Happiness (Chapter 6)

Happiness.

Genre  : Romance.

Rating : NC-21

Cast     : Kim Myung Soo–Jung Eun Ji–other cast as showing.

Part 6

Myung Soo duduk menghadap Eun Ji. Keduanya kini berada di dalam sebuah club yang cukup ramai. Myung Soo memilih meja di pojok ruangan dan membiarkan Eun Ji menangis ataupun minum sepuasnya, ia sama sekali tidak protes ketika Eun Ji berkata kasar padanya.

Eun Ji masih dalam kesadaran yang sempurna ketika seorang pelayan kembali mengantarkan sebotol sampanye ke meja mereka. Myung Soo menatap Eun Ji yang lengkap dengan gelap di tangannya. Sudah hampir botol ke tiga dan Eun Ji masih belum bicara.

Dalam perjalanan menuju club, Eun Ji tidak bersuara dan juga tidak memandangnya. Ia hanya menatap ke luar jendela, dan menangis tanpa suara. Myung Soo tidak berani berkata apapun, ia takut satu kata yang keluar dari mulutnya dapat merusak perasaan seorang Eun Ji. Dan lagipula, apa yang akan ia dapatkan dari Eun Ji setelah kejadian di apartemen tadi?

Eun Ji menelan habis segelas sampanye yang tadi ia tuang, kemudian meletakan gelasnya dan memegang wajahnya dengan kedua tangan. Myung Soo melirik gelas Eun Ji, kosong. Tapi mungkin sebentar lagi gelas itu akan kembali terisi. Bagi Myung Soo, melihat Eun Ji yang frustasi membuat hatinya semakit terkikis.

“Hey, coba lihat siapa yang datang!”

Myung Soo menoleh dan menyipitkan matanya, mempertajam penglihatannya di tengah keramaian club. Keinginan untuk bangkit dan memukul wajah si empunya suara muncul dalam benak Myung Soo. Ia juga merasa Eun Ji mempunyai pikiran yang sama dengannya. Pikiran untuk segera menyingkirkan Kyung Won atau menyingkir dari hadapan laki-laki itu.

“Aku benar-benar tidak tahu kalau kau akan datang ke club, Eun Ji-ah.”

Kyung Won dan tiga orang laki-laki lainnya datang menghampiri tempat Myung Soo. Dua di antara laki-laki itu datang dengan pasangan mereka, entah memang kekasih mereka atau hanya seorang wanita bayaran. Myung Soo tidak peduli.

“Apa kau datang untuk mencariku?” kata Kyung Won sambil tersenyum miring. “Oh kebetulan sekali, aku dan yanglain baru saja akan menikmati malam. Bagaimana kalau kau bergabung?”

Mata Myung Soo menyipit. Tatapannya itu seakan ingin mencabik-cabik Kyung Won di tempat. “Apa maumu?” katanya dengan nada rendah dan datar.

Kyung Won mendesah dan duduk di salah satu kursi di dekat Myung Soo sambil tersenyum pada Eun Ji. “Bagaimana kalau aku meminjam Eun Ji semalam?” tanya Kyung Won seraya menggoda Eun Ji dengan menyentuh dahunya.

Eun Ji menyentakkan tangan Kyung Won dan menatap Kyung Won tajam. Myung Soo melihat adanya emosi yang tertahan dalam mata Eun Ji. Gadis itu tidak bicara, namun matanya jelas memancarkan amarah.

Myung Soo bangkit dari tempatnya, berjalan mendekat kearah Eun Ji dan meraih tangannya. “Ayo pergi. Kau sudah mabuk, sebaiknya kita pergi.”

Myung Soo berjalan menggandeng lengan Eun Ji. Namun, baru satu langkah kakinya bergerak, tangan seseorang berhasil menahan gerakannya. Myung Soo menoleh dan mendapati Kyung Won yang menggenggam lengan Eun Ji yang lainnya.

“Siapa kau?” tanya Kyung Won menantang. “Sebaiknya kau pergi dan tinggalkan Eun Ji di sini, kau tidak lebih dari sebuah parasit untuk Eun Ji.”

Myung Soo tersentak, tangannya mengepal dalam saku celananya. Ia ingin marah dan memukul wajah Kyung Won, tapi ia juga tidak ingin membuat kehebohan di club. Dengan susah payah, ia menahan emosinya dan menarik napas.

“Kau pikir kau siapa?”

Lagi, Myung Soo tersentak. Kali ini tersentak mendapati suara Eun Ji yang terdengar mengancam. Myung Soo mempererat genggamannya dan sedikit menarik lengan Eun Ji, menyuruh Eun Ji mengikutinya. Namun Eun Ji terlalu keras kepala untuk sekedar diberitahu.

“Berani-beraninya menyebut orang yang tidak kau kenal sebagai parasit. Lalu kau sebut apa dirimu? Kau bahkan tidak lebih baik darinya. Sebaiknya kau pulang dan urusi saja semua proyek-proyek hasil curianmu itu.”

Kyung Won tersenyum sinis, “Lihatlah, seorang Jung Eun Ji baru saja mengomentariku.” Katanya seraya tertawa dengan teman-temannya.

Myung Soo melangkah mendekati Eun Ji, berdiri tepat di sebelah gadis itu. Salah satu tangannya tergerak untuk merangkul Eun Ji, menarik gadis itu lebih mendekat pada dirinya.

“Sepertinya kalian memang sering ada di sini sampai kalian tidak tahu harus menggoda siapa lagi, tidak seharusnya kalian menggoda pasangan oranglain. Sebaiknya kalian cari club lain saja.” Kata Myung Soo sambil tersenyum puas.

“Apa?” Kyung Won menunjukkan reaksi pertamanya. “Oh sepertinya kau tidak tahu kalau gadis di sinilah yang menungguku, bukan aku yang mencari mereka. Dan yah, aku tidak menggoda pasanganmu. Bagaimanapun, Eun Ji juga merupakan gadis yang menungguku di sini.”

Mata Myung Soo menyipit. Mulutnya terbuka ingin membalas perkataan Kyung Won, namun tidak sempat karna Eun Ji yang mendahuluinya.

“Tutup mulutmu Kyung Won-ssi. Siapa Eun Ji yang menunggumu? Aku ke sini sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Kau bisa pergi sekarang, kalau tidak aku yang akan pergi. Tidak ada alasan untuk berada dalam satu atap yang sama dengan laki-laki bejat seperti kau dan teman-temanmu.”

Myung Soo menatap Eun Ji yang bicara tanpa berkedip. Tatapannya lurus dan tajam ke arah Kyung Won, namun keseimbangan tubuhnya tidak setajam tatapannya. Myung Soo menyadari tubuh Eun Ji yang melemah, tubuhnya bergetar tapi Eun Ji masih terus mempertahankan posisinya.

Myung Soo tidak tahu sejak kapan tubuh Eun Ji melemas. Ketika ia merangkul Eun Ji, ia tidak merasakan adanya beban yang menambah berat Eun Ji. Tapi kini, jelas kalau Eun Ji membutuhkan bantuan untuk berdiri.

Eun Ji membiarkan Myung Soo merangkulnya. Walaupun lebih tepatnya, Myung Soo membiarkan dirinya menahan diri Eun Ji yang melemas. Tangan Myung Soo yanglainnya beralih meraih tangan Eun Ji, menyatukan tangannya dan menggenggamnya erat.

“Sebaiknya kita pergi. Ku antar kau kembali ke apartemenmu. Sungguh, mendengarkan semua yang dikatakan Kyung Won hanya akan membuat telingamu sakit.” Ucap Myung Soo sambil menatap wajah Eun Ji.

Myung Soo membantu Eun Ji berjalan menuju mobil Myung Soo. Keduanya berjalan keluar tanpa memperdulikan teriakan-teriakan dari Kyung Won dan teman-temannya. Eun Ji yang saat itu dalam keadaan sedikit mabuk, masih berusaha mengatur keseimbangannya dalam papahan Myung Soo.

Beberapa menit kemudian, mobil Myung Soo berada di hadapan mereka. Myung Soo membukakan pintu mobil untuk Eun Ji, dan membantu Eun Ji masuk ke dalamnya. Lalu beralih pada tempatnya, ia masuk dan menduduki kursi kemudi tapi tidak langsung menyalakan mesin mobilnya.

Ia menatap Eun Ji sejenak, wajah Eun Ji terlihat pucat. Di tempatnya, Eun Ji menekan pelipisnya, menyenderkan tubuhnya di kursi dengan mata yang terpejam. Myung Soo menyenderkan tubuhnya tanpa melepas pandangannya pada Eun Ji.

“Sakit sekali?”

***

Eun Ji menekan pelipisnya. Ada rasa nyeri yang muncul ketika ia melihat Kyung Won tadi, ada sedikit kesedihan ketika tangan hangat Myung Soo kembali menyentuh tubuhnya. Ia ingin tangan itu di sisinya, ia ingin suara Myung Soo menemaninya, ia ingin semuanya, semua yang ada pada Myung Soo.

“Sakit sekali?”

Eun Ji terhenyak dalam tempatnya. Berpikir tentang jawaban yang tepat untuk pertanyaan Myung Soo. Ia ingin berkata ‘tidak’ agar Myung Soo tidak khawatir dan memberikan perhatian lebih padanya. Tapi kenyataan dalam hatinya berkata ‘ya’.

Sakit, sangat sakit untuk melepas seorang yang berhasil merebut hatimu. Meski dalam jangka waktu yang cukup singkat, tapi Eun Ji sudah bisa merasakan adanya keyakinan dalam ucapan, perkataan, dan sifat Myung Soo padanya.

Eun Ji menjatuhkan lengannya, dan membuka kedua matanya. Menatap jalan di depan mereka. Eun Ji ingin bersuara dan mengatakan semua yang ada dalam pikirannya saat ini. Tapi terlalu takut untuk mendengar jawaban Myung Soo.

Tadi siang, Eun Ji memutuskan untuk membohongi perasaannya. Kemudian di apartemen, Eun Ji mengingkari janjinya pada Myung Soo. Dan saat ini, apa ia harus berbohong lagi pada Myung Soo?

Bagi Eun Ji, membohongi oranglain sama saja membunuh dirinya sendiri. Apalagi yang ia bohongi saat ini adalah Kim Myung Soo, laki-laki yang berhasil mengalihkan hatinya. Terlalu sakit untuk sekedar berbohong pada Myung Soo.

“Kau tidak bicara apapun padaku sejak kejadian tadi siang.”

Eun Ji masih tidak mengalihkan pandangannya. Perkataan Myung Soo tidak sepenuhnya benar, bagaimana pun tadi, ketika Myung Soo datang dan menciumnya secara paksa, Eun Ji sudah menyebut nama Myung Soo yang bahkan disertai desahan.

“Apa kau benar-benar tidak mau bicara padaku? Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?”

Eun Ji merasakan matanya memanas, rasanya seperti ada sesuatu yang mendesak ingin keluar dari dalam. Ia tidak bisa menahan, tidak juga bisa mengeluarkannya di depan Myung Soo. Ia terlalu lemah jika harus menangis lagi di hadapan Myung Soo.

Myung Soo menghela napas dan memutar kunci mobilnya. Detik berikutnya, jalan raya kota Seoul terpampang di sekitar mereka, di temani dengan kesunyian dalam mobil.

“Myung Soo.” Eun Ji mendapati dirinya berbicara, terdengar lemah dan meragukan.

“Apa?”

“Terimakasih.”

Eun Ji bisa merasakan adanya tatapan hangat dari Myung Soo. Ia baru saja berniat untuk membuka sebuah percakapan ketika sebuah senyum berhasil mengikis hatinya. Memberikan sebuah harapan yang tidak bisa diraihnya.

“Aku senang kau masih mau menyebut namaku.”

Eun Ji menoleh menatap Myung Soo yang fokus dengan jalan di depannya. Samar, ia bisa melihat Myung Soo yang tersenyum lagi padanya. Membuat matanya semakin memanas dan sesak akan air mata.

Satu tetes berhasil mengalir keluar dari mata Eun Ji. Ia kembali menundukan wajahnya dan membiarkan air matanya jatuh membasahi kedua pipinya. Dan kemudian, ia mendapati mobil yang berhenti melaju di jalan raya.

Sebuah tangan kembali mendarat tepat di bahu kanannya. Kepalanya terangkat untuk menatap si empunya tangan. Entah mendapat keberanian darimana, Eun Ji mendekat dan memeluk Myung Soo. Mengalungkan kedua lengannya di leher Myung Soo, dan menangis tepat di bahu laki-laki itu.

Myung Soo membalas pelukan Eun Ji. Lebih erat tapi juga tidak kasar. Ia melakukannya bukan karna ia tidak ingin Eun Ji melarikan diri. Tapi karna Eun Ji yang memeluknya, ia ingin membiarkan gadis itu menyalurkan semua emosinya. Hanya padanya.

“Berhenti menangis. Sudah berapa kali kau menangis seharian ini, berhentilah menangis.” Ucap Myung Soo menenangkan, “Tersenyumlah. Aku suka kau yang tersenyum.”

Eun Ji semakin mempererat pelukannya. Tidak membiarkan Myung Soo melepas pelukannya dan menatap wajah lembabnya yang tidak diharapkan.

“Kau bisa katakan semuanya kalau kau mau. Semuanya.”

Kata demi kata, kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Myung Soo membuat Eun Ji semakin kehilangan kendali atas tangisannya. Ia merasa dunianya akan berakhir jika Myung Soo melepas pelukannya saat ini juga. Ia tahu ia terlalu lemah dalam hal mengatur perasaan.

“Aku minta maaf kalau aku yang membuat hubunganmu dengan Ibumu berantakan. Aku minta maaf.”

Kalimat terakhir Myung Soo berhasil membuat Eun Ji melepas pelukannya. Mata keduanya bertemu dalam jarak yang tidak lebih dari sepuluh inci. Mata sembab Eun Ji dan mata Myung Soo.

“Tidak. Kau salahpaham.” Elak Eun Ji. “Darimana kau tahu?”

Perlahan tapi pasti, Eun Ji mendapati pipinya yang terasa hangat. Hanya dengan sentuhan Myung Soo, Eun Ji bisa merasakan sebuah kehangatan yang sempat ditinggalkan ayahnya.

Myung Soo tidak langsung menjawab, ia membiarkan ibu jarinya menghapus sisa-sisa air mata pada wajah Eun Ji. Kemudian merapikan rambut Eun Ji yang sedikit berantakan. Myung Soo beralih menatap mata Eun Ji, kemudian mencium pipi kiri Eun Ji tanpa izin. Sedangkan yang dicium membeku di tempat, kehilangan kesadarannya karna ciuman yang tiba-tiba itu.

“Itu obat untuk rasa sakit bekas tamparan Ibumu.” Kata Myung Soo. “Sekarang, kau ku antar pulang. Kau masih harus istirahat.”

Eun Ji menggigit bibir bawahnya. Berusaha menahan air matanya agar tidak mengalir lagi. Sudah cukup untuknya menangis di hadapan Myung Soo. Apalagi ketika Eun Ji menyadari Myung Soo yang mengetahui kejadian tamparan itu, Myung Soo pasti akan terus menerus menyalahkan dirinya sendiri.

Eun Ji mengalihkan pandangannya. Tidak diperhatikannya gerak-gerik Myung Soo yang mulai menyalakan mobil dan mengendarainya. Selama perjalanan, Eun Ji hanya melihat ke luar jendela, tidak dipedulikannya tatapan khawatir Myung Soo yang terus menghantuinya dalam perjalanan.

***

Myung Soo mengantarkan Eun Ji sampai ke apartemen. Ia berniat memastikan Eun Ji tidur nyenyak, kemudian kembali ke apartemennya sendiri. Namun, Eun Ji yang sedaritadi tidak bicara membuat Myung Soo harus menunggu lebih lama.

Eun Ji duduk di hadapannya dengan baju tidur kebesaran yang menyuruh Eun Ji tidur saat ini. Karna yang ia tahu, sesuatu yang buruk akan terjadi kalau ia meninggalkan Eun Ji di saat perasaan gadis itu tidak baik. Sesuatu yang mungkin menghancurkan hidup Myung Soo.

“Kau tidak ingin kembali ke apartemenmu?”

Myung Soo terhenyak. Ia senang mendengar suara Eun Ji, tapi ia tidak senang dengan apa yang dikatakan Eun Ji. Kalimat yang terdengar sederhana, namun juga memiliki arti buruk di dalamnya.

“Tidak sampai kau tertidur.”

Jawaban Myung Soo membuat Eun Ji menoleh padanya. Keduanya bertatapan cukup lama, tidak ada yang mau mengakhiri tatapan itu. Myung Soo yang menatap Eun Ji tajam, dan Eun Ji yang menatap Myung Soo dengan penuh amarah. Apa Eun Ji benar-benar ingin ia pergi?

“Sebaiknya kau kembali. Pasti banyak jadwal yang menunggumu besok.”

“Jangan pedulikan aku.”

“Bagaimana bisa aku tidak peduli kalau–”

“Kalau apa?” Myung Soo memotong, “Katakan kalau kau mencintaiku.”

Ada jeda dari sisi Eun Ji. Myung Soo tidak bisa menyangkal bahwa keraguan menghantui gadis itu. Eun Ji masih meragukan perasaannya, Eun Ji tidak sepenuhnya percaya pada perasaannya. Juga, Eun Ji masih merasa takut akan apa yang terjadi nanti kalau ia mengatakan hal yang diminta Myung Soo.

Merasa sedikit kesal, Myung Soo mendesak Eun Ji bicara. “Katakanlah.”

Eun Ji menyipitkan matanya, “Maaf sekali, tapi aku tidak memiliki hak untuk mengatakan hal seperti itu.” katanya acuh.

Eun Ji bangkit dari tempat duduknya, berjalan menuju pintu kamar dan berhenti tepat sebelum tangannya menyentuh pegangan pintu kamar.

“Sebaiknya kau pulang sekarang, karna permintaanmu akan segera terwujud.” Katanya sambil menatap Myung Soo. “Ku harap matahari tidak terlihat di mataku esok.”

Myung Soo mengerjap mendengar kalimat tambahan dari Eun Ji. Apa maksud gadis itu? Apa gadis itu baru saja berkata kalau ia tidak ingin melihat matahari lagi? Apa gadis itu berniat bunuh diri? Sebenarnya apa yang sedang terjadi saat ini?

***

Tangan kanan Eun Ji menggenggam pegangan pintu kamar dan mendorongnya perlahan. Ketika pintu tersebut terbuka, dan Eun Ji siap melangkah masuk, seseorang menggenggam tangan kirinya. Menariknya kasar, membuat pintu di depannya ikut tertarik dan kembali tertutup dengan cara yang cukup kasar.

Eun Ji kembali terkejut dengan ciuman yang diberikan Myung Soo secara tiba-tiba. Entah sejak kapan laki-laki itu sudah berada di dekatnya dan berhasil menjebak Eun Ji dalam ciuman yang cukup kasar itu.

Setelah mendapati dirinya yang dimangsa oleh Myung Soo, Eun Ji baru menyadari posisinya yang saat ini berada pada tempat yang salah. Ia mendapati dirinya berada dalam gempitan tubuh Myung Soo dan tembok di belakangnya.

Myung Soo menyudutkannya sejak awal ia mencium Eun Ji. Tapi bagaimana bisa Eun Ji tidak menyadari hal ini? Eun Ji tidak membalas ciuman Myung Soo dan terus mengelak, tapi Myung Soo masih bisa mengendalikan diri Eun Ji?

Eun Ji menggunakan sisa tenaganya untuk menyingkirkan tubuh Myung Soo. ia tahu apa yang dilakukan Myung Soo bukanlah sesuatu yang diinginkan keduanya. Tapi, Eun Ji juga tidak bisa menolak tiap pertemuan bibir mereka. Karena ia, Jung Eun Ji, menginginkan Myung Soo.

Myung Soo meletakan telapak tangannya di pundak Myung Soo. Menyalurkan semua emosi, kekuatan, dan perasaan yang tersisa untuk menyingkirkan Myung Soo. Dan ketika ia berhasil, barulah ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.

Eun Ji menatap Myung So, sementara yang ditatap mengacak-acak rambutnya frustasi. Eun Ji tidak tahu apa ia harus merasa bersalah karna membuat Myung Soo frustasi atau sudah memang suharusnya ia marah pada Myung Soo?

Perlahan, Eun Ji melangkah mendekat. Matanya tidak bisa lepas dari tubuh Myung Soo yang berdiri membelakanginya. Ada sedikit rasa sakit dalam diri Eun Ji melihat Myung Soo yang selalu merasa bersalah. Bukankah awal semua permasalahan mereka adalah kebohongan Eun Ji?

Entah karna mendengar langkah, atau memang wangi tubuh Eun Ji yang sangat tercium, Myung Soo memutar tubuh. Mata itu kembali bertemu dalam beberapa menit, lagi dan lagi Eun Ji lah yang pertama kali menyudahi tatapan tajam mereka.

Eun Ji menundukan kepalanya, menyembunyikan matanya yang mulai memanas.

“Maaf,” gumam Eun Ji pelan.

Myung Soo melangkah lebih dekat, meraih salah satu tangan Eun Ji. Seketika Eun Ji merasa tubuhnya mendapatkan kehangatan, ia menatap tangannya yang berada dalam genggaman Myung Soo. dan kemudian, Myung Soo memeluknya. Kejadian yang sama seperti kejadian-kejadian sebelumnya.

Eun Ji kembali menghirup dalam wangi tubuh Myung Soo. Perlahan, secara naluriah, mendekatkan kepalanya di pundak Myung Soo, membuatnya merasa lebih nyaman dan lebih ringan. Mungkin kalau Myung Soo tidak memeluknya, ia bisa terjatuh saat ini.

Seperti mendapat panggilan, keduanya melepas pelukan singkat tersebut dan saling bertatapan. Entah ini karena pengaruh alkohol atau pengaruh rasa frustasi yang mendalam, Eun Ji merasa dirinya tidak bisa membiarkan Myung Soo pergi. Tidak untuk sekarang dan untuk selamanya.

Tangan Myung Soo yang masih menggenggam tangan Eun Ji menarik Eun Ji dan tangannya yang satu menyisir rambut Eun Ji ke belakang.

Detik berikutnya bibir mereka bertemu. Lebih lembut dan lebih dalam. Myung Soo memiringkan kepalanya untuk mempermudah ciumannya, dan tangan Eun Ji secara reflek bersandar di dada Myung Soo, untuk sejenak keduanya melupakan dunia mereka. Bibir mereka saling melumat dan saling mengadu. Tangan Eun Ji yang awalnya berada di dada Myung Soo beralih naik dan mengalun di leher Myung Soo.

Jujur saja… Eun Ji tidak bisa membiarkan Myung Soo pergi.

Tida setelah ciuman panas yang mereka lakukan.

Myung Soo melepas ciumannya perlahan, mengecup bibir Eun Ji yang berada tepat di depannya tanpa jarak. Hanya sebuah kecupan.

“Jangan pergi…” gumam Eun Ji perlahan.

Myung Soo tersenyum. Kening keduanya menempel, napas keduanya saling tertukar dan Eun Ji bisa merasakan sentuhan lengan Myung Soo pada punggungnya.

***

Myung Soo menuntun bibir Eun Ji dalam permainannya. Tangan Myung Soo masih tertahan di tubuh  Eun Ji, sementara kedua tangan Eun Ji melingkar di leher Myung Soo, memperdalam perang bibir mereka. Perang yang sulit diakhiri, perang yang akan menuntut mereka kebagian yang lebih jauh. Bunyi decakan menemani perang bibir mereka, Myung Soo mengabsen deretan gigi Eun Ji dengan lidahnya.

Keduanya berhenti sejenak, mengambil jeda untuk mengisi persediaan oksigen dalam tubuh masing-masing. Hanya sejenak sampai Myung Soo kembali membenamkan bibirnya ke bibir pink milik Eun Ji, melumatnya terus-menerus dan terkadang menggelitik tubuh mungil Eun Ji, membuat gadis itu menggeliat dan mulai mempererat cengkramannya.

“Ahh…”

Eun Ji mendesah ketika merasakan tangan kekar Myung Soo kembali menjelajahi setiap titik tubuhnya. Laki-laki itu memanfaatkan kelemahan Eun Ji yang gelian sebagai perangsang, kemudian Myung Soo beralih mengecup dan menandakan beberapa tanda kepemilikan di leher Eun Ji. Eun Ji mengadah, memberikan ruang untuk Myung Soo.

Eun Ji mengecup pundak Myung Soo, kedua tangannya mengalun erat  di leher laki-laki itu dan mendesah pelan. Dan lagi, dalam hati ia berterimakasih karna Myung Soo datang dan menghentikan niatnya untuk memanggil laki-laki lain.

“Nghh… Ah.. Ohh…”

Eun Ji merasakan sesuatu menyentuh bagian depan tubuhnya. Tanpa sadar, senyumnya berkembang. Bukan karna tindakan Myung Soo yang membuatnya tersenyum, tapi karna ia tahu kalau yang berada dengannya saat ini adalah Kim Myung Soo.

Tangan Myung Soo perlahan menyentuh dua gundukan di dada yang masih terbalut kain di balik kaos pink kebesaran milik Eun Ji. Myung Soo mulai memainkan jarinya di payudara Eun Ji, meremasnya pelan, menekan dan sesekali menyubit payudara Eun Ji. Meninggalkan desahan tertahan dari mulut gadis itu. Sementara tubuhnya dikuasai Myung Soo, Eun Ji tahu ia hanya bisa menunggu dan membalas semua perbuatan Myung Soo.

“Aw–”

Sudut bibir Myung Soo tertarik untuk membentuk sebuah senyum singkat. Eun Ji di depannya, menatapnya kesal, kedua mata gadis itu menyipi dan bibirnya mulai mengerucut. Tanpa memperdulikan tatapan Eun Ji, Myung Soo kembali melumat bibir gadis itu.

Seakan melupakan perbuatan Myung Soo padanya, Eun Ji kembali membalas ciuman laki-laki itu. Kali ini Eun Ji, dengan seringai nakalnya, mulai mendominasi perang bibir keduanya. Salah satu tangan Eun Ji menekan tengkung Myung Soo, dan tangan yanglainnya menjelajahi dada Myung Soo.

“Ngghh…” desah Myung Soo tertahan, kedua tangannya tertahan di pinggang Eun Ji, sementara Eun Ji sibuk mengabsen setiap makhluk dalam mulut Myung Soo. Seperti mengetahui keadaan, Myung Soo pun memanfaatkan kesibukan Eun Ji  dengan perlahan menggerakan tangannya ke ujung kaos Eun Ji.

Perlahan tapi pasti, Myung Soo menarik kaos kebesaran yang menempel di tubuh Eun Ji. Meloloskan tubuh putih dan mulus Eun Ji dari kaos yang sedaritadi menghalangi pekerjaannya. Kemudian tangannya beralih, membuka pengait bra Eun Ji, membebaskan gundukan itu dari penjaranya.

Myung Soo menarik ciumannya dan memperkecil jarak di antara mereka hingga kening dan hidung mereka saling bersentuhan. Eun Ji menatap wajah tampan Myung Soo sedangkan laki-laki itu terus menyeringai puas.

“Kau fikir ini lucu?” protes Eun Ji di tengah jeda mereka.

Bukannya menjawab, Myung Soo kembali menyentuh dan memanjakan kedua dada Eun Ji pelan. Membelainya lembut, kemudian menatap mata Eun Ji yang terpejam dalam pelukannya. Myung Soo menyubit payudara Eun Ji pelan, kembali membuat Eun Ji menjerit.

“Nghh…”

Myung Soo mendesah perlahan. Eun Ji di tempatnya, dengan sengaja mempermainkan Myung Soo. Membalas perbuatan laki-laki itu dengan membuat beberapa kiss mark di pundak Myung Soo dan memainkan telinga laki-laki itu. Mengecup, Meniup, dan terkadang menjilatnya.

Myung Soo kembali melanjutkan kegiatannya. Membiarkan Eun Ji dengan permainannya. Belaian lembut di dada Eun Ji perlahan berubah menjadi remasan yang membuat desahan Eun Ji semakin jelas terdengar. Myung Soo memasukkan salah satu nipple ke dalam mulutnya dan perlahan menghisapnya, menggoda dengan lidahnya.

“Ngngngnghhh… Ouh… Myunghh.. Ohhh…”

Eun Ji menekan kepala Myung Soo, secara tidak langsung meminta Myung Soo memperdalam hisapannya. Myung Soo mempercepat hisapannya seperti bayi kehausan sedangkan tangannya yang satu memelintir nipple Eun Ji yang lain. Selesai dengan bagian yang satunya, Myung Soo berpindah ke dada Eun Ji yang lainnya sementara tangannya terus memainkan nipple Eun Ji yang basah oleh salivanya.

“Ngngng–oooh…”

Eun Ji merasakan sesuatu mendesak di bagian bawah tubuh Eun Ji, sesuatu yang semulanya ingin ia lupakan. Secara reflek, Eun Ji merapatkan kedua kakinya erat. Myung Soo yang menyadari gerakan Eun Ji, kembali memanfaatkan situasi dengan menggesekkan tangannya pada permukaan vagina Eun JI yang masih terbalut kain.

“Ngghh..”

Eun Ji menggeliat geli ketika tangan Myung Soo mulai menggelitik bagian kemaluannya. Menimbulkan sengatan-sengatan yang kembali menambah semangat dalam diri Eun Ji. Dan ketika Myung Soo berhenti menggelitik, Eun Ji bisa merasakan sentuhan dingin dari telapak tangan laki-laki itu. Dingin dan basah.

Myung Soo kembali meraih bibir Eun Ji, melumatnya dan mengajaknya kembali berpacu dalam ciuman ganas namun juga intens. Perlahan, ciumannya mulai turun ke pundak Eun Ji, kembali membuat kiss mark. Eun Ji mengadahkan kepalanya, memberi ruang untuk Myung Soo.

Sambil terus menikmati tiap kecupan yang diberikan Myung Soo, tangan Eun Ji beralih pada kancing kemeja Myung Soo. Tubuhnya bergetar sementara kedua tangannya terus berusaha membuka kancing baju Myung Soo hingga semuanya terbuka.

Myung Soo berlutut dan membuka paha Eun Ji lebar, meninggalkan sedikit rasa kesal pada Eun Ji. Dengan satu gerakan, Myung Soo menarik celana dalam Eun Ji dan membiarkan benda tipis–yang tadi menghalangi pemandangannya–itu jatuh begitu saja. Eun Ji bergetar, tangannya bersandar pada pundak Myung Soo dan ia memejamkan matanya.

Myung Soo langsung menyantap pemandangan di depannya, dengan sigap ia menjilat-jilat kecil vagina Eun Ji, membuat gadis itu mendesis dan semakin mencengkram erat pundaknya. Sementara lidahnya terus bermain, Myung Soo menggunakan kedua tangannya untuk menyentuh bagian belakang Eun Ji, menekan, meremas, dan memainkannya layaknya sebuah agar-agar.

Myung Soo membuka bibir vagina Eun Ji dan menghisap klitoris Eun Ji hingga membengkak, membuat Eun Ji kembali menjerit. Kedua tangan Eun Ji mencengkram erat pundak Myung Soo, terkadang ia membuat bekas cakaran dalam kemeja Myung Soo yang masih belum terbuka.

Myung Soo memegang kedua paha Eun Ji erat, dan menempelkannya di dinding sementara kepalanya masih terbenam di daerah kemaluan Eun Ji dan lidahnya bekerja dengan giat, dihisapnya klitoris yang membesar itu dengan ganas sementara kedua tangannya menahan bibir vagina Eun Ji.

“Ouuuh… Myunghhhh… kumohonhh… ngngngnghhh…”

Sesuatu rasanya mendesak di bagian bawah vaginanya. “Myungghh… aku nghh… keluar,”

Myung Soo tidak menyahut, ia hanya menarik kepalanya dan menunggu reaksi selanjutnya. Dan ketika cairan itu keluar, Myung Soo kembali melahap vagina Eun Ji, menangkap cairan hasil pekerjaannya dengan bibirnya. Menampung dalam mulutnya dan kembali berdiri.

“Ngngnghh..”

Eun Ji mendesah lega tapi kembali terkesiap ketika Myung Soo memojokannya di dinding, menciumnya dan membagi cairan itu bersamanya. Kembali mereka bersatu dalam ciuman ganas sementara tangan Eun Ji memegang tengkuk Myung Soo seolah tak ingin melepaskannya. Teringat kembali dengan pekerjaannya, Eun Ji menarik kemeja Myung Soo dan melemparnya ke sembarang tempat.

“Myung Soo!” jerit Eun Ji ketika Myung Soo menarik kakinya yang satu dan menaikannya ke punggung, merasakan dua jari Myung Soo perlahan masuk ke dalam vaginanya yang licin membuat gadis itu terkesiap dan sejenak berhenti dari kegiatannya membuka kancing kemeja Myung Soo.

“Myungghh.. oooh…ouh…” Eun Ji menengadahkan kepalanya memberi kesempatan pada Myung Soo untuk membenamkan wajahnya di lehernya. Kedua tangan Myung Soo bergerak aktif mengoyak isi dalam vagina Eun Ji. Sampai akhirnya cairan kembali mengalir keluar dari kemaluannya.

“Aaaaaagh…” desah Eun Ji lega. Matanya terbuka dan menatap wajah penuh seringai dari laki-laki di hadapannya. Keduanya diam dalam sunyi, menyalurkan tatapan yang tidak ada artinya. Eun Ji masih merasa kesal, tapi ia juga tidak bisa langsung membalas perbuatan Myung Soo. Dan otaknya secara langsung mengirim sinyal sebagai jawaban.

“Ngngnghhh…” Myung Soo mendesah kecil merasakan sesuatu yang halus membelai dada polosnya. Eun Ji tersenyum kecil, kembali ia melumat bibir Myung Soo dengan caranya sendiri; perlahan dan lembut, cara yang sangat berbeda dengan Myung Soo. Sampai akhirnya kedua tangannya membelai tengkuk laki-laki itu dengan perlahan dan turun ke bawah ke dadanya, membelainya dan memelintir nipplenya. Menggoda Myung Soo dengan caranya.

“Aaahh…” desah Myung Soo di sela ciuman mereka. Ibu jari Eun Ji membelai- nipple nya kemudian kembali turun dan membelai perutnya, naik pe punggung Myung Soo hingga kemudian turun membelai belakangnya yang basah dengan keringat, mengelus pinggangnya dan sampai pada kait celana jeansnya.

“Jangan macam-macam.” ancam Myung Soo dengan suara seraknya yang membuat Eun Ji sedikit merinding. Namun, bukan rasa takut yang hinggap dalam tubuh Eun Ji, melainkan rasa penasaran dan menantanglah yang membuatnya semakin ingin melepas celana Myung Soo.

“Kita lihat saja.” Respon Eun Ji seraya membuka pengait celana Myung Soo dan dengan satu hentakan menurunkan kakinya dari pinggang Myung Soo agar celana itu jatuh ke lantai. Kali ini, Eun Ji merasa nyalinya menghilang, ancaman Myung Soo benar-benar membuatnya ketakutan dan ia merasa lemas. Sesuatu  menonjol dari balik celana boxer Myung Soo, sesuatu yang menentukan nasibnya malam ini. Matanya menatap tonjolan itu sementara Myung Soo menatap wajah cantiknya.

“Sudah kubilang jangan macam-macam.” Kata Myung Soo, “Terlambat, Eun Ji-ah.

Eun Ji bergidik ngeri di tempatnya. Tapi sesuatu dalam dirinya mengatakan kalau hal ini sama dengan yang sebelumnya; ketika ia dengan laki-laki lain. Eun Ji memajukan dirinya, meletakan kepalanya tepat di samping kepala Myung Soo.

“Benarkah?” bisik Eun Ji lembut.

“Ohhhh…sssshhh,” Myung Soo mendesah ketika Eun Ji menyentuh tonjolan itu, menekannya perlahan. “Ngngnghhh… Jung Eun Ji,” protesnya.

Eun Ji tersenyum puas, tangannya perlahan meremas- remas tonjolan itu membuat Myung Soo mendesah. Dan saat itu juga ia merasa ketakutannya menghilang, tergantikan dengan rasa penasaran yang semakin mendalam dan keinginan untuk memancing gairah Myung Soo.

“Ouuuhhh… Eun Ji-yah…” kedua tangan Myung Soo bersandar di kedua sisi tubuh Eun Ji, sementara kepalanya menengadah dan matanya terpejam. Kesempatan itu digunakan Eun Ji untuk balas dendam, membenamkan kepalanya di lipatan leher Myung Soo dan menghisapnya.

Eun Ji mengerang ketika Myung Soo menggigit daun telinganya. Membuatnya melepaskan tangannya dari permainannya dan menatap Myung Soo kesal. Sejenak, keduanya kembali melemparkan tatapan menjengkelkan.

Ketika akhirnya Eun Ji memutuskan untuk mengakhiri tatapan mereka dengan menurunkan boxer Myung Soo, Myung Soo menahannya. Keduanya kembali tertahan dalam ciuman panas yang tidak ada habisnya. Ciuman Eun Ji turun hingga akhirnya gadis itu berlutut dan menurunkan boxer beserta underwear Myung Soo, menatap permainan yang membuatnya penasaran. Monster kecil milik Myung Soo yang cukup menegang dan membesar, yang akhirnya terbebas dari perangkapnya. Tangannya melingkari junior Myung Soo dan meremasnya pelan membuat pria itu mendesah kuat.

“Ouuuh… Aaaaahhh…”

Eun Ji meremasnya dengan intens, lebih lama lebih kencang seiring dengan desahan Myung Soo yang lebih juga semakin mengencang, dan junior-nya semakin membesar, cairan mulai keluar dari ujungnya. Desahan itu menjadi sangat kencang ketika Eun Ji mulai menjilat ujing juniornya, kemudian memasukkannya ke mulutnya.

Junior itu semakin membesar dan menegang dalam mulut Eun Ji. Tapi gadis itu terus melanjutkan pekerjaannya, nafsu dan rasa kesal menguasainya, ia menyingkap rambut yang menutupi wajah cantiknya ke belakang telinga sambil terus menghisap junior Myung Soo.

“Eun Ji-aaah… oohhhh…nghh.”

Eun Ji merasakan sesuatu yang kekar menarik tubuhnya. Mengangkat tubuhnya sambil terus membungkam bibirnya. Myung Soo berusaha menggendong Eun Ji di tengah ketidaksadarannya, sesuatu rasanya sangat mendesak di juniornya berkat permainan Eun Ji.

Eun Ji memejamkan matanya, tidak memperdulikan keadaan disekitarnya yang mulai berbeda. Ketika sesuatu yang lembut pada akhirnya berhasil menyentuh punggung putihnya, Eun Ji membuka matanya. Kasur yang selama ini menjadi tempatnya, kini menjadi saksi perbuatannya dengan Myung Soo.

“Aku ingin mengeluarkannya di dalam,” sahut Myung Soo.

Eun Ji terkesiap sejenak. Bukannya ia menolak, tapi rasanya seperti melupakan sesuatu. Ia tidak ingat kalau ia tidak memakai obatnya. Dan kini, Myung Soo ingin melakukannya? Bagaimana kalau ia hamil? Ia tidak memakai obatnya dan tidak ada hal lain yang dapat mencegah kehamilan untuknya.

Myung Soo beralih memeluk Eun Ji. Kembali bertemu dalam ciuman panas. Myung Soo mengangkat tubuhnya sehingga saat ini posisinya berada tepat di atas tubuh Eun Ji, menggesekkan  juniornya yang sudah besar dan tegang ke vagina Eun Ji membuatnya mendesah tertahan.

Tangan Myung Soo perlahan beralih mengangkat kedua kaki Eun Ji, melingkarkan kedua kaki Eun Ji di pinggangnya. Masih terus menahan ciuman dan menggoda Eun Ji dengan gesekan-gesekan yang ia buat pada vagina Eun Ji. Sampai akhirnya ia sedikit menyentakan juniornya ke dalam vagina Eun Ji, membuat Eun Ji melepas ciuman mereka dan menjerit.

Myung Soo mengecup bibir Eun Ji, “Maaf.”

Untuk sejenak, keduanya bertatapan dan kening mereka saling menempel. Eun Ji melupakan apa yang mengganggu pikirannya, sesuatu merasuki pikirannya dan ia merasa yakin dengan pikirannya. Ia yakin kalau ia tidak akan hamil hanya dalam sekali melakukan.

“Ngghh…” desah Eun Ji ketika merasakan junior Myung Soo kembali memasukki vaginanya, pelan tapi tegas. Tangannya memeluk erat punggung basah Myung Soo dan terkadang mencararnya sebagai tempat pelampiasan. Rasa sakit itu masih ada, meskipun entah sudah keberapa kalinya Eun Ji melakukan hal ini. Eun Ji berusaha menahan jeritannya dengan terus memperdalam ciumannya, namun rasanya sesuatu dalam vaginanya lebih menguasai kendali akan tubuhnya, dan ia tetap tidak bisa berhenti mendesah.

“Oooghhh… myung soo ngghh, aaaaaahhh… sssshhh…”

Myung Soo terus membalas ciuman Eun Ji, kedua tangannya juga terus bekerja menggoda tubuh Eun Ji agar rasa sakit itu tidak terlalu menyiksa Eun Ji. Sesekali, ia memantau juniornya yang masih berusaha masuk ke dalam vagina Eun Ji.

“Myung Soo ahh… ngngngnghhh… sssshh…”

“Ouh… sssshhhh–”

“Aaaahh….” Keduanya melenguh lega ketika junior itu tertanam sempurna dalam tubuh Eun Ji. Tangan Myung Soo tergerak untuk mengelap keringat di dahi gadis itu, melihat keningnya berkerut menahan nikmat dan siksaan dalam waktu yang bersamaan.

“Lucu sekali.” bisik Myung Soo dan tertawa kecil, menghisap sedikit airmata yang membasahi pipi Eun Ji. Keduanya bertatapan dan nafas keduanya saling beradu, Eun Ji mengalungkan tangannya di leher Myung Soo dan mengecup bibirnya.

“Apa ini sebuah lelucon?” tanya Eun Ji.

Myung Soo bisa merasakan deruan nafas Eun Ji yang keluar bersamaan dengan kata-kata yang diucapkan gadis itu. Untuk sementara, Myung Soo tidak menjawab. Dan kemudian, Myung Soo menatap Eun Ji tajam, perlahan menggenjot pinggangnya membuat gadis itu kembali mendesah.

“Aaaaghhh… Myung So-ah, ngngngngnghhh… ouh…”

Eun Ji memejamkan matanya dan menengadahkan kepalanya, tubuhnya seperti kembali hidup dan ia bisa merasakan sesuatu yang mendorong kencang dalam vaginanya. Seperti menginginkan hal ini, Eun Ji pun tak tinggal diam, tubuhnya perlahan ikut bergerak ke arah yang berlawanan.

“Ouggh…. Sssssshhhh…Euh…”

Eun Ji mendesah, kedua tangannya mencengkeram punggung Myung Soo, junior Myung Soo menusuk- nusuk tubuhnya dengan ganas, namun juga nikmat. Napasnya terasa panas, dan ia bisa merasakan hal yang sama dari Myung Soo.

“Aaaaahhh… ouuuhh…”

“Ooohhh… aaaah…”

“Ce…pat… aaaah,” bisik Eun Ji tertahan desahan.

Myung Soo mendesahan mendapatkan sentuhan hangat dari napas Eun Ji, membuat gairah Myung Soo meningkat beribu kali lipat dan sodokkannya menjadi lebih cepat dan ganas hingga bunyi benturan kecil terdengar. Eun Ji terus mendesah dan melingkarkan tangannya di leher Myung Soo, menikmati dan mencari posisi terbaik.

“Euh… oh… Eun Ji –aahhh ooohh…”

Eun Ji mempererat kedua kakinya yang melingkar di pinggang Myung Soo membuat juniornya menghujam tubuhnya lebih dalam hingga akhirnya ujung junior itu menyentuh titik rangsangnya, mengirim Eun Ji ke surga dunia.

“Ouh, Myunghhh… di situ… ngngngh”

“Ouuuhh… aaaaaahhhh…..”

Myung Soo mempercepat genjotannya, kedua payudara Eun Ji yang bebas bergerak di depannya menjadi pelampiasannya, dihisapnya dada gadis itu sambil terus memusatkan konsentrasinya.

“Myunghh soohh… aaaaaagghhhh… kumohon aaah…”

“Ouhhh… ngngngnghhh” desah Myung Soo, dapat dirasakannya cairan mulai mengalir dari kelamin mereka dan dinding vagina Eun Ji perlahan menyempit, menjepit juniornya. Desahan demi desahan memenuhi kamar Eun Ji, dan Myung Soo bisa merasakan dirinya yang terbawa suasana semakin menuntun permainan.

“Ouh, Myungghh… Cepatt aahh”

“Eun Ji-aah” desah pria itu lagi, meraih bibis Eun Ji dan mencium gadis itu dengan sangat tidak teratur, sementara tubuh mereka bergerak untuk mencari kepuasan yang semakin mendekat.

“Myung soohh… aku… aku mau k—ngnghhh… keluar…” Eun Ji merasakan dinding vagiannya menjepit junior Myung Soo dan sesuatu mendesak di dalam.

“Sedikit lagi ngghh…” balas Myung Soo, masih menggenjot kemaluan Eun Ji.  “Aku juga nggh… aaaahh”

Keduanya menjerit lega ketika melepaskan cairan masing- masing. Eun Ji mendesah, merasakan sesuatu yang  hangat dari Myung Soo menyembur masuk ke dalam tubuh Eun Ji, membuat tubuh keduanya melemas. Tubuh Myung Soo jatuh tepat di atas tubuh Eun Ji, kedua tangannya masih menjadi tumpuan agar tidak menindih Eun Ji.

“Ronde kedua?” bisik Myung Soo dengan seringai di wajahnya.

Eun Ji bergerak di bawah Myung Soo. Jelas-jelas menunjukan keterkejutan akan pertanyaan Myung Soo. Myung Soo tidak menyahut, tapi bisa merasakan gerak Eun Ji dari juniornya yang masih bersarang dalam tubuh Eun Ji.

“Bagaimana kalau tidak?” tanya Eun Ji yang mengartikan sebuah penolakan di dalamnya.

Myung Soo tidak menjawab, melainkan mengangkat tubuhnya dan bergerak di atas Eun Ji. Perlahan, ia kembali menghisap dan mengecup pundak Eun Ji. Membuat si pemilik pundak menggeliat dan mendesah pelan, kembali terangsang.

“Bagaimana kalau ‘ya’?” tanya Myung Soo yang terdengar sebagai ancaman.

Tanpa mendengar jawaban Eun Ji. Myung Soo kembali menggerakan tubuhnya, menusuk-nusuk vagina Eun Ji yang masih belum sepenuhnya sadar. Eun Ji kembali memejamkan matanya. Ia bisa merasakan adanya suatu keinginan dalam dirinya sendiri. Keinginan untuk memiliki Myung Soo sepenuhnya.

Keduanya kembali bergulat dalam desahan, ciuman, dan genjotan yang ganas namun juga teliti. Myung Soo yang berada di atas tubuh Eun Ji memimpin permainan. Tak dilepaskannya bibir Eun Ji, dan segala hal yang menempel setia di tubuhnya.

“Ngghh… Myung ahhh.. ooohh…”

“Aaaah… Oohhh.. Nggh…”

“Cee… ngghh… paat ngghh–”

“Aaaaaaahhh…”

Seakan mengerti dengan kondisi, kepuasan yang kedua lebih cepat mereka dapatkan. Tubuh Myung Soo ambruk di atas tubuh Eun Ji, kali ini sepenuhnya tanpa tumpuan. Keduanya melemas, dan dari ujung matanya. Myung Soo mendapati Eun Ji dengan mata yang masih terpejam. Hingga akhirnya keduanya bertatapan dan entah mengapa Eun Ji merasa matanya mulai memanas.Myung Soo menyadari perbedaan tatapan Eun Ji. Tatapan gadis itu yang berkaca-kaca, seolah-olah takut sesuatu yang buruk terjadi pada keduanya.

Perlahan, Myung Soo menggendong Eun Ji ke atas ranjang. Meletakan gadis itu dan melepas kontak tubuh mereka. Lalu keduanya berbaring dalam balutan selimut, dengan jarak yang tidak lebihd ari sepuluh inchi. Eun Ji tidak berkata, namun juga tidak protes dengan kejadian tadi. Gadis itu memilih untuk diam dan tidak menatap Myung Soo.

“Kau milikku,” seru Myung Soo tiba-tiba, membuat Eun Ji sedikit tersentak namun juga masih belum menatapnya. “Tanpa obat, tanpa rangsangan, tanpa alat pencegah kehamilanmu. Kau milikku. Apapun yang terjadi, kau milikku.”

Seolah mengerti dengan ucapan Myung Soo, Eun Ji mendongak. Matanya bertemu dengan mata Myung Soo. keduanya bertatap cukup lama, sampai akhirnya Myung Soo kembali bersuara.

“Tidurlah,” katanya lembut. “Aku tidak akan pergi kemanapun.”

Dan seakan mendapat mantra, Eun Ji merasa kelopak matanya mulai memberat. Matanya mulai tertutup dan kegelapan menemaninya. Tapi di luar sana, kenyataan di luar sana, ia mendapatkan tangan Myung Soo yang memeluknya erat.

***

TBC

2 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s