Happiness (Chapter 7)

Happiness.

Genre  : Romance.

Rating : NC-21

Cast     : Kim Myung Soo–Jung Eun Ji–other cast as showing.

Part 7

Eun Ji berjalan perlahan menelusuri koridor gedung apartemennya. Salah satu tangannya menarik koper hitam–yang cukup besar–dan terkadang ia sedikit mengangkat kopernya, mempermudah kopernya untuk bergerak. Dengan penampilannya yang sederhana tapi juga tidak mengurangi kecantikannya, ia berjalan ke arah pintu keluar dengan beribu-ribu keraguan dalam hatinya. Dengan berbagai pertanyaan, perkiraan, dan jawaban yang menambah keraguannya.

Setelah kejadian malam itu, ketika kedua tangannya tanpa sengaja menyentuh tubuh Myung Soo, ketika kata-kata erangan dan desahan mengalir keluar dari mulutnya, ketika keduanya–Ia dan Myung Soo–merasakan puncak kenikmatan, Eun Ji tahu semuanya salah.

Semua yang berada diluar kendalinya. Perasaannya, perbuatannya, dan semua yang sempat menimpa dirinya beberapa hari ini. Ia berbohong pada Ibunya, dan hal yang sama juga ia lakukan pada Myung Soo. Baik dalam perkataan, maupun perbuatannya.

Butuh waktu lebih dari 12jam untuk menyadari kesalahannya. Ia masih ingat, ketika Myung Soo menyuruhnya tidur dan ia hanya memejamkan matanya, tidak benar-benar tertidur. Otaknya terus bekerja mencerna apa yang akan terjadi kalau Ibunya mengetahui dirinya yang berada dalam satu ranjang dengan Myung Soo.

Masih jelas dalam ingatan Eun Ji tentang perkataan Ibunya yang menentang langsung perasaannya pada Myung Soo, walaupun pada saat itu Eun Ji masih tidak menyadari perasaannya pada Myung Soo. Masih banyak hal yang harus ia tata kembali dalam hidupnya, mulai dari pekerjaannya, masa depan anak-anak ZIA, dan juga kelanjutan hidup Ibunya.

Dan pagi ini, seolah yakin dan percaya dengan keputusan yang sudah ia buat. Ia melangkah menuju pintu keluar gedung apartemen milik Myung Soo. Tanpa mengatakan perpisahan ataupun meninggalkan jejak sedikitpun untuk Myung Soo. Eun Ji tahu Myung Soo bisa mengira dirinya egois, namun Eun Ji berpikir ia akan lebih egois jika membiarkan Myung Soo tetap berada di sisinya.

Eun Ji menghentikan langkahnya tepat di depan pintu gedung apartemen, pintu otomatis–yang akan terbuka dan menutup dengan sendirinya–itu terbuka lebar, seakan-akan sudah menanti kepergian Eun Ji dan tempat itu.

Eun Ji menarik napas berat, matanya terpejam sejenak. Dan ketika ia membuka matanya kembali, matanya menunjukan keyakinan dan tangannya menggenggam kopernya lebih erat lagi. Ia melangkah, satu langkah yang membuatnya sedikit merasa lebih lega. Dan di luar, sebuah taxi menunggunya. Di letakannya kopernya di bagasi, dan ia beralih memasuki mobil dengan berbagai perkiraan dalam benaknya.

***

Eun Ji meletakan kopernya di sudut ruangan. Kepalanya terasa berat, dan ia merasa tubuhnya melemas. Di jatuhkannya tubuh mungil itu dan di pejamkannya matanya. Eun Ji mendesah dan membuka matanya, ia teringat akan pekerjaannya yang tidak bisa ia tinggalkan. Bagaimana bisa bosnya itu tidak memberikannya waktu untuk beristirahat?

Eun Ji kembali memejamkan matanya, masih ada beberapa menit lagi sebelum ia berangkat kerja. Ibunya, Nyonya Jung, sibuk menyiapkan sarapan untuk Eun Ji. Meskipun Eun Ji sudah menolak untuk dibuatkan sarapan, tapi Nyonya Jung tetap bersikeras. Dan pada akhirnya, Eun Ji pun harus mengalah.

Dalam posisi terpejam, Eun Ji mulai membayangkan hal-hal yang saat ini sangat ia harapkan. Kehadiran Kim Myung Soo, senyum Kim Myung Soo, sentuhan Kim Myung Soo, dan segala hal yang berkaitan dengan Kim Myung Soo. Apa takdir tidak bisa membiarkan keduanya bersatu?

“Eun Ji-ya!”

Eun Ji mendecak mendengar teriakan Ibunya, ia memutar posisi tubuhnya dan menutup telinganya. Alih-alih Ibunya berteriak lagi.

“Eun Ji-ya!”

Dan benar saja, Nyonya Jung berteriak memanggil nama anaknya untuk yang kedua kalinya. Eun Ji, yang sejak tadi bertahan pada posisinya pun kembali berdecak dan perlahan menyeret tubuhnya keluar dari kamar, menuju meja makan.

Dari meja makan, Eun Ji dapat melihat tubuh Ibunya yang terus bergerak. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Untuk sementara, Eun Ji tidak bertanya. Di letakannya kepalanya di atas meja, dan kembali ia memejamkan  matanya. Dan ketika langkah kaki terdengar, ia pun mengadahkan kepalanya menatap wajah Ibunya yang terlihat lelah.

“Cepat makan, setelah ini kau bisa istirahat sepuasmu.”

Eun Ji mendecak. Perlahan, ia mulai meraih semangkung sup yang dibuatkan Ibunya. Mencicipinya dan melahapnya sampai habis.

“Barang-barangmu sudah kau bereskan?”

Eun Ji mengangguk sambil terus melanjutkan makannya. Tanpa menatap Ibunya pun, Eun Ji sudah dapat merasakan senyum kepuasan dari Ibunya. Puas karna pada akhirnya putrinya itu mengikuti kemauannya untuk kembali ke rumah lamanya.

Setelah semua makanannya habis, dan piring bekas makannya sudah tercuci bersih dan terpampang rapi. Eun Ji melangkah kembali ke kamarnya. Meraih tas genggamnya dan beberapa dokumen yang hari ini akan ditunjukannya pada bosnya. Dengan langkah besar, ia menemui Ibunya yang berada di ruang tengah.

“Kau akan pergi kerja?” tanya Ibunya.

“Tentu saja,” kata Eun Ji seraya mengecup pipi Ibunya. “Kemungkinan besar aku akan pulang malam, jadi jangan menungguku dan jangan lupa untuk mengunci pintu rumah.”

Nyonya Jung mengeryitkan keningnya, “Kenapa pulang malam?”

Eun Ji tersenyum, ia tahu Ibunya pasti akan bertanya. “Selain ada yang ingin ku tunjukan pada Masternim, aku juga berencana ingin mengunjungi anak-anak. Persediaan makanan mereka pasti sudah habis.”

Seperti terkena virus, kerutan di kening Nyonya Jung pun menghilang, tergantikan dengan senyum manis di bibirnya. Wanita paruh baya itu mengecup pipi anaknya sekali lagi, sebelum akhirnya ia membiarkan Eun Ji pergi.

***

Myung Soo menatap kerja di hadapannya. Sempat terbayang dalam pikirannya untuk meninggalkan rapat hari ini, kemudian mengajak Eun Ji pergi berkeliling dengannya. Hanya sempat terbayang, tidak benar-benar terjadi. Karna sesuatu menahannya untuk bertahan di kantor, memberikannya berbagai pertanyaan, dan memintanya untuk menjawab dengan jujur.

Ibunya, Nyonya Kim, menanyakan kebenaran perasaannya terhadap Cha Young. Myung Soo menjawabnya dengan tegas, semua pertanyaan dapat di jawabnya dengan lancar. Sampai sebuah pertanyaan menciutkan nyalinya, membuat matanya melebar, dan membuatnya hampir–setidaknya menurutnya ia hampir saja–menggigit jarinya sendiri.

Dipandangnya wajah tua Ibunya yang masih tetap menampilkan kecantikannya. Myung Soo tidak langsung menjawab, butuh waktu beberapa menit untuk memikirkan konsekuensi jawaban yang akan ia berikan. Dan ketika Ibunya itu bersuara, memintanya untuk membenarkan. Myung Soo masih tidak bicara.

“Katakan padaku,” Nyonya Kim kembali bersuara, dengan nada yang lebih tinggi dan lebih tegas. “Apa saja yang kau dan wanita itu–Eun Ji–lakukan? Apa yang kalian lakukan sampai membuat kamar wanita itu berantakan dan harus mendapatkan seprai baru?”

Lagi, Myung Soo tidak berani menunjukan suaranya. Masih teringat dalam pikirannya kejadian tadi pagi. Ketika ia meminta seorang pelayan mengantarkan seprai baru ke apartemen Eun Ji, menggantikan seprai kasur Eun Ji yang basah dan dipenuhi cairan-cairan lengket akibat perbuatan keduanya.

“Kenapa masih tidak bicara? Sebenarnya apa yang kau pikirkan?”

“Aku memikirkannya.”

Myung Soo mendapati dirinya bersuara, suaranya pelan tapi cukup untuk di dengar Nyonya Kim yang duduk tepat di hadapannya. Keduanya bertatapan untuk waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya Nyonya Kim mengalihkan tatapannya sambil berdecak.

“Jadi kau benar-benar menyukainya ya?’ kata Nyonya Kim, “Apa yang dilakukannya sampai kau seperti ini? Membatalkan acara pertunangan dengan Cha Young dan lebih memilih wanita itu. Apa ia menyihirmu? Mantra apa yang ia katakan padamu?–”

“Ibu.”

“–sudah berapa lama kalian berhubungan? Kenapa selama ini kau bilang kau tidak tertarik pada wanita manapun. Dan kenapa kau tiba-tiba melakukan hal tidak senonoh dengan wanita yang bahkan bukan milikmu sekalipun? Apa kau sadar dengan tindakan bodohmu itu?”

Myung Soo hendak menjawab, namun tidak sempat karna saat itu juga pintu ruangannya terbuka. Menampilkan sosol Cha Young dengan beberapa map di tangannya. Myung Soo mengangguk ke arah Cha Young, meminta gadis itu untuk menunggu di luar sementara ia menyelesaikan masalahnya dengan Ibunya.

Myung Soo menatap Ibunya, ia menarik nafasnya sebelum berkata. “Aku masih harus rapat dengan yanglainnya. Kalau Ibu mau, Ibu bisa menunggu di sini dan ketika aku kembali nanti akan ku jelaskan semuanya. Semuanya, awal pertemuanku dengan Eun Ji sampai kejadian malam itu.”

Tanpa menunggu jawaban Ibunya, Myung Soo melangkah keluar, ditinggalkannya Ibunya itu diruangannya. Dan sekarang, di sinilah dia. Duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja besar, dengan salah seorang rekan kerjanya yang menjelaskan sesuatu di depan sana.

Myung Soo tidak terlalu memperhatikan, pandangannya lebih tertuju pada meja kosong yang tidak menjelaskan apapun. Tapi, ia masih bisa merasakan tatapan Cha Young yang mengawasinya tanpa bersuara. Meskipun merasa tidak nyaman, namun Myung Soo tetap membiarkan gadis itu mengkhawatirkannya dalam diam.

***

Sebuah nada teratur terdengar dari ruangan tempat piano Eun Ji berada. Lembut dan sangat menyentuh. Eun Ji yang berada di depan piano itu bahkan memejamkan matanya sambil terus menarikan jari-jarinya di atas piano.

Dan ketika nada terakhir terdengar, Eun Ji membuka matanya. Ia tersenyum dan mengalihkan perhatiannya pada beberapa gadis yang sejak dari menonton penampilannya. Dengan bangga, ia pun berjalan menuju gadis-gadis tersebut.

“Bagaimana? Kalian suka?” tanya Eun Ji, masih dengan senyum puas di wajahnya.

Keempat dari gadis tersebut juga menunjukan senyum puasnya, dan sisanya hanya berkata ‘bagus’ ‘menarik’ dan ‘boleh juga’.

“Akan ku usahakan lagunya selesai dalam waktu satu bulan. Kalau kalian mau, akan ku buatkan kalian sebuah mini album, mini album pertama karyaku, dengan penyanyi perdana kalian berenam.”

“Aku akan sangat tersanjung akan tawaranmu. Selama ini, kita hanya terikat kontrak kerja sama dengan bosmu. Bagaimana kalau kita membuat kontrak lainnya? Yang lebih bersifat pribadi?”

Eun Ji tersenyum, “Aku akan lebih tersanjung dengan hal itu. Kalau begitu, kapan kita bisa tanda tangan kontrak?”

Ke enam gadis itu tersenyum, saling berpandangan sebelum akhirnya salah satu dari mereka menjawab pertanyaan Eun Ji.

“Lebih cepat, lebih baik.”

***

Eun Ji menghabiskan siangnya di dalam ruangan dengan berbagai kertas yang dipenuhi dengan not-not dan angka-angka nada. Otaknya bekerja keras untuk menciptakan beberapa nada baru yang dapat menambah sebuah apresiasi pendengarnya. Dan pada akhirnya ia pun harus pulang malam.

Tidak langsung pulang tentunya. Eun Ji berjanji akan mengunjungi anak-anak dan memeriksa keadaan mereka. Dengan tangan yang menenteng tas genggam dan sebuah plastik hasil belanjaannya di pasar, Eun Ji pun berjalan cukup cepat menuju tempat ZIA.

Sebuah sambutan hangat kembali ia terima. Anak-anak itu membantunya membawa barang belanjaan, dan menghujam Eun Ji dengan berbagai pertanyaan yang tidak sempat terjawab oleh Eun Ji. Eun Ji kembali menyibukan dirinya dengan menyiapkan makanan untuk anak-anak. Dan ketika ia sudah selesai, tanpa berbasa-basi ia pun meminta anak-anak untuk makan dan kemudian istirahat.

Sementara ia menikmati pemandangan langit tanpa bintang. Duduk di atas lipatan kardus dan mendongak menatap langit malam sendirian. Sampai akhirnya, Minhwa datang dan ikut melakukan hal yang sama dengannya.

“Bagaimana bisa malam ini tidak ada bintang satu pun?” gerutu Minhwa, “Karna eonni sedang bahagia, seharusnya Tuhan menyediakan bintang malam ini.”

Eun Ji tersenyum di tempatnya, masih terus menatap langit gelap. Terkadang, matanya terpejam dan ia menghirup udara di sekitarnya. Ia merasa seperti terbebas dari tumpukan masalah, dan sekarang ia bisa memilih untuk hidup bahagia. Bahagia tanpa seorang laki-laki.

“Oh ya, apa paman tidak akan datang ke sini lagi eonni?

Seakan terjatuh dari langit teratas, Eun Ji merasakan tubuhnya melemas dan napasnya sesak. Bisa di rasakannya hawa dingin menusuk kulitnya, seakan-akan memintanya untuk kembali pada kenyataan yang ada. Kenyataan bahwa saat ini ia merindukan Myung Soo.

Eun Ji menggerakan bahunya, masih tetap tersenyum, Eun Ji berkata perlahan. “Yang lain sudah tidur? Bagaimana kalau kau temani aku ke sungai?”

“Untuk apa ke sungai? Bukankah ini sudah malam? Memangnya apa yang bisa kita lihat di sana? Tidak ada cahaya, tidak ada matahari, tempat itu tidak cantik kalau di lihat malam hari seperti ini.”

Eun Ji tertawa mendengar gerutuan Minhwa. Ia merangkul Minhwa bertikah seakan-akan mencekik gadis itu, Minhwa mengelak dan berusaha melepaskan dirinya dari rangkulan Eun Ji. Tapi tenaganya tidak cukup untuk melawan perbuatan eonnienya itu. Kemudian, ketika Eun Ji melepas rangkulannya, barulah Minhwa dapat mengeluarkan tatapan tajamnya.

Eun Ji bergidik ngeri. Namun hal itu tidak berlangsung lama karna selanjutnya Minhwa memanyunkan bibirnya  yang membuat Eun Ji tertawa terbahak-bahak. Minhwa tidak mengerti kenapa eonnie nya itu tertawa, dan belum sempat ia menyadari alasannya, Eun Ji sudah bangun dan melangkah pergi.

Minhwa menyusul, tanpa bertanya dan tanpa bersuara. Keduanya berjalan dalam diam, tapi Minhwa bisa merasakan senyum eonnie nya yang masih terpampang jelas di wajahnya. Ia pun tidak mempermasalahkannya.

Butuh beberapa menit untuk sampai di tepi sungai. Eun Ji menatap sungai di hadapannya dengan senyum puas, angin bertiup cukup kencang dan mengibaskan rambutnya. Minhwa di sisi lain, merentangkan tangannya menimakti tiupan angin.

***

Myung Soo menyadari tatapan bertanya dari gadis yang kini berada tidak jauh darinya. Gadis itu menatapnya dari atas sampai bawah, kemudian berganti menatap gadis lain yang lebih tua di belakangnya dengan keraguan. Melihat reaksi gadis itu, Myung Soo pun meletakan telunjuknya di depan bibirnya, meminta gadis itu untuk diam dan tidak mengganggu gadis lebih tua di belakangnya. Kemudian, Myung Soo memanggil gadis itu dengan gerakan tangannya.

Gadis itu berjalan perlahan ke arahnya, masih dengan tatapan penuh tanda tanya. Myung Soo membisikan sesuatu pada gadis itu, yang kemudian di susul dengan gerakan perlahan dari gadis itu. Dan saat itulah, Myung Soo berjalan mendekati gadis lainnya yang sejak tadi sibuk memejamkan matanya.

Seakan baru saja mendapat kebebasan, Myung Soo pun meletakan kedua tangannya di mata terpejam gadis itu. Membuat gadis itu sedikit terkejut dan menggumamkan sesuatu.

“Apa-apaan ini? Cepat lepaskan Minhwa-ah.”

Myung Soo mendengar gadis itu menyebutkan nama seseorang. Tapi, karna tebakan gadis itu salah, Myung Soo pun tetap membiarkan tangannya berada di mata gadis itu.

Eun Ji menggerakan tangannya menyentuh sebuah tangan yang menutupi pandangannya. “Sudah ku bilang cepat lepaskan, atau kau mau ku cekik lagi ya?”

Myung Soo tertawa kecil di tempatnya. Bagaimana bisa Eun Ji mencekik seorang Kim Myung Soo?

“Tunggu.” Eun Ji kembali bergumam, “Bagaimana bisa tangan Minhwa menjadi lebih besar? Dan, aku tidak yakin kalau Minhwa menggunakan baju lengan panjang.”

Myung Soo tersenyum, reaksi Eun Ji memang terlalu telat. Tapi setidaknya, wanita itu bisa menyadari perbedaan Myung Soo dan Minhwa.

“Kau,” gumam Eun Ji. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Kenapa susah sekali menyebut namaku? Gerutu Myung Soo. Ia tahu Eun Ji memang sedikit cengeng, tapi ia tidak tahu kalau Eun Ji begitu sulit untuk menyebut namanya. Hanya nama.

“Kenapa tidak menjawab? Sudah ku bilang apa yang kau lakukan disini?” suara Eun Ji sedikit meninggi. “Kim Myung Soo, jawab aku!”

Myung Soo tersentak di tempatnya. Jadi Eun Ji mengenalinya? Kenapa tidak langsung menyebut namanya? Kenapa harus bertanya dulu sebelum menyebut nama? Myung Soo mendecak, Eun Ji memang sulit di tebak. Berbeda dengan gadis-gadis lainnya.

Eun Ji memutar tubuhnya, menatap kesal Myung Soo yang juga menatapnya kesal.

“Kau belum menjawab pertanyaanku tadi,” sahut Eun Ji.

“Pertanyaan apa?”

Eun Ji berdecak, “Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa malam-malam begini ada di tempat seperti ini? Dan lagi, kenapa masih memakai pakaian kerja? Apa kau tidak pulang seharian?”

“Sedang menikmati malam.” Jawab Myung Soo, “Dan untuk pertanyaanmu yang lainnya. Ku pikir itu bukan kewajibanku untuk menjawab, lagipula pertanyaanmu sebelumnya hanya satu.”

“Jadi sebenarnya kau tahu pertanyaanku sebelumnya tapi tetap memaksakan diri untuk bertanya? Cih, bagaimana bisa aku tertipu.”

Eun Ji memutar tubuhnya. Membuat Myung Soo menarik tubuh gadis itu dan menjatuhkannya tepat di pelukannya.

“Astaga, Kim Myung Soo! Kau hampir saja membuatku pingsan karna terkejut.” Cibir Eun Ji.

Myung Soo tidak menjawab, ia juga tidak bergeming. Hanya telinganyalah yang masih terus bekerja mendengar setiap gumaman atau komentar Eun Ji. Dan tanpa sadar, bibirnya tertarik untuk membentuk sebuah senyum.

Hanya Eun Ji yang dapat membuatnya merasa bebas. Hanya Eun Ji yang dapat merasa dunianya kembali, dan ia merasa dirinya seperti terlahir kembali. Untuk sementara, Myung Soo melupakan masalahnya dengan Ibunya. Yang ia inginkan saat ini hanya keberadaan Jung Eun Ji.

***

Eun Ji merasa geli ketika bibir Myung Soo perlahan menyapu lehernya, mengecupinya beberapa kali tanpa meninggalkan jejak tanpa kepemilikan di sana. Sementara tangan laki-laki itu masih melingkar rapi di tubuh Eun Ji, memeluk Eun Ji dari belakang.

“Astaga, hentikan Kim Myung Soo!”

“Kenapa?”

“Minhwa bisa terkejut, bodoh. Cepat lepaskan aku dan pulanglah. Kau butuh istirahat, otakmu benar-benar rusak.”

“Kau yang membuat otakku rusak, Eun Ji­-ah.”

Eun Ji menarik lengan Myung Soo sambil terus menahan geli di lehernya. Perlahan, lengan Myung Soo berhasil di tariknya. Namun sedetik kemudian, lengannya lah yang terjebak dalam genggaman Myung Soo.

“Sebenarnya ada apa denganmu?” tanya Eun JI sedikit berteriak.

Myung Soo tidak menjawab. Kali ini bibir laki-laki itu sudah berhenti menjelajah, tapi untuk sementara ini lengan Eun Ji lah yang terperangkap. Dan seperti sebelumnya, Myung Soo enggan untuk melepaskan sesuatu sebelum ia mendapatkan hal lainnya.

Terpikir dalam benak Eun Ji untuk memberikan bibirnya. Ia berniat untuk mencium laki-laki itu tepat dibibirnya. Tapi sesuatu seperti mengingatkannya kembali pada kenyataan, dan ia pun mengurungkan niatnya. Eun Ji memilih untuk menunggu Myung Soo melepaskan genggamannya.

Kemungkinan besar aku akan pulang malam, jadi jangan menungguku dan jangan lupa untuk mengunci pintu rumah.”

“Kenapa pulang malam?”

“Selain ada yang ingin ku tunjukan pada Masternim, aku juga berencana ingin mengunjungi anak-anak. Persediaan makanan mereka pasti sudah habis.”

Eun Ji melangkah keluar dari rumahnya. Senyum yang di pertahankannya sejak tadi menghilang. Ia memandang jalan dengan tatapan kosong. Sesuatu yang kini benar-benar di ketahuinya, dan ditakutinya terjadi.

Ibunya khawatir ia akan bertemu dengan Kim Myung Soo.

Di tempatnya, Eun Ji merasakan matanya yang mulai memanas. Myung Soo berada di belakangnya, jadi Eun Ji berpendapat kalau laki-laki itu tidak bisa melihat matanya yang mulai menahan air mata.

Myung Soo mempererat genggamannya. Keduanya bertahan dalam posisi yang sama selama sepuluh menit. Myung Soo masih tidak mau mengalah, begitu pula dengan Eun Ji yang sudah merasa lebih baik.

Eun Ji merasakan gerakan Myung Soo di pundaknya. Eun Ji bisa mengetahui gerakan Myung Soo yang mencari posisi nyaman untuk bersandar pada pundaknya. Ada perasaan khawatir dalam hati Eun Ji, khawatir kalau seseorang melihatnya dengan Myung Soo. Tapi, untuk saat ini, kesehatan Myung Soo lah yang paling dikhawatirkannya.

Mudah bagi Eun Ji untuk menebak jadwal Myung Soo hari ini. Padat, sangat padat dan sangat sibuk. Sampai-sampai laki-laki itu tidak sempat beristirahat, dan lebih memilih untuk menemui Eun Ji. Myung Soo tidak sempat mengganti kemejanya, dan Eun Ji yakin Myung Soo belum menyantap makan malamnya.

Kekhawatirannya semakin membesar ketika Myung Soo menggenggam pergelangan tangannya. Rasanya tidak seperti menggenggam tangan manusia, melainkan menggenggam tangan seseorang yang sudah tidak bernyawa. Dingin.

Eun Ji menarik napasnya. Ia mengakhiri debatan antara otak dan hatinya yang tidak pernah memiliki jalan yang sama. Dan perlahan, ia membuang napasnya, menggerakan legannya agar terlepas dari genggaman Myung Soo. Tapi sepertinya laki-laki itu lebih tahu, karna sesudahnya, Myung Soo kembali mengunci lengan Eun Ji erat-erat.

Kembali, Eun Ji menarik dan membuang napasnya perlahan. Kali ini otaknya bekerja lebih keras, dan ia pun siap untuk mengeluarkan tenaganya. Eun Ji menghentakkan lengannya dan lengan Myung Soo dengan satu gerakan. Kemudian mengalungkan lengannya di leher Myung Soo, dan membiarkan bibirnya jatuh dalam bibir Myung Soo.

Eun Ji bisa merasakan keterkejutan dalam diri Myung Soo, tapi dengan segera laki-laki itu menutupinya dengan memeluk tubuh Eun Ji. Salah satu tangannya ia gunakan untuk menekan tengkuk Eun Ji, memperdalam ciuman mereka.

Dan ketika ciuman itu berakhir, Eun Ji menyadari tatapan terluka dari mata Myung Soo. Laki-laki itu masih belum menjauhkan tangannya dan tubuh Eun Ji dan tatapannya terus mengarah pada Eun Ji.

“Aku tahu kau belum menyentuh makanan sedikitpun.” Ucap Eun Ji perlahan. “Hentikan semua ini, dan ku temani kau makan.”

Myung Soo tidak menjawab. Laki-laki di hadapan Eun Ji itu memilih untuk memeluk Eun Ji. Eun Ji terhenyak, ia tidak bisa memaksa tapi ia juga tidak bisa membiarkan Myung Soo terus-menerus melupakan dirinya sendiri. Bagaimana bisa seseorang lebih memperhatikan orang lain dibandingkan diri mereka sendiri?

“Ku mohon, hentikan. Kau tidak bisa terus-menerus seperti ini.”

“Sebentar saja.”

“Kau sudah seperti ini sejak tadi. Ayolah, kesehatanmu lebih penting saat ini. Apa kau tidak lapar?”

“Melihatmu saja sudah cukup untukku.”

Eun Ji terhenyak, tanpa sadar matanya kembali memanas. “Myung Soo–”

“Biarkan aku seperti ini, sebentar saja.”

“Tidak.” Elak Eun Ji cepat. “Kalau kau terus seperti ini, aku sedikitpun tidak merasa bahagia. Jadi, lepaskan aku kemudian ku temani kau makan.”

“Bagaimana kalau kau temani aku selamanya?”

Eun Ji mendorong tubuh Myung Soo. Memberi jarak untuk keduanya. Ketika itulah Eun JI menyadari wajah Myung Soo yang benar-benar terlihat pucat. Dan dengan segera, ia pun menempelkan punggung tangannya pada wajah Myung Soo. Memastikan keadaan laki-laki itu. Namun gerakannya tertahan. Tangan Myung Soo berhasil menghentikan gerakannya, dan sesaat Eun Ji menyipitkan matanya. Merasa kesal dengan sifat keras kepala Myung Soo.

“Temani aku makan, dan temani aku selamanya. Bagaimana?”

Eun Ji tidak langsung menjawab. Matanya yang menatap tajam Myung Soo masih tidak memperdulikan setiap kata yang keluar dari mulut laki-laki itu.

“Ayo pulang. Ku buatkan kau sesuatu di apartemenmu. Kemudian, aku akan kembali ke apartemenku. Cepatlah.” Katanya seraya menarik tangannya dari genggaman Myung Soo.

Eun Ji berjalan mendahului Myung Soo. Ia tidak lagi menengok ke belakang ketika berjalan, tidak di perdulikannya Myung Soo yang menunggu jawaban atas pertanyaan yang diajukan Myung Soo sebelumnya. Dan ia pun melangkah kembali ke tempat ZIA, mengambil tasnya kemudian pergi ke apartemen Myung Soo yang terletak dalam satu gedung yang sama dengan apartemen yang baru saja ia tinggalkan.

***

TBC

2 responses

  1. Selalu nunggu nich Ff,,,
    Buka diblog ternyata diprotec,,,
    Keren thOr Karyanya,,,
    JuduL ma KisAhnya memiliki makna yang mendalam…
    Q hanya berharap semoga Eunji dn Myung so berakhir bhgia,,,
    Next part ditunggu thor,,,

  2. Akhirnyaaa. Udah lama nunggunya thor. Jujur thor, kadang bigung sama adegan apa yang baru dimainin. Soalnya ada kata kata yang berbelit. Tapi aku suka karyamu kok thor. Pada dasarnya ide ceritanya bagus. Keep writing. Much lvoe ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s