Only Yes [Chapter 10]

Title                 : Only Yes [Chapter 10(Sunday and Reason)]

Genre              : Romance, Friendship, Entertaiment, etc.

Length             : Chapter(Series)

Main Cast        :

  • Xi Luhan
  • Kim Hyeri (OC)
  • Lee Hyera (OC)
  • Kim Chery
  • Kim Taeyeon

 

Sunday and Reason

Ah, Taeyeon. Jadi selama ini dia Hyeri. Kalau begitu, kenapa aku tidak bisa mengenalinya?

Chery.

Ah iya, dia pasti tau tentang hal ini.

Dengan segera, tangan Luhan meraih ponsel yang berada di salam saku jaketnya. Dan dengan cepat juga, jari-jarinya mencari kontak Chery.

Yoboseyo..” sapa Luhan lembut.

“Ada apa menelfonku?” Suaranya terdengar sedikit dingin. “Apa yang mau kau katakan, cepatlah.” Serunya lagi.

“Soal Hyeri…” ucap Luhan perlahan, “Apa kau tau kalau Hyeri itu Taeyeon?”

“Tentu saja aku tau.” Luhan merasa Chery tidak berfikir untuk memberitahunya hal ini, bahkan suaranya pun terdengar cepat menjawab pertanyaannya.

“Lalu, kenapa kau tidak memberitahuku?” tanya Luhan penasaran.

“Untuk apa aku mengatakan hal ini padamu, apa untungnya? Lagipula, kau sudah mengecewakannya dan dia bahkan sudah melarangku untuk mengatakan hal ini pada siapa pun.”

Luhan terhenyak, kejadian tadi pagi mengingatkannya pada Hyeri. Bahkan, semua kata-katanya yang keluar begitu saja dari mulutnya.

“Kenapa ia melarangmu?”

“Dengar..-“ Chery menghela nafasnya sebelum akhirnya mengatakan sesuatu. “Tujuannya ke Korea bukan untuk mempersibuk dirinya, bukan untuk menyapa semua penggemarnya di Korea, dan bukan untuk di sakiti oleh namja sepertimu. Dia tinggal di Korea, karna makam eomma dan appa nya yang berada di Korea. Selain itu, dia di sini karna memang bertekat menambah kemampuan bernyanyinya. Dan memurutku, dia di sini –di Korea juga karna…” –Chery menghela nafasnya lagi- “Karna kau.”

Deg

“A-a-apa maksudmu?”

“Bodoh, kau bahkan masih tidak merasakannya. Mau sampai kapan kau terus menjadi namja pabo seperti ini?”

Menyesal, marah, dan merasa bersalah. Itu yang Luhan rasakan sekarang.

Dulu, saat Hyeri masih di Korea. Yang ia rasakan hanya keberadaannya yang membuatku merasa terhibur. Apa maksdunya semua ini? kenapa harus Hyeri?

“Kau pasti melamun.” Sahut Chery yang menyadarkan lamunan Luhan. “Sebainya kau matikan, kalau kau masih mau bertanya tentang Hyeri temui aku besok di taman dekat gedus kampusku.” Tambahnya.

“A-”

Tut

Tut

Tut

Ah, sial! Aku bahkan belum sempat menanyakan yanglainnya. Kenapa susah sekali mengetahui semua ini! Apa aku benar-benar bodoh sampai tidak bisa merasakan semua ini?

Hyeri.

Melihatnya tersenyum di acara tadi benar-benar membuat Luhan semakin merasa bersalah, senyumnya tadi pasti di paksakan.

Apa dia bahagia sekarang? Apa dia sudah melupakan semuanya? Luhan harap ia bisa hidup senormal mungkin tanpa memikirkan masa lalunya.

Drrtt… Drrtt…

Ponselnya? Ah iya, pasti ponselnya yang bergetar.

Ia raih ponselnya yang tadi ia letakkan di laci tepat sebelah kasur. Dan di sana, dilihatnya, sebuah pesan masuk dari Chery. Ah, mungkin ia mau minta maaf karna memustuskan sambungan telfon tadi. Dengan satu sentuhan, pesan itu sudah terpampang di layar ponsel.

Aku minta maaf, tapi besok aku hanya punya waktu jam 8 pagi. Kalau kau tidak keberatan, aku tunggu kau di tempat parkir gedung kampusku. Dan jangan lupa untuk membawa shena besok!

Apa? apa-apaan ini? setelah memutuskan sambungan telfon secara sepihak, sekarang ia memberiku pesan hanya untuk menyuruhku datang pagi ke kampusnya? Dasar yeoja, semuanya sama saja, sama-sama merepotkan.

Eh, tapi, tunggu dulu. Apa katanya tadi? Shena? Eoh, apa aku tidak salah baca? Dia memintaku untuk membawa shena? Tapi… untuk apa?

Mata Luhan menyapu seluruh sudut ruangan di kamarnya, mencari keberadaan shena. Dimana aku meletakkannya terakhir kali? Kenapa aku bisa lupa seperti ini, ah pabo.

Tangannya menggeratak. Mengacaukan keadaan sekitarnya. Ia mengacak-acak setiap sudut ruangan atau tempat yang memungkinkannya untuk menyimpan shena di dalamnya, tapi… hasilnya nihil.

Kapan terakhir kali aku memainkannya? Apa seharian ini aku menyentuhnya?

Kemarin, setelah Hyeri memainkannya Luhan memang sempat memainkannya juga. Tapi, dimana ia menyimpannya?! Kenapa sulit sekali untuk membahagiakan Hyeri? Pertama hatinya, lalu hidupnya, dan sekarang apa lagi? Shena?! Ah, bodoh sekali aku ini!

“Kau di mana Shena?!?!” teriak Luhan kesal.

Kali ini terdengar suara langkah kaki, Luhan berharap orang yang datang itu membawa kabar baik tentang keberadaan shena.

“Yak! Luhan, shena ada di ruang tengah!” teriak seseorang dari luar kamarnya.

Baguslah.

Kakinya berlari secepat mungkin menuju ruang tengah, dan di sana ku lihat shena tidak sendirian. Bahkan tepat di senar shena, matanya menemukan sebuah tangan seseorang.  Dan orang itu, Hyera.

“Apa yang kau lihat?” tanyanya dingin.

Perlahan, Luhan berjalan menghampirinya.

Mian, tapi aku mencari shena.” Kata Luhan lembut, Hyera menatap Luhan tajam, tapi tangannya tak ada henti-hentinya menyentuh shena.

“Akan ku berikan nanti.” Katanya tetap dingin.

Luhan menyerah. Melihat, pandangan kosongnya dan tangannya yang masih berkutik dengan shena membuat Luhan tak tega dan tak bisa mengambil shena sekarang.

Luhan menjatuhkan tubuhnya di sofa tepat di sebelah Hyera, pandangannya masih lurus ke depan dan tidak menganngap Luhan sama-sekali.

“Apa yang kau lakukan dengan shena?” tanya Luhan memecah keheningan yang menyelimuti keduanya.

“Mengenang semuanya.”

Luhan terhenyak, apa maksudnya mengenang semuanya? Apa ia benar-benar akan berubah?

“Apa maksudmu?” tanya Luhan pada akhirnya.

Hyera menghela nafasnya sejenak dan kemudian menjawabnya tanpa menatap Luhan sedikitpun. “Mungkin, pesta kemarin bisa jadi hal terakhir aku melihatnya tersenyum tulus. Dan mungkin juga, setelah ini ia tidak akan menemuiku atau kau.”

“Kenapa seperti itu?” tanya Luhan tak mengerti. “Dia kan tetap menjadi bagian dari keluarga ini? bagaimanapun, eommamu sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Jadi, mustahil kalau ia benar-benar tidak akan menemuimu atau aku.” Sambungnya.

Hyera bangkit berdiri dan meletakkan shena  di tempat duduknya tadi. Tanpa menatap Luhan atau membalikkan badannya sedikitpun ia berkata, “Sudahlah, kau tidak akan pernah mengerti” dan setelah itu pergi meninggalkan Luhan.

Luhan masih mematung di tempatnya, mencoba mencerna perkataan Hyera tadi. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa ia masih saja memikirkan hal itu? Apa ia benar-benar menyesal? Ah!

Tangannya meraih shena yang berada di sofa tempat duduk Hyera tadi, kemudian melangkahkan kakinya kembali ke kamar.

~~~~~

Seperti janjinya kemarin, pagi ini Luhan akan menemui Chery. Entah, apa pun yang akan Chery jelaskan padanya nanti, yang penting sekarang adalah ia harus segera sampai di gedung kampusnya sebelum ia benar-benar datang.

Dengan cepat Luhan meraih kunci mobil yang ia letakkan di dalam saku jaket semalam dan tak lupa dengan membawa shena tentunya. Kemudian, melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan meraih tas yang selalu ia bawa.

Baru saja kakinya melangkah keluar dari rumah ini, seseorang berhasil menghentikannya.

“Kau mau kemana pagi-pagi seperti ini? bukannya hari ini kau tidak ada jadwal kuliah Luhan-ssi?” Luhan membalikkan tubuhnya dan mendapati eonnie yang tak lain dan tak bukan adalah istri dari hyung-nya sendiri sedang menatapnya bingung.

“Hanya ingin mencari suasana baru di luar sana. Bosan kalau terus menetap di dalam kamar.” Jelas Luhan, berbohong.

Ia mengangguk mengerti mendengar perkataan Luhan, dan setelah itu kaki Luhan kembali melangkah menjauhinya menuju mobil.

~~~~~

Seharusnya daritadi ia sudah sampai di gedung kampus Chery. Kalau saja, tadi ia tidak bertemu dengan eonnie pasti sekarang ia sudah menemui Chery di sana.

“Kenapa juga harus aku yang menemuinya?” gumam Luhan kesal.

Rasanya bodoh sekali kalau pagi-pagi seperti ini –apalagi ini hari Minggu, keluar dari kamar hanya untuk menemui Chery di gedung kampusnya itu. Hanya untuk mendengar ocehannya yang memang… ah, ia butuhkan.

Seandainya saja semuanya berjalan seperti perkiraannya. Pasti sekarang, ia masih berada di dalam kamar dan menunggu Hyera membangunkannya untuk menemaninya mengunjungi Hyeri di apartemennya. Atau mungkin sama seperti tahun-tahun lalu ketika Hyeri pulang ke Amerika, hari Minggu ini ia manfaatkan dengan tinggal di Apartemen Hyeri sendirian. Menikmati suasana tenang di sana dan mencoba berbagai musik baru dengan shena.

Ah iya, menyebut nama shena mengingatkan Luhan pada Hyeri dan Chery.

Dulu, Hyeri sering memberi Luhan catatan kunci gitarnya. Bahkan, ia pernah mengajari Luhan memainkan sebuah lagu dengan shena. Dan, dia juga yang mengajari Luhan, bagaimana caranya memperbaiki nada-nada pada shena. Tapi, sekarang? Apa pun itu, tapi ia yakin Hyeri tak akan pernah memberikannya kesempatan untuk menikmatinya lagi.

Dan Chery, kenapa ia meminta Luhan untuk membawa shena? Apa yang akan ia lakukan nantinya?

Tak sadar sudah berapa lama ia berfikir, sekarang mobilnya benar-benar sudah memasuki wilayah  kampus Chery. Ia melihat, Chery tengah berdiri tepat di depan pintu masuk. Dengan satu gerakan, tangannya berkumandang untuk memangilnya dengan membunyikan klakson mobil.

Dan tepat sekali dugaannya, Chery pasti menengok. Dan saat itu juga Chery berjalan mendekat. Luhan tetap tidak turun, bahkan Chery pun tidak memintanya untuk turun setelahnya. Dia hanya masuk ke dalam mobil –tepat di bagian depan, dan kemudian menatap Luhan tak senang.

“Darimana saja kau?” tanyanya menyadarkan Luhan, Sial, aku lupa kalau aku telat.

“Kenapa tidak menjawab?” tanyanya lagi.

Mian, tadi ada sedikit kejadian di rumahku.” Jawab Luhan. “Jadi, kemana kita pergi?”

“Jalankan saja mobilnya, nanti akan ku beritahu.” Luhan menangguk dan menuruti perintahnya itu, entah kenapa rasanya ia hanya bisa menurut kali ini. Karna memang, ini menyangkut Hyeri. Ia pasti bisa kehilangan informasi dari Chery kalau ia melawannya.

~~~~~

“Belokkan ke arah kanan, kita ke apartemen Taeyeon.”

Luhan tersentak mendengar perkataan Chery tadi, seketika rasanya tubuhnya membeku mendengar nama itu.

“Taeyeon?” tanya Luhan memastikan. Sedangkan, Chery ia menangguk menanggapi pertanyaan Luhan.

“Kenapa harus Taeyeon?” tanyanya lagi.

“Karna memang namanya Taeyeon.” Jawab Chery tanpa keraguan sedikitpun.

Luhan menatap lurus jalan yang ada di hadapannya. Pikirannya tak jauh dari kejadian kemarin pagi. Tepat sebelum Hyeri benar-benar berubah menjadi seorang Kim Taeyeon.

“Apa yang kau fikirkan?” tanya Chery untuk yang kesekian kalinya menyadarkan Luhan dari lamunannya.

“Tidak ada.” Jawabnya singkat. “Untuk apa kita ke sana?”

Chery menatap Luhan tak percaya, ia tidak habis pikir kalau Luhan akan menanyakan hal sejahat itu. ‘Dasar namja, masih tidak mau merasa bersalah juga rupanya’ batin Chery.

“Ada yang harus ku lakukan di sana dan menjawab semua pertanyaanmu.”

Luhan masih terus terdiam, ia tidak tau apa yang sebenarnya di fikirkan Chery saat ini. Yang ia tau, Chery menyuruhnya untuk datang pagi-pagi sekali di hari Minggu dan kemudian mengantarnya ke apartemen Hyeri, ia bilang ia akan menjelaskannya di sana. Tapi, kenapa awalnya ia bilang kalau ia tidak punya waktu?

“Kau membawa shena bukan?” Luhan mengangguk. “Bagus, kau letakkan di mana?”

“Di bagasi, kau bisa mengambilnya nanti. Sebaiknya kau duduk saja” jawab Luhan.

Keduanya diam, tak ada yang mulai bicara. Keheningan menyeliputi keduanya.

Luhan yang fokus menyetir dan Chery yang sedang asik dengan Ipod beserta dengan headsetnya. Sesekali, Luhan menatap Chery tak percaya. Yeoja itu kuat sekali menahan suara musik yang terdengar begitu kencang, bahkan ia pun bisa mendengarnya.

Tak perlu waktu lama, mobil yang mereka tumpangi sudah berada di kawasan apartemen Hyeri. Luhan memang sempat ragu, karna bagaimanapun biasanya ia yang membawa kunci apartemen ketika Hyeri pergi, tapi kali ini ia tidak memegang kunci itu sedikitpun.

“Tak perlu khawatir, Taeyeon menitipkan kuncinya padaku.” Ucap Chery yang seolah-olah membaca pikiran Luhan. Dengan dengan segera, keduanya keluar dari mobil, mengambil shena dan kemudian masuk ke dalam bangunan yang berlantai tingkat itu.

Keduanya –Chery dan Luhan, menyelusuri koridor apartemen, tidak sadar atau bagaimana yang pasti sekarang keduanya berada di dalam keheningan. Bahkan shena yang bisa mengeluarkan suara pun tidak bisa memecah keheningan di antara mereka.

Tak lama, keduanya menemukan apartemen Hyeri dan memasukinya dengan perasaan sedikit canggung. Ya, bagaimanapun mereka hanya berdua di sana.

“Jadi, apa yang akan kau lakukan di sini?” tanya Luhan, langsung pada intinya.

“Membersihkan tempat ini.” jawab Chery cepat. “Bantu aku, kalau kau mau tau semuanya” tambahnya.

Dengan terpaksa, Luhan pun membantu Chery membersihkan tempat tinggal Hyeri. Keduanya sama-sama diam, tidak ada yang berbicara sedikitpun kecuali suara musik dari ipod Chery. Yeoja itu benar-benar sudah menyiapkan semuanya.

~~~~~

“Sudah semua.” tanya Luhan di akhir kegiatannya, Chery tersenyum memandang satu-satunya namja yang ada di hadapannya sekarang. Dan dengan sigap, keduanya pun beralih duduk di sofa yang terdapat di apartemen tersebut.

“Katakan padaku, kenapa kau bisa tau tentang siapa Hyeri.” Pinta Luhan, tanpa berbasa-basi. Chery yang sudah tau dengan arah pembicaraan Luhan pun menarik nafasnya sejenak sebelum  menjawabnya.

“Aku tau hal ini belum lama, tepat dua hari sebelum acara ulangtahunmu…”-Chery menghentikan penjelasannya sejenak-“…Hyera memintanya untuk tidak menyamar dan berpenampilan secantik mungkin untukmu…” Luhan tersentak mendengarnya, “…awalnya ia bilang pada Hyera kalau ia tidak akan menyamar, tapi pada akhirnya ia memintaku untuk membantunya tampil secantik mungkin dalam penyamarannya dan ia bilang jangan sampai oranglain ataupun kau dan Hyera tau hal ini-“

“Hal ini apa? iya bahkan belum mengatakan padamu kalau ia menyamar.” Potong Luhan. Chery menatap Luhan tajam, seolah-olah mengancam Luhan untuk tidak bicara sampai ia benar-benar sudah menjelaskan semuanya.

Merasa di tatap, Luhan mengalah. “Mianhae…”

“Kau tau, aku menolaknya. Tentu saja aku menolaknya. Aku memintanya untuk memberiku satu alasan kenapa aku harus melakukan hal itu, dan akhirnya ia menjelaskannya… walaupun ia sempat berbohong.” Chery menghentikan penjelasaannya dan menatap Luhan.

“Lalu kau melakukannya?”

“Tentu saja. Aku membuatnya tampil secantik mungkin di acaramu dan tepat sekali bukan? Dia tidak di kenali, dan Hyera bahkan tidak menyadari penyamarannya.” Chery mengadahkan kepalanya ke atas, menatap langit-langit apartemen Hyeri. “Tapi yang dia dapat justru sesuatu yang tidak pantas ia dapatkan.” Sambungnya.

Luhan menundukkan kepalanya, merasa bersalah atas apa yang ia lakukan pada Hyeri.

“Apa kau benar-benar mencintai Hyera?” tanya Chery yang sontak membuat Luhan menatapnya tak-percaya. “Apa kau benar-benar mencintai Hyera?” tanyanya sekali lagi.

Luhan mengalihkan wajahnya segera, menatap Chery rasanya sama saja menatap kesalahannya sendiri. “Awalnya aku masih tidak yakin,-”

“Kalau kau tidak yakin, kenapa kau mengatakan kalau kau mencintainya?”

“Entahlah, aku hanya tidak bisa menahan perasaan yang tiba-tiba muncul saat aku berada di dekatnya.” Jelas Luhan, masih dengan pandangan yang mengarah tak jelas.

“Perasaan? Apa yang kau rasakan saat kau bersamanya? Apa kau tidak merasakan hal yang sama ketika kau bersama Hyer?” tanya Chery sekaligus. Kali ini, pandangan Chery mengabur.

“Terkadang aku merasakannya. Hyeri yang selalu tersenyum tulus di hadapanku itu, membuat jantungku berdetak cukup cepat. Tapi, kalau dengan Hyera, itu berbeda…” Luhan menarik nafasnya sejenak, “…dia, Hyera. Membuatku selalu memikirkannya.”

Chery terhenyak. “Kau bilang Hyera membuatmu selalu ingin memikirkannya. Tapi, kenapa sekarang kau menanyakan tentang Hyeri padaku? Apa kau juga sedang merasakan apa yang kau rasakan pada Hyera sebelumnya?” tanya Chery sedikit kasar.

Luhan tampak berfikir sejenak, memantapkan perasaannya. “Ku rasa seperti itu.”

Mendecak, itulah yang dilakukan Chery sekarang. “Kau mencintainya setelah kau tau kalau dia itu seorang Kim Taeyeon? Seperti itukah?” Chery bersikap dingin. “Kau tau, dulu kau memberinya harapan. Dan setelah itu kau menyakitinya. Sekarang? Kau mempermainkannya? Licik sekali kau. Mengharapkan sesuatu yang lebih setelah menyakiti seseorang.” Sambung Chery.

“Aku tidak berniat seperti itu!” bantah Luhan cepat.

“Lalu kau sebut apa semua perbuatanmu itu?” tanya Chery dingin dengan setetes cairan yang keluar dari matanya. Ya, dia menangis. Menangis karna seorang Luhan.

“Sudahlah lupakan saja.” Luhan terhenyak, sejak kapan Chery menangis? “Kenapa kau menangis?”

Chery tak mengubris pertanyaan Luhan, sampai akhirnya ia bangkit dari duduknya dan mengambil shena yang berada tepat di samping rak buku Hyeri.

Luhan menatap Chery bingung. “Apa yang akan kau lakukan dengan shena?” tanyanya setelah Chery kembali pada tempat duduknya semula.

“Apa kau sudah membukanya?” tanya Chery, sedangkan yang di tanya hanya menatap bingung dengan pertanyaan si penanya.

“Membuka apa?” kali ini giliran Chery yang menatap Luhan tak percaya. “Aku benar-benar tidak mengerti dengan maksud pertanyaanmu tadi” sambung Luhan.

Chery membuang nafasnya kesal, “Kau ingat tidak, kenapa aku datang terlambat ke acara ulangtahunmu. Padahal, kau sendiri tau kalau aku datang bersamanya. Ingat tidak?” Luhan mengangguk. “Aku memasukkan sesuatu ke dalam shena.” Sambung Chery.

Sontak, Luhan meraih shena dari genggaman Chery. Ia memasukkan dua jarinya ke dalam lubang yang berada di tengah-tengah senar milik shena. Dan, ia berhasil. Secarik kertas yang masih utuh dan terlipat rapi berhasil di raihnya dari dalam lubang shena.

“Bacalah kalau kau penasaran, itu dari Hyeri.” Ucap Chery.

Dengan satu gerakkan, Luhan membuka lipatan kertas tersebut dan membacanya di dalam hatinya.

Saengil Chukkae Hamnida Luhan-ah!

Semoga di usiamu yang sekarang kau semakin tampan dan terus menjadi Luhan yang selalu menemaniku dan Hyera.
Ah, iya. Aku ingin bertanya sesuatu padamu, kenapa kau selalu memberiku harapan? Dan kenapa juga kau yang tidak menyadari hal itu? Awalnya ku kira hanya aku yang berfikir kalau kau memberiku sedikit harapan. Tapi ternyata tidak, Hyera juga berfikiran yang sama denganku.
Kau tau tidak, aku mencintaimu sejak awal kita bertemu. Tapi, ku rasa kau tidak merasakan apapun padaku… ya, walaupun kau terus saja memberiku harapan.

Ku rasa, sudah cukup sampai di sini aku jujur padamu. Ku harap, kau tidak mempermainkanku!
Sekali lagi, selamat ulang tahun Luhan!^^

Kim Hyeri

Deg

Luhan terhenyak membacanya. ‘Apa benar aku memberinya harapan? Apa aku benar-benar melakukannya?’

Ada apa?” tanya Chery penasaran dengan apa yang di tulis Hyeri di kertas itu. Luhan menggeleng menanggapi pertanyaan Chery. “Apa yang ia tulis?”

“Kau tidak tau isi surat ini?” tanya Luhan, dan Chery pun menggeleng. “Sebuah surat ungkapan selamat dan… perasaannya.” Jelas Luhan.

Chery tersentak, jadi Hyeri benar-benar melakukannya? “M-mwo?” tanya Chery tergagap. “Sayang sekali sudah terlambat.”

Luhan menghela nafasnya frustasi. Seharusnya, ia menyadari semua ini sejak awal ia bertemu dengan Hyeri. Sejak awal, ia salah mengenal Hyeri sebagai Taeyeon. Dan sekarang? Semuanya benar-benar sudah terlambat.

“Apa kau sudah mengatakan sesuatu padanya? Tepat sebelum ia pergi.” Kata Chery lembut, tak mau menambah pikiran Luhan lagi.

Luhan mengangguk dan menjawabnya. “Sudah, kemarin di Incheon, bahkan aku, Hyera dan dirinya sempat beradu mulut di sana.”

“Lalu, bagaimana dengan kabarnya? Apa kau sudah mendapat kabar darinya?”

“Belum. Aku tidak mau mengganggunya, bagaimanapun ia punya jadwal yang cukup padat sebagai penyanyi terkenal di sana. Dan juga… ku fikir ia mengganti nomor ponselnya.”

Chery mengangguk mengerti mendengar penjelasan Luhan. Tepat sekali kalau Luhan berfikiran seperti itu, karna memang benar Hyeri atau yang sekarang mereka ketahui Taeyeon sudah mengganti  nomor ponselnya.

“Akan ku tunjukkan sesuatu padamu.” Seru Chery seraya beranjak bangun dan meraih ponselnya di dalam tas yang ia bawa tadi.

Luhan memandang yeoja  di depannya, heran. Sedaritadi, yang di lakukan yeoja itu hanya menunjukkan hal-hal yang membuat Luhan semakin merasa bersalah.

“Aku akan menghubungi Taeyeon sekarang. Kau bisa mendengar suaranya nanti.” Ucap Chery menjelaskan.

“Apa aku tidak bisa bicara dengannya sebentar?” tanya Luhan lembut.

‘Aku tau, kau pasti ingin bicara dengannya’ batin Chery. “Mian, tapi aku tak yakin ia akan menjawab semua perkataanmu padanya sekarang ini. Ya, kau tau sendiri bagaimana perasaannya saat ini. jadi sebaiknya dengarkan saja.” Jawab Chery.

Luhan mengengguk mengerti dan menghampiri Hyeri yang berjalan menuju balkon apartemen Hyeri. Keduanya, duduk bersebelahan dengan sebuah meja kecil membatasinya. Chery meletakkan ponselnya di meja tersebut, dan menyeting ponselnya menjadi loud-speaker sehingga keduanya bisa mendengar dengan jelas suara lembut Taeyeon.

Yoboseyo…” sapa seseorang dari dalam telfon. Ya, itu Taeyeon. Ia mengangkat panggilan Chery dengan cepat.

Hyeri-ah, bagaimana kabarmu?” tanya Chery, tak kalah lembut.

“Aku baik-baik saja Chery-ah. Sebenarnya ada apa denganmu, aku baru pergi kemarin tapi kau sudah menanyakan kabarku seperti orang yang kehilangan sesuatu.” Jawab Tayeon.

“Aku tau. Tapi, tidak salah bukan kalau aku menghawatirkanmu? Lagipula, di Amerika kan tidak ada aku jadi kau pasti kesulitan.”

“Percaya diri sekali kau.”

Luhan menggerutu dalam hatinya, Kapan aku bisa bicara seakrab itu dengannya? Kapan aku bisa melakukannya lagi? Apa sekarang semuanya sudah benar-benar berbeda?

“Luhan-ssi” panggil Chery –menyadarkannya lagi. “Apa yang ingin kau tanyakan pada Taeyeon?” tanya Chery perlahan, mungkin berbisik tepatnya.

Luhan berfikir sejenak. Jujur saja, banyak pertanyaan yang mau ia tanyakan padanya. Tapi, keinginannya adalah ia yang menanyakannya. Bukan oranglain.

“Tidak ada.” Katanya berbohong. “Tanyakan saja apa yang menurutmu menyangkut perasaannya sekarang.”

Ia –Chery mengangguk mendengarnya. Mungkin, saat ini ia juga sedang berfikir bagaimana cara menanyakannya. Karna bagaimanapun, setiap pertanyaan memerlukan kata-kata dan waktu untuk mengungkapkannya.

Hey Kim Taeyeon.” Sahut Chery pada ponselnya. Sedangkan yang di panggil namanya hanya berdehem menjawabnya.

“Apa kau ingin tau bagaimana keadaan di sini?” –Chery menatapku serius–  “Maksudku, keadaan Luhan atau mungkin Hyera.” sambungnya pada ponselnya.

Luhan terkejut, kenapa Chery membawa nama Hyera? Ah, sebenarnya apa tujuannya itu? Kenapa di saat-saat seperti ini ia masih bisa mengucapkan nama Hyera?

Suara decakan menyadarkan Luhan lagi. Tapi kali ini berbeda, decakan itu berasal dari ponsel Chery, bukan dari Chery.

“Apa kau sedang memancingku untuk mengeluarkan emosiku hari ini?” tanya Taeyeon, “Sudahlah, itu tidak akan berhasil.”

Luhan menatap Chery yang sedaritadi tersenyum-senyum sendiri setelah mendengar perkataan Taeyeon. “Ada apa?” tanya Luhan berbisik. Ia mendecah dan tidak menanggapi pertanyaan Luhan.

“Aku serius.” Kata Chery. “Apa kau tau kalau sekarang Luhan terus memikirkanmu?”

Deg

Apa maksudnya mengatakan hal itu? Apa ia benar-benar akan memberitahu Taeyeon tentang perasaanku sekarang? Ah, kalau seperti ini Taeyeon pasti semakin terluka karna ulahku.

“Apa-apaan kau?!” geram Luhan kasar, tapi tetap berbisik.

“Lihat saja.” Responnya santai, sama sekali tidak takut ataupun merasa bersalah dengan perkatannya.

Diam, perhatian LUhan terpusatkan pada ponsel Chery yang ada di hadapannya sekarang.

“Memikirkanku?” tanya Taeyeon dari dalam telfon. “Untuk apa?”

Chery tidak mengubrisnya. Ia hanya menghela nafasnya sejenak tanpa mengatakan apapun setelahnya. Dan itu sukses membuatku terlihat seperti orang bodoh.

“Baiklah, beritau aku.” Suara lembut Taeyeon terdengar dari ponsel Chery. Sepertinya, apa yang di lakukan Chery benar-benar sebuah kode untuk Taeyeon.

“Akhir-akhir ini ia sering menemuiku hanya untuk menanyakanmu. Dan kau tau apa yang terjadi kemarin?” tanya Chery yang tak mendapat jawaban apapun dari Taeyeon. “Luhan dan Hyera tau siapa sebenarnya kau.”

Helaan nafas Taeyeon terdengar. “Lalu, apa yang mereka katakan? Apa mereka bilang kalau aku ini seorang pembohong besar?”

Luhan terhenyak. Sejak kapan Hyeri mempunyai fikiran seperti itu?

“Aku tidak tau apa kata mereka. Tapi, hari ini Luhan datang menemuiku hanya untuk menanyakan alasanmu merahasiakan semua-“

“Dan kau beritahu dia?”

“Tentu saja.”

Konsentrasinya benar-benar tersita setelah mendengar apa yang di tanyakan Chery tadi. Luhan m rasa, sekarang ia mengerti kemana arah pembicaraan mereka.

“Ku rasa, Luhan dan Hyera tidak menjalani hubungan apapun selain sebagai saudara.”

Deg

Lagi-lagi Luhan terhenyak mendengarnya. Sepertinya, Chery benar-benar mau menunjukkan sesuatu yang tidak pernah bisa Luhan tebak sebelumnya.

“Tidak menjalani hubungan apapun.” Ucap Taeyeon mengulanginya. “Dan tidak ada hubungannya denganku.” sambungnya yang membuat Luhan kembali terkejut. Apa ini yang mau di tunjukkan Chery padaku? Apa Chery mau menunjukkan ketidakpedulian Tayeon padaku?

“Jadi, sekarang kau benar-benar seorang Kim Taeyeon?” tanya Chery mengalihkan pemikiran Luhan.

“Aku Kim Taeyeon. Dan akan tetap menjadi Kim Taeyeon. Kim Hyeri, hanya sebatas masa laluku. Aku bukan seseorang yang mau memperpanjang semuanya Chery-ah.”

Luhan terdiam dengan fikiran kosong. Otaknya berusaha mencerna setiap kata yang di katakan Taeyeon tadi. Tentang Taeyeon yang sekarang ini, dan tentang perasaannya sekarang ini. Jadi, apa sekarang cintaku yang bertepuk sebelah tangan?

“Kau dengar itu?” tanya Chery berusaha menyadarkan Luhan dari semua fikiranku. Dan dengan perlahan, kepalanya bergerak ke atas dan ke bawah.

“Aku hanya bisa memberitahumu itu, karna menurutku sekarang kau pasti merasa sangat kacau. Sama seperti yang pernah di rasakan Taeyeon dulu, jadi sebaiknya sekarang kau pulang.”

Luhan memang sedang  merasa buruk sekarang. Tapi, sejujurnya, suara Taeyeon bisa membuatku membaik saat ini. Dan saat itu juga, ia tersadar kalau sambungan telfon yang tadi tersambung sekarang sudah di putuskan.

“Sudah ku bilang, kau bisa pulang sekarang.” Sahutnya lagi.

Luhan mengangguk menjawabnya.

Gomawo Chery-ah.” Ucap Luhan seraya beranjak pergi.

~~~~~

Berdiam diri di dalam kamar. Mungkin, hanya ini satu-satunya cara untuk menghilangkan rasa kecewa Luhan. Semuanya sudah berlalu tapi perasaan itu baru muncul sekarang. Terlambat sekali.

Seandainya saja, mengulang waktu itu semudah membalikkan telapak tangan. Ah, mungkin saat ini Luhan, Hyeri, dan Hyera masih menjalani hidup setenang dulu. Tanpa masalah seberat ini.

Ku harap, satu atau dua bulan ke depan, Hyera sudah bisa menganggapku ada.

~~~~~

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s