Only Yes [Chapter 21]

Title                 : Only Yes [Chapter 21(A Feeling)]

Genre              : Romance, Friendship, Entertaiment, etc.

Length             : Chapter(Series)

Main Cast        :

  • Xi Luhan
  • Kim Taeyeon
  • Lee Hyera
  • Kim Chery

A Feeling

Taeyeon membiarkan dirinya jatuh di atas pasir pantai. Menangis, dan menyesali semuanya. Semua yang ia rasakan dan semua yang menjadi alasannya untuk meninggalkan namja yang dicintainya. Ia memilih untuk pergi ke sebuah tempat yang tidak akan membuatnya semakin tersiksa, ia memilih untuk menyendiri dan belajar untuk melupakan semua yang terjadi pada hari ini.

Ya, seperti yang terjadi. Taeyeon memilih sebuah pantai untuk tempat pelampiasannya. Dengan perasaan kacau, ia memilih untuk menyewa sebuah rumah kecil –yang berada ditepi pantai- untuk di tinggalinya.

Tidak ada yang terjadi selama ia berada dalam rumah itu. ia hanya menangis dan menatap lurus ke depan. Matanya bahkan tak pernah tertutup sedikitpun, ia hanya terus mengarahkan pandangannya pada pantai melalui jendela rumah itu. Buruknya, Taeyeon tidak berniat menyentuh makanan sedikitpun. Ia benar-benar tidak memperdulikan kondisinya ataupun oranglain yang masih mengharapkan keberadaannya. Yang ia fikirkan saat ini adalah cara untuk menghapus semua kenangan yang terjadi antara dirinya dan Luhan.

~~~~~

“Ku mohon… anggkat telfonnya Taeyeon.. ku mohon…” lirih Tiffany.

“Sebaiknya kita mencarinya. Karna ia pasti tidak akan kembali sampai ia benar-benar melupakan semua yang terjadi hari ini.”

“Tapi kemana? Aku bahkan tidak tau apa yang menjadi alasannya untuk pergi.”

“Kau tidak tau? Tentu saja semuanya karna Luhan.” Chery mendengus kesal melihat Tiffany yang berupura-pura tidak tau dengan apa yang terjadi hari ini. Padahal jelas sekali kalau hari ini ia ikut mengintip adegan Luhan yang menyatakan perasaannya.

“Itu bukan alasan Chery-ah. Taeyeon mencintai Luhan, tidak mungkin ia pergi ketika seseorang yang ia cintai mengungkapkan perasaannya padanya. Itu tidak masuk akal.”

“Apa kau fikir, Taeyeon masih mencintai Luhan?”

“Tentu saja.” Jawab Tiffany yakin. “Ia tidak akan pernah bisa mengelak dari kenyataan.”

“Mengelak dari kenyataan?” tanya Chery tak mengerti. “Apa maksudmu?”

Tiffany tersenyum. Senyum sinis yang ia berikan pertama kalinya pada orang yang belum lama ini ia kenal. “Ia tidak akan pernah mengelak kalau ia mencintai Luhan.”

Chery mengeryitkan dahinya, ia benar-benar tidak mengerti dengan perkataan Tiffany. Sedangkan Tiffany hanya terus memandang keluar jendela dengan ponsel di tangan kanannya.

~~~~~

Sudah hampir 16 jam Taeyeon berada di tempat yang sama sekali tidak diketahui teman-temannya, termasuk Luhan. Sejak kejadian itu, Taeyeon memilih untuk mengeluarkan semua amarah dan rasa sedihnya. Bahkan semalam ia tidak bisa tidur di tempat yang ia sewa, ia lebih memilih untuk menangis di sana dan terkadang ia keluar untuk menikmati pantai pada malam hari.

Sama halnya dengan kemarin malam, sejak tadi pagi Taeyeon sudah berada di tepi pantai. Berteriak dan melamun, itulah yang ia lakukan untuk menenangkan fikirannya. Tak jarang juga air matanya menetes bercampuran dengan pasir putih yang ada di tepi pantai.

Taeyeon merongoh saku mantel yang kemarin ia pakai. Tangannya dengan sigap menemukan sebuah kotak kecil dengan satu tombol di bagian bawahnya. Di tekannya tombol tersebut dengan iringan jarinya yang menari di atas ponsel itu. Tak lama, suara hembusan nafas pun terdengar dari arahnya, dan saat itu juga ponselnya sudah menempel di telinga kanannya.

Yeob-”

“Taeyeon-ah! Eodiga? Gwencahayo?” suara seorang yeoja terdengan dari sebrang sana.

Gwenchana.” Jawab Taeyeon singkat.

“Kau dimana? Cepat kembali, sudah ku siapkan makan siang untukmu! “

Taeyeon menarik nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya dikeluarkannya dengan beberapa kata.

“Kau di apartemen? Apa kau bisa menemuiku di kampusku dulu? Ku rasa, aku butuh sedikit hiburan di sana. Sekaligus, aku ingin mengenang masa-masa kuliahku dulu.” Ucap Taeyeon.

“Apa kau baik-baik saja? Ceritalah padaku.”

“Sudahlah, aku hanya ingin berlibur.”

Suara hembusan nafas terdengar dari sebrang telfon. “Baiklah, tunggu aku.”

Ne

Tut Tut Tut

Taeyeon pun memutuskan sambungan telfon. Di letakkannya ponselnya dalam saku mantelnya, dan kemudian pandangannya pun menerawang.

Tak lama, pandangannya berhenti tepat pada pantai yang ia tidak tau dimana letak ujungnya. Tanpa sadar, pandangannya membuyar, membuatnya harus menahan setetes cairan bening yang selalu dikeluarkannya sejak kejadian kemarin. Ia selalu berusaha menahannya, tapi jawabannya ia selalu gagal melakukannya.

Tanpa sadar mulutnya terbuka dan mengumandangkan kata-demi-kata dengan mata yang berbinar-binar. Kata-kata yang keluar mewakili seluruh perasaannya. Perasaan yang dipendamnya selama ini.

Seuchyeo ganayo… Uriui sarangeun…
Kaseum apeun chuoek ingayo…

Doraseoneyo… Keudaeui maemeun…
Nunmullodo jabeulsun obnayo…

Ia bernanyi, seorang Kim Taeyeon menyanyikan salah satu lagunya di tepi pantai dengan pandangan yang mengabur. Perlahan dan penuh penghayatan.

My Love… Saranghaeyo, saranghaeyeo…
Keudae deutgo ittnayo…
My Love… Ijimarayo… Jiuji marayo…
Uriui sarangeul…

Satu persatu air matanya mulai menetes, membuat sungai kecil di pipi bening miliknya. Menambah kesan merah dimatanya.

Nauri nunmuri keudaen boinayo…. haruharu keuriwohabnida…
Kaseum ddeollideon keudae ibmachumdo
Ijeneun chuoeki dwoettnabwayo…

Suaranya sedikit meninggi, seolah-olah mengesankan penyesalan yang mendalam pada dirinya.

 My Love… Saranghaeyo, saranghaeyeo…
Keudae deutgo ittnayo…
My Love… Ijimarayo… Jiuji marayo…
Uriui sarangeul…

Maeil nan keuriumsoge harureul
Beotineunde keudaem eodittnayo…

Taeyeon benar-benar meninggikan suaranya. Bahkan, jika ada orang yang mendengar suaranya. Orang itu pasti akan mengira kalau Taeyeon sedang berteriak di tepi pantai seperti yang kebanyakan orang bodoh lakukan.

Teriakannya berhenti, berubah menjadi isakan yang semakin jelas terdengar. Ia melanjutkan kata-kata yang merupakan salah satu lagunya dulu, salah satu lagunya yang dipakai sebagai soundtrack sebuah film.

Naega mianhaeyo…

Tubuhnya terjatuh di atas pasir patih pantai, suaranya berubah menjadi sebuah lirihan. Perlahan, dan sangat jelas terdengar sebagai lirihan. Siapa pun yang mendengarnya, pasti mengerti dengan apa yang ia rasakan.

 Mianhaeyeo…
Keudae iji mothaeseo

Dengan satu gerakkan tangannya menggepal dengan tumpukan pasir dalam genggamannya. Ia melanjutkan nyanyiannya dengan tangan yang terus membuang beberapa pasir yang terus-menerus diambilnya dalam genggamannya.

My Love dorawajoyo… ddeonaji marayo…
Naegyeteseo jebal

Lirik terkahir diakhiri dengan sebuah lirihan ditengah tangisnya yang semakin menjadi. Ia tau, kalau ia memang bodoh. Ia bodoh, karna memilih keputusan yang salah. Seharusnya dari awal ia memang tidak perlu membohongi perasaannya. Karna pada akhirnya, ialah yang harus merasakan penyesalan itu.

Selama semalaman, ia terus mengutuk dirinya yang sudah menyia-nyiakan cinta, ia terus menjelek-jelekkan dirinya yang tidak pernah bisa mengambil keputusan dengan tepat, dan sekarang? Ia menginginkan semuanya kembali setelah keputusan yang sudah dibuatnya. Terlebih, ia tidak mau menyakiti Hyera. Ya, Hyera.

~~~~~

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s