Only Yes [Chapter 22]

Title                 : Only Yes [Chapter 22(Yes And Yes)]

Genre              : Romance, Friendship, Entertaiment, etc.

Length             : Chapter(Series)

Main Cast        :

  • Xi Luhan
  • Kim Taeyeon
  • Lee Hyera
  • Kim Chery

YES AND YES

 Luhan mempercepat langkahnya, ia terus mencari letak keberadaan Taeyeon. Sejak kejadian itu, Luhan tau Taeyeon tidak kunjung pulang. Hal itu membuat Luhan merasa bersalah, apalagi mengingat Taeyeon yang pergi setelah Luhan memintanya untuk mempertegas jawabannya.

Kurang lebih sekitar 15 ruangan sudah ia masuki dan hasilnya pun sama, nihil, tidak ada Taeyeon di sana. Luhan memang tau kalau Taeyeon berada dikampusnya, tapi yang ia tidak tau adalah dimana keberadaan Taeyeon yang sebeanar-benarnya. Dan yang ia ingat, Chery hanya bilang kalau Taeyeon memintanya untuk menjemputnya di kampusnya, hanya itu.

Kalau dihitung-hitung jumlah ruangan yang ada di kampus Taeyeon memang bisa mencapai 30 lebih ruangan. Jadi, Luhan masih harus mencari –sedikitnya- 14 ruangan untuk menemukan Taeyeon.

Tapi salah, perkiraan tentang 14 ruangan itu salah. Tanpa angka 4 pun, Luhan sudah berhasil menemukan Taeyeon. Awalnya ia memang ragu, karna pintu ruangan yang ditempati Taeyeon tertutup rapat. Luhan mengira pintu ruangan itu terkunci. Tapi, suara piano yang berasal dari dalam ruangan tersebut membuat Luhan membuang pemikirannya.

Di dalam ruangan itu, ia melihat seorang yeoja yang diyakininya sebagai Taeyeon, sedang memainkan sebuah piano. Luhan tidak tau apa yang akan terjadi setelahnya, tapi yang dia tau saat ini Taeyeon sedang memainkan salah satu musik kesukannya yang Luhan tidak tau apa.

Lambat laun, iringan musik tersebut berubah. Raut wajah Luhan pun ikut berubah, entah karna ia lelah menunggu atau karna ia menikmati musik yang kali ini dimainkan Taeyeon.

Manyageh…

Satu kata permulaan dari Taeyeon. Luhan dapat menebak dengan sangat tepat kalau saat ini Taeyeon sedang menanyikan lagunya sendiri.

Naega gandamyeon
Naega dagagandamyeon
Neon eoddeogeh saenggakhalgga
Yonginaelsu eobtgo

Di tempatnya, Luhan masih tetap tidak bergeming. Ia menanti permainan Taeyeon yang sangat menarik dan menyentuh hatinya.

Manyageh niga gandamyeon
Niga ddeonagandamyeon
Neol eoddeogeh bonaeyahalji
Jaggoo geobi naneun geol

Naega babo gataseo
Barabolsu bakkeman eobtneungeon amado
Wemyeon haljidomoreul ni maeumgwa
Ddo keuraeseo deo mareojil saiga dwelggabwa

Jeongmal babo gataseo
Saranghanda haji mothaneungeon amado
Mannam dwiyeh gidarineun apeumeh
Seulpeun nanaldeuri dooryeowoseo ingabwa

Taeyeon yang duduk tepat di hadapan tuts-tuts piano tetap memfokuskan kegiatannya. Ia masih tidak menyadari keberadaan Luhan di belakangnya, keberadaan Luhan yang saat ini menyaksikan permainannya.

Manyageh niga ondamyeon
Niga dagaondamyeon
Nan eoddeogeh haeyamanhalji
Jeongmal alsu eobtneungeol

Naega babo gataseo
Barabolsu bakkeman eobtneungeon amado
Wemyeon haljidomoreul ni maeumgwa
Ddo keuraeseo deo mareojil saiga dwelggabwa

Tanpa sadar, Taeyeon menangis. Entah untuk yang kesekian kalinya yeoja ini menangis untuk dirinya sendiri. Luhan yang hanya bisa melihat punggung Taeyeon pun tidak menyadari hal tersebut.

Jeongmal babo gataseo
Saranghanda haji mothaneungeon amado
Mannam dwiyeh gidarineun apeumeh
Seulpeun nanaldeuri dooryeowoseo ingabwa

Naega babo gataseo
Saranghanda haji mothaneungeon amado
Mannam dwiyeh gidarineun apeumeh
Seulpeun nanaldeuri dooryeowoseo… ingabwa

Taeyeon mengakhiri permainannya, tangan kanannya perlahan menyentuh permukaan pipinya dan kemudian tersenyum pada dirinya sendiri.

Luhan berjalan mendekat, Taeyeon yang melihat Luhan dari pantulan kaca piano pun menghentikan langkah Luhan.

“Jangan mendekat.” Luhan membeku di tempatnya, ia tau Taeyeon masih tidak mau bertemu atau pun bicara dengannya.

Tapi Luhan tidak peduli, ia mengangkat kakinya dan menggerakkannya membentuk satu langkah sambil bertanya “Kenapa?”

Taeyeon tetap tidak membalikkan tubuhnya. Tanpa harus membalikkan tubunya pun, Taeyeon sudah bisa melihat Luhan dengan sangat jelas. Bahkan ia bisa melihat wajah Luhan yang kian memucat.

“Ku bilang jangan mendekat!” perintah Taeyeon. Luhan melanjutkan langkahnya, hanya tinggal sekitar 3 langkah lagi baginya untuk sampai di tempat Taeyeon duduk sekarang.

Dan dalam 3 langkah tersebut, Luhan melingkarkan tangannya tepat pada leher Taeyeon. Kemudian meletakkan kepalanya pada pundak Taeyeon. Taeyeon tak bergeming di tempatnya, ia tidak bisa menolak ataupun menerima perlakuan Luhan. Bagaimana pun, ini bukan akhir yang diinginkannya.

“Aku lebih tua daripada dirimu, Jadi jangan seenaknya berbuat sesuatu padaku.” Kata Taeyeon tenang, tapi nadanya memancarkan sebuah kejengkelan.

Luhan tersenyum, “Sejak kapan kau mempermasalahkan umur kita? Bukankah kita su-”

“Jaga ucapanmu Luhan!” Taeyeon memberontak. ia melepaskan tangan Luhan dari lehernya dengan paksa, dan setelah itu beranjak pergi dari tempatnya.

Sayangnya, hal itu gagal ia lakukan. Luhan sudah terlebih dahulu menahan tangannya agar tidak pergi. Taeyeon tetap tidak menoleh, sedangkan salah satu tangannya berada dalam genggaman Luhan.

Lagi, sekali lagi. Luhan memeluk Taeyeon dari belakang. Taeyeon menolak dan mencoba memberontak, tapi hasilnya nihil. Dan pada akhirnya pun, Taeyeon membiarkan Luhan memeluknya untuk beberapa detik kedepan, hanya beberapa detik.

“Kenapa pergi?” lirihan Luhan terdengar jelas di telinga Taeyeon, tapi ia tetap tidak menghiraukannya.

“Kenapa tidak memberikan jawaban iya pada saat itu?” Taeyeon menahan geli, nafas Luhan yang mengenai lehernya benar-benar membuatnya merasa geli.

“Kau bilang kau akan selalu menjawab pertanyaanku dengan jawaban iya.”

Taeyeon memejamkan matanya seraya berkata, “Kau salah paham.”

“Tidak.” Luhan menyentuh pipi kiri Taeyeon dengan jari manisnya. “Aku tidak salah dengan ucapanmu. Aku mengingat semuanya.”

Taeyeon mendelik ngeri, ini pertama kalinya Luhan menyentuhnya dengan jarak yang sedekat ini. Pada saat itu juga, Taeyeon berfikir bahwa ia memang harus menjauh dari Luhan sekarang juga.

Taeyeon menghentakkan tangan Luhan dengan kasar, dan segera berlari menjauh dari Luhan. Dan lagi, Taeyeon gagal. Bukannya pergi menjauh, ia justru jatuh dalam dekapan Luhan.

“Sudah ku bilang jangan pergi. Tetap disini, kau tidak bisa membodohiku lagi Taeyeon-ah.”

“Untuk apa lagi? Bukannya sudah ku bilang jawabanku tidak?” Luhan memasang wajah kecewanya.

“Tidak bisakah kau menjawabnya dengan jawaban yang biasanya kau katakan? Hanya iya jawaban yang ku mau.”

Taeyeon mendengus. “Aku bisa saja mengatakannya.”

Luhan melepas dekapannya dan memandang Taeyeon penuh arti. Sedankan Taeyeon hanya tersenyum sinis.

Iya. Iya. Iya...” Kata Taeyeon. Luhan Tersenyum puas mendengarnya, tapi semuanya tak berlangsung lama. Perkataan Taeyeon selanjutnya membuat Luhan jatuh.

“Tapi tidak selamanya kata iya itu sendirian.” Lanjutnya.

Setelah kalimat itu, Luhan membeku di tempatnya. Sedangkan Taeyeon, ia memanfaatkan kesempatan ini untuk pergi menjauh dari Luhan. Beberapa detik setelahnya, Luhan sadar kalau Taeyeon tak lagi ada di hadapannya. Dan dengan cepat, ia berlari menyusul Taeyeon yang –ia harapkan- belum jauh dari tempatnya.

~~~~~

Luhan menggenggam erat pergelangan tangan Taeyeon, memaksa yeoja itu untuk ikut dengannya. Taeyeon menolak, tentu saja ia menolak. Tapi, kekuatan yang ia miliki sudah terlalu banyak ia keluarkan untuk mengahadapi namja seperti Luhan. Dan dengan terpaksa, sangat terpaksa, Taeyeon pun ikut pergi dengan Luhan.

Luhan membawa Taeyeon ke dalam mobilnya, ia membukakan salah satu pintu mobil untuk Taeyeon. Dan setelah memastikan Taeyeon sudah berada di dalam mobil, ia pun menyusul Taeyeon dengan duduk di tempat kemudi.

Hening. Tak ada yang berniat membuka pembicaraan. Luhan yang sedaritadi fokus menyetir, dan Taeyeon yang sedaritadi mengalihkan pandangannya. Benar-benar tak ada percakapan ataupun respon antara-satu-dan-lainnya.

Tidak lama, Luhan menghentikan mobilnya tepat pada jalan raya yang tidak terlalu ramai. Sejenak, ia memandang lurus ke depan, dan kemudian perhatiannya terpusat seutuhnya pada Taeyeon yang masih memandang keluar jendela. Luhan membuka pembicaraan.

“Mau sampai kapan kau memandang keluar?” tanya Luhan dan Taeyeon tetap tidak menjawab.

“Kau masih tidak mau menjawab?” tanya Luhan sekali lagi.

“Bukankah sudah ku jawab? Jangan menanyakannya lagi.” Jawab Taeyeon acuh.

Luhan menarik nafasnya. Luhan tau, Taeyeon mencintainya dan Luhan juga tau kalau Taeyeon membiarkannya merasakan hal yang pernah Taeyeon rasakan. Mencintai, dan tidak dicintai.

“Aku tau semuanya. Ku mohon, jangan berbohong terus-menerus seperti ini. Kau sendiri tau akhirnya kau juga yang menyesal de-”

“Menyesal apa?” potong Taeyeon. Kini, sepasang mata Taeyeon menatap tajam sepasang bola mata di hadapannya.

“Aku taua kau pergi kemarin karna kau menyesali keputusanmu sendiri.”

“Jangan sok tau.”

“Tidak, aku yakin karna aku tau semuanya.”

“Ku bilang, jangan sok tau. Lagipula kau tidak mengerti apapun.”

Taeyeon kembali mengalihkan pandangannya. Kali ini, matanya beralih ke depan, menatap jalan raya yang memang saat itu sedang sepi. sangat sepi.

Luhan menghela nafasnya. Untuk yang ke-empat kalinya dalam hari ini, Luhan meraih tangan Taeyeon dan menggenggamnya erat. Taeyeon kembali menolak perlakuan Luhan, ia terus berusaha menarik tangannya dari genggaman Luhan. Tapi hasilnya? Nihil.

“Lepaskan Luhan! Lepas!” teriak Taeyeon. Luhan tetap tak menghiraukannya, ia masih terus menunggu Taeyeon diam dan memandangnya.

1 menit…

2 menit…

Hampir 3 menit Luhan menunggu, tapi Taeyeon tetap tak kunjung berhenti berontak. Dan pada akhirnya pun, Luhan mengambil tindakan yang memang tak ingin ia lakukan.

“Hentikan Taeyeon-ah!!” teriak Luhan, tegas dan lebih kencang dibandingkan dengan teriakan Taeyeon.

Bahkan dengan satu teriakan saja Taeyeon sudah berhasil mematung. Ia mematung dalam genggaman Luhan. Sedangkan matanya, menatap Luhan gugup. Sejujurnya, ia belum pernah melihat Luhan yang seperti ini. Menyeramkan, batinnya.

Luhan kembali menghela nafasnya, ia tau Taeyeon merasa takut melihatnya yang seperti ini.

“Dengarkan aku, ku mohon.” Ujar Luhan lembut. Taeyeon mengatur nafasnya, ia memandang Luhan, memberikan kesempatan pada namja itu untuk mengatakan sesuatu.

“Jangan pernah pergi lagi, ku mohon. Hanya itu.”

Taeyeon mengeryit, ia tau Luhan tidak sedang bercanda atau apapun itu. Tapi ia tetap tidak bisa. Ia tidak bisa melakukannya karna oranglain, oranglain yang juga mencintai Luhan.

“Tidak bisakah kau yang mendengarkanku?” pinta Taeyeon tak kalah lembut. “Apa kurang cukup aku yang mendengarkan semua permintaanmu?”

Luhan memperhatikan Taeyeon, mata keduanya masih saling dipertemukan.

“Apa kau bisa mengerti semua yang ku rasakan? Apa kau bisa?” Pandangan Taeyeon mengabur, ia menahan air matanya di sana. Dan, Luhan menyadari hal itu.

“Kau bahkan tidak mengerti perasaanku, dan tadi kau bilang kau tau semuanya. Kau itu hanya memikirkan apa yang kau inginkan Luhan. Kau tidak pernah bisa mendengarkanku.”

Taeyeon menangis. Sedangkan Luhan, ia membeku di tempatnya. Ia sadar kalau selama ini, ia memang tidak pernah bisa mendengar ataupun merasakan apa yang Taeyeon rasakan, semuanya hanya perkiraannya saja. Ya, perkiraan.

“Kau tau… tiga tahun yanglalu kau bilang kau baru saja menyatakan perasaanmu pada seorang yeoja, dan pada saat itu…” Taeyeon kembali meneteskan air matanya. “Aku adalah seorang pendengar yang baik. Begitu bukan?”

“Tidak.” Luhan memperjelas, “Saat itu aku hanya tidak tau kalau kau mempunyai perasaan padaku. Aku hanya tidak pernah mengetahuinya, hanya itu.”

“Lalu, sekarang kau tau hal itu? dan sekarang kau memaksaku untuk mengatakan iya padamu?” nada bicara Taeyeon berubah menjadi sedikit sinis, tapi air matanya tetap tak bisa berhenti mengalir.

“Aku tidak memintanya, aku memang mengharapkan hal itu. Tapi, harga untuk sebuah kata iya itu melebihi perasaanmu.”

“Apa maksudmu?” tanya Taeyeon tak mengerti.

“Aku hanya butuh jawaban yang sesuai dengan perasaanmu. Tapi kalau kau mengatakan iya dengan terpaksa, itu sama saja kau menyakitiku dan manyakiti perasaanmu sendiri.”

“Apa hubungannya dengan melebihi harga perasaaanku? Apa kau fikir perasaanku bisa kau beli?” tanya Taeyeon sinis dan masih tidak mengerti.

“Tidak bisa, tapi aku akan berusaha membayarnya dengan menjagamu. Karna aku mencintaimu.” Jelas Luhan.

Taeyeon tersentak tapi ia tetap berusaha untuk tenang. “Bagaimana denganmu? Apa kau menyatakannya melebihi perasaanmu?”

“Te-”

“Padahal kau sendiri tidak tau apa yang ku rasakan.” Lagi dan lagi, Taeyeon memotong perkataan Luhan.

Luhan menghapus air mata Taeyeon dengan ibu jarinya.

“Katakan padaku.” Ucap Luhan lembut, “Aku akan berusaha menjadi pendengar yang baik.”

Taeyeon menatap Luhan dalam, seolah-olah mencari suatu kebenaran di dalamnya. Di satu sisi, ia ragu untuk mengatakannya, tapi di sisi yang lain ia tau kalau mengatakan semua yang ada di hatinya akan meringankan bebannya.

“Aku hanya tidak mau ada yang merasakan hal yang sama sepertiku.” Lirih Taeyeon, air mata yang tadi sempat di hapus Luhan, mau tak mau datang kembali menyisahkan aliran sungai kecil di kedua pipi Taeyeon.

“Tapi kau membiarkan aku merasakannya,”

“Awalnya aku tak bermaksud. Tapi, semuanya sudah ku putuskan. Chery sudah mengatakan padaku semua perubahanmu, da-”

“Dan kau tidak mempermasalahkannya?” Taeyeon mengangguk. “Apa kau fikir aku hanya sebuah bayangan?”

“Bukan seperti itu.” Taeyeon menundukkan kepalanya, dan Luhan berusaha untuk menahan Taeyeon. Ia meraih dagu Taeyeon dan mengangkatnya, membuat Taeyeon harus menatap langsung mata Luhan.

“Hanya saja aku tidak pernah berfikir akan bertemu denganmu.” Sambung Taeyeon.

“Hentikan semuanya Taeyeon-ah, ku mohon.” Pinta Luhan lembut, Taeyeon menggeleng. Membuat Luhan semakun geram dan-

“Aku hanya perlu kau menghentikan semua permainanmu, aku hanya tidak ingin melihatmu terus-menerus menyesali keputusanmu Taeyeon-ah…”

“Aku melihatmu, aku melihatmu yang terus berkata iya, aku merasakan gerakanmu yang terus menunjukkan respon iya, dan aku yang mendengarmu mengatakan iya meskipun semua itu karna sebuah paksaan Taeyeon-ah.” Luhan menghentikan ucapannya, ia mendaratkan sebuah kecupan singkat tepat pada pipi kanan Taeyeon. Membuat yeoja itu merasakan sebuah kehangatan dari dinginnya air mata yang terus mengalir dari matanya.

“Kau bilang tidak selamanya kata iya itu sendiri. Lalu, kata apa yang pantas untuk mendampingi kata itu?” Luhan melanjutkan perkataannya.

Taeyeon menahan matanya yang memanas sambil berkata, “Untuk pertanyaanmu, sebuah kata iya memerlukan teman penolakan, Luhan.”

“Kau masih berbohong, Taeyeon-ah.” Kali ini sebuah kecupan singkat dan hangat berhasil mendarap di pipi kiri Taeyeon.

Untuk yang kesekian kalinya, Taeyeon mematung ketika Luhan menyentuhnya.

“Apa kau tidak bisa memberi teman yang baik pada kata itu?” Luhan menatap Taeyeon dalam, “Ku mohon.”

Taeyeon membuka mulutnya, “Iya, aku mencintaimu…” katanya, “dahulu.”

“Sekarang?” Luhan mengecup puncak kepala Taeyeon, meyisahkan jarak yang kurang dari 10centi antara keduanya.

Mianhae Luhan-ah… tapi, aku tetap tidak bisa.”

Berbeda dengan sebelumnya, setelah ucapan Taeyeon tadi Luhan justru membeku di tempatnya. Bagaimana tidak, setelah mengatakan hal itu Taeyeon langsung mengecup singkat pipi kanannya dan setelahnya pergi begitu saja tanpa memperdulikan Luhan yang masih membeku.

Taeyeon melangkahkan kakinya keluar dari mobil Luhan, ia berjalan menjauh sambil terus menggumamkan kata-kata yang tidak bisa ia katakan pada Luhan.

Iya, aku mencintaimu.

~~~~~

Setelah lama membeku di dalam mobil, Luhan pun memutuskan untuk mengejar Taeyeon yang pergi begitu saja setelah menciumnya tadi. Ia masih berharap kalau Taeyeon belum pergi terlalu jauh dari tempat mereka sebelumnya.

Dugaannya memang selalu tepat. Saat ini, Taeyeon sedang berdiri sendirian di dekat sebuah pohon yang terletak di sebuah taman yang –sangat- sepi sambil terus membiarkan air matanya mengalir dengar deras.

Perlahan, Luhan mendekati Taeyeon. Dan dalam jarak yang sangat –bisa dibilang cukup- dekat, Luhan bisa mendengar gumaman Taeyeon. Dan gumaman itulah yang ia harapkan, bahkan benar-benar ia harapkan.

Dengan satu gerakan, Luhan menarik Taeyeon ke dalam pelukannya. Membiarkan yeoja itu menangis sambil terus bergumam.

Luhan mendengarnya, dan Taeyeon? Entahlah, tidak ada yang tau ia sadar atau tidak.

Dan sepertinya Taeyeon memang mengetahuinya, semuanya terbukti dengan gumamannya yang menyebutkan nama Luhan di dalamnya.

Iya, Luhan. Iya, aku mencintaimu.

Luhan tersenyum bahagia, ia tau kalau Taeyeon tidak akan pernah bisa menahan perasaannya lebih lama lagi.

“Aku tau Taeyeon-ah, aku tau.”

~~~~~

Mwo?  Kau serius?” tanya seorang namja dengan nada yang tinggi.

“Aku tidak bercanda, Luhan-ah. Taeyeon sendiri yang mengatakannya padaku.” Jawab seorang yeoja yang tadi diberi pertanyaan oleh Luhan.

“Kenapa ia tidak bilang apa pun padaku? Padahal kemarin ia bersamaku.”

Yoeja itu menggeleng, “Molla, mungkin ia memang tidak mau membuatmu sedih atau memang ia yang terpaksa pulang cepat?”

“Entahlah.”

Luhan menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang berada di apartemen Taeyeon. Otaknya kembali berputar menanyangkan kejadian kemarin, kejadian dimana Taeyeon mengakui perasaannya.

“Sebaiknya kau memang harus menunggu. Salahmu sendiri, jatuh cinta pada seorang idola yang sudah mendunia seperti itu.” ujar Chery.

Luhan mengangguk frustasi, “Mungkin sebaiknya memang begitu.”

~~~~~

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s