Only Yes [Chapter 17&18]

Title                 : Only Yes [Chapter 17(It Isn’t Mine)&Chapter 18(In The Rain)]

Genre              : Romance, Friendship, Entertaiment, etc.

Length             : Chapter(Series)

Main Cast        :

  • Xi Luhan
  • Kim Taeyeon
  • Lee Hyera (OC)
  • Kim Chery

 

It Isn’t Mine

 “Yoboseyo

“Cepat kemari Taeyeon! sudah ku siapkan makan malam untukmu.”

Ne, tunggu aku.”

“Ne”

Taeyeon melangkah keluar dari apartemennya. Ya, ia harus menemui Tiffany sekarang. Karna bagaimana pun ia masih harus makan malam. Terlebih, karna memang ia merasa lapar dan sangat lelah jika ia harus bekerja tanpa mengisi sedikitpun perutnya.

Dengan satu tekanan, seorang yeoja yang Taeyeon kenal –Tiffany, membuka pintu apartemennya dan menyuruh Taeyeon untuk masuk dan duduk di meja makan. Benar saja, yeoja ini memang sudah menyiapkan berbagai menu makan di apartemen barunya ini. Memang, porsinya tidak terlalu banyak. Tapi, ini cukup kalau hanya untuk Tiffany dan dirinya.

“Kau bisa memakannya duluan, aku harus mengecek ponselku dulu.” Ucapnya seraya meninggalkan Taeyeon di meja makan.

1 menit

1 menit 30 detik

2 menit

Ia masih tak kunjung datang. Oh, ayolah aku lapar. Lagipula, kenapa aku masih menunggunya? Bukankah ia bilang aku bisa memulainya terlebih dahulu?

Dengan cepat, Taeyeon memutar balikkan posisi piring yang berada di depannya dan segera mengambil beberapa menu makanan yang tersedia di sini. Tak lupa, memulai makan malamnya sendirian.

Tak lama, suara langkah kaki menggema di ruangan ini. Apa itu Tiffany? Kenapa dia lama sekali?

Ah Taeyeon, sepertinya kau memang sedang lapar.”

Benar dugaannya, itu Tiffany.

“Aku memang sudah lapar. Dan kau tau, aku menuggumu cukup lama untuk hal ini.”

Tiffany mengambil tempat duduk tepat di depan Taeyeon.

Mianhae, aku ada urusan sebentar tadi.”

“Urusan dengan Baekhyunmu itu?”

“Taeyeon!” elaknya. Taeyeon merasa tebakannya benar, buktinya saja wajah Tiffany kini sudah memerah.

“Kau lucu Fany-ah, wajahmu memerah saat aku mengatakan nama itu.” ucap Taeyeon sambil terus menahan tawa yang sudah menggelitiknya.

“Ini tidak lucu. Kau terlalu berlebihan menyebut namanya. Dan lagipula dia bukan milikku.”

“Memang apanya yang salah? Kalian selalu bertukar pesan bukan? Jadi, ku rasa dia memang milikmu. Bahkan dia seorang fanboy-mu.” Ucap Taeyeon.

Tiffany mulai memilih makanannya, sambil terus menatap Taeyeon yang sudah hampir selesai.

“Bagaimana kalau aku menyebut nama Luhanmu?”

Deg

Apa-apaan ini? Dia balas dendam padaku? Dan kenapa juga aku harus terkejut ketika mendengarnya?

“Lihat Taeyeon-ah, wajahmu juga memerah.” Ledeknya sambil terus menunjuk wajah Taeyeon. Apa benar?

“Aku tidak memerah. Lihatlah, kau yang memerah. Cepat habiskan makanmu, dan jangan pernah mengatakan nama itu lagi di depanku.”

Tiffany tidak menanggapi perkataan Taeyeon, mulutnya yang berisi terus saja mengunyah makanannya tanpa memperhatikan Taeyeon yang tengah menatapnya dengan perasaan sedikit kesal.

Kesal mendengarnya menyebut nama Luhan dengan sebuatan ‘Luhanmu’. Itu bukan sebuah alasan sebenarnya, karna yang Taeyeon tau dulu ia memang berharap seperti itu. Dulu. Jauh sebelum ia mengajak Tiffany untuk mempromosikan singgle terbaru mereka di Korea.

Yah, itu memang aneh. Menyebut nama seseorang dengan istilah ‘kepunyaanmu’. Itu salah, sangat salah. Mau bagaimanapun, orang itu milik Tuhan, kedua orangtuanya, dan… kekasihnya. Tapi, Taeyeon memang bukan kekasihnya. Jadi, Taeyeon rasa ia tidak berhak menandainya sebagai milikku.

“Memangnya kenapa kalau aku mengatakannya?” Tiffany menyadarkan Taeyeon dari lamunannya. Dan, apa ini? dia sudah selesai dengan makanannya? Kenapa cepat sekali? Atau aku yang terlalu lama melamun.

“Itu membuatku risih.”

“Justru kau yang membuatnya risih dengan sikapmu itu. Kau bahkan menunjukkan sikap yang belum pernah ku lihat.”

“Untuk apa aku memperlihatkannya padamu? Apa kau mau aku menjauhimu sama seperti aku menjauhi Luhan?”

Eh? Apa yang baru saja ku katakan? Aku mengakuinya? Kenapa bisa?

“Untuk apa kau menjauhi Luhan? Bukankah kau mencintainya? Itu yang kau katakan padaku seminggu sebelum kita berada di sini.”

Otak Taeyeon memutar kejadian itu, ia rasa ia tidak pernah mengatakannya. Minggu lalu? Kenapa aku tidak merasa mengatakannya?

“Kau jangan mengatakan yang macam-macam. Aku sudah melupakannya semenjak 3 tahun yanglalu, dan terakhir kali aku menyebut namanya ketika aku menceritakan masalahku padamu.”

Tiffany menatapnya, seperti sedang menyuruh Taeyeon untuk menatapnya kembali. Dan bodohnya, Taeyeon membalas tatapannya! Bodoh!

“Kau tidak ingat dengan siapa kau bicara seminggu yanglalu? Di tampat rekaman? Kau lupa semua itu?” tanyanya yang Taeyeon yakini serius.

“Terakhir yang ku ingat, di tempat rekaman kau bilang ‘kau menghargai laguku’. Seperti itu bukan?”

Tiffany menggangguk, “Lalu apa lagi?” tanya Taeyeon.

“Ingat-ingat seluruh kalimatnya!” perintahnya dengan nada suara yang tak membuat Taeyeon takut.

“Aku benar-benar tak mengingatnya Fany-ah!” balas Taeyeon tak kalah menyeramkan, memerintahnya untuk berhenti menyuruh Taeyeon mengingatnya.

Tiffany menarik nafasnya, sementara matanya tetap tak beralih dari mata Taeyeon. Taeyeon rasa, sebentar lagi ia akan marah atau mulai bicara dengan nada yang suara yang sedikit menjengkelkan.

“Aku menghargai lagumu, karna kau menyanyikannya bahkan membuatnya sesuai dengan perasaanmu. Dan aku tau, kau masih terus peduli pada namja yang bernama Luhan itu.” –ia menghentikan perkataanya. “Kau mengingatnya?”

Taeyeon mengangguk, meskipun tidak sepenuhnya ingat. Tapi, melihat Tiffany yang sebentar lagi akan meledak sebaiknya ia mengalah.

“Lalu, dimana letak aku mengatakannya?”

Ia menggelengkan kepalanya, terlihat seperti frustasi.

“kau tersenyum dan meng-iya­­-kan perkataanku. Itu tandanya secara tidak langsung, kau mengatakan kalau kau masih mencitainya.”

Taeyeon menghela nafasnya lega. Ku kira, aku benar-benar mengatakannya. Ternyata, semuanya hanya fikirannya saja.

“Kenapa kau menghela nafasmu seperti itu?” tanyanya.

Dengan cepat Taeyeon gelengkan kepalanya, “Ani… kau membuatku bingung tadi.”

“Kenapa bingung? Apa ada yang salah dengan perkataanku tadi?”

Sekali lagi, Taeyeon menggeleng. “Ani, sudah cepat bereskan. Biar ku bantu kau, dan setelah itu aku akan kembali ke apartemenku.”

Ia mengangguk mengerti.

~~~~~

 

In The Rain

 3 minggu kemudian…

Semuanya berlalu begitu saja. Sikapnya dan semua perkataannya benar-benar tidak berubah. Ia tetap menjadi seorang Kim Hyeri, meskipun namanya sekarang adalah Kim Taeyeon.

Tapi, yang sampai saat ini tidak bisa Luhan mengerti adalah semua sikap dan ucapan Taeyeon padanya. Ia bisa saja berbuat baik pada semua orang yang ada di sekelilingnya. Tapi, untuknya, untuk seorang Xi Luhan, Taeyeon tidak bisa sedikit pun mengatur emosinya. Bahkan terkadang, Taeyeon memarahinya dengan tatapan miliknya.

Semua yang Taeyoen lakukan, semua yang Taeyeon katakan, bahkan semua yang Luhan lihat, semuanya bertolak belakang dengan apa yang Luhan rasakan. Ia bukan lagi Taeyeon yang Luhan kenal dulu, ia bukan lagi Taeyeon yang berhasil merebut hatinya dulu. Ia bukan Taeyeon. Lantas kemana Taeyeon?

Sampai saat ini, semuanya masih sama. Taeyeon masih tetap dingin pada Luhan, dan Luhan masih tetap berusaha untuk mengikuti semua keinginan Taeyeon –mengalah. Entah mungkin ini yang terbaik atau bukan, tapi yang pasti, Luhan berharap Taeyeon bahagia dengan semua ini. Semua yang ia relakan begitu saja…

“Mau sampai kapan kau melamun seperti itu?”

Tidak, aku tidak melamun. Aku hanya memikirkan apa yang memang seharusnya ku fikirkan. Batin Luhan.

“Aku tidak melamun.” tiga kata yang tidak akan membuatnya berubah menjadi seorang Kim Taeyeon yang Luhan kenal dulu.

Memang bukan Taeyeon yang bertanya. Tapi, Luhan yakin Taeyeon mengerti dengan hal ini. Bahkan seharusnya Taeyeon sudah mengerti dan memintanya untuk tidak melakukan hal ini –tidak terus memikirkannya.

Cih!

Hanya decakan yang keluar dari mulut Taeyeon. Ia bahkan tidak mengatakan sepatah kata apapun selain decakan itu. Pandangannya saja hanya menatap lurus ke depan tanpa memperdulikan yanglainnya yang berdiri di sampingnya.

“Chery-ah, dimana Tiffany? Kenapa lama sekali? Ini sudah hampir hujan. Sebaiknya, kita menyebrang sekarang.” Ucap Luhan berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

“Taeyeon bilang, Tiffany masih harus mengadakan jumpa-fan dengan penggemarnya. Mungkin, 10 atau 15 menit lagi ia akan datang.”

Ah, Taeyeon. Jadi, Taeyeon yang menjelaskannya pada Chery? Agar aku tidak perlu menanyakan hal ini padanya? Seperti itukah? Pikir Luhan.

Tes… tes… tes……

Hujan.

Bagaimanapun ini sudah terjadi. Dan, sekarang Hyera, Chery, Taeyeon, dan Luhan terjebak di sini. Di sebuah halte bus yang tidak menjamin keutuhan tubuh mereka.

“Sudah hujan. Jadi, sebaiknya kita menunggu Tiffany dan menunggu hujan berhenti.” Saran Hyera.

Ya, memang itu yang seharusnya mereka lakukan. Selain menunggu Tiffany kembali, bukankah lebih baik kalau sekaligus menunggu hujan berhenti?

Mungkin ini sedikit tidak layak untuk Taeyeon, tapi mau bagaimana lagi? Ia adalah seorang penyanyi yang sudah mendunia, dan ia baru saja menghadiri event dari menejemen-nya, yaitu menghadiri jumpa-fan yang saat ini sedang di hadiri Tiffany. Dan dari wajahnya, tentu saja ia lelah.

“Aku ingin pulang.” Kata Taeyeon perlahan. Sontak, semua mata pun memandangnya. Walaupun di sini hanya ada Luhan, Hyera, dan Chery.

“Apa kau tidak bisa lihat? Saat ini hujan turun dengan deras! Jadi, tunggu saja sebentar lagi.” Ucap Chery dengan suara sedikit keras. Ya, bisa jadi ia memang harus berkata seperti itu agar Taeyeon tidak melakukan hal yang tidak-tidak. Seperti kabur dari tempatnya berdiri saat ini.

Setelahnya hening. Tak ada yang berniat untuk membuka suara, ataupun memulai pembicaraan. Keuanya hanyut dalam fikiran masing-masing. Taeyeon yang memikirkan bagaimana caranya untuk pulang dengan cepat, dan Luhan  yang memikirkan kesehatan Taeyeon, Chery dan Hyera yang memikirkan…. sesuatu, entahlah.

“Biar aku yang pergi, kalian tetap di sini. Aku akan kembali sebentar lagi dan membawakan kalian payung. Jadi, jangan pergi kemanapun!”

“Aku ikut! Biar aku yang membantumu membawa payung itu!”

Good job, sekarang tinggal menunggu bagaimana reaksi Taeyeon ketika mengetahui dirinya di tinggal oleh sahabat-sahabatnya, dan meninggalkannya di sini, berdua dengan Luhan.

“………………”

Datar, dan tak ada satu katapun yang keluar dari mulut Taeyeom. Sepertinya ia benar-benar tidak menganggap keberadaan Luhan di sini. Buktinya saja, Taeyeon tak pernah memandang Luhan ataupun mengajak Luhan terlibat dalam suatu percakapan dengannya. Apa perlu Luhan yang memulainya terlebih dahulu? Tapi itu mustahil, mengingat respon dan jawaban yang selalu Taeyeon berikan padanya, satu kata yang membuatnya semakin merasa tidak berarti, iya.

“Jangan pernah mencoba untuk lebih dekat denganku.”

Taeyeon memang bicara, tapi ucapannya bukan seperti yang Luhan harapkan.

“Memangnya kenapa?”

“Karna aku ingin kau pergi menjauh dari hidupku. Jauh, sangat jauh.”

Deg

Maksudnya, dia mengusir Luhan?

“Kau mengusirku?” akhirnya hal itu ku tanyakan.

“Iya, dan aku mau kau melakukannya.”

“Apa ti-”

“Taeyeon!teriakkan Tiffany memotong perkataan Luhan sebelumnya. Pakaian yeoja itu sudah  dipenuhi dengan bercak-bercak tetesan air hujan. Bahkan, rambutnya saja sudah berterbangan kemana-mana.

“Kemana yanglainnya? Kenapa hanya tinggal kalian berdua? Mian membuat kalian menunggu seperti ini. “

Luhan tersenyum, sedikit di paksakan –mungkin. “Gwenchana. Chery dan Hyera sedang mengambil payung. Tunggulah sebentar.”

“Cih!”

Lagi-lagi berdecak. Sebenarnya, apa maksud decakannya itu?

Ne. Sekali lagi, mianhae…

Sebuah anggukan dan senyum kecil melayang begitu saja dari wajah Luhan. Entah di paksakan atau memang Luhan yang menginginkannya.

“Aku akan menyusul mereka.”

Siapa? Dan apa katanya? Menyusul mereka? Maksudnya Chery dan Hyera?Apa orang itu tidak salah? Menyusul seseorang tanpa menggunakan payung atau apapun yang bisa melindunginya dari hujan, itu bisa membahayakan dirinya.

“Kenapa diam di sini? Cepat susul dia!” reflek Tiffany mendorong Luhan sedikit kasar. Luhan tau bukan maksudnya untuk berbuat kasar padanya, justru ia terlihat seperti memberikan Luhan kesempatan untuk mengubah semuanya.

Kaki Luhan berhenti sejenak, berbalik dan menatap Tiffany. Ia –Tiffany, sedang tersenyum dengan penuh harapan kepada seorang Xi Luhan, dan saat itu juga sebuah senyum tulus terpampang di wajahnya, senyum yang penuh dengan terima-kasih.

“Berjanjilah untuk tetap mencintainya Luhan-ah!

~~~~~

“Aku akan menyusul mereka.”

Yeoja itu melangkahkan kakinya menjauh dari sebuah halte bus, di ikuti dengan pandangan seorang namja yang tampak kebingungan.

“Kenapa diam di sini? Cepat susul dia!” Tiffany mendorong namja itu dan membiarkan namja itu pergi begitu saja dari hadapannya, meskipun keduanya sempat berpandangan sebentar, tapi rasa khawatir masih ada di fikiran Tiffany. Khawatir dengan apa yang akan terjadi dengan keduanya setelah ini, entah akan ada kemajuan atau mungkin keadaan semakin memburuk. Tapi, yeoja itu yakin, Luhan mampu bertahan.

“Berjanjilah untuk tetap mencintainya Luhan-ah!” teriak Tiffany dari tempatnya.

Namja itu bernama Luhan, ia terus berusaha mengejar yeoja yang sedang lari di hadapannya. Pandangan yeoja itu kosong, entah apa benar yeoja itu akan menyusl kedua temannya yang tadi meninggalkannya di halte bus, atau mungkin pergi ke tempat lain.

Jawaban yang kedua.

Yeoja itu pergi ke tempat lain. Dan tepi Sungai Han pun menjadi tempat pilihannya.

Di tengah hujan deras yang mengguyur tempat itu, yeoja yang dikenal dengan sebutan Taeyeon itu merentangkan tangannya dan mengadahkan kepalanya tepat menghadap ke langit.

Sedangkan namja yang tadi berusaha mengejarnya hanya menatap tepat sekitar 5 langkah dari tempat yeoja itu berdiri. Perlahan tapi pasti, kakinya kembali melangkah mendekati yeoja itu.

Ah!” teriak Taeyeon. Langkah Luhan pun terhenti ketika mendengar yeoja di hadapannya berteriak seperti itu. benar atau tidak dugaannya, ia menduga bahwa gadis itu sedang menahan tangisnya.

Tapi perlahan, langkahnya kembali mendekat. Bahkan saat ini, tangan kanannya sudah mendarat mulus di bahu kanan Taeyeon. Hal itu sontak membuat Taeyeon menarik kembali tangannya yang tadi ia rentangkan, dan menjatuhkan kepalanya menghadap lurus ke depan. Beberapa detik sesudahnya, Luhan memutar tubuh Taeyeon. Membuat Taeyeon dapat melihat wajah khawatir Luhan.

Dan tepat seperti dugaannya, Taeyeon memang sedang menahan tangisnya. Tapi, saat ia melihat wajah yeoja itu, air matanya benar-benar sudah mengalir bersamaan dengan air hujan yang terus mengguyur keduanya.

Tak ada percakapan ataupun kata-kata yang keluar dari mulut keduanya. Luhan yang berada di hadapan Taeyeon berusaha menghapus air mata Taeyeon dengan ibu jarinya. Sedangkan Taeyeon, mengalihkan pandangannya dari Luhan dan menatap tubuh Luhan –tidak dengan wajahnya.

Bukannya berkurang, cairan hangat yang keluar dari mata Taeyeon justru semakin bertambah. Entah apa yang membuat yeoja itu menangis sebegitu kuatnya di hadapan namja yang jelas-jelas ia benci semenjak kejadian 3 tahun yang lalu, benar-benar tidak ada yang bisa menebaknya.

“Kalau kau benar-benar ingin pulang, pulanglah…” kata Luhan lembut, Taeyeon pun mendongakkan wajahnya menatap Luhan yang kini benar-benar berada tidak jauh darinya.

“Jangan membuatku semakin tersakiti karna semua ini…” Taeyeon kembali menangis mendengarnya. Dua kata yang menjadi pertanyaan Luhan, terharu atau menyesal?

“Tapi…”

“Karna selama kau yang melakukannya, aku masih akan tetap berusaha bertahan….”

Lagi dan lagi, Taeyeon menangis di hadapannya dengan semakin deras.

“Pergilah, kehadiranmu semakin memperburuk suasana.”

“Tidak, dan tidak akan pernah.”

“Pergi menjauh dariku. Jangan pernah menganggapku.”

Ketus, sangat ketus. Walaupun pada kenyataannya memang itu yang di katakan Taeyeon sebagai balasan semua yang di lakukan Luhan padanya. Tak ada kata-kata yang lebih menyakitkan daripada menyuruh seseorang yang sangat mencintaimu untuk tidak menganggapmu.

“Dan karna aku. Aku yang hanya sendiri. Sendiri.”

Luhan menatap mata itu. Mata yang membuat dirinya terus memikirkan orang itu, tanpa ditanya pun Luhan tau maksud dari semua perkataan Taeyeon. Hanya saja, ia lebih memilih untuk diam dan tidak melakukannya. Karna, dengan mendapat jawaban iya sudah cukup membuatnya tertekan.

Grep!

Taeyeon memeluk Luhan yang masih terus memandangnya. Tapi, kedua tangannya tak sedikitpun bergerak untuk merangkul tubuh Luhan, hanya tubuhnya saja yang jatuh tepat di bahu kiri Luhan.

Seolah menyadari apa yang baru saja terjadi pada Taeyeon, Luhan segera menggendong yeoja itu, dan segera membawanya berteduh. Seperti apa yang ia duga, yeoja itu pingsan tepat setelah mengatakan hal yang membuat Luhan semakin merasa sesak. Dia pingsan, bukan memeluknya.

“Terlalu memaksakan diri, sekarang seperti ini.” gumam Luhan seraya memperbaiki letak tubuh Taeyeon  di gendongannya, membiarkan wajah yeoja itu bersandar di bahu kirinya. Sedangkan tangan kiri namja itu ia gunakan untuk merangkul Taeyeon untuk lebih mendekat kepadanya. Dan tangan kanannya berada tepat di bawah lutut Taeyeon, memberikan sedikit tumpuan untuk mempermudah menggendongnya.

Tak sadar atau memang sengaja, namja itu mendaratkan kecupan singkat di kening Taeyeon. Untuk yang kedua kalianya, ia melihat wajah Taeyeon dalam keadaan tidak sadar. Pertama saat ia menemukan Taeyeon yang tengah tidur di balkon, dan saat ini, saat ia menggendong Taeyeon yang pingsan karna terlalu lama berdiri di tengah hujan deras.

Lama menunggu, akhirnya Luhan memutuskan untuk menembus hujan itu lagi. Dengan Taeyeon di perlukannya, ia berjalan dengan cepat, tapi juga dengan sangat berhati-hati.

Tepat di depan pintu apartemen Taeyeon, Luhan mengecup kening Taeyeon lagi. Mungkin, namja itu tidak ingin menyia-nyiakan waktunya untuk mengungkapkan semua yang ia rasakan melalui sentuhan. Biasanya, ia hanya bisa diam, tapi saat Taeyeon tidak sadar, ia bisa meluapkan semuanya.

“Taeyeon!”

Tiffany yang juga baru sampai dan hendak berjalan menuju kamarnya pun, menghampiri Luhan yang menggendong Taeyeon dengan cemas.

“Ada apa dengannya? Kenapa ia bisa pingsan seperti ini? Bagaimana ceritanya?” pertanyaan beruntun dari Tiffany membuat Luhan menunda niatnya dan mendengus kesal. Tiffany membuat niatnya untuk membawa Taeyeon masuk ke dalam apartemen tertunda.

“Kenapa diam saja, cepat bawa masuk!” kata Tiffany cepat. Luhan tau, ia harus sabar. Bertengkar hanya karna sifat Tiffany yang sempat membuatnya kesal, tidak akan membuat Taeyeon sadar dengan sendirinya.

Dengan bantuan Tiffany yang membuka pintu apartemen tersebut, Luhan pun menggendong Taeyeon dan membawa yeoja itu ke kamar. Dibaringkannya yeoja itu di atas kasur, dan kemudian ia pergi ke belakang meninggalkan Tiffany yang masih khawatir dengan Taeyeon tersebut.

Belum ada 2 detik Luhan pergi, ia sudah kembali dan mengatakan sesuatu pada Tiffany.

“Bajunya basah, dan aku yakin ia kedinginan. Jadi, bisa kau gantikan pakaiannya?” pinta Luhan.

Tiffany mengangguk, kemudian membuka lemari pakaian yang seutuhnya berisi pakaian Taeyeon. Setelah selesai memilih pakaian, ia berjalan menuju pintu kamar Taeyeon, menutup dan menguncinya dengan sangat cepat.

Di luar kamar, Luhan menunggu dengan sebuah handuk dan wadah kecil berisikan air hangat. Mengompres? Entahlah. Yang pasti Luhan khawatir dengan keadaan Taeyeon, apalagi mengingat yeoja itu pingsan begitu saja di hadapannya. ‘Ia pasti kelelahan’ batin Luhan.

Beberapa menit setelahnya pun, pintu kamar Taeyeon kembali terbuka. Jelas, bukan Taeyeon yang keluar dari sana, tapi Tiffany. Yeoja itu membawa setumpuk kain yang sudah dalam keadaan basah. Ya, itu pakaian yang tadi di pakai Taeyeon. Tiffany berjalan melewati Luhan, kakinya melangkah menuju tasnya yang berada di atas sofa. Ia mengambil ponselnya dan menelfon seseorang.

“Kamar 34, bisa ambil pakaian yang akan di loundry? Gomawo

Setelah tau kalau ternyata Tiffany menelfon petugas loundry, ia segera bergegas masuk ke dalam kamar Taeyeon dan meletakkan wadah tersebut tepat di meja kecil yang berada di sebelah kasur Taeyeon.

Ia mengompres Taeyeon. Ya, ia melakukannya setelah apa yang Taeyeon katakan padanya tadi.dia benar-benar tidak menganggap serius semua perkataan Taeyeon padanya.

“Kau harus sehat, dan kembali menjadi seorang Kim Taeyeon.” Gumamnya, sejenak ia tersenyum memandang wajah damai dari yeoja yang di cintainya itu. Seolah-olah memancarkan sesuatu yang ia tunggu selama ini.

“Aku menunggumu.” Kata namja itu sendirinya.

~~~~~

Sudah hampir 5 jam Taeyeon tidak sadarkan diri, bahkan Hyera dan Chery yang tadinya sudah pulang pun harus kembali lagi ke apartemen itu, di tambah lagi dengan Baekhyun yang tadi mendapat tugas untuk menjemput Hyera di rumahnya. Dan mau tidak mau, ia harus melakukannya. Karna yang meminta hal itu adalah sang idolanya, Tiffany Hwang.

“Mau sampai kapan kita semua diam di sini? Aku lapar…” gerutu Baekhyun sambil terus mengelus-elus perutnya, menandakan bahwa dia memang benar-benar lapar.

Hyera memandang sinis temannya itu, ia terlihat kesal dengan apa yang sedaritadi Baekhyun lakukan. Mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. ‘Siapa yang sakit dan siapa yang terus-menerus mengeluh?’ batinnya.

“Kita masih harus menunggu Taeyeon sadar, Baekhyun-ah…” ucap Tiffany lembut. Berbeda dengan apa yang dilakukan Hyera, Tiffany justru menanggappi Baekhyun dengan suara lembutnya.

“Tapi mau sampai kapan kita terus menunggu seperti ini? Taeyeon kan sudah tertidur dari 5 jam yang lalu, bisa saja dia sudah ma-”

“Jaga ucapanmu!” bentak Luhan. Amarah namja ini benar-benar sudah sampai di ujung kemampuan menahannya, ucapan Baekhyun tadi seolah-olah menyihirnya untuk tidak tinggal diam.

“Jangan asal bicara bodoh! Kau kira kau itu siapa?!” Chery yang belum lama mengenal Baekhyun pun ikut memojokkan namja itu.

Baekhyun menundukkan kepalanya ketika tau kalau saat ini dirinyalah yang sedang dipojokkan. Sedangkan Tiffany, ia tak berniat untuk membela Baekhyun. Ya, karna memang benar ucapan Baekhyun tadi sangat-sangat-jauh-dari-dugaan-mereka.

Ehm, ehm.”

Pandangan mereka beralih pada sebuah kamar yang baru saja mengeluarkan suara –tidak, lebih tepatnya suara batuk seseorang. Dengan cepat, kaki mereka pun melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.

~~~~~

Sakit. Itulah yang Taeyeon rasakan saat pertama kali ia membuka matanya. Rasanya semua badannya terlalu lemas untuk digerakkan, belum lagi pandangannya yang masih belum sepenuhnya jelas.

Ehm, ehm…”

Tempat ini… sepertinya tidak asing baginya. Tidak, bahkan sangat tidak asing. Ini kamarnya sendiri. Tunggu, siapa yang membawaku ke sini? Dan siapa juga yang sudah menggantikan pakaianku? Bukannya tadi aku sedang menikmati hujan?

“Taeyeon!”

Ti… Tiffany? Jadi, dia yang mengganti pakaianku? Atau… Chery?

“Kau sudah sadar! Syukurlah, Aku kira kau akan sakit keras.”

Masih dalam posisi berbaring, Taeyeon menaikkan alisnya. “Memangnya aku kenapa?”

Tiffany mendengus, mungkin kesal. Tapi, jujur saja. Taeyeon benar-benar tidak mengerti dengan ‘sakit keras’ yang ia maksud.

“Kau tidak sadar dari 5 jam yang lalu, dan kau juga sukses membuat kami semua khawatir.”

Jadi, aku tertidur sedaritadi?

Tangan yang masih sedikit terasa lemas itu ia gunakan untuk membantunya bangun dari posisi berbaring. Belum sepenuhnya tubuhnya terduduk, tubuhnya sudah kembali terhempas di atas kasur. Baiklah, mungkin ini masih terlalu lemah.

“Kau ingin duduk?” tanya Chery. Sepertinya dia mengerti dengan apa yang mau Taeyeon lakukan, dengan sigap Taeyeon menganggukkan kepala.

“Lakukan sekali lagi.”

Taeyeon melakukannya lagi. Tapi, kali ini rasanya lebih mudah dan lebih ringan. Bahkan tangannya saja rasanya tidak berguna, ia benar-benar melakukannya tanpa bantuan tangannya. Dan justru memerlukan bantuan orang lain, namja yang tadi sempat melihatnya menangis, Luhan.

Luhan membantu  Taeyeon bangun, dengan tangan kirinya yang ia letakkan di bahu kanan Taeyeon –merangkul, dan tangan kanannya yang menggenggam tangan kanan Taeyeon, ia berhasil memperkecil jarak diantara keduanya. Bahkan matanya pun tak beralih dari wajah Taeyeon. Hanya Taeyeon, dan karna taeyeon yang egois sehingga tidak membalas tatapannya.

“Aku dan Chery akan menunggu di ruang tengah.”

Jadi, mereka memang sengaja? Mereka sengaja meninggalkanku dengan Luhan berdua di sini? Apa mereka tidak tau kalau aku membenci hal ini? Apa mereka tidak sadar kalau apa yang mereka lakukan saat ini justru membuatku semakin sakit?

“Aku tau kau akan marah.” Suara Luhan yang pelan terdengar sangat jelas. Bagaimana tidak, saat ini posisi keduanya masih sama, Luhan yang duduk di tepi ranjang sambil menatap Taeyeon dan Taeyeon yang duduk di tengah ranjang sambil terus menatap lurus ke depan. Lambat laun, Taeyeon sadar, ternyata pintu kamarnya sudah tertutup rapat dengan sendirinya. Seolah memberikan kesan keseriusan di dalamnya.

“Tapi, aku memang tidak bisa menjauhimu. Semua yang terjadi tadi, ku anggap sebagai angin yang sedang merasukimu. Aku yakin, kau tak sepenuhnya menyuruhku untuk tidak menganggapmu.”

Aneh, benar-benar aneh. Rasanya Taeyeon tidak bisa memberikan tanggapan dari semua perkataannya. Rasanya mulutnya benar-benar kaku untuk berbohong.

“Pergilah.”

“Aku tau ini berlebihan. Tapi, aku benar-benar minta maaf. Aku minta maaf karna aku yang terlalu lambat dalam mengerti perasaanmu, aku yang terlalu memaksa kehendakku untuk mendapatkanmu, aku yang akhirnya menyesal atas semua yang ku rasakan.”

“Aku tau…”

Entah sejak kapan Taeyeon mulai berfikiran untuk membalas semua perkataannya. Yang pasti, ia benar-benar tidak mau terus-menerus melihat Luhan yang bertingkah seperti orang bodoh.

“Berhentilah memikirkanku, karna itu justru membuatmu semakin merasa di sakiti.” Sambungnya. Ia berharap Luhan mengerti dengan apa yang ia katakan, dan ia harap Luhan mau menuruti permintaannya.

“Aku berusaha…” mendengar respon Luhan membuat Taeyeon menatap mata Luhan yang masih menatapnya dari jarak yang tidak jauh –benar-benar dekat. “…tapi semua terlalu sulit.” Tambahnya.

Mata Luhan terlihat lebih mengkilap dari sebelumnya, dan di sana juga Taeyeon menemukan tumpukan cairan yang tidak berwarna. Kesimpulanku, dia, seorang Xi Luhan, menangis di hadapannya.

“Responmu yang selalu iya itu, selalu membuatku berfikir kalau kau memang milikku. Walaupun, responmu itu lebih sering menyakitkanku…”

“Lebih baik kau menghentikan semuanya, Luhan.”

Tes

Cairan itu benar-benar mengalir dari sana. Pipinya, berhasil membuat sungai kecil yang membuat Taeyeon semakin merasa bersalah. Tapi kenapa? Kenapa harus aku yang merasa bersalah? Bukannya aku juga pernah merasakan hal ini?

“Terlalu sulit. Kau tau, semuanya terlalu sulit bagiku.”

“Pergi dan lupakan semuanya. Karna aku, tidak mungkin mengubah semuanya.”

“Kenapa harus tidak mungkin? Bukankah yang selama ini kau rasakan adalah rasa cinta yang selalu ku rasakan? Tapi, kenapa kau menyembunyikan semuanya? Apa kau kira perasaanmu itu juga berpengaruh pada kesibukanmu? Sama seperti penyamaranmu dulu?”

“Bukan.” Elahnya cepat. “Bukan, seperti itu.” kali ini pandangannya mengabur, entah apapun itu, ia rasa kali ini ia yang akan menangis.

“Lalu, kenapa? Kau membuatku semakin merasa bodoh.”

“Karna aku sudah melupakan semuanya. Se-”

“Ya, aku tau aku bodoh. Aku mengakuinya. Aku bodoh karna tidak pernah menganggap perasaanmu dari awal, aku bodoh karna aku yang memberikanmu harapan tapi aku juga yang menghancurkannya, aku bodoh karna aku yang tidak bisa mengontrol perasaanku…” ucap Luhan tegas ditengah tangisnya yang semakin deras.

Entah ada angin atau hujan darimana, saat ini tanga Taeyeon sudah berada di pipinya. Menghapus, air mata yang keluar dari mata Luhan. Menghapu aliran sungai kecil itu dengan ibu jarinya. Dan yang sangat aneh adalah aku melakukannya di tengah tangisnya yang juga meledak karnanya.

Luhan membalas perlakukannya, ibu jari Luhan dengan sigap menghapur sungai kecil yang terbentuk di wajah Taeyeon. Untuk sesaat, Taeyeon tau kalau ia memang masih mempunyai perasaan ini, perasaan yang sempat membuatnya lari dari kenyataan. Dan keputusan yang dari awal sudah ia pilih, tidak mungkin dan tidak akan diubahnya.

“Lupakan semuanya, ku mohon.” Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya, setelahnya ia beranjak bangun dari kasur dan berjalan ke arah pintu kamar.

Tepat sebelum Taeyeon membuka pintu itu, tangannya menyentuh pipi yang baru saja di sentuh Luhan. Bukan untuk meresapi kehangatan yang namja itu berikan, tapi ia hanya memastikan kalau semuanya benar-benar tidak terlihat.

“Hapus air matamu, aku tak mau mereka tau kalau kau baru saja menangis.” Ucap Taeyeon pada Luhan yang masih tak bergeming di tempatnya. Beberapa detik kemudian, tangannya meraih knop pintu itu dan membukanya.

~~~~~

TBC

2 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s