Only Yes [Chapter 7&8]

Title                 : Only Yes [Chapter 7(The Turth)&Chapther 8(Idencity)]

Genre              : Romance, Friendship, Entertaiment, etc.

Length             : Chapter(Series)

Main Cast        :

  • Xi Luhan
  • Kim Hyeri (OC)
  • Lee Hyera (OC)
  • Kim Chery
  • Kim Taeyeon

 

The Truth

Semuanya sudah siap dan Hyeri fikir ia sudah siap berangkat. Ia tarik koper yang membawa sebagian banyak pakaian dan beberapa cemilan khas Korea.

Pagi ini atau lebih tepatnya hari ini ia kembali ke Amerika. Memulai hidup yang seperti dulu –penuh dengan kesibukan. Dan sekarang semuanya sudah meledak, berita tentang kepulangannya bahkan sudah menjadi berita nomor satu di sana. Mungkin, untuk beberapa orang di Korea yang mengenal Hyeri juga akan menunggunya di bandara. Tapi, untuk Luhan, ia fikir Luhan tidak akan ada di sana.

Tok

Tok

Tok

Kakinya melangkah mendekati pintu apartemennya. Sebetulnya ia sedikit bingung, kenapa ada orang yang mengetuk pintu apartemennya hari ini? Apa itu Chery? Tapi, bukannya dia bilang ia tidak bisa mengantarnya? Lalu… yang mengetuk pintu itu siapa?

Perlahan tapi pasti Hyeri memutar engsel pintu itu dengan koper yang berdiri tepat di sebelahnya. Jika benar orang itu bukan Chery, ia pasti mengerti maksud dari kopernya.

Ne” sapa Hyeri sebelum benar-benar melihat orang di hadapannya. “Luhan?” kali ini matanya terbelalak melihat Luhan yang datang sendiri ke apartemennya. Awalnya Hyeri memang  berharap ia ada, tapi tidak. Ia tidak boleh egois!

Luhan menatap Hyeri secara keseluruhan, mungkin saat ini ia bingung dengan penampilan Hyeri dan koper yang ada di sebelahnya.

“Kau… mau kemana?” Yap! Pertanyaan yang Hyeri fikirkan!

Hyeri tersenyum kecil mendapati Luhan menanyakan hal itu, itu sedikit membuatnya merasa lega karna Hyeri tau Luhan masih mau menemuinya.

“Pergi” jawab Hyeri singkat kemudian meraih koper dan menyeretnya keluar dari apartemen. Luhan sedikit menyingkir melihat gerakan Hyeri, dengan cepat Hyeri mengunci pintu apartemen, memandang Luhan sekilas dan kemudian berlalu dari hadapannya tanpa mengatakan apapun.

Ia berjalan menelurusi setiap lorong yang ada di gedung ini dengan…. seseorang di sampingnya. Luhan, masih terus mengikutinya. Luhan bahkan tak menanyakan kemana ia akan pergi atau untuk apa ia pergi. Apa ia sudah tidak peduli?

“Aku titip kunci kamarku dan jika seseorang bernama Chery memintanya. Berikan saja” kata Hyeri kepada salah satu pegawai yang bertugas di bagian penitipan. Luhan hanya berdiri di samping Hyeri, ia tak menanggapi apa yang Hyeri katakan dengan petugas itu.

Setelahnya hening. Yang ada hanyalah suara langkah high heels Hyeri dan nafas keduanya.

Sesampainya di depan gedung barulah ia mulai bicara, “Jadi, kau akan pergi?” tanyanya. Hyeri menangguk. “Kemana?”

“Ke suatu tempat yang mengembalikanku.” Kata Hyeri tanpa memandangnya.

Luhan semakin tidak mengerti dengan kondisi yang seperti ini. Hyera menamparnya dan Hyeri pergi entah kemana dan sampai kapan. Rasanya sekarang ini posisinya benar-benar tidak bisa di jelaskan, di satu sisi ia ingin Hyeri tidak pergi tapi mengingat kejadian kemarin  dan perkataan Hyera, Luhan merasa Hyeri memang butuh waktu untuk menenangkan dirinya.

“Boleh aku mengantarmu?” tawar Luhan, Ia berharap Hyeri tak menolak karna masih banyak pertanyaam yang ingin ia tanyakan.

“Tidak perlu” jawab Hyeri tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya pada Luhan. “Aku sudah memesan taksi untuk menjemputku di sini, jadi kau tak perlu repot-repot”

Kesal. Rasanya jawabannya itu benar-benar membuat Luhan semakin merasa bersalah. “Ayolah, ku mohon.” Luhan meraih tangan kanannya yang sedaritadi menggenggam koper yang berada tepat di tengah-tengah keduanya.

Berhasil, Hyeri menatapnya. Bahkan Luhan berfikir Hyeri juga tak bisa menolak tawarannya. Dan benar saja, ia mengangguk menjawabnya dan beberapa detik kemudian ia berhasil membuat Luhan tersenyum tulus, sangat tulus.

Luhan menuntun Hyeri menuju mobilnya dan membantunya meletakan kopernya di bagasi mobil. Ini memang aneh, ia bilang ia akan pergi ke suatu tempat yang bisa mengembalikannya tapi… tempat seperti apa itu? Apa sebuah pedesaan? Atau mungkin rumah keluarganya?

“Sebenarnya tempat seperti apa yang mau kau datangi? Apa itu sebuah pedesaan atau rumah dari salah satu keluargamu?” tanya Luhan sesudah memastikan Hyeri masuk ke dalam mobil dan duduk di depan, tepat di sebelahnya.

“Bukan keduanya. Lebih tepatnya itu rumah orang yang sudah ku anggap sebagai keluargaku sendiri.” Jawabnya santai.

Luhan menyalakan mesin mobil dan kemudian mulai mengendarainya, meskipun ia sendiri belum tau kemana akan membawanya.

“Apa kau tau aku harus pergi kemana?” Luhan tersentak, sepertinya Hyeri sedang membaca pikirannya. Dengan cepat Luhan menggeleng dan tersenyum kepadanya dan dilihatnya Hyeri yang sedang menertawakannya.

“Kalau begitu, kemana aku harus mengantarmu?” tanya Luhan pada akhirnya.

Ia tak menoleh, pandangannya lurus menatap jalan di depan sana. Tapi, ia tersenyum sambil menjawab “Incheon Airport

Luhan terbelalak mendengarnya. Jadi, dia akan pergi jauh? Kenapa? Apa iya benar-benar membenciku, sampai ia harus pergi keluar negri?

“Jadi, tempat yang kau maksud itu berada di mana?” tanya Luhan penasaran.

“Tidak jauh” jawabnya yang membuat Luhan merasa sedikit lega. “Hanya di Amerika.”

Deg

Amerika? Apa iya sedang bercanda? Amerika itu jauh bodoh! Siapa pun pasti tau kalau membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai di Amerika!

“Amerika, hanya untuk menenangkan diri” celetuk Luhan yang sukses membuat Hyeri menundukkan kepalanya. “Boleh aku tau, ada apa denganmu?”

“Aku tidak apa.” jawabnya singkat. Ia kembali mengangkat kepalanya dan pandangannya kembali beralih pada jalan yang berada tepat di hadapannya.

“Kalau benar begitu, kenapa kau butuh tempat untuk mengembalikanmu?” tanya Luhan perlahan. “Apa ini karna hal kemarin?”

Hyeri masih tak menatap Luhan, Luhan mengira Hyeri sudah melupakan kejadian itu. “Apa aku yang membuatmu menangis?” tanya Luhan semakin penasaran.

Aniyo. Mendengar perkataanmu kemarin, membuatku mengingat sesuatu yang sangat ku sesali. Jadi, itu bukan salahmu. Lagipula, aku yang terlalu berlebihan dalam hal ini” katanya.

“Ceritakan apa yang membuatmu menangis.” Pinta Luhan perlahan.

Hyeri menghela nafasnya perlahan dan kemudian mulai bicara “Aku tak yakin kalau kau bisa mengerti dengan hal ini. Tapi, sakit rasanya kalau aku terus menyimpan pengalamanku ini sendirian” Luhan menatapnya bingung. “Apa kau pernah merasa kehilangan sesuatu yang sangat kau cintai?”

“Aku tak yakin, tapi ku fikir kau tau jawabannya” jawab Luhan.

Hyeri mendengus mendengarnya. “Lalu, apa kau juga pernah merasakan kehilangan seseorang yang kau cintai karna orang itu mencintai oranglain yang juga mengetahui perasaanmu pada orang yang kau cintai itu?”

Luhan tak percaya, sejak kapan ia merasakan hal seperti itu? “Tidak, aku bahkan baru mendengar hal itu sekarang.”

“Kalau begitu, kau pasti tidak mengerti. Tapi, ku rasa kau tau maksud pertanyaanku tadi.”

“Apa itu yang membuatmu menangis kemarin?”

“Tidak sepenuhnya.”

Luhan mengangguk mengerti menanggapi perkataannya. Mungkin, ia bodoh kalau aku percaya begitu saja padanya. Hyeri bisa berbohong? Tentu saja. Melihat caranya menyampaikan tadi saja seperti ada yang ia ubah, bahkan Hyeri tak menatapnya sedikitpun.

Dan setelahnya, gening.

Hyeri fokus pada pandangannya yang terus menatap ke depan. Dan, Luhan? Ia sibuk menyetir mobilnya. Hyeri tau ini mungkin bisa jadi yang terakhir kalinya melihat Luhan. Karna bagaimanapun, setelah ini jadwalnya pasti padat dan ia juga pasti akan jarang kembali ke Korea, kalaupun ia kembali mungkin itu hanya sekedar liburan atau tour.

~~~~~

Incheon. Di sinilah semuanya berakhir dan di sinilah semuanya berubah. Mungkin, setelah ini tidak akan ada Hyeri yang lebih suka menyamar. Dan tentu saja tidak akan ada makan pagi dari eomma nya Hyera.

“Jam berapa kau berangkat?” Luhan menyadarkan Hyeri dari lamunannya. Hyeri mengalihkan perhatiannya, ia melihat jam yang menempel di tangannya dan menjawabnya.

“Jam 10, hanya tinggal menunggu di dalam dan setelah itu terbang.”

“Bagaimana kalau menunggu di tempat lain?” tanya Luhan lagi.

“Aku tidak yakin. Tapi, baiklah”

Luhan membawakan barang Hyeri ke sebuh kafe yang berada di sini. Tempat itu ramai, tapi tak seramai tempat yang biasanya Hyeri kunjungi dengan Luhan dan Hyera.

Keduanya memilih tempat duduk yang jauh dari pintu masuk. Luhan memesankan Hyeri minuman dan setelah itu hening. Tak ada suara di antara kami sampai si pelayang mengantarkan pesanan ke meja kami dan setelah itu pergi.

Luhan meminum minumannya, sedangkan Hyeri hanya terus memperhatikan tv kecil yang berada di kafe ini. Saluran tv itu menanyangkan berita-berita heboh di dunia, termaksud di Amerika tentunya.

“Aku ke belakang sebentar, sebaiknya kau tunggu di sini.” Ucap Luhan.

Hyeri tak begitu peduli dengan perkataannya tadi, yang ia perhatikan adalah berita yang sedaritai di tayangkan di tv itu dan berharap kalau Luhan tidak melihatnya.

Luhan menjaduh dari tempat Hyeri. Sebenarnya, tujuannya bukan benar-benar ke belakang. Hanya menjauh dari Hyeri dan kemudian menelfon seseorang, hanya itu.

Dengan cepat, tangannya mencari-cari kontak orang yang ingin ditelfonnya. Menurutnya, orang itu harus tau, bagaimanapun ia harus tau tentang hal ini. Ku harap kau mau mengangkatnya Hyera.

“….”

Ia bahkan tidak mengatakan ‘Yoboseyo’ atau apapun mengangkat panggilan Luhan.

“Cepat ke Incheon Airport atau kau akan menyesal. Cepatlah” kata Luhan langsung pada intinya.

“Apa maksudmu?” tanyanya masih sama dengan yang kemarin, dingin.

Luhan menghela nafasnya sebentar lalu menjawab pertanyaannya. “Hyeri akan ke Amerika jam 10 nanti jadi cepatlah”

“….”

Tutt…

Ah, berakhir dengan penuh ketegangan dan kekhawatiran. Ku harap ia bisa cepat sampai dan kemudian menyelesaikan masalahnya dengan Hyeri secepatnya, karna bagaimanapun aku tetap merasa tidak enak dengan kejadian kemarin.

Luhan kembali ke tempat Hyeri dan mendapatinya sedang menundukkan kepalanya. Ada apa lagi ini? Apa iya mengingat hal itu lagi?

“Ada apa?” tanya Luhan seraya duduk di hadapannya.

Hyeri mengangkat kepalanya dan kemudian menatap Luhan, “Tidak.”

Matanya menatap lurus ke arah Luhan, tapi tidak dengan lingkarang hitam di matanya. Lingkarang itu lebih mengarah pada sesuatu yang berada tepat di belakang Luhan.

Kepala Luhan menoleh mengikuti arah pandanganya. Tapi dengan seketika ia mengatakan sesuatu. “Apa kau tidak lapar?”

Pandangannya kembali mengalih pada Hyeri dan tersenyum menjawab pertanyaannya. “Tidak, kau?”

Hyeri membalas senyumnya. “Ku rasa tidak juga.” Jawabnya.

“Apa itu bisa di sebut dengan lapar juga?” tanya Luhan, mencoba membuat gurauan kecil.

“Kalau menurutmu seperti itu, anggap saja aku bilang iya

Hyeri tertawa kecil mendengar jawabannya, sedari tadi ia hanya mengelak dari kenyataan.

“Kenapa kau tertawa? Apa ada yang salah dariku?” tanyanya.

Luhan ragu, mungkin memang ada yang salah tapi mungkin juga memang tidak ada yang salah. “Molla, ada dan tidak ada.” Jawabnya seraya tersenyum kecil.

“Apa yang salah dariku?”

“Penampilanmu.” Luhan memperhatikan Hyeri. “Kau terlihat seperti seseorang yang akan di kejar-kejar orang banyak. Terlihat seperti seseorang yang sangat terkenal dan sedang menyamar.”

Hyeri menatapnya dalam, seolah-olah mengatakan apa-maksudmu. “Apa ada yang salah dengan pendapatku?” tanya Luhan memberanikan diri.

Hyeri mendengus. “Apa yang salah, apa yang salah. Apa kau tidak punya kata lain? Dan pendapatmu itu terlalu berlebihan” jawabnya kesal.

“Memangnya kenapa? Jelas-jelas pendapatku tadi itu benar. Coba kau tanya pendapat orang lain, mungkin jawabannya sama.”

“Kalau menurutmu seperti itu, anggap saja aku bilang iya

Hyeri mengajak Luhan membicarakan hal-hal lain dan itu membuat Luhan merasa sedikit berbeda dengannya. Bahkan senyumnya pun terlihat berbeda tadi, entah lebih tulus atau mungkin lebih di paksakan. Yang pasti raut wajahnya terlihat ceria dan ia bahkan tertawa.

Hanya tinggal sekitar 25 menit lagi pesawat yang membawa Hyeri ke Amerika akan berangkat. Luhan menemani Hyeri di ruang tunggu sambil terus menunggu kedatangan Hyera. Sebenarnya hanya tinggal 20 menit lagi Hyeri berada di sebelahnya, mungkin 5 menit sebelum pesawatnya berangkat Hyeri akan langsung pergi ke pesawatnya.

~~~~~

Hyera berlari mengelilinya Incheon Airport mencari-cari keberadaan Luhan dan Hyeri. Ia berharap Hyeri berlum pergi meninggalkannya.

‘Ku harap, kau tidak lupa dengan janjimu dulu Hyeri’ batin Hyera.

Tidak lama, matanya menangkap dua orang yang tengah duduk di ruang tunggu tanpa saling menoleh satu-sama-lain. Dengan cepat Hyera mendekati kedua orang itu.

Hyeri nampak terkejut melihat Hyera yang sekarang berada di hadapannya. Ia bingung, kenapa Hyera bisa berada di sini padahal ia sama sekali tak memberitahunya. Hyeri menatap Luhan sekejap. ‘Pasti Luhan memberitahunya tadi’

“Kenapa kau berada di sini?” tanya Hyeri lembut, ia tidak mau menambah beban Hyera karna hal kemarin.

“Menyelesaikan semuanya.” Jawab Hyera. Hyeri terhenyak melihat Hyera yang menangis di hadapannya, ia bahkan tidak tau kalau sahabatnya itu benar-benar menyesal atas semuanya.

“Semuanya sudah selesai Hyera, tidak ada yang perlu di tangisi” ucap Hyeri.

Luhan yang merasa menjadi orang ketiga di antara dua yeoja itu berusaha menengahi suasana tegang yang menyelimuti mereka. Ia masih tidak mengerti kenapa Hyera dan Hyeri bertengkar seperti ini.

“Aku tidak menangis, aku bahkan tidak akan pernah menangis hanya karna hal ini…”-Hyera menghentikan perkataannya-“Aku hanya perlu mengatakan kalau aku benar-benar tidak mencintainya” sambungnya.

Luhan terkejut, ‘Jadi yang dimaksud Hyeri itu Hyera? Lalu siapa namja yang membuat mereka bertengkar seperti ini? Apa mungkin namja itu aku?’ pikir Luhan.

Hyeri bingung, ia tidak mungkin menyebut nama namja itu di hadapan Luhan. Karna kalau begitu Luhan pasti semakin merasa tidak di hargai. “Aku tidak memikirkannya, kalau kau bahagia aku pasti juga bahagia.” Ucapku.

“Kau bahagia ketika orang yang kau cintai pergi dari hidupmu dan kemudian berpaling pada yeoja lain yang tidak mencintainya? Apa kau mengerti perasaan namja itu Hyeri-ah?” Hyeri ‘menatap yeoja di hadapannya tak-percaya.

“Apa maksudmu?” tanya Hyeri dingin.

“Apa maksudku? Kau tanya apa maksudku?” ucap Hyera meremehkan. “Kau sendiri merasakannya Hyeri. Cintamu pada Luhan bertepuk sebelah tangan…” Hyeri dan Luhan tersentak mendengar perkataan Hyera “…begitupun dengan Luhan. Karna aku tidak pernah mencintainya!” sambung Hyera.

Hyeri menundukkan kepalanya mendengar perkataan Hyera, ia yakin pasti saat ini Luhan menatapnya. ‘Aku tidak bodoh seperti yang kau kira Hyera, mungkin di hadapanku kau bisa mengelak perasaanmu. Tapi, tidak saat kau sendirian.’

“Kenapa kau tidak mengatakan apa pun? Apa aku salah bicara? Atau kau yang malu mendengar aku menyebut nama Luhan di hadapannya?”

Luhan yang sedaritadi hanya berusaha mengerti apa permasalahan mereka berdua pun sudah cukup tidak tahan melihat sikap Hyera yang terus-menerus menekan Hyeri.

“Cukup!” teriak Luhan membuat orang-orang di sekitar mereka memandangnya heran, tapi ia tetap tidak memperdulikannya. “Aku merasa menyesal sudah menelfonmu tadi, Hyera” kata Luhan kesal.

Hyeri menghapus air matanya cepat dan kemudian menatap kedua orang di hadapannya itu.

“Aku memang mencintainya” Luhan terkejut mendengar pengakuan Hyeri. “Tapi, itu dulu. Sebelum aku tau ia mencintaimu. Jadi jangan salahkan diri kalian berdua. Aku tau, kau mencintai Luhan dan aku tidak akan pernah menyesal pernah melepasnya hanya untukmu. Karna aku tau, selama ia bersamamu, semua perasaanku dulu pasti hanya sebuah rasa kagum.” Hyeri menarik kopernya dan perlahan berlalu dari hadapan Luhan dan Hyera kalau saja Luhan tidak menahan tangannya.

Hyeri terhenyak, yang ada di fikirannya saat ini adalah bagaimana caranya untuk menjuhi kedua orang ini. Tapi seketika tubuhnya membeku meraskan tangan Luhan yang menyentuhnya. Ia pun berhenti melangkah, tapi tidak dengan posisinya –tetap membelakangi Luhan dan Hyera.

Luhan menarik nafasnya dan kemudian membuangnya sebelum ia mengatakan sesuatu. “Aku tidak tau tentang semua ini, jadi ku harap kau tidak marah padaku atau Hyera. Dan kau tau, ia menolakku begitu mendengar aku mengatakannya. Jadi, jangan salah paham atas semua ini.”

“Lalu apa hubungannya denganku? Bukannya sudah ku bilang, aku tidak apa-apa jadi jangan pedulikanku. Lagipula, tidak ada yang harus aku marahi bukan?” kata Hyeri tanpa membalikkan badannya sedikit pun.

“Kau bilang kau tidak marah, tapi sebenarnya kau marah Hyeri!” kata Hyera seraya mendekati Hyeri dan membalikkan tubuhnya.

Jelas, sekarng Hyeri berhasil menatap Hyera di hadapannya. Kali ini bukan Hyera yang menangis melainkan Hyerilah yang menangis.

“Jangan menangis Hyeri-ah…” ucap Hyera lembut ssambil menghapus air mata Hyeri yang terus mengalir. “Dengarkan aku” Hyera kembali serius. “Aku tidak mencitainya, dan tidak akan pernah men-”

“Kau mencintainya, Jangan pernah membohongi perasaanmu.” Potong Hyeri. “Dan hentikan semua ini. Aku bukan anak kecil yang harus dikasihani.”

Hyeri melangkah ke arah Luhan dengan salah satu tangan yang menggandeng tangan Hyera. Tak lama, ia menghentikan langkahnya tepat di hadapan Luhan dan meraih salah satu tangan Luhan. Menyatukannya dengan tangan Hyera, menggenggam keduanya erat, dan memandangi dua orang yang ada dihadapannya lembut.

Hyera menahan air matanya agar tidak jatuh (lagi) di hadapan Hyeri, ia membalas tatapan Hyeri dengan perasaan yang tak bisa di ungkapkan. Ia sendiri masih tidak mengerti dengan apa yang di lakukan Hyeri padanya.

“Kapan kau kembali?” tanya Hyeri, masih tetap pada posisi sebelumnya.

“Aku tidak tau. Mungkin seperti tahun-tahun lalu, tahun depan aku kembali.” Jawab Hyeri. “Mungkin.” Ulangnya lagi.

Hyeri terkekeh mendengarnya, ia takut kalau Hyeri benar-benar tidak akan kembali ke Korea. “Saat kau kembali, kau akan tetap menjadi Hyeriku bukan?” tanya Hyera, lagi.

Hyeri tersenyum lembut sebelum menjawab pertanyaan Hyera. “Tentu saja.”

Luhan yang tadi merasa sedikit bingung sekarang bisa tersenyum lega melihat dua orang yeoja yang sangat ia kenal kembali melontarkan senyum manisnya.

Kurang dari 5 menit, Hyeri menarik tangannya dari genggaman yang ia buat tadi. Kakinya kembali melangkah menjauhi Hyera dan Luhan. Kenangan yang ia lakukan dengan Hyera dan Luhan tidak membuat niatnya untuk kembali ke Amerika ia batalkan, sama sekali tidak.

Sedangkan Hyera, yang memandang kepergian Hyeri hanya bisa menyesal dan menangis. Ia bahkan merasa bodoh karna tidak bisa menahan kepergian Hyeri. Seketika, ia merasa salah satu anggota tubuhnya bergerak. Itu Luhan, Luhan menggerakkan tangannya. Ia lupa kalau sampai saat ini tangan mereka-Luhan dan Hyera- masih bertautan. Dengan cepat Hyera menarik tangannya dan kemudian beranjak pergi meninggalkan Luhan.

Dan Luhan masih tetap mematung memandangi dua orang masih tetap mematung memandangi dua orang yeoja yang pergi meninggalkannya. Ia merasa canggung dengan semua ini. ‘Mungkin setelah ini, semuanya akan jauh berbeda’ pikir Luhan.

~~~~~

 

Idencity

 “Jadi… apa kau sekarang sudah di Amerika?”

“Menurutmu bagaimana? 6 jam yang lalu aku di Korea dan apa sekarang aku masih harus berada di sana?” tanya Hyeri sedikit mengejeknya.

Ia –Chery, terdengar sedang mendengus. Mungkin kesal dengan perkataan Hyeri tadi.

“Ada apa?” tanya Hyeri.

“Tidak.” Jawab Chery dengan segera. “Tapi, kenapa belum ada info tentang keberadaanmu sekarang di Amerika?”

“Itu karna aku memang belum keluar dari Airport, di luar sana terlalu ramai dan manager ku bilang, aku tidak bisa menyamar terlalu berlebihan sekarang, karna semua wartawan yang berada di sini benar-benar sudah tau dengan kepulanganku.”

“Kau itu aneh, Hyeri-ah. Bukankah kalau mereka tau itu artinya kau harus menyamar?” tanya Chery lagi.

“Aku bisa saja melakukannya. Tapi, wartawan-wartawan itu pasti butuh informasi tentang kedatanganku. Apalagi, mereka sudah meminta izin pada managerku sebelumnya. Itu sebabnya aku tidak bisa terlalu menyamar sekarang.”

Chery menganggukkan kepalanya mengerti, tapi dengan segera ia menghentikan kegiatannya dan segera merespon perkataan Hyeri, “Kalau begitu, selamat berjuang!” seru Chery.

Di sisi lain, Hyeri tersenyum geli mendengar perkataan Chery. “Fighting!” sahut Hyeri.

Tak lama, sambungan telfon pun putus. Dan saat itu juga Hyeri berjalan mengambil kopernya dan kemudian menyusul manager nya.

~~~~~

Chery terkejut ketika merasakan sesuatu –lebih tepatnya tangan, menyentuh pundaknya. Dengan segera ia menolehkan wajahnya ke arah si empunya tangan.

Ia terkejut.

“Lu-luhan?” sapanya masih tidak percaya, sementara Luhan terus tersenyum melihat raut wajah Chery yang seketika berubah.

‘Ah iya, aku lupa! Ini masih di lingkungan kampus! Kenapa aku bisa lupa seperti ini!’ batin Chery.

Luhan mengambil posisi tepat di sebelah Chery, mereka memang tidak saling berdekatan. Tapi, setidaknya sekarang Chery harus berhati-hati karna Luhan pasti bisa melihat artikel yang terpampang di leptopnya.

“Ada apa?” tanya Chery.

Luhan sedikit tersenyum. “Ku dengar tadi kau menyebut nama Hyeri, apa kau tadi menghubunginya?”

‘Ah, jadi karna hal ini kau menghampiriku? Pasti sekarang kau menyesal bukan? Cih, dasar namja. Tidak pernah merasa puas dengan apa yang ia miliki!’ kesal Chery.

“Aku memang menghubunginya.” Jawab Chery seraya menaikkan penutup leptopnya dan menambah keterangan leptopnya.

Luhan memutar bola matanya mendengar jawaban Chery, tak perlu waktu lama bagi Luhan untuk menemukan leptop Chery yang menerang. Bahkan ia dapat melihat dengan jelas tentang apa yang sedang Chery buka di leptopnya.

“Kau kenal Kim Taeyeon?” tanya Luhan akhirnya.

Chery menatap Luhan sekejap dengan senyum puas di wajahnya. “Tentu saja. Dia idolaku dan dia orang yang paling dekat denganku.”

Luhan terkejut, ia tidak menyangka bahwa Chery mengenal –bahkan dekat dengan salah satu idolanya tersebut.

“Kau mengidolakannya?” tanya Luhan tak percaya.

Chery mengangguk mendengar pertanyaan Luhan seraya menunjukkan salah satu berita yang tadi ia baca.

Salah satu member So Nyeo Shi Dae atau yang lebih di kenal dengan sebutah Girls’ Generation, Kim Taeyeon akan kembali beraktivitas di bidang musicnya dengan 8 member lain SNSD atau GG ini. Pagi ini, Kim Taeyeon akan pulang ke Amerika dari tempat tinggalnya selama kurang lebih 3 tahun belakangan ini –Korea. Dengan berbagai lagu baru yang sudah ia dan member lainnya persiapkan, malam ini mereka akan langsung melakukan ‘Comeback Stage’ di salah satu acara televisi ternama di Amerika.

“Jadi, pagi tadi ia pulang ke Amerika?” tanya Luhan senang.

Chery merubah raut wajahnya. ‘Sebenarnya namja ini tau atau tidak tau? Kenapa ia bersikap seakan-akan ia tau, tapi semenit kemudian ia bersikap seakan-akan ia tidak tau?’

“Chery-ah?” sapa Luhan yang membuat Chery tersadar dari pemikirannya. “Kau melamun.”

Chery tersenyum kecil mendengar perkataan Luhan.

“Jadi kau mengenalnya atau tidak?” tanya Chery pada Luhan.

“Aku mengenalnya sebagai salah satu dari fansnya.”

‘Jadi aku salah mengiranya! Bodoh!’

Luhan terus mengoceh tentang kepulangan idolanya tersebut. Sedangkan Chery masih sama, merasa semakin bodoh karna memberitahu hal ini pada Luhan.

~~~~~

Mata Hyera terus tertuju pada dua orang yang sedang asik mengobrol di taman gedung kampus Hyeri. Dan mereka tampak seperti sedang bergurau. Si namja yang ia kenal sebagai Luhan, mulutnya terus membuka. Sedangkan si yeoja hanya tertawa kecil menanggapi kelakuan Luhan.

Tidak perlu waktu lama untuk menunggu Luhan pergi dari tempat yeoja itu, karna Hyera yakin Chery pasti mencari alasan untuk meminta Luhan pergi meninggalkannya.

Dengan cepat kakinya melangkah menghampiri yeoja yang sedang asik berkutik dengan leptopnya, bahkan ia sama sekali tak menyadari keberadaannya. Mata Hyera menyipit, memperjelas penglihatannya akan apa yang ada di hadapan Chery saat ini.

Deg

Aku mengenal orang itu. Dia, dia jelas terlihat seperti Hyeri. Tapi untuk apa Hyeri ada di artikel itu?

‘Hyeri’ gumam Hyera pelan, tapi Chery mendengarnya. Tak lama, Chery membalikkan tubuhnya dan mendapati Hyera yang tengah menatap leptopnya dengan mata yang sedikit menyipit.

Chery yang sadar dengan arah pandangan Hyera pun menutup leptopnya cepat. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya sedikit kasar.

Hyra tidak menghiraukan pertanyaannya. “I-itu-itu Hyeri bukan?” tanyanya.

Wajahnya tampak mengelak, tapi Hyera tetap yakin kalau penglihatannya pasti tidak salah. Orang itu, yeoja itu, pasti Kim Hyeri. Pasti.

“Itu Hyeri bukan?” ucap Hyera, mengulang pertanyaannya. Chery terus tak menjawab, bahkan ia tidak menatap Hyera sedikitpun.

“Jawab aku!” kata Hyera sedikit keras. Berhasil, kali ini ia menatap balik Hyera. Tapi dengan cepat ia meraih tasnya dan memasukkan leptopnya. Kemudian mencoba untuk pergi meninggalkan Hyera, dan hasilnya nihil. Hyera berhasil menahan tangannya, dan itu membuatnya mau-tidak-mau menghentikan langkahnya.

“Katakan padaku kalau orang yang ada di artikel itu benar-benar Hyeri.” Kata Hyera.

Chery menghela nafasnya dan menjawab pertanyaannya. “Kalau kau benar-benar ingin tau, lihat saja hari ini jam 8 malam di saluran tv Amerika.”

Itu bukan jawaban. Itu terlihat seperti ia mau menunjukkan bukti pada Hyera.

Perlahan, genggaman Hyera merenggang dan itu berhasil membuat Chery pergi meninggalkannya.

Dan otaknya terus meyakinkannya akan penglihatannya tadi. Kalau memang benar orang itu Hyeri. Untuk apa ia ada di artikel itu? Apa iya terlibat masalah sampai harus menjadi topik utama di sebuah artikel? Mustahil.

~~~~~

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s