Only Yes [Chapter 19&20]

Title                 : Only Yes [Chapter 19(A Wish)&Chapter 20(Yeonnie)]

Genre              : Romance, Friendship, Entertaiment, etc.

Length             : Chapter(Series)

Main Cast        :

  • Xi Luhan
  • Kim Taeyeon
  • Lee Hyera (OC)
  • Kim Chery

 

A Wish

Taeyeon melangkah keluar dari kamarnya dengan senyum bahagia di wajahnya. Jelas saja, yeoja ini benar-benar berusaha untuk menutup semuanya –menutupi kesedihannya.

Tak lama, seorang namja juga ikut keluar dari kamar itu. Yang berbeda adalah wajah namja itu yang tidak terlihat bahagia sama sekali, bahkan mata merahnya pun masih terlihat jelas. Luhan melangkahkan kakinya menuju balkon apartemen itu, ia  memandang pemandangan Seoul dengan pandangan kosong dan fikiran mengenai Taeyeon.

“Taeyeon, aku lapar. Jadi, sebaiknya sekarang kita memasak, atau mungkin aku akan pergi keluar sebentar untuk membeli makanan.” Kata Tiffany yang berada di ruang tengah, berusaha mengalihkan perhatian orang-orang dari Luhan yang saat ini asik memandang lurus ke arah luar.

“Aku juga lapar. Sebaiknya aku membelinya saja, aku tidak tau apa persediaan untuk makan di sini masih ada atau tidak.” Ucap Taeyeon dengan nada senormal mungkin.

“Biar aku yang membelinya!” Hardik Tiffany. “Kau baru saja sadar, jadi sebaiknya kau tunggu di sini saja.”

Waeyo? Aku kan butuh udara luar yang bisa menyejukkanku sekarang. Lagipula, aku kan hanya tertidur karna kelelahan. Jangan terlalu berlebihan.”

Chery yang juga beradadi ruang tengah, tertawa kecil mendengar ucapa Taeyeon. “Kau ini baru saja sadar, tapi sudah keras kepala seperti itu.”

“Sebaiknya aku dan Baekhyun saja yang pergi.” Pinta Tiffany.

Taeyeon tersenyum jahil mendengar perkataan sahabat satu regunya itu. “Jadi, sekarang pergi dengan Baekhyun lebih menyenangkan dengan pergi denganku? Padahal, aku ingin ikut denganmu.”

“Tentu saja menyenangkan.” Sahut Baekhyun yang mendengar perkataan Taeyeon tadi.

Taeyeon tertawa melihat sikap Baekhyun yang benar-benar terlihat seperti anak kecil. ‘Namja ini terlalu percaya diri, berbeda sekali dengan Luhan.’ Batinnya.

“Kita pergi bersama saja, bukankah itu lebih menyenangkan?” tanya Baekhyun. Tiffany, Chery, dan Hyera menatapnya kesal. Sedangkan Taeyeon justru menatapnya setuju. Tanpa memperdulikan tatapan Tiffany, Hyera, dan Chery, Taeyeon menarik tangan Baekhyun untuk ikut dengannya. Karna dengan begitu, teman-temannya itu pasti langsung mengikutinya.

Dan benar sekali dugaannya, Hyera dan Tiffany langsung berlari mengejar Taeyeon yang membawa Baekhyun. Mereka tau, keduanya pasti pergi ke basemen, karna yang mereka lihat sebelumnya Taeyeon sempat mengambil kunci mobilnya di meja yang ada di ruang tengah.

Sedangkan Chery, melangkahkan kakinya perlahan di belakang Hyera dan Tiffany. Tapi, belum sempat ia membuka pintu, seorang namja yang terlihat menyedihkan itu langsung menyita perhatiannya.

“Kau tidak ikut?” tanyanya.

“Mereka tidak mengajakku.”

Chery terkekeh melihat Luhan yang bicara seperti orang yang tidak di anggap. Dengan satu gerakan, ia menarik tangan Luhan dan membuka pintu apartemen itu, kemudian menyusul teman-temannya yang sudah terlebih dulu kabur ke basement.

~~~~~

“Mau sampai kapan suasananya sunyii seperti ini?” tanya Baekhyun, berusaha memperbaiki suasana.

Ya, memang sedaritadi yang mereka lakukan hanya diam dan diam. Semuanya hanyut pada fikiran mereka masing-masing. Taeyeon yang bekeinginan untuk mengendarai mobilnya hanya fokus pada pandangan jalan di depannya. Sedangkan Luhan yang duduk tepat di bangku yang berada di sebelah Taeyeon, hanya memandang keluar jendela. Keduanya benar-benar tidak berniat untuk bicara.

Hyera yang duduk di kursi tengah sibuk memainkan ponselnya, Chery sibuk dengan earphone di telinganya dan iPod ditangannya, Tiffany yang duduk di kursi belakang berdua dengan Baekhyun hanya tersenyum-senyum sendiri melihat kelakuan teman-teman barunya dan Taeyeon sendiri. Sedangkan Baekhyun, namja ini tak ada hentinya berguman-guman tak jelas.

“Apa di mobil ini tidak ada radio atau dvd player?” tanya Baekhyun lagi. “Ini sangat membosankan.”

Taeyeon yang memiliki mobil tersebut hanya tersenyum geli melihat sikap kekanak-kanakan Baekhyun, dengan cepat tangannya menggali sebuah laci yang memang biasanya ia gunakan sebagai tempat menyimpan cd-cdnya.

Tak lama, Taeyeon memasukkan cd itu kedalam dvd player. Chery yang tadi memakai earphone pun sampai rela membuka earphone itu untuk mendengar lagu yang akan di setel Taeyeon. Dan, beberapa detik setelahnya, lagu yang sempat di dengar Hyera pun kembali terdengar. Ya, lagu itu adalah jawaban untuk Hyera tentang bakat seorang Kim Taeyeon, lag itu, I Got A Boy.

~~~~~

“Sebaiknya kalian tunggu di sini, biar aku yang memesan.” Ucap Hyera, seraya beranjak pergi dari tempat yang sudah mereka pilih sebelumnya. Ia memesan makanan, sekaligus bertanya pada seorang pelayan yang bekerja di restaurant tersebut.

Tak lama, ia kembali dengan senyum sumrigah di wajahnya.

“Aku punya satu permintaan untukmu Taeyeon-ah.” Ucapnya, Taeyeon pun mendongakkan kepalanya melihat Hyera.

“Apa?”

“Menyanyilah di sana. Menyanyilah untuk kami. Ku mohon.” Pinta Hyera.

Yeoja ini ternyata memang terlihat gila. Tapi, sejujurnya ia hanya ingin melihat Taeyeon yang biasa ia lihat di tv-tv. Bahkan yeoja ini, sudah meminta izin lewat pelayan tersebut. Dan soal lagu, Tiffany yang mengusulkannya.

“Kenapa harus aku? Lagipula, aku tidak tau apa yang harus ku nyanyikan.” Jawab Taeyeon dengan nada bermalas-malasan.

“Tenang saja, Tiffany sudah menyiapkan lagunya untukmu.”

Taeyeon tersentak mendengarnya. Jadi, Tiffany dan Hyera benar-benar sengaja melakukan ini?

“Semuanya bukan atas dasar kesengajaan.” Hyera menjawab pertanyaan yang diajukan Taeyeon tadi dalam hatinya. “Aku, sempat bingung untuk soal lagu. Tapi, Tiffany bilang dia selalu membawa kaset solo-nya. Jadi, ku rasa kau bisa menyanyikannya.”

“Lagipula, kau ingat lagu-laguku kan?” tanya Tiffany.

“Aku tidak ingat.”

Tiffany memanyunkan bibirnya, kesal dengan jawaban spontan dari Taeyeon.

“Ayolah, Taeyeonnie. Hanya satu kali saja kau menanyi di sini.” Hyera kembali meminta, bahkan kali ini Hyera memintanya dengan sedikit rajukan manja.

Chery yang sedaritadi diam pun ikut bicara, “Sebaiknya kau lakukan saja. Toh, setelah ini kau tidak akan mati.”

Taeyeon menghela nafasnya sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengatakan ‘Iya’.

Beberapa detik kemudian, Taeyeon sudah berada di tempat yang sudah di sediakan pemilik restaurant untuk menanyi. Terdapat beberapa alat musik di sebelahnya, tapi Taeyeon benar-benar tidak berniat untuk menyentuhnya. Ia hanya mengambil mic yang menyangkut di atas tongkat panjang berwarna hitam, lalu menyapa pengunjung restaurant tersebut.

A-anyeong…” sapanya terbata. Memang aneh kalau Taeyeon merasa gugup untuk menyapa oranglain, padahal dia adalah seorang penyanyi papan atas yang sudah di kenal orang banyak di dunia.

“Di sini, aku ingin berusaha menghibur kalian.” Sambungnya dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya.

“Selamat menikmati lagu……” Taeyeon memandang Tiffany dan Hyera bergantian, meminta jawaban tentang lagu apa yang harus ia nyanyikan.

“Because It’s You!” teriak Tiffany dari tempatnya. Hyera, Chery, dan Luhan tersentak mendengar perkataan Tiffany. Dari judul saja, mereka sudah bisa menebak kalau lagu ini mengisahkan sebuah kisah cinta. Dan Luhan yang sedaritadi berusaha untuk tidak memperdulikan Taeyeon pun, kembali menjadi Luhan yang benar-benar tidak bisa melupakan Taeyeon.

Sebuah nada keluar dari speaker restaurant tersebut. Sedangkan Taeyeon, berusaha mengendalikan perasaannya dalam menyanyikan lagu tersebut.

Mianhadan mal haji marayo..
Nae-ge sarangeun kkeuti aninde..
Ireohke uri heyeojindamyeon..
Eotteo-khaeyo.. Eotteo-khaeyo..

Sarang hana ppuninde sarang-hal su eopt-ko..
Cheongmal ha-goshipeun mal hal sudo eom-neunde..
Cheomcheom meo-reojyeo-ganeun
Sarangi jigiji mothal
Maldeu-ri nal ul-ke haneyo.

Komapdaneun mal haji marayo..
Nae modeun sarang ju-go shipeunde..
Ireohke uri nami dwehn-damyeon..
Eotteo-khaeyo.. Eotteo-khaeyo..

Taeyeon menanyikannya. Lebih dari menyanyikannya. Ia terlihat seperti menikmati dan merasakan apa yang penulis rasakan di lagu itu. Bahkan, ia tau kalau ia merasa kalau ia memang benar-benar ingin menyampaikan isi lagu tersebut pada seseorang yang dicintainya.

Sarang hana ppuninde sarang-hal su eopt-ko..
Cheongmal ha-goshipeun mal hal sudo eom-neunde..
Cheomcheom meo-reojyeo-ganeun
Sarangi jigiji mothal
Maldeu-ri nal ul-ke haneyo.

Sarang-haeyo..
Sarang-haeseo.. Eotteo-khaeyo

Apeun sarangirado kwaehn-chanha~
Nae saengae majimag sarang jiwodo
Ji-ul-su eom-neun geudaenikka~
Seulpeun un-myeon-girado
Keudaereul bonael-su eop-seo
Sarang-haeyo..Keudaenikkayo..

Luhan merasakan apa yang lagu itu rasakan. Luhan merasakan apa yang Taeyeon sampaikan dengan lagu itu. Bahkan lebih, lagu itu lebih menunjukkan kalau Taeyeon memang benar-benar mencintainya. Sangat, sangat mencintainya.

Nae-gen geudaenikkayo

Suara tepuk tangan bergemuruh di dalam restaurant tersebut tepat setelah bait terakhir lagu tersebut dinyanyikan. Tidak hanya pengunjung yang terhibur dengan lagu yang dinyanyikan Taeyeon, bahkan para pegawai restoran yang sedang bekerja pun sampai mengalihkan perhatiannya sejenak untuk melihat penampilan Taeyeon.

Taeyeon membungkukkan badannya, dan mengucapkan ‘khansahamnida’ berulang kali. Tepat setelah saat itulah, sepasang kekasih lanjut usia yang sedang asik menikmati makanan mereka meminta Taeyeon untuk menyanyikan sebuah lagu lagi. Dan tentu saja, permintaan itu mendapat respon yang sama dari pengunjung lainnya.

“Menanyilah sekali lagi, tapi kali ini aku ingin kau bernyanyi dengan pasanganmu.” Pinta namja yang sudah lanjut usia itu dari tempatnya.

Taeyeon tersenyum kecil mendengar perkataan namja itu. “Mianhae, tapi aku tidak mempunyai pasangan.”

“Bohong!” teriak Tiffany, Hyera dan Chery kompak. Ketiganya saling memandang, dan sedetik kemudian mereka mengalihkan pandangan mereka pada Luhan. Luhan yang merasa di pandang tetap tak merespon.

“Jadi, dia pasanganmu?” tanya namja itu lagi.

“Benar!” ketiganya berteriak bersamaan lagi.

Reflek Luhan membelalak tak percaya, ia kira maksud tatapan ketiganya adalah tatapan menghindar dari tatapan maut pengunjung lainnya. Ternyata dugaannya salah.

“Hei anak muda!” seru namja tua itu, “Cepat naik ke atas panggung. Pasanganmu sudah menunggu.”

Luhan semakin tersentak, perkataan namja lanjut usian yang tidak di kenalnya itu benar-benar membuatnya gelagapan. Semua perasaan bercampur menjadi satu, antara senang, bingung, dan malu.

“Apa yang harus ku lakukan?” gumam Luhan pelan.

Tiffany yang mendengar hal itu menjawabnya. “Menanyi dengan Taeyeon sekarang juga.”

“Tapi, lagu apa?”

“Apa kau tau laguku dan salah satu penyanyi Korea terkenal? Judulnya…” Tiffany berfikir sejenak. “A Girl Meets Love”

Luhan mengangguk. “Tapi, itu lagu 4 tahun yang lalu. Aku tak yakin masih mengingatnya.”

“Lakukan saja, cepat!” Tiffany mendorong Luhan untuk datang ke tempat Taeyeon berdiri dengan bantuan Baekhyun. Setelahnya ketiganya, tertawa puas sambil terus memandangi Luhan yang terlihat salah tingkah.

Berdiri di sebelah Taeyeon sambil memegang sebuah mic benar-benar membuatnya gugup seribu bahasa. Jangankan untuk menyapa pengunjung restaurant itu, untuk menyapa Taeyeon yang berada di dekatnya saja ia tidak bisa.

Akan ku coba! Batin Luhan. Ia benar-benar berusaha menutupi kegugupannya.

A Girl Meets Love!” Teriak Tiffany lagi dari tempatnya.

Taeyeon sedikit tersentak, bukan karna ia tidak tau lagu itu. Tapi karna ia tidak yakin dengan Luhan. Lagu itu terkenal sekitar 4 tahun yang lalu, tepatnya sebelum Luhan mengetahui identitas aslinya.

Suara musik kembali terdengar. Kali ini, sebelum keduanya menanyi pun para pengunjung sudah memberikan tanggapan baik pada keduanya.

‘Ku harap ia tidak mempermalukan dirinya sendiri…’ batin Taeyeon.

Neul eorin aeroman bwattdeon neoreul seoseongidaga
Naemaeumi nado moreuge jogeumsshik deo jogeumsshik
Gipeojineun geol meonjeo bojin mothandahaedo
Sumgil su eobshi keojin naemami nareul deo michigehae

Taeyeon tersenyum lega. Sejauh ini, Luhan tidak mempermalukan dirinya sendiri. Bahkan menurutnya, suara Luhan berhasil menyejukkan hatinya.

Nabbeun narangeol aljiman neol nohchigin shirheo
Neoui ireum neoui chueog gajil su ittge
Nae mame deureowa nareul chom dowajwo
Neol saranghae wattdeon nareul

Giliran Taeyeon yang bernanyi di sebelah Luhan…

Nal eorin aeroman bodeon neoreul seoseongidaga
Nado moreuge nae georeumi jogeumsshik deo jogeumsshik
Geodgo ittneungeol meomchuryeogo nareul jabado
Sogil su eobtneun nae maeumi nareul deo michigehae

Tiffany terkesima. Taeyeon dan Luhan benar-benar terlihat serasi. Dalam hal perasaan, pemikiran, bahkan suara mereka sangat serasi/

Nabbeun narangeol aljiman neol nohchigin shirheo
Airoman nareul boneun neoreul almyeonseo
Malhaji mothaedo ireon nal arajwo
Neol saranghae wattdeon nareul

Luhan melanjutkan lirik selanjutnya. Perlahan tapi pasti, ia menggenggam tangan kanan Taeyeon yang menggantuk bebas di sebelah tubuhnya. Taeyeon tak menolak tapi ia juga tidak membalas genggaman Luhan. Luhan yang kini berada di dekatnya menyanyikan bait selanjutnya dengan senyum bahagia di wajahnya.

Ddo naege daga wajwo
Deo gaggai naege wajwo
Naege

Ijen seoroui apeumeul -Apeumi
Sarajigehae -Sarajwo
Nipumeseo nigyeoteseo useul su ittge -Useul su ittge)
Nae mame deureowa –Deureow
jeonbuga dwi-eojwo
Haengbokman ggumggul su ittge
Namanui sarangi
Dwi-eojwo

Taeyeon membungkukkan tubuhnya sekali lagi diikuti dengan gerakan yang sama dari Luhan di sebelahnya setelah mendapat respon yang luar biasa dari para pengunjung. Genggaman Luhan masih tidak lepas, Luhan menggenggam tangan Taeyeon erat. Sangat erat.

Sesaat setelahnya, keduanya saling berpandangan. Luhan memandangnya dengan pandangan bahagia dan Taeyeon memandangnya dengan pandangan berterima kasih. Berjauh dengan apa yang di fikirkan Luhan.

 ~~~~~

 

Yeonnie

 “Ku kira kita akan makan di restaurant itu. Ternyata kita kesana hanya sekedar konser saja?” gerutu Baekhyun lagi. Namja ini memang tak jauh dari yang namanya menggerutu.

“Lalu kau sebut apa semua makanan ini? Bukannya kau sendiri yang bilang kalau kau lapar?” tanya Hyera dengan dingin.

“Maksudku, kenapa kita tidak makan di sana saja? Kenapa justu membelinya dan membawanya makan di taman seperti ini? kau tau, aku sudah bosan dengan pemandangan halaman belakang rumahmu ini.”

“Kau fikir kau siapa berani-beraninya berkata seperti itu?” bentak Hyera.

Chery merasa sedikit ngeri mendengar Hyera membentak Baekhyun dengan tiba-tiba seperti itu. tapi, dengan segera ia berusaha menengahi pertengkaran yang terjadi di antara keduanya.

“Sudah hentikan, cepat selesaikan makanan kalian. Lagipula, makan di halaman belakang rumah seperti ini tidak buruk bukan? Selain, pemandangannya yang menyegarkan mata, udara di sini juga jauh lebih sehat. Memangnya apa yang membuatmu ingin makan di restaurant itu?”

Baekhyun yang merasa mendapat pertanyaan itu tersenyum penuh percaya diri. “Aku ingin menikmati makan ditempat umum dengan idolaku.”

“Itu namanya kau yang terlalu bermimpi, Byun Baek-”

“Hyeri?!” seruan seseorang berhasil memotong perkataan Hyera. Hyera yang mengenal jelas pemilik suara itu hanya mendengus kesal. Eomma-nya memang selalu berlebihan.

“Ah, Ahjuma! Lama sekali tidak berjumpa.” Ucap Taeyeon lembut. Wanita paruh baya itu pun memeluk Taeyeon erat, dan Taeyeon pun membalas pelukan itu. Memang tak bisa di pungkiri kalau ia juga merindukan pelukan seperti ini, pelukan seorang Eomma.

“Kenapa tidak pernah datang kemari? Aku merindukanmu.” Ujar wanita yang di panggil Ahjuma itu.

“Ah… itu, A… Aku tidak mau menggangguk Ahjuma. Lagipula, jadwalku terlalu padat.” Jawab Taeyeon gelagapan.

“Kau itu terlalu banyak alasan. Kalau jadwalmu memang padat kenapa kau masih bisa menemui Hyera dan Luhan? Lagipula, ku lihat kalian semakin dekat.”

“Tentu saja kami dekat, kami ini kan sahabat eomma.” Respon Hyera.

Eomma tidak sedang bicara denganmu Hyera-ah.”

Hyera mendecak mendengar eommanya bicara seperti itu padanya. Benar saja, kehadiran Taeyeon membuat eommanya lupa dengan anaknya sendiri.

“Ah iya!” sahutan kecil dari wanita paruh baya itu sukses membuat semua orang yang berada di sekelilingnya menatapnya bingung. Dan seketika, pandangannya beralih pada Luhan yang juga sedang menatapnya, “Apa kau sudah tunjukkan pada Taeyeon, Luhan-ah?”

Luhan megeryit bingung, ia benar-benar tidak mengerti dengan maksud perkataan wanita paruh baya yang biasa ia panggil dengan sebutan eomma juga.

Merasa tidak mendapat respon apapun, wanita itu berusaha mengingatkan Luhan. “Yeonnie Luhan, Yeonnie…”

Luhan tersenyum penuh arti setelah mendengar penjelasan dari eommanya itu, memang bukan sebuah penjelasan sih sebenarnya. Tapi, perkataan eommanya itu seolah-olah memberikan informasih yang ia tidak tau.

“Jadi, belum kau tunjukkan?” tany wanita paruh baya itu lagi. Luhan sontak menggeleng.

Taeyeon yang tidak mengerti dengan maksud perkataan Ahjuma-nya itu, hanya tersenyum kecil ke arahnya. Ia sama sekali tidak mau menunjukkan wajah keingin tahuan pada Luhan.

“Cepat ambil Yeonnie, dan tunjukkan di depan Taeyeon sekarang!” perintah wanita itu. luhan pun mengangguk dan meninggalkan tempat itu.

Taeyeon memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya pada Ahjuma­nya itu. “Sebenarnya, yang Ahjuma maksud itu apa?”

Ahjuma-nya hanya tersenyum kecil dan kemudian mengatakan, “Dia sudah berusaha kesar untuk menunjukkan sesuatu yang seharusnya ia tunjukkan dari dulu, jadi jangan buat dia kecewa.”

Taeyeon menatap Ahjuma di hadapannya dengan pandangan tak mengerti. Sedangkan, Hyera, Chery, Tiffany, dan Baekhyun yang juga tidak tau apa-apa, tetap tidak ingin tau. Taeyoen ingin menanyakan hal ini pada Hyera atau Chery, tapi langkah kaki yang terdengar semakin dekat membuatnya mengurungkan niatnya.

Luhan datang dengan Yeonnie di tangannya. Sedangkan Taeyeon terbelalak tak percaya, ternyata yang dimaksud dengan Yeonnie adalah shena, gitar kesayangannya yang ia hadiahkan untuk Luhan di hari ulang tahun namja itu 3 tahun yang lalu. Dan shena atau yeonnie masih terlihat sama, hanya saja di tubuh gitar itu tertulis sebuah nama yang tidak asing bagi Taeyeon.

Yeonnie…” gumam Taeyeon perlahan.

Luhan yang menyadari perubahan di raut wajah Taeyeon pun berusaha menjelaskannya. “Itu namamu, aku mengubah nama shena menjadi namamu, yeonnie.”

Taeyeon tak menyahut, ia tetap bergeming dengan gitar yang sempat menjadi pengisi hari-harinya dulu. Bahkan, sesekali yeoja itu menggumamkan nama Yeonnie.

“Tunggu apalagi, cepat mainkan.” Wanita paruh baya tersebut membuat Taeyeon menghentikan kegiataannya, ia menyerahkan Yeonnie pada Luhan dan memperhatikan jemari Luhan yang menari indah di atas snar-snar Yeonnie.

Tepat sebelum ia benar-benar memainkan sebuah lagu, Luhan bergumam, “Menyanyilah bersamaku lagi. Ku mohon.”

Eommanya segera membantu Luhan, “Cepat bernyanyi di hadapanku! Jangan buat aku kecewa.”

Tak lama, suara snar pun terdengar. Taeyeon dan Tiffany yang tau lagu itu hanya tersenyum kagum pada Luhan. Namja ini mencoba menunjukkan sebuah lagu yang pernah di nyanyikan Taeyeon bersama dengan teman-teman satu Agency-nya. Judul lagu mereka, Dear My Family.

Naega seol goseul chajeul suga eopseul ddae
Pokpung sogeseo gireul ireobeoryeosseul ddae

Taeyeon melanjutkannya. Keduanya tau pasti dimana bagian suara yeoja dan dimana bagian suara namja.

Eonjena byeonhaji anneun saranggwa yonggil jushyeotdeon
Geudeurege gamsareul bonaeyo

Ttaeron honjarago neuggyeoseul ddaega isseot jyo
Mani ureodeon chinannare nae moseupe
Eolmana maeumi apasseulggayo
Himdeureosseulggayo
Ijeseoya nan al geonman gatayo

Tiffany tersenyum, dan berbisik pada wanita paruh baya yang dipanggil eomma oleh Hyera tadi.

“Setelah ini, benar-benar bagian Taeyeon, Ahjuma.” Bisiknya.

Nae insaengi ggeunnal ddaeggaji
I sesangi ggeunnal ddaeggaji
Urin yeongwonhi hamgge isseul geoyeyo

Keduanya melanjutkannya bersama…

Jageun maeum moa keun him dwaedeut
Urin hanaran geoseul mitgo isseoyo
Uri hamgge haengbok mandeureoyo
Memareun sesang soge bichi dwaeneun nalggaji
Taeyeon… “Saranghaeyo”

Wanita paruh baya itu melangkahkan kakinya, ia menjah dari kumpulan anak muda yang sedang menikmati pertunjukan tersebut.

Nawa gateun ggumeul ggugo innayo
Jeongmal nawa gateun goseul barabogo innayo
Geugeon mani sesangye modeun apeu meul chiryohal su isseoyo
Seoro aggyeo jul suman itdamyeon
Nae insaengi ggeunnal ddaeggaji
I sesangi ggeunnal ddaeggaji
Urin yeongwonhi hamgge isseul geoyeyo

Jageun maeum moa keun him dwaedeut
Urin hanaran geoseul mitgo isseoyo
Uri hamgge haengbok mandeureoyo
Memareun sesang soge bichi dwaeneun nalggaji
Luhan… “Saranghaeyo”

Keempatnya, Hyera, Chery, Tiffany, dan Baekhyun menjauh dari sepasang namja dan yeoja yang tengah asik bernyanyi dan berbagi perasaan melalu lagi tersebut.

Uri apeseo jeolmanghaebeorin saram deuri itdamyeon
Dashi ireonal keun himi dwae jwoyahae

Nawa gateun gajogye songiri piryohal tenigga

Jageun maeum moa keun him dwaedeut
Urin hanaran geoseul mitgo isseoyo
Uri hamgge haengbok mandeureoyo
Memareun sesang soge bichi dwaeneun nalggaji

Tiba di bait terakhir, Taeyeon menutup matanya dan membuat sebuah nada dengan suaranya. Luhan tersenyum melihat Taeyeon yang menikmati lagi tersebut.

“Saranghaeyo…..” Taeyeon menyelesaikan bait terakhirnya dengan mata terpejam, ia benar-benar menikmati lagu tersebut.

Nado saranghaeyo…”

Taeyeon tersentak mendengarnya. Entah itu sebuah lanjutan atau mungkin pernyataan. Yang jelas, ia tau kalau kaliamat itu seharusnya tidak ada dalam lagu tersebut. Dan setelahnya, ia tersadar, Luhan sedang menyampaikan perasaannya.

Taeyeon membuka matanya dan menatap Luhan dalam. Namja itu tersenyum puas di hadapannya. Mata keduanya bertemu, seakan-akan tak ada yang bisa mengisyaratkan kebohongan lagi di antara keduanya.

“Sebuah pernyataan?” tanya Taeyeon dingin.

“Tentu saja.”

“Mengagumkan.”

“Tentu saja.”

Taeyeon membatin, Tekatku sudah bulat, aku tidak akan pernah mengulangi kesalahanku lagi.

“Ini cinta Taeyeon.” Ucap Luhan perlahan.

“Apa maksudmu?”

“Ini semua cinta, bukan sebuah penyesalan ataupun kesalahan.”

Taeyeon terkesima mendengarnya. Cinta atau bukan, aku tetap tidak bisa.

“Kenapa? Kau meragukan cinta?” tanya Luhan. Namja ini benar-benar bisa membaca apa yang difikirkan Taeyeon dengan hanya menatap mata yeoja di hadapannya.

Dengan segera, Taeyeon mengalihkan pandangannya.

“Maaf, aku harus pergi.” Ujarnya seraya meninggalkan Luhan. Tapi, namja itu tidak diam. Ia mengejar Taeyeon dan meraih tangannya.

“Jangan pergi.” Ujar Luhan lembut. “Ku mohon.”

Taeyeon tak menjawab ataupun menatap Luhan, pandangannya lurus ke depan dan posisi tubuhnya 180 derajat berbalikan dengan posisi tubuh Luhan. Ia ingin segera pergi dari tempat ini. Tapi, salah satu tangannya yangtadi berhasil diraih Luhan, menahannya untuk tetap berdiam diri di tempatnya, menunggu Luhan bicara.

“Kau bahkan sudah menjawabnya. Tapi, kenapa harus pergi?” tanya Luhan. Taeyeon yang masih membelakangi Luhan tetap tidak bergeming dengan sekelilingnya, ia tidak mau semua hal yang sudah ia tata dengan rapi harus berantakan kembali.

“Kau bahkan sudah menunjukkannya dengan hatimu, mulutmu, dan setiap gerak-gerikmu.”

Taeyeon terhenyak. Sejujurnya, ia tidak pernah bicara pada siapapun mengenai perasaannya saat ini. Yang ia yakini adalah Luhan mengikuti semua perkataannya.

“Yang kau fikirkan salah.” Sergah Taeyeon.

“Dimana letak kesalahanku?”

“Kau terlalu percaya diri untuk mendapat jawaban ‘ya’ dariku.”

Luhan tidak menjawab. Mendengar respon Taeyeon, membuatnya yakin kalau Taeyeon mengerti dan masih mengingat semua yang pernah dikatakannya.

“Aku butuh waktu untuk sendiri.” Ucap Taeyeon santai, benar-benar tidak mau mempersulit hal ini.

Luhan mengerti, ia melepaskan genggamannya di tangan Taeyeon dan membiarkan yeoja itu pergi dari tempat itu. Ia tau, Taeyeon memang membutuhkan waktu untuk menyendiri, untuk memikirkan perasaannya.

Hyera, Tiffany, Chery, dan Baekhyun yang tadi menjauh pun menampakkan diri kembali. Mereka hanya menampakkan diri mereka, tidak mengatakan apapun. Karna setelah Taeyeon pergi, Luhan langsung membawa yeonnie, dan pergi meninggalkan taman belakang.

“Mereka butuh waktu untuk menyendiri.” Sahut Chery.

~~~~~

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s