Trough A Song

Title         : Trough A Song

Genre      : Sad

Rating     : PG-13

Cast         : Kim Taeyeon–Xi Luhan–Jessica Jung–Tiffany Hwang–dsb.

Sebuah ruangan yang berbentuk persegi dengan beberapa peralatan musik, sedaritadi sudah ditempati oleh seorang yeoja yang kini sedang berkutik dengan beberapa lembar kertas di hadapannya. Terkadang yeoja itu memejamkan matanya dan bersenandung kecil, mengeluarkan kata-kata yang –mungkin– terdengar  sangat berlebihan untuk di ucapkan.

Plak

Yeoja itu tersadar tepat setelah mendengar suara tepukan, perhatiannya teralih pada orang-orang yang kini berada tepat di depan sebuah benda besar yang tidak terhitung jumlah tombolnya.

“Semua siap! Kita bisa memulainya sekarang!” seru seorang namja yang diperkirakan berumur 30 tahun ke atas. Namja itulah yang tadi menepukkan kedua telapak tangannya.

Yeoja yang berada di dalam ruangan tersebut pun mengambil tindakan. Ditaruhnya kertas yang tadi menemaninya, dan beralih meraih sebuah earphone yang tergantung di  sudut ruangan. Ia memakainya dan bersiap di tempatnya.

Dengan sebuah mic di hadapannya, ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya beberapa kali. Tepat setelahnya, raut wajahnya berubah. Entah apa yang ia dengar sampai-sampai raut wajahnya terlihat menyedihkan, bahkan sangat menyedihkan.

Perlahan, mulutnya terbuka. Mengeluarkan kata-kata dengan iringan musik yang keluar terdengar melalui earphone-nya. Sementara ia bernyanyi di dalam ruangan, namja paruh baya yang tadi memberinya kode –dari luar ruangan– juga terlihat menikmati musik dan suara yeoja tersebut.

Haji mothan mari neomu manhayo
Hanbeondo dangshineun deutji mothaetjiman
Nae ape boyeojin nugungal aneunal
Saranghan geureon sarameun anieyo

Namun, kenikmatan itu hanya berlangsung pada awalnya. Suara lembut yeoja tersebut terdengar lebih lirih dari yang sebelumnya, bahkan jika ia tidak menundukkan wajahnya mungkin semua orang yang berada di tempat itu dapat melihat dengan jelas air mata yang membasahi wajahnya.

Plakk

Suara tepukan pun kembali terdengar, dengan cepat yeoja itu menghapus air matanya dan menatap namja paruh baya yang memberinya kode untuk berhenti.

“Apa yang salah dengan suaramu? Apa kau tau kau baru saja membuat kesalahan?”

Mian…” suara yeoja itu terdengar gugup.

“Aku tidak butuh maafmu Kim Taeyeon, yang ku butuhkan suaramu!”

“Akan ku usahakan,” yeoja itu, Kim Taeyeon, membungkuk seraya meminta kesempatan untuk mengulang lagu tersebut.

Dan dengan persetujuan namja paruh baya tersebut, Taeyeon pun berjanji akan mengunci air matanya. Ia mengunci rapat air matanya agar tidak menetes kembali. Ia tau dimana letak kesalahannya, dan ia mengakui kelemahannya.

Alunan musik kembali terdengar, tapi kali ini raut wajah Taeyeon jelas tidak menunjukukkan kesedihannya. Ia menunjukkan raut wajah bahagia seseorang.

Haji mothan-”

Plak

Lagi, untuk yang ketiga kalinya suara tepukan menggema di ruangan tersebut. Taeyeon dengan wajah tertunduknya hanya bisa menerima omelan, bahkan terkadang ia menerima kata-kata kasar dari namja paruh baya itu.

“Kau tau dimana letak kesalahanmu Taeyeon-ssi?”

Dengan perasaan dan kegugupannya, Taeyeon menggeleng.

Jinja!namja paruh baya itu mendengus, “Kau merubah kesan lagu itu! Kau merubah kesannya menjadi bahagia, padahal kau tau pasti kemana arah lagu itu!”

“Tapi yang kau rekam hanya suaraku, tidak dengan wajahku.” Taeyeon membantah melalui mic yang berada dihadapannya.

“Memang benar, tapi kau tetap harus menghayati dan merasakan isinya! Kalau kau terus seperti ini, dalam waktu dekat saja karirmu akan hancur Kim Taeyeon!”

“Lakukan sekali lagi!” suara Taeyeon terdengar meninggi.

Dengan enggan, namja paruh baya itu menuruti kemauannya. Dan untuk yang kedua kalinya, wajahnya menunjukkan raut kesedihan, hanya saja kesedihan yang ia tunjukkan terlihat tidak seimbang dengan dengan lagu yang akan dibawakannya. Taeyeon memulai lagunya lagi setelah mendapat intro pada lagunya.

Haji mothan mari neomu manhayo
Hanbeondo dangshineun deutji mothaetjiman
Nae ape boyeojin nugungal aneunal
Saranghan geureon sarameun anieyo

Sesange geumaneun saramdeul soge
Naegen ojig geudaega boyeojyeotgie

Geudaeman bo myeo seoitneun geolyo
I sarang hooen nan jal moreugetseoyo
Aju eorinaiga hangsang geureohadeushi
Jigeum I sungan ddaseuhi annajullaeyo

Eonjenga natseo ireumi dweeodo
Nae gaseumi geu chueoki da gieokhaltenikka
Hogshirado apeun ibyeori ondaedo
Oneuleun geureon saenggakeun haji mayo

I sesang geumaneun saramdeul soge
Naegen ojig geudaega boyeojyeotgie

Geudaeman bomyeo seoitneun geolyo
I sarang hooen nan jal moreugetseoyo
Aju eorinaiga hangsang geureohadeushi
Deo gakkai deo ddaseuhi annajullaeyo

Ijen nan honjaga aningeoljo
Geu jarieseo oneul naege oh~
Geudaemani~

Geudaeman naye jeonbuingeolyo
I sarang hooen nan jal moreugetseoyo
Aju eorinaiga hangsang geurohadeuti
Deo gakkai deo ddaseuhi annajullaeyo

Deo gakkai
Deo ddaseuhi
Annajullaeyo

Alunan musik yang terdengar melalui earphone Taeyeon pun berhenti, tergantikan dengan tepukan tangan yang terdengar riuh tapi juga teratur, menandakan bahwa Taeyeon memang sudah berhasil dalam menjalankan pekerjaannya.

Ini bukan pertama kalinya Taeyeon mendapat pujian atau tepukan meriah. Baginya, mendapatkan berbagai pujian dan tepukan, bahkan terkadang penghargaan, sudah merupakan makanannya sehari-hari. Taeyeon tidak bermaksud menyombongkan diri, tapi memang ia sudah berhasil menjadi seseorang yang mendunia. Dan menurutnya, semua yang ia dapatkan adalah hasil dari perjuangannya. Semuanya ia dapatkan karna bantuan Tuhan, kedua orangtuanya, ke-sembilan teman satu grupnya, para penggemarnya, dan juga karna namja kenangannya.

“Kerja bagus Taeyeon-sshi, ku rasa aku bisa menarik kata-kataku tadi.”

Taeyeon tersenyum kecil menanggapi ucapan namja paruh baya yang tadi memarahinya. Ia tau namja itu memarahinya hanya untuk menyemangatinya dan memperingatkannya, tidak benar-benar mendoakan kehancuran karirnya.

Tak lama, Taeyeon berjalan mendekati seorang yeoja yang juga berdiri di dekat benda bertombol banyak tersebut. Ia mendekatkan tangannya dan yeoja itu pun memberikan sebuah tas pada Taeyeon.

“Tiffany menunggumu di tempat parkir, setelah ini kau kosong.” Jelas yeoja yang sedaritadi mengamati Taeyeon.

Taeyeon pun mengangguk mengerti dan berkata, “Kalau begitu aku duluan, eonnie bisa mengurus semua ini bukan?”

“Tentu saja.”

Taeyeon melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut, setelah mendapat jawaban dan berpamitan. Dengan tidak menggunakan alat penyamarannya, Taeyeon berjalan menuju halaman gedung bertingkat yang baru saja ia tempati, ia berjalan menuju tempat mobil Tiffany diparkirkan.

Setelah menemukan mobil berwarna pink, dan yakin dengan pemiliknya, Taeyeon pun masuk ke dalam mobil yang tidak terkunci tersebut. Di dalam mobil itu, seorang yeoja yang tidak lain adalah pemilik mobil tersebut, sedang asik memainkan ponselnya. Tiffany –pemilik mobil tersebut– menyadari keberadaan Taeyeon dan segera meletakkan ponselnya.

“Bagaimana rekamannya?” tanya Tiffany, memulai percakapan.

“Berlebihan,”

“Apa namja tua itu membentakmu lagi?”

Taeyeon tertawa menyeringai, “Jalankan saja mobilnya, nanti ku ceritakan.”

Tiffany yang penasaran dengan cerita Taeyeon pun, melakukan permintaannya. Dengan segera, ia memutar kunci mobil dan mulai menginjak pedal gasnya. Dan tak lama, mobil pun meluncur keluar dari halaman gedung besar tersebut.

Di tengah perjalanan, Tiffany berdehem, mencoba memberikan kode pada Taeyeon untuk segera bicara. Taeyeon yang menyadari kesengajaan Tiffany pun menghelas nafasnya.

“Aku benci terlihat menyedihkan.” Taeyeon mengeluarkan kalimat pertamanya.

“Ada apa? Kau mengingatnya lagi?”

“Bukan aku, tapi lagu itu yang membuatku mengingatnya.”

“Memang apa yang salah dengan lagu itu? Bukankah itu hanya sebuah soundtrack untuk sebuah film?”

“Kau tidak akan mengerti sebelum kau mendengarnya Fany-ah, jelas sekali lagu itu membuatku terlihat menyedihkan, bahkan aku menangis saat rekaman tadi–”

“Kau menangis?” Tiffany memotong pembicaraan Taeyeon.

Taeyeon mengangguk, “Aku benar-benar tidak tau bagaimana menyalurkan perasaanku dalam lagu itu, dan tanpa ku sadari aku menangis.”

“Lalu, apa eonnie dan yang lainnya melihatmu menangis?”

“Ku rasa tidak, dan ku harap memang tidak.”

Tiffany mendecak sambil terus memfokuskan pandangannya ke depan, “Ku rasa kau memang harus belajar melupakannya Taeyeon-ah, atau justru sebaliknya kau yang semakin terpuruk.”

“Dan ku harap aku tidak perlu menyanyikan lagu se-menyedihkan itu.”

Di sebelahnya, Tiffany tersenyum kecil menanggapi permintaan Taeyeon. Ia menggumamkan sebaris kata yang tidak terdengar Taeyeon.

ššš

Taeyeon melangkah masuk ke dalam dorm-nya, di sana ke tujuh member lainnya sedang asik melakukan kegiatan mereka masing-masing. Sooyoung yang saat itu sedang mendengarkan musik dengan earphone-nya pun mengalihkan perhatiannya pada Taeyeon dan Tiffany yang baru saja datang.

“Taeyeon eonnie!” Sooyoung memanggil dan Taeyeon pun menghentikan langkahnya sejenak, sebelum akhirnya ia kembali melangkah masuk ke dalam kamarnya.

Kesal dengan sikap Taeyeon yang mengabaikannya, Sooyoung pun menghampiri Taeyeon yang hampir memasuki kamarnya. Dan dengan enggan, Taeyeon berbalik, menatap Sooyoung yang lebih tinggi darinya.

“Ada apa?”

Eonnie tau ini apa?–” Sooyoung memperlihatkan Taeyeon sebuah e-mail masuk yang tertera di layar Ipod-nya. “–Aku mendapatkannya 2 jam yang lalu. Awalnya, ku fikir e-mail ini datang dari para penggemar, tapi ketika Jessica eonnie membacanya, ia menyuruhku untuk memberitahumu.”

Taeyeon memperhatikan isi e-mail itu, dengan dahi yang berkenyit Taeyeon menatap Sooyoung bingung.

“Tidak ada yang spesial di e-mail ini.” komentarnya, dan Taeyeon pun kembali melaksanakan niatnya, masuk ke dalam kamar.

Setelahnya, di ruang tengah, Tiffany dan Sooyoung secara bersamaan menghampiri Jessica yang tengah mengobrol dengan Sunny. Sooyoung yang semakin tidak mengerti dengan e-mail itu pun kembali menanyakannya pada Jessica.

Namun, bertahan pada pendiriannya, Jessica tetap tidak berniat memberitahu Sooyoung dan Tiffany. Kesal untuk yang keduakalinya, Sooyoung pun menghapus e-mail masuk tersebut tanpa sepengetahuan Jessica, Tiffany, dan Taeyeon.

ššš

Taeyeon menyisir rambutnya dengan perlahan, pandangannya kosong, fikirannya melayang membawa kesadarannya, bahkan kedatangan Jessica ke kamarnya saja ia tidak tau. Jessica berdiri tepat di belakang Taeyeon berdiri, dengan satu gerakan Jessica berhasil merebut kembali perhatian Taeyeon yang sedaritadi tidak diperhatikannya.

Taeyeon terkejut dan hampir melempar Jessica dengan sisir yang berada dalam genggamannya, tapi ia tersadar kalau orang yang mengagetkannya itu adalah teman satu membernya, Jessica Jung.

“Ku dengar, 2 jam lagi single terbarumu keluar. Kenapa wajahmu musam seperti itu?”

Taeyeon tersenyum masam dan kemudian menjawabnya, “Hanya terlalu senang.”

“Kau bercanda, wajah musam dengan terlalu senang itu jelas berbeda jauh.”

“Kau hanya perlu menyamakannya saja, Sica-ah.”

Jessica tertawa, tawa renyah yang ia tunjukkan pagi itu karna kebohongan seorang Kim Taeyeon. Jelas Jessica mengenal wajah itu, wajah yang selalu terlihat menyedihkan setelah ia mengingat apa yang seharusnya menjadi kenangan indahnya.

“Kau ingat jadwalmu hari ini kan?”

“Jumpa fans, dan menjadi mc disalah satu acara tv.”

“Dan jam 7 malam nanti, jadwalmu denganku di tepi sungai han.” Jessica membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari kamar Taeyeon.

Taeyeon yang tidak terlalu peduli pun hanya menganggap perkataan Jessica sebagai angin lewat. Menurutnya Jessica hanya memintanya untuk menemaninya berjalan-jalan, atau bahkan berbelanja. Hanya itu kebiasaan Jessica jika memang tidak memiliki jadwal dan ingin pergi tanpa manager.

“Seharusnya aku menolaknya mengingat perasaanku yang sedang kacau seperti ini, dan seharusnya juga aku tidak berbohong padanya.” Gumam Taeyeon pelan.

ššš

Taeyeon keluar dari gedung besar berlebel KBS, ia mendapati Jessica yang sedang duduk di dalam mobilnya yang jendelanya sedikit terbuka. Dan dengan ragu, ia pun masuk ke dalam mobil yang –ternyata– tidak dikunci itu.

“Kau sudah selesai?” tanya Jessica, setelah diri Taeyeon sudah sepenuhnya berada di dalam mobil tersebut.

Taeyeon mengangguk dan mulai mencari ponselnya, ia bermakasud menghubungi Tiffany kalau malam ini ia akan pulang malam.

“Kenapa malam sekali?”

“Mereka mengajakku makan malam bersama, dan setelah itu semuanya membahas single baruku. Membonsankan memang, tapi apa menurutmu aku pantas meninggalkan mereka?”

Jessica tersenyum kecil di tempatnya. Sebagai member tertua, memang sudah seharusnya Taeyeon memberikan contoh yang baik untuk member lainnya. Dan Jessica yang merupakan member lebih muda beberapa bulan dari Taeyeon, menyadari kedewasaan leader-nya itu, ia bahkan bangga akan leader kelompoknya.

“Jadi, apa yang akan kita lakukan malam ini?” Taeyeon bertanya seraya melirik Jessica yang sibuk menyetir.

“Awalnya ku kira kita akan makan malam bersama, tapi ku rasa kali ini kita bisa menikmati malam hari tanpa gangguan.”

“Tidak biasanya kau membawaku ke tempat yang terbuka? Apa kau tidak tau kalau sungai han itu terkenal dan pasti banyak yang datang ke sana.” Taeyeon menjelaskan.

Jessica melirik Taeyeon sejenak sebelum akhirnya menanggapi, “Aku tau, dan aku juga sadar akan resikonya. Salah kita sendiri, memilih untuk terkenal.”

“Itu bukan suatu kesalahan, tapi itu sebuah keberuntungan.”

“Kalau begitu, beruntunglah kau ku bawa pergi malam ini.”

Taeyeon mendecak. “Kau sudah sering menculikku, Sica-ah.”

Jessica tidak menanggapi perkataan Taeyeon, ia memilih untuk diam dan lebih memfokuskan dirinya pada jalan raya yang berada di hadapannya. Terkadang, ia melirik Taeyeon yang sedang menatap keadaan di luar jendela dan kemudian seutas senyum tersungging di wajah cantiknya.

‘Lagumu adalah keberuntunganmu, Taeyeon-ah.’

ššš

Keduanya berhenti tepat ditempat yang sudah mereka rencanakan sebelumnya, tepi sungai han. Tempat itu memang ramai, tapi tak seramai pusat tepi sungai itu. Jessica sengaja memilih tempat yang jauh dari pusat sungai han, ia berfikir akan lebih baik jika mereka menikmati malam tanpa harus dikenali oranglain. Walaupun, bukan itu alasannya.

Pintu kanan mobil pun terbuka, menampakkan sosok cantik Taeyeon dengan jaket tebal dan rambut yang sudah dikuncirnya. Tak lama, Jessica keluar dari mobilnya dengan penampilan yang tidak jauh berbeda dengan Taeyeon. Tanpa fikir panjang, kedunya pun memilih untuk lebih menempati rerumputan hijau yang tidak beralaskan, mengagumi keindahan sungai han pada malam hari.

“Kau masih belum menjelaskan semuanya–” Taeyeon memulai percakapan, “–kenapa kau mengajakku ke tempat seperti ini?”

Seakan sudah menanti-nanti pertanyaan Taeyeon, kedua sudut bibir Jessica pun tertarik untuk membentuk sebuah senyum, senyum kepuasaan yang –sepertinya– sudah ia nanti-nanti.

“Kau mengacuhkan e-mailnya, karna itu aku mengajakmu ke tempat ini.”

Perhatian Taeyeon teralihkan, ia mengingat bagaimana Sooyoung menyebut nama Jessica ketika menunjukkan e-mail itu.

“Memangnya apa yang salah dengan e-mail itu? Yang ku lihat, pengirimnya hanya memintaku untuk mengisi salah satu acaranya–”

“Dan kau menolaknya?”

“Tentu saja. Ia memintaku tapi tidak menyusun jadwal dengan eonnie manager, sudah jelas aku menolak permintaannya.”

Sebuah suara yang terdengar tebal terdengar dari tempat Taeyeon dan Jessica, suara itu mengisyaratkan tawaan yang dibuat-buat. Keduanya pun menoleh, tidak ada reaksi yang ditunjukkan Taeyeon, sedangkan Jessica, yeoja itu kini berjalan perlahan menghampiri asal suara tersebut. Suara namja yang kiranya 2 tahun lebih tidak terdengar oleh temannya.

Taeyeon memperhatikan keduanya dengan wajah datar, ia benar-benar tidak menunjukkan reaksi. Jessica yang kini berada di hadapan namja itu hanya tersenyum kecil, kemudian berlalu menuju ke dalam mobilnya dan mulai menyalakan mesin.

Seakan-akan mendapatkan sengatan, kesadaran Taeyeon pun mengumpul. Reaksi awal yang ditunjukkannya adalah keterburu-buruan, dengan cepat Taeyeon mencoba mendekati mobil Jessica yang mulai bergerak menjauh. Tidak ada suara yang terdengar ketika Taeyeon mencoba mendekati mobil tersebut, hanya suara mesin dan suara aliran air sungai-lah yang menjadi background aksi kecerobohan seorang Kim Taeyeon.

Setelahnya, Taeyeon hanya berdiam diri di tempatnya. Tidak menyapa ataupun menghampiri namja yang tadi menertawainya. Dan namja itu sendiri hanya memandang bagian belakang tubuh Taeyeon dari tempatnya, sebelum akhirnya kedua kakinya memutuskan untuk memperkecil jarak keduanya.

Dalam waktu 1 menit, namja itu berhasil memperkecil jarak keduanya. Hanya tersisa beberapa cm sebelum ia benar-benar mencapai tubuh mungil Taeyeon kedalam dekapannya. Tak ada yang keluar dari mulut keduanya, hanya sebuah pelukan hangat dari arah belakang dan deruan nafas keduanyalah yang bisa mereka rasakan.

Taeyeon tak bergeming, tidak juga dengan namja yang –entah mendapat keberanian darimana– memeluknya. Namja itu memeluk Taeyeon kurang lebih selama 2 menit, tapi sampai saat ini Taeyeon tak kunjung memberikan balasan ataupun reaksi. Hingga akhirnya, ia merenggangkan pelukannya, dan membalikkan posisi Taeyeon.

Kini, kedua mata itu bertemu, menyalurkan berbagai perasaan yang sulit untuk dimengerti. Kesal, marah, bahagia, sedih, terharu, semuanya menjadi satu. Bagaikan air yang mengalir tanpa penghalang, cairan tak berwarna itu keluar begitu saja dari matanya. Tak ada isakan, hanya tetesan yang jatuh membasahi pipinya dan memerahkan kedua matanya.

“Kenapa menangis? Bukankah itu yang kau mau?” Namja yang memeluk Taeyeon tadi memulai percakapan keduanya, meskipun terlambat, tapi ia tau Taeyeon masih mau mendengarnya.

Hujan itu kembali mengguyur pipinya, kali ini bibirnya mulai bergerak. Entah karna memang ingin mengatakan sesuatu atau ia menahan isakannya, matanya yang memerah ia biarkan terus mengeluarkan hujan cairan asin yang tidak berwarna.

Dan dengan keadaan yang masih mengejutkan, namja itu kembali meraih tubuh Taeyeon ke dalam pelukannya. Membiarkan yeoja itu meluapkan semua perasaannya.

“Berhenti menangis Taeyeon-ah, aku sudah di sini. Dan, aku juga sudah memelukmu, berhentilah menangis dan lakukan yang kau mau.”

Dalam dekapan namja itu, Taeyeon berusaha mengeluarkan suaranya, meskipun terdengar lirih tapi namja itu tersenyum mengetahui Taeyeon yang masih mengingatnya.

“Kapan aku memintamu untuk memelukku, Luhan-ah?

ššš

Situasi yang mengejutkan itu tergantikan dengan situasi yang lebih pantas, yang memang sudah seharusnya mereka dapatkan.

Keduanya tengah terduduk di tempat yang dari ditempati Taeyeon dan Jessica. Namja yang dipanggil Taeyeon dengan nama Luhan, dengan setia merangkul Taeyeon dan memberikan salah satu bahunya sebagai tempat bersandar. Yang ia tau, Taeyeon masih tidak menyadari awal kejadian ini.

Masih dengan posisi yang sama, Taeyeon memberanikan diri untuk menanyakan keberadaan Luhan di sini, di Korea.

“Hanya berlibur, lagipula aku tidak akan lama berada di Korea.” Jawab Luhan.

“Berapa lama?”

“Hanya tiga Hari.”

Taeyeon menari kepalanya dari bahu Luhan.

“Tiga hari?” ulang Taeyeon, sekedar memastikan kalau Luhan sedang bercanda dengannya. Dan perkiraannya pun melecet, Luhan serius dengan perkataannya.

“Sudah berapa lama kau berada di sini? Kenapa tidak menghubungiku? Kau datang seperti seseorang yang menguasai negara ini.”

Luhan tersenyum kecil mendengar pengungkapan Taeyeon yang terlalu berhayal, “Aku datang pagi ini, siapa yang bilang aku tidak menghubungimu? Aku mengirimmu e-mail.”

“Aku tidak menerima satu e-mail pun darimu–”

“Aku mengirimnya melalui e-mail Sooyoung.”

“Sooyoung?” Luhan mengangguk, sedangkan Taeyeon terhenyak di tempatnya. Taeyeon merasa terlihat bodoh kali ini, ia bahkan tidak mengenali e-mail Luhan. Mungkin bisa dikatakan kali ini Taeyeonlah yang sudah melupakan Luhan, bukan sebaliknya.

“Ah iya!” Perhatian Taeyeon kembali mengarah pada Luhan tepat setelah namja itu menyerukan sesuatu.

“Temanmu itu, Jessica, sepertinya ia tau semua tentang kau dan aku? Buktinya saja, ia tau kalau aku yang mengirim e-mail itu untukmu, bahkan ia bisa mengenali kode yang ku tinggalkan di subjek e-mail itu. Beruntung kau mempunyai teman sepertinya.”

Sebuah senyum tulus muncul di wajah Taeyeon, kembali ia meletakkan kepalanya pada bahu Luhan. Yang sontak membuat namja itu kembali merangkul Taeyeon lebih erat, seakan ingin menyalurkan kehangatan padanya.

“Besok, kau ada acara?”

Taeyeon mengangguk dalam posisinya.

“Tidak bisa kau batalkan?” Luhan meminta perlahan.

Seperti mengetahui keseriusan Luhan, untuk yang kedua kalinya Taeyeon menarik kepalanya dan menatap mata Luhan dalam.

Waeyeo?” tanya Taeyeon.

“Waktuku di sini hanya 3 hari, itu pun tidak sepenuhnya aku bisa berada di dekatmu. Jadi–”

“Kau berfikir aku bisa menemanimu? Seperti itu?”

Luhan mengangguk. Tak ada hal lain yang ia incar dan ia inginkan selain keberadaan Taeyeon, meskipun hanya  bisa bertemu 12 jam dalam sehari, setidaknya Taeyeon benar-benar bisa menemaninya.

“Sulit untuk membatalkannya, eonnie pasti akan marah dan menyuruhku untuk menghadap Lee Sooman. Ku harap kau mengerti, Luhan-ah.”

“Aku tau.”

Lagi, namja itu menarik Taeyeon kedalam dekapannya. Harapannya gagal, keajaiban tidak benar-benar berpihak padanya. Ia tau seharusnya ia menyadari hal ini sejak awal, keberadaannya yang walaupun hanya 3 hari, belum tentu membawakan kepuasan tersendiri untuknya. Bagaimanapun, Taeyeon seseorang yang sibuk dan ia seseorang yang terlalu jauh untuk Taeyeon.

Walau kenyataannya berbeda, dalam keheningan keduanya membatin.

‘Gomawo Sica-ah.

ššš

“Berhenti memaksaku menyanyikan lagu itu lagi, eonnie.”

“Apa yang salah? Itu lagu terbarumu sendiri, sudah seharusnya kau memperkenalkan lagu itu pada para penggemarmu. Itu kewajibanmu Taeyeon-ah.”

Taeyeon menghela nafasnya dan mendecak, entah sudah berapa kali ia meminta manager-nya untuk tidak menyuruhnya membawakan lagu itu dalam acara hari ini. Tapi hasilnya sama, manager-nya tetap bersikeras menyuruhnya untuk menyanyikan lagu tersebut.

“Cepat bersiap-siap, sebentar lagi giliranmu.” Ujar manager-nya sekali lagi. Dalam hatinya, Taeyeon mencibir manager-nya yang terlalu tidak mengerti dirinya. Tak lama, manager-nya melangkah menjauh ketika mengetahui Taeyeon yang membiarkan dirinya dirias.

“Tidak seharusnya kau mencibir eonnie, ingat, dia managermu.”

Taeyeon menolehkan kepalanya, ia menemukan sosok Tiffany yang berada tepat di sebelahnya. Yeoja itu sedang mengamati pantulan bayangannya di cermin, Taeyeon tersenyum kecil seraya mengalihkan kembali pandangannya.

“Sejak kapan kau berada di situ?”

“Sejak kau dimarahi eonnie.” Jawaban Tiffany sedikit mengejek. “Apa kau berbuat kesalahan lagi?”

“Kau fikir kalau aku menolak menyanyikan laguku, itu sebuah kesalahan?”

“Ya.” Tiffany melanjutkan, “Ku harap, kau tidak melakukannya.”

Taeyeon mendecak, jawaban Tiffany sama sekali tidak membuatnya puas. Jawabannya justru membuat Taeyeon semakin terpojokkan.

“Sebegitu bencinyakah kau dengan lagumu sendiri?”

Taeyeon tak menjawab, sudah cukup ia dimarahi manager-nya. Jika Tiffany memang mau menambahkan fikirannya dan membuatnya semakin terpuruk, waktunya tidak sekarang. Saat ini, semuanya masih terlalu sulit bagi Taeyeon.

“Ku ingatkan sekali lagi–” Tiffany mengubah posisinya, ia memandang mata Taeyeon yang masih terfokuskan pada cermin dihadapannya.

“ –lagu barumu, bukan sebuah kutukan. Itu hanya baris-barisan kata yang menunjukkan perasaan seseorang. Dan kau, kau hanya butuh menyanyikannya, kau hanya perlu memberikan perasaan itu–”

“Perasaan apa yang kau maksud? Sebuah keterpurukan, kau bilang sebuah perasaan?–” Taeyeon kesal, suaranya mulai meninggi.

“–Di saat kau merasa kehilangan, kau menunggunya walaupun banyak yang menantimu, menunggunya datang dan memelukmu, memberimu kehangatan yang selama ini kau butuhkan. Kau bahkan tidak pernah tau apa yang akan terjadi suatu saat nanti, saat kau benar-benar kehilangannya. Apa kau masih bisa menyebutnya sebagai perasaan?” Taeyeon melampiaskan kekesalannya. Matanya yang menyalurkan kemarahan, kini berkaca-kaca. Taeyeon menahan airmatanya, bertahan pada posisinya dan tidak mengerluarkan kata-kata.

Tiffany tak terkejut, ia justru tersentuh dengan pengakuan Taeyeon. Ia tau yang Taeyeon katakan adalah dirinya sendiri, Taeyeon menjelaskan arti dari lagunya dan kenyataan yang terjadi pada dirinya.

Dengan nada santai, Tiffany memberanikan diri bertanya. “Kau bilang keterpurukan?”

Taeyeon tak menjawab, dan Tiffany pun menyimpulkan bahwa Taeyeon tidak sedang bercanda dengannya. Selesai di make up, Taeyeon kembali menjelaskan.

“Semua itu terjadi padaku. Mulai dari kepergiannya sampai kehangatan yang ia berikan padaku–”

“Kau bertemu dengannya?” potong Tiffany.

Perlahan, Taeyeon mengangguk, meninggalkan keterkejutan pada diri Tiffany.

“Ku harap aku bisa menemaninya–” Taeyeon menundukkan kepalanya.

“–tapi, semuanya terlihat mustahil, jadwal yang padat menjadi penghalang besar bagiku. Waktunya hanya tinggal 2 hari di Korea, setelah itu ia akan kembali ke China dan… entahlah kapan ia kembali lagi.”

“Apa hubungannya dengan penampilanmu hari ini?” tanya Tiffany perlahan.

Taeyeon menaikkan kepalanya, menatap Tiffany yang juga menatapnya bingung.

“Aku benci mengingat kejadian itu lagi. Kau tau, 3 hari setelah semuanya kembali, keterpurukan itu akan datang lagi. Kau tau, siapa pun yang mengusulkanku untuk menyanyikan lagu itu, itu berarti orang itu menginginkan ke–”

“Ini tidak seperti yang kau fikirkan,” Tiffany menyela. “Sebaiknya kau bersiap-siap, sebentar lagi waktumu untuk tampil.”

Usai mengingatkan Taeyeon, Tiffany melangkah menjauh. Ia meninggalkan Taeyeon yang masih sibuk memikirkan perasaannya. Sesaat setelahnya, Taeyeon menghela nafasnya dan beranjak dari tempatnya menuju panggung utama. Dan di sanalah, kesedihan itu menemaninya.

ššš

Luhan masih setia menunggu di dalam mobilnya, terkadang ia memainkan ponselnya dan terkadang juga ia memperhatikan pintu masuk utama sebuah gedung yang berukuran cukup besar.

Beberapa menit sesudahnya, pintu mobilnya terbuka. Sosok seorang Kim Taeyeon yang baru saja keluar dari gedung tersebut, memasuki mobil Luhan. Kedua sudut bibirnya, tertarik untuk membentuk sebuah senyum.

“Kau bilang hanya sampai jam 6, kenapa baru keluar sekarang?”

Taeyeon tersenyum kecil, “Mian, ada kejadian yang membuatku terlambat.”

Luhan mengangguk, dan mulai menyalakan mobilnya. Perlahan tapi pasti, mobil itu bergerak menjauhi gedung tempat Luhan menunggu.  Selama perjalanan, Luhanlah yang lebih banyak bicara, sisanya hanya anggukan dan dehaman dari Taeyeon.

Larut dalam suasana, keduanya pun tersadar ketika mobil yang membawa mereka berhenti pada tempat yang sama seperti kemarin. Tepi sungai han yang jauh dari pusatnya.

Taeyeon keluar mendahului Luhan, ia membiarkan dirinya menduduki rumput-rumput hijau yang di tanam di sana. Meskipun kotor, Taeyeon tetap menyukai kebiasaannya. Tak lama, Luhan menyusul dengan duduk di sebelah Taeyeon.

Keduanya kembali menikmati pemandangan sungai pada malam hari, tak ada suara yang keluar dari mulut keduanya. Sama seperti kemarin, hanya suara hembusan nafas dan aliran airlah yang menjadi background kencan mereka.

Hanyut dalam keheningan, posisi keduanya pun berubah. Luhan yang awalnya di sebelah Taeyeon, kini berada di belakang Taeyeon, memeluk yeoja itu dari belakang dan menyalurkan kehangatan yang dimilikinya. Taeyeon sendiri menikmati kehangatan itu, bahkan terkadang ia memejamkan matanya. Membiarkan dirinya meresapi dan merasakan lebih dalam lagi kehangatan yang diberikan Luhan.

“Pertunjukan yang luar biasa, Kim Taeyeon.” Luhan mengujar, “Lagumu benar-benar membuatku tersentuh.”

Taeyeon tersentak, “Kau melihatku menyanyikannya?”

“Tentu saja, bagaimana mungkin aku melewatkan penampilanmu dengan lagu barumu? Kau benar-benar menyentuh perasaanku, Taeyeon-noona.”

“Berhenti memanggilku dengan sebutan itu, aku belum tua. Dan, lagu menyedihkan seperti itu kau bilang menyentuh perasaanmu?”

“Menyedihkan karna kau merasakannya.”

Taeyeon melepaskan pelukan Luhan dan memutar posisinya. Saat ini, kedua mata itu bertemu kembali. Dan, mata Taeyeon kembali berkaca-kaca.

“Kau tau aku merasakannya, tapi kau masih mau meninggalkanku? Bagiku kau ataupun lagu itu sama saja, sama-sama membuatku terpuruk.”

Luhan tertawa kecil, menurutnya pendapat Taeyeon terlalu berlebihan. “Apa yang kau maksud dengan terpuruk? Jelas-jelas yanglain menikmatinya, apa yang salah denganmu?”

“Apa yang salah denganku?–” Taeyeon menangis, “–Kau tertawa bodoh, ini sama sekali tidak lucu.”

Luhan menghentikan tawanya, dan menghapus sungai kecil yang terbentuk di pipi Taeyeon menggunakan ibu jarinya. Taeyeon tak melawan, tapi air matanya justru semakin deras.

“Berhentilah menangis, jangan terlihat seperti anak kecil yang baru merasakan permasalahan–” pinta Luhan perlahan, ibu jarinya masih bermain dikedua pipi Taeyeon.

“–Semua yang ada di dunia ini pernah merasa kehilangan, jadi berhentilah merasa terpuruk. Kalau kau terus menjelek-jelekkan lagu itu, itu sama saja kau melukai perasaanmu. Bagaimanapun, lagu itu adalah perasaanmu. Perasaan yang kau sampaikan dengan berbagai nada dan alunan alat musik–”

“–jadi, berhentilah menolak lagu itu, dan mulailah untuk menyalurkan perasaanmu pada lagu-lagumu nanti. Aku ingin tau perasaanmu.”

Tangis Taeyeon berhenti sepenuhnya setelah mendengar penjelasan Luhan. Tak ada senyum ataupun kata-kata yang keluar dari mulut Taeyeon, hanya matanya yang terus menatap dalam mata Luhan.

ššš

Tampak mobil Luhan sudah menunggu di depan sebuah rumah sederhana yang ditinggali oleh beberapa yeoja cantik di dalamnya. Berbeda dengan sebelumnya, kali in Luhan mengajak Taeyeon pergi menikmati cuaca pagi hari dan mengajaknya untuk sarapan bersama. Meski terlalu pagi, Taeyeon pun menyetujui ajakan Luhan.

Taeyeon keluar dari dalam rumah diikuti dengan berbagai teriakan dari dalam, entah semacam mendukung atau sedang membuat gurauan. Yang pasti, saat keluar, Taeyeon terlihat terburu-buru.

Layaknya seorang putri, Luhan membukakan pintu mobilnya untuk Taeyeon, kemudian menyusul masuk ke dalam mobilnya dan duduk tepat di tempat kursi kemudi. Suara mesin mobil mulai terdengar, Luhan bersiap di tempatnya untuk menginjak pedal gas.

Eonnie!” Teyeon membuka jendelanya mendengar seseorang berteriak ke arah mereka, sedangkan Luhan membatalkan niatnya menjalankan mobil.

Di luar mobil, nampak seorang yeoja cantik lainnya yang terlihat lebih muda daripada Taeyeon. Ia memberikan Taeyeon sebuah ponsel tanpa berkata apapun. Taeyeon menerima ponsel itu dan menjawab panggilan dari sebrang sana.

Beberapa menit dalam sambungan telfon, Taeyeon mengakhiri percakapannya dengan kata ‘ne’. Dan kemudian mengembalikan ponsel tersebut.

“Katakan pada yanglain, jam 10 nanti, eonnie akan datang menjemput kita.”

“Kau bagaimana?”

“Aku akan pulang sebelum jam 10, Yoona-ah. Tenang saja.”

Yeoja yang dipanggil Yoona itu mengangguk dan melirik Luhan sebentar.

“Jadi, ini orangnya.” Ujar Yoona itu perlahan, Luhan yang tidak mengerti maksud pembicaraan yeoja itu hanya tersenyum menyapa.

Taeyeon yang gerang dengan sikap keingintahuan salah satu teman satu kelompoknya pun, segera mengalihkan perhatian Yoona dengan memintanya untuk segera membangunkan member lainnya.

Yoona tak menolak dan tak juga melakukannya, ia hanya menyingkir sedikit lebih jauhdari mobil itu dan kemudian memandangi mobil yang mulai bergerak maju. Sebuah senyum kepuasaan muncul di wajahnya.

ššš

“Jadi, tidak bisa lama ya?” tanya Luhan ketika keduanya berada dalam mobil.

Taeyeon mengangguk dan meminta maaf pada Luhan. Tapi, namja itu justru tersenyum dan tertawa kecil melihat tingkah Taeyeon. Dan lagi, Taeyeon memasang wajah kesalnya.

“Ini masih terlalu pagi, apa kau lapar?”

“Tentu saja. Kau menculikku pagi-pagi sekali, apa yang bisa kita makan sekarang?”

“Mungkin ada toko yang sudah buka, kau tak perlu khawatir.”

“Baiklah.”

Hening. Tak ada yang bersuara setelahnya, keduanya terlalu sibuk dalam fikiran masing-masing. Luhan yang sedang menyetir dengan fikirannya, dan Taeyeon yang sibuk memandang jalan dengan berbagai fikirannya.

Sampai pada akhirnya, mobil itu berhenti dan mengeluarkan sepasang namja dan yeoja yang memutuskan untuk memesan makan di sebuah restaurant. Aneh memang, matahari belum memunculkan dirinya, tapi sebuah restaurant sudah melayani beberapa orang yang memiliki jadwal padat. Mungkin, Luhan dan Taeyeon adalah salah satu dari mereka.

Keduanya memilih menempati kursi dan meja yang berada di pojok restaurant tersebut. Baru beberapa detik keduanya duduk, seorang pelayan sudah menghampiri mereka dengan buku menu di tangannya. Tanpa harus ditanya, Luhan pun sudah tau makanan apa yang diinginkan Taeyeon. Dan setelah pelayan itu pergi, keheningan itu kembali muncul.

“Sudah kau fikirkan apa yang ku katakan kemarin?”

Taeyeon mengangguk, masih belum berniat untuk mengeluarkan suaranya.

“Apa keputusanmu?”

Helaan nafas terdengar dari Taeyeon, “Aku masih belum tau.” Jawabnya.

Luhan mengangguk dan tersenyum, disusul dengan harapannya. “Ku harap kau memilih yang terbaik.”

Tepat setelahnya, pelayan tadi kembali menghampiri keduanya. Membawa dua buah piring dan dua buah cangkir berukuran sedang. Keduanya menikmati sarapan mereka, tanpa background suara.

ššš

“Aku tidak pernah tau kalau waktu bergerak secepat ini.” Ujar Luhan.

“Sulit untuk memperkirakannya.”

Saat ini, keduanya tengah menikmati jalan setapak yang mereka lewati. Setelah menyantap menu pagi mereka, keduanya memutuskan untuk berkeliling dengan hanya menggunakan kaki. Luhan meninggalkan mobilnya yang terparkir di restaurant, ia menikmati pagi in dengan hanya berjalan kaki.

“Bahkan 10 jam itu hanya tersisa beberapa menit lagi bagiku.”

“Dan jam 10 itu terasa semakin mendekat denganku, seperti mengejarku dan memintaku untuk segera kembali.”

“Memang itu yang mereka inginkan. Dan, itu juga merupakan tanggungjawabmu sebagai seorang idola. “

Taeyeon menghela nafasnya seraya bergumam, “Aku ingin bebas.”

Luhan tertawa, hal yang membuat Taeyeon kesal sekaligus terhibur.

“Kau selalu bebas ketika kau bersamaku.”

“Waktu selalu mengejarku, seperti seorang buronan bukan?”

Luhan meraih kedua bahu Taeyeon, memaksa yeoja itu untuk balas menatapnya. Memintanya untuk menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang selama ini mengganggunya. Dan, Taeyeon melakukannya, ia menatap mata Luhan seolah-olah mata itu adalah jawaban dari pertanyaannya selama ini. Tapi yang ia dapatkan tidak lain dari sebuah keseriusan, bukan sebuah jawaban.

“Apa?”

Luhan yang mendapati Taeyeon yang masih tidak mengerti dengan arti tatapan itu pun menarik nafasnya, sebelum akhirnya menjelaskan.

“Kau, Kim Taeyeon, seorang idola. Seseorang yang dinanti-nantikan dengan suara dan kecantikanmu, seseorang yang dinanti-nantikan dengan lagu terbarunya yang menyentuh perasaan, yang membuatku bangga memilikimu, dan yang membuat semua orang di sekitarmu iri padamu–”

“–kau yang berjuang sejak awal untuk mendapatkan semuanya, kau yang kuat yang dapat menahan tangismu 2 tahun yanglalu, dan kau yang selalu sukses membuatku tak nyaman disana–”

Taeyeon melirih, ia menyebut nama Luhan.

“–jangan tanya kapan aku memikirkan semua ini, jangan tanya darimana aku mendapat kata-kata ini, dan jangan pernah berfikir kalau aku tidak memikirkanmu. Karna kau Kim Taeyeon, kau yang menjadikanku buronanmu.”

Sekali lagi, mata Taeyeon mulai berkaca-kaca. Entah sejak kapan ia menjadi yeoja cengeng yang setiap saatnya menangis, memikirkan kekurangannya dan kelemahannya, menjelek-jelekkan kebodohannya, bahkan terkadang ia melarikan diri dari kenyataan.

Luhan yang menemukan kesedihan dalam mata Taeyeon pun, menarik yeoja itu ke dalam pelukannya.

“Jangan menangis..” pinta Luhan.

Namun, berlawanan dengan permintaan Luhan, Taeyeon justru menangis dalam pelukannya. Luhan terus memperingatkan Taeyeon untuk tidak menangis, ia ingin semuanya berjalan bahagia. Tapi, hasilnya berbalik, Taeyeon tak kunjung berhenti, dan itu membuat Luhan membiarkannya menangis, jika memang hal itu membantu.

ššš

Setelah kejadian itu, keduanya memutuskan untuk kembali ke restaurant, tempat mereka memarkirkan mobil. Luhan mengantar Taeyeon kembali ke rumah sederhananya, dan setelah itu ia juga pergi.

5 Jam sudah berlalu, Taeyeon dan kedelapan member lainnya sibuk berfikir untuk membuat lagu baru mereka. Di bantu dengan beberapa namja yang memang sudah ahli dalam hal tersebut.

Setelah jadwal menulis lagu, Taeyeon dan lainnya memiliki jadwal untuk tampil di salah satu program tv ternama di Korea. Taeyeon yang dua kali tampil pun, mau tidak mau harus mempersiapkan dirinya sebaik mungkin.

Di ruang tunggu, kesembilan yeoja cantik tersebut –termasuk Taeyeon– mendapatkan make up natural yang cocok dengan karakter mereka. Kesembilannya menunggu giliran tampil mereka dengan berbagai macam kegiatan, sebagian dari mereka ada yang mengobrol, dan ada yang sibuk dengan ponsel mereka.

Sooyoung menghampiri Taeyeon yang sedang melihat pantulan dirinya di cermin, yeoja itu terlihat cantik dengan hanya menggunakan setelan berwarna pink.

“Eonnie, aku menerimanya e-mail dengan pengirim yang sama, tapi kali ini ia menulis namamu. Dan, mian karna aku membacanya.”

Taeyeon mengalihkan perhatiannya pada Sooyoung dan mengangguk. Sooyoung menyerahkan benda berbentuk persegi itu pada Taeyeon, dan kali ini Taeyeon menerimanya dengan sebuah senyum.

Menit sesudahnya, senyum itu memudar dan menghilang. Tergantikan dengan raut kesedihan yang belum lama ini hilang karna kehadiran Luhan.

Aku pergi. Ingat kata-kataku untuk tidak menangis dan tetap menyalurkan perasaanmu dalam lagu terbarumu. Aku menunggunya, dan jangan menolak untuk menyanyikan lagumu. Aku suka melihat caramu menyanyikan lagu dan menghayati bait demi bait lagu tersebut. Sekali lagi, kau harus ingat semua pesanku. Sampai jumpa Taeyeon-noona.

“Sama seperti dugaanku.” Ujar Sooyoung. “Sekali lagi, mian karna aku membacanya.”

Taeyeon mengangguk dan memaksakan sebuah senyum. Saat itu juga, mereka diminta untuk bersiap-siap.

Saat tampil, semua orang mengira pertunjukkan itu sukses dan menghibur. Hanya Taeyeon yang merasa kekurangan dan kehilangan. Lagi dan lagi, ia kehilangan Luhan.

“Setelah ini kau akan tampil dengan lagu barumu. Jadi, siapkan dirimu.” Manager-nya mengingatkan.

Taeyeon mengangguk dan memilih untuk duduk sejenak menghilangkan berbagai fikirannya. Ia lupa kalau hari ini adalah hari ketiga Luhan berada di Korea. Dan itu tandanya, akan ada waktu yang cukup lama untuk dapat melihat Luhan lagi.

“Ada apa?” Tiffany bertanya, ia dan Jessica menghampiri Taeyeon yang terlihat kehilangan semangatnya.

Seolah tidak mau mempersulit oranglain, Taeyeon menggeleng.

“Apa dia sudah kembali?” tebak Tiffany.

Taeyeon tak menjawab, hanya hembusan nafas yang dikeluarkannya.

“Kalau begitu anggap saja ini sebuah ujian darinya untukmu. Lagipula, kalian tetap akan bertemu dan saling berkomunikasi bukan?” Jessica menambahi.

“Bukan itu masalahnya.”

“Kenapa?–” Tiffany menyela. “–Apa karna lagu lagi? Sudah ku bilang jangan terlalu difikirkan,itu hanya sebuah pengungkapan perasaan, bukan sebuah keterpurukan Taeyeon-ah.”

“Aku tau, Luhan sudah menjelaskan semuanya. Ia memintaku untuk tidak menolak lagu itu–”

“Lalu apa masalahnya?”

“Sulit dalam keadaanku yang seperti ini.”

Keduanya –Jessica dan Tiffany– menarik nafas kecewa terhadap kelemahan Taeyeon. Ia terlalu lemah untuk menerima kenyataan, ia terlalu sulit untuk bisa membuat sebuah kebohongan mengenai perasaannya.

“Nyanyikan lagu itu sebagai sebuah permintaan.”

Taeyeon memandang Jessica yang mengungkapkan kata-kata yang –menurutnya– tidak pantas untuk dirinya.

“Seperti yang ku katakan, kau hanya perlu menjelaskan maksud dari lagu tersebut dan membayangkan bagaimana ia tau kau memintanya untuk datang mendekat, memelukmu, dan memberikan kehangatan padamu–”

“–seperti aku yang menginginkan kalian tetap di sini. Nyanyikan lagu itu sebagai bentuk permintaan, yang didasari dari sebuah perasaan dan pengungkapan.”

“Taeyeon giliranmu!”

Ketiganya beralih pada manager mereka yang sudah berdiri di depan pintu ruang tunggu tersebut. Dengan ragu-ragu, Taeyeon melangkahkan kakinya menjauh dari Tiffany dan Jessica. Keluar dari ruang tunggu dan mulai memasuki panggung utama.

Tepat ketika Taeyeon berada di tengah panggung utama, alunan musik terdengar. Dalam pandangannya, kata-kata Jessica terus berputar di hadapannya. Sebelum akhirnya, intro lagu tersebut berhenti dan diselingi dengan suara Taeyeon, suara lembut Kim Taeyeon.

Haji mothan mari neomu manhayo
Hanbeondo dangshineun deutji mothaetjiman
Nae ape boyeojin nugungal aneunal
Saranghan geureon sarameun anieyo

Sesange geumaneun saramdeul soge
Naegen ojig geudaega boyeojyeotgie

Geudaeman bo myeo seoitneun geolyo
I sarang hooen nan jal moreugetseoyo
Aju eorinaiga hangsang geureohadeushi
Jigeum I sungan ddaseuhi annajullaeyo

Eonjenga natseo ireumi dweeodo
Nae gaseumi geu chueoki da gieokhaltenikka
Hogshirado apeun ibyeori ondaedo
Oneuleun geureon saenggakeun haji mayo

I sesang geumaneun saramdeul soge
Naegen ojig geudaega boyeojyeotgie

Geudaeman bomyeo seoitneun geolyo
I sarang hooen nan jal moreugetseoyo
Aju eorinaiga hangsang geureohadeushi
Deo gakkai deo ddaseuhi annajullaeyo

Ijen nan honjaga aningeoljo
Geu jarieseo oneul naege oh~
Geudaemani~

Geudaeman naye jeonbuingeolyo
I sarang hooen nan jal moreugetseoyo
Aju eorinaiga hangsang geurohadeuti
Deo gakkai deo ddaseuhi annajullaeyo

Deo gakkai
Deo ddaseuhi
Annajullaeyo

Usai lagunya, Taeyeon mendapatkan tepukan yang lebih meriah. Kali ini, dalam hatinya bukan pujian yang ia dapatkan, melainkan sebuah permintaan yang tak perlu dikatakan secara langsung. Hanya bernyanyi dan merasakan lagu tersebut, orang-orang akan tau kalau ia sedang berharap.

‘I don’t know about the future after our love’

‘Aku tidak tau apa yang akan terjadi setelah kisah kita. Tapi, ku harap, suatu saat nanti, kau akan datang, mendekat, dan peluk aku seperti aku yang akan datang memelukmu dengan kehangatan seorang anak-anak… gomawo untuk semuanya’

One response

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s