Only Yes [Chapter 5&6]

Title                 : Only Yes [Chapter 5(Another Side)&Chapther 6(Angle)]

Author             : hantaengwoo (itsluhn)

Genre              : Romance, Friendship, Entertaiment, etc.

Length             : Chapter(Series)

Main Cast        :

  • Xi Luhan
  • Kim Hyeri (OC)
  • Lee Hyera (OC)
  • Kim Chery
  • Kim Taeyeon

 

Another Side

 

 

Hyeri beranjak pergi dari apartemennya, pagi ini ia memang memiliki janji dengan pemimpin kampus. Dan letaknya itulah yang membuatnya harus pergi pagi-pagi seperti ini, tepat di sebelah gedung kepemimpinan perusahaan –gedung tempat Luhan kuliah.

Pagi ini ia pergi tidak dengan mobilnya, melainkan dengan memesan taksi untuk mengatarnya sampai di depan gedung kesenian. Dan kemudian, dia akan berjalan menuju ke sana sendirian.

Hyeri beranggapan kalau hari ini tidak ada yang mengenalinya sedikit pun, tentu saja karna pagi ini tubuhnya bahkan wajahnya 95persen ditutupi kain. Yang tersisa hanya matanya saja.

Tidak butuh waktu lama, Hyeri sudah sampai tepat di depan ruang pemimpin universitas itu. Dan tanpa berfikir panjang ia pun mengetuk pintu ruangan dan setelah mendapat jawaban ia pun melangkah masuk ke dalam.

1 hour later…

“Bagaimana? Kau mendapatkannya?” tanya seseorang di dalam telfon.

“Tentu saja. Ah iya, besok tepat pukul 10 pagi!” seru seseorang di sisi lain telfon.

Mwo? Kenapa pagi sekali? Ah, kalau begitu aku tidak akan bisa mengantarmu. Mianhaeyo, Hyeri-ah”

Naneun gwenchanayo, kau bisa datang ke apartemenku hari ini Chery-ah.” jawab Hyeri.

“Baiklah, tunggu aku, ne?” yang disebut namanya pun menjawab.

Ne

Sambungan telfon terputus, Hyeri melangkahkan kakinya menjauh dari gedung universitas Luhan.

Grep

Baru beberapa langkah ia berjalan, seseorang yang daritadi memperhatikannya pun menahannya. Perlahan, Hyeri mambalikkan badannya dan berharap kalau orang yang berada di hadapannya itu bukan Luhan.

Wrong answer. That’s he. Batin Hyeri.

“Bisa ikut denganku?” pinta Luhan, lembut. Hyeri tidak bisa menolaknya, ia mengangguk mendengar permintaan Luhan.

‘It’s for the last time Hyeri-ah!’ batin Hyeri.

~~~~~

 “Apa yang kau lakukan di sana?” tanya Luhan menyadarkan Hyeri dari lamunannya.

Nothing” jawab Hyeri sesingkat mungkin.

Are you waiting for me?” Hyeri menoleh ke hadapannya.

Stop it Luhan! Kau terlalu memberiku harapan, tapi kau juga yang membuatku jatuh. Jangan lakukan lagi, ku mohon. –andai saja itu yang bisa dikatakannya.

Tertawa kecil, hanya itu yang bisa ia lakukan. Hyeri masih tidak tau kemana Luhan akan membawanya, tapi sepertinya Luhan memang ingin bicara serius. Mungkin ini tentang kejadian kemarin.

Tidak lama, mobil yang Luhan kendarai berhenti. Awalnya Hyeri kira Luhan akan membawanya ke sebuah kafe atau mungkin restauran, tapi ternyata perkiraannya meleset lagi, dia hanya membawa Hyeri ke sebuah taman yang memang tidak jauh dari kampusnya.

“Apa yang membuatmu membawaku kemari?” tanya Hyeri langsung pada intinya, ya karna memang ia tidak mau berlama-lama dengan Luhan.

I have to tell you something” Luhan berjalan menuju sebuah bangku panjang yang berada di taman ini.

“Langsung ke intinya, aku tak bisa berlama-lama denganmu.” Saran Hyeri tanpa memandangnya.

“Ini… soal kemarin”

Deg

Jadi ia membawaku kemari hanya untuk membahas hal ini? Oh Luhan, kenapa harus sekarang? Tidak bisakah kau membahasnya dengan Hyera? Jangan membawaku lagi.

“Apa kau tau penyebab Hyera terlihat bergitu sedih –ah bukan, maksudku marah, kau tau itu?” Luhan memulainya dengan sebuah pertanyaan.

“Apa yang membuatmu menanyakan hal itu padaku?” bukannya menjawab pertanyaannya, Hyeri justru menanyakannya hal lain.

“Ku kira ka melihat kejadian itu, karna kau memang sedang berada di mobil saat itu. Dan, kalian kan bersahabat. Jadi, kurasa Hyera pasti menceritakan semuanya padamu”

“Aku melihatnya, tapi aku tak tau apa yang kalian bicarakan. Jadi, bukankah wajar kalau aku tak mengerti maksud pembicaraanmu.” Jelas Hyera dengan wajah yang ditundukkan, berharap Luhan tak melihat wajahnya yang mungkin sekarang sudah melembab.

Luhan menghela nafasnya panjang, sedangkan Hyeri tetap tak mengatakan apapun.

“Aku mengatakan perasaanku padanya. Sebenarnya, memang sudah lama sekali aku menyukainya, dan niatku kemarin itu ingin menjadikannya hadiah terspesial di hari ulangtahunku. Tapi kau tau ekspresinya?…” Perkiraan Hyeri mengatakan kalau wajah Luhan sekarang menunjukan kekecewaan.

“Dia terlihat seperti sedih dan marah padaku. Aku tak mengerti dengan perubahan sikapnya itu, bukankah seharusnya ia merasa senang jika ada seseorang yang mengutarakan perasaannya?” sambung Luhan di iringi dengan hembusan nafas panjang. “Dia itu aneh.” Tambahnya.

Kali ini pertahanan Hyeri semakin jebol, mereka terus berlomba-lomba untuk keluar dari matanya, kali ini harapan besar hanya satu yaitu ia berharap; semoga Luhan tidak melihatnya!

~~~~~

Hyera melangkah menuju taman yang sering ia kunjungi, sedangkan pikirannya tak lepas dari kejadian kemarin. Meskipun hari ini ia sudah mengunjungi Hyeri, tapi mengingat sikap Hyeri yang berubah padanya tadi pagi membuatnya terus merasa bersalah.

Sebelum ke kampus, hari ini ia berniat untuk berjalan-jalan di sekitar taman. Mengingat, ia berjalan sendirian tiba-tiba ia merasa semuanya akan berakhir sampai di sini.

‘Seandainya aku tidak mengenal Luhan. Mungkin semuanya tidak akan serumit ini’ batin Hyera.

“Dia terlihat seperti sedih dan marah padaku. Aku tak mengerti dengan perubahan sikapnya itu, bukankah seharusnya ia merasa senang jika ada seseorang yang mengutarakan perasaannya”

‘Suara ini… seperti suara Luhan. Apa mungkin ia sedang di sini? Ah tidak, aku pasti sedang berhalusinasi.’

“Dia itu aneh.”

‘Ku mohon hentikan.’

Hyera memutar bola matanya mengelilingi taman itu, tapi hasilnya nihil. Ia memang benar-benar tidak menemui Luhan di sini. Kalau begitu kenapa suara Luhan  bisa terdengar jelas olehnya? Apa aku benar-benar jatuh cinta dengannya?

Hyeri terhenyak, matanya melihat jelas tetesan air yang jatuh dari wajah seseorang yang ada di taman itu. Ia memang tidak mengenalnya, tapi melihat gadis itu menangis karna seorang namja di sebelahnya membuatnya mengingat Hyeri.

‘Apa Hyeri seperti itu kemarin?’ pikir Hyera.

Kali ini Hyeri mengamati dengan jeli paras namja di sebelah gadis itu dari samping. Namja itu kalau terlihat dari samping memang terlihat seperti Luhan, tapi kenapa ia berbeda sekali kalau di lihat dari belakang? Apa Hyeri yang tidak mengenalinya?

Hening.

Kedua orang tadi tidak bersuara sedikit pun, bahkan Hyera yang bingung dan mengenali dua orang itu hanya bisa diam menatap mereka berdua.

Tes…

Air mata gadis itu jatuh lagi. Hyera merasa benar-benar mengenali gadis itu. Feeling nya semakin bekerja, bahkan matanya pun sudah mulai meyakini kalau gadis itu… Hyeri. Dan namja di sebelahnya itu… pasti Luhan.

‘Kalau benar gadis itu Hyeri, itu tandanya Luhan mengatakan semuanya pada Hyeri? Dan kalau benar itu Hyeri, itu tandanya juga ia menangis karna Luhan? Dasar namja bodoh!’ pekik Hyera.

Dengan segera Hyera melangkahkan kakinya menuju dua orang yang tadi ia amati, dan saat itu juga Hyera memanas, rasanya suhu atmosfer di sekelilingnya benar-benar tinggi.

Hyera tersentak dan menangis. Namja yang ia kira Luhan mengetahui keberadaannya. Dan memang benar. Itu Luhan.

“Hyera-ah?” sapa Luhan lembut. “Kau di sini? Sejak kapan?”

Berbeda dengan Hyera, Hyeri justru menghapus air matanya dengan cepat. Entah kenapa, rasanya ia harus segera menyingkir dari tempat ini, tanpa membuat kedua orang yang sekarang berada di dekatnya memikirkannya.

“Hyeri-ah” ucap Hyera perlahan tapi masih bisa di dengar olehnya. Hyeri yang merasa namanya di sebut mendongakkan wajahnya dan tersenyum melihat Hyera yang menangis.

Hyeri bangkit dari duduknya dan berlanjut dengan sapaan lembut yang ia paksakan, “Hyera-ah. Untung kau di sini, ku pikir Luhan ingin menanyakan sesuatu padamu” Luhan terkejut. “Jadi, sepertinya sekarang aku bisa pergi” sambung Hyeri.

Hyera melangkahkan kakinya cepat dan meraih tangan Hyeri yang tadi mulai menjauh.

“Jangan dengarkan omongannya, dia hanya tidak mengerti semuanya” kata Hyera di tengah tangisnya.

“Sudah ku bilang, lupakan saja” jawab Hyeri.

Luhan menatap kedua yeoja  di hadapannya dengan tatapan bingung, ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang mereka katakan. “Sebenarnya ada apa dengan kalian? Kenapa kalian bertengkar seperti anak kecil?” kata Luhan berusaha menengahi pertengkaran keduanya.

“Kami tidak bertengkar” Ucap Hyeri. “Aku mengerti kalian butuh waktu untuk berdua, sebaiknya aku pulang.”

Hyera mengaga tak percaya dengan perkataan Hyeri.

“Aku tau kau memang paling mengerti soal ini Hyeri, gomawo” Luhan berkata dengan senyum bahagia di wajahnya.

Dan lagi-lagi, Hyera memanas mendengar perkataan Luhan. Dengan spontan, Hyera pun berhasil menyentuh wajah Luhan kasar –menamparnya.

Luhan tersentak. Dan Hyeri? Menatap Hyera tak percaya.

“Aku minta maaf, tapi kau memang terlalu egois Luhan!” bentak Hyera.

Hyeri tidak sanggup melihat perubahan sikap sahabatnya, ia benar-benar tidak menyangka kalau Hyera akan sekasara itu dengan Luhan. Sebelumnya, Hyera tidak pernah memukul atau menampar seseorang, apalagi kalau orang itu adalah orang yang mencintainya.

“Jangan salahkan dia! Aku yang ingin pergi!” kata Hyeri tak kalah dinginnya.

Tidak perlu waktu lama, Hyeri melangkahkan kakinya meninggalkan Hyera dan Luhan berdua di taman itu. Hyera berusaha mengejar Hyeri, tapi Luhan justru menahannya. Luhan bingung dengan sikap Hyera yang berubah secepat itu.

‘Apa ini? Apa dia benar-benar Hyera? Tapi kenapa ia menamparku seperti itu?’ batin Luhan.

Hening.

Luhan menatap Hyera dalam, berusaha menemukan kebenaran dari mata Hyera. Tapi yang ia temukan adalah sebuah arti kemarahan dan penyesalan.

“Apa yang membuatmu menamparku?”

Hyera berdecik. “Masih menanyakan alasanku?” tanyanya kembali seraya menghapus air matanya.

“Aku tidak pernah mengerti apa alasanmu.”

“Sebegitu naif nya kah dirimu?” tanya Hyera ketus. “Apa perlu aku memberitahu hal ini ke semua orang?”

“Cukup beritau aku dan aku akan mengoreksi diriku!” suara Luhan sedikit meninggi.

Kali ini Hyera mendesah kesal. “Kau tidak berhak memaksaku untuk mengatakannya!” bentak Hyera. “Namja semuanya sama saja! Tidak pernah bisa membuat seorang yeoja merasa bahagia!”

Luhan mematung, ia menatap Hyera semakin bingung. Ia membuat Hyera tidak bahagia? Untuk hal apa? Dan sejak kapan?

Hyera memberontak. “Jauhi aku dan jangan pernah menemuiku lagi!” katanya seraya pergi meninggalkan Luhan dan mencoba mengejar Hyeri yang tadi pergi meninggalkannya.

~~~~~

Hyeri menggerutuki dirinya sendiri dengan berbagai kata-kata kasar.

Bodoh Hyeri! Kau terlalu bodoh!

Untuk apa menangis di tempat seperti ini? Dan kenapa bisa aku mengatakan itu padanya? Lagi-lagi kebodohanmu membuatmu terpuruk dalam kondisi seperti ini Hyeri!

Lari.

Dari kenyataan ini Hyeri lari.

Bohong.

Terlalu banyak kata-kata yang ia paksakan dan dusta.

Matanya berputar mencari-cari sebuah benda yang bisa membawanya pergi dari sini.

“Taksi!” teriaknya.

Mobil itu berhenti tapat di hadapannya, dan dengan cepat ia melangkahkan masuk ke dalamnya kemudian menyuruh Ahjussi yang menyupir mobil ini mengemudikannya.

Sebelumnya Ahjussi sempat menolaknya, karna memang tadi Hyera terus memukul-mukul kaca mobil ini. Tapi, tentu saja Hyeri tak menghiraukannya. Ia tidak mau mengulangi kebodohannya, bagaimanapun yang di cintai Luhan itu Hyera, bukan dirinya.

Pandangannya kosong. Melamun. Menahan sesak. Menangisi semuanya.

Menyesal. Marah. Kesal. Benci. Merasa semakin bodoh. Itu yang dirasakan saat ini, semuanya menyampur bagaikan sebuah bumbu dapur yang memang sudah di racik.

Ayo! GG! Yeah Yeah sijakhae bolkka?
eo-meo! yae jom bwara yae, museun iri isseotgillae meoril jallatdae? eung?

Mian¸ tapi telfon Ahjussi bunyi”

Hyeri sedikit terkejut. Dan ia juga tidak menyadari kalau telfonnya memang berbunyi. “Gomawo” kata Hyeri lembut.

Perlahan ia raih telfon genggam di tas yang dibawanya tadi, di sana terlihat nama seseorang yang sangat dikenal.

Yoboseyo…”

“…….”

Mian, aku ada urusan tadi. Sebentar lagi aku sampai”

“……..”

Ne”

Tuttt….

Chery memutuskan sambungan telfon. Hyeri menghela nafas panjang, ia tidak bisa terlihat seperti ini di depan Chery. Chery pasti akan memancing emosinya sama seperti waktu itu, dan kalau hal itu terjadi mungkin Hyeri akan semakin terpuruk.

~~~~~

 

Angle

 

“Dari mana saja kau?” sahut Chery ketika Hyeri selesai mengganti pakaiannya.

“Mengurus surat keluarku dan mampir sebentar ke suatu tempat” Hyeri membaringkan tubuhnya di atas sofa.

“Dengan Luhan?”

Hyeri terhenyak. Bagaimana Chery tau? Apa raut wajahnya terlihat seperti habis menangis?

“Jawab aku!” bentaknya.

“Apa aku terlihat semenyedihkan yang kau kira? Apa kau fikir aku menyukai keadaanku sekarang?” tanya Hyeri tenang.

Ini. Hanya perasaan Hyeri saja, atau memang Chery benar-benar sedang mengancamnya? Matanya benar-benar terlihat seperti sedang mengintimidasi seseorang yang bersalah dengan hukum.

Ia terkekeh, dan Hyeri? Tentu saja menatapnya bingung.

“Apa yang kau fikirkan?” tanya Hyeri lagi.

“Tidak ada” jawabnya. “Kau terlihat lemah sekali sekarang. Bahkan dengan mendengar pertanyaanku tadi raut wajahmu berubah” sambungnya.

“Sudahlah, ini hari terakhirku. Jadi jangan buat aku merasa tidak nyaman dan tidak ingin kembali ke sini. Buat ak-”

“Kalau aku bisa, aku akan membuatmu selamanya tinggal di sini. Di Korea, dan bersamaku.”

“Kau bodoh? Atau pura-pura lupa?” Hyeri tersenyum kecil mengucapkannya.

“Ku harap keduanya.” Jawabnya bangga.

Kali ini Hyeri memandangnya heran. Chery memang satu-satunya sahabat yang masih mau menemani Hyeri dan dia yang awalnya melarang Hyeri untuk kembali. Tapi, bagaimanapun Hyeri tetap harus pulang. Mengingat waktu yang ia ambil untuk vakum sudah lebih dari 3 tahun dan kejadian kemarin membuatnya memutuskan untuk pulang.

~~~~~

 “Apa semuanya sudah selesai?”’

“Kurasa sudah”

“Bagus, dan sekarang apa yang akan kita lakukan?”

Molla” Jawab Hyeri “Apa kau tidak lapar?”

“Sekarang belum, tapi mungkin besok-besok aku akan kelaparan karnamu”

Hyeri terkekeh mendengar ucapannya, apa sampai saat ini Chery masih belum bisa merelakannya?

“Kenapa kau diam saja?” tegur Chery seraya mendekati Hyeri yang tengah duduk di sofa sambil memainkan.

“Aku tidak diam. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.” Jawab Hyeri.

Chery memandang Hyeri. “Apa yang sedang kau fikirkan?” tanyanya antusias.

“Aku memikirkanmu” Chery tertawa kecil dan bangkit dari duduknya.

“Aku berfikir, kenapa susah sekali melepas seseorang” kali ini tawanya berhenti, Chery mendengus. Hyeri yang menyadari perubahan reaksi Chery pun menanyakannya, “Kenapa? Apa ada yang salah dengan perkataanku tadi?”

“Jelas saja salah” Chery tertawa seperti mengejek. “Kau memikirkanku yang tidak bisa melepasmu bukan?” Hyeri menanggung lanjutannya. “Kau sendiri mengalami itu” sindirnya.

Kali ini keadaan Hyeri terpojokkan, kakinya membawanya melangkah mejauh dari Chery. Chery benar. Kenapa ia tidak memikirkan hal ini sebelum aku mengatakannya? Tapi… Hyeri juga bisa dikatakan sudah bisa melepasnya.

“Tidak bisa menjawab?” tanya Chery dari sofa. “Benar seperti itu?”

Hyeri menggeleng menjawab pertanyaannya, namun Chery tidak bisa melihatnya dengan jelas. “Aku tidak mengalaminya, aku menghargai perasaannya untuk Hyera, bukankah itu berarti aku melepaskannya untuk Hyera? Lagipula aku melakukannya karna memang itu yang terbaik.”

Chery menertawakan jawaban Hyeri. Meskipun tawanya tidak terlalu besar, tapi mendengar tawanya saja sudah membuat Hyeri kesal. Dia pasti sedang memancing emosi Hyeri lagi.

“Kenapa kau tertawa seperti itu?” tanya Hyeri sinis.

“Jawabanmu itu lucu. Kau mengatakannya dengan mulutmu, tidak dengan hatimu. Apa kau selalu seperti ini saat tampil di depan orang banyak? Apa kau menyanyikannya dengan mulutmu saja?” Kesal. Sangat kesal. “Ah, kau ini. Seharusnya kau menghayatinya, merasakan setiap lirik-demi-lirik yang kau nyanyikan…”

“Aku melakukannya” kata Hyeri memotong ucapannya. “Lagipula, kau tau apa tentangku? Jangan bicara hal yang tidak kau mengerti” tambahnya.

Chery memainkan mulutnya. “Jangan bicarakan hal yang tidak kau mengerti” ucapnya mengulang perkataan Hyeri. “Bodoh” komentarnya.

Hyeri tersentak, tak biasanya Chery mengatakan hal itu di depannya. “Apa? apa yang kau maksud bodoh?”

Chery memandangnya, matanya seolah-olah menembus mata Hyeri. Tatapannya benar-benar tak bisa di artikan. Firasat keduanya mulai mengatakan akan ada perperangan. Tapi, perang kali ini berbeda dengan perang pernah merkea lakukan.

“Bodoh.” Tatapannya semakin mendalam. Hyeri membalas tatapannya tanpa mengatakan apa pun. “Kau terlalu lemah untuk menjadi seseorang yang cukup pintar dalam urusan perasaan.” Katanya.

Hyeri terhenyak, benar-benar tidak bisa dipercaya Chery mengatakan hal itu pada seorang Kim Hyeri. “Apa maksudmu?”

Kali ini ia mengalihkan wajahnya, mendengus perlahan dan beberapa detik kemudian ia sudah berada di hadapan Hyeri  dengan ponsel genggam Hyeri di tangannya.

Ia mengarahkan ponsel itu ke arah Hyeri, sesaat kemudian ia tersenyum puas melihat reaksi Hyeri yang datar.

“Apa kau fikir aku akan menangis melihat foto ini?” tanya Hyeri. Memang foto ini mengingatkannya akan Luhan dan Hyera, tapi bagaimanapun ia tak bisa terus-terusan memikirkan hal itu, yang ada justru membuatnya semakin terpuruk.

“Bukan seperti itu, hanya saja menurutmu kepulanganmu itu terlalu dipaksakan dan mendadak” komentar Chery. “Bagaimana kalau kau mengundurnya?”

“M-mwo? Apa kau fikir itu hal yang mudah? Datang dan pergi semauku, justru akan menimbulkan masalah” bantah Hyeri.

Waeyo? Kau kan hanya tinggal di sini untuk beberapa hari ke depan dan setelah itu baru pergi, apa yang membuatnya sulit untuk di lakukan?”

“Tentu saja sulit! Aku tidak mungkin membatalkan semua jadwal kegiatanku ketika aku sampai di Amerika nanti. Apa kau fikir managerku akan senang mendengarnya? Andwe. Justru aku yang akan mendapatkan masalah” terang Hyeri. Chery hanya mengangguk mengerti mendengarnya.

Setelah itu Chery terdiam, bahkan sekarang ia tidak lagi menatap Hyeri tajam seperti tadi. Mungkin ia lelah, atau merasa bersalah? Entahlah, yang pasti rasanya sekarang Hyeri ingin beristirahat sebentar di kamarnya.

“Apa kau tidak ingin mengunjungi mereka?” pertanyaan Chery menghentikan langkahnya. Mereka? Siapa yang ia maksud?

“Maksudmu Luhan dan Hyera?” tanya Hyeri padanya. Chery mengganggukkan kepalanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang sedaritadi ia mainkan. “Aku tak berminat” sambung Hyeri.

“Kenapa harus dengan minat? kau hanya perlu mengobrol santai dengan mereka sebelum kepulanganmu.”

“Untuk apa? Aku bahkan tidak memberitahu mereka tentang kepulanganku… dan, kurasa mereka juga tidak ingin tau” ucap Hyeri seraya melangkahkan kakinya kembali.

Hyeri berfikir Chery tidak akan menjawabnya –tentu saja tidak, karna sekarang Hyeri sudah berada di kamarnya dan menutup pintu kamar. Chery tidak mungkin berbicara sendiri seperti orang gila bukan? Jadi Chery akan tetap fokus pada kegiatannya.

Hyeri membaringkan tubuhnya di kasur, merentangkan tangannya dan mengejapkan matanya perlahan. Seakan-akan sedang terbang, menikmati kebebasan tanpa sedikitpun gangguan. Tapi, perkiraannya salah. Baru beberapa saat ia merasa di atas sana, semuanya sudah kembali jatuh dengan mengingat apa yang terjadi padanya saat ini.

Matanya memandang langit-langit kamar untuk jangka waktu yang lama, mengamatinya seperti sedang mencari sesuatu. Ah iya! Dengan segera ia menemui Chery yang berada di ruang tengah, berharap kalau ia mau membantunya. Tapi… dia tertidur.

“Chery-ah!” teriak Hyeri sambil terus mengguncangkan tubuh Chery. “Cepat bangun! Ada yang ingin ku katakan padamu!”

Tak perlu waktu lama untuk membangunkannya karna memang ia tipe yeoja yang mudah merespon seseorang. Ia tidak mengatakan apapun, tapi matanya menatap Hyeri seolah-olah meminta Hyeri untuk cepat mengatakannya dan telinganya pun sudah siap mendengarkan perkataan Hyeri.

“Apa kau mau membantuku merawat apartemenku?” tanya Hyeri. Matanya menyipit, Hyeri menebak, kali ini Chery terkejut. “Aku tidak mungkin membiarkannya kosong dan aku juga tidak mungkin menjualnya. Karna kau tau, hanya tempat ini yang menjadi satu-satunya kenangan untukku. Jadi bantu aku manjaganya ne?” pinta Hyeri.

Chery bangun dari posisinya dan menatap Hyeri. “Kau ingin menjadikanku pembantumu?” Hyeri terkejut, kenapa ia mempunyai fikiran seperti itu? Aku saja tidak memikirkannya.

“Bukan seperti itu. Kau hanya perlu menjadi pemiliknya selama aku tidak berada di sini, kau boleh tinggal di kamarku ataupun memakai semua perabotan yang ada di sini selama kau mau menjaga dan merawat apartemenku dan semua isinya. Otthe?

Chery tampak berfikir sejenak, sedangkan Hyeri terus saja berdoa di dalam hatinya agar Chery mau melakukannya untuknya.

“Bagaimana?”tanya Hyeri lagi.

Chery menghela nafasnya dan kemudian mengeluarkannya secara bersamaan dengan perkataannya. “Baiklah” dia bilang ‘Baiklah’.

Hyeri senang dan berterimakasih padanya. Ah, dia memang benar-benar seperti malaikat yang turun untuk membantuku dari semua masalah ini. Terimakasih Tuhan…

~~~~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s