempat membersihkannya. Jadi cepatlah”

“Aku tak kan berlama-lama dengan wajahmu, hanya memastikan hal yang cocok dan setelah itu kita pergi ke sebuah toko untuk mencari sebuah gaun yang juga cocok untukmu.”

“Aku tau” respon Hyeri cepat dan singkat.

Chery mempercepat kegiatannya, tanpa harus memikir pun Hyera kira Chery sudah mendapatkan hal yang cocok untuknya. Karna bagaimana pun, make up itu makanannya setiap hari –sebelum ia pindah ke Korea.

Setelahnya keduanya memilih untuk pergi ke sebuah toko yang tak begitu jauh dari kampus mereka. Hyeri tak berkutik dengan keadaan di sekelilingnya, hanya Chery yang berkutik. Ia memilihkan Chery berbagai macam pakaian untuk di coba –Oke, menurut Hyeri ini berlebihan, dan tentu saja Hyeri menolaknya. Ia di sini hanya untuk mencari satu pakaian, bukan untuk menjadi seorang model di sini.

“Bukannya mencoba pakaian berulang-ulang adalah makananmu sehari-hari selama di Amerika?” tanyanya yang menurut Hyeri merupakan sebuah ledekan.

“Hey hey, jangan katakan itu di sini.” Sergah Hyeri, ia menatap Chery dengan pandangan bertanya. “Sudahlah, carikan aku pakaian yang cantik tapi tidak berlebihan.” Sambungnya.

“Baiklah, akan ku carikan.” Chery pun berlau dari hadapannya, mengitari toko ini sendirian dan kemudian memandang Hyeri sekejap seperti sedang menerawang.

Tak lama Cheri berjalan kembali ke arah Hyeri dengan sebuah gantungan di tangannya. “Bagaimana kalau yang ini?” tanyanya.

Aku menatap pakaian yang ada di tangannya dengan jeli. “Sebuah gaun?” tanyanya.

“Aku tak yakin ini benar-benar gaun, menurutku ini sebuah mini dress. Bagaimana?”

Hyeri memandang dress itu lagi, memang cantik dan ..err sexy. Warna birunya benar-benar terlihat lembut, gayanya terlihat modis walaupun beberapa bagian dress itu terbuka, dan hanya dengan beberapa manik-manik dibelakangnya membuat dress itu semakin cantik.

“Terlalu sexy” komentar Hyeri, Chery menarik nafasnya dan mendengus kesal mendengar komentarnya. Kemudian berjalan mengelilingi toko ini lagi sendirian.

Hyeri berdiri tepat di sebelah ruang ganti yang ada di toko tersebut, ia menunggu kedatangan Chery dengan pakaian selanjutnya.

Tak perlu waktu lama Chery pun datang menghampirinya dengan senyum puas dan sebuah pakaian di tangannya.

Mini dress lagi?” tanya Hyeri tanpa berbasa-basi.

Yes, and i think it is the last.” Katanya seraya menyerahkan pakaian itu pada Hyeri.

Dengan cepat kaki Hyeri melangkah masuk ke dalam ruang ganti, ia mencoba pakaian itu. Sedangkan Chery –diluar ruang ganti– terus tersenyum puas dengan pilihannya.

Tak lama, Hyeri keluar dengan pakaian itu. Chery yang menunggu hasilnya pun menatap Hyeri dengan tatapan senang-bahagia-dan-puas. Hyeri cantik dan fashionable dengan pakaian itu. Sebuah mini- dress menempel dengan sempurnanya di tubuhnya.

“Kau terlihat cantik dengan baju ini, kau suka?” tanya Chery tetap dengan senyum puasnya.

“Aku suka. Tapi…” raut wajah Chery berubah seketika. “…tidak kah ini terlalu berlebihan?” tanya Hyeri perlahan.

“Berlebihan? Kau fikir ini berlebihan? Sebuah mini dress yang cantik dengan warna kuning-kecoklatan dan dengan model yang sangat-sangat-cocok denganmu itu kau bilang berlebihan?” Hyeri tampak berfikir sejenak. “Lalu kau sebut apa penyamaranmu selama ini?” tanya Chery.

Hyeri terhenyak, ia tak bisa menjawab pertanyaan yang Chery berikan padanya.

“Aku suka kau dengan mini dress ini, jadi jangan menolak. Kalau kau fikir ini berlebihan, ku rasa kau harus memikirkan penyamaranmu selama ini.” ucap Chery kesal.

“Baiklah, aku ambil yang ini.” kata Hyeri pasrah pada keputusan sahabatnya itu.

“Cepat ganti pakaianmu, setelah ini kita langsung pulang.” Hyeri mengangguk mengerti dengan ucapan Chery.

~~~~~

“Apa yang kau fikirkan?”

Perkataan Chery berhasil menyadarkan Hyeri dari lamunannya. Ia menggelengkan kepalanya, dan  kemudian beralih pada kaca yang ada di hadapannya.

“Apa kau yakin kali ini penyamaranku benar-benar tidak terlihat?”

“Tentu saja tidak.” Jawab Chery yakin.

“Bagaimana kau bisa seyakin itu?”

Chery menghela napasnya sebelum menjelaskan semuanya. “Look, your pretty face is real. But you..” Chery mengedarkan pandangannya ke sekujur tubuh Hyeri. “…ah that’s-“

“secret!” sahut Hyeri memotong penjelasan Chery. “Tapi, apa Hyera tau kalau aku menyamar nantinya?” tanya nya lagi.

“Ku rasa tidak, karna make up mu itu ku buat senatural mungkin tapi tetap dengan tema penyamaranmu.”

“Ah, baiklah. I can believe.” Kata Hyeri sambil tersenyum puas di depan cermin.

“Bagaimana denganmu? Apa itu sebuah penyamaran?” tanya Hyeri. Ia melihat Chery terus saja membedaki wajahnya di pantulan cermin.

“Apa?” Chery terkejut. “Aku tak akan pernah memakai topeng.” Sergah Chery.

Hyeri hanya tersenyum mendengar jawaban sahabatnya itu, ia tau yang dimaksud Chery adalah dirinya. Tapi ia tak memikirkannya, bagaimana pun kedatangannya ke Korea bukan untuk mencari kesibukan.

~~~~~

 


 

Lonely, I’m Not Alone

 

 

Dimana mereka? Apa mereka tidak datang? Atau terlambat? Kenapa bisa-bisanya mereka datang terlambat di hari spesial Luhan, apalagi mengingat Hyeri yang menyukai Luhan sejak awal pertemuan mereka. Jadi, sedikit kemungkinan mereka untuk terlambat.

“Menunggu seseorang?” suara berat tapi lembut seorang namja menggema di telinga yeoja yang sedang menunggu kedua temannya, dan membuatnya sukses menolehkan pandangannya ke arahnya.

“Ya, as you know she is Hyeri, i think i shouldn’t tell you about it” katanya. Luhan hanya tersenyum mengerti.

“Kau terlihat berbeda hari ini.” katanya. “Aku bahkan sampai tidak mengenalmu.”

Hyera terkekeh mendengar perkataannya. “Kau fikir aku menyamar? Membuatmu tak mengenaliku dengan penampilanku hari ini? Hal yang bagus Xi Luhan.”

No, not at all. Kau terlihat lebih cantik dari biasanya. Hanya itu.”

Kali ini Hyera terhenyak, mungkin lebih tepatnya ia malu, dan mungkin sekarang wajahnya sudah memerah karna ucapan Luhan tadi. Tapi dengan cepat perhatiannya beralih pada 2 orang yang baru saja masuk ke dalam rumah, 2  orang yang benar-benar ia tunggu kehadirannya. Tapi yang ia lihat Hyeri hanya masuk sendirian, dan yeoja di sebelahnya itu bukan Chery. Lalu,  kemana Chery?

“Hyeri-ah!” sapanya dari jauh seraya melambaikan tangannya ke arah Hyeri. Hyeri pun menjawab sapaannya dengan balas melambaikan  tangannya pada Hyera dan berjalan mendekat ke arah Hyera dan Luhan.

“Kenapa bisa terlambat?” tanya Hyera setelah Hyeri berada tepat dihadapannya.

Hyeri benar-benar-cantik-hari-ini, dengan gaun kuning-kecoklatannya kulit putih-mulus-dan-beningnya itu terpampang indah di mata Hyera. Gaunnya benar-benar pas di tubuhnya, bahkan hari ini Hyeri terlihat tidak menyamar. Make up nya terlihat natural dan berbeda dari biasanya. Di tambah dengan aksesoris yang menyatu dengan kulitnya. Benar-benar terlihat sempurna.

“Aku tidak yakin kalau aku terlambat. Buktinya, pesta belum di mulai bukan? Lagipula yang berulangtahun masih berada di sini.” Hyeri menatap Luhan dengan senyum manisnya, dan Luhan juga membalas tatapan dan senyuman itu dengan sangat manis.

“Kau terlihat cantik sekali hari ini. Dan… apa yang membuatmu memilih untuk memakai gaun?” tanya Hyera memperhatikan.

“Ini mini dress Hyera, aku tak memakai gaun. Chery yang menyuruhku memakai ini, lagipula seharusnya aku yang menanyakan hal ini padamu. Apa yang membuatmu memakai gaun secantik ini?”

Ah dia menanyakannya, bagaimana ini! katakan, tidak, katakan, tidak, katakan, tidak. Ah bagaimana?!

“Ah, aku hanya-“

“Aku yang memberikan gaun ini untuknya.” Potong Luhan.

Jinjayo?” tanya Hyeri pada Hyera, Hyera mengangguk menjawab pertanyaannya.

“Kenapa hanya satu? Ah kau melupakanku. Dimana gaunku? Apa kau tidak memberikanku gaun yang sama?” kali ini ia menanyakannya pada Luhan dengan bibir yang sedikit dimanyunkan.

“Aku hanya tidak sengaja membelikannya gaun, lagipula kau juga sudah mendapatkan kostummu. Dan, Hey! Aku yang berulangtahun tapi kenapa kau yang memintaku memberikan gaun padamu? Dimana hadiahku? Kau tak melupakannyakan?” jawab Luhan mengalihkan pembicaraan.

“Aku tak lupa, hanya saja aku tak tau apa yang harus ku berikan padamu. Jadi sebaiknya kau terima saja apa yang ku berikan.”  Luhan mengangguk mengerti.

Tak perlu waktu lama, Chery datang dengan sebuah gitar di tangannya. Apa tadi ia mengambil gitar itu?

“Yah, Chery-ah. Kau datang? Dengan siapa?” tanya Luhan.

“Tentu saja denganku.” Hyeri menjawab pertanyaan Luhan dengan cepat dan kemudian meraih gitar yang ada di tangan Chery. “Ini, Mianhae hanya sebuah gitar lama.”

Luhan tersenyum memandang gitar pemberian Hyeri. Ia pasti sangat senang. Tentu saja, Luhan memang sudah menginginkan sebuah gitar. Apalagi kalau itu gitar kesayangannya, sudah bisa dipastikan kalau ia akan sangat senang menerimanya.

“Kau memberikan shena padaku?” tanya Luhan tanpa mengalihkan perhatiannya dari gitar yang masih ada di depannya itu.

“Ya, ku rasa shena akan lebih baik denganmu. Mian, hanya gitar itu yang bisa ku hadiahkan padamu. Ku harap kau menyukainya-“

“Sangat menyukainya.” Potong Luhan cepat.

“Kau tau Hyeri, hari ini kau mirip sekali dengan seseorang yang menjadi idolaku. Andai saja dia ada di sini, mungkin ia akan menganggapmu kembarannya.” Hyeri terhenyak. “Dan soal shena mulai hari ini shena bersamaku. Apa tidak apa-apa?”

“Itu hadiahmu, kenapa menanyakannya padaku. Itu mi-lik-mu.”

“Kenapa tidak kau mainkan untuk kami sebuah lagu? Kau itukan seorang siswi kesenian, pasti kau bisa memainkannya.” Kata Hyera. “Untuk terakhir kalinya bermain dengan shena, bukan masalah bukan?”

Mereka menatap Hyera bingung, apa? apa aku salah bicara?

“Mainkan ini di depan para tamu, aku akan sangat terhormat kalau kau mau memainkannya di acara ulangtahunku ini.” ucap Luhan –memberi Hyera sedikit kelegaan.

“Aku tak tau apa yang harus ku nyanyikan, lagipula di sini sangat ramai. Kalian tau aku benci keramaian.”

“Kau tidak sedang menyamarkan Hyeri-ah?” tanya Hyera penasaran, bagaimana pun ia sudah berjanji pada Hyera untuk tidak menyamar hari ini. Hyeri menatap Chery sekejap, ku lihat Chery hanya menaikan bahunya melihat tatapan Hyeri.

“Cepatlah, jangan membuang-buang waktu” kata Hyera seraya mendorongnya ke depan para tamu.

Hyeri terlihat seperti orang yang kebingungan.

“Chery-ah, kau yang biasa menemaninya di rumah dengan shena. Beritahu aku lagu apa yang biasa ia mainka dengan shena.” Pinta Hyera pelan pada Chery.

Chery tampak berfikir sejenak, dan kemudian menjawab perkataan Hyera. “Lonely2ne1” yang mendapat jawaban pun mengangguk mengerti.

“Mainkan kami lagu Lonely dari 2ne1. Cepatlah jangan membuat kami menunggu.” Teriak Hyera dari kejauhan dengan wink yang ia buat-buat dengan maksud mengejek Hyeri.

Hyeri tak bisa menolak, karna sekarang semua mata memandangnya. Tak lama shena mulai mengeluarkan suaranya di susul dengan suara indah milik Hyeri, dia benar-benar terlihat seperti seorang penanyi sungguhan. Matanya terus melirik ke sana-ke mari, bernyanyi dengan senyum manisnya, tanpa rasa gugup sedikitpun. Ia benar-benar ahli dalam hal seperti ini.

“Suara yang indah bukan?” suara Luhan menyadarkan Hyera dari lamunannya. Hyera tersenyum mendengar perkataannya tadi. Ia mengedarkan pandangannya tepat ke sebelahnya, kali ini ia tak menemukan Chery, kemana lagi dirinya? Kenapa bisa-bisanya meninggalkanku berdua dengan Luhan di sini.

“Dia benar-benar terlihat seperti seorang bintang, tepat seperti idolaku.” Lagi-lagi Luhan menyadarakan Hyera dari aktifitasnya sebelumnya, sebenarnya apa yang ia pikirkan? Kenapa ia selalu mengganggu ketenanganku? 

“Tidak bisakah kau diam untuk beberapa menit? Suaramu itu mengganggu ketenanganku.”

Luhan menatap Hyera lama, tapi yang ditatap tak menghiraukannya. Yang Hyera pedulikan hanya suara indah Hyeri yang terus menggema di rumah ini.

I’m sorry ige neowa naui story
Sarangiran naegen gwabunhanga bwa
Ne gyeote isseodo
Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely
Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely

“Jangan memejamkan matamu seperti itu, kau terlihat seperti orang bodoh.”

Jangan difikirkan Lee Hyera.

“Ikut aku.” Kata Luhan seraya menarik tangan Hyera keluar. Apa yang ada di pikirannya? Kenapa tiba-tiba menarikku seperti ini? Dasar namja aneh.

Tak lama, Hyera mengedarkan pandangannya menyapu ruangan yang ada di sini. Ini di taman belakang, kenapa ia membawaku ke sini –maksudku di sini terlalu sepi dan aku risih dengan hal ini, dan bukankah sebentar lagi pestanya akan di mulai? Apa tujuannya sebenarnya?

“Kalau ingin bertanya, tanyakan saja. Jangan terlihat seperti orang bodoh.” Katanya yang benar-benar membaca fikiran Hyera.

Dan tentu saja Hyera menanyakannya. “Apa tujuanmu membawaku kemari?”

“Aku tak bisa menahannya” katanya perlahan. Luhan menarik nafasnya sejenak dan melanjutkan perkataanya. “Aku menyukaimu, dan aku tak bisa menahannya”

Deg

Apa? apa katanya? Ia menyukaiku? Sejak kapan? Dan bagaimana bisa? Seharusnya ia tak melakukan hal ini, dan seharusnya juga yang ia sukai itu Hyeri! Bukan diriku!

“Bagaimana?” ia menyadarkan Hyera.

“Apa?” tanya Hyera tak mengerti. “Apanya yang bagaimana?”

Luhan terlihat frustasi –mungkin lebih tepatnya terlihat jengkel dengan sikap Hyerayang seakan-akan tidak mengerti.

“Aku baru saja menyatakan perasaanku, dan kau anggap itu hanya angin lewat?” nada suaranya meninggi, tapi aku tetap tidak memperdulikannya. “Jawab aku!”

“Apa yang harus ku jawab?” tanya Hyera tak kalah keras. “Apa aku juga harus bilang kata-kata itu padamu? Seperti itu?” kali ini emosinya meningkat, tapi dengan perlahan ia mencoba mengontrol emosinya dengan tidak menatap mata Luhan.

Grep

Tabakannya salah, Luhan memeluknya. Astaga, sejak kapan Luhan menjadi agresif seperti ini? Apa maksudnya memelukku di tempat seperti ini? …Ku harap tak ada satupun orang yang melihat kejadian ini, tak terkecuali Hyeri dan… terkecuali dia.

Iya, mata Hyera menangkap seseorang di sana. Dia, orang yang pernah mengingatkannya akan hal ini. Tapi sekarang, dia juga yang melihat kejadian ini. Dengan segera, Hyera lepas tubuhnya dari pelukan Luhan –mungkin sekarang Luhan bingung, kenapa tiba-tiba Hyera melepas pelukannya. Tapi tak lama ia sadar, kalau di sisi lain seseorang sedang menatap keduanya dengan tatapan marahnya.

~~~~~

Hyeri melangkahkan kakinya dengan tujuan yang masih tidak jelas. Setelah menyanyi dihadapan orang banyak tadi benar-benar membuatnya rindu dengan teman-temannya di Amerika. Tapi, ia juga masih belum mau untuk menyibukkan dirinya sendiri. Keputusan pun ia buat, ia melangkahkan kakinya menjuju taman belakang rumah Hyera. Ya, mungkin berada di taman belakang lebih baik. Lagipula, mobilnya juga dipakirkan di sana. Memang sebaiknya ia ke sana, duduk di sebuah ayunan dan menikmati ketenangan –itu yang ia butuhkan.

Dan baru beberapa langkah ia sampai di taman belakang, ternyata dua orang  yang meninggalkannya tadi, dan yang sudah ia cari-cari tadi juga sedang berada disini. Tepat sekali perkiraannya! Tapi ia melihat mereka berdua diam, tak ada yang bicara dan wajah mereka terlihat seperti orang yang… kebingungan. Ada apa ini?

Ia melangkahkan kakinya perlahan mendekat menuju tempat Hyera dan Luhan berdiri membelakanginya.

Satu langkah…

Dua langkah…

Tiga langkah… yak ia hampir sampai,

Em-

“Aku menyukaimu, dan aku tak bisa menahannya”

Deg

Apa? Apa yang baru saja ia dengar? Apa ia tidak salah? Atau memang benar?

Hyeri metatap punggung keduanya, sepasang yeoja dan namja yang tak bergeming dan masih tak menyadari kehadirannya. Perlahan tapi pasti, ia gerakkan kakinya menjauh dari tempat ini. Kali ini ia hancur, benar-benar hancur. Apa ia salah dengar? Ku rasa tidak.

Jalan dengan cepat –Berlari tepatnya. Karna tak kuat menahannya, mungkin lebih baik ia kembali ke apartemennya. Tapi.. bagaimana dengan Chery? Dia ke sini bersamanya, jadi mustahil kalau ia meninggalkan Chery di sini sendirian. Diraihnya ponsel yang berada di dalam tas genggamnya, kemudian mencari nomor Chery dan segera menelponnya.

Tut…

Tut…

Tut…

“Cepat ke mobil, kita pulang sekarang.” Katanya langsung pada tujuannya dan segera mematikan sambungan telfon tanpa mengijinkan Chery mengungkapkan satu kata.

~~~~~

‘Apa-apaan mereka ini? bisa-bisanya berpelukan di tempat seperti ini! Apa mereka tau kalau perbuatan mereka itu bisa membuat Hyeri menangis! Ah, iya Hyeri. Kenapa tiba-tiba ia ingin pulang? Padahal pestanya baru akan dimulai.’ Pikir Chery seraya terus menatap yeoja dan namja yang ia kenali di hadapannya.

‘Dia menatapku’ batin Chery ketika melihat Hyera yang menyadari kedatangannya. Dan dengan satu gerakan Hyera berhasil melepas pelukan Luhan padanya. Sekarang, ketiganya saling menatap satu-sama-lain dengan tatapan tidak-suka.

“Chery-ah, ada perlu apa?” Luhan mulai membuka suaranya.

“Tidak.” Chery masih menatap keduanya dengan tatapan meremehkan. “Aku hanya ingin lewat, dan pergi dari sini.” Sambungnya ketus.

“Pergi? Kau mau kemana? Pesta baru akan di mulai?” kali ini Hyera bicara.

Chery berjalan perlahan melewati keduanya, dan kemudian berkata seraya menunjuk sebuah mobil yang tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang. “Seseorang menungguku di mobilnya.”

Ke dua pasang mata itu pun menoleh ke tempat yang di tunjuk Chery, dan di sana jelas terlihat seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Hyeri.

‘Itu mobil Hyeri!’ batin Hyera.

‘Ku rasa, aku tau kenapa ia menelfonku tadi. Dan kenapa ia ingin kembali ke apartemennya sekarang.’ Batin Chery.

Well, aku pamit.” Kata Chery tanpa menoleh ataupun memberi senyum kepada dua orang yang sekarang berada di belakangnya itu.

“Ku rasa, kau mengerti hal ini.” tambahnya.

Chery berjalan menuju mobil Hyeri, sedangkan Hyera hanya diam tak berkutik mendengar perkataan Chery tadi. Ia masih tidak percaya kalau Hyeri melihat kejadian itu.

‘Benar-benar ceroboh Hyera! Kau bodoh!’ batin Hyera, seraya pergi meninggalkan Luhan yang masih diam membeku dengan tatapan tak mengerti.

~~~~~

“Ada apa denganmu? Sedaritadi ku lihat kau hanya menatap lurus ke depan, tak seperti biasanya. Apa… kau melihat mereka?”

Hyeri tetap pada pendiriannya, ia benar-benar tak mengatakan sepatah kata pun sejak kejadian itu. Dan sekarang, wajahnya benar-benar terlihat menyedihkan.

“Jangan di fikirkan, sudah ku bilang ini menyakitkan. Jadi jangan memikirkannya lagi.” Celetuk Chery.

Hyeri menatap tajam Chery, seakan-akan mengatakan kalau dirinya tidak akan menangis hanya karna kejadian tadi. Tapi dengan segera ia mengalihkan kembali pandangannya itu.

“Apa? Apa kau mau bilang kalau yang ku lihat tadi hanya sekedar pelukan persahabatan? Atau mungkin pelukan keluarga? Seperti itu?” Chery terus menekan Hyeri dengan setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya.

“Aku tak tau, sejak kapan kau bisa berada di mobil. Tapi kurasa kau lebih tau tentang kejadian itu, tentang pelukanku itu. Bahkan sampai ke kikukan yang timbul dari wajah Hyera. Apa kau melihatnya?” Chery terus mengoceh tanpa memperdulikan perasaan Hyeri. “Mungkin kau melihatnya, tapi ku rasa kau tak tau apa yang ia katakan padaku. Mungkin Hyera menyesal dengan hal itu, tapi Luhan? Ku lihat justru dia bahagia dan tidak pe-“

“Cukup!” Hyeri menyerah dengan semua ucapan sahabatnya, Chery. “Tidak bisakah kau diam? Tidak biskah kau melupakan semuanya? Dan apa harus kau membahasnya di saat seperti ini? kau tau aku menyukainya, kau tau aku mencintainya, peduli dengannya, tapi kenapa kau justru menekanku dengan semua perkataanmu?!” bentak Hyeri.

Chery tidak sedikit pun merasa takut, justru yang seperti ini lah yang ia mau. Hyeri –sahabatnya, kembali menjadi dirinya yang mudah terbawa emosi. Bukan Hyeri yang menahan semua amarahnya dengan cara menghindar dari kenyataan.

“Tumpahkan semuanya, jangan memendamnya sendirian. Kau tau aku bersamamu, katakan semua yang ingin kau katakan.” Ucap Chery lembut.

Hyeri menghentikan mobilnya tepat di samping jalan raya yang sedang sepi. Ia menangis. “Aku tak tau ini benar atau tidak, tapi Luhan memilih Hyera. Luhan memilih Hyera. Apa kau tau bagaimana rasanya? Menyakitkan.” Kata Hyeri di tengah tangisnya. Chery memandang sahabatnya itu dengan perasaan khawatir-sedih-dan-tak-tega.

“Aku tidak tau siapa yang harus ku percaya. Mungkin Hyera akan merasa bersalah dengan semua ini, tapi aku sadar dan aku tidak terlalu bodoh untuk menyalahkannya. Ia bahkan tak mengatakan perasaannya pada Luhan, ia tau kalau aku yang menyukainya” Hyeri menghentikan perkataannya dan menundukan wajahnya.

“Kau tau, kau mungkin tak harus menyalahkan dirimu. Kau mencintai Luhan dan itu buka kesalahanmu. Dan Hyera, apa pun respon yang Luhan dapat darinya, itu pasti respon terbaik yang tak akan menyebabkan kalian bertiga bertengkar seperti ini.” Chery mencoba menenangkan sahabatnya itu.

“Tapi… kau tau… kali ini aku sendirian… tak ada yang bisa ku percaya…” tangis Hyeri semakin menjadi-jadi.

“Kau tidak sendirian Hyeri-ah” kata Chery. “Kau bersamaku. Selalu bersamaku.” Tambahnya seraya mengelus-elus bagian belakang kepala Hyeri.

Hyeri mendongakkan kepalanya menatap Chery, ia merasa bahagia mempunyai sahabat yang selalu menemaninya –baik dalam keadaan senang maupun susah. Tak lama keduanya saling bertukar pandang dan tersenyum, yang kemudian disusul dengan sebuah pelukan hangat di antara keduanya.

~~~~~

Hyera berjalan menyelusuri koridor apartemen Hyeri. Tentu saja ia datang untuk menemui Hyeri, karna bagaimana pun ia tak mau semuanya berakhir hanya karna kejadian itu.

Memang seharusnya ia ke sini sejak kemarin –tepatnya sejak kejadian itu. Tapi sayangnya Hyera terlalu pengecut, ia terlalu takut melihat wajah kecewa Hyeri dan lagipula eomma-nya tidak mengizinkannya pergi dari pesta itu. Dan… Luhan? Baiklah, ia tak peduli.

Satu sentuhan yang berhasil membuat rumah bel rumah itu berbunyi, membuatnya semakin terlihat gugup dan takut tentunya. Belum lagi, ini masih pagi. Apa Hyeri sudah bangun? Atau mungkin ia sedang bermain dengan earphone nya?

Kriet

Seseorang berdiri tepat di depan pintu yang berada di hadapannya, itu Hyeri. Dan dia, terlihat rapi pagi ini. Apa iya akan pergi? Tapi kenapa pagi sekali?

“Hyera-ya, masuklah” ia berkata sambil terus tersenyum kepada Hyera, tapi ini aneh. Biasanya ia tidak seformal ini menyambut sahabatnya sendiri.

Hyera berjalan tepat di belakangnya, dan kemudian sampai di sofa yang biasanya ia tempati setiap ia datang ke sini.

“Ada apa?” tanya Hyeri. Yang ditanya pun mengalihkan perhatiannya pada Hyeri, wajah Hyeri terlihat lelah. Apa iya ia terus-menerus menangis karna kejadian kemarin?

“Aku kesini untuk menjelaskanmu tentang kejadian kemarin” jawab Hyera langsung ke inti.

“Apa yang harus di jelaskan? Apa kalian sudah benar-benar menjadi sepasang kekasih sekarang? Wah, aku turut senang mendengarnya.” Hyeri berkata dengan senyum diwajahnya, tapi menurut Hyera senyum itu lebih dari sekedar senyum, itu terlihat seperti sebuah ancaman.

“Kau salah, jangan menilaiku seperti itu. Aku tak mungkin mengambil apa yang bukan milikku, jadi jangan marah seperti itu.” Hyera menjelaskan. Hyeri menghampirinya dengan dua gelas hot chocolate di tangannya.

“Aku tidak marah” Hyeri tersenyum –benar-benar manis. “Apa maksudmu mengambil yang bukan milikmu? Memang kau fikir Luhan itu milik siapa? Dia milik Tuhan, milik kedua orangtuanya, dan tentu saja milikmu” sambungnya seraya meminum hot chocolate nya.

“Apa yang kau fikirkan? Dia milikmu, dia milikmu seutuhnya. Aku tak berhak mengambilnya darimu” Hyera memperbaiki kata-kata Hyeri tadi.

Hyeri terkekeh geli. “Ayolah Hyera-ah, siapa pun tau itu. Luhan memilihmu dan aku? Aku bisa apa? Aku ini tidak lebih dari teman baginya. Jadi jangan mengatakan yang seharusnya tidak kau katakan”

Hyera tersenyum mendengar komentarnya tadi, sejak kapan Hyeri berubah menjadi seseorang yang berfikiran sejauh itu? Kenapa ia terlihat berbeda tapi menutupinya? Apa iya sedang menyamar di depanku?

Mianhae Hyera-ah, aku tak punya waktu lama. Aku harus segera ke kampus” Hyera mengangguk mengerti mendengar ucapannya.

“Dan soal Luhan, jangan difikirkan. Aku tau kau pasti bingung dengan perasaanmu. Kalau kau menyukainya atau mencintainya, jangan pedulikan aku. Aku hanya akan menjadi penghalang untuk hubungan kalian. Aku tak akan berubah menjadi Hyeri yang lainnya, aku akan tetap menjadi Hyeri. Ah iya, jangan pernah merasa bersalah karnaku.” Tambahnya dan kemudian beranjak pergi dari sini.

Dan, di sinilah Hyera. Di Apartemen Hyeri, sendirian. Mencerna setiap perkataannya. Dan tentu saja ia mengerti, tapi tidak akan pernah melakukannya. Sebenarnya apa yang ada di fikirannya itu? Kenapa bisa-bisanya bicara seperti itu? Apa ia akan melepas Luhan begitu saja? Ah, dia memang benar-benar menyamar tadi.

~~~~~

Title                 : Only Yes [Chapter 3(Food)&Chapther 4(Lonely, I’m not Alone)]

Author             : hantaengwoo (itsluhn)

Genre              : Romance, Friendship, Entertaiment, etc.

Length             : Chapter(Series)

Main Cast        :

  • Xi Luhan
  • Kim Hyeri (OC)
  • Lee Hyera (OC)
  • Kim Chery
  • Kim Taeyeon

Food

“Cheeery! Percepat dirimu!” Hyeri berteriak kesal.

Saat ini Hyeri memang sedang menunggu Chery yang sibuk di dalam sebuah kamar mandi yang tepat berada di  toilet kampus mereka. Toilet itu memang sepi, tapi tetap saja Hyeri merasa tidak nyama dengan sekitarnya. Karna bagaimana pun, ia menunggu di toilet.

Tak lama kemudian Chery keluar dengan tas make up nya.

“Sudah ku bilang, aku hanya akan mencari pakaian untuk besok bukan untuk mencari seorang namja.” Kata Hyeri yang tak setuju dengan cara Chery.

“Apa bedanya? Kau mencari pakaian yang membuatmu semakin cantik untuk mengikat seorang namja bukan? Jadi kurasa aku harus memulainya dari sekarang” jawab Chery yang tak bisa dimengerti sama sekali.

“Besok saja Chery. Aku tak mungkin melepas penyamaranku sekarang, kau tau ini masih di lingkungan kampus jadi tidak mungkin aku melakukannya” jelas Hyeri.

“Aku tau, tapi setidaknya aku hanya ingin menyocokkan saja dengan kulitmu.”

Hyeri menghela nafasnya sesaat kemudian memandang Chery. Ia melihat seorang Kim Chery yang sudah siap dengan sebuah lipstick di tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya menggenggam tas make up nya erat. Tangannya bergerak cepat memakaikan lipstick itu di bibir Hyeri, cepat tapi lembut. Dan hasilnya juga menarik.

“Cocok.” Komentarnya. “Kau tau, kau itu cantik meskipun kau tidak dengan make up mu. Tapi sayangnya kau menyembunyikannya dengan cara menyamarmu.”

“Tidak untuk Luhan Chery-ah” ucap Hyeri cepat. “Dia tau wajah asliku tanpa menyamar, bahkan ku fikir ia mengenalku awalnya. Tapi ternyata ia tidak berani untuk memastikannya, walaupun aku memang tidak berharap ia mengetahui identitasku. Tapi tetap saja dia tak pernah bilang kalau aku cantik ataupun menawan.”

“Ayolah Hyeri… hanya karna ia takk mengatakan hal itu bukan berarti ia tidak peduli denganmu” sergah Chery lembut.

“Sudahlah lupakan. Kau tau, waktuku tak banyak hari ini. aku masih harus membersihkan apartemenku, karna besok aku pasti tak akan sempat membersihkannya. Jadi cepatlah”

“Aku tak kan berlama-lama dengan wajahmu, hanya memastikan hal yang cocok dan setelah itu kita pergi ke sebuah toko untuk mencari sebuah gaun yang juga cocok untukmu.”

“Aku tau” respon Hyeri cepat dan singkat.

Chery mempercepat kegiatannya, tanpa harus memikir pun Hyera kira Chery sudah mendapatkan hal yang cocok untuknya. Karna bagaimana pun, make up itu makanannya setiap hari –sebelum ia pindah ke Korea.

Setelahnya keduanya memilih untuk pergi ke sebuah toko yang tak begitu jauh dari kampus mereka. Hyeri tak berkutik dengan keadaan di sekelilingnya, hanya Chery yang berkutik. Ia memilihkan Chery berbagai macam pakaian untuk di coba –Oke, menurut Hyeri ini berlebihan, dan tentu saja Hyeri menolaknya. Ia di sini hanya untuk mencari satu pakaian, bukan untuk menjadi seorang model di sini.

“Bukannya mencoba pakaian berulang-ulang adalah makananmu sehari-hari selama di Amerika?” tanyanya yang menurut Hyeri merupakan sebuah ledekan.

“Hey hey, jangan katakan itu di sini.” Sergah Hyeri, ia menatap Chery dengan pandangan bertanya. “Sudahlah, carikan aku pakaian yang cantik tapi tidak berlebihan.” Sambungnya.

“Baiklah, akan ku carikan.” Chery pun berlau dari hadapannya, mengitari toko ini sendirian dan kemudian memandang Hyeri sekejap seperti sedang menerawang.

Tak lama Cheri berjalan kembali ke arah Hyeri dengan sebuah gantungan di tangannya. “Bagaimana kalau yang ini?” tanyanya.

Aku menatap pakaian yang ada di tangannya dengan jeli. “Sebuah gaun?” tanyanya.

“Aku tak yakin ini benar-benar gaun, menurutku ini sebuah mini dress. Bagaimana?”

Hyeri memandang dress itu lagi, memang cantik dan ..err sexy. Warna birunya benar-benar terlihat lembut, gayanya terlihat modis walaupun beberapa bagian dress itu terbuka, dan hanya dengan beberapa manik-manik dibelakangnya membuat dress itu semakin cantik.

“Terlalu sexy” komentar Hyeri, Chery menarik nafasnya dan mendengus kesal mendengar komentarnya. Kemudian berjalan mengelilingi toko ini lagi sendirian.

Hyeri berdiri tepat di sebelah ruang ganti yang ada di toko tersebut, ia menunggu kedatangan Chery dengan pakaian selanjutnya.

Tak perlu waktu lama Chery pun datang menghampirinya dengan senyum puas dan sebuah pakaian di tangannya.

Mini dress lagi?” tanya Hyeri tanpa berbasa-basi.

Yes, and i think it is the last.” Katanya seraya menyerahkan pakaian itu pada Hyeri.

Dengan cepat kaki Hyeri melangkah masuk ke dalam ruang ganti, ia mencoba pakaian itu. Sedangkan Chery –diluar ruang ganti– terus tersenyum puas dengan pilihannya.

Tak lama, Hyeri keluar dengan pakaian itu. Chery yang menunggu hasilnya pun menatap Hyeri dengan tatapan senang-bahagia-dan-puas. Hyeri cantik dan fashionable dengan pakaian itu. Sebuah mini- dress menempel dengan sempurnanya di tubuhnya.

“Kau terlihat cantik dengan baju ini, kau suka?” tanya Chery tetap dengan senyum puasnya.

“Aku suka. Tapi…” raut wajah Chery berubah seketika. “…tidak kah ini terlalu berlebihan?” tanya Hyeri perlahan.

“Berlebihan? Kau fikir ini berlebihan? Sebuah mini dress yang cantik dengan warna kuning-kecoklatan dan dengan model yang sangat-sangat-cocok denganmu itu kau bilang berlebihan?” Hyeri tampak berfikir sejenak. “Lalu kau sebut apa penyamaranmu selama ini?” tanya Chery.

Hyeri terhenyak, ia tak bisa menjawab pertanyaan yang Chery berikan padanya.

“Aku suka kau dengan mini dress ini, jadi jangan menolak. Kalau kau fikir ini berlebihan, ku rasa kau harus memikirkan penyamaranmu selama ini.” ucap Chery kesal.

“Baiklah, aku ambil yang ini.” kata Hyeri pasrah pada keputusan sahabatnya itu.

“Cepat ganti pakaianmu, setelah ini kita langsung pulang.” Hyeri mengangguk mengerti dengan ucapan Chery.

~~~~~

“Apa yang kau fikirkan?”

Perkataan Chery berhasil menyadarkan Hyeri dari lamunannya. Ia menggelengkan kepalanya, dan  kemudian beralih pada kaca yang ada di hadapannya.

“Apa kau yakin kali ini penyamaranku benar-benar tidak terlihat?”

“Tentu saja tidak.” Jawab Chery yakin.

“Bagaimana kau bisa seyakin itu?”

Chery menghela napasnya sebelum menjelaskan semuanya. “Look, your pretty face is real. But you..” Chery mengedarkan pandangannya ke sekujur tubuh Hyeri. “…ah that’s-“

“secret!” sahut Hyeri memotong penjelasan Chery. “Tapi, apa Hyera tau kalau aku menyamar nantinya?” tanya nya lagi.

“Ku rasa tidak, karna make up mu itu ku buat senatural mungkin tapi tetap dengan tema penyamaranmu.”

“Ah, baiklah. I can believe.” Kata Hyeri sambil tersenyum puas di depan cermin.

“Bagaimana denganmu? Apa itu sebuah penyamaran?” tanya Hyeri. Ia melihat Chery terus saja membedaki wajahnya di pantulan cermin.

“Apa?” Chery terkejut. “Aku tak akan pernah memakai topeng.” Sergah Chery.

Hyeri hanya tersenyum mendengar jawaban sahabatnya itu, ia tau yang dimaksud Chery adalah dirinya. Tapi ia tak memikirkannya, bagaimana pun kedatangannya ke Korea bukan untuk mencari kesibukan.

~~~~~

 


 

Lonely, I’m Not Alone

 

 

Dimana mereka? Apa mereka tidak datang? Atau terlambat? Kenapa bisa-bisanya mereka datang terlambat di hari spesial Luhan, apalagi mengingat Hyeri yang menyukai Luhan sejak awal pertemuan mereka. Jadi, sedikit kemungkinan mereka untuk terlambat.

“Menunggu seseorang?” suara berat tapi lembut seorang namja menggema di telinga yeoja yang sedang menunggu kedua temannya, dan membuatnya sukses menolehkan pandangannya ke arahnya.

“Ya, as you know she is Hyeri, i think i shouldn’t tell you about it” katanya. Luhan hanya tersenyum mengerti.

“Kau terlihat berbeda hari ini.” katanya. “Aku bahkan sampai tidak mengenalmu.”

Hyera terkekeh mendengar perkataannya. “Kau fikir aku menyamar? Membuatmu tak mengenaliku dengan penampilanku hari ini? Hal yang bagus Xi Luhan.”

No, not at all. Kau terlihat lebih cantik dari biasanya. Hanya itu.”

Kali ini Hyera terhenyak, mungkin lebih tepatnya ia malu, dan mungkin sekarang wajahnya sudah memerah karna ucapan Luhan tadi. Tapi dengan cepat perhatiannya beralih pada 2 orang yang baru saja masuk ke dalam rumah, 2  orang yang benar-benar ia tunggu kehadirannya. Tapi yang ia lihat Hyeri hanya masuk sendirian, dan yeoja di sebelahnya itu bukan Chery. Lalu,  kemana Chery?

“Hyeri-ah!” sapanya dari jauh seraya melambaikan tangannya ke arah Hyeri. Hyeri pun menjawab sapaannya dengan balas melambaikan  tangannya pada Hyera dan berjalan mendekat ke arah Hyera dan Luhan.

“Kenapa bisa terlambat?” tanya Hyera setelah Hyeri berada tepat dihadapannya.

Hyeri benar-benar-cantik-hari-ini, dengan gaun kuning-kecoklatannya kulit putih-mulus-dan-beningnya itu terpampang indah di mata Hyera. Gaunnya benar-benar pas di tubuhnya, bahkan hari ini Hyeri terlihat tidak menyamar. Make up nya terlihat natural dan berbeda dari biasanya. Di tambah dengan aksesoris yang menyatu dengan kulitnya. Benar-benar terlihat sempurna.

“Aku tidak yakin kalau aku terlambat. Buktinya, pesta belum di mulai bukan? Lagipula yang berulangtahun masih berada di sini.” Hyeri menatap Luhan dengan senyum manisnya, dan Luhan juga membalas tatapan dan senyuman itu dengan sangat manis.

“Kau terlihat cantik sekali hari ini. Dan… apa yang membuatmu memilih untuk memakai gaun?” tanya Hyera memperhatikan.

“Ini mini dress Hyera, aku tak memakai gaun. Chery yang menyuruhku memakai ini, lagipula seharusnya aku yang menanyakan hal ini padamu. Apa yang membuatmu memakai gaun secantik ini?”

Ah dia menanyakannya, bagaimana ini! katakan, tidak, katakan, tidak, katakan, tidak. Ah bagaimana?!

“Ah, aku hanya-“

“Aku yang memberikan gaun ini untuknya.” Potong Luhan.

Jinjayo?” tanya Hyeri pada Hyera, Hyera mengangguk menjawab pertanyaannya.

“Kenapa hanya satu? Ah kau melupakanku. Dimana gaunku? Apa kau tidak memberikanku gaun yang sama?” kali ini ia menanyakannya pada Luhan dengan bibir yang sedikit dimanyunkan.

“Aku hanya tidak sengaja membelikannya gaun, lagipula kau juga sudah mendapatkan kostummu. Dan, Hey! Aku yang berulangtahun tapi kenapa kau yang memintaku memberikan gaun padamu? Dimana hadiahku? Kau tak melupakannyakan?” jawab Luhan mengalihkan pembicaraan.

“Aku tak lupa, hanya saja aku tak tau apa yang harus ku berikan padamu. Jadi sebaiknya kau terima saja apa yang ku berikan.”  Luhan mengangguk mengerti.

Tak perlu waktu lama, Chery datang dengan sebuah gitar di tangannya. Apa tadi ia mengambil gitar itu?

“Yah, Chery-ah. Kau datang? Dengan siapa?” tanya Luhan.

“Tentu saja denganku.” Hyeri menjawab pertanyaan Luhan dengan cepat dan kemudian meraih gitar yang ada di tangan Chery. “Ini, Mianhae hanya sebuah gitar lama.”

Luhan tersenyum memandang gitar pemberian Hyeri. Ia pasti sangat senang. Tentu saja, Luhan memang sudah menginginkan sebuah gitar. Apalagi kalau itu gitar kesayangannya, sudah bisa dipastikan kalau ia akan sangat senang menerimanya.

“Kau memberikan shena padaku?” tanya Luhan tanpa mengalihkan perhatiannya dari gitar yang masih ada di depannya itu.

“Ya, ku rasa shena akan lebih baik denganmu. Mian, hanya gitar itu yang bisa ku hadiahkan padamu. Ku harap kau menyukainya-“

“Sangat menyukainya.” Potong Luhan cepat.

“Kau tau Hyeri, hari ini kau mirip sekali dengan seseorang yang menjadi idolaku. Andai saja dia ada di sini, mungkin ia akan menganggapmu kembarannya.” Hyeri terhenyak. “Dan soal shena mulai hari ini shena bersamaku. Apa tidak apa-apa?”

“Itu hadiahmu, kenapa menanyakannya padaku. Itu mi-lik-mu.”

“Kenapa tidak kau mainkan untuk kami sebuah lagu? Kau itukan seorang siswi kesenian, pasti kau bisa memainkannya.” Kata Hyera. “Untuk terakhir kalinya bermain dengan shena, bukan masalah bukan?”

Mereka menatap Hyera bingung, apa? apa aku salah bicara?

“Mainkan ini di depan para tamu, aku akan sangat terhormat kalau kau mau memainkannya di acara ulangtahunku ini.” ucap Luhan –memberi Hyera sedikit kelegaan.

“Aku tak tau apa yang harus ku nyanyikan, lagipula di sini sangat ramai. Kalian tau aku benci keramaian.”

“Kau tidak sedang menyamarkan Hyeri-ah?” tanya Hyera penasaran, bagaimana pun ia sudah berjanji pada Hyera untuk tidak menyamar hari ini. Hyeri menatap Chery sekejap, ku lihat Chery hanya menaikan bahunya melihat tatapan Hyeri.

“Cepatlah, jangan membuang-buang waktu” kata Hyera seraya mendorongnya ke depan para tamu.

Hyeri terlihat seperti orang yang kebingungan.

“Chery-ah, kau yang biasa menemaninya di rumah dengan shena. Beritahu aku lagu apa yang biasa ia mainka dengan shena.” Pinta Hyera pelan pada Chery.

Chery tampak berfikir sejenak, dan kemudian menjawab perkataan Hyera. “Lonely2ne1” yang mendapat jawaban pun mengangguk mengerti.

“Mainkan kami lagu Lonely dari 2ne1. Cepatlah jangan membuat kami menunggu.” Teriak Hyera dari kejauhan dengan wink yang ia buat-buat dengan maksud mengejek Hyeri.

Hyeri tak bisa menolak, karna sekarang semua mata memandangnya. Tak lama shena mulai mengeluarkan suaranya di susul dengan suara indah milik Hyeri, dia benar-benar terlihat seperti seorang penanyi sungguhan. Matanya terus melirik ke sana-ke mari, bernyanyi dengan senyum manisnya, tanpa rasa gugup sedikitpun. Ia benar-benar ahli dalam hal seperti ini.

“Suara yang indah bukan?” suara Luhan menyadarkan Hyera dari lamunannya. Hyera tersenyum mendengar perkataannya tadi. Ia mengedarkan pandangannya tepat ke sebelahnya, kali ini ia tak menemukan Chery, kemana lagi dirinya? Kenapa bisa-bisanya meninggalkanku berdua dengan Luhan di sini.

“Dia benar-benar terlihat seperti seorang bintang, tepat seperti idolaku.” Lagi-lagi Luhan menyadarakan Hyera dari aktifitasnya sebelumnya, sebenarnya apa yang ia pikirkan? Kenapa ia selalu mengganggu ketenanganku? 

“Tidak bisakah kau diam untuk beberapa menit? Suaramu itu mengganggu ketenanganku.”

Luhan menatap Hyera lama, tapi yang ditatap tak menghiraukannya. Yang Hyera pedulikan hanya suara indah Hyeri yang terus menggema di rumah ini.

I’m sorry ige neowa naui story
Sarangiran naegen gwabunhanga bwa
Ne gyeote isseodo
Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely
Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely

“Jangan memejamkan matamu seperti itu, kau terlihat seperti orang bodoh.”

Jangan difikirkan Lee Hyera.

“Ikut aku.” Kata Luhan seraya menarik tangan Hyera keluar. Apa yang ada di pikirannya? Kenapa tiba-tiba menarikku seperti ini? Dasar namja aneh.

Tak lama, Hyera mengedarkan pandangannya menyapu ruangan yang ada di sini. Ini di taman belakang, kenapa ia membawaku ke sini –maksudku di sini terlalu sepi dan aku risih dengan hal ini, dan bukankah sebentar lagi pestanya akan di mulai? Apa tujuannya sebenarnya?

“Kalau ingin bertanya, tanyakan saja. Jangan terlihat seperti orang bodoh.” Katanya yang benar-benar membaca fikiran Hyera.

Dan tentu saja Hyera menanyakannya. “Apa tujuanmu membawaku kemari?”

“Aku tak bisa menahannya” katanya perlahan. Luhan menarik nafasnya sejenak dan melanjutkan perkataanya. “Aku menyukaimu, dan aku tak bisa menahannya”

Deg

Apa? apa katanya? Ia menyukaiku? Sejak kapan? Dan bagaimana bisa? Seharusnya ia tak melakukan hal ini, dan seharusnya juga yang ia sukai itu Hyeri! Bukan diriku!

“Bagaimana?” ia menyadarkan Hyera.

“Apa?” tanya Hyera tak mengerti. “Apanya yang bagaimana?”

Luhan terlihat frustasi –mungkin lebih tepatnya terlihat jengkel dengan sikap Hyerayang seakan-akan tidak mengerti.

“Aku baru saja menyatakan perasaanku, dan kau anggap itu hanya angin lewat?” nada suaranya meninggi, tapi aku tetap tidak memperdulikannya. “Jawab aku!”

“Apa yang harus ku jawab?” tanya Hyera tak kalah keras. “Apa aku juga harus bilang kata-kata itu padamu? Seperti itu?” kali ini emosinya meningkat, tapi dengan perlahan ia mencoba mengontrol emosinya dengan tidak menatap mata Luhan.

Grep

Tabakannya salah, Luhan memeluknya. Astaga, sejak kapan Luhan menjadi agresif seperti ini? Apa maksudnya memelukku di tempat seperti ini? …Ku harap tak ada satupun orang yang melihat kejadian ini, tak terkecuali Hyeri dan… terkecuali dia.

Iya, mata Hyera menangkap seseorang di sana. Dia, orang yang pernah mengingatkannya akan hal ini. Tapi sekarang, dia juga yang melihat kejadian ini. Dengan segera, Hyera lepas tubuhnya dari pelukan Luhan –mungkin sekarang Luhan bingung, kenapa tiba-tiba Hyera melepas pelukannya. Tapi tak lama ia sadar, kalau di sisi lain seseorang sedang menatap keduanya dengan tatapan marahnya.

~~~~~

Hyeri melangkahkan kakinya dengan tujuan yang masih tidak jelas. Setelah menyanyi dihadapan orang banyak tadi benar-benar membuatnya rindu dengan teman-temannya di Amerika. Tapi, ia juga masih belum mau untuk menyibukkan dirinya sendiri. Keputusan pun ia buat, ia melangkahkan kakinya menjuju taman belakang rumah Hyera. Ya, mungkin berada di taman belakang lebih baik. Lagipula, mobilnya juga dipakirkan di sana. Memang sebaiknya ia ke sana, duduk di sebuah ayunan dan menikmati ketenangan –itu yang ia butuhkan.

Dan baru beberapa langkah ia sampai di taman belakang, ternyata dua orang  yang meninggalkannya tadi, dan yang sudah ia cari-cari tadi juga sedang berada disini. Tepat sekali perkiraannya! Tapi ia melihat mereka berdua diam, tak ada yang bicara dan wajah mereka terlihat seperti orang yang… kebingungan. Ada apa ini?

Ia melangkahkan kakinya perlahan mendekat menuju tempat Hyera dan Luhan berdiri membelakanginya.

Satu langkah…

Dua langkah…

Tiga langkah… yak ia hampir sampai,

Em-

“Aku menyukaimu, dan aku tak bisa menahannya”

Deg

Apa? Apa yang baru saja ia dengar? Apa ia tidak salah? Atau memang benar?

Hyeri metatap punggung keduanya, sepasang yeoja dan namja yang tak bergeming dan masih tak menyadari kehadirannya. Perlahan tapi pasti, ia gerakkan kakinya menjauh dari tempat ini. Kali ini ia hancur, benar-benar hancur. Apa ia salah dengar? Ku rasa tidak.

Jalan dengan cepat –Berlari tepatnya. Karna tak kuat menahannya, mungkin lebih baik ia kembali ke apartemennya. Tapi.. bagaimana dengan Chery? Dia ke sini bersamanya, jadi mustahil kalau ia meninggalkan Chery di sini sendirian. Diraihnya ponsel yang berada di dalam tas genggamnya, kemudian mencari nomor Chery dan segera menelponnya.

Tut…

Tut…

Tut…

“Cepat ke mobil, kita pulang sekarang.” Katanya langsung pada tujuannya dan segera mematikan sambungan telfon tanpa mengijinkan Chery mengungkapkan satu kata.

~~~~~

‘Apa-apaan mereka ini? bisa-bisanya berpelukan di tempat seperti ini! Apa mereka tau kalau perbuatan mereka itu bisa membuat Hyeri menangis! Ah, iya Hyeri. Kenapa tiba-tiba ia ingin pulang? Padahal pestanya baru akan dimulai.’ Pikir Chery seraya terus menatap yeoja dan namja yang ia kenali di hadapannya.

‘Dia menatapku’ batin Chery ketika melihat Hyera yang menyadari kedatangannya. Dan dengan satu gerakan Hyera berhasil melepas pelukan Luhan padanya. Sekarang, ketiganya saling menatap satu-sama-lain dengan tatapan tidak-suka.

“Chery-ah, ada perlu apa?” Luhan mulai membuka suaranya.

“Tidak.” Chery masih menatap keduanya dengan tatapan meremehkan. “Aku hanya ingin lewat, dan pergi dari sini.” Sambungnya ketus.

“Pergi? Kau mau kemana? Pesta baru akan di mulai?” kali ini Hyera bicara.

Chery berjalan perlahan melewati keduanya, dan kemudian berkata seraya menunjuk sebuah mobil yang tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang. “Seseorang menungguku di mobilnya.”

Ke dua pasang mata itu pun menoleh ke tempat yang di tunjuk Chery, dan di sana jelas terlihat seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Hyeri.

‘Itu mobil Hyeri!’ batin Hyera.

‘Ku rasa, aku tau kenapa ia menelfonku tadi. Dan kenapa ia ingin kembali ke apartemennya sekarang.’ Batin Chery.

Well, aku pamit.” Kata Chery tanpa menoleh ataupun memberi senyum kepada dua orang yang sekarang berada di belakangnya itu.

“Ku rasa, kau mengerti hal ini.” tambahnya.

Chery berjalan menuju mobil Hyeri, sedangkan Hyera hanya diam tak berkutik mendengar perkataan Chery tadi. Ia masih tidak percaya kalau Hyeri melihat kejadian itu.

‘Benar-benar ceroboh Hyera! Kau bodoh!’ batin Hyera, seraya pergi meninggalkan Luhan yang masih diam membeku dengan tatapan tak mengerti.

~~~~~

“Ada apa denganmu? Sedaritadi ku lihat kau hanya menatap lurus ke depan, tak seperti biasanya. Apa… kau melihat mereka?”

Hyeri tetap pada pendiriannya, ia benar-benar tak mengatakan sepatah kata pun sejak kejadian itu. Dan sekarang, wajahnya benar-benar terlihat menyedihkan.

“Jangan di fikirkan, sudah ku bilang ini menyakitkan. Jadi jangan memikirkannya lagi.” Celetuk Chery.

Hyeri menatap tajam Chery, seakan-akan mengatakan kalau dirinya tidak akan menangis hanya karna kejadian tadi. Tapi dengan segera ia mengalihkan kembali pandangannya itu.

“Apa? Apa kau mau bilang kalau yang ku lihat tadi hanya sekedar pelukan persahabatan? Atau mungkin pelukan keluarga? Seperti itu?” Chery terus menekan Hyeri dengan setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya.

“Aku tak tau, sejak kapan kau bisa berada di mobil. Tapi kurasa kau lebih tau tentang kejadian itu, tentang pelukanku itu. Bahkan sampai ke kikukan yang timbul dari wajah Hyera. Apa kau melihatnya?” Chery terus mengoceh tanpa memperdulikan perasaan Hyeri. “Mungkin kau melihatnya, tapi ku rasa kau tak tau apa yang ia katakan padaku. Mungkin Hyera menyesal dengan hal itu, tapi Luhan? Ku lihat justru dia bahagia dan tidak pe-“

“Cukup!” Hyeri menyerah dengan semua ucapan sahabatnya, Chery. “Tidak bisakah kau diam? Tidak biskah kau melupakan semuanya? Dan apa harus kau membahasnya di saat seperti ini? kau tau aku menyukainya, kau tau aku mencintainya, peduli dengannya, tapi kenapa kau justru menekanku dengan semua perkataanmu?!” bentak Hyeri.

Chery tidak sedikit pun merasa takut, justru yang seperti ini lah yang ia mau. Hyeri –sahabatnya, kembali menjadi dirinya yang mudah terbawa emosi. Bukan Hyeri yang menahan semua amarahnya dengan cara menghindar dari kenyataan.

“Tumpahkan semuanya, jangan memendamnya sendirian. Kau tau aku bersamamu, katakan semua yang ingin kau katakan.” Ucap Chery lembut.

Hyeri menghentikan mobilnya tepat di samping jalan raya yang sedang sepi. Ia menangis. “Aku tak tau ini benar atau tidak, tapi Luhan memilih Hyera. Luhan memilih Hyera. Apa kau tau bagaimana rasanya? Menyakitkan.” Kata Hyeri di tengah tangisnya. Chery memandang sahabatnya itu dengan perasaan khawatir-sedih-dan-tak-tega.

“Aku tidak tau siapa yang harus ku percaya. Mungkin Hyera akan merasa bersalah dengan semua ini, tapi aku sadar dan aku tidak terlalu bodoh untuk menyalahkannya. Ia bahkan tak mengatakan perasaannya pada Luhan, ia tau kalau aku yang menyukainya” Hyeri menghentikan perkataannya dan menundukan wajahnya.

“Kau tau, kau mungkin tak harus menyalahkan dirimu. Kau mencintai Luhan dan itu buka kesalahanmu. Dan Hyera, apa pun respon yang Luhan dapat darinya, itu pasti respon terbaik yang tak akan menyebabkan kalian bertiga bertengkar seperti ini.” Chery mencoba menenangkan sahabatnya itu.

“Tapi… kau tau… kali ini aku sendirian… tak ada yang bisa ku percaya…” tangis Hyeri semakin menjadi-jadi.

“Kau tidak sendirian Hyeri-ah” kata Chery. “Kau bersamaku. Selalu bersamaku.” Tambahnya seraya mengelus-elus bagian belakang kepala Hyeri.

Hyeri mendongakkan kepalanya menatap Chery, ia merasa bahagia mempunyai sahabat yang selalu menemaninya –baik dalam keadaan senang maupun susah. Tak lama keduanya saling bertukar pandang dan tersenyum, yang kemudian disusul dengan sebuah pelukan hangat di antara keduanya.

~~~~~

Hyera berjalan menyelusuri koridor apartemen Hyeri. Tentu saja ia datang untuk menemui Hyeri, karna bagaimana pun ia tak mau semuanya berakhir hanya karna kejadian itu.

Memang seharusnya ia ke sini sejak kemarin –tepatnya sejak kejadian itu. Tapi sayangnya Hyera terlalu pengecut, ia terlalu takut melihat wajah kecewa Hyeri dan lagipula eomma-nya tidak mengizinkannya pergi dari pesta itu. Dan… Luhan? Baiklah, ia tak peduli.

Satu sentuhan yang berhasil membuat rumah bel rumah itu berbunyi, membuatnya semakin terlihat gugup dan takut tentunya. Belum lagi, ini masih pagi. Apa Hyeri sudah bangun? Atau mungkin ia sedang bermain dengan earphone nya?

Kriet

Seseorang berdiri tepat di depan pintu yang berada di hadapannya, itu Hyeri. Dan dia, terlihat rapi pagi ini. Apa iya akan pergi? Tapi kenapa pagi sekali?

“Hyera-ya, masuklah” ia berkata sambil terus tersenyum kepada Hyera, tapi ini aneh. Biasanya ia tidak seformal ini menyambut sahabatnya sendiri.

Hyera berjalan tepat di belakangnya, dan kemudian sampai di sofa yang biasanya ia tempati setiap ia datang ke sini.

“Ada apa?” tanya Hyeri. Yang ditanya pun mengalihkan perhatiannya pada Hyeri, wajah Hyeri terlihat lelah. Apa iya ia terus-menerus menangis karna kejadian kemarin?

“Aku kesini untuk menjelaskanmu tentang kejadian kemarin” jawab Hyera langsung ke inti.

“Apa yang harus di jelaskan? Apa kalian sudah benar-benar menjadi sepasang kekasih sekarang? Wah, aku turut senang mendengarnya.” Hyeri berkata dengan senyum diwajahnya, tapi menurut Hyera senyum itu lebih dari sekedar senyum, itu terlihat seperti sebuah ancaman.

“Kau salah, jangan menilaiku seperti itu. Aku tak mungkin mengambil apa yang bukan milikku, jadi jangan marah seperti itu.” Hyera menjelaskan. Hyeri menghampirinya dengan dua gelas hot chocolate di tangannya.

“Aku tidak marah” Hyeri tersenyum –benar-benar manis. “Apa maksudmu mengambil yang bukan milikmu? Memang kau fikir Luhan itu milik siapa? Dia milik Tuhan, milik kedua orangtuanya, dan tentu saja milikmu” sambungnya seraya meminum hot chocolate nya.

“Apa yang kau fikirkan? Dia milikmu, dia milikmu seutuhnya. Aku tak berhak mengambilnya darimu” Hyera memperbaiki kata-kata Hyeri tadi.

Hyeri terkekeh geli. “Ayolah Hyera-ah, siapa pun tau itu. Luhan memilihmu dan aku? Aku bisa apa? Aku ini tidak lebih dari teman baginya. Jadi jangan mengatakan yang seharusnya tidak kau katakan”

Hyera tersenyum mendengar komentarnya tadi, sejak kapan Hyeri berubah menjadi seseorang yang berfikiran sejauh itu? Kenapa ia terlihat berbeda tapi menutupinya? Apa iya sedang menyamar di depanku?

Mianhae Hyera-ah, aku tak punya waktu lama. Aku harus segera ke kampus” Hyera mengangguk mengerti mendengar ucapannya.

“Dan soal Luhan, jangan difikirkan. Aku tau kau pasti bingung dengan perasaanmu. Kalau kau menyukainya atau mencintainya, jangan pedulikan aku. Aku hanya akan menjadi penghalang untuk hubungan kalian. Aku tak akan berubah menjadi Hyeri yang lainnya, aku akan tetap menjadi Hyeri. Ah iya, jangan pernah merasa bersalah karnaku.” Tambahnya dan kemudian beranjak pergi dari sini.

Dan, di sinilah Hyera. Di Apartemen Hyeri, sendirian. Mencerna setiap perkataannya. Dan tentu saja ia mengerti, tapi tidak akan pernah melakukannya. Sebenarnya apa yang ada di fikirannya itu? Kenapa bisa-bisanya bicara seperti itu? Apa ia akan melepas Luhan begitu saja? Ah, dia memang benar-benar menyamar tadi.

~~~~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s