Only Yes [Chapter 16]

Title                 : Only Yes [Chapter 16(A Bad Conversation)]

Genre              : Romance, Friendship, Entertaiment, etc.

Length             : Chapter(Series)

Main Cast        :

  • Xi Luhan
  • Kim Taeyeon
  • Lee Hyera
  • Kim Chery

A Bad Conversasion

 Taeyeon mengerjapkan matanya ketika cahaya matahari masuk menembus jendela kamarnya. Ia masih tidak sadar di mana dan bagaimana keadaannya sekarang.

Ia menguap –entah untuk yang keberapa kalinya ia menguap pagi ini. Yang ia rasakan saat ini hanya rasa kantuk yang terus mengikutinya. Bagaimana tidak, kemarin ia baru saja menggelar konser perdananya di Korea dengan Tiffany. Dan iya juga yakin, Tiffany juga merasakan hal yang sama saat ini. Ya itu, rasa kantuk.

“Kamar?” serunya kebingungan. Matanya berputar mengelilingi ruangan yang kini ia tempati, sedangkan otaknya berputar, berusaha mengingat apa yang terjadi padanya kemarin.

Ia menguap lagi, otaknya mulai melupakan apa yang ia pikirkan tadi. Seakan ada peri jahat yang menyuruhnya untuk tidak memikirkannya terlalu jauh dan kembali tidur. Tapi, hal itu tentu tidak terjadi. Karna setiap ada peri jahat, maka ada juga peri baik yang selalu mencegah perbuatan buruknya.

Taeyeon menghentakkan kakinya kesal. Ia baru saja kembali tidur ketika seseorang berusaha menggerakkan engsel pintu kamar itu.

“Jangan lupa panggil Tiffany saat kalian kembali!” teriak seseorang dari luar kamar –tepat sebelum pintu kamar terbuka sepenuhnya tentunya.

Taeyeon yang mengenali suara berat itu tersentak kaget, ia tau siapa yang baru saja berteriak seperti itu dari depan kamarnya dan siapa yang akan masuk ke kamarnya. Dengan sigap ia menutup matanya dan berusaha mengatur nafasnya yang sempat tersenggal.

Sedangkan Luhan berjalan perlahan menuju ranjang tempat Taeyeon tidur. Di lihatnya wajah cantik Taeyeon saat tertidur dan kemudian duduk di tepi ranjang yang berada tepat di sebelah tubuh Taeyeon. Tangannya ia gunakan untuk menyentuh wajah Taeyeon perlahan, mengagupi betapa indahnya wajah Taeyeon saat tertidur.

‘Apa yang ia lakukan?’ batin Taeyeon dalam keadaan tidurnya.

Luhan terus mengusap wajah Taeyeon dengan jari-jarinya, terkadang Luhan bahkan menggunakan telapak tangannya untuk mengusap wajah Taeyeon yang cantik itu.

“Kau pasti lelah…” ucap Luhan perlahan. “…bahkan sampai sekarang, kau masih tertidur dengan pulasnya…” Luhan menghentikan kegiatannya –mengusap wajah Taeyeon, kemudian beralih dengan menggenggam erat tangan Taeyeon. “…ku harap, saat kau bangun nanti, kau melihatku.”

Taeyeon terkesima dalam tidurnya, ia tidak menyangga bahwa yang Chery ceritakan padanya dulu itu nyata. Tapi, menurutnya sekarang sudah terlambat. Ia tidau mau melukai perasaan siapapun.

Luhan tersenyum memandang wajah tidur Taeyeon –bukan, bukan wajah tidurnya. Tapi, ia tersenyum ketika melihat Taeyeon yang sedang tersenyum dalam tidurnya. Entah sejak kapan dan bagaimana bisa yeoja di hadapannya itu tertidur dengan keadaan tersenyum saat ini.

Luhan memandang Taeyeon dalam. Seolah-olah mengerti dengan apa yang di alami Taeyeon saat ini. Pasti dia senang memimpikanku, pikir Luhan.

Perlahan, Luhan mendekatkan wajahnya dengan wajah Taeyeon.

Taeyeon yang tidak tau apa yang sedang di lakukan Luhan saat ini hanya bisa mendecak dalam hati. Ia tau seharusnya ia bersikap baik pada Luhan yang mau menjaga dan menunggunya sampai saat ini. Meskipun awalhnya tidak sebahagia ini, tapi dengan mendengar namja itu mengatakan hal itu sudah berhasil  membuat hatinya jatuh kembali.

Taeyeon terus berkata-kata dalam hatinya. Ia tau, saat ini wajah seseorang tengah berada di hadapannya. Ia memang tidak bisa melihatnya, tapi jelas ia bisa merasakan hembusan nafas hangat Luhan di wajahnya. Ia takut, takut kalau Luhan melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan.

Dengan sigap, Taeyeon membalikkan badannya. Tangannya yang di genggam erat oleh Luhan berhasil tertarik olehnya. Bahkan, wajah Luhan yang tadinya hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya kini sudah kembali seperti awalnya.

Luhan menjauhkan wajahnya ketika ia tau Taeyeon memalingkan wajahnya. Ia merasa ada yang aneh dengan sikap Taeyeon. Ia tau, Taeyeon tengah tertidur saat ini. Tapi yang ia tidak tau, bagaimana caranya Taeyeon melepaskan genggamannya yang begitu erat? Mustahil, jika orang dalam keadaan tertidur melakukan hal itu dengan tenaga dalamnya, itu mustahil.

“Itu aneh.” Guman Luhan dengan suara pelan yang masih bisa di dengar Taeyeon.

“Tapi sudahlah, seharusnya aku memang tidak mengganggu tidurnya.” Tambah Luhan seraya beranjak pergi meninggalkan Taeyeon di kamarnya.

Taeyeon masih tetap diam. Ia tak bergerak ataupun mengucapkan kata apapun saat melihat Luhan keluar dari kamarnya. Yang ia takutkan memang hampir terjadi, Luhan berniat menciumnya, tapi sudahlah itu sudah berlalu dan untungnya itu tidak terjadi.

Taeyeon bangun dari tidurnya, berniat keluar dari kamar dan menikmati suasana pagi Seoul. Tapi ia ingat, Luhan baru saja menemuinya beberapa menit yang lalu. Dan sangat aneh kalau Taeyeon harus keluar dari kamarnya sekarang, hal itu mungkin membuat Luhan curiga kalau ia memang sudah terbangun dari tadi.

“Sebaiknya 10 atau 15 menit lagi…” gumam Taeyeon.

Di dalam kamarnya, ia menghabiskan waktunya untuk menggeliat di atas ranjang yang sudah 3 tahun tidak ia tempati itu. Rasanya masih sama, tidak berbeda sama sekali. Masih hangat dan masih dengan posisi yang sama, yaitu berada di bawah jendela kamarnya. Hanya saja, yang sekarang menempati ranjang itu adalah Kim Taeyeon, bukan Kim Hyeri.

~~~~~

Taeyeon menarik nafasnya perlahan. Ini sudah yang ketiga kalinya ia melakukan hal ini, dan alasannya masih sama ‘berusaha menghilangkan grogi dan membiasakan diri bertingkah normal di depan Luhan’

Hah, ayolah ini sudah yang ketiga kalinya aku membatalkan niatku untuk keluar dari kamar ini. Dan kau tau, sudah hampir setengah jam aku berada di sini tanpa melakukan hal-hal yang jelas.

“Terlalu lama pabo! Hanya perlu keluar dan lihat bagaimana keadaan apartemenmu saat ini!” ucap Taeyeon, menyemangati dirinya sendiri.

Perlahan tapi pasti kakinya melangkah membawanya mendekat pada pintu kamar. Dan terakhir tangan kanannya berhasil mendarat di engsel pintu itu.

Sejenak menarik nafas dan kemudian menggerakkan engsel pintu itu perlahan, di lanjutkan dengan langkahan kakinya yang terdengar sangat pelan. Ya, ia berharap Luhan tak mengetahui keberadaannya.

Taeyeon terhenyak di tempatnya tepat setelah ia menutup kembali pintu kamarnya. Harapannya luntur dengan mudahnya. Saat ini, kedua mataku berhasil menangkap namja yang tadi datang ke kamarnya. Ia melihat namja itu sedang menonton tv di ruang tengah. Luhan tidak menyadarinya, tapi Taeyeon menyadari keberadaannya. Keberadaannya yang selalu membuat Taeyeon ingin menjauhinya.

Taeyeon membuang wajahnya saat tau Luhan tengah menatapnya –dan Luhan bahkan tersenyum padanya. Tapi satu reaksi Taeyeon, tidak memperdulikannya dan tidak menganggap keberadaannya. Taeyeon melanjutkan langkahnya menuju dapur untuk meminum segelas air segar di sana.

“Kau sudah bangun.” Sapanya yang tak Taeyeon hiraukan.

“Bagaimana tidurmu? Kau terlihat lelah semalam.” Tanyanya yang tak dihiraukan Taeyeon lagi.

“Apa kau lapar?” tanyanya lagi. “Kalau iya, kita masih harus menunggu Hyera dan Chery kembali.”

Apa katanya? Kita? Sejak kapan aku menganggapnya? Sudahlah.

Kaki Taeyeon melangkah keluar dari dapur, kali ini ia berniat pergi ke balkon –melihat pemandangan Seoul, sendirian.

“Apa yang kau lakukan?” Ah, sial. Dia masih terus membuntutiku. Sekali lagi, kesabaranku sudah hampir sampai pada batasnya. “Apa kau merindukan Seoul?”

Cukup sudah, Luhan. Kau membuatku semakin merasa bodoh.

“Kau tau, aku ingin mendengar ceritamu selama kau berada di Amerika. Bisa kau ceritakan sedikit padaku?” Taeyeon mendecak, Luhan benar-benar mengganggunya.

“Pergilah.” Kata Taeyeo  singkat. Tapi, Luhan mengerti apa maksud perkataannya tadi. Bahkan saat ini, Luhan tengah memandangnya –pandangan tak percaya, mungkin.

“Kau masih tidak mau menganggapku?” kali ini nada suaranya berubah menjadi sedikit serius. Suara yang sama seperti 3 tahun yanglalu, sebelum Taeyeon meninggalkan Seoul.

Taeyeon menggeleng. “Tidak.”

“Lalu kenapa kau terlihat membenci keberadaanku?”

Matanya menatap lurus ke depan, masih tak mau menatap Luhan. “Tidak.”

“Kenapa kau tidak menjawab semua yang ku katakan, bahkan kau terlihat seperti seseorang yang tengah lari dari kenyataan.” Ucapnya dengan nama merendahkan.

“Kalau kau merasa seperti itu, anggap saja aku menjawabnya dengan iya-benar-atau-apa-pun-yang-berkesan-menyetujui. Dan, saat aku tidak menjawabnya ataupun saat aku tidak menghiraukanmu sedikitpun, kau bisa menganggapku mengatakan iya-benar-atau-apa-pun-yang-berkesan-menyetujui. Baik itu sebuah gelengan atau penolakan. Karna kau pasti mengharapkan jawaban itu.” Satu kalimat panjang yang berhasil Taeyeon keluarkan untuknya. Memang panjang, tapi maknanya benar-benar menyakitkan.

~~~~~

Entah apa yang ku pikirkan. Saat ini, rasanya semuanya kembali seperti awal. Kembali menjadi hamparan debu yang berterbangan tertiup angin. Rasanya semuanya terbagi dan memecah.

Mengingat perkataannya tadi benar-benar membuat rasa lapar Luhan hilang. Bahkan yang sekarang terfikirkan oleh Luhan hanya satu, keseriusan Taeyeon dalam mengatakan hal itu.

Di saat keempatnya tertawa sambil sesekali memakan makanan mereka, Luhan justru terlihat menyedihkan. Bahkan Taeyeon yang membuatnya seperti ini pun tidak merasa bersalah ataupun merasa peduli padanya –tidak sedikit pun. Yang terpampang jelas di wajahnya saat ini hanya sebuah kebahagiaan yang memang seharusnya didapatkan dari dulu.

Ia bisa saja ikut tertawa dan hanyut dalam permbicaraan mereka. Tapi, apapun yang Luhan katakan responnya hanya satu, Iya. Hanya satu kata yang mampu menjawab semuanya, satu kata  yang keluar dan terjadi karna suatu keterpaksaan.

“Fany, lihatlah! Kau mengambil bagianku!”

“Aku hanya ingin menyicipinya saja Taeyeon.

Ah, baiklah. Jadi sekarang aku yang tidak bisa mendapatkan bagianku.”

“Kau bisa mendapatkan bagian Luhan, ia se-”

Ne?” tanya Luhan masih tidak mengerti. Bagian apa dan siapa yang memintanya? Aku terlalu banyak melamun rupanya.

“Yak! Kau tidak mendengarkannya? Apa yang kau fikirkan?” tanya Chery dengan nada yang sedikit tinggi.

Mian, aku melamun.” Luhan melirik Taeyeon sejenak, ia tampak sedang menyuap makanannya.

“Kau melamuni Taeyeon?” kali ini Tiffany menggodaLuhan. Dengan cepat sebuah gelengan pun keluar mewakili jawabannya.

Sepertinya Tiffany tau semua yang terjadi denganku dan Taeyeon.

“Cepat makan namja lelet! Kau mau Taeyeon yang menyuapimu?” Chery berkata lagi, membuat Luhan sedikit bosan mendengarnya.

Taeyeon tetap tak bergeming, ia hanya menunjukkan wajah datarnya dan tidak tertarik sedikitpun untuk terhanyut dalam candaan yang di buat oleh sahabatnya itu. Bahkan ia sama sekali tidak terkejut ketika Chery menyebutkan namanya. Benar-benar seperti sesuatu yang sudah di rencanakan.

~~~~~

Chery menggumam kesal melihat tingkah kedua orang terdekatnya. Keduanya masih sama, tak ada yang mau memulai percakapan. Bahkan, sejak pagi tadi keduanya masih saja tidak saling menyapa. Ah, jangankan menyapa, mata mereka pun belum saling bertemu. Luhan memang sering sekali memperatikan Taeyeon, tapi Hyera merasa sikap egois Taeyeon masih terus mengendalikannya, sampai-sampai ia tidak mau menatap Luhan sedikitpun.

“Jadi, setelah ini apa rencana kalian?” tanya Tiffany yang kini berada di sebelah kanan Hyera.

Memang sedaritadi yang mereka lakukan hanya duduk di ruang tengah sambil terus menatap tv yang entah sedang menanyangkan acara apa, menurut Hyera ini sangat membosankan.

“Ku dengar kalian membuat rencana, rencana apa?” Taeyeon juga ikut melontarkan pertanyaan.

Hyera tak menjawabnya. Memang benar, kami sudah menyusun semuanya. Tapi, semuanya sudah terlanjur gagal mengingat bagaimana sikap kedua orang yang kini tengah duduk saling berhadapan.

“Semuanya sudah berakhir.” Chery menjawabnya dengan wajah yang setengah ia tundukkan.

“Sejak kapan? Kenapa aku tidak bisa merasakannya?”

“Sejak awal semuanya memang sudah terlihat gagal.”

Taeyeon mendongak menatap Hyera, “Gagal? Kenapa bisa?”

“Karnamu. Kau yang menghancurkan semuanya.” Ucap Hyera tanpa memikirkan perasaanTaeyeon, mungkin ia akan marah mendengarnya.

Taeyeon menatap Hyera, ia terlihat seperti orang yang sedang kebingungan. Taeyeon butuh orang untuk menjelaskan semuanya, dan orang itu bukan Hyera.

“Sikapmu terlalu dingin, dan itu membuat semua rencana yang sudah kami buat hancur berantakan.” Chery menyelamatkan Hyera. Chery, dia memang seperti pahlawan.

“Aku? Sikap dingin? Apa kalian tidak salah menilainya?”

Hyera mengeryitkan dahinya. Yeoja ini benar-benar tidak menyadari perubahan sikapnya pada Luhan.

“Apa ada yang berbeda denganku, Tiffany?” tanya Taeyeon pada Tiffany, sedangkan yang di tanya hanya mengangkat bahunya –tidak tau.

Kali ini harus Hyera yang menyampaikannya.

“Kau tidak berbeda dengan ku, ataupun dengan Hyera. Tapi kau melupakan seseorang,” mata Hyera melirik Luhan sekilas, namja itu kini sedang asik dengan headsheet yang menempel di telinganya.

“Dengan Luhan?” Tiffany merespon. Membuat Taeyeon juga ikut melirik Luhan.

Hyera mengangguk, menandakan bahwa jawaban Tiffany memang tepat. Chery yang berada  paling dekat dengan Luhan pun melepaskan headsheet yang tengah menempel di telinganya, membuat namja itu kini menatap Hyera, Taeyeon, dan juga Tiffany yang sedang menatapnya. Ia terlihat tidak mengerti.

“A-ada apa?” tanyanya terbata, bisa di tebak namja itu gugup mendapat 3 tatapan secara langsung seperti itu.

Satu persatu dari mata yang menatapnya pun kini beralih, menyisahkan tatapan tajam yang masih mempertahankan tatapannya. Hanya saja, tatapan itu terkesan seperti tatapan yang mengancam. Mengancam untuk tidak menanyakan ataupun mengatakan apapun padanya –menurut Hyera.

“Kenapa kalian bertatapan seperti itu?” ucap Hyera berusaha menengahi keduanya.

Taeyeon tampak memalingkan wajahnya setelah beberapa detik yang lalu ia menatap Luhan tajam, dan sekarang justru berbalik, Luhan lah yang tidak melepas tatapannya dari Taeyeon.

“Hey! Yak! Kenapa kau menatapnya seperti itu?” Chery juga ikut membantu Hyera, menengahi keduanya.

“Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua? Sebaiknya kalian menghentikan pertengkaran yang tidak menghasilkan apa-apa itu!” kata Hyera sebijak mungkin.

Taeyeon mendecak, sedangkan Luhan diam tak bergeming di tempatnya. Keduanya bahkan tidak memperdulikan keberadaan yanglainnya.

Hening. Tepat setelah kejadian tadi, tak ada yang mau memulai percakapan lagi. Benar sekali, karna mereka semua yakin takut mengulang kejadian yang tadi.

“Bagaimana kalau truth or dare?” kata Hyera berusaha memecah kecanggungan yang terjadi.

Semua pandangan pun beralih padanya. Entah, ini pandangan mematikan atau justru pandangan setuju.

“Bagaimana?” tanya Hyera sekali lagi.

“Aku setuju.” Respon Chery. “Kita di sini untuk bersenang-senang, jadi lupakan yangtadi.”

“Aku juga setuju.” Tiffany melontarkan respon yang sama. Yang membuat Hyera mendesah lega. Karna ideku masih bisa diterima mereka.

Mau, tidak mau, Taeyeon dan Luhan mengikuti permainan yang ia buat. Sebenarnya, bukan Hyera yang membuatnya. Hanya saja, untuk kali ini Hyera merubahnya sedikit menjadi versi-nya.

“Giliranmu Taeyeon. Sekarang, jawab pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang ku lontarkan tadi pada Tiffany.” Kata Hyera.

Taeyeon menarik nafasnya sejenak, ia terlihat ragu untuk mengatakannya.

“Cepat katakan apa yang sedang mengganggumu fikiranmu akhir-akhir ini!” perintah Hyera.

“Kalian semua.” Jawab Taeyeon cepat. Hyera merasa Taeyeon benar-benar mengatakan yang sejujurnya.

“Termasuk Luhan?” Taeyeon mendongak tak percaya dengan apa yang baru saja Hyera katakan padanya, dan benar atau tidak Taeyeon terlihat seperti marah padanya.

“Satu pertanyaan dan satu jawaban, kau ingat?”

Hyera menganggukkan kepalanya mengerti dengan maksud perkataan Taeyeon.

“Kau, giliranmu. Cepat katakan!” perintah Hyera cepat pada Luhan yang tengah asik dengan ponselnya.

Luhan tak menatap ataupun mengalihkan perhatiannya sejenak, ia terus menaruh perhatian pada ponselnya. Tapi ia menjawabnya dengan cepat, sangat cepat. Satu kata yang membuat orang kami –aku, Chery, dan Tiffany- sukses menunjukkan wajah terkejut.

“Taeyon-ah…” katanya menyebut nama Taeyeon. Ya, itu dia, Taeyeon. Kim Taeyeon.

Lagi-lagi Taeyeon menatap namja di hadapannya, tatapannya benar-benar tidak bisa ditebak. Ini bisa menjadi sebuah tatapan mengancam dan juga bisa menjadi sebuah tatapan menjawab. Entahlah, ini sangat membingungkan.

“Bagus… dan sekarang giliranku, tanyakan apa yang kalian ingin tanyakan. Ingat, satu orang-satu pertanyaan.”

“Aku tak berniat.” Tanggap Taeyeon dan Luhan serempak, meskipun begitu keduanya tidak sama sekali terpancing untuk menatap.

“Kalau begitu, kalian berdua saja.” Kataku pada Chery dan Tiffany. Chery menggerakkan kepalanya ke arah Tiffany. Itu tandanya, hanya Tiffany yang akan bertanya pada Hyera?

Tiffany terlihat seperti berfikir. Wajahnya saat berfikir tidak mengurangi kesan manis di wajahnya. Ia memang pantas menjadi seorang idola. Sesaat, ia berhenti dan menatap Hyera.

“Ah, a-apa Hyera-ya masih… hm… mencintai Luhan?”

Deg

Seketika tubuh Hyera membeku.

Pertanyaannya, benar-benar membuatHyera mematung kedinginan seperti ini.

Hyera tidak tau bagaimana reaksi Luhan ataupun Taeyeon saat ini, yang jelas reaksinya pasti sama dengan reaksi mereka. Terkejut. Ya, benar.

“Bisa kau ulangi pertanyaan bodohmu itu Fany-ah?”

“Apa Hyera masih mencintai Luhan?” ulangnya tanpa penuh keraguan.

Ah, yeoja ini benar-benar membuat mereka semua gila. Ia berhasil membuat Baekhyun menjadi penggemarnya dan sekarang ia berhasil membuat orang disekelilingnya membeku seketika.

“Jawab dengan jujur Hyera-ah!” seru Chery dari tempatnya.

“Tidak.” Jawab Hyera dengan penuh keyakinan, ya kali ini ia harus yakin kalau ia memang benar-benar sudah tidak mencintainya. Bahkan bukankah ia memang tidak pernah mencintainya? “Aku bahkan tidak pernah mencintainya.”

“Ini aneh…” gumaman Tiffany terdengar sampai ke telinga mereka.

“Apanya yang aneh?” tanya Hyera penasaran.

“Dulu, ka-”

“Apa yang sedang kau bicarakan?” Taeyeon memotong perkataan Tiffany.

Mata Hyera beralih memandang Taeyeon. Dia, terlihat seperti tidak ingin membahas semua ini. Dia, terlihat marah jika harus mendengar semua ini. Sebenarnya apa? Apa yang membuatnya menjadi pemarah seperti ini? Pertama Luhan, dan sekarang? Apa ia juga akan marah padaku?

“Aku hanya mecoba menyingkirkan raga canggung di antara kalian berdua saja, kau dan Luhan. Kau terlihat seperti menjauhinya.” Jelas Tiffany kembali mengalihkan perhatian Hyera.

“Apa yang kau maksud dengan rasa canggung?” suara Taeyeon terdengar menyelidiki.

Tiffany gelagapan –bukan, mungkin ia takut. “Kau dan Luhan terlihat seperti tidak saling mengenal.”

Pandangan pun beralihkan pada Luhan. Ia masih sibuk dengan ponselnya, dan kenungkinan besar ia tidak mendengar apa yang sedang yeoja-yeoja bicarakan. Ya, karna headsheet yang tadi ia pakai masih setia menempel di telinganya.

“Itu urusanku. Jadi, jangan tanyakan yang macam-macam” ucap Taeyeon dingin.

~~~~~

Cukup, ini sudah di luar batas. Cukup sudah kesabaranku habis karna mereka semua. Cukup sudah emosiku meluap karna mereka semua. Cukup.

“Kenapa kau terlihat marah saat Tiffany menanyakan hal itu?”

“Aku hanya tidak mau membahasnya.” Elah Taeyeon. Tidak, ini bukan suatu elahan. Tapi, ini sebuah kenyataan. Aku memang benar-benar tidak mau membahas hal ini. Sampai kapanpun, menurutku hal ini sudah berakhir.

“Bagaimana dengannya?” Chery mengangkat jari telunjuknya ke arah Luhan. “Luhan, katakan sesuatu!” katanya cukup kencang, cukup bisa membuat namja itu melepaskan headsheetnya dan menatap beberapa yeoja di hadapannya dengan tatapan tidak mengerti.

“Apa lagi?” tanyanya dengan wajah yang benar-benar terlihat kebingungan. “Bukankah aku sudah mendapatkan giliranku?”

Chery menghelas nafasnya sejenak, Taeyeon tau dia pasti kesal melihat sikap Luhan yang terus acuh tak acuh. Dan Taeyeon juga tau, sikap itu di tunjukkan padanya.

“Aku ingin tau, apa kau masih mau membahas masa lalumu?”

Luhan mengeryit. Entah ia tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti.

“Masa lalumu dengan Taeyeon.”

TAeyeon menoleh, sukses. Gadis di depannya ini benar-benar membuatnya harus menahan emosinya. Ia tau betul kalau Taeyeon tidak menyukai hal ini, tapi kenapa ia terus saja membicarakan hal ini? Apa ia memancing Taeyeon? Ia memancing emosi Taeyeon agar ia bisa mengatakan semua yang ia rasakan saat ini? Tidak. Itu tidak boleh terjadi.

Luhan menatap Taeyeon,Taeyeon membatin, tidak, ini sebuah kesalahan. Ia bisa saja mengakui tatapan itu sebagai tatapan menyetujui. Ah, kenapa aku harus terjebak dengan perkataanku? Ini bahaya.

Ne. Tentu saja aku mau.”

Deg

Salah besar Luhan! Arti tatapanku bukan Iya! Tapi aku menolaknya!

“Bagaimana sekarang? Luhan menyetujuinya, bahkan ku rasa Luhan berharap lebih padamu Yeon.”

“Aku tidak memikirkannya.”

“Kenapa tidak? Bukankah kau menyetujuinya tadi? Kenapa justru tidak?” Luhan menolak perkataan Taeyeon. Benar dugaan Taeyeon, namja di hadapannya benar-benar mengikuti perkataannya sebelumnya.

“Karna aku memang tidak akan pernah membahasnya lagi.” Jawab Taeyeon ketus. “Jadi, sebaiknya sekarang kalian pulang. Aku ma-”

“Kau mengusir kami?” Hyera ikut menolak perkataannya.

Ah, ini semua salah. Salah.

“Aku tidak mengusir kalian, hanya sebaiknya kalian pulang karna aku masih mau beristirahat siang ini.” ucap Taeyeon perlahan, tak mau menimbulkan kesalahpahaman lagi.

“Kalau kau memang mau beristirahat, sebaiknya kau masuk saja ke kamarmu. Aku bisa menunggumu di sini, dan kalaupun aku pulang aku juga bisa pulang tanpa harus kau usir seperti itu” ucap Chery.

Taeyeon tak perduli, ia langkahkan kakinya menuju kamarnya. Hari ini benar-benar membuatnya terlihat bodoh, bukan hanya bodoh bahkan ia merasa otaknya akan meledak saat ini juga. Entahlah, kehadiran Luhan dan Hyera hanya membuanya semakin merasa tak enak hati.

~~~~~

Saat ini, Hyera, Chery, Tiffany, dan Luhan masih terus berdiam diri di ruang tengah. Ke empatnya benar-benar tidak memulai pembicaraan. Bahkan Tiffany yang baru mengenal ketiga orang itu pun, tak mau memulai percakapan karna ia takut perkataannya adalah suatu kesalahan, sama seperti tadi.

Sedangkan Hyera yang merasa bosan pun melangkahkan kakinya menuju meja makan, meraih ponselnya dan kemudian beranjak pergi dari apartemen Taeyeon. Tak ada yang menegur ataupun melarangnya untuk pergi. Mereka semua tau, menyendiri adalah hal yang tepat untuk menjaga perasaan kecewa mereka.

“Siapa yang akan pergi selanjutnya?” Chery memulai pembicaraan kepada dua orang temannya yang tersisa, Luhan dan Tiffany. Luhan memandang Chery dan Tiffany bergantian, sedangkan Tiffany hanya menundukkan wajahnya.

“Ku rasa aku.” Ujar Tiffany seraya bangkit dari tempatnya dan keluar meninggalkan apartemen.

Setelahnya, Chery menarik nafasnya sejenak dan kemudian berusaha memecah suasana canggung yang tadi sempat di terima Luhan.

“Jadi, kenapa kau menjawab iya? Kalau kau sendiri tau dia menatapmu untuk tidak mengatakannya.” Ucap Chery pelan dan lembut, tak mau menambah beban Luhan.

“Karna memang Taeyeon menyuruhku untuk menjawabnya dengan iya.” Balas Luhan seadanya.

Chery menaikkan alis matanya, ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Luhan. Bagaimana bisa, Luhan berfikiran kalau Taeyeon mengatakan iya sedangkan yang lihat tadi justru berbalik dengan yang di katakan Luhan.

“Kau tau, dia menyuruhku untuk menyimpulkan semuanya.” Luhan berusaha menjelaskannya pada Chery.

“Menyimpulkan apa maksudmu?” tanya Chery antusias.

“Dia bilang, semua yang dilakukannya, semua yang dikatakannya, dan semua yang ku lihat. Itu semua adalah jawaban dari semua yang sedang ku pertanyakan. Dan hanya ada satu jawaban yang ia berikan padaku, hanya iya. Satu kata persetujuan yang terjadi karna keterpaksaan.” Jelas Luhan.

Chery masih tidak mengerti, “Apa alasannya?”

Luhan menghela nafasnya sejenak. “Entahlah, mungkin ia tidak mau memperumit suatu percakapan jika ia menjawabnya dengan tidak.”

“Seperti yang ku bilang, sebuah keterpaksaan.”

Chery mendesis, ia masih terlalu ragu untuk mempercayai Luhan.

~~~~~

Taeyeon mengerjapkan matanya beberapa kali, mengatur nafas dan rambut yang sedikit berantakan. Di lihatnya, jam dinding yang berada di kamarnya.

‘Pukul 6, ku rasa semua sudah pulang’ gumamnya.

Ia beranjak bangkit dari ranjangnya, melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk sekedar membersihkan wajahnya. Ia tau, seharusnya ia mandi. Tapi, masih sama, moodnya tidak sedang baik saat ini.

Kakinya kembali melangkah membawanya keluar dari kamar. Ia memutar matanya mengamati seluruh isi ruangan apartemennya. ‘Benar’ gumamnya lagi dengan senyum di wajahnya.

“Ternyata memang sudah pulang.” Katanya perlahan.

“Siapa yang sudah pulang?”

Taeyeon menoleh ke arah balkon, mendekatkan dirinya ke sana dan seketika raut wajahnya berubah kecewa. Awalnya ia kira, ia bisa mendapatkan waktu untuk menyendiri saat ini, tapi tertanya perkiraannya salah. Chery, Kim Chery masih tetap berada di apartemennya.

“Kau belum pulang rupanya.” Ujar Taeyeon perlahan.

“Aku memerlukan waktu untuk berdua denganmu, dengan seorang Kim Taeyeon.”

Taeyeon terbelalak mendengarnya, sahabatnya yang satu ini memang selalu berusaha membuat Taeyeon mengucapkan semuanya, menceritakan semua yang terjadi padanya. Baik atau buruknya hal yang sedang diadapi Taeyeon.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyaTaeyeon dengan suara yang dibuat senormal mungkin.

“Bukan aku yang seharusnya menanyakan hal itu. Kau tau, seharusnya kau menceritakan semuanya padaku, bukan lari seperti ini.”

“Aku tidak lari, lagipula tidak ada yang harus ku ceritakan padamu.”

Chery tersenyum sinis mendengar respon dari sahabatnya itu, ia benar-benar menyadari perubahan sikap Taeyeon setiap kali ia menanyakan ataupun membicarakan perasaan yeoja itu.

“Kenapa kau bisa mengatakan tidak di depanku? Tapi, di hadapan Luhan kau justru mengatakan iya?” tanya Chery dengan nada suara yang terdengar seperti meremehkan.

Taeyeon tersentak, Chery tau tentang apa yang ia katakan pada Luhan.

“Aku melakukannya karna ia terlalu banyak bertanya padaku.”

Jinjayo? Aku masih tidak bisa mempercayainya.”

Taeyeon tersenyum ke arah sahabatnya itu. Senyum yang berbeda dengan senyum yang sedang di perlihatkan Chery –senyum tulusnya.

“Aku tak perlu menjelaskannya, karna ku rasa kau tau apa yang ku maksud.”

Chery membalas senyum Taeyeon dengan wajah kecewanya. “Bagaimana kalau aku benar-benar tidak mengerti? Bisa kau jelaskan semuanya?” pinta Chery. “Semuanya.”

Taeyeon mengubah arah pandangannya. Sekarang, matanya menatap lurus ke depan. Memikirkan kata-kata yang akan ia keluarkan untuk menjelaskan semuanya pada Chery.

“Aku melakukannya karna aku tidak mau mengulang kesalahanku, aku tidak  mau mengecewakan Hyera ataupun Luhan. Keduanya terlalu baik padaku.” Jelas Taeyeon.

Chery menghela nafasnya sejenak. “Bagaimana kalau kenyataannya kau lah yang mengecewakan mereka?”

“Akan ku pastikan tidak akan pernah.”

“Kau menjauhi Luhan, dan itu sukses membuatnya kecewa padamu.”

“Hanya Luhan, Hyera tidak.”

Chery menghentikan perkataannya ketika ia mendengar satu kalimat kejam yang keluar dari mulut seorang Kim Taeyeon.

“Maksudmu kau mengorbankan perasaan Luhan untuk Hyera?”

Taeyeon mengangguk, di dalam hatinya ia tau kalau semua ini salah. Tapi, terkadang ia juga tau, kalau persahabatan jauh lebih penting di bandingkan perasaannya.

“Sama seperti apa yang ku lakukan dulu.” Ujar Taeyeon yang semakin membuat Chery menatapnya tak percaya.

“Sekarang dan dulu berbeda Yeon-ah. Mungkin dulu kau mengorbankan perasaanmu karna kau tau Luhan dan Hyera saling mencintai, tapi sekarang keduanya benar-benar tidak memiliki perasaan apapun.”

Taeyeon tetap memperlihatkan wajah santainya, sementara Chery merubah wajahnya menjadi sedikit kesal.

“Ada atau tidaknya perasaan itu, aku akan tetap melakukannya.”

Chery kembali terbelalak mendengar apa yang baru saja Taeyeon katakan, ‘Kau benar-benar berbakat dalam hal perasaan Taeyeon. Kau hebat, bahkan melewati hebat’ batin Chery.

Chery berusaha mengatur emosinya yang sudah mengendalikannya. Di alihkannya tatapannya dari wajah sahabatnya, dan sekarang keduanya sama-sama melihat lurus ke depan.

“Setelah apa yang dilakukannya semalam, kau masih mau melakukan hal itu padanya. Sungguh, aku tidak mengerti dengan apa yang ada di pikiranmu, Taeyeonnie…”

Taeyeon terkesima mendengarnya, ‘Memangnya apa yang terjadi?’

“Memangnya apa yang terjadi?” kalimat yang ada di fikirannya keluar begitu saja dari mulutnya.

Chery mendecak, ia merasa kalau ia mendapatkan Taeyeon saat ini.

“Kau ingat, apa yang kau bilang semalam, beberapa menit sebelum kau tertidur?” tanya Chery.

Taeyeon mengangguk dan menatap Chery menunggu kelanjutan ceritanya.

“Kau bilang, kalau kau akan tidur di apartemen Tiffany bukan? Lalu kenapa kau tidak tidur di sana kemarin?”

‘Ah, aku lupa! Semalam aku tertidur di balkon dan kemudian…. kamar?’ fikir Taeyeon, tak terkendali.

“Apa kau tau kalau kau tertidur di ruang tengah semalam? Menyandar di bahu Luhan dan tertidur dengan nyenyaknya dalam rangkulan namja itu. Apa kau ingat?”

Gantian,sekarang justru Taeyeon yang tersentak mendengarnya. ‘Tapi, bukannya semalam aku tertidur di balkon? Kenapa justru di ruang tengah?’

“Apa kau tau kalau Luhan yang menemukanmu di balkon, dan dia juga yang memberikanmu kehangatan dengan rangkulannya? Apa kau tidak tau hal itu?” Kali ini tujuan Chery adalah membuat sahabatnya itu meluapkan emosinya pada dirinya.

“Dan, apa kau juga tau kalau Luhan memberikan semuanya padamu? Memberikan semua yang seharusnya memang kau dapatkan sejak awal kau mengenalnya. Apa kau tau semua itu?” nada bicara Chery mulai meninggi.

Sedangkan Taeyeon, lagi-lagi ia mengalihkan pandangannya dari sahabatnya itu. Pandangannya mulai kabur entah kemana, dan menyisahkan genangan air yang terlihat jelas di wajahnya. Dia, Kim Taeyeon. Menangis lagi.

Chery menyadarinya, ia tau kalau sahabatnya kini tengah menahan tangis akibat perkataannya. Ia tau semua itu karna kesengajaannya memancing emosi Taeyeon. Dan ia yakin, setelah ini sahabatnya pasti akan mengatakan semua yang ia rasakan.

“Tumpahkan semuanya. Jangan di pendam seperti itu.” saran Chery ketika melihat Taeyeon yang masih terus menahan tangisnya.

Perkiraannya salah, yeoja itu justru tak mengatakan apapun. Ia hanya menghapus air matanya dengan beberapa jarinya, kemudian diam dan menatap lurus ke depan.

“Kau tidak meluapkannya? Jadi, sebaiknya aku pulang. Ini sudah hampir malam.” Ujar Chery seraya pergi meninggalkan Taeyeon yang masih diam di tempatnya.

Satu langkah sebelum Chery menggapai pintu keluar, Taeyeon menghampiri sahabatnya itu.

Gomawo dan mianhae…” Taeyeon tersenyum mengatakannya, ia tau hanya itu yang bisa di katakannya. Tanpa sadar, Chery juga membalas senyum dari sahabatnya itu kemudian kembali melangkahkan kakinya keluar dari apartemen Taeyeon.

~~~~~

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s