Happiness (Chapter 1)

Happiness.

Genre  : Romance.

Rating : NC-21

Cast     : Kim Myung Soo–Jung Eun Ji–other cast as showing.

Part 1

Cinta Pertama.

Dua kata mengenaskan yang pernah ditemui Jung Eun Ji. Mulai dari semua kebaikan yang dibuat oleh kekasihnya sendiri sampai maksud dari kebaikannya tersebut. Ia hampir mati gila karna semua omong kosong yang tidak memperbaiki hidupnya. Bahkan ia hampir saja memanggil semua laki-laki yang ia kenal untuk datang ke apartemennya setiap malam secara bergantian.

“Sudah ku katakan aku harus pergi! Carikan aku apartemen untuk sekedar membersihkan diri, cepatlah aku butuh mandi. Setelah itu jangan lupa memanggil orang untuk memperbaiki shower di apartemenku.”

Eun Ji bicara dengan nada suara yang ia tinggikan. Berharap agar lawan bicaranya tidak banyak bertanya dan langsung menjalankan perintahnya, karna ia benar-benar dalam kondisi terburu-buru.

Bosnya menelpon dan memintanya untuk datang ke kantor saat ini. Ia menunggu kehadiran Eun Ji dalam satu jam. Dan Eun Ji yakin ia akan terlambat, mengingat ia belum membersihkan diri dan shower di kamar mandinya mendadak rusak. Ia pun memaksa untuk dicarikan apartemen kosong dan menumpang membersihkan badan di kamar mandi, dan ia akan membayar akan hal itu.

Tak lama, pintu apartemennya diketuk. Yakin dengan orang yang berada di balik pintu apartemennya, ia pun meraih tas tentengnya dan membuka pintu apartemennya sesegera mungkin. Setelah menyadari bahwa dugaannya tepat, ia pun mengikuti pelayan menuju tempat yang sudah disiapkan.

Sebuah pintu di lantai 4 tempat apartemennya berada terbuka. Terlihat sepi dan kosong, tapi apartemen itu berisi. Sejenak Eun Ji mengira bahwa pemiliknya sedang pergi sehingga ia bisa menggunakan kamar mandi yang berada di apartemen nomor 287.

“Anda bisa menggunakan kamar mandi di sini. Ini kunci cadangannya, anda bisa menyerahkan kuncinya di pusat informasi nanti. Kalau begitu, saya permisi.”

Pelayan itu membungkukkan badannya dan kemudian menghilang di balik pintu. Eun Ji tidak terlalu memperdulikan pemilik apartemen, yang ia lakukan detik berikutnya adalah memasuki kamar mandi dan membersihkan dirinya secepat yang ia bisa.

Usai membersihkan dirinya, Eun Ji menyiapkan dirinya serapi mungkin. Dengan rok sepanjang lutut dan atasan yang terkesan modeling, ia melihat bayangan dirinya. Cukup sempurna untuk 30menit.

***

Kim  Myung Soo memaksakan dirinya melangkah keluar dari apartemennya. Kakinya membawanya menuju ruang tunggu, dan disanalah ia sekarang. Menunggu apartemennya kosong dan ia bisa dengan bebas bermalas-malasan di hari minggunya.

Menjadi seorang pemilik gedung yang terdiri dari banyak apartemen di dalamnya memang sangat menyita waktu istirahatnya. Bahkan terkadang keluhan setiap pelanggannya membuahkan sebuah pengorbanan dalam hidupnya. Contohnya untuk saat ini.

Baru saja, seorang wanita menelpon ke pusat pelayanan dan meminta untuk dicarikan apartemen untuk sekedar membersihkan dirinya. Bagaimana mungkin apartemen yang sudah dibeli oleh orang lain bisa disewakan dengan mudahnya kepada orang yang tidak mereka kenal? Jadi, pada akhirnya, ia pun harus mengalah dan memberikan apartemennya sebagai tempat membersihkan diri.

Myung Soo melirik jam tangannya, 20 menit berlalu dan ia belum melihat tanda-tanda wanita itu melewati ruang tunggu. Walaupun kemungkinan untuk menemui wanita itu hanya sedikit mengingat dirinya yang tidak tahu pasti wajah wanita itu, namun ia tetap memastikan ada wanita yang sedang terburu-buru.

Tepat pada menit ke 30, Myung Soo menemukan seorang wanita–yang menurutnya cukup cantik–melewati ruang tunggu sambil berlari. Ia mengambil kesimpulan bahwa wanita itu sudah keluar dari apartemennya. Dengan perasaan puas, ia kembali melangkah ke apartemennya.

Myung Soo meletakkan tangannya tepat di pegangan pintu sebelum akhirnya mencoba untuk mendorong dan membuka pintu. Dan tepat seperti dugaannya, wanita itu memang sudah pergi.

Lima langkah pertama ia lalui dengan perasaan bebas. Dan lima langkah berikutnya ia lalui dengan perasaan khawatir. Perasaan khawatirnya itu muncul setelah seorang gadis dengan paras yang hampir memenuhi syarat seorang pramugari, muncul dan menatapnya bingung. Dan detik berikutnya, gadis itu berusaha untuk teriak.

Myung Soo tidak tahu apa alasan ia berlari ke arah si gadis dan menutup mulutnya, dan setelah suara gadis itu tidak lagi terdengar, baru lah ia melepas bekapannya dan mengadu mata mereka berdua.

“Kau siapa?”

Myung Soo mendapati gadis itu bersuara, suaranya terdengar lembut. Benar-benar seperti suara seorang bidadari. Tunggu… apa yang baru saja ia pikirkan?

“Aku pemilik apartemen ini.” jawab Myung Soo bangga. “Kau sudah selesai?”

“Namamu.”

Tanpa menjawab pertanyaan Myung Soo, gadis itu mengatakan sesuatu yang seharusnya menjadi sebuah pertanyaan. Namun, justru terdenagr seperti sebuah perintah. Tidak mau mempersulit suasana, Myung Soo pun menjawabnya santai.

“Kim Myung Soo. Ku rasa kau sudah selesai dengan urusanmu, jadi sebaiknya kau keluar sekarang.”

Gadis tanpa nama, atau tepatnya gadis yang tidak ingin Myung Soo ketahui namanya, keluar tanpa memberikan sedikit kata salam atau pun terima kasih. Mendadak, Myung Soo merasakan dirinya mengalami perubahan suasana. Gadis tadi mengganggu, sangat.

Apa dia tidak pernah mendengar kata terimakasih sebelumnya?

***

“Kau terlambat 10menit Jung Eun Ji.”

Eun Ji menundukkan kepalanya dan melirik jam tangannya sekilas. Hanya sepuluh menit, belum mencapai satu atau bahkan sepuluh abad.

“Sebaiknya kau selesaikan lagu barumu sekarang karna artis kita menunggu lagunya hari ini.”

Satu kalimat, dan satu kejutan. Artis kita? Bagaimana bisa ia menyebut orang-orang yang tidak berbakat itu sebagai artis? Sungguh memalukan.

“Akan ku usahakan. Hanya perlu menambah beberapa lirik dan mengaransemenkan jenis musiknya. Kalau dugaanku tepat, dalam waktu 2 jam lagu itu sudah siap di tangan mereka.” Mereka yang menjadi artismu, bukan artisku.

“Bagus. Kau bisa masuk ke ruanganmu sekarang. Ingat, harus selesai hari ini, jangan sampai menundanya dan mengecewakan semua yang menunggumu.”

Eun Ji mengangguk dan membungkukkan badan sejenak sebelum akhirnya memasuki ruangannya. Dengan pensil dan beberapa kertas yang sejak seminggu lalu menjadi makanannya, ia mulai menguras otaknya. Usai sudah satu lagu, ia beralih pada piano kesayangan yang masih menjadi milik perusahaan.

Andaikan kau milikku, tidak akan ku biarkan mereka menyuruhmu memainkan lagu yang bukan milikmu.

Dengan keseriusan yang tidak bisa ditandingi, Eun Ji membiarkan jari-jarinya menari di atas piano sedangkan mulutnya berusaha menyamai aransemen lagu dan liriknya. Begitu ia merasa ada sesuatu yang salah, maka dengan senang hati ia menghentikan permainan dan memperbaikinya.

Bukankah seorang artis melalukan hal yang seperti ini? bekerja keras untuk hasil yang sempurna dari tangan mereka sendiri. Seperti sekarang, seperti yang Eun Ji lakukan. Hanya saja, seorang Jung Eun Ji tidak pernah dilihat, melainkan diperbudak.

***

Merasa suasana dirinya berubah, ia pun mencoba mencari hiburan. Satu-satunya tempat yang pertama kali berada dalam benaknya, tidak lain dan tidak bukan adalah studio foto. Namun, begitu melihat studio musik di sebelah studio foto langgananya, otaknya menolak untuk mengambil gambar di studio foto.

Perubahan suasana pada diri sendiri terkadang bisa membawa kabar baik.

Di lobi gedung studio musik itu terlihat sepi. Tapi, suasana berubah begitu Myung Soo melewati satu ruangan. Ruangan yang cukup besar dengan beberapa orang di dalamnya. Tanpa basa-basi dan tanpa permisi, Myung Soo menekan tombol capture dalam kameranya.

Puas dengan gambar yang diambilnya, ia pun kembali melangkah. Kali ini ruangan yang sama kembali ia mengambil beberapa gambar mengenai kejadian di dalam ruangan. Mulai dari enam wanita yang sedang dirias, seorang produser–sepertinya–yang sedang bergurau dengan beberapa kameramen di sebelahnya, dan seorang wanita yang sedang bicara dengan laki-laki separuh baya di depannya.

Seperti di lempat batu besar, Myung Soo kembali memperhatikan foto yang baru saja ia ambil. Seorang wanita dan seorang laki-laki paruh baya. Bukan kejadian di foto tersebut yang menarik perhatian Myung Soo, tapi wajah wanitanya lah yang menarik perhatian Myung Soo.

Myung Soo mengerjap. Jadi, gadis itu bekerja di studio musik? Apa posisinya? Apa ia di sini untuk bernyanyi?

Kembali kekenyataan. Myung Soo memperhatikan gadis yang tadi meminjam apartemennya untuk membersihkan badan, keluar dari ruangan tempat Myung Soo sekarang berdiri. Tanpa paksaan, Myung Soo melangkah keluar, mengikuti gadis itu menuju ruangan lainnya.

Pintu terbuka dan kemudian tertutup kembali. Gadis itu lenyap di balik pintu yang kini berada di hadapan Myung Soo. Ada rasa penasaran yang menyinggapi diri Myung Soo, sebelum akhirnya ia membuka pintu tersebut.

Kosong. Tidak ada orang di ruangan tersebut. Kemana gadis itu?

Myung Soo memperdalam langkahnya menjelajahi ruangan tersebut. Setelah sepuluh langkah pertama, ia yakin telinganya menangkap serangkaian nada piano yang dimainkan dengan sangat lembut. Kali ini keraguan menyelimuti Myung Soo, apa ia harus melihat apa yang terjadi di sana?

Jawabannya adalah kakinya yang melangkah ke dalam ruangan tersebut.

Matanya menatap gadis yang tadi di temuinya dengan saksama, sesekali kameranya ia gunakan untuk mengambil gambar gadis yang saat ini duduk di berhadapan dengan sebuah piano dan menjelajahi pianonya. Tanpa sadar, sebuah senyum terlukis di wajah Myung Soo.

Myung Soo melihat gadis itu tersenyum dan kembali bernyanyi. Suaranya lembut, persisi seperti pertama kali Myung Soo mendengar suara gadis itu. Meskipun ia sendiri tidak tahu bagaimana persisinya isi lagu tersebut, karna untuk saat ini, suara gadis itu lah yang paling menyita perhatiannya.

Gakkeumen buranhajiman jideuncheoreom neol mideullae
Yongwhonhi nae gyeoteseo hamkkehaejwo igoseseo my love

Naman aneun bimilseureon muneul yeorro chodaehalge

Datyeoitdeon nae mam kkok yeorojun neorul wihae
Neoman anaeun naui jeongwon yeah
Dulman aneun bimilseuron gobaekdeureul soksagyeojwo yeah
Amudo moreul uri dulmanui iyagi
Muni yeollimyeon sarangi sijakdeoneun got

Jigeum isungan nunbusin haruwa hamkke

Secret Garden–Apink

Terbawa suasana, Myung Soo menempelkan tangannya beberapa kali yang menimpulkan suara tepukan. Gadis di hadapan piano itu memasang tampang tidak suka yang membuat Myung Soo salah tingkah.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

***

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Eun Ji. Jelas tidak senang dengan adanya kehadrian oranglain diruangannya, laki-laki dihadapannya bahkan memasuki ruangannya tanpa permisi ataupun mengetuk pintu.

Untuk sesaat Eun Ji merasa Lee Kyung Won–cinta pertamanya–lebih baik dibandingkan laki-laki yang tadi pagi memperkenalkan dirinya sebagai Kim Myung Soo.

“Hanya sekedar lewat. Kebetulan aku mendengar suara piano di luar, jadi aku masuk saja. Lagipula pintu di depan tidak dikunci.”

Eun Ji tertawa renyah menanggapi alasan Myung Soo. Bukannya ia menganggap alasan Myung Soo tidak masuk akal, tapi ia tahu kalau setiap ruangan yang ada di studio musik ini dibuat dengan desain kedap suara. Jadi, mustahil kalau Myung Soo mendengar suara piano dari depan.

“Terserah apa katamu.” Tanggap Eun Ji acuh.

Eun Ji kembali ke belakang pianonya dan mulai menekan tuts-demi­-tuts yang menarik perhatiannya. Sedangkan Myung Soo menyapu penglihatannya, memandangi sudut-sudut ruangan yang kini ia datangi.

“Siapa namamu?”

Eun Ji menoleh mendengar Myung Soo bersuara. Kembali mengalihkan pandangannya dari Myung Soo, ia berkata, “Jung Eun Ji.”

“Sepertinya aku tidak pernah mendengar ada penyanyi yang bernama seperti itu.” kata Myung Soo, “Apa kau memakai nama panggung?”

Untuk yang kedua kalinya, Eun Ji melemparkan tatapan tidak sukanya pada Myung Soo. Namun, sejauh yang ia tahu, Myung Soo tidak mengenal dirinya dan ia juga tidak mengenal Myung Soo. Lalu, apa yang membuat Myung Soo berpikir bahwa ia seorang penyanyi?

“Apa yang membuatmu berpikir kalau aku seorang penanyi?” Eun Ji menyampaikan pikirannya.

“Suaramu,” Myung Soo menjawabnya dengan mudah. “Suaramu terkesan lembut dan indah. Bukankah itu sudah cukup untuk membuktikan kalau kau adalah seolah penyanyi? Atau mungkin…”

Eun Ji mengalihkan perhatiannya pada pintu ruangannya yang baru saja diketuk,  dan beberapa detik kemudian dua orang bertubuh kekar memasuki ruangannya.

“PD-nim menunggu anda untuk proses rekaman. Ia berharap anda tidak melupakan tugas anda untuk memainkan musik, selagi mereka bernyanyi.” Ucap salah satu dari dua laki-laki itu.

“Aku akan segera ke sana.” Jawab Eun Ji singkat.

Tanpa menunggu lama, laki-laki itu sudah keluar dari ruangan Eun Ji. Menyisahkan Eun Ji dan pertanyaan Myung Soo yang masih belum terjawab.

“Jadi, kau….”

“Ya. Aku Jung Eun Ji, music distributor.

***

Myung Soo terperangah beberapa saat begitu mendengar pengakuan Eun Ji. Gadis itu tidak bernyanyi, ia hanya menulis lirik lagu dan menciptakan atau terkadang mengaransemenkan musiknya. Benar-benar tidak masuk akal.

Bagaimana bisa suara selembut itu disia-siakan?

Myung Soo memperhatikan enam wanita yang tadi ia lihat berdiri membentuk barisan, mulai dari yang paling cantik di tengah dan paling tinggi di belakang. Myung Soo tahu mereka, tapi tidak tahu jika penulis lagu mereka memiliki suara yang jauh lebih indah dibandingkan suara mereka. Bagaimana bisa?

Selama rekaman, yang diperhatikan Myung Soo tidak lain dan tidak bukan adalah Jung Eun Ji. Gadis dengan suara emas yang tidak bernyanyi. Gadis itu memainkan pianonya dengan sangat lihai. Berbeda ketika di dalam ruangannya yang lebih lembut dan berperasaan, Myung Soo tahu Eun Ji merasa diabaikan. Dan Myung Soo menyadari kekecewaan dari wajah gadis itu.

Jam menunjukkan pukul 7malam ketika Eun Ji keluar dari studio musik. Gadis itu tidak langsung berjalan menuju arah apartemennya, ia berjalan menuju tempat lain. Dan Myung Soo menyadari arah gadis itu. Bantaran kali.

Untuk yang pertama kalinya Myung Soo merasa dibodohi. Untuk apa ia datang ke tempat seperti ini selama ia masih mempunyai apartemen luas dengan berbagai fasilitas.

Sebenarnya apa yang ada dipikiran gadis ini? Bahkan ia tidak protes sedikitpun tentang keberadaanku yang sudah terlihat seperti seorang penguntit.

“Kau tidak keberatan mengikutiku sampai sejauh ini?”

Myung Soo hampir saja menarik tangan gadis itu dan mengajaknya pergi ketika ia merasakan sesuatu melewati kakinya. Tidak terlalu mengerikan, tapi setidaknya itu mengejutkannya.

“Aku masih tidak tahu apa yang ada pikiranmu. Seperti sebuah teka-teki.” Jawab Myung Soo asal.

Eun Ji berhenti melangkah, spontan Myung Soo pun melakukannya. Bukan jawaban Myung Soo yang menjadi alasan Eun Ji untuk berhenti melangkah. Tapi, keberadaan beberapa anak kecil lah yang membuat gadis itu tersenyum dan merentangkan kedua tangannya.

Anak-anak pinggiran? Jadi, gadis itu ke sini hanya untuk menemui anak-anak pinggiran? Benar-benar seperti bidadari.

Lamunan Myung Soo buyar ketika seorang anak perempuan menarik tangannya dan membawanya kembali ke dunia nyata. Untuk beberapa saat, Myung Soo tidak tahu harus berkata apa. Yang ia lakukan hanya menatap Eun Ji yang juga menatapnya bingung.

“Sebaiknya kita masuk sekarang. Udara di sini cukup dingin, akan ku ceritakan lagu baruku hari ini pada kalian.” Sahut Eun Ji, tanpa sadar menyelamatkan Myung Soo dari anak-anak kecil tadi.

Layaknya seorang bodyguard, Myung Soo mengikuti arah jalan Eun Ji dan anak-anak yang dituntunnya. Ia suka melihat pemandangan di depannya. Seorang gadis yang sangat cantik, menuntun anak-anak kesayangannya menuju rumah mereka. Benar-benar sosok yang sempurna.

Tunggu. Sejak kapan aku mulai memujinya? Myung Soo memukul kepalanya, membuang jauh-jauh semua pikirannya mengenai Jung Eun Ji.

Hanya butuh dua menit untuk sampai di tempat tinggal anak-anak pinggiran. Hanya ada dua rumah sederhana yang disusun dari berbagai kardus, dan satu balai yang cukup besar untuk tempat berkumpul. Dalam hatinya, Myung Soo masih mensyukuri apa yang ia punya, dan tanpa suara pun ia mendoakan akhir dari keadaan sulit yang anak-anak pinggiran alami.

Sementara Eun Ji mengajak anak-anak bicara, bergurau, dan–terkadang–berakting menangis dan tertawa layaknya seorang bos. Myung Soo menyadari satu hal, satu hari ini, ia belum melihat Eun Ji menampilkan ekspresi seperti itu, ekspresi tertawa, bahkan tersenyum dengan matanya yang ikut menyipit. Ekspresi yang mengatakan bahwa ia memang sedang melupakan semua masalahnya…

Ahjussi!

Myung Soo menoleh mendapati seseorang memanggil dirinya dengan sebutan ‘Ahjussi’. Ia merasa dirinya terlihat tua di mata anak-anak tersebut. Masih tidak tahu kata apa yang pantas keluar dari mulutnya, ia pun melirik Eun Ji. Gadis itu seperti menunggu dirinya bicara.

“Ya. Ada apa?” tanya Myung Soo hati-hati.

Ahjussi siapa? Kenapa tiba-tiba ada di sini?”

Ahjussi pacar baru Eun Ji eonni, ya?”

“Apa Ahjussi mau mendengar ceria eonni juga?”

Dengan napas yang tertahan, Myung Soo memandang satu persatu anak pinggiran yang menekannya dengan berbagai pertanyaan. Satu saja tidak terjawab, apalagi yanglainnya.

“Hei,” Eun Ji menengahi, “Bagaimana Ahjussi mau menjawab kalau kalian terus menerus menyerangnya dengan pertanyaan yang sangat-sangat-tidak-sopan.”

“Apanya yang tidak sopan eonni? Kami hanya ingin tahu siapa paman itu, dan kenapa ia bisa ada di sini. Apa ia akan melakukan hal yang sama seperti Kyung Won Oppa?”

Myung Soo merasa dirinya dipojokkan. Kyung Won Oppa? Siapa yang mereka maksud dengan Kyung Won? Dan, apa yang dilakukan Kyung Won terhadap mereka?

Rasa penasarannya pun memimpin argumentasi dirinya sendiri. Tidak peduli dengan tatapan menusuk Eun Ji yang di arahkan padanya, ia tetap memaksakan diri untuk bertanya.

“Siapa yang kalian maksud dengan Kyung Won Oppa?”

***

“Apanya yang tidak sopan eonni? Kami hanya ingin tahu siapa paman itu, dan kenapa ia bisa ada di sini. Apa ia akan melakukan hal yang sama seperti Kyung Won Oppa?”

Eun Ji merasakan dirinya mulai memanas. Bukan karna sikap aneh Myung Soo ataupun sikap menyebalkan ZIA–nama kelompok anak-anak pinggiran–melainkan karna nama Kyung Won yang tadi sempat tersebut oleh Minhwa, salah satu anak tertua di ZIA.

“Siapa yang kalian maksud dengan Kyung Won Oppa?”

Kali ini, bukan hanya memanas. Eun Ji sadar akan emosinya yang mengubah moodnya. Tidak ingin mendengar pembicaraan, ia pun memutuskan untuk bangkit dari tempatnya dan berjalan menajuh sebelum akhirnya salah satu dari ZIA memanggil namanya.

Eonni-ya! Kenapa tiba-tiba masuk ke dalam?” teriak salah satu ZIA yang biasa dipanggil Eun Ji dengan sebutan Kensy.

Eun Ji menarik sedikit bibirnya dan berkata, “Akan ku buatkan kalian makanan, lanjutkan saja mengobrol dengan Ahjussinya.”

Eun Ji tahu ia baru saja membohongi anak-anak ZIA yang sudah seperti saudaranya. Selain itu, ia juga sudah membohongi dirinya yang sempat mengaku tidak membenci Kyung Won. Andai saja waktu bisa terulang kembali, mereka pasti tidak akan berada di sini.

Eun Ji menyiapkan beberapa kue ringan yang tadi sempat dibelinya di pinggir jalan. Hanya perlu menyusun kue tersebut di atas nampan yang terbuat dari kardus dan ia pun siap menghadapi tatapan Myung Soo. Ia yakin anak-anak itu pasti sudah memberitahu semuanya.

Namun, belum sempat Eun Ji beranjak dari tempatnya. Suara krasak-krusuk terdengar dari luar dan anak-anak berlarian memasuki rumah tempat Eun Ji mempersiapkan kuenya. Eun Ji mengerjap. Sebagian dari anak-anak yang lari memasuki rumah memilih untuk berdiri di belakang Eun Ji, dan sebagiannya–yang berusia lebih tua–memilih untuk berdiri di belakang Myung Soo.

Satu hal yang Eun Ji sadari, anak-anak itu sedang ketakutan. Ada sesuatu atau mungkin seseorang yang membuatnya ketakutan dan memilih untuk bersembunyi di belakang orang yang lebih tua. Bahkan, Minhwa pun berdiri di samping Myung Soo sambil menyenderkan dirinya pada Myung Soo.

“Ada apa?” tanya Eun Ji.

Tidak ada yang berani menjawab. Satu di antara mereka mengarahkan tangannya ke arah pintu. Eun Ji tidak melihat siapa pun di sana kecuali Myung Soo dan beberapa anak-anak tertua. Dan detik selanjutnya, Eun Ji menyadari perbedaan yang terlihat di raut wajah Myung Soo.

Laki-laki itu terlihat seperti menantang dan meremehkan. Matanya ia sipitkan dan mulutkan terkunci rapat. Ia tahu Myung Soo sedang berusaha melindungi anak-anak ZIA.

Takut terjadi sesuatu yang fatal, Eun Ji pun melangkah keluar.

Matanya terbuka menyadari sosok yang tengah berdiri menatap Myung Soo, tatapan yang sama dengan tatapan yang diberikan Myung Soo. Bahkan ia menantang orang yang tidak dikenalnya, cih.

“Kyung Won.” Panggil Eun Ji perlahan. Memecah kesunyian dan menghentikan perang tatapan kedua laki-laki tersebut.

“Lama tidak bertemu Eun Ji. Bagaimana kabarmu?”

Eun Ji mendapati dirinya mendengarkan Kyung Won yang kembali melesatkan omong kosongnya. Tangannya tergerak dan terlipat di depan dadanya. Tanpa mendapat aba-aba atau perintah, Kyung Won memajukan dirinya satu langkah pada Eun Ji.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Eun Ji masih dingin.

“Hanya melihat-lihat.” Jawab Kyung Won, “Ku pikir tempat ini cukup bagus juga untuk dijadikan proyek baru. Bagaimana menurutmu?”

“Lebih baik kau menutup mulutmu dan pergi dari sini sebelum kupanggil polisi.”

Kyung Won tertawa meremehkan.

“Aku tidak sedang bercanda, bodoh.”

Tawanya berhenti, ia memandang Eun Ji lebih serius. “Atas tuduhan apa kau melaporkanku? Dan ah, siapa dia?” Kyung Won menunjuk Myung Soo dengan telunjuknya. “Korban selanjutnya?”

Eun Ji merasakan tangannya mengepal. Ingin rasanya memukul Kyung Won saat ini.

“Tutup mulutmu, bodoh.”

“Ada apa Eun Ji-ah? Bukankah itu yang kau inginkan? Ah tunggu, apa ia tidak tahu kebiasaanmu? Apa kau tidak mengatakan yang sebenarnya padanya? Oh, pasti mengerikan Eun Ji-ah.”

Eonni sudah tidak melakukan hal itu!”

“Anak kecil tahu apa? kau bahkan masih mau mengikuti eonni yang selalu mengganti pasangannya setiap malam.”

Emosinya semakin meluap mendengar pernyataan Kyung Won pada Minhwa. Tanpa sadar, Eun Ji melangkah mendekati Kyung Won. Hanya tersisa beberapa centi untuk menggapai laki-laki itu dan menamparnya di depan anak-anak ZIA.

“Pergi sekarang Kyung Won-ssi.”

“Jadi, setelah bertemu dengan laki-laki ini, kau sudah belajar untuk menghormatiku? Sungguh luar biasa Eun Ji-ah.

“Ku bilang pergi.”

“Baiklah. Ku rasa kau sudah tau dimana dan kapan kau bisa menelponku untuk sekedar membantumu dari efek obatmu itu.”

“Tidak, dan pergi.”

Kyung Won tak lagi menjawab setelahnya, laki-laki itu memilih untuk pergi dengan sejuta kepuasan terpampang di wajahnya.

Eun Ji memegang kepalanya. Sakit. Setiap kali mereka bertemu, pasti ada yang tersakiti. Entah itu Eun Ji atau anak-anak ZIA. Dan Eun Ji akan pastikan, setelah hari ini, Kyung Won tidak akan bisa menampakkan diri di hadapan ZIA.

Eun Ji memutar tubuhnya dan mendapati anak-anak yang datang menenangkannya. ZIA keluargaku, dan aku keluarganya. Satu tersakiti, semua merasakannya. Tidak akan ada perih setelah ini.

Berbagai ucapan penenang keluar dari mulut anak-anak itu, termasuk Minhwa dan terkecuali Myung Soo. Laki-laki itu kini menatapnya tajam, raut wajahnya tidak bisa ditebak. Eun Ji yakin Myung Soo mengerti maksud perkataan Kyung Won, dan ia juga yakin kesimpulan yang di buat Myung Soo berbeda dengan kenyataan yang dijalaninya.

Myung Soo menggerakkan tubuhnya. Berjalan mendekat tanpa melepas pandangannya.

“Aku menunggu penjelasanmu, Eun Ji.”

TBC

6 responses

  1. Wow, ini ff Kim Myung Soo pertama yang paling menarik perhatianku. Gaya tulisan dan bahasanya aku suka, oke banget *AcunginJempol

  2. Haiiiii…..aku reader yang masih sangat baru disini… sudah baca part 1 dan bikin penasaran.. awal yang bagus untuk bikin reader penasaran dengan part2 berikutnya…
    Hhehehehhehe…
    Aku baca part2 dulu yaaaa🙂

  3. annyeonghaseo, ijin baca ff nya ea, soalnya critanya menarik hehe q udah baca ditempat lain tpi cuma sampai part 2, coba cari yg part 3 ketemu disini😀 jadi q baca ea buat ngurangi rasa penasaran q ma ending critanya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s