Happiness (Chapter 4)

Happiness.

Genre  : Romance.

Rating : NC-21

Cast     : Kim Myung Soo–Jung Eun Ji–other cast as showing. 

Eun Ji berdiri menghadap cermin besar di depannya, bayangan tubuh yang terbalut baju piama dengan wajah yang penuh dengan tetesan air menarik perhatiannya. Matanya terlalu sibuk mengagumi sudut-demi-sudut tubuhnya yang tertutup pakaian, sementara otaknya bekerja lebih keras dibanding matanya.

Otaknya bekerja mencerna semua perkataan Ibunya. Mulai dari pembicaraan kecil yang akhirnya menjurus pada keseriusan. Eun Ji tahu Ibunya itu akan berfikir yang macam-macam, namun ada kalanya Eun Ji tidak tahu apa yang menjadi tujuan Ibunya.

Dengan satu tangan yang menempel tepat di dadanya, Eun Ji memejamkan matanya sejenak. Mengingat kembali semua perkataan Ibunya, dan juga jawaban yang keluar dari mulutnya.

“Eun Ji-ah, sejak kapan kau membawa oranglain ke tempat anak-anak?”

Eun Ji tersenyum simpul, ia tahu Ibunya pasti khawatir pada ZIA. Terlebih, setelah kejadian dengan Kyung Won yang mengharuskan mereka menyingkir.

“Dia orang pertama yang tahu tempat ini selain kita.” Jawab Eun Ji sambil terus tersenyum, “Ibu tidak perlu khawatir, Myung Soo tidak seperti Kyung Won.”

“Ibu tidak berpikir seperti itu Eun Ji-ah. Lagipula, siapa yang mau mengambil lahan kosong yang tidak jelas pemiliknya siapa.” Sahut Ibunya cepat.

Eun Ji melebarkan senyumnya, “Kalau begitu apa yang ingin Ibu bicarakan? Bukankah lebih baik kita ikut bermain? Lihatlah bu, anak-anak sepertinya menyukai Myung Soo.”

“Ibu tidak ingin kau jatuh cinta–”

Eun Ji merasa tubuhnya memberat. Kakinya terasa lemas, nafasnya tercekat, dan ia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya bicara. Matanya menatap Ibunya serius, meminta keterangan lebih lanjut tanpa mengeluarkan suara. Ibunya yang sepertinya mengerti arti tatapan Eun Ji, melanjutkan perkataannya.

“Setidaknya untuk saat ini. Sampai kau bisa menemukan tujuan hidupmu. Kepada siapa kau akan berpihak, kepada siapa kau akan mengabdi, dan siapa yang akan terlupakan. Ibu hanya tidak mau, perasaan cinta yang berlebihan, membutakanmu dari orang-orang di sekelilingmu.”

Eun Ji masih tidak bisa bergerak. Tangannya seperti terikat oleh rantai berlapis-lapis dan di kaitkan dengan beban. Kakinya bergetar, matanya memanas, pipinya sedikit mengembang. Dingin udara di sekitarnya tidak membuat suhu tubuhnya yang memanas kembali dingin.

“Ada yang ingin Ibu tanyakan,” Nyonya Jung berjalan mendekati Eun Ji. “Apa kalian pernah melakukan hal itu?”

Eun Ji tahu ia tidak bisa berbohong. Berbohong jelas bertolak belakang dengan prinsip hidup yang diajarkan Ayahnya. Baik untuk kebaikan maupun untuk ketenangan perasaannya, berbohong tetaplah berbohon, satu hal yang sangat dibenci Ayahnya.

Perlahan, dengan teramat pelan, seakan-akan takut air matanya menetes dengan tidak sengaja, Eun Ji menganggukan kepalanya. Detik berikutnya ia lalui dengan sangat menegangkan. Seperti takut jika suatu saat Ibunya akan menyiramnya dengan berbagai kata-kata kasar.

“Ah…”

Satu desahan panjang terdengar dari tempat Ibunya. Eun Ji masih belum berani mengangkat kepalanya untuk sekedar melihat raut wajah kesal Ibunya. Ia yakin kali ini Ibunya pasti marah seperti waktu beliau tahu Eun Ji menggunakan obat-obat itu.

“Lupakan saja. Yang lalu bisa kau lupakan, anggap saja semuanya hanya angin lewat. Kabar baiknya memang kau tidak hamil karna kau masih dalam pengaruh obat itu. Tapi lain kali, Ibu harap kau tidak melakukannya lagi Eun Ji-ah. Tidak dengan siapapun.”

Eun Ji mengangguk lagi. Suaranya masih tercekat, dan dadanya terasa sesak, seperti ada yang mau meledak di dalamnya tapi tidak bisa ia keluarkan. Sesuatu yang sangat sakit jika dipendam, namun juga sakit jika dilakukan.

“Apa hubungan kalian berdua saat ini?” tanya Ibunya.

Eun Ji memaksakan suaranya, “Hanya teman, tidak lebih.”

“Bagus. Ku harap tidak ada di antara kalian yang memiliki keinginan untuk saling mengenal lebih dalam dan menjalani hubungan yang serius. Kau tahu sendiri apa yang akan terjadi nantinya Eun Ji.”

Kali ini Eun Ji menatap Ibunya tidak mengerti. Benar, Ibunya terlalu melarang hubungan keduanya. Dan, lagipula apa yang akan terjadi kalau mereka saling menyukai bahkan saling mencintai? Apa akan ada yang mati?

“Apa yang akan terjadi, bu?” tanya Eun Ji memberanikan diri.

Ibunya menghela napas sebelum berkata, “Anak-anak ZIA. Apa kau tidak pernah berpikir apa yang akan terjadi pada mereka? Apa kau tidak sadar kalau kebahagiaan mereka sekarang ini berada di tanganmu? Eun Ji-ah, mereka semua adikmu, adik lebih penting dibandingkan seorang pria bejat yang hanya memanfaatkan tubuhnya dan kebodohanmu.”

“Ibu!” Eun Ji meninggikan suaranya.

“Semua laki-laki di dunia ini sama Eun Ji-ah. Setelah mereka mendapatkan apa yang mereka cari, mereka pasti pergi begitu saja. Apa kau pikir Ayahmu tidak seperti itu? Ayahmu pergi setelah merasakan hidup senang bersama kita,meninggalkan kita yang mulai kesusahan menjalani beratnya hidup dan beban kehidupan…”

“Ayah pergi karna memang sudah sebuah keharusan Ibu!” Eun Ji memotong perkataan Ibunya dengan nada suara yang lebih tinggi, “Tidak ada yang tahu kapan nyawa seseorang menghilang dan tidak bisa kembali. Tidak ada yang tahu kapan Tuhan menanggil nama kita dan menyuruh kita pulang ke tempatnya. Tidak ada yang tahu Ibu.

“Dan soal Myung Soo. Bagaimana pun kami hanya berteman. Dia melakukan hal itu juga hanya sekedar menolongku dari rasa sakit obat yang biasa ku gunakan. Tidak ada maksud lain Ibu. Lagipula, aku yakin Myung Soo juga tidak seperti Kyung Won yang memanfaatkanku, kalaupun ia mau, ia pasti tidak melarang bahkan membuang semua obat-obatanku. Ku mohon berhenti memojok-mojokan Myung Soo. Dia berbeda bu.”

“Terserah apa katamu. Yang terpenting saat ini adalah hubungan kalian, sekali kau berkata tidak, tentu saja kau tidak mau dan tidak akan pernah menjalin hubungan yang serius dengannya.”

Eun Ji menarik napas sejenak, memberikan ruang pada tubuhnya untuk berpikir jenih. Ia tidak bisa menghadapi Ibunya dengan emosi yang meluap-luap, ia membutuhkan otak dingin dengan berbagai hal-hal positif di dalamnya.

“Lebih baik Ibu pulang sekarang. Ayo temani Ibu pamit.” Ajak Ibunya seraya mengakhiri suasana tegang tersebut.

Eun Ji menoleh sedikit, sebelum akhirnya mengikuti Ibunya berjalan menuju anak-anak ZIA dan Myung Soo berada. Semua anak-anak, termasuk Myung Soo, sontak berhenti bergurau dan berpamitan pada Nyonya Jung.

Eun Ji yang sempat menawarkan diri untuk mengantarkan Ibunya pulang langsung ditolak mentah-mentah dan memutuskan untuk pulang terakhir dengan alasan ingin mengobrol dengan Minhwa. Ibunya pun tidak curiga karna saat itu Myung Soo sudah bersiap untuk kembali ke apartemennya.

Meskipun pada kenyataannya Eun Ji pulang bersama Myung Soo.

Eun Ji mengerjapkan matanya dan menjatuhkan dirinya di atas sofa. Memikirkan jawaban pada Ibunya yang merupakan janji kembali membuatnya merasa terbebani.

Apa susahnya menjauhi seseorang? Pasti sangat mudah bukan? Kecuali kalau kau memang menganggap orang itu penting dalam hidupmu atau karna kau mencintainya. Eun ji memukul keningnya, tidak ada kata cinta dalam hidupnya yang saat ini.

Satu pukulan mengenai kedua telinganya. Ketika kedua telinganya menangkap bunyi tidak asing yang berasal dari ponselnya, ketika itu juga ia mengutuk hidupnya yang penuh dengan gangguan. Entah dalam hal nyata, atau pun maya.

Eun Ji meraih ponselnya dalam keadaan setengah berbaring. Salah satu telapak tangannya menyentuh kening yang mulai terasa berputar. Dunia benar-benar membuatnya frustasi. Tapi terkadang rasa frustasi memiliki obat, walaupun hanya dalam bentuk pesan singkat yang terpampang di layar ponselnya. Satu pesan dari Myung Soo.

Punya rencana untuk besok? Bagaimana kalau pergi denganku?

Eun Ji menelan lidah. Rasanya ingin mengatakan ‘ya’ dan tersenyum senang, namun kenyataan yang sebenarnya kembali menelan seluruh kebahagiaannya. Dengan ragu dan sesal, Eun Ji membalas pesan Myung Soo.

Maaf Myung Soo, aku berjanji mengajak Minhwa pergi besok.

Eun Ji meletakan ponselnya, kembali menekan keningnya yang tidak sakit. Tidak sepenuhnya bohong, pikir Eun Ji.

Kalau diingat-ingat, memang sudah lama keduanya–Eun Ji dan Minhwa–pergi bersama. Terakhir kalinya adalah ketika mereka berdua pergi menemui Kyung Won yang sedang bersama temannya. Tepat di hari kedua setelah kejadian itu.

Dan beberapa hari setelah itu, Minhwa memang sempat mengajak Eun Ji pergi berdua. Tapi karna masalah dan jadwal yang tidak memungkinkan, rencana mereka pun harus ditunda. Sampai akhirnya beban terberat yang pernah mereka temui datang, menghancurkan segala harapan dan kerja keras. Membuat semua yang mereka miliki hilang, dicuri dengan mudahnya oleh Kyung Won.

Eun Ji kembali tersadar dari hayalannya ketika ponselnya kembali berdering. Dengan bermalas-malasan, ia pun kembali meraih ponsel yang tergeletak di sebelahnya.

Penting? Bagaimana kalau aku ikut dengan kalian?

Eun Ji baru saja menggerakan jarinya di atas ponsel ketika sebuah panggilan menyentakannya. Ia hampir saja membanting ponselnya, menghancurkannya menjadi berkeping-keping tanpa sisa, kemudian hidup tanpa ponsel. Sederhana bukan?

Namun semuanya berbeda jika ia tahu siapa yang menelfonnya. Kim Myung Soo.

“Sudah baca pesan dariku? Bagaimana?”

Eun Ji tidak sempat mengatakan salam atau beberapa kata pembuka ketika sambungan telfon berhasil terjawab. Mendengar suara Myung Soo membuatnya teringat dengan apa yang dijanjikannya pada Ibunya. Ia belum siap untuk kembali hidup tanpa teman, hanya itu.

“Sepertinya tidak bisa.”

Satu jawaban dari Eun Ji. Yah, kali ini ia sungguh tidak bisa mengelak dari janjinya. Ia tidak bisa menolak untuk dak berhubungan dengan Myung Soo, menjauhi lakki-laki itu sebelum perasaan aneh kembali muncul dalam dirinya.

“Kenapa? Apa ada oranglain yang pergi dengan kalian?”

“Tidak. Urusan perempuan Myung Soo-ssi, ku pikir kau tahu maksud perkataanku.”

Urusan perempuan dalam hal apa? Sejak kapan Minhwa menjadi seorang gadis  yang super sibuk?

“Baiklah. Ku rasa lusa atau mungkin lain waktu kita bisa pergi bersama. Sudah malam, tidurlah. Jangan pikirkan hal-hal yang tidak penting. Istirahatlah, besok pasti kau akan sibuk. Sampai jumpa Eun Ji-ah.”

Eun Ji menahan napasnya. Perhatian Myung Soo benar-benar membuatnya merasa bersalah. Berbohong bukanlah sesuatu yang diharapkannya, tapi membuat Myung Soo kecewa karna kebohongannya juga bukan hal yang diinginkannya. Ia ingin Myung Soo bahagia, tanpa memikirkan kesedihannya.  Ia ingin hidupnya kembali normal, tanpa memperdulikan sakit hatinya.

“Selamat malam Myung Soo-ssi.”

Sambungan terputus ketika Eun Ji mengatakan salamnya. Matanya kembali memanas, dan tubuhnya terasa berat. Bagai diterpa angin dan tidak bisa bergerak. Banyak masalah yang menumpuk dalam tubuhnya, banyak kesalahan yang ia lakukan di dalam hidupnya.

Sampai akhirnya ia sadari tubuhnya di luar kendali. Menangis, berteriak, bahkan memukul dirinya sendiri dengan tangan yang mengepal. Menyadari kenyataan yang menerpa perasaannya.

Ia tidak mencintai Myung Soo.

Tidak ada rasa sayang, suka, bahkan cinta dalam dirinya untuk Myung Soo.

Keduanya hanya berteman. Myung Soo membantunya dan ia berterima kasih. Tidak ada cinta.

Eun Ji tidak mencintai Myung Soo. Di dunia ini tidak ada Kim Myung Soo yang dicintainya.

Terlalu cepat untuk jatuh cinta, dan terlalu cepat untuk merasa sakit hati. Aku tidak mencintai Kim Myung Soo, tidak untuk seorang Kim Myung Soo ataupun Kim Myung Soo yanglainnya.

****

Pintu ruangannya terbuka, menampilkan sosok Minhwa dengan jeans panjang dan kaos simple dengan model yang sedikit kuno tapi tidak memberikan kesan tua pada pemakainya.

Eun Ji memutar kepalanya, memberikan satu senyum manis yang dipaksakannya–tetap dengan harapan Minhwa tidak mengenali adanya paksaan dalam senyumnya.

Perlahan, Minhwa menghampiri Eun Ji di tempatnya, menjatuhkan dirinya disofa tepat di sebelah Eun Ji. Kini, dua gadis itu duduk bersebelahan dengan senyum yang tidak lepas dari wajah keduanya. Eun Ji yang duduk sambil memegang ponsel, dan Minhwa yang duduk seraya mengambil majalah di depannya, membolak-balik halaman dan terkagum-kagum karnanya.

“Bagaimana tidurmu?” Eun Ji memulai percakapan mereka dengan basa-basi ringan.

“Tidak terlalu buruk. Hanya saja, Eun Kyung masih belum bisa tidur nyenyak, jadi mau tidak mau aku masih harus bangun dan mengecek keadaannya. Bagaimana dengan eonni?”

Eun Ji mendesah perlahan, “Sama sepertimu, tidak terlalu buruk.”

“Ada apa eonni? Apa ada masalah lagi?”

Eun Ji menoleh sedikit, memberikan tatapan lembut dan kembali memusatkan perhatian pada ponsel, seperti sedang menunggu sebuah panggilan namun juga tidak.

“Sedikit,” jawab Eun Ji. “Tapi tidak apa, tidak terlalu penting. Sekarang, bagaimana kalau kita keluar? Aku lapar. Kau sudah makan?”

Minhwa menggeleng sambil tetap tersenyum, “Eonni tahu sendiri bagaimana keadaan di sana.”

“Maaf,” seru Eun Ji perlahan. “Baiklah, sebaiknya sekarang kita pergi.”

Keduanya bangkit dari tempat mereka, melangkah perlahan meninggalkan ruangan Eun Ji menuju cafe yang biasa di tempati Eun Ji.

Eun Ji merasa sedikit menyesal karna hanya bisa mengajak Minhwa pergi. Seandainya ia memilki kesempatan, ia pasti akan mengajak semua anak-anak ZIA pergi. Makan diluar tepat pada jamnya, dan bermain layaknya anak-anak pada umurnya.

Namun, karna batasan-batasan yang ia miliki, ia jadi tidak bisa berpergian. Bosnya terlalu mengharapkan keadaannya di kantor, mengaharapkan dirinya yang sibuk menulis lirik-lirik baru dan menghasilkan karya yang akan mereka jual pada artis mereka. Mengenaskan.

Eun Ji ingat ketika pertama kalinya ia benar-benar tidak datang ke kantornya. Bosnya benar-benar menunjukan wajah seorang laki-laki lanjut usia yang sedang menahan panas dalam tubuh, wajahnya memerah, dan suhu tubuhnya yang panas membuat udara di sekelilingnya pun memanas. Dan pada hasilnya, Eun Ji pun dimarahi.

Dimarahi bos sendiri bukan hal terburuk dalam hidup Eun Ji. Ia bahkan tidak merasa tertekan ketika bosnya itu berteriak menggumamkan kata-kata dalam logat yang terkesan aneh. Kemudian, ketika Eun Ji berhasil memasuki ruangannya, ia akan tertawa layaknya seseorang yang puas setelah menonton film komedi.

“Apa sebelumnya aku pernah ke tempat ini, eonni?

Eun Ji menoleh sambil tersenyum kecil pada Minhwa. Melihat wajah Minhwa yang sedikit kebingungan, membuatnya merasa sedikit terhibur. Entah karena, wajah Minhwa yang lucu, atau ia yang sedang menertawai Minhwa.

“Belum. Aku sendiri juga baru menemukan cafe ini beberapa hari yanglalu. Tidak perlu khawatir, tidak ada bedanya makan di tempat seperti ini dengan tempat makan yang terakhir kali kau datangi.”

Eonni meledekku ya?”

“Tidak, tentu saja tidak. Aku hanya berpikir kalau kau bingung, itu sebabnya aku berkata seperti itu. Lagipula, apa untungnya aku meledekmu?”

Minhwa bergumam menyetujui perkataan Eun Ji sebelumnya. Sambil terus berjalan mencari tempat kosong di dalam cafe, mata Minhwa tak ada hentinya berputar ke segala arah, memperhatikan satu demi satu pengunjung yang makan di cafe itu.

Eonni!”

Eun Ji berhenti melangkah ketika Minhwa memanggilnya. Gadis itu mengarahkan tangannya ke kiri, menunjuk salah satu meja di sebelah kiri. Eun Ji mengangkat alisnya, tidak ada tempat kosong di sebelah sana. Kenapa Minhwa menunjuk ke sana?

“Lihat itu. Bukankah yang di sana itu Paman Myung Soo? Dia datang ke sini dengan siapa ya. Bagaimana kalau kita duduk di sana saja?”

Eun Ji masih mengalihkan perhatiannya dari Minhwa, mencari laki-laki yang di sebut Minhwa dengan nama Myung Soo. Tidak ada. Bagaimana gadis itu bisa berkata bahwa ia menemukan Myung Soo, kalau ia sendiri tidak melihat tanda-tanda adanya Myung Soo di sekitar mereka?

Sebelum Eun Ji sempat menjawab, Minhwa melangkahkan kakinya ke arah yang tempat yang tadi ditunjuknya. Eun ji sedikit heran melihat Minhwa yang dengan riangnya berjalan menuju meja tempat sepasang kekasi tengah duduk dan menikmati hidangan mereka.

Apa gadis itu gila menyangka laki-laki itu sebagai Myung Soo?

Sepertinya bukan Minhwa yang gila. Eun Ji merasa dirinyalah yang gila ketika melihat laki-laki yangtadi ditemui Minhwa menatapnya dalam. Laki-laki itu menatap Eun Ji tanpa berkedip, tanpa menyuarakan sesuatu, dan tanpa memperdulikan tatapan gadis lain di hadapannya.

Eonni, cepat ke sini!”

Eun Ji merasa darahnya berhenti mengalir ketika Minhwa memintanya untuk mendekat. Ia tidak bisa datang, ia tidak mau hatinya berkata lain ketika ia mendekat. Banyak hal yang tidak ia inginkan, tapi banyak hal lain yang tidak bisa ia tolak. Seperti mendekat. Ia tidak bisa menolak untuk tidak mendekat, karna ia tahu Minhwa akan curiga dengannya.

Perlahan tapi pasti, Eun Ji melangkah mendekat. Matanya menangkap adanya senyum kecil dalam wajah Myung Soo, tapi hatinya menangkap adanya luka goresan dalam tubuh Eun Ji. Tepat ketika Eun Ji berdiri di sebelah Minhwa, Eun Ji merasa adanya aura tidak senang di sekitarnya.

“Paman, bagaimana kalau aku dan eonni bergabung? Tidak apa bukan? Tempat di sini sudah penuh, bagaimana paman?”

Eun Ji mengutuk dirinya yang tidak kunjung mengeluarkan suara, namun juga mengutuk Minhwa yang berbicara seenaknya. Apa Minhwa tidak melihat gadis yang sedang bersama Myung Soo?

“Tentu saja. Lagipula, Eun Ji masih berhutang budi padaku.”

“Apa?”

Eun Ji mendapati dirinya bersuara. Suaranya terdengar dipaksakan. Dalam hati,ia mengutuk Myung Soo yang berani-beraninya memancingnya bersuara.

Apa yang ia maksud dengan hutang?

“Kau lupa, kau masih berhutang padaku.” Ulang Myung Soo pada Eun Ji.

“Hutang apa? Sejak kapan aku meminjam uangmu? Oh, maaf sekali Myung Soo-ssi, tapi aku benar-benar tidak pernah meminjam uang padamu.” Elak Eun Ji tegas, “Dan Minhwa, sebaiknya kita mencari tempat lain. Aku yakin masih ada tempat kosong di cafe ini.”

“Tapi eonni…”

“Duduk di sini Minhwa. Eonnimu itu hanya malu saja, duduklah. Dia juga pasti duduk nantinya, dia tidak pernah bisa lari dari hutangnya.”

Sambil menahan emosi, Eun Ji berkata, “Sejak kapan aku berhutang padamu? Sudah ku katakan aku tidak pernah meminjam uang padamu.”

“Kejadian malam itu.”

Eun Ji mematung di tempatnya. Ia mengira Myung Soo tidak akan membahas kejadian malam itu, tapi kenapa laki-laki itu memintanya membayar? Eun Ji berdecak, ternyata Myung Soo tidak berbeda dengan laki-laki bejat lainnya.

“Apa yang kau mau?” tanya Eun Ji.

“Tidak sulit, duduklah di sini.”

***

Myung Soo menatap Eun Ji dengan senyum puas. Gadis itu benar-benar tidak bisa berkata apa pun ketika ia menyebutkan kejadian malam itu. Kejadian dimana keduanya berada dalam satu ranjang yang sama.

Sebenarnya, Eun Ji tidak memiliki hutang padanya. Ia sendiri melakukan hal itu karna nalurinya. Entah naluri seorang laki-laki atau memang naluri perasaan lainnya, yang pasti kejadian malam itu benar-benar membuatnya ingin berada di dekat Eun Ji, selalu.

“Apa yang kau mau?”

Myung Soo mendapati Eun Ji bertanya. Terdengar terdesak, tapi ia tidak peduli. Melihat gadis itu berdiri di hadapannya sudah cukup memberikan rasa lega, dan ia merasa dunianya kembali hidup.

Tanpa memperdulikan tatapan Cha Young padanya, ia menjawab, “Tidak sulit,duduklah di sini.”

“Apa? Myung Soo-ah, yang benar saja…”

Myung Soo menatap Eun Ji dalam, tidak dihiraukannya perkataan dan elak-elakan yang keluar dari mulut Cha Young. Perhatiannya saat ini hanya Eun Ji, kehadiran Eun Ji di sekitarnya.

“Lihatlah, kekasihmu tidak mengharapkan keberadaanku di sini. Jadi sebaiknya aku dan Minhwa mencari tempat lain saja. Terima kasih untuk tawarannya Myung Soo-ssi.”

“Apa kau mau aku menceritakan kejadian malam itu pada Minhwa?” tanya Myung Soo, “Secara mendetail tentunya.”

Lagi, Myung Soo mendapatkan tatapan tajam dari Eun Ji. Tatapan marah yang tidak bisa diartikan, tatapan yang menggundang rasa senang dalam diri Myung Soo. Ia suka tatapan itu, tatapan yang membuatnya merasa hidup.

“Jangan bertingkah seperti orang gila, Myung Soo-ssi.”

“Kalau begitu duduklah, atau kupastikan Minhwa tahu semua detail kejadian itu.”

Myung Soo merasa adrenalin dalam dirinya kembali naik, berperang kata dengan Eun Ji memang menyenangkan, apalagi kalau gadis itu sampai menyebutnya ‘bodoh’. Myung Soo merasa dirinya pantas disebut seperti itu jika di hadapan Eun Ji.

“Cerita apa eonni? Oh, jangan bilang cerita seperti yang waktu Kyung Won oppa katakan padaku. Oh, cukup, lebih baik kita duduk di sini karna aku muak dengan cerita seperti itu.”

Myung Soo tersenyum puas melihat reaksi Minhwa, ia tahu ia pasti menang.

“Bagaimana?”

Helaan napas terdengar dari Eun Ji, gadis itu menyerah. Ia memilih untuk menetap di meja itu sambil menunggu pelayan mengantarkan menu ke meja mereka.

“Sepertinya aku pernah melihatmu sebelumnya.”

Myung Soo mengalihkan perhatiannya pada Cha Young yang tadi sempat ia lupakan. Cha Young menatap Eun Ji tajam, sama seperti tatapan yang tadi diberikan Eun Ji padanya. Tatapan tidak suka. Ia yakin kesan pertama pertemuan Cha Young dan Eun Ji berjalan tidak baik.

“Oh ya? Tapi sepertinya aku tidak.”

“Tentu saja tidak. Kau datang ke sini untuk bersenang-senang kemarin.”

“Benarkah? Sepertinya kau melihat apa yang kulakukan kemarin.”

“Bukan hanya aku. Tapi, Myung Soo juga.”

Myung Soo mendongak menatap Cha Young yang menyebut namanya. Sedikit tersentak, namun ia tetap menunjukan wajah datar tanpa ekspersi. Eun Ji yang tadi sibuk memilih makanannya pun, mau tidak mau melirik Myung Soo. Melemparkan berbagai pertanyaan melalui tatapannya.

“Jadi, apa aku harus keluar sekarang?”

Myung Soo menatap Eun Ji dalam. Berharap gadis itu tidak pergi dan marah padanya. Cha Young memang  berkata seenaknya, tapi ia tidak. Ia tidak mau perkataan Cha Young merusak suasana hatinya. Suasana hatinya yang mulai membaik karna Eun Ji.

“Bagaimana menurutmu? Ku pikir kau sudah tahu jawabannya ketika melihat sepasang kekasih yang sedang menikmati makan siangnya.”

Tatapan tajam Eun Ji kembali bertemu dengan mata Myung Soo. Myung Soo merasa Cha Young baru saja mengetes kesetiaannya. Apa Cha Young lupa kalau mereka berdua hanya dijodohkan?

“Oh ya. Kau benar,” sahut Eun Ji. “Minhwa, seharusnya kita tidak di sini.”

***

Eun Ji meletakan daftar menu yang tadi sempat dipegangnya, meraih kembali tas genggamnya dan bangkit berdiri ketika sebuah tangan menahan dirinya.

Tangan yang sama seperti kemarin malam. Tangan yang memeluknya, memberikan kehangatan, dan membuatnya tidak bisa bergerak. Tangan yang membuatnya mulai tidak mengerti dengan perasaannya, tangan yang membuatnya merasa terbebani, merasa tersakiti, merasa kesepian.

“Apa?”

Eun Ji memaksakan suaranya terdengar. Sementara hatinya mulai berdetak tanpa irama, matanya memanas menatap tangan Myung Soo yang menggenggamnya. Ia ingin menangis, tapi terlalu sulit untuk dilakukan. Ia ingin berteriak, tapi terlalu memalukan untuk saat ini.

“Duduklah. Kau hanya salah paham.”

Eun Ji tersenyum meremehkan. Myung Soo salah kalau berfikir ia salah paham, Myung Soo bodoh kalau berfikir ia salah paham, Myung Soo tidak sadar dengan apa yang baru saja ia katakan.

“Siapa? Aku?” tanya Eun Ji, “Yang salah paham itu kalian berdua. Sepasang kekasih tentu bisa salah paham kalau aku ada di sini.”

Eun Ji menghentakan tangan Myung soo. Berada di sekitar Myung Soo bisa membuatnya semakin gila, entah karna janjinya pada Ibunya, atau mungkin karna saat ini Myung Soo yang mempermainkannya?

“Minhwa, maaf kalau aku membatalkan janjiku hari ini.”

“Tidak Minhwa,” potong Myung Soo. “Kau tetap di sini, biar aku yang bayar makanannya.”

Tatapan Myung Soo dan Eun Ji terus beradu, meskipun arah bicara mereka untuk oranglain, namun keduanya masih enggan untuk melepas tatapan. Takut-takut tidak ada waktu lain untuk saling menatap, saling menyalurkan perasaan melalui tatapan.

“Terserah apa katamu.”

Tepat setelah mengatakan kata-kata ketus tersebut, Eun Ji melangkah menjauh. Langkahnya sedikit terburu-buru dan tidak beraturan. Bahkan Eun Ji sempat menakbrak orang-orang yang sedang berjalan ataupun sedang duduk di tempat mereka.

Tanpa memperdulikan orang-orang, Eun Ji berjalan keluar. Mencari tempat terjauh yang bisa membuatnya melupakan kejadian tadi. Melupakan semua yang mengganggu hidupnya. Melupakan Myung Soo yang menyakiti hatinya.

Kaki Eun Ji berhenti melangkah ketika ia menyadari sekitarnya bukan lagi jalan raya atau taman, melainkan sebuah gedung kosong yang tidak berpenghuni. Gedung yang menyerupai sebuah rumah dan tidak diurus, tapi juga tidak terlihat kotor atau semacamnya.

Bukankah itu bagus, itu artinya aku bisa menyalurkan perasaanku semauku bukan?

Perlahan tapi pasti, Eun Ji melangkah menjelajahi tiap ruangan yang ada di gedung tersebut. barang-bara di dalam gedung tersebut terlihat kuno, tapi masih bisa dipakai. Beberapa di dalamnya terdapat nama pemilik yang diukir dari goresan kayu, dan ada juga yang ditulis dengan tinta warna.

Setelah memasuki satu demi satu ruangan dalam gedung tersebut. Eun Ji berhenti sejenak, jiwa arsiteknya muncul dan menilai gedung tersebut. Ia merasa gedung tempatnya berpijak saat ini bukanlah seperti gedung, melainkan sebuah rumah kosong yang tidak ditempati.

Mata Eun Ji menangkap adanya ruangan tertutup dengan bacaan ‘Come in’ tergantung di depan pintu. Merasa penasaran, ia pun mengikuti nalurinya mendekati ruangan tersebut. Dengan sedikit ragu, ia meletakan tangannya, mendorong pegangan pintu dan melangkah perlahan.

Ruangan dengan nuansa merah muda langsung saja memenuhi mata cantik Eun Ji. Tidak ada banyak barang dalam ruangan tersebut, hanya ada satu kasur, satu lemari, dua kursi dengan satu meja, dan satu piano di sudut ruangan. Eun Ji menyapu pandangannya, kemana pemilik rumah ini?

Tanpa sadar, Eun Ji kembali melangkah mendekati piano yang berada di sudut ruangan. Piano putih dengan ukiran nama pemilik di sisi kanan, terlihat cantik dengan ikatan pita di kakinya. Tangan Eun Ji beralih menyentuh permukaan piano tersebut,menekan satu tuts dan tersenyum perlahan.

Kemudian, matanya mendapati satu lipatan kertas. Melihat dari warna kertas itu, Eun Ji berpikir bahwa piano putih yang ia temui sudah cukup lama berada di sini. Eun Ji meraih kertas tersebut, membuka, dan membaca tulisan yang terdapat di dalamnya.

Untuk Park Eun Ji, teruslah menananyi. Aku mencintaimu.

–Jung Hyun Soo

Eun Ji terbelalak menatap tama yang tertera dalam surat tersebut. Park Eun Ji. Nama yang sama dengan namanya, namun juga berbeda. Marga keduanya berbeda, dan keduanya tentu–sudah dipastikan–berbeda, mengingat Park Eun Ji menyukai warna putih, mereka pasti memiliki kepribadian yang berbeda.

Untuk sejenak, Eun ji merasa rasa sakit di hatinya menghilang. Ia beralih menyimpan kertas lusuh tersebut, dan mengganti kertas tersebut dengan kertas yang lebih baru. Hanya sekedar berjaga-jaga kalau Park Eun Ji akan datang melihat piano yang diberikan kekasihnya.

Bagaimana kalau satu lagu?

Mengikuti kemauannya, melupaka segala masalahnya, Eun Ji menarik salah satu bangku di ruangan tersebut. menarik napasnya dan perlahan memainkan jarinya di atas tuts-tuts piano putih milik Park Eun Ji. Memainkan lagu yang menyerupai perasaannya saat ini.

And it mightbe wonderful, It might be magical
It might be everything I’ve waited for A miracle
Oh, But even if i fall in love again with someone new
It could never be the way I loved you

Like a first love, The one and only true love
Wasn’t it written all over my face
I love you like you loved me
Like something pure and holy
Like something that can never be replaced

And it was wonderful, It was magical
Itwas everything I’ve waited for A miracle
And if I should ever fall in love again with someone new
Oh, it could never be the way
No, it will never be the way
I loved you

Selena Gomez–The Way I Loved You

Eun Ji menutup mata dan menghirup udara di sekitarnya. Lagu yang ia mainkan memang tidak sepenuhnya mewakili perasaannya. Tapi setidaknya, ia bisa merasa lega dengan pengungkapan yang tidak secara langsung itu.

Setidaknya, ia bisa mengatakan perasaannya yang sebenarnya. Walapun hanya melalui sebuah lagu. Ia merasa lagu lebih mengerti keadaan dirinya, dibandingkan orang-orang di sekitarnya. Ia merasa lagu adalah temannya. Lebih dari sekedar teman. Lebih dari perasaannya pada Myung Soo. Lebih dari hubungannya pada Myung Soo.

Lebih dari…

“Kau di sini rupanya.”

Eonni…”

TBC

3 responses

  1. Thor, jujur aku masih bingung sama jalan ceritanya. Wkwk
    Sebenernya ceritanya bagus, cuman penggambarannya agak rumit kalo menurutku (miannn). Kyuwon-nya dibanyakin dong thoor, penasaran. Terus masih belum tau dan pengen tau itu obat apaan sih yang diminum eunji #polos
    keep writing thooor

    • hei! thanks for reading! iyaaa, boleh tanya kok kalo emang masih nggak ngerti.
      soal obat, sebenernya aku ciptain karangan sendiri.
      pengen buat karakter eun ji jadi badgirl, dengan cara dia hidup dan pake obat itu.
      singkatnya, itu obat perangsang yang bisa membunuh sekaligus mencegah kehamilan pada sipengguna.
      btw thanks again! lafya<3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s