Lost (Chapter 1)

Lost.

Genre : romance–sad.

Rating : General

Cast     : Shin Hye Rin–Jeon Jung Guk–Kim Tae Hyung–Byun Baek Hyun–BTS–EXO–dll.

Part 1

Laki-laki paruh baya dengan pakaian formal, membuka pintu salah satu ruang utama Gedung Universitas Seni Korea Selatan. Untuk beberapa saat, hiruk pikuk di dalam ruangan tersebut terhenti dan digantikan dengan salam hormat seluruh siswa kejurusan seni teater. Sunyi sejenak, semua siswa terlihat menundukkan kepala dan menahan suara mereka.

Krik.

Seolah memang panggilan, dengan serentak semua orang yang berada di dalam ruangan tertutup tersebut menganggkat kepalanya melihat siapa yang baru saja datang dan mencoba memancing amarah guru mereka.

Reaksi pertama yang dikeluarkan guru mereka, jauh berbeda dengan apa yang ditunjukkan oleh seluruh siswa. Lelaki paruh baya yang mereka sebut sebagai guru jelas menunjukkan senyum sumrigah dan mengganggukan kepalanya seperti memberi kode untuk masuk. Sementara siswa-siswanya sibuk berkomentar dan memandangi gadis yang kini berada di sebelah guru mereka.

“Baiklah. Tanpa basa-basi, akan kukenalkan kalian dengan teman baru kalian. Shin Hye Rin, kau bisa memperkenalkan dirimu sekarang.” kata Kim songsaenim tegas.

Hye Rin menunduk dan memberikan salam hormat pada guru barunya sebelum ia memperkenalkan dirinya, “Annyeonghaseyo, naneun Shin Hye Rine imnida. Mahasiswi jurusan musik dan tari yang ingin belajar lebih banyak tentang seni teater. Mohon bantuannya.” Katanya seraya membungkukkan badannya sekali lagi.

Tidak ada respon yang terdengar ataupun balasan dari salam perkenalan Hye Rin. Yang terlihat dari tempat Hye Rin saat ini adalah kegiatan bisik-membisik satu siswa dengan siswa yanglainnya. Bukannya tidak peduli, hanya saja Hye Rin merasa tahu apa yang teman barunya bicarakan. Pasti tidak lain dan tidak bukan, mereka membicarakan hubungan Hye Rin dengan salah satu senior favorit di Universitas ini.

“Kami sedang mempersiapkan pentas untuk beberapa minggu ke depan. Untuk saat ini, kami masih mencari pemeran yang tepat. Mungkin kau bisa, bagaimana kalau mencobanya?”

Hye Rin kembali memutar kepalanya pada Kim songsaenim, gurunya itu baru saja menawarkan peran untuknya. Hye Rin mengangguk, tidak ada alasan baginya untuk menolak tawaran bagus seperti itu.

Kim songsaenim memanggil salah satu siswanya. Untuk sejenak pandangan mereka bertemu. Hye Rin memandang wanita yang terlihat lebih tua darinya, sambil terus bertanya pada dirinya apa ia pernah bertemu dengan wanita dihadapannya sebelum akhirnya gadis itu pergi.

Butuh satu menit untuk menyadari tatapan Kim songsaenim, tidak ada kata yang keluar dari mulut Hye Rin selain permintaan maaf. Dengan segera ia mengumpulkan semua fokusnya dan kembali memperhatikan wanita yang kini berjalan ke arahnya.

“Satu naskah untuk satu adegan. Karna hari ini hari pertamamu, dan kami belum bisa menerima kemampuanmu. Jadi, ku rasa kita bisa mencoba satu adegan untuk membuktikannya.”

Hye Rin mengangguk mendengar penjelasan wanita di hadapannya, lalu meraih naskahnya dan tersenyum sekilas sebelum akhirnya berjalan mengikuti wanita itu ke dalam ruang ganti.

“Apa yang harus ku pakai?” Hye Rin mendapati dirinya bersuara. Terlalu pelan sampai ia sendiri yakin hanya dirinya yang mendengar pertanyaannya. Apa ia gugup?

Seperti dugaannya, semua–wanitayang berada di dalam ruangan tersebut memang tidak mendengar pertanyaannya. Untuk sesaat Hye Rin merasa diabaikan, tapi hanya sesaat sampai akhirnya seorang wanita yang berada didekatnya menegur dan memperkenalkan dirinya.

“Menurutmu, apa yang harus ku pakai?” Hye Rin mengulang pertanyaannya. Kali ini jelas terdengar sampai ke telinga Tae Yong–wanita pertama yang menjadi temannyadan wanita itu mengarahkan jarinya ke salah satu tumpukan baju yang ada di ruangan.

“Untuk adegan seperti ini, kau hanya perlu memakai baju itu.” kata Tae Yong sambil terus memamerkan senyumnya.

Cantik. Satu kata dan komentar pertamanya untuk Tae Yong. Gadis itu memang cantik, bahkan bisa lebih cantik ketika tersenyum. Kulit pucat Tae Yong mendukung bibir merah mudanya, pipinya yang sedikit berisi menambah kesan manis, dan matanya memberi kesan hidup. Hye Rin merasa sedikit tersingkir, bukan karna ia tidak cantik. Tapi karna ia merasa ia baru saja dikalahkan. Dalam hal kecantikan tentunya.

“Berapa umurmu?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Hye Rin, dan ia mengutuk mulutnya yang tidak sungkan-sungkan mengakatan hal tidak senonoh pada orang yang baru saja dikenalnya. Matilah kau Shin Hye Rin.

“20.” Jawab Tae Yong. “Aku 20 tahun dan kau 18 tahun bukan?”

Hye Rin mengangguk, “Bagaimana eonni bisa tahu? Ku pikir ini pertama kalinya kita bertemu.”

“Ini pertama kalinya untukmu, tapi aku sudah sering melihatmu keluar–masuk gedung teater. Aku bukan penguntitmu, tapi ku rasa saat itulah kau sedang mengurus kehadiranmu. Dan yah, aku merasa tua dengan panggilanmu itu.”

Hye Rin mengangguk-anggukkan kepalanya lagi, di susul dengan tawa ringan dan ia berkata, “Bukankah itu yang seharusnya ku katakan? Aku hanya merasa tidak sopan jika memanggil nama orang yang lebih tua.” Jelas Hye Rin.

Tae Yong menarik napas dan membuangnya perlahan.

“Pertama,” kata Tae Yong memulai pidatonya. “Yah, aku memang lebih tua darimu. Tapi kurasa tidak ada salahnya jika kau memanggilku dengan nama. Hanya sekedar memastikan tidak ada kecanggungan. Dan kedua,” ia memberikan jeda sejenak sebelum melanjutkan, “Sebaiknya kau lanjutkan saja menghapal naskahmu. Sebentar lagi mereka, termasuk Kim songsaenim, akan menguji kemampuanmu. Ku harap kau menampilkan seluruh kemampuanmu dan menjadikan dirimu pemain utama, karna aku tidak setuju kalau Gun Kyu-ssi yang menjadi pemera utama. Dia terlalu angkuh….”

Hye Rin membuka mulutnya, ingin memotong tapi tidak mempunyai kesempatan. Ini pertama kalinya ia merasa diceramahi, biasanya ia hanya akan dimarahi dengan beberapa kata-kata membosankan. Tapi Tae Yong benar-benar menceramahinya. Lebih dari menceramahi.

“Hye Rin-ssi, kau bisa mengganti pakaianmu sekarang. Adeganmu akan segera dimulai!”

Mendengar namanya disebut, Hye Rin menengok dan mengatakan ‘Ya’ dan beberapa detik kemudian ia sudah mengenakan pakaiannya. Sedangkan Tae Yong, sebagai senior, harus menunggu di luar dan bersiap akan gilirannya.

Hye Rin duduk menghadap kaca di depannya, mengoles sedikit bedak dan beberapa peralatan make up lainnya di wajanya. Usai merias dirinya, ia memandang kembarannya yang tidak nyata dan tersenyum, satu usaha satu hasil, satu tekat satu kemauan dan banyak hasil.

***

Tujuh laki-laki tampan yang sangat diidolakan di Universitas Seni Korea Selatan, menggerakkan kaki mereka bergantian sambil terus menggumamkan hal-hal yang hanya dimengerti oleh mereka.

Melewati beberapa pintu dan beberapa wanita yang menatap mereka kagum, ke tujuh laki-laki yang menyebut diri mereka sebagai Bangtan atau BTS, berjalan menuju pintu keluar Gedung teater di Universitas mereka.

Sebagian anggota Bangtan adalah siswa jurusan tari dan sebagiannya merupakan siswa juruan musik. Banyak yang mengenal mereka karna ketampanan dan kegentle-lan mereka, berbeda dengan senior mereka yang–menurut mereka–tidak bisa dikatakan laki-laki.

Satu wanita melihat mereka, seisi ruangan berlarian keluar untuk sekedar melihat mereka. Dan ketika jalan mereka terhalangi, mau tidak mau mereka pun menghentikan langkahnya dan memamerkan senyum sejenak.

Sambil mengangkat tangan dan memberikan tatapan yang bisa membunuh setiap wanita yang melihatnya, mata mereka pun tak ada hentinya mengelilingi sudut demi sudut gedung teater, mecari celah untuk keluar dari lautan penggemar mereka.

Satu pintu di sisi kanan terbuka. Kim Taehyung atau yang terkenal dengan nama V, menyadari mimpi buruk yang akan terjadi seandainya ada wanita lain di dalam ruangan dengan pintu terbuka. Dengan sangat hati-hati, V berjalan ke arah pintu dan meraih pegangan pintu tersebut.

Baru saja ia berniat untuk menutup pintu itu ketika matanya mengangkap seorang wanita dan satu-satunya orang yang berada di dalam ruangan tersebut sedang merias dirinya di depan cermin besar. Entah tidak menyadari keberadaannya atau wnaita itu memang mengabaikan keberadaan V, dengan segera ia menarik pegangan pintu. Namun, hasilnya nihil.

Apa yang terjadi?

Waktu seaka berhenti ketika V melihat wanita itu tersenyum pada dirinya sendiri di depan cermin. Wanita dengan balutan mini-dress sederhana berwarna merah tampak menyilaukan mata V di tempatnya berdiri. Tanpa suara dan tanpa kedipan.

V tau dirinyalah yang menolak untuk menutup pintu. Seandainya ia menutup pintu, ia tidak yakin akan melihat senyum itu lagi. Seandainya ia menutup pintu, ia yakin ia akan sangat menyesal. Seandainya ia menutup pintu, ia tahu rasa penasarannya akan semakin membesar. Tapi seandainya ia tidak menutup pintu…

“V? Apa yang terjadi?” suara Jin di belakangnya meneruskan kemungkinan yang akan terjadi.

Ya. Seandainya ia tidak menutup pintu, maka semua member Bangtan akan menghampirinya dan bertanya seperti apa yang baru saja ditanyakan Jin.

Dalam diam, V melirik sekilas wajah Hyung dan Saengnya yang terlihat antusias. Oh, apa mereka baru saja tertarik dalam drama yang dibuat sendiri oleh V?

“Kau tertarik dengannya?”

V memutar kepalanya dan menemukan Namjoon atau Rap Monster, leader grupnya, memberikannya pertanyaan yang bahkan ia sendiri tidak bisa menjawabnya. V terjebak. Ia terjebak pada jebakannya sendiri. Senjata makan tuan.

Dengan satu gerakkan, V menarik pintu ruang itu, memutar kepalanya untuk sekedar memastikan keadaan, kemudian mengajak hyung dan saengnya itu pergi meninggalkan gedung teater. Walaupun saat ini, otaknya bekerja keras untuk menjawab pertanyaan Namjoon tadi.

***

Hye Rin menundukan kepalanya, tangannya saling menggenggam dan mengepal. Ia melakukannya bukan karna gugup, melainkan inilah yang menurutnya harus ia lakukan jika ia memahami isi dialognya.

Ia harus meninggalkan laki-laki yang paling dicintainya. Tanpa kemungkinan untuk kembali, dan tanpa memberikan alasan yang sebenarnya.

“Kukira kau tidak akan pernah mengatakan hal seperti ini di depanku. Tidak akan pernah, Jey Shin.”

Jey Shin, nama wanita yang harus diperankannya. Nama wanita yang harus kehilangan cintanya karna satu alasan yang akan membunuhnya dalam waktu dekat, kanker. Sedangkan laki-laki yang menjadi lawan mainnya yaitu Kim Hyung Won, seniornya yang memiliki umur 3 tahun di atasnya.

Dalam naskah dialog, jelas tertulis Jey Shin lah yang harus terlihat tegar. Tapi dalam pementasan, Kim Hyung Won yang memerankan Jason justru menampilkan sisi tegarnya sebagai laki-laki.

Hye Rin menyadari adanya ketidakberesan dalam pementasan ini, ia juga menyadari nada suara Hyung Won yang terdengar tegas di telinganya. Dan saat itu juga ia merasa dirinya diuji. Bukan sebuah ujian yang memerlukan kecerdasan otak, melainkan ujian yang memerlukan ketangguhan dan kepercayaan dirinya.

Yang perlu ia lakukan adalah berakting layaknya seorang Jey Shin yang harus kuat namun tidak terlihat kuat dimatanya sendiri. Jey Shin yang lemah untuk dirinya sendiri. Dan Jason yang memimpin arah permainan.

“Aku tahu. Seharusnya aku memang mengatakan hal itu sebelum aku mempunyai perasaan padamu. Sebelum akhirnya aku pun yang harus meninggalkanmu.”

“Kau tahu, omonganmu itu omong kosong.” Jason menimpal, “Jelas terbaca di matamu bahwa kau mencintaiku. Tapi kenapa harus pergi? Kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk mengetahui kesalahanku.”

“Tidak ada yang salah. Baik aku atau kau, tidak ada yang salah. Hanya waktu yang berkata bahwa ini saatnya aku meninggalkanmu.” Kata Jey Shin. “Untuk selamanya.” Dan dua kata terakhir pun diucapkannya dengan sangat perlahan, hanya untuk dirinya sendiri.

“Ku harap kau salah mendengar apa yang waktu katakan padamu.”

“Tidak. Waktu tidak pernah salah.”

“Tapi kali ini kau salah.”

Hye Rin bangkit dari duduknya, dialognya hampir selesai dan kini saatnya Jey Shin meninggalkan Jason dengan tawa hambar yang meledek Jason. Atau tepatnya meledek diri Jey Shin sendiri.

“Ku pikir kau benar. Aku salah karna aku terlalu mempercayai perkataanmu sampai aku tidak mendengar apa yang dikatakan waktu padaku. Aku salah jika aku terus membuatmu tersenyum di luar dan menangis di dalam. Sekali lagi aku minta maaf, dan terima kasih untuk tiga tahun yang sangat mengesankan di hidupku.”

Tepat setelah kalimat panjang itulah, Jason yang seharusnya lemah muncul. Hyun Won menangis dengan mata yang tetap terbuka, menatap Hye Rin tidak percaya kemudian menatap punggung Hye Rin yang menjauh.

Hening sesaat sampai Kim songsaenim mengakhiri teater percobaan itu dengan tepuk tangan. Disusul dengan senyum Kim songsaenim, dan tepukan dari para senior. Hye Rin tersenyum sejenak dan kembali melangkah ke dalam ruang ganti.

***

“Kau benar-benar melakukannya Hye Rin-ah! Aku hampir saja menangis melihatmu di atas panggung. Aktingmu benar-benar hidup! Aku sendiri tidak percaya dengan apa yang ku lihat! Astaga, ku rasa mataku benar-benar dibutakan olehmu saat ini! Bagaimana bisa…”

Tae Yong melanjutkan ocehannya, sementara Hye Rin kembali mengganti pakaiannya. Senyum puas terpampang luas di wajahnya, menandakan keberhasilan atas apa yang ia pelajari dari beberapa drama yang ia tonton.

Satu kepuasan berada ditanganku, hanya menunggu hari untuk kembali bersinar menjadi seorang Hye Rin yang benar-benar tidak terkalahkan.

“Kau mau makan bersama tidak?” tanya Tae Yong ketika Hye Rin keluar dari ruang gantinya. Hye Rin mengangguk, meraih tas tentengnya dan berjalan menyusul Tae Yong yang menunggunya di depan pintu. Langkahnya terhenti ketika salah satu lagu EXO terdengar dari ponselnya.

Ia meraih ponselnya dan menatap nama yang tertera di layar ponselnya.

Saat itu juga senyumnya melebar.

“Ada apa oppa?”

***

“Aku menunggumu kurang lebih satu jam di sini. Apa saja yang kau lakukan di dalam? Kenapa lama sekali? Ku pikir hari pertamamu tidak akan seburuk ini.”

Hye Rin tersenyum mendengar keluhan yang terlontar dari mulut kekasihnya. Bukan keluhan yang ia pedulikan, tapi perhatian Baek Hyun lah yang menjadi ketertarikannya.

Byun Baek Hyun, siswa senior dengan umur yang berbeda cukup jauh dengannya, yang juga sudah menjadi kekasihnya sejak dua tahun terakhir. Baek Hyun cukup terkenal, dengan posisinya sebagai main vocal dalam satu grup yang sudah mendunia.

“Kenapa menungguku? Ada yang ingin kau bicarakan oppa?”

Baek Hyun tidak langsung menjawab, ia mengunci tatapannya dengan mata Hye Rin. Takut-takut gadis itu lari atau menghilang dari pandangannya.

“Aku harus mengakhiri hubungan ini Hye Rin.”

Bagai ditusuk pedang es, ditembak pistol secara terus-menerus, digigit srigala atau buaya dengan lahapnya, dan diguyur air limbah tanpa sisa sedikitpun. Hye Rin mengerjap, matanya menangkap keseriusan dalam mata Baek Hyun. Tidak ada keraguan di dalamnya, tidak ada tanda-tanda penyesalan.

“Ku harap kau tidak mempermasalahkan hal ini.”

Salah. Ini sangat salah oppa. Kau tahu aku membecin perpisahan, tapi kenapa?

“Bahagialah dengan laki-laki manapun, yang mencintaimu, memberimu waktu luang setiap saatnya. Dan seperti yang kau katakan padaku, yang mampu menjadi alasanmu untuk menari dan bernyanyi.”

Hye Rin merasa air limbah itu menetes dari matanya. Sampah kotor yang keluar dari matanya, air mata. Baek Hyun tahu Hye Rin benci menangis, tapi Baek Hyun juga tidak memberikan kesempatan bagi Hye Rin untuk menghentikan tangisnya.

Jika tangis bisa memberikan sebuah kelegaan dihatimu. Menangislah. Menangislah selagi kau mampu. Dan selama yang membuatmu menangis itu aku, bukan laki-laki bangsat lainnya.

“Kenapa?” Hye Rin mendapati dirinya bicara. Terdengar lemah dan… putus asa. Yang benar saja, seorang Shin Hye Rin tidak pernah putus asa. Semuanya terjadi bagai kilatan cahaya. Bagaimana bisa?

“Aku bukan orang yang seharusnya berada di sisimu Hye Rin-ah. Hidupku terlalu sibuk sampai aku tidak pernah berada di sisimu. Menyedihkan bukan? Dan kurasa, sudah saatnya kau bahagia dengan laki-laki yang menantimu.”

Aku tidak butuh keberadaanmu oppa. Yang ku butuhkan hanya hatimu yang selalu bersamaku. Tidak kurang dan tidak lebih. Selama aku tahu kau mencintaiku, selama itu juga aku tidak merasa kekurangan.

“Yang kubutuhkan hanya hatimu.” Satu kalimat yang berada dalam pikirannya mengalir lembut dalam suaranya. “Karna hatimu, sudah cukup untuk menjadikan alasan betapa pentingnya aku menari dan bernyanyi.”

“Sekarang aku mungkin alasanmu. Tapi bagaimana jika perpisahan yanglainnya mengatakan bahwa kau memang tidak membutuhkan aku sebagai alasanmu? Bagaimana jika bumi menelanku kembali ke tempat asalku? Mungkin saat itu juga kau akan lebih terlihat putus asa dibandingkan hari ini.”

Hati Hye Rin terbakar. Perkataan  Baek Hyun memang benar, tapi bagaimanapun perpisahannya, yang ia butuhkan hanya hati Baek Hyun. Karna selama ia bersama hati pria itu, selama itu juga ia sanggup menjalani aktifitasnya.

“Katakan padaku kalau kau mencintaiku.” Pinta Hye Rin, tetap menjaga keseimbangan tubuhnya yang hampir jatuh.

“Maaf Hye Rin.”

Oppa, katakan kau mencintaiku.”

Hye Rin memaksakan satu senyum yang menurutnya sangat jelek, ini pertama kalinya ia memaksa senyum itu. Entah siapa yang mengajarkannya, tapi rasanya senyum itu sedikit membantu. Apa seperti ini yang dirasakan Hyun Won sunbaenim saat memerankan Jason?

“Kukira penjelasanku tadi sudah terlalu jelas, dan aku yakin kau juga sudah mengerti maksudku. Bagaimana kalau ku antar ke depan? Ingin makan siang bukan? Aku juga harus segera pergi.”

Hye Rin menatap Baek Hyun tidak percaya, laki-laki di hadapannya benar-benar terlihat biasa saja. Tidak ada sedikit keraguan ataupun penyesalan. Bahkan Baek Hyun dengan mudahnya menggenggam tangannya dan menuntunnya keluar dari gedung teater.

Tepat di depan pintu keluar itu lah mereka resmi berpisah, tak ada kata lain dari Baek Hyun selain ‘jaga dirimu’ dan ‘semoga bahagia dengan laki-laki lain’.

Hye Rin bisa merasakan kehangatan yang diberikan laki-laki itu menghilang dari tubuhnya. Dan detik berikutnya adalah ia yang berlari menjauh dari gedung teater, mencari tempat untuk sembunyi dari kesedihannya. Namun justru memamerkan kesedihannya pada setiap orang yang dilewatinya di perjalanan.

Alasanku menari dan bernyanyi adalah kau. Bagaimana jika alasan itu pergi? Apa aku juga harus pergi dari semua yang sudah menjadi bagian dari hidupku?

Baek Hyun Oppa, apa kau tahu rasanya ditinggal oleh orang yang benar-benar kau percayai? Apa kau sadar kalau kau baru saja menyakiti seorang perempuan? Bukankah kau sendiri yang bilang kalau menyakiti perempuan itu bukanlah ciri-ciri seorang laki-laki sejati. Tapi kenapa sekarang kau melakukannya?

Sebenarnya siapa kau? Laki-laki atau bukan? Kenapa aku harus menyebutmu dengan sebutan ‘Oppa’ kalau kau bukanlah seorang laki-laki? Lalu, sebutan apa yang pantas untukmu?

Alasan itu pergi dari hidupku. Mulai saat ini, yang ku tahu hanya teater. Tidak akan ada Shin Hye Rin yang mencintai nada demi nada yang keluar dari piano di ruang musik. Tidak akan ada Shin Hye Rin yang berputar dan tersandung di dalam ruang tari. Tidak akan ada selama kau juga tidak ada disisiku oppa. Baik dirimu ataupun hatimu.

Tanpa sadar, kini tatapan bertanya dari seluruh siswa Universitas Seni sudah tidak lagi terlihat. Yang ada hanyalah tumbuhan hijau dan suara burung yang berkicau di siang hari. Menertawakan keadaan Hye Rin yang benar-benar kacau, tidak stabil, dan memalukan.

“Tertawa atas penderitaan oranglain? Kalian benar-benar hebat.” Gumam Hye Rin sambil menatap burung yang berada tidak jauh dari tempatnya duduk.

“Mereka hebat karna mereka terlatih untuk tidak memperdulikan perasaan oranglain, tidak peduli bagaimana orang itu terlihat atau bahkan bersikap. Yang mereka tahu, mereka hanya tertawa atas kebahagiaan dan kesedihan diri mereka sendiri.”

Hye Rin memutar kepalanya, menyipitkan matanya dan menatap laki-laki yang baru saja datang ke tempatnya. Mungkin sebentar lagi tidak hanya burung yang menertawakanya, tapi juga dengan laki-laki yang datang ke tempat persembunyiannya secara tidak diundang.

“Siapa kau?”

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s