Happiness (Chapter 5)

Happiness.

Genre  : Romance.

Rating : NC-21

Cast     : Kim Myung Soo–Jung Eun Ji–other cast as showing.

Part 5

Myung Soo tidak langsung mendekati Eun Ji, ia memberikan waktu tersendiri untuk Eun Ji. Begitu menemukan gadis itu yang memasuki gedung kosong, Myung Soo mimiliki firasat yang tidak bisa dijelaskan. Ia merasa ragu, tapi juga takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Myung Soo juga sudah melarang Minhwa untuk ikut masuk, dan menyuruh gadis itu kembali ke rumah. Tapi Minhwa menolak, gadis itu terus saja menyalahkan dirinya sendiri yang terus memaksa Eun Ji untuk makan bersama Myung Soo.

Myung Soo sendiri tidak merasa bersalah, karna ia memang menanti untuk makan dan pergi bersama Eun Ji. Namun, sikap Eun Ji, terlihat menjauh di mata Myung Soo. Entah hanya ia hanya, atau Eun Ji memang benar-benar sedang berusaha menjauhinya.

Tapi kenapa?

Myung Soo tidak merasa melakukan kesalahan, ia sedikitpun tidak merasa merebut kebahagian Eun Ji. Tidak menyakiti, tidak bicara yang macam-macam, tidak juga berbuat sesuatu yang salah. Lalu kenapa? Apa Eun Ji marah karna Cha Young? Eun Ji cemburu?

“Paman, aku takut…”

Myung Soo menoleh ke arah Minhwa, menggenggam lengan Minhwa dan menuntun gadis itu berjalan di sampingnya. Mata Myung Soo tidak sedikitpun lepas dari gerak gerik Eun Ji yang tampak tidak takut. Eun Ji berjalan mendekati satu ruangan yang di depannya tertulis ‘Come In’. Ada sedikit keraguan dalam benak Myung Soo mengenai ruangan tersebut.

Dan tepat ketika pintu ruangan terbuka, kemudian menyembunyikan sosok Eun Ji di dalamnya. Myung Soo melangkah perlahan, masih tetap menuntun Minhwa yang kini berjalan di belakangnya. Perlahan, Myung Soo meraih pegangan pintu dan membukanya pelan. Sangat pelan. Takut-takut Eun Ji menyadari keberadaannya.

“Paman, apa yang eonni lakukan di dalam?”

Suara Minhwa mengalihkan perhatian Myung Soo dari Eun Ji. Ditatapnya wajah Minhwa yang terlihat khawatir, kemudian Myung Soo tersenyum singkat. Memberikan jawaban untuk tetap tenang. Dan detik berikutnya, Myung Soo bisa mendengar suara Eun Ji yang lembut menggema dari dalam ruangan bernuansa merah muda.

“Paman, apa yang bermain piano dan menyanyi itu eonni?”

Myung Soo melirik dan tersenyum pada Minhwa, kemudian ia memberikan sedikit tempat untuk Minhwa, membiarkan gadis itu menyaksikan Eun Ji bernyanyi. Walaupun Myung Soo sendiri tidak tahu, apa Minhwa pernah melihat Eun Ji menanyi sebelumnya atau tidak.

“Eun Ji-eonni… Kenapa suaranya indah sekali?” gumam Minhwa, lebih kepada diri sendiri. “Kenapa eonni tidak pernah mau menyanyi di depan kami? Apa ia malu? Tapi kenapa harus malu dengan suara seindah ini? Astaga eonni…

Myung Soo tersenyum sambil terus menatap Eun Ji yang bermain piano dengan mata yang terkadang tertutup dan terkadang terbuka. Menikmati nada demi nada yang dihasilkan dari sentuhan jarinya, dan meresapi lirik demi lirik yang dinyanyikannya.

Terdapat sedikit getaran dalam tubuh Myung Soo ketika mendengar beberapa bait dari lirik lagu tersebut yang mewaliki perasaannya. Ia merasa, lagu yang dinyanyikan Eun Ji ada hubungannya dengan apa yang ia dan Eun Ji rasakan. Bagaimana mungkin?

Beberapa menit setelah Eun Ji selesai bermain piano, Myung Soo melihat Eun Ji yang memejamkan mata dan menghisap oksigen di sekitarnya. Terlihat lebih cantik dan lebih natural, benar-benar seperti bidadari yang dibayangkan Myung Soo.

Karna sudah lama menunggu, Myung Soo memaksakan dirinya berjalan mendekati Eun Ji yang masih belum menyadari kedatangannya. Perlahan, tapi ia tahu ia pasti dapat meraih Eun Ji. Suara langkah kaki terdengar di belakangnya, Minhwa menyusulnya dengan tergesa-gesa.

“Kau di sini rupanya.”

Myung Soo mendapati dirinya bersuara. Mengalihkan perhatian Eun Ji, dan membuat Eun Ji menatapnya heran. Apa, kenapa, dan bagaimana bisa Myung Soo dan Minhwa berada di sini. Begitulah kira-kira pertanyaan yang ada di benak Eun Ji, menurut Myung Soo.

Eonni…”

Minhwa menyusul mengeluarkan suaranya ketika ia berdiri tepat di samping Myung Soo. Eun Ji beralih menatap Minhwa sejenak, kemudian bangkit dari kursinya dan meraih tasnya. Myung Soo menyadari adanya keanehan dalam sikap Eun Ji hari ini.

“Ayo, ku antar kau pulang Minhwa-ah. Maaf membuat harimu jadi berantakan.”

Myung Soo mengutuk perkataan Eun Ji, ia menyipitkan matanya dan menatap Eun Ji tajam. Tidak ada tanda-tanda yang terlihat kalau Eun Ji menganggap keberadaannya. Yang jelas terlihat adalah Eun Ji yang mengacuhkannya, mengabaikannya, menganggapnya tidak ada.

Eun Ji melangkah melangkah melewati Myung Soo. Tanpa menatap, memandang, dan mengatakan satu kata perpisahan. Myung Soo menahan emosinya, hanya tersisa satu jarak ketika Eun Ji melewatinya. Dengan tenaga yang ditahannya, Myung Soo menarik lengan kanan Eun Ji dan membuat gadis itu jatuh kembali dalam pelukannya.

“Astaga…”

Pekikan terdengar dari arah Minhwa, gadis itu terkejut melihat apa yang terjadi di hadapannya. Dengan segera dan spontanitas yang tinggi, Minhwa menutup kedua matanya dengan kedua telapak tangannya. Berjaga-jaga agar ia tidak melihat sesuatu yang belum-cukup-untuk-umurnya.

Myung Soo menyadari adanya keanehan yang Minhwa, tapi ia juga tidak terlalu peduli. Ia yakin, Minhwa memiliki umur yang cukup untuk sekedar melihat adegan berpelukan. Bukankah, berpelukan itu boleh dilakukan siapapun?

“Lepaskan bodoh! Apa yang kau lakukan! Cepat lepaskan!”

Kali ini teriakan lainnya datang dari Eun Ji yang berada dalam pelukannya. Gadis itu terus saja menolak tindakan Myung Soo, dan terus memberontak dalam pelukannya. Myung Soo tidak melawan, tapi juga tidak melepaskan perlukannya. Ia akan menunggu Eun Ji menenang dalam pelukannya.

Seperti dugaannya, Eun Ji berhenti memberontak kurang lebih setelah lima menit berada dalam pelukan Myung Soo yang tidak kunjung memberikan responnya. Myung Soo masih belum bicara, dan Minhwa juga belum melepaskan tangan dari wajahnya. Dan jadilah mereka sekarang, diam membeku dalam pikiran masing masing.

Myung Soo menghela napas, dan hendak mengatakan sesuatu ketika Eun Ji lebih dulu bergumam dalam pelukannya.

“Minhwa-ah, sebaiknya kau tunggu di luar. Tunggu eonni di luar, eonni janji tidak akan lama dan tidak akan hal buruk yang terjadi di sini.”

“Tapi, eonni…

“Percaya saja Minhwa.”

Sesuatu yang dingin menyadarkan Myung Soo tentang Eun Ji. Dingin dan basah. Eun Ji menangis dalam pelukannya. Suaranya memang terdengar biasa saja, tapi kenyataannya, air mata gadis itu terus mengalir sambil menahan isakannya.

Myung Soo mempererat pelukannya ketika mengetahui Eun Ji yang menangis, dikecupnya puncak kepala Eun Ji dan dielusnya rambut panjang Eun Ji. Memberikan kehangatan dan meminta gadis itu untuk tetap tenang dalam pelukannya. Sementara Minhwa yang saat ini berjalan keluar dari ruangan, melirik sedikit ke tempat Myung Soo dan Eun Ji berdiri.

Pintu ruangan tertutup, dan Eun Ji masih belum bisa lepas dari pelukan Myung Soo. Tangis Eun Ji juga tidak terdengar, tapi masih bisa dirasakan Myung Soo. Keduanya larut dalam suasana, menikmati saat-saat berdua dalam sejuta masalah.

Tangan Eun Ji bergerak perlahan dalam pelukan Myung Soo. Perlahan menyentuh punggung Myung Soo, membalas pelukan Myung Soo untuk sesaat. Detik kemudian, tangan Eun Ji beralih memukul tubuh Myung Soo dan terisak dalam pelukannya. Eun Ji tidak mengatakan apapun, hanya memukul dan terus terisak dalam pelukan Myung Soo.

“Bodoh… Apa? Apa yang kau fikirkan… Kenapa selalu berbuat semaumu? Sebenarnya siapa kau… Kenapa membuatku merasa takut… Kenapa membuatku sakit… Siapa… Siapa kau…”

Myung Soo kembali mempererat pelukannya. Eun Ji yang bersuara membuatnya lebih merasa tenang. Tenang karna gadis itu masih mau berbicara, tenang karna gadis itu masih berada di sekitarnya, masih memikirkannya, masih menyebutnya dengan sebutan ‘bodoh’.

“Aku memang berterimakasih padamu… tapi bukan berarti… bukan berarti kau bisa menyakitiku… kau pikir aku ini siapa? Apa aku tidak ada artinya di matamu? Kenapa….”

“Jangan pergi.”

“Siapa kau… siapa kau… berani-beraninya memintaku tetap tinggal… kau pikir kau siapa…”

“Jangan pergi.”

“Lepaskan, Myung Soo-ssi…

“Jangan pergi, jangan menjauh, jangan memandangku seperti itu, jangan mengatakan hal itu lagi, jangan… jangan…”

Giliran Myung Soo yang bicara. Myung Soo mengatakan apa yang ada dalam benaknya, apa yang ada dalam pikirannya. Apa yang ada dalam hatinya yang tidak bisa ia katakan secara langsung. Ia butuh seseorang yang bisa mengerti dirinya, yang bisa membuatnya merasa nyaman, yang bisa membuatnya merasa ringan untuk menyalurkan perasaannya. Yang seperti Jung Eun Ji.

Eun Ji semakin terisak dalam pelukan Myung Soo. Entah bagaimana keadaan baju Myung Soo yang basah karna tangisan Eun Ji, keduanya tidak peduli. Yang mereka pikirkan saat ini, kenapa kenapa dan kenapa.

Kenapa Eun Ji menjauhi Myung Soo?

Kenapa Eun Ji tiba-tiba marah padanya?

Dan, kenapa Myung Soo meminta Eun Ji untuk tetap tinggal di sisinya?

Hanya hati kecil mereka yang tahu jawaban semuanya. Tidak ada yang bisa menjelaskan sebuah alasan, tidak ada yang mampu menyalurkan sebuah perasaan tanpa kemauan, dan tidak akan ada kejelasan selama tidak ada yang bicara.

“Bodoh. Myung Soo bodoh. Kim Myung Soo bodoh. Bodoh, bodoh, dan sangat bodoh.”

Myung Soo mengecup puncak kepala Eun Ji berulang-ulang. Mengirimkan kata maaf pada setiap kecupan. Ia masih belum bisa melepas pelukan keduanya, ia masih belum mau melihat Eun Ji yang kembali menatapnya tajam. Bukan masih, tapi ia tidak akan bisa dan tidak akan mau.

Namun, napas berat Eun Ji membuatnya merasa benar-benar seperti orang bodoh. Kalau saja Eun Ji kehilangan beberapa detik untuk bernapas, itu tandanya ia juga yang akan kehilangan Eun Ji. Apa sebenarnya yang ada di pikiran Myung Soo?

Dengan berat hati, Myung Soo menahan pundak Eun Ji dan menarik Eun Ji dari pelukannya. Ia memberikan sedikit jarak di antara keduanya, memberikan ruang bagi Eun Ji untuk bernapas.

“Apa yang terjadi padamu? Kenapa menjauh? Kenapa marah dengan tiba-tiba? Kenapa juga harus mengatakan semua itu?”

Myung Soo mulai mengatakan semua yang mengganggu pikirannya. Pertanyaan kenapa haruslah dijawab dengan sebuah alasan. Ia yakin Eun Ji mempunyai alasan yang membuat perasaan Myung Soo gelisah, ragu, dan takut. Dan ia percaya Eun Ji tidak akan berbohong.

“Katakan padaku,” ucap Myung Soo lebih lembut. “Apa yang mengganggu pikiranmu. Siapa yang membuatmu seperti ini?”

Di hadapan Myung Soo, Eun Ji memejamkan matanya. Membiarkan air mata yang sejak kemarin tertahan, mengalir bebas membasahi pipinya. Menatap Eun Ji yang seperti itu membuat Myung Soo merasa sakit. Sakit karna ia masih tidak bisa memberikan kebahagian yang pantas untuk seorang bidadari seperti Eun Ji.

“Kau… Kau, kau cemburu dengan Cha Young?”

Pertanyaan itu mengalir dengan sedikit keraguan dari mulut Myung Soo. Eun Ji mengadah menatap Myung Soo, air matanya masih mengalir tapi isakannya terhenti. Myung Soo tahu, ia baru saja membuat Eun Ji terhenyak dengan pertanyaannya.

“Jawab aku Eun Ji-ah.”

“Tidak.” Eun Ji menatap mata Myung Soo dalam. “Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan kekasihmu, aku tidak peduli dan tidak akan pernah peduli. Lagipula, siapa kau? Untuk apa aku peduli? Untuk apa aku peduli pada orang yang tidak benar-benar peduli padaku?”

Satu pedang berhasil mendarat tepat di hati Myung Soo. Menghancurkannya, membelahnya menjadi kepingan-kepingan sampah.

“Kekasihmu yang kau sebut Cha Young atau siapapun,aku tidak mengenalnya, dan aku tidak ingin mengenalnya. Untuk apa mengenal seseorang yang nantinya akan menyakitimu lebih dari yang sekarang? Untuk apa menyaksikan drama yang berakhir bahagia tanpa memperdulikan kebahagiaanku di sini?”

Dua pedang, dan Myung Soo merasa dunianya benar-benar di luar kendali.

“Kau siapa, kau siapa menyuruhku untuk tetap tinggal tapi kau sendiri pergi. Kau siapa?” Eun Ji meninggikan suaranya. “Bahagia di sana dan tidak memikirkanku di sini. Kau pikir kau siapa?”

Tiga pedang.

Eun Ji kembali terisak, lebih dari sebelumnya, dan Myung Soo kembali menarik Eun Ji kedalam pelukannya. Menenangkannya dan terus menggumamkan kata maaf. Bagaimanapun, Eun Ji benar, semua yang dikatakan Eun Ji memang tepat.

Myung Soo bertanya pada dirinya, siapa yang ada dalam hidupnya? Siapa yang membuatnya merasa nyaman? Dan siapa yang berhasil merebut hati dan pikirannya? Siapa, siapa dan siapa. Eun Ji atau Cha Young?

Jika memang gadis itu Cha Young. Saat ini, detik ini juga, ia pasti sudah kembali ke kantor dengan Cha Young. Menatap berbagai map yang harus ditanda tangani, menyelesaikan proposal yang sempat tertunda, dan mengadakan rapat dengan Cha Young dan yanglainnya.

Cha Young memang lebih sering terlihat dalam hari-hari Myung Soo, Cha Young jugalah yang lebih mengerti semua yang Myung Soo suka atau tidak, Cha Young tau semua tentang dirinya. Tapi, Cha Young tidak tahu-menahu soal hati Myung Soo.

Dan yang Myung Soo tahu, ia melihat Cha Young setiap harinya karna gadis itulah yang selalu ditemuinya di kantor. Gadis itulah yang menjadi sekretarisnya, yang kemudian dijodohkan dengannya karna keinginan Ibunya. Dan selain itu, Myung Soo sadar tidak ada lagi.

Jung Eun Ji. Gadis yang ia anggap sebagai bidadari, gadis yang sempurna untuk menjadi seorang Ibu, gadis yang memberikan keceriaan dalam hidup Myung Soo, memberikan arti kehidupan, memberikan sebuah senyum dalam setiap perkataan dan perbutan, meninggalkan sebuah kebahagiaan dalam satu kejadian yang tidak terduga.

Hanya butuh waktu dua hari untuk mengerti seorang Jung Eun Ji. Dengan menatap, berbicara, dan bergerak bersama, Myung Soo bisa tahu semua yang ada dalam diri Eun Ji. Baik rahasia, maupun fakta Eun Ji.

Eun Ji yang menyukai anak-anak, Eun Ji yang tidak suka dipojokan, dan Eun Ji yang selalu memaksa. Myung Soo yakin ia tahu semuanya, ia percaya Eun Ji berhasil membuatnya merasa nyaman, Eun Ji berhasil membuatnya bertekuk lutut dan melupakan dunianya.

“Maaf. Maaf karena aku yang berbuat semauku, maaf karena aku yang menyakitimu, maaf karena aku yang tidak bisa memberikan sedikit kebahagian untukmu, maaf karena semua sikap bodohku, maaf karena aku yang membenci diriku sendiri.

“Aku tahu aku bodoh ketika aku mengatakan bahwa aku mencintaimu. Kau ingat? Kemarin, itu yang kukatakan. Semuanya keluar begitu saja tanpa dikendalikan. Semuanya mengalir tanpa batas, dan aku kehilangan kendaliku.

“Tidak ada yang bisa membuatku seperti ini, tidak ada yang mampu membuatku menjadi laki-laki bodoh, tidak ada yang tahu kapan aku bersikap seperti ini, kapan aku bisa tersenyum layaknya seorang idiot. Tidak ada yang pernah tahu, dan tidak akan ada yang bisa tahu.

“Karna semuanya terjadi atas kendalimu.”

Pengakuan panjang tersebut disambut dengan isak tangis Eun Ji. Dalam pelukan Myung Soo, Eun Ji terus saja menangis, menggumamkan sederetan kata yang tidak diperdulikan Myung Soo. Yang diinginkan Myung Soo hanya Eun Ji, tidak lebih dan tidak kurang.

“Aku mencintaimu.”

***

Eun Ji merasa dunianya goyah ketika Myung Soo mengatakan semua yang dirasakannya. Kakinya melemas dan ia yakin tidak ada lagi oksigen yang tersisa di dunia ini, karna yang ia tahu, napasnya sesak dan sakit. Lebih sakit daripada efek memakai obat-obatan.

“Aku mencintaimu.”

Tangisnya semakin pecah ketika mendengar dua kalimat asing itu. Dalam hidupnya, tidak ada yang lebih menyakitkan selain cinta. Cinta membuatnya kehilangan kebahagiaannya, cinta merebut semua yang ia miliki dan cinta juga menyebabkannya terjebak seperti saat ini.

Eun Ji merasakan pelukan Myung Soo yang merenggang, tangan Myung Soo beralih menahan pundaknya. Menyatukan mata mereka dan menyalurkan berbagai emosi hanya dengan tatapan.

Mungkin kalau oranglain melihat adegan mereka saat ini, orang itu akan terkesan dan menangis terharu-haru. Minhwa juga–mungkin saja–menangis ketika melihat eonninya yang melemas dalam pelukan Myung Soo.

“Jangan pergi, jangan pernah sedikitpun berniat untuk pergi.”

Ucapan Myung Soo terdengar seperti ancaman untuk Eun Ji. Bukan karna nada suaranya yang berat dan tegas, tapi karna Eun Ji sendiri yang memilih untuk tidak pergi dari Myung Soo.

Bagaimana ia bisa pergi sementara hatinya tertinggal?

Bagaimana ia bisa menghilang sementara hatinya masih ada?

Tapi, bagaimana ia bisa tinggal sementara janjinya selalu menghantui?

“Cha Young bukan siapa-siapa. Dia bukan urusanku ataupun urusanmu. Lupakan semua yang ia katakan, semua yang membuatmu merasa terbebani, semua yang mengharuskanmu menjauhiku.”

“Tidak.” Eun Ji memotong, sama seperti yang dilakukan Myung Soo sebelumnya. “Kau mungkin bisa menyuruhku melupakannya, tapi aku tidak. Melupakan sama artinya meninggalkan perih dalam hidup oranglain.”

“Apa lagi? Apa yang membuatmu harus menjauhiku? Katakan padaku. Setidaknya, aku tahu semua yang menjadi bebanmu. Jangan biarkan kau merasa tersakiti sendirian, bagaimanapun aku mencintaimu. Kalau seseorang memintamu menjauhiku, itu sama saja aku harus menjauhimu.

“Dan kau tahu bukan kalau aku memintamu untuk tetap tinggal? Tentu saja kau tidak bisa tetap disisiku selama kau masih harus menjauhiku.”

Ada sedikit jeda sebelum akhirnya Eun Ji menggerakkan tangannya, meraih tangan Myung Soo yang menempel di pundaknya. Menyentuh dan menggenggam tangan Myung Soo. Perlahan, kedua pasang mata tersebut bertemu. Kesedihan jelas terlihat dari mata mereka.

“Aku tidak mencintaimu,” Eun Ji berkata lembut. “Entah apa yang merasukiku saat ini, tapi aku tidak mau dan tidak akan pernah mencintaimu. Hanya itu. Kenyataan berkata lain, dan tidak ada yang bisa mengubah kenyataan. Aku bukan Tuhan dan Tuhan juga tidak mungkin memaksakanperasaanku.

“Banyak yang akan terluka seandainya aku lebih mengutamakan perasaanmu. Anak-anak, Ibu, Cha Young, semuanya terluka. Tidak ada alasan pasti untuk hal ini, tapi aku tahu semuanya tidak setuju. Suatu saat mungkin akan ada gadis lain yang lebih pantas untukmu, yang siap mencintaimu dengan semua yang ia miliki. Bukan sepertiku.”

“Yang aku mau hanya kau, hanya kau Eun Ji-ah.

“Sudah ku bilang, lupakan perasaanmu. Pikirkan oranglain bisa membalas perasaanmu.”

Kedunya mulai berdebat. Berdebat dengan perasaan masing-masing dan perasaan kedunya. Eun Ji tidak tahu harus berkata apa, tapi janjinya pada Ibunya tidak bisa ia ingkari. Mengingkari janji sama saja membunuh perasaan seseorang.

Eun Ji menundukan kepalanya. Menatap lantai ruangan yang sejak tadi menjadi saksi perasaan keduanya. Tangannya tergerak untuk melepas genggamannya pada Myung Soo, dan menghapus air matanya. Kemudian berjalan mundur beberapa langkah, sebelum akhirnya keluar dari ruangan.

Meninggalkan Myung Soo yang diam membeku di tempatnya.

***

Setelah pintu tertutup kembali dari luar, Eun Ji membuat dirinya berlari. Berlari mengejar sesuatu yang tidak bisa digapainya, sesuatu yang berada di hadapannya tapi tidak nyata. Sesuatu dalam bentuk maya dan tidak bisa diraih.

Ketika sudah cukup jauh dari gedung tersebut, Eun Ji menjatuhkan dirinya. Tidak memperdulikan tatapan orang yang lalu-lalang melewati tempatnya. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah cara untuk menenangkan dirinya. Ia kehilangan kepercayaan dirinya, dan ia kehilangan semangat dirinya.

Eun Ji merasa adanya sebuah tangan yang menariknya ke dalam sebuah pelukan. Tangan yang berbeda dari tanga Myung Soo, tangan yang lebih lembut dan lebih kecil dari ukuran tangan Myung Soo. Eun Ji mendongak menatap si empunya tangan, dan kembali terisak dalam pelukan yang berbeda.

Minhwa datang dan memberikan satu pelukan yang berbeda dengan pelukan Myung Soo. Walaupun rasanya berbeda, namun Eun Ji tahu ia memang butuh seorang teman. Seseorang untuk tempat berbagi dan bercerita, seseorang yang siap meminjamkan pundaknya untuk Eun Ji.

Perlahan, Minhwa membantu Eun Ji berdiri. Menuntun Eun Ji ke tempat yang lebih sepi untuk menangis dan mengeluarkan perasaannya. Bebas dalam bentuk nyanyian, ataupun curahan.

***

Eun Ji mengatakan semua yang ada dalam benaknya, semua yang dikatakannya pada Myung Soo dan semua yang Myung Soo katakan padanya. Namun, satu hal yang menjadi rahasia, Eun Ji tidak bisa memberitahu Minhwa mengenai perasaannya yang sesungguhnya.

Semuanya rahasia. Janjinya pada Ibunya adalah rahasianya, tidak ada yang bisa menebak dan tidak ada yang perah tau bagaimana rasanya mempunyai janji seperti itu pada Ibu sendiri. Andaikan Eun Ji bisa mengutuk seseorang, ia pasti sudah mengutuk dirinya yang berkata bohong pada Ibunya.

Bohong demi kebaikan.

Kalimat itu sudah sering kali ia dengar tapi masih saja terdengar meragukan. Bagaimanapun, pada kenyataannya, berbohong bukanlah sesuatu yang di harapkan, walaupun di dunia ini banyak yang harus dirahasiakan.

Seperti perasaannya pada Myung Soo.

Eun Ji harus merahasiakan perasaannya dan Ibunya hanya tahu kalau keduanya tidak memiliki hubungan spesial. Hanya sebuah pertemanan yang berakhir buruk tanpa sedikitpun kesan dalam perpisahan keduanya. Tragis.

Usai mengantarkan Minhwa pulang, Eun Ji mendapati Ibunya yang menunggunya di pintu masuk gedung apartemennya. Ibunya datang sendiri, dan tidak membawa tas ataupun barang ringan lainnya, yang terlihat hanyalah sebuat dompet merah tua yang diselipkan di dalam kantong celananya.

Eun Ji mendekati Ibunya, dan mengikuti Ibunya ke sebuah tempat. Dan kini, setelah menerima satu tamparan yang cukup keras di pipi kiri, Eun Ji mendapat peringatan keras dari Ibunya.

Tidak ada lagi teman, tidak ada lagi orang asing, tidak ada lagi laki-laki, dan tidak ada hubungan dengan siapapun selain Ibu, ZIA, dan rekan kerjanya. Tidak ada lagi selain itu.

Kali ini Eun Ji benar-benar merasa bersalah. Bersalah bukan karna telah membohongi Ibunya, tapi bersalah karna ia membuat Ibunya malu.

Bagaimana tidak, salah satu tetangga Ibunya, melihatnya yang seperti orang gila di pinggir jalan. Menangis dan berlari tak tentu arah. Sampai akhirnya terjatuh dan masuk ke dalam pelukan seorang gadis muda–Minhwa–yang mengejar Eun Ji.

Eun Ji terus menggumamkan permintaan maafnya sampai Ibunya menyarankannya untuk pindah. Ibunya meminta Eun Ji kembali ke rumah lamanya, rumah lama yang sekarang di tempati Ibunya. Sedikit terkejut, Eun Ji meminta diberikan waktu untuk berpikir dan menyakinkan dirinya. Dan setelahnya, Ibunya tidak berkata apapun selain meninggalkan jejak dan pergi dengan taksi yang berhenti tepat di tempat mereka.

Eun Ji tidak menangis dalam perjalanannya ke apartemen. Yang ia rasakan saat ini adalah lelah, tidak lebih. Ia ingin istirahat, kalaupun ia bisa ia ingin istirahat untuk selamanya. Memejamkan mata tanpa beban, dan terbangun di alam lain yang lebih menjanjikan kebahagiaannya.

Namun harapannya kembali menciut ketika matanya di hadapkan kembali kepada kenyataan di depannya. Cha Young yang berdiri di depan pintu apartemennya dengan tangan yang terlipat di depan dada. Benar-benar seperti seorang bos.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Eun Ji bertanya, tetap acuh pada Cha Young.

“Hanya ingin mengingatkanmu untuk tidak mengganggu hubunganku dengan Myung Soo. Bukankah Ibumu sudah bicara padamu? Kenapa tidak kau lakukan?”

Eun Ji terbelalak mendapati Cha Young menyebut nama Ibunya. Ada sedikit ketidakpercayaan dalam pendengarannya, ia tidak mau mempercayai orang yang bisa berbuat dengan seenaknya.

“Tidak usah bingung seperti itu. Aku hanya tidak sengaja bertemu dengan Ibumu tadi, dan ia bertanya padaku tentangmu. Jadi ku katakan saja yang sebenarnya. Kau dan Myung Soo, kalian bermain di belakangku bukan?”

“Apa yang kau fikirkan?”

“Katakan saja yang sebenarnya. Kalian memiliki perasaan, tapi kau tidak bisa mengakuinya. Bukankah seperti itu? Aku tahu kau bukan tipe gadis yang bisa mengingkari janjimu pada Ibumu. Lagipula, aku juga setuju dengan keputusanmu. Meninggalkan Myung Soo untuk orang-orang di sekitarmu. Benar-benar keputusan terbaik.”

Eun Ji tidak menjawab dan lebih memperdulikan kegiatannya mencari kunci apartemen di dalam tasnya. Tepat setelah ia menemukan kunci apartemen, ia memasukan kunci pintu dan mulai memutar kunci yang menggantung tersebut.

Sebelum masuk, Eun Ji berkata, “Aku sudah harus masuk. Dan, yah, sepertinya kau tahu banyak apa terjadi padaku hari ini. Jadi, ku sarankan kau cepat pulang dan melupakanku, karna aku juga sudah pasti akan melupakan semua ucapanmu. Kalau begitu, selamat malam.”

Pintu tertutup dan Eun Ji berhasil terbebas dari omong kosong Cha Young. Ia menjatuhkan dirinya di sofa dan mulai menekan pelipisnya, menghilangkan sedikit rasa sakit di sana.

Dalam duduknya, Eun Ji tahu ia bisa saja melakukan sesuatu untuk menghilangkan rasa sakit di dadanya. Obatnya mungkin sudah habis, tapi jumlah laki-laki di dunia ini, tidak ada habisnya.

Eun Ji bangkit dan berjalan menuju sudut ruangan, menganggkat gagang telpon apartemennya dan mulai mengetik beberapa kali di atas tubuh telpon. Menunggu sambungan telpon yang mulai terdengar.

***

Dengan tergesa-gesa, ia melangkah memasuki ruangan yang tadi di tinggalkan Cha Young. Setelah menyaksikan kejadian yang membuat hatinya merasa terkikis, ia tahu ia harus memastikan keadaan Eun Ji. Gadis itu sudah berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi, jadi sudah seharusnya ketika Myung Soo datang, yang terlihat adalah tubuh lelah Eun Ji.

Bukan Eun Ji yang sedang berdiri di depan telpon apartemen, dan menunggu sambungan telpon. Myung Soo memang tidak tahu siapa yang ditelpon Eun Ji, yang pasti ia merasa dirinya kehilangan kendali ketika Eun Ji menyebutkan kata ‘tolong’.

Kata tolong berarti permintaan. Dan Eun Ji baru saja meminta sesuatu kepada oranglain di balik sambungan telpon tersebut. Myung Soo tidak akan bertambah marah kalau saja ia tidak mendengar kata ‘siapa saja’ yang keluar dari mulut Eun Ji.

Siapa berarti orang, dan saja berarti kebebasan.

Eun Ji baru saja meminta orang, bebas tanpa harus ia pilih, datang ke apartemennya. Ia tahu sesuatu baru saja menyebabkan diri Eun Ji merasa terbebani dan frustasi.

Dengan segera, Myung Soo meraih telpon dari tangan Eun Ji. Namun kali ini gagal, tangan Eun Ji mencengkram erat telpon tersebut, dan kini tangan Myung Soo berhasill menahan tangan Eun Ji.

Telpon masih tersambung ketika Myung Soo menahan tangan Eun Ji. Eun Ji memang tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan lawan bicaranya, tapi setidaknya ia masih bisa menangkap beberapa kata yang menjadi inti pembicaraan.

Seperti, dimana, jam, oke, dan bayaran.

Mungkin lawan bicaranya masih terus bicara, tapi tidak dengan Eun Ji. Myung Soo tidak membiarkan Eun Ji bicara satu kata pun. Ia mendorong, dan menyudutkan tubuh Eun Ji ke sudut ruangan dan mengunci bibirnya.

Tidak ada yang bisa dikatakan Eun Ji selain erangan yang tertahan. Myung Soo terus mencium bibir Eun Ji dengan bibirnya, menekan dan sesekali menggigit bibir bagian bawah gadis itu, yang membuatnya menjerit terkejut.

Tangan Myung Soo menahan pipi Eun Ji, mengunci rapat-rapat bibir Eun Ji. Sementara tangan yanglainnya ia gunakan untuk menahan tangan Eun Ji yang menggenggam telpon. Tidak memberikan kesempatan pada Eun Ji untuk menjawab telpon tersebut.

Eun Ji di tempatnya, terus menggumamkan kata-kata yang sedikitpun tidak mengusik kegiatan Myung Soo. Ketika lawan bicara Eun Ji terus bertanya, saat itu juga Myung Soo menekan ciumannya.

“Ngghh… perhh..menyingkirh…”

“Bodohhh…aphhh…ahhh…nghh….”

“Myungghhh…myunghhhh…myungsoohhh…nghh…”

Entah berapa kali Eun Ji memukuli tubuhnya, dan berusaha mendorong tubuhnya. Myung Soo tidak peduli, dan lebih memikirkan kegiatannya. Ia terus mencium Eun Ji sampai akhirnya melewati batasan waktunya. Telpon terputus dan Eun Ji masih dalam perangkap bibirnya.

“Myunghhh…sohhh…men..ahhhhh…menjauhhh….”

“Naphh…napassshh…nghhh…aku nghh…napanghhh…”

“Myungghhh…udarahh nghh… aku butuhhh nghh…udaranghhh…”

Berkali-kali Eun Ji memohon tapi tak juga dihiraukan Myung Soo. Myung Soo baru melepaskan ciumannya ketika merasakan sesuatu yang asin memasuki bibirnya. Ia sadar ia keterlaluan. Menyiksa Eun Ji dengan cara yang salah. Dan, saat ini, lagi-lagi Eun Ji menangis di hadapannya.

Myung Soo menyadari telpon yang terlepas dari genggaman Eun Ji, jatuh di atas lantai tanpa dengan sambungan telpon yang terputus. Eun Ji menggerakan tangannya, ia menutup wajahnya dan menangis di baliknya. Myung Soo mendekati Eun Ji, membisikan sesuatu kepada Eun Ji.

“Maaf,” gumam Myung Soo, entah sudah kata maaf keberapa yang ia ucapkan. “Ku temani kau mabuk,” lanjutnya. “Tapi, tidak dengan cara yang seperti ini.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s