Only Yes [Chapter 15]

Title                 : Only Yes [Chapter 15(Nightmare)]

Genre              : Romance, Friendship, Entertaiment, etc.

Length             : Chapter(Series)

Main Cast        :

  • Xi Luhan
  • Kim Taeyeon
  • Lee Hyera
  • Kim Chery

Nightmare

 Taeyeon melamun di tempatnya. Seluruh fikirannya dipenuhi dengan kejadian masa lalunya.

Ini buruk. Semuanya kembali memburuk semenjak kejadian itu.

Kenapa? Jangan di tanya. Aku bahkan tidak tau apa yang salah denganku.

Selama ini ia berusaha untuk melupakan semuanya. Tapi, sekarang. Di saat semuanya sudah mulai berbeda –menurut Taeyeon, Luhan kembali dengan senyum yang selalu terukir di wajahnya. Meskipun ia belum mengatakan satu katapun pada Luhan.

Menurut perkiraan Taeyeon, Luhan sedang berusaha untuk mengutuknya saat ini.

“Sudah selesai bukan?”

Bayangan?

“Hei. Kim Taeyeon.”

Ah! Aku melamun!

Ne, waeyeo?” tanya Taeyeon berusaha senormal mungkin.

“Ada apa denganmu? Kau melamun.” Ah, ketahuan. “Apa yang kau fikirkan?”

Bagaimana ini?

Ah, ani.. Aku hanya berfikir, ini sudah malam dan kalian belum pulang. Apa tidak akan terjadi masalah?”

Ia –Chery, menggeleng cepat. “Tidak akan dan tidak pernah.”

Kali ini Taeyeon tidak mengerti dengan arah perkataan Chery. “Maksudmu?”

Chery menarik nafasnya sejenak dan kemudian menghembuskannya lagi bersamaan dengan perkataanya. “Aku, Hyera, dan Luhan sudah memutuskan untuk menginap di sini malam ini. Eotte? Ide bagus bukan?”

Taeyeon tersentak. Bukan. Lebih tepatnya terkejut. Apa tadi katanya? Dia, dan Hyera? Ah, tidak. Ada Luhan di sana.

Apa benar mereka akan menginap di sini? Tapi, kenapa harus ada Luhan?

“Ta-tapi, kau kan tau di sini hanya ada satu kamar.” Taeyeon mencoba mencari alasan yang tepat.

Chery tersenyum, dan Taeyeon kalah.

“Sudah kami fikirkan,” ucapnya santai. “Aku dan Hyera bisa tidur kamarmu dengan kasur lipat yang kau simpan, dan Luhan, dia bilang dia bisa tidur di sofa malam ini.”

Taeyeon diam, tidak bisa menjawab atau menanggapinya. Otaknya berfikir, apa ia harus memberinya izin atau tidak.

‘Aku bisa saja mengatakan kalau aku ‘tidak setuju’ dengan idenya. Tapi, mereka adalah tamu di sini. Dan, sudah seharusnya seorang tamu di perlakukan dengan baik.’

“Tidak. Kau dan Hyera bisa di tidur di kasurku.” Kata Taeyeon sedikit ragu.

Chery menatap Taeyeon bingung. Yah, Taeyeon mengakui kalau ia juga tidak mengerti dengan apa yang baru saja ia katakan. Karna menurutnya, itu semua keluar begitu saja dari mulutnya.

“Aku setuju dengan perkataanmu tadi.”

Apa? Jadi ia setuju? Ku kira awalnya ia akan menolak karna aku terlalu berlebihan padanya. Ternyata aku salah, dan ku akui aku menyesal mengatakannya.

“Lalu kau dan Luhan akan tidur di kasur lipat bersama bukan?”

Bodoh!

Apa maksudnya bicara seperti itu? Apa ia kira aku wanita murahan? Berani-beraninya dia mengatakan hal itu. Ya, walaupun secara tidak langsung.

Luhan yang menguping pembicaraan Taeyeon dan Chery sedikit tertawa geli mendengarnya. Jelas saja, ini yang pertama kalinya ia mendengar seseorang mangatakan bahwa ia akan tidur bersama dengannya.

Bukan hal yang buruk selama orang itu adalah Kim Taeyeon.

“Aku akan tidur dengan Tiffany malam ini.”

Deg

Lagi-lagi sesak.

Itulah yang Luhan terima dari Taeyeon hari ini. Menurut Luhan, mungkin saat ini Taeyeon memang sedang memberinya hadiah berupa balas dendam. Dan, ia rasa itu wajar mengingat ia yang pernah menyakiti Taeyeon.

“Apa maksudmu?” tanya Chery pada Taeyeon.

“Kalian menginap di sini dan aku akan menginap di kamar Tiffany malam ini.”

“Bagaimana dengan kasur lipat yang sudah ku keluarkan?”

Tak ada yang bersuara. Yang terdengar hanya suara helaan nafas seseorang.

“Aku…” –suara helaan nafas Taeyeon terdengar jelas– “…akan memberikan kasur itu padanya.”

Dan sekarang, perasaan Luhan terasa sedikit lega. Mungkin karna ia mendengar Taeyeon yang akan memberikan kasur lipat itu, mungkin. Karna ia sendiri belum tau pasti siapa orangnya, tapi ia yakin yang dimaksud Taeyeon itu dirinya

“Kalau begitu, sebaiknya kau memberikannya sekarang. Karna aku yakin-”

“Akan ku berikan, kau masuklah ke kamar.” Potong Taeyeon seraya beranjak pergi meninggalkan Chery di sofa tempat mereka bicara tadi.

Luhan menghampiri Chery. Tidak, lebih tepatnya berjalan melewati Chery karna saat itu Chery juga beranjak bangun dan berjalan menuju kamar Taeyeon yang akan di tempatinya malam ini. Tujuan Luhan saat ini adalah balkon yang berada di sini, menenangkan fikiran dan menikmati suasana malam Seoul.

Suara langkah kaki menggema di telinga Luhan. Dan ia yakin, itu Taeyeon. Mungkin saat ini, Taeyeon akan memberikan kasur itu padanya.

Clek

Salah. Salah besar.

Saat tubuhnya berbalik, Luhan melihat Taeyeon sedang mematikan lampu apartemennya dan menghidupkan lampu tidur di apartemen –kebiasaannya. Bukan berjalan menghampiri Luhan untuk memberikan kasur lipat itu padanya. Salah besar. Ternyata kasur itu sudah berada di ruang tengah dalam keadaan yang sangat rapi.

Kaki Luhan beranjak membawanya masuk ke dalam. Dan dilihatnya, saat ini Taeyeon tengah asik memainkan ponselnya. Mungkin mengirim pesan kepada seseorang.

“Kau tidak tidur?” tanya Luhan memberanikan diri.

Taeyeon tetap diam. Sama sekali tak menanggap Luhan.

Dan sekali lagi Luhan mencobanya. “Kau tidak tidur?”

Sukses. Wajahnya mendongak dan menatap Luhan sekilas, hanya sekilas. Bahkan tidak ada sedikitpun senyum yang terukir di wajahnya saat ia memandang Luhan.

“Nanti.” Katanya seraya beranjak pergi dari tempatnya menuju sebuah tempat yang Luhan kunjungi sebelumnya. Ya, itu balkon apartemennya.

Luhan membaringkan tubuhnya di kasur lipat milik Taeyeon. Rasanya hangat. Ah, mungkin lebih hangat lagi kalau ada Taeyeon di sampingnya. Tidak, melihat senyum Taeyeon saja baginya itu sudah lebih dari hangat. Terkadang, senyumnya membuatnya berfikir kalau dunia sedang berada di ujung puncaknya. Berlebihan.

Sekali lagi, pandanganLuhan mengarah pada balkon yang berada tepat di samping ruang tengah apartemen ini. Di sana, ia temukan sosok Taeyeon yang tadi berdiri sambil memeluk dirinya sendiri. Mungkin kedinginan. Andai aku yang bisa memeluknya seperti itu, memberinya sedikit kehangatan dan membantunya tertidur setelah kegiatannya yang melelahkan itu.

Tak lama Luhan merasa semuanya berubah menjadi hitam, gelap.

~~~~~

Ah…

Luhan meringis ketika sesuatu yang sangat keras menyentuh kakinya, itu meja tamu yang ada di sini, kakinya terbentur dengan meja itu. Tidak begitu sakit sebenarnya, hanya saja hal itu terjadi begitu tiba-tiba sehingga membuatnya sedikit terbangun dari tidurnya.

Dalam keadaan yang belum sepenuhnya tersadar, matanya berpaling ke arah pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan balkon apartemen ini. Dan, ia mendapati pintu itu belum tertutup dengan rapat. Bahkan, belum sedikit pun tertutup.

Apa Taeyeon masih di sana? Dan, apa Taeyeon belum tidur sampai saat ini?

Dengan satu gerakkan tangannya menggeser meja yang berada di sebelah kasur ini dan mengubah posisinya dengan menyender di sofa yang tepat berada di belakangnya. Tak perlu waktu lama, matanya sudah menemukan jam besar yang menempel di bagian dinding apartemen ini.

“Pukul 1? Dan pintu balkon masih terbuka?” gumam Luhan.

Tak lama kakinya melangkah keluar menuju balkon apartemen Taeyeon. Tak perlu waktu lama untuk mencapai tempat ini, rasa sesak itu datang lagi.

Kenapa? Tentu saja karna saat ini ia menemukan seorang Kim Taeyeon tengah tertidur di balkon apartemennya sendiri tanpa menggunakan baju hangat atau jaket yang bisa mengurangi suhu dingin malam ini.

Benar-benar mimpi buruk.

Yeoja ini menggunakan kursi kayu sebagai tempat bersandar kepalanya dengan beralaskan tangannya sendiri. Bisa  lihat, sesekali ia mengubah posisinya seperti sedang mencari posisi ternyaman.

“Kau terlalu sempurna untuk merasakan semua ini.” ucap Luhan perlahan. “Seharusnya kau jujur kalau kau memang akan tidur di sini, tidak perlu mencari alasan dengan menginap di kamar Tiffany. Kau tau, kau justru semakin menyiksaku kalau seperti ini.”

Luhan menyentuh wajah Taeyeon, menyingkirkan anak-anak rambut yang menutupi wajahnya. Ya, wajah damainya saat tertidur. Ia benar-benar terlihat seperti seseorang yang tidak mempunyai beban saat tertidur. Wajah cantiknya terlihat sangat menyejukkan saat tertidur. Tidak ada sikap jutek ataupun cuek nya pada Luhan, dan inilah Kim Taeyeon yang Luhan kenal dulu. Kim Taeyeon yang selalu bersikap santai tapi selalu membuat orang di sekelilingnya terhibur.

“Tidur dan lupakan semuanya Taeyeonnie…” lirih Luhan.

Perlahan, Luhan raih tubuh mungilnya dan menggendongnya menuju kasur lipat yang Taeyeon sediakan untuknya. Luhan membiarkan Taeyeon berbaring, Ia membiarkan Taeyeon berbaring dengan kakinya sebagai alas kepala. Mengamati setiap inci wajah Taeyeon dan sedetik kemudian ia menundukkan tubuhnya. Mencium kening Taeyeon dalam jangka waktu yang cukup lama. Setelahnya, ia mengamati wajah Taeyeon.

“Andai setiap saat aku bisa menghangatkanmu.” Lirihnya (lagi) pelan, tak mau membangunkannya ataupun mengganggu tidurnya.

“Cepatlah kembali menjadi Kim Taeyeon yang ku kenal dulu.” Kataku seraya mengecup puncak kepalanya yang berada di bahuku.

“Yang menganggap keberadaanku.”

~~~~~

Hyera terbangun mendengar suara seseorang yang memanggilnya. Dengan satu gerakan, Hyera sudah berhasil menemukan sosok yang memanggilnya. Dia Kim Chery.

“Ada apa?” tanya Hyera masih dengan suara seraknya, efek dari tidurnya.

Chery yang mendapat respon dari Hyera pun memandang Hyera sejenak dan beberapa detik kemudian pandangannya beralih pada jam yang menempel di dinding kamar tempat tidur mereka.

“Aku kesiangan.” Guman gadis itu setelah menyadari kesalahannya.

“Jangan terlalu merasa bersalah.” Ucap Chery yang tau dengan perubahan raut wajah Hyera. “Taeyeon masih belum bangun, jadi tenanglah.”

Hyera menatap Chery bingung. “Ia belum bangun atau belum kembali dari kamar Tiffany?” tanyanya.

Chery menghentikan kegiatannya –merapihkan rambutnya dan menarik nafasnya sejenak. “Ia tidak tidur di kamar Tiffany tadi malam, ia tidur di ruang tengah…”-ia menghentikan perkataannya-“…dengan Luhan”

Hyera mengangguk mengerti. Wajahnya tidak menunjukkan wajah kesal ataupun tidak percaya. Tapi, dalam hatinya ia berusaha menghentikan perasaan yang selalu meluap begitu saja saat ia mendengar nama Luhan. Entahlah, tidak ada yang tau penyebabnya.

“Sebaiknya kau bersihkan wajahmu. Setelah ini, ku antar kau ke rumahmu untuk mengambil sarapan pagi.” ucap Chery.

Merasa tidak mendapat jawaban ataupun respon, Chery berfikir kalau yeoja di hadapannya ini sudah melupakan perjanjian mereka. “Ingat janjimu semalam?” sahutnya.

Hyera tersentak. Ia kesiangan dan ia masih bisa-bisanya melamun. Dengan cepat, ia bergerak ke kamar mandi yang berada di kamar Taeyeon dan segera membersihkan wajahnya. Mengingat perjanjian semalam, benar-benar membuatnya terlihat seperti yeoja yang ceroboh. Ya, semalam ketiganya memang sudah menyusun berbagai acara yang akan mereka buat hari ini. Untuk menyambut kepulangan Taeyeon tentunya.

“Kasurnya sudah ku bereskan. Aku akan membangunkan Luhan, jadi cepatlah.” Seru Chery dari luar kamar mandi.

Chery pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar Taeyeon. Perlahan tapi pasti, pintu yang tadinya tertutup dengan rapat itupun terbuka. Senyum mengembang dari wajahnya mengawali pagi yang cerah. Bagaimana tidak? Ia bahagia ketika melihat sahabatnya –yang ia kira tidak akan pernah mau mengenal Luhan lagi, akhirnya mau menanggap keberadaan namja itu. Bahkan saat ini, keduanya tengah tertidur dalam posisi duduk. Tangan kanan Luhan merangkul pundak yeoja di sebelahnya, sedangkan kepala Taeyeon bersandar di bahu Luhan. Keduanya benar-benar terlihat cocok, batinnya.

Ia berjalan perlahan menghampiri kedua insan yang tengah tertidur dengan pulasnya itu. tangan kanannya berusaha menepuk bahu kiri milik Luhan –yang tidak ada siapapun di sana.

Tak perlu waktu lama, Luhan mulai memainkan matanya. Ia berusaha membuka matanya dan menolehkannya ke arah yang berlawanandengan bahu tempat di mana kepala Taeyeon bersandar. Ia masih berusaha untuk melihat siapa orang yang baru saja mengganggu tidur nyenyaknya dengan Taeyeon.

“Aku dan Hyera akan pergi mengambil sarapan. Sebaiknya kau tidak perlu ikut, gendong dia ke kamarnya dan kemudian baringkan dia di sana.” Ucap yeoja itu perlahan, taku membangunkan Taeyeon.

Luhan mengangguk mengerti. “Pakai mobilku, ambil kuncinya di atas lemari.”

Ne” jawab Chery singkat. Dan detik kemudian, gadis itu sudah berjalan menjauhi keduanya.

Perlahan. Sangat perlahan. Luhan berusaha memindahkan tangannya dari pundak Taeyeon. Ia memindahkan kedua tangannya ke tubuh Taeyeon dan mulai menggendong tubuh yeoja itu ke kamarnya.

Ia membaringkan tubuh Taeyeon di kasur yang berada di dalam kamar dan kemudian duduk di tepi-tepi kasur. Tangannya ia gunakan untuk merapihkan rambut Taeyeon yang menutupi wajahnya.

“Istirahatlah, aku akan menunggumu.” Kata Luhan penuh perasaan.

Tanpa ia sadari, seorang yeoja kini tengah menatap ke arahnya tajam. Seolah-olah menandakan bahwa yeoja itulah yang seharusnya mendapatkan ucapan tersebut. Tapi, sedetik kemudian ia tersadar kalau hati Luhan bukan lagi untuknya. Dan ia menyesali perasaan yang tidak muncul 3 tahun yang lalu.

~~~~~

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s