Happiness (Chapter 3)

Happiness.

Genre  : Romance.

Rating : NC-21

Cast     : Kim Myung Soo–Jung Eun Ji–other cast as showing.

Eun Ji mengerjap ketika cahaya matahari yang berhasil menembus jendela kamarnya mengusik ketenangan tidur indahnya. Ditutupnya wajah cantik itu dan membuang muka. Masih terlalu malas untuk beranjak dari kasur.

Namun sesuatu yang membuat pipinya memerah memaksanya untuk kembali ke dalam dunia nyata. Ia melirik ke sebelahnya. Tidak ada Myung Soo di sana. Kemudian matanya menyapu setiap sudut kamar, dan hasilnya masih sama. Myung Soo tidak ada di sana.

Apa mungkin ia mengingkari janjinya?

Eun Ji tersenyum geli mengingat apa yang ia katakan semalam. Jangan pergi. Seperti itu lah kira-kira perkataan yang tidak sadar ia katakan. Sebenarnya, Eun Ji sadar akan perkataannya, hanya saja ia terlalu malu pada dirinya sendiri untuk mengakuinya. Dan dengan segera ia beranjak ke dalam kamar mandi, membersihkan wajah dan menatap bayangan dirinya di depan cermin besar.

“Banyak sekali.” Gumam Eun Ji, terkejut melihat bahunya yang penuh dengan tanda-tanda kemerahan di sana.

Eun Ji kembali terkejut ketika menemukan satu tanda kepemilikian di pipinya. Ia bahkan tidak sadar kapan Myung Soo membuat tanda di pipinya. Tidak ada satupun rekaman dalam ingatannya yang memberikan keterangan mengenai kissmark di pipinya.

Bodoh. Kenapa membuat satu di pipi kalau kau bisa membuat ratusan kali lebih banyak di tubuhku?

Eun Ji menggelengkan kepalanya, berusaha untuk tidak mengingat kejadian malam itu dan memilih untuk membersihkan dirinya. Ia harus kembali pada pekerjaannya, dan ia juga masih berhutang terimakasih pada Myung Soo.

Terimakasih karna sudah menyelamatkan nyawa nya. Terima kasih karna sudah menemani dan menghiburnya malam itu. Dan terimakasih untuk kissmark yang tidak terduga.

20 menit berlalu dan Eun Ji berjalan keluar dari kamarnya, menuju dapur dan menyiapkan sandwich untuk sarapan paginya. Kemudian otaknya mengingat satu benda yang tidak di temuinya sejak kemarin malam. Dan ada perasaan senang muncul dalam hatinya. Ia bisa menemui Myung Soo dengan alasan ingin mengambil ponselnya.

Ponsel.

Eun Ji memutar kepalanya dan terperangah dengan pandangan di depannya. Benda berwarna hitam, dengan bentuk persegi panjang, berada tepat di atas meja yang terdapat di ruang tengah apartemennya. Tidak ada benda lain selain ponsel di sana. Dan ia tahu, tidak ada harapan untuk menemui Myung Soo.

Ia meraih ponselnya, sekedar memastikan kalau Myung Soo tidak melakukan apa pun pada ponsel kesayangannya itu. Keningnya berkerut melihat layar ponsel yang menampilkan satu pesan dari nomor yang tidak dikenalnya. Pesan yang dikirim sekitar satu jam yang lalu.

Bagaimana pagimu? Ku harap tidak seburuk semalam.

Ponselmu ku kembalikan, kali ini bersih dari kontak-kontak yang berhubungan dengan laki-laki dan kebiasaan burukmu. Ku harap kejadian kemarin malam adalah kejadian terakhir untukmu. Aku minta maaf karna harus membuang semua obatmu, tanpa sisa.

Dan yah, hanya sekedar berbasa-basi. Maaf karna aku harus pergi terlalu pagi. Pusat informasih menelponku dan memintaku untuk segera datang. Karna belum sempat mengatakan apapun, jadi ku putuskan untuk mengirimmu pesan.

Semoga harimu menyenangkan.
Kim Myung Soo.

Bibir Eun Ji tertarik untuk membentuk senyum simpul pertama di awal harinya. Ia merasa tidak harus memarahi Myung Soo karna membuang obat penenang sekaligus satu-satunya alat untuk mendapatkan kembali kebahagiaannya, karna ia sendiri merasa sudah mendapatkan pelajaran. Pelajaran untuk tidak mencelakakan dirinya sendiri demi kebahagiaan yang hanya didapatkannya untuk sementara.

Dengan sangat tiba-tiba, dengan sangat tidak diundang, layar ponselnya itu menampakkan pesan lainnya. Kali ini dari Ibunya. Eun Ji semakin merasakan adanya semangat baru dalam hidupnya. Setelah malam itu, ia yakin ia tidak akan merasa kesepian lagi.

Eun Ji-ya, bagaimana kalau menemani Ibu jalan-jalan? Sudah lama kita tidak pergi bersama.

Eun Ji tersenyum membaca pesan dari Ibunya. Ia juga sedikit merasa senang karna Ibunya itu mengajaknya bertemu dan menghabiskan satu hari bersamanya. Eun Ji jelas tidak akan menolak tawaran Ibunya, tapi ia juga tidak bisa tidak pergi ke kantornya hari ini. Jadi, ia putuskan untuk menghubungi Ibunya dan mengajaknya bertemu di kantor Eun Ji.

Dalam perjalanan menuju kantornya, otaknya terus memutar kejadian kemarin. Entah apa yang membuat Eun Ji sesemangat ini, yang pasti alasan pastinya hanya satu. Teman barunya, Kim Myung Soo.

Teman.

Kata itu terdengar asing di telinga Eun Ji. Ia lebih biasa menyebut orang-orang disekitarnya dengan sebutan ‘musuh’ atau ‘lawan’. Sebelumnya tidak ada yang mampu bertahan lama berada di sampingnya, apalagi sampai menemaninya terlelap. Memeluk dan dengan senang hati membantunya terbebaskan dari rasa sakit.

Andai Kyung Won tidak pernah menyentuhnya. Ia pasti masih memiliki orang-orang terdekatnya saat ini. Andai Kyung Won tidak pernah memperkenalkannya dengan obat itu. Ia pasti masih bisa berpikir jernih sampai saat ini. Andai… andai…

Satu pukulan yang cukup kencang sukses melayang ke kepalanya. Eun Ji memarahi dirinya sendiri yang terlalu sering berandai-andai. Walaupun Ibunya sering mengatakan keuntungan dari berandai-andai, tapi Eun Ji percaya kalau berandai-andai itu bukanlah sebuah jimat yang bisa membantunya lolos dari segudang masalah di dunia.

Eun Ji kembali melanjutkan langkahnya, memutar pandangannya mencari sosok sang Ibu yang sudah menunggunya di kantor. Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk masuk terlebih dulu ke dalam ruangannya dan menelpon Ibunya itu.

Dan ketika sambungan telpon terdengar yang tidak lama disusul dengan suara lembut Ibunya. Senyum Eun Ji kembali berkembang.

“Ibu! Sekarang dimana? Aku menunggu Ibu di ruanganku. Ibu tahu jalan masuknya kan?” tanya Eun Ji semangat.

“Tunggu saja, sebentar lagi kau pasti melihatku. Bukan hal yang sulit untuk menemukan kantormu Eun Ji-ah. Lanjutkan saja pekerjaanmu.”

Eun Ji mengangguk di tempatnya, ketika menyadari Ibunya yang tidak juga menjawab ia pun mengeluarkan suaranya, “Baiklah, akan ku pastikan Ibu benar-benar tidak tersasar seperti waktu itu. Jangan membuat anak kesayanganmu ini malu, ne?

Ibunya tertawa kecil di dalam percakapan singkat itu. Kemudian Eun Ji mengakhiri panggilan dan menghampiri komputer kantornya, mengacak-acak beberapa program komputer dan kemudian mengakhiri kegiatannya yang tidak membuahkan hasil.

Hanya beberapa menit setelah ia menelpon Ibunya dan Ibunya benar-benar berada di hadapannya. Dengan modal satu tas tenteng dan pakaian sederhana layaknya seorang Ahjumma, Eun Ji merasa masa-masa mudanya kembali terulang.

Ia ingat sekali saat pertama kali Ibunya membawa satu demi satu anak-anak yang terlantar di jalan raya. Ibunya itu mengajak anak-anak itu tinggal dirumahnya dan menjadi teman Eun Ji, saling bertukar pikiran dan tertawa bersama. Sampai akhirnya Kyung Won menghancurkan hidup mereka semua.

Eun Ji sempat berpikir kenapa laki-laki seperti Kyung Wo bisa bertahan hidup lebih lama dibandingkan Ayahnya yang jelas tidak seperti Kyung Won. Ayahnya memiliki satu prinsip yang tidak pernah diingkarinya. Prinsip kejujuran dan keberanian.

Kejujuran berarti berkata ataupun berbuat seperti yang sesungguhnya, dan keberanian berarti memiliki kekuatan untuk melakukan sebuah kejujuran. Karna setiap perkataan yang benar, maka ia lah yang selalu menang. Seperti itu lah perkataan Ayahnya yang selalu diingat oleh Eun Ji.

Eun Ji berlari memeluk Ibunya. Membenamkan dirinya di leher Ibunya itu, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Ibunya. Terlalu banyak waktu yang menyitanya dirinya untuk menemui Ibunya, sampai ia harus bisa bersabar dan terus menahan diri untuk tidak melarikan diri dari kenyataan.

“Bagaimana keadaan Ibu?” tanya Eun Ji langsung, “Tidak ada yang mengganggu Ibu, bukan?”

Eun Ji mendapati dirinya tersanjung pada senyum Ibunya. Senyum yang dirindukannya beberapa minggu terakhir ini, beberapa minggu tanpa Ibu di sisinya.

“Bagaimana menurutmu?” Ibunya itu bertanya, “Sehat atau mungkin bertambah tua?”

Eun Ji tertawa menanggapi gurauan Ibunya, “Ibu bercanda. Jelas sekali kalau Ibu bertambah cantik. Bahkan melebihiku.” Katanya dengan bibir yang dimajukan.

“Benarkah? Oh, kalau begitu seharusnya aku yang berada di sini dan menciptakan satu lagu baru. Bukan kau yang sudah tampak tua.”

Eun Ji kembali mengecutkan bibirnya, merasa tersinggung dengan gurauan Ibunya yang mulai memojokkannya. Tapi terkadang, ia juga berpikir, kalau bukan karna gurauan, mungkin hubungan keduanya tidak akan seakrab sekarang. Walaupun hubungan darah tidak bisa membohongi.

“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanya Nyonya Jung tiba-tiba. “Lancar?”

“Tentu saja.” Jawab Eun Ji yakin. “Kemarin lagu baruku keluar! Apa Ibu sudah mendengarnya?”

Ibunya menggeleng, “Seperti apa lagunya?”

“Biar ku tunjukkan.”

Eun Ji meraih pergelangan lengan Ibunya dan menuntun Ibunya ke dalam ruang pianonya. Ia meminta Ibunya untuk duduk dan memperhatikan musik yang akan ia bawakan.

“Dengarkan dan berikan komentar yang sejujur-jujurnya!” seru Eun Ji sebelum akhirnya memfokuskan dirinya pada piano di depannya.

Lagu yang sama seperti saat kedangatan Myung Soo ke kantornya kembali terdengar. Jika saat itu Eun Ji tahu Myung Soo mengikuti dan masuk ke dalam ruangannya. Ia mungkin akan berhenti memainkan piano dan menendang laki-laki itu keluar dari ruangannya.

Eun Ji tersenyum sekilas dalam permainan pianonya. Ia melirik Ibunya yang memperhatikan jari-jari dan tuts-tuts piano. Sekejap, rasa ingin bernyanyi itu kembali menyelimutinya. Ia ingin bernyanyi dan ingin diperhatikan. Diperhatikan layaknya seorang penyanyi lagu, dan juga diperhatikan layaknya hak seorang pencipta lagu.

Tanpa sadar, mulut Eun Ji terbuka. Mulai membawakan lirik yang sama seperti apa yang kemarin sempat di dengar Myung Soo. Ia meyakinkan dirinya sendiri kalau suatu saat ia bisa, tapi suatu saat juga ia harus merasa gagal.

Usai satu lagu. Sebuah tepukan yang berasal dari Ibunya menimbulkan senyum puas di wajah Eun Ji.

“Kau yang menulisnya? Indah sekali. Benar-benar mengagumkan, Ibu tidak percaya kalau kau yang menuliskan lagu seindah itu. Siapa yang mengajarimu?”

“Bagaimana kalau ku katakan seorang laki-laki tampan dengan tubuh atletis dan kemampuan berpikir yang jauh melebihiku, mengajariku semua hal tersebut. Apa Ibu percaya?”

“Tentu saja tidak.” Ibunya itu menjawab dengan keyakinan tinggi, “Siapa pun tahu kalau laki-laki yang kau maksud itu hanya Ayahmu.”

Eun Ji tersenyum, lalu memeluk Ibunya yang juga membalas pelukannya. Menyalurkan rasa senang, sedih, duka, rindu, dan rasa cinta mereka melalui pelukan yang berangsur kurang lebih selama 2menit.

“Kapan kita bisa keluar? Ibu kira kau akan mentraktir Ibu makan siang di restoran mahal dan mengajak Ibu berbelanja sepuasnya di mal.”

“Oh tidak,” Eun Ji mengacungkan telunjuknya dan menggerak-gerakkannya perlahan. “Tidak ada restoran dan tidak ada mal. Hari ini kita akan pergi makan di salah satu cafe favoritku, kemudian berjalan-jalan di taman, dan kemudian kita akan bersenang-senang dengan ZIA!” sambung Eun Ji dengan semangat yang berkobar-kobar.

“Ah baiklah, kalau begitu aku harus menyiapkan beberapa pertanyaan untuk menyerang anak-anak itu. Mereka pasti sangat merepotkanmu. Kalau begitu, Ibu juga harus membelikan mereka sesuatu yang sangat istimewa.”

Eun Ji memanyunkan bibirnya, “Bagaimana denganku? Apa tidak ada hadiah istimewa untukku?”

Ibunya tersenyum. Eun Ji sadar kalau ia baru saja bersikap manja, walaupun ia memang sengaja melakukannya. Alih-alih mengambil perhatian Ibunya kembali.

“Kau mau apa? Apa kehadiranku di sini masih kurang cukup untukmu? Hei, ingat usiamu. Berapa usiamu sekarang?”

“Menurut Ibu, berapa usiaku jika dilihat dari wajahku yang masih sangat cantik dan muda ini?” tanyanya sambil menyombongkan diri.

“Cih, kau muda hanya untuk dirimu. Bahkan tadi kau bilang kalau aku lebih cantik daripada kau.” Tanggap Ibunya singkat, “Kapan kita keluar?

Eun Ji melirik jam tangannya. Pukul 11 lewat, hanya tinggal menunggu beberapa menit sebelum jam makan siang.

“Bagaimana kalau sekarang? ku rasa cafe itu akan penuh jika kita pergi ketika jam makan siang.”

Ibunya mengangguk dan bangkit dari duduknya, “Baiklah.”

***

“Myung Soo-ah, bagaimana jika kita berlibur ke pantai. Aku ingin sekali berjemur, lagipula Ibumu sudah mengijinkanku untuk mengajakmu. Bagaimana menurutmu?”

“Terserah kau saja.”

“Baiklah, kalau begitu. Kapan waktu yang tepat?”

“Terserahmu.”

“Bagaimana jika minggu ini?”

“Ter–”

Myung Soo menghentikan perkataannya seiringan dengan terbukanya pintu cafe tempatnya dan Cha Young menikmati makan siang. Suasana di cafe itu cukup ramai mengingat saat ini adalah waktunya makan siang.

Mata Myung Soo berputar mengikuti arah duduk gadis yang baru saja masuk dengan wanita paruh baya yang tidak dikenal Myung Soo. Pertanyaan mengenai identitas wanita paruh baya yang datang bersama Eun Ji pun dipertanyakannya.

Siapa, ada hubungan apa, bagaimana mereka bisa saling mengenal, apa yang akan mereka bicarakan, dan apa mereka berdua sangat dekat. Semuanya bercampur menjadi satu topik. Penasaran.

“Ter apa Myung Soo-ah? Apa yang kau maksud dengan ‘ter’?”

Suara Cha Young mengalihkan perhatiannya. Gadis di depannya benar-benar mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. Mulai dari percakapan mengenai pertunganan keduanya, sampai dengan liburan yang akan mereka jalani setelah hari pertunangan.

“Tidak. Lanjutkan saja makanmu.”

Myung Soo menjawab pertanyaan Cha Young dengan acuh, jelas menandakan bahwa ia sedang tidak ingin bicara atau sebagainya. Pandangan Myung Soo kembali terarah pada Eun Ji. Gadis  itu memilih duduk di meja yang cukup jauh dengan meja Myung Soo.

Myung Soo memang tidak bisa mendengar percakapan kedua wanita tersebut. Tapi matanya masih bisa menangkap dengan jelas senyum dan tawa yang dilontarkan Eun Ji pada wanita di depannya.

“Aku sudah selesai. Bagaimana kalau kita keluar sekarang? Masih ada beberapa berkas yang harus ku tanda tangani.”

“Tidak sekarang Cha Young. Tunggu sampai aku mengajakmu keluar.”

Lagi, demi rasa penasarannya pada Eun Ji, Myung Soo rela mengabaikan Cha Young yang satu tahun teakhir ini menjadi kekasihnya. Tidak begitu serius, hanya sebuah konflik perjodohan yang mengharuskan Myung Soo memilih Cha Young sebagai kekasihnya. Karna kalau tidak, Ibunya itu pasti akan mencarikannya kekasih dari negara lain. Orang asing jelasnya.

Cha Young di tempatnya, mengikuti arah mata Myung Soo. Tidak terlalu jauh dari tempat mereka duduk, tampak seorang Ibu dan anaknya yang sedang mengobrol santai. Si Anak yang menggenggam tangan Ibunya sambil terus tersenyum, dan si Ibu yang memanyunkan bibir tanpa melepas genggaman Anaknya.

Detik selanjutnya, Myung Soo menarik paksa Cha Young yang juga sedang memandag Eun Ji. Cha Young menurut, ia tahu itu sudah tandanya mereka pergi dan kembali ke kantor mereka.

***

Eun Ji mengajak Ibunya melewati berbagai jalan dan perkarangan rumah menuju tempat anak-anak ZIA tinggal saat ini. Ibunya itu sudah mengatakan maaf dan rasa duka yang berulang-ulang kali pada Eun Ji. Namun, tanggapan Eun Ji hanya sebuah senyum dan satu senyum dari matanya.

Hari sudah menjelang malam ketika keduanya sampai di tempat ZIA. Nyonya Jung mendapat sambutan hangat dari anak-anak ZIA yang merupakan anak-anaknya juga, walaupun tanpa hubungan darah.

Eun Ji membiarkan Ibunya mengobrol dengan anak-anak sementara ia meminta Minhwa untuk membantunya menyiapkan kue yang sudah di beli Ibunya tadi. Sementara dirinya harus pergi ke suatu tempat. Tempat yang beberapa hari ini sempat terlupakan.

Dengan langkah tergesa-gesa, Eun Ji memperhatikan jalan di depannya dan mulai menyadari dirinya yang hampir kehilangan momen-momen indah sebuah sungai. Ia tahu ia tidak bisa melihat momen itu di tempat yang lebih nyata.

Tepat ketika lima menit terakhir, Eun Ji berdiri menatap langit merah di hadapannya.  Matahari siap menyembunyikan diri dan ia menyukai saat-saat menghilangnya cahaya. Ia suka bagaimana matahari mengistirahatkan dirinya dengan cara yang sangat indah.

Secara tiba-tiba, Eun Ji merasa dirinya tertarik ke belakang. Ia baru saja berpikir akan diculik ketika sebuah tangan kekar yang membuatnya tersentak kaget dan hampir meloncat, mengirimkan rasa hangat ke dalam tubuhnya. Tangan itu melingkar rapi tepat di perutnya, terikat erat dan sulit dilepas. Bagai ada lem di dalamnya.

Eun Ji mendongakkan kepalanya dan menatap wajah si empunya tangan. Dilewatkannya beberapa detik menjelang matahari terbenam hanya untuk menatap wajah bahagia laki-laki di sebelahnya.

“Kau mengikutiku?” tanya Eun Ji memulai percakapan.

“Tidak.”

Teringat dengan tujuannya untuk menyaksikan matahari terbenam, Eun Ji kembali memutar kepalanya seraya mengecutkan bibirnya. Mencibir laki-laki yang memeluknya dari belakang saat ini.

“Jelas-jelas kau ada di sini, bagaimana bisa kau bilang tidak.” Kata Eun Ji, “Tidak ada yang tahu tempat ini selain aku.”

“Kalau begitu aku terlambat untuk mengajakmu ke sini.”

Kening Eun Ji berkerut. Kalau Myung Soo berniat mengajaknya ke sini, itu berarti Myung Soo juga tahu tempat ini?

“Aku tahu tempat ini tadi pagi,” ucapnya menjawab pertanyaan Eun Ji, “Tidak sengaja lewat dan ternyata tempat ini cukup indah…”

“Koreksi, sangat indah.” Sela Eun Ji cepat.

“Baiklah. Karna tertarik aku berniat mengajakmu ke sini, lagipula tempat ini tidak jauh dari tempat anak-anak tinggal.” Jelasnya perlahan.

Eun Ji berdecak, Myung Soo benar-benar membuat alasan yang sempurnya. Ia bahkan tidak tahu sejak kapan Myung Soo sering melewati tempat yang–jelas-jelas–banyak ditinggali orang-orang yang hidupnya serba kekurangan.

“Hei,” sapa Eun Ji. “Cepat lepaskan tanganmu. Bagaimana kalau ada yang melihat? Aku tidak mau membawa berita buruk untukmu.”

“Tidak mau.”

Satu cibiran keluar lagi mulut Eun Ji. Tidak terlalu keras, tapi ia yakin Myung Soo bisa mendengar suaranya itu dengan jarak yang bahkan tidak melebihi lima inchi. Ditambah lagi ketika Myung Soo menjatuhkan kepalanya tepat di bahu kiri Eun Ji. Ia yakin kali ini Myung Soo bisa mendengar detak jantungnya yang sedang berpacu mengadu emosi dan perasaan Eun Ji.

“Apa yang kau lakukan bodoh?”

Eun Ji menggerakan bahuya naik-turun, namun tetap tidak menimbulkan hasil sedikitpun pada Myung Soo. Laki-laki itu tetap tidak bergeming dalam posisinya. Memeluk dari belakang dan memakai bahu Eun Ji sebagai tempat sandaran.

Benar-benar tidak kreatif. Kenapa ia tidak pulang dan beristirahat saja? Kenapa harus meminjam bahuku?

“Kim Myung Soo, cepat menjauh.” Ancam Eun Ji.

“Bagaimana kalau tidak?”

“Kau mengajakku perang ya?”

“Tidak.”

“Lalu apa maksudmu?”

Myung Soo tidak menjawab pertanyaan Eun Ji selanjutnya. Eun Ji menggumamkan sederetan kata meledek kelakuan Myung Soo yang tiba-tiba seperti anak kecil. Sementara mulutnya terus memojokkan Myung Soo, jantungnya terus memompa darah yang tiba-tiba terasa hangat di dalam tubuhnya. Detaknya pun semakin cepat, sampai Eun Ji sendiri takut jika tiba-tiba jantungnya itu berhenti berfungsi.

“Jung Eun Ji.”

Eun Ji bergidik ngeli merasakan nafas Myung Soo yang menerpa kulit lehernya, seperti ada sengatan di dalam deruan nafas Myung Soo yang menyebabkan tubuhnya membeku. Perasaan untuk tidak meminta Myung Soo pergi kembali datang. Ia tahu ia salah jika merasakan yang namanya cinta untuk saat ini.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Myung Soo perlahan, membuat Eun Ji kembali bergidik geli.

“Aku baik-baik saja Myung Soo-ssi. Apa yang kau lakukan hng? Cepatlah menyingkir bodoh.”

“Hei, aku tidak bodoh. Kau yang bodoh Eun Ji-ssi. Bagaimana bisa seorang gadis cantik sepertimu membiarkan dirimu menyantap obat-obatan tidak berguna seperti itu bodoh.”

Eun Ji terpaku di tempatnya. Bukan kata bodoh yang menjadi perhatianya. Tapi kata lain yang juga sering ia dengar dari Kyung Won. Apa Myung Soo juga sedang melakukan hal yang Kyung Wo lakukan? Mengatakan semua omong kosong untuk memikat seorang wanita?

Cantik. Satu kata dengan berbagai makna, tapi tidak untuk Eun Ji. Cantik berarti omong kosong. Cantik berarti suatu kebohongan. Ada arti lain dibalik kata cantik yang tidak dipahami banyak wanita, tapi tidak untuk Eun Ji. Ia tahu banyak apa itu cantik. Ia yakin dirinya cantik hanya di depan kedua orangtuanya. Tidak untuk di depan seorang laki-laki.

“Kau berbohong bukan.”

Kalimat itu mengalir begitu saja dari mulut Eun Ji. Ia yakin ia tidak sedang berpikir untuk menanggapi perkataan Myung Soo dengan kalimat itu. Ia berpikir untuk menjawab ‘menjauh dariku’ atau ‘itu urusanku’. Namun yang terdengar berbeda. Sangat berbeda. Kenapa di depan Myung Soo ia kehilangan kendali atas dirinya?

“Bagaimana menurutmu? Apa nada suaraku terdengar meragukan? Ya, walaupun suaraku tidak selembut suaramu, tapi ku rasa yangtadi itu sudah cukup jelas.”

“Terserah apa katamu. Cepat lepaskan Myung Soo-ssi.”

Eun Ji hendak menarik tangan Myung Soo dari tubuhnya dan berlari meninggalkan Myung Soo ketika tangan Myung Soo menahan pergelangan tangannya dan mengecup pipi kirinya. Eun Ji membeku. Tidak ada yang tidak bisa ia lakukan, tapi kali ini ia merasa dunianya berhenti. Tepat di dalam pelukan Myung Soo.

“Berhenti bergerak Jung Eun Ji.”

Eun Ji mendapati dirinya menuruti perkataan yang lebih terdengar seperti ancaman itu. Keduanya kembali pada posisi mereka dan berdiri dalam diam. Eun Ji menatap pemandangan yang mulai berakhir di depannya. Matahari hampir sepenuhnya memasuki rumah dan tiba saatnya dunia kembali diterangi sinar bulan.

Dan Eun Ji mengutuk dirinya sendiri yang masih belum bisa mengendalikan diri.

“Myung Soo.”

“Apa?”

Sambil terus berusaha mengandalikan diri, Eun Ji memantapkan dirinya untuk berkata, “Terimakasih.”

Dengan wajah yang tertunduk, Eun ji bisa merasakan Myung Soo yang menghela napasnya dengan sengatan-sengatan yang membuatnya kembali bergirik geli. Apa Myung Soo tidak sadar kalau ia baru saja mengutukku?

“Untuk apa?” tanya Myung Soo.

“Membantuku.” Eun Ji menarik tangannya, menyentuh salah satu lengan Myung Soo yang berada di tubuhnya. “Terimakasih karna masih mau menyelamatkanku.”

***

Myung Soo merasa tangannya ditumbuhi bunga-bunga ketika Eun Ji dengan sangat lembut menyentuh tangannya. Rasanya seperti ada yang membuatnya kembali hidup. Kembali mengerti apa itu arti kehidupan untuknya.

“Terimakasih karna masih mau menyelamatkanku.”

Myung Soo tersenyum. Ia tahu ia akan mendengar hal ini dari Eun Ji. Tapi juga ia tidak mau langsung mengerti maksud perkataan Eun Ji. Ada sesuatu yang membuat Myung Soo ingin meledek Eun Ji. Melihat gadis itu mengembungkan pipinya, memanyunkan bibirnya, dan memasang raut wajah menjengkelkan di depannya.

“Menyelamatkan apa?” tanya Myung Soo pura-pura tidak tahu.

“Itu… kejadian semalam.”

“Apa? Memang apa yang terjadi semalam?”

“Bodoh. Jadi kau lupa?”

“Apa yang lupa?”

“Myung Soo-ssi, aku tidak sedang bercanda.”

Myung Soo menganggap permainannya berhasil. Eun Ji mulai melontarkan kata-kata yang menunjukkan kekesalannya.

“Aku benar-benar tidak ingat. Bagaimana kalau kau memberitahuku, apa yang terjadi semalam?”

Eun Ji memutar kepalanya. Myung Soo melepas pelukan dan memberi mereka sedikit jarak. Myung Soo bisa merasakan adanya tatapan menusuk dari mata Eun ji. Apa ia benar-benar marah?

“Lupakan saja.” Sahut Eun Ji singkat. “Aku harus pergi sekarang. Sebaiknya kau juga kembali ke kantormu sebelum kau mendapat panggilan mendadak.”

Myung Soo menahan Eun Ji dengan menarik pergelangan tangannya. Tidak membiarkan gadis itu pergi secepat yang ada diperkiraannya.

“Aku melakukannya untukmu,” kata Myung Soo perlahan. “Sekarang, aku ikut denganmu. Ke tempat anak-anak bukan? Aku juga harus pergi.”

“Kenapa?”

“Karna mereka pasti mencariku. Lagipula, apa ada masalah kalau aku pergi ke sana?”

“Tidak. Bukan itu yang ku maksud. Kenapa kau melakukan itu untukku?”

Myung Soo menangkap adanya kesedihan yang bercampur dengan kebahagiaan di mata Eun Ji. Gadis itu akan menangis. Myung Soo tahu itu, dan ia tidak akan membiarkan gadis itu menangis. Satu hal yang ia ketahui tentang Eun Ji, sesuatu yang berbahaya akan terjadi jika Eun Ji merasa kebahagiaannya pergi.

“Entahlah.” Jawab Myung Soo seraya tersenyum, “Apa aku bisa mengatakan kalau aku mencintaimu?”

Tidak ada jawaban. Myung Soo yakin kali ini dirinya benar-benar terlihat seperti orang bodoh. Mengatakan sesuatu yang jelas akan menimbulkan salah paham.

Eun Ji mungkin bisa dengan mudah tidak percaya padanya. Begitupun dengan dirinya. Tapi perasaan Myung Soo, entahlah, tidak ada yang mengerti apa yang ia rasakan saat ini. Tubuhnya yang membeku, senyum yang menghias wajahnya ketika melihat Eun Ji, perasaan ingin menyentuh gadis itu, dan detak jantung yang jauh dari kadar normalnya.

“Bodoh.”

Satu respon pertama dari Eun Ji. Tidak terlalu penting menurut Myung Soo, karna baginya kata ‘bodoh’ tidak lagi bermakna apapun selama yang mengatakannya Eun Ji.

Tunggu. Apa semua ini benar-benar tanda kalau ia mencintai Eun Ji?

“Sudahlah. Sekarang kita harus ke tempat anak-anak, aku ingin bertemu mereka. Jangan terlalu lama berfikir.” Sahut Myung Soo menyudahi suasana tegang di antara mereka.

Sambil menggandeng lengan Eun Ji. Myung Soo berjalan perlahan di sebelah Eun Ji. Melindungi gadis itu dari bahaya-bahaya jalanan yang–jarang–terjadi di tempat-tempat pinggiran.

***

“Paman Myung Soo!!!”

Eun Ji mendengar teriakan anak-anak dari dalam rumah. Mereka berlarian menggerubungi Myung Soo dengan berbagai pertanyaan. Hampir sama seperti kemarin, Myung Soo terlihat tidak sanggup menjawab pertanyaan itu. Tapi, setidaknya, laki-laki itu tidak terlihat tegang kali ini.

Eun Ji melangkah ke dalam rumah. Menemukan Ibunya yang tengah membereskan sisa-sisa kue yang tadi sempat dibeli Ibunya. Setelah beberapa menit meninggalkan Ibunya, ia pun membantu untuk membersihkan rumah sebelum akhirnya keluar rumah bersama dengan Ibunya.

Sambil terus tersenyum satu-sama-lain, Eun Ji mengajak Ibunya ke tempat di mana Myung Soo dan anak-anak bermain. Ibunya memandang sekumpulan anak-anak dengan mata yang hampir sepenuhnya terbuka, lalu melanjutkan perjalanan mereka.

“Ibu! Ayo ke sini, paman sedang mengajarkan kami cara bermain kartu!”

Eun Ji menoleh ke arah Ibunya yang menatap Hwa Gun–salah satu anak ZIA–dengan senyum simpul. Ibunya itu kemudian berjalan sendiri menuju tempat Myung Soo.

Eun Ji menatap kebersamaan keluarnya dengan Myung Soo dan tersenyum. Sepertinya ia harus memperkenalkan Ibunya pada Myung Soo, atau mungkin Ibunya itu akan menyerangnya dengan berbagai pertanyaan nantinya.

“Ibu, itu Kim Myung Soo. Dia tinggal di gedung apartemen yang sama denganku. Kemarin, ia sempat tidak sengaja datang ke sini, dan hari ini kami bertemu. Ia memintaku untuk mengantarkannya ke sini lagi.”

Ibunya mengangguk, melontarkan satu senyum simpul pada Myung Soo. Kemudian meminta izin untuk tidak ikut bermain. Tapi juga menolak keinginan Eun Ji untuk menemaninya. Ia meminta Eun Ji untuk tetap mengawasi anak-anak. Takut-takut terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan.

Eun Ji sempat heran melihat sikap Ibunya yang tiba-tiba terlihat lemah. Apa Ibu sakit? Sambil terus menatap punggung Ibunya yang mulai memasuki rumah dan menghilang di dalamnya, ia terus saja menanyakan keadaan Ibunya. Sampai akhirnya Myung Soo menarik kembali perhatiannya.

Eun Ji mendekati Myung Soo dan menatap permainan kartu yang dilakukan Myung Soo. Satu pikiran menjerujus ke arah lain, Eun Ji sadar dirinya baru saja menghancurkan permainan itu. Dengan sengaja, ia melempar kartu-kartu itu ke atas dan membuatnya berserakkan.

Eun Ji bisa merasakan tatapan kesal anak-anak dan juga Myung Soo. Mereka semua menatap Eun Ji tanpa memberinya ampun. Dan detik berikutnya, Eun Ji bisa merasakan dirinya yang digelitiki oleh Myung Soo dan anak-anak. Mereka menyerang Eun Ji dengan sengaja. Membalas perbuatannya yang menyebalkan itu.

Ketika kaki Eun Ji melangkah ke kiri, ia bisa merasakan tangan Myung Soo yang bergerak menggelitik tubuhnya. Dan ketika ia berusaha menghindar dari kejaran Myung Soo, satu gelitikan berhasil dilakukan anak-anak dari arah belakang.

Eun Ji yang terkejut, sontak melompat ke depan. Dengan tidak sengaja tubuhnya menyentuh tubuh Myung Soo. Keduanya menempel seperti layaknya sepasang kekasih yang sedang berpelukan di depan umum. Eun Ji merasa pipinya memanas, kali ini wajahnya pasti memerah. Dan adegan itu disusul dengan teriakan dan ledekan dari anak-anak.

***

Usai adegan memalukan tadi. Semuanya kembali ke posisi awal. Myung Soo menceritakan beberapa lelucon pada anak-anak, membuat Eun Ji dan yanglainnya tertawa bersama.

“Eun Ji-ah,

Eun Ji merasa namanya dipanggil dan menoleh, ia mendapati Ibunya yang sedang tersenyum dan menatapnya dalam.

“Bisa ikut Ibu sebentar? Ada yang ingin Ibu bicarakan.”

TBC

4 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s