Happiness (Chapter 9)

Happiness.

Genre  : Romance.

Rating : NC-21

Cast     : Kim Myung Soo–Jung Eun Ji–other cast as showing.

ini yg paling terlambat;_; well, enjoy! next chap aku coba percepat guys!

Part 9

Ruangan mungil–dengan perabotan seadanya–terlihat kacau. Lembaran-lembaran kertas mengelilingi seorang gadis yang sudah kehilangan kesadarannya sejak dua jam yanglalu. Gadis itu tidak pingsan, tidak juga sedang sakit, ia hanya menghentikan saraf-saraf tubuhnya dari pekerjaannya.

Saat itu keadaan rumah Eun Ji memang sedang sepi, tidak ada oranglain selain dirinyalah yang berada di rumah itu. Nyonya Jung memilih untuk keluar hari itu.Dan dengan alasan menemui anak-anak ZIA, Eun Ji pun sedikitpun tidak merasa curiga. Sementara ia kembali dihadapkan dengan tumpukan kertas dan kumpulan nada-nada yang belum disusun.

Bagi orang-orang seperti Eun Ji, pekerjaan menciptakan sebuah lagu memang tidak terlalu berat. Tapi untuk menciptakan sebuah mini-album dalam waktu kurang dari satu bulan dengan kondisi yang tidak menentu, tidak ada yang tahu apakah Eun Ji mampu melakukannya atau tidak. Yang pasti, sampai saat ini, baru satu lagu yang berhasil ia selesaikan dengan sempurna.

Selama bekerja banyak hal yang tidak sempat terpikirkan oleh Eun Ji. Myung Soo salah satunya. Keduanya tidak bertemu lagi setelah kejadian malam itu. Entah karena Eun Ji yang memutuskan untuk menyembunyikan diri dari Myung Soo, atau Myung Soo yang memang melepaskannya, hal itu sempat teratasi dengan kesibukannya.

Tapi ketika matanya mulai menangkap bayang-bayang Myung Soo, Eun Ji tahu ia tidak bisa lari. Meskipun hanya sebuah kenangan, Eun Ji tetap merasakan semuanya secara nyata. Aneh memang, tapi naluri dirinyalah yang membawa semua kenangan itu ke kehidupannya.

Eun Ji menggeliat di tempatnya. Dua jam terlelap di atas lantai membuatnya merasa sedikit kaku. Ia tahu, tidak seharusnya ia tertidur di atas lantai yang suhunya di bawah rata-rata. Selain itu, ia juga seharusnya tahu kalau saat ini ia harus memperhatikan kesehatannya. Karena bagaimanapun, ia mempunyai pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu singkat.

Perlahan tubuhnya mulai bergerak, bangkit dari posisinya dan menatap sekelilingnya. Mungkin kalau oranglain melihatnya, mereka pasti berpikir hal-hal seperti  ‘Apa gadis itu baru saja mabuk?’  ‘Apa dia gila?’ atau mungkin ‘Astaga, apa yang sebenarnya dipikirkan gadis bodoh itu?’ Begitulah kiranya.

Untung saja ia menampilkan setelan orang bodoh ketika ia berada di dalam rumahnya–tanpa oranglain di sekitarnya. Sebenarnya keadaannya tidak benar-benar seperti orang bodoh. Ia hanya membiarkan rambutnya terurai bebas dengan kaos polos yang terlihat besar ditubuhnya, dan celana panjang yang menyapu lantai. Lebih menyerupai orang-orang yang dipecat dari pekerjaan mereka dan stress karena tidak bisa menemukan pekerjaan yang baru.

Tapi kenyataannya berbeda pada Eun Ji. Ia terlihat seperti itu bukan karena ia baru saja dipecat. Tapi karena ia baru saja menambah beban hidupnya dengan pekerjaan yang lebih berat. Dan bagaimana bisa ia melakukan semua itu kalau hanya untuk berusaha melupakan seorang Kim Myung Soo?

Eun Ji menyentuh keningnya. Kepalanya terasa berat dan perutnya terus berdesis menuntut makanan. Memang benar, sejak Ibunya–Nyonya Jung–pergi ia belum menyentuh makanan lagi. Saat itu, seluruh perhatiannya, konsentrasinya, dan tenaganya hanya ia pusatkan pada lembaran kertas yang menunggu ide-ide baru. Walaupun, kenyataannya, Eun Ji sedang tidak memiliki hal bagus untuk disalurkan.

“Oh yah, tunggu sebentar.” Gumamnya pada perutnya yang masih menuntut.

Eun Ji menyeret tubuhnya keluar dari kamar, matanya yang masih terkantuk-kantuk ia paksakan untuk terbuka. Dilangkahkannya kakinya itu, dan di tajamkannya pandangannya. Yang dibutuhkannya saat ini hanya makanan, dan yang terpikirkan saat ini hanya menikmati makanan apapun yang disediakan Ibunya.

Eun Ji meraih pegangan kulkas, menariknya dalam satu gerakan dan menjulurkan kepalanya. Seperti singa yang sedang mengetes mangsanya, ia pun mengetes keadaan makanan-makanan yang terdapat di dalam kulkas. Tidak ada yang spesial, hanya ada semangkuk soup yang harus ia panaskan dulu sebelum memakannya.

Dan seperti itulah yang memang harus ia lakukan. Menyalakan kompor dan memanaskan soup.  Ia tidak perlu menunggu waktu yang cukup lama untuk semangkuk soup, dalam waktu dua menit pun, ia sudah berhasil memindahkan soup tersebut ke meja makan. Dan dengan modal semangkuk nasi, ia pun mulai mencicipi makanannya.

Awalnya semuanya terasa normal, rasanya tidak ada yang aneh dalam soup buatan Ibunya itu. Namun, ketika ia memaksa lidahnya untuk mencicipi soup itu lagi, ia tahu sesuatu yang berbau amis baru saja memasuki kerongkongannya. Reaksinya cukup cepat, Eun Ji memilih untuk memuntahkannya dan berkumur, menghilangkah sisa-sisa amis dari soupnya.

Ketika ia kembali ke tempatnya, satu hal yang ia sadari; ia tidak bisa memakan soupnya lagi. Dengan harapan kalau Ibunya akan segera kembali, ia pun memutuskan untuk menunggu Ibunya. Disimpannya kembali soup itu ke dalam kulkas–menurutnya Ibunya juga harus merasakan soup itu–kemudian Eun Ji kembali duduk di tempatnya, di sebuah kursi yang mengelilingi sebuah meja makan berukuran kecil, meja makan untuk dua orang, untuk sebuah pasangan. Dan kehangatan itu kembali menyusup kedalam tubuhnya. Ia ingat ketika Myung Soo berada di hadapannya, menghabiskan masakannya, mencuri pandang pada dirinya, dan meminta Eun Ji untuk berlama di tempatnya.

Tapi tentu saja Eun Ji berusaha menolak kehangatan kenangan tersebut.

“Tentu saja.” Gumam Eun Ji tiba-tiba. “Aku sedang kelaparan, tapi kenapa harus memaksakan kenyang dengan semua ketidakpastian itu? Astaga, seharusnya aku keluar dan menikmati makanan luar.”

Setelah kalimat tersebutlah, Eun Ji membenahi dirinya. Dengan cepat ia memilih pakaian yang lebih pantas digunakan, kemudian meraih tas genggamnya. Ia juga tidak lupa akan rambutnya yang masih berantakan, namun yang terpikirkan olehnya saat itu adalah menguncir rambutnya asal. Mengunci rumahnya dan beranjak pergi tanpa pikir panjang.

***

Myung Soo mengutuk dirinya yang terus-menerus kehilangan konsentrasinya. Sudah hampir satu minggu dan ia masih belum berhasil menata kembali dirinya. Yang terpikirkan olehnya hanya waktu, tidak ada hal lain selain waktu yang berjalan begitu lambat sehingga ia harus menunggu lebih lama untuk bertemu Eun Ji.

Tidak. Bukan hanya itu.

Kenyataan yang lebih pahit adalah ketika ia sadar kalau Eun Ji belum mengatakan apapun padanya. Gadis itu belum menghubunginya untuk sekedar memberi kabar tentang kehamilannya. Atau memang gadis itu tidak sedang hamil?

Butuh waktu berhari-hari bagi Myung Soo untuk menyimpulkan semua keadaan yang terjadi belakangan ini. Dimulai dari Ibunya–Nyonya Kim–yang sempat melarang hubungannya dengan Eun Ji, kemudian Eun Ji yang melarikan diri, sampai kedua wanita paruh baya yang harus bertengkar untuk merelakan kedua anak mereka. Semuanya terasa begitu berlebihan dan dramatis.

Myung Soo tidak sedang berakting untuk sebuah pementasan drama, ia juga tidak sedang membuat sebuah film atau sejenisnya. Tapi kenapa ia harus merasa seperti sedang dipermainkan oleh skenario yang dibuat oleh seseorang yang memiliki selera film dramatis?

Selain itu, bagaimana bisa skenario itu memisahkan dirinya dengan Eun Ji? Dari yang ia tahu, seharusnya seseorang membuat film dengan akhir yang bahagia, keduanya bertemu, tersenyum, dan bertukar kata cinta seraya berbagi bibir mereka. Tapi, apa artinya sebuah kehamilan untuk sebuah hubungan? Kenapa keduanya hanya bisa bersama kalau sang gadis sedang mengandung?

Kemungkinan Eun Ji sedang mengandung sangat kecil. Keduanya hanya melakukan hal itu sekali, dan bahkan malam itu semuanya terjadi dengan sangat cepat. Meskipun peluh membasahi wajah keduanya, kepuasan menjadi hasil puncak nikmat keduanya, tetap saja kemungkinan Eun Ji hamil sangat-sangat kecil. Terkadang Myung Soo berpikir, kenapa ia tidak memberikan Eun Ji obat perangsang kehamilan malam itu?

Saat ini, di ruangannya, bisa dikatakan Myung Soo kehilangan kesadarannya. Berkas-berkas dihadapannya dibiarkan terbuka, menahan lapar akan perhatian laki-laki itu. Hampir sepenuhnya, Myung Soo mengabaikan pekerjaannya, hampir. Tapi tentu saja masih ada orang-orang yang menuntutnya untuk bekerja, Chan Young misalnya.

Gadis itu akan datang ke rungannya setiap jam makan siang dan jam pulang. Dengan gayanya yang dibuat-buat, gadis itu akan mengajak Myung Soo menikmati makan siang bersama. Ia akan berkata; ‘Aku tahu kau sedang kacau. Tapi sebaiknya kau tetap makan untuk sekedar hidup di dunia.’ Dan seharusnya sebentar lagi gadis itu akan berdiri di hadapannya dan mengatakan hal itu, mengingat saat ini sudah memasuki jam makan siang.

Dan dugaan Myung Soo memang tidak salah.

Chan Young datang 3menit kemudian. Tersenyum dan meraih tangan  Myung Soo tanpa meminta ijin.  Namun kenyataannya, satu kalimat itu tidak terdengar. Entah karena Chan Young yang dataeng terlambat dan lupa mengatakannya, atau ada sesuatu yang mengganggu pikiran gadis itu?

Keduanya berjalan berdampingan. Chan Young sudah melepas pegangannya sejak keduanya berada di luar hotel, dan kini yang tersisa hanya jarak antar keduanya. Myung Soo, di tempatnya, berharap kalau Eun Ji tidak mengetahui apa yang dilakukan Chan Young sebelumnya.

Chan Young menghentikan langkahnya, menatap Myung Soo sejenak sebelum akhirnya mengalihkan perhatiannya pada cafe tempat keduanya biasa menghabiskan jam makan siang. Ia kembali menyeret kakinya, kali ini lebih lambat dan penuh keraguan.

Myung Soo tidak yakin apakah ia harus bertanya atau tidak. Tapi raut wajah Chan Young jelas membuatnya merasa khawatir. Ia tidak bisa membaca pikiran oranglain, tapi ia juga tidak bisa mengatakan sesuatu saat ini. Seperti sebelumnya, ia hanya bisa diam dan menunggu.

“Kau yakin akan tetap memilih cafe ini?” ujar Chan Young.

Myung Soo menatap cafe yang berada tidak jauh dari tempatnya. Tidak ada yang salah, pikirnya. Mereka biasa menghabiskan jam makan siang di sana, kenapa tiba-tiba Chan Young bertanya hal semacam itu?

“Sejujurnya aku tidak yakin aku sanggup melihatmu mengacuhkanku.” Ujarnya lagi.

Myung Soo mengangkat alis matanya, keningnya berkerut. “Apa maksudmu?”

“Gadis itu,” Chan Young mengarahkah telunjuknya, membawa kedua pasang mata itu–sepasang matanya dan mata Myung Soo–menatap gadis yang tengah berdiri dan bicara terhadap seorang pesuruh. “Kau merindukannya, bukan?”

Myung Soo mematung di tempatnya. Wajahnya terlihat lebih lega dan cerah, walaupun tanpa senyum. Ia jelas lebih merasa sempurna dan utuh, setidaknya ia bisa melihat gadis itu saat ini. Hanya untuk beberapa menit saja, atau mungkin dalam hitungan detik.

“Kau bahkan sudah mengacuhkanku.”

Konsentrasinya buyar. Suara rendah dari arah Chan Young membuatnya kehilangan kesadaran dari gadis yang belakangan ini menghantui pikirannya.

“Sepertinya aku salah karena mengajakmu ke tempat ini. Kau–tentu saja, kau merindukannya. Kalau begitu, cepat temui dia. Aku akan menunggumu di sini, dan yah, akan ku pastikan Ibumu tidak tahu-menahu soal ini.”

Myung Soo menatap Chan Young heran. Apa gadis itu baru saja merelakannya? Tapi kenapa semudah itu? Myung Soo tentu akan meraih dan mendekati Eun Ji, ia juga mungkin akan memeluk Eun Ji selama yang ia bisa. Tapi, untuk saat ini, kenyataannya berbeda. Sangat-sangat berbeda.

“Aku tahu kau sedang kacau. Tapi sebaiknya kau tetap makan untuk sekedar hidup di dunia.” Kata Myung Soo perlahan.

Kali ini giliran Chan Young yang membeku di tempatnya, Myung Soo tahu itu. Ia juga tahu kalau Chan Young sedang memikirkan hal seperti; ‘Hei, itu kata-kataku’ ‘Itu milikku, apa-apaan orang ini’ atau mungkin gadis itu mengatakan hal menyindir seperti; ‘Laki-laki memang tidak pernah memiliki selera kalimat yang bagus untuk dikatakan’ mungkin saja.

“Ayo masuk,” ujar Myung Soo. “Aku lapar. Kau tahu pekerjaanku menungguku, jadi cepatlah.”

***

“Kau pesan apa?” tanya Chan Young ketika keduanya berhasil mendapatkan tempat.

“Pilihkan saja yang sesuai dengan diriku. Aku yakin kau tahu semua itu.”

“Baiklah.”

Chan Young membolak-balik buku menu, perhatiannya ia pusatkan pada buku di hadapannya. Sementara Myung Soo menyapu pandangannya, mencari letak keberadaan gadisnya. Gadis yang membuatnya kehilangan konsentrasi dan kehilangan kendali akan dirinya.

Dan ketika matanya berhasil menangkap tubuh gadis itu, matanya menyipit. Ia memperhatikan Eun Ji yang sedang bicara dengan ponselnya, dengan ponsel yang tidak ia ketahui nomornya. Gadis itu memang pintar, sangat pintar sampai membuat Myung Soo merasa gila karenanya.

Myung Soo mengalihkan pandangannya ketika menyadari Eun Ji yang menyapu pandangannya. Eun Ji terlihat seperti mencari sesuatu di sekitarnya. Kemudian ia mengangkat tangannya seraya tersenyum kepada seseorang di depannya. Ia ingin memesan makanan, pikir Myung Soo.

Myung Soo tidak bisa mendengar apa yang dikatakan gadis itu pada pelayan, tapi ia bisa tahu kalau Eun Ji bahkan tidak melihat daftar menu untuk memesan sebuah makanan. Eun Ji terlihat seperti seseorang yang sudah biasa menghadapi daftar menu cafe tersebut.

Pelayan itu pergi meninggalkan meja Eun Ji. Menyerahkan pesanan gadis itu dan melanjutkan pekerjaannya. Di sisi lain, Myung Soo bisa melihat Eun Ji yang duduk menatap kerumunan orang di luar cafe.

“Bisa kita pesan makanannya sekarang?” tanya Myung Soo seketika.

Chan Young menatapnya, sedikit terkejut, “Oh, tentu saja.”

Dan Chan Young memang memanggil seorang pelayan. Pelayan yang sama dengan Eun Ji, ia menyatat menu pilihan Chan Young. Ketika tangannya berhenti bergerak, ia menatap Myung Soo dan Chan Young bergantian, kemudian berkata, “Akan segera ku siapkan.”

Pelayan itu baru saja hendak pergi ketika Myung Soo memanggilnya. Baik Chan Young maupun si pelayan merasa bingung dan heran. Keduanya menatap Myung Soo menunggu suara dari laki-laki itu.

“Beritahu aku apa yang gadis itu pesan,” kata Myung Soo perlahan.

Pelayan itu terlihat bingung, ia menatap Chan Young sejenak. Dan entah mendapat keberanian darimana, Chan Young memberitahu pelayan itu siapa yang Myung Soo maksud dengan gadis itu.

“Nyonya yang di sana memesan makanan terbaik dari cafe kami yang tidak mengandung daging. Ia bilang ia akan menerima apapun selagi tidak ada dagingnya.” Jawab pelayan itu santai.

Myung Soo mengerutkan keningnya, “Kenapa?”

“Saya tidak tahu. Ia hanya bilang kalau kerongkongannya sedang tidak berfungsi dengan baik. Saya benar-benar tidak tahu Tuan.”

“Baiklah,” kata Myung Soo. “Terima kasih.”

Pelayan itu tersenyum dan membungkukkan badannya sebelum akhirnya menghilang dari pandangan Myung Soo dan Chan Young. Membawa catatan pesanan keduanya dan kembali berkerja.

Myung Soo mengalihkan pendangannya. Matanya menatap Chan Young yang sedang menatapnya. Ia tidak tahu harus berkata seperti apa, tapi saat ini ia hanya merasa sedikit ingin tahu mengenai keadaan Eun Ji. Mengenai kebenaran tentang kehamilan gadis itu.

“Kau mengkhawatirkannya,” ujar Chan Young.

Myung Soo tidak membalasnya, ia hanya tersenyum seraya kembali memandang Eun Ji. Sejujurnya ia merasa tidak enak. Ia datang ke tempat itu dengan Chan Young, tapi justru mengabaikan gadis itu. Bukankah itu terdengar sedikit tidak manusiawi?

Keduanya mengalihkan perhatian ketika menyadari pelayan yang datang mengantarkan pesanan keduanya. Myung Soo menatap Eun Ji sejenak, gadis itu belum menyentuh makanannya. Ia masih memperhatikan sekelilingnya tapi tidak menyadari keberadaan Myung Soo. Sangat ironis.

Kepala Myung Soo berputar ketika melihat Eun Ji yang tersenyum ke arah pintu masuk dengan ponsel yang menempel di telinganya. Ia tidak tahu apa yang membuatnya tersenyum, tapi ia tahu siapa yang membuatnya tersenyum. Myung Soo bisa melihat enam gadis lainnya yang seumuran atau lebih muda dari Eun Ji datang dengan seorang laki-laki yang sedikit lebih tua.

Yang mengusik perhatian Myung Soo bukanlah keenam gadis lainnya, tapi keberadaan laki-laki itu. Siapa dia dan apa hubungannya dengan Eun Ji. Bukan hanya itu, ia juga yakin ia sempat melihat laki-laki itu bersama Eun Ji sebelumnya. Tapi dimana?

Myung Soo menatap makanannya sejenak. Rasanya menatap makanan tidak akan mengembalikan napsu makannya. Ia lebih memilih untuk membiarkan makanannya dan menatap Eun Ji dengan sekumpulan gadis lainnya dan seorang laki-laki. Lagi, ia hanya bisa diam dan menunggu.

Tapi tunggu. Ia tahu ia pernah melihat laki-laki itu. Bukan hanya itu, ia juga tahu kalau salah satu dari keenam gadis yang berada di dekat Eun Ji adalah salah satu pelanggan apartemennya. Ia tahu itu, dan tidak bisa dipungkiri ia juga mengenal gadis itu karena Eun Ji.

Astaga, gadis itu memang gadis yang sempat ia salah kenali sebagai Eun Ji.

***

Napsu makannya hilang. Keinginannya untuk menikmati makanannya hilang. Seharusnya Eun Ji tidak berpikir untuk datang ke cafe itu sendirian. Seharusnya ia mengajak Minhwa atau Ibunya makan bersamanya, tidak seperti sekarang ini.

Eun Ji meraih sendoknya, berusaha menahan rasa mualnya yang timbul sejak ia memasuki cafe tersebut. Ia tahu ia hanya mengalami keterkejutan pada sesuatu yang berbau sapi atau sejenisnya, lidahnya hanya masih merasakan rasa amis itu, dan Eun Ji yakin, hal itulah yang membuatnya kehilangan selera makannya.

Eun Ji baru saja berniat untuk memasukkan sendok yang berisi makanan ke dalam mulutnya ketika dering ponselnya menghentikan gerakannya. Ia menaruh kembali sendok itu dan memeriksa ponselnya. Satu pesan dari kliennya.

Kau dimana? Bisa kita bertemu? Aku dan yanglain baru saja ingin makan di luar. Bagaimana kalau kau menyusul? Ada yang ingin manager bicarakan denganmu.

Kening Eun Ji berkerut. Ada yang ingin dikatakan kliennya, hal ini membuatnya sedikit merasa gugup. Ia merasa napsu makannya benar-benar menghilang, entah terbawa angin atau memang ia sudah kenyang karena rasa gugup yang secara tiba-tiba menyelip ditubuhnya.

“Kurasa aku tidak melakukan apapun,” gumam Eun Ji.

Gadis itu menarik dan membuang napasnya perlahan. Diketiknya beberapa kalimat pada ponselnya sebelum akhirnya ia kembali mengalihkan perhatiannya. Makanannya masih belum tersentuh. Dan sepertinya ia memang tidak mengharapkan sesendok nasi atau makanan apapun setelahnya.

Beberapa menit berlalu, ponselnya kembali berdering. Kali ini sebuah telpon masuk. Eun Ji menatap layar ponselnya, menimbang-nimbang apakah ia harus mengangkat pannggilan tersebut atau tidak. Ia ragu untuk menjawabnya, masih tersisa sedikit kekhawatiran dalam diri Eun Ji kalau-kalau yang menelponnya adalah Myung Soo. Dan yah, bisa dikatakan juga, ia sedikit memikirkan Myung Soo sejak memasuki cafe itu.

Meskipun ragu, ia harus mengangkatnya. Bagaimana kalau itu kliennya? Oh, tentu saja ia tidak ingin membuat kliennya kecewa. Tidak sedikitpun.

Yoboseyo,”

“Eun Ji-ah, kau benar-benar di dalam cafe bukan? Berikan kami kode, cafenya terlalu ramai.” Sebuah suara berat terdengar dari sambungan telpon.

Eun Ji tidak akan berpikir kalau orang yang menelponnya–laki-laki yang menelponnya–adalah Myung Soo. Karena yang ia ingat, suara Myung Soo tidak seberat laki-laki yang tadi mengatakan kalimat tersebut. Dan sebelum sambungan telpon terputus, Eun Ji pun memutar kepalanya.

Eun Ji menatap keenam gadis yang ia kenal sebagai bintang dari lagunya. Ia tersenyum dan berkata, “Tiga puluh derajat ke kanan, aku di sini.”

Dan tepat sekali, keenam gadis dengan manager Lee–begitulah mereka menyebutnya–datang menghampiri Eun Ji dan tersenyum padanya. Keenam gadis itu menempati kursi kosong di meja Eun JI, sedangkan manager mereka harus berdiri. Cafe itu tidak kehabisan kursi, hanya saja meja Eun Ji-lah yang terlalu kecil sehingga manager Lee harus berdiri, atau tepatnya duduk di tempat yang lebih jauh dari para artisnya.

“Ada masalah apa?” tanya Eun Ji hati-hati.

Keenam gadis itu tersenyum menatap Eun Ji. Dan sepertinya hal itu berpengaruh pada rasa gugup Eun Ji, karena saat ini Eun Ji menundukkan kepalanya.

“Apa kau sakit, eonni?” tanya salah satu dari mereka.

Eun Ji mengangkat kepalanya. “Oh, tidak.” Jawabnya cepat, “Aku sehat, sungguh. Kalau kalian berpikir aku tidak bisa menyelesaikan mini­-albumnya karena kesehatanku, kalian salah. Aku benar-benar sehat, sungguh.”

“Astaga,” sahut yanglainnya. “Aku yakin kau benar-benar sehat.”

“Dia bersemangat sekali,”

“Lucu sekali. Kita bahkan belum mengatakan apapun, semangatnya luar biasa.”

Eun Ji bisa merasakan pipinya yang memanas. Aku pasti mulai memerah kali ini, gumamnya. Ia masih tidak mengerti tujuan kedatangan kliennya, dan ia semakin tidak mengerti dengan pujian-pujian yang dilontarkan kliennya itu.

Sejujurnya ia ingin bicara. Ia ingin langsung menanyakan kesalahannya kepada manager Lee. Namun, keberadaan keenam gadis itulah yang menahannya untuk tidak asal bicara. Mungkin yang ingin mereka sampaikan bukanlah sesuatu yang buruk, dan mungkin juga itu sesuatu yang dapat disampaikan dalam selera humor.

“Eun Ji-ah,” panggil manager Lee.

Eun Ji memutar kepalanya. Kali ini kegugupan benar-benar menyelimutinya, “Ya?”

“Bagaimana pekerjaanmu?” tanyanya lembut, namun terdengar tegas.

“Semuanya berjalan lancar. Tersusun secara sempurna, aku hanya perlu mengetesnya dan menambahkan beberapa nada  untuk sesuatu yang lebih sempurna.”

Managernya tersenyum, “Kau tahu tidak ada yang sempurna di dunia ini,”

“Oh,” respon Eun Ji singkat, kehabisan kata-kata untuk meyakinkan kliennya tentang pekerjaannya yang benar-benar-dalam-keadaan-sempurna.

“Bagaimana kalau istirahat sebentar?”

Eun Ji kembali memutar kepalanya. Kali ini ia menatap gadis yang memintanya untuk beristirahat. Ia tidak mengerti maksud perkataan gadis itu, dan kalau ia boleh berkata jujur, ia juga tidak ingin tahu maksud perkataan tersebut. Ia hanya tidak ingin mendengar kemungkinan terburuknya.

Dengan kening yang berkerut, Eun Ji menatap gadis itu, “Maksudmu?” tanyanya hati-hati.

Dan gadis itu tersenyum cerah. Hal yang membuat Eun Ji semakin merasa gugup sekaligus takut.

“Kau ikut dengan kami.” Katanya ceria, “Berlibur.”

Eun Ji mengerjap, masih tidak mengerti kemana arah pembicaraan mereka.

“Aku tidak mengerti,” akunya.

“Sederhana saja,” kata gadis yang berbeda, “Kita berlibur bersama. Pergi ke daerah pegunungan atau mungkin sekitar pantai. Satu minggu saja, kami juga memerlukan liburan.”

“Aku tidak bisa menjadi pengawal mereka,” sambung manager Lee, “Kupikir kau mungkin bisa mengawasi mereka dan menjadi seorang gadis dewasa yang cocok untuk mereka. Kau ikut bukan?”

Eun Ji menatap keenam gadis itu bergantian, masih menimbang-nimbang, “Tapi pekerjaanku–”

“Kami yang mengontrakmu dan kami juga yang mengajakmu berlibur. Jadi, itu bukan persoalan yang sulit untuk diubah kalau kau setuju ikut berlibur.”

“Aku harus menanyakan pendapat Ibuku sebelumnya,”

“Dia mengijinkanmu.” Sahut manager Lee cepat. “Dia bahkan yang menyarankanku untuk mengajakmu pergi. Dan kebetulan sekali, kau bisa menggantikan posisiku.”

Eun Ji menelan ludahnya. Ia tidak bisa beralasan lagi. Lagipula, untuk apa ia mengeluarkan sejuta alasan? Pertanyaannya saat ini, apa yang membuat Eun Ji tidak ingin berlibur? Sesungguhnya tidak ada. Tidak ada satupun. Myung Soo pun bukan sebuah alasan, bukan?

Eun Ji tersenyum, “Ya. Tentu saja aku ikut.”

***

“Bagaimana hasilnya?”

“Memang benar. Apartemen nomor 252, atas nama Nyonya Park.”

“Dia ada di dalam?”

“Baru saja masuk, Tuan.”

“Bagus. Kalau begitu, kau bisa keluar sekarang.”

Myung Soo tersenyum puas. Dirapihkannya setelan jasnya dan melangkahkan kakinya perlahan. Senyum bangga terpampang di wajahnya. Ia baru saja mendapatkan sebuah gagasan, ia baru saja berniat untuk mewujudkan keinginannya.

Dengan gadis itu. Entah bagaimana caranya, ia tahu ia bisa memanfaatkan gadis yang tadi menemui Eun Ji. Myung Soo yakin gadis itu pintar dan memiliki perasaan, jadi ia yakin kalau gadis itu mau membantunya. Dan kenyataan bahwa ia memiliki peluang yang cukup besar semakin membuatnya merasa bangga.

Myung Soo memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Mempercepat langkahnya menuju apartemen nomor 252. Apartemen seorang gadis bermarga Park. Apartemen yang akan membantunya untuk memiliki Eun Ji.

Dan ketika kakinya mendarat tepat di depan pintu bernomor 252, Myung Soo tersenyum puas. Dengan lagak yang dibuat-buatnya, ia melangkah mendekati pintu dan mengeluarkan salah satu tangannya. Kemudian mengetuk pintu dan melangkah mundur, memberi jarak antara dirinya dan pemilik Apartemen.

Butuh waktu lebih dari tiga puluh detik bagi Myung Soo untuk mendapatkan respon dari pemilik apartemen. Telinganya menangkap adanya gerakan tergesa-gesa dari dalam ruangan dan ia tersenyum semakin lebar. Gadis dengan marga Park itu parti akan membantunya, pikir Myung Soo.

Dan ketika engsel pintu mulai bergerak. Myung Soo memasang senyum tercerah yang pernah ditunjukkannya. Setidaknya, ia harus memberikan kesan terbaik untuk pelanggan yang akan membantunya.

Dalam hitungan detik, pintu pun berhasil dibuka dengan sempurna. Di sebrang sana, Myung Soo dapat melihat paras cantik seorang gadis muda yang menatapnya heran. Tapi Myung Soo tidak terlihat bingung atau heran, ia terlihat bersahabat.

“Selamat malam, Nyonya Park.” Sapa Myung Soo lembut.

***

“Oh, Astaga. Bagaimana bisa kau meletakkan barangmu di sini?!”

“Kau juga meletakkan barangmu di tempatku. Jadi bukan sepenuhnya salahku.”

“Eun Ji eonnie. Apa kau bisa membantuku membawa barang-barangku? Tasku sangat berat dan aku tidak yakin aku kuat mengangkatnya sendiri.”

“Kau harus belajar membawanya sendiri. Bagaimanapun, Eun Ji juga sedang sibuk dengan barang-barangnya.”

“Ya ampun, aku melupakan tas genggamku!”

Eun Ji memijit keningnya. Rasanya seperti ada yang berdenyut di kepalanya. Mendengar teriakan demi teriakan dari keenam gadis itu membuat kepalanya merasa terganggu. Tapi tentu saja ia tidak bisa mengomplain, karena saat ini, ia-lah pengasuh mereka.

“Bawa barang kalian masing-masing. Liburan kali ini kita usahakan bersikap mandiri tapi juga teratur.” Kata anggota tertua mereka, “Soal pembagian kamar, satu kamar untuk sepasang!”

“Kalau kita semua berpasangan, bagaimana dengan Eun Ji eonni?”

“Dia tentu saja tidur di kamar Oppa. Bagaimanapun, hanya itu yang tersisa di sini.” Jelasnya, “Itu tidak jadi masalah bukan untukmu?”

Eun Ji menggeleng dan tersenyum, “Terima kasih.” Katanya seraya kembali menyeret tasnya.

Kemudian kakinya berhenti melangkah. Ia meletakkan tasnya di sudut ruangan, menyapu pandangan dan menjatuhkan dirinya di atas kasur. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya. Perjalanan panjang membuatnya merasa kehilangan jiwanya.

***

“Aku benci malam hari,” gumam salah satu dari mereka, “Sungguh.”

“Kau itu benar-benar aneh. Oranglain justru menginginkan hari cepat berganti malam dan mereka bisa menikmati mimpi-mimpi yang mereka ciptakan setiap malamnya.”

“Menurutku itu salah,” elahnya. “Malam berarti sebuah akhir.”

“Kau berpikir kau akan mati esok hari? Bodoh sekali.”

“Semua orang harus berpikir seperti itu. Kalau tidak, hidupmu hanya akan menjadi sebuah tawaan bagi orang-orang disekitarmu.”

“Kau berpikir terlalu jauh, mereka yang tertawa bahkan tidak pernah tahu apa itu arti kehidupan.”

“Menurutmu kau tahu apa itu arti kehidupan, Eun Ji-ah?”

Eun Ji tersenyum kecil. “Mungkin iya, mungkin juga tidak.”

“Kalau gitu berikan aku kesempatan untuk mengembalikan ucapanmu sebelum kembali ke kamarku.” Katanya seraya menatap Eun Ji, “Kau itu benar-benar aneh, Eun Ji-ah.”

Eun Ji tersenyum menatap punggung gadis itu yang mulai menjauh, “Aku tahu.”

***

Malam itu masih belum ia akhiri. Ia memilih untuk menikmati cahaya bulan dan barisan bintang di atas sana. Sambil berjalan perlahan, ia memutar kepalanya. Jalanan di pedesaan tidak ramai, tidak berisik, tidak berpolusi, tapi juga tidak gelap. Suasananya terangnya hampir sama dengan suasana perkotaan, hanya saja di sini ia merasa lebih terefleksi.

Eun Ji memperhatikan sekelilingnya. Jalan besar yang ia lewati sama sekali tidak memunculkan sebuah mobil, benar-benar keadaan yang bersih dari polusi udara. Ia mengeluarkan ponselnya, menekan nomor Ibunya, dan mulai menghubunginya. Namun yang bisa ia dengar hanya suara lembut dan tegas dari operator, menandakan kalau Ibunya memang sudah terlelap. Eun Ji membiarkan ponselnya menempel di telinganya, ia memilih untuk meninggalkan pesan suara.

“Aku tahu Ibu sudah tidur. Maaf kalau aku menelpon terlalu malam. Tapi, suasana di sini benar-benar menyita perhatianku. Aku bahkan hampir lupa tentang Minhwa dan yanglainnya. Ohya bu, apa mereka baik-baik saja? Ibu menengok mereka setiap saat bukan? Seharusnya aku menelpon ketika Ibu sedang bersama mereka.

“Kau tahu Bu, saat ini suana di desa sepi sekali. Tidak ada suara berisik kendaraan atau suara bayi yang menangis malam hari karena terbangun. Mereka semua hidup sederhana tapi bahagia. Kebahagiaan mereka dibangun hanya dengan sebuah senyum dan tawa. Mereka juga sering menolongku membuatkan sarapan untuk artis-artisku, baik sekali bukan?

“Terkadang aku berpikir untuk membalas kebaikan mereka. Tapi setelahnya aku berpikir lagi, ‘bagaimana caranya aku bisa membantu mereka?’ Aku bahkan tidak tahu apa yang membuat mereka senang dan bagaimana reaksi mereka kalau aku menawarkan sebuah imbalan. Kurasa itu akan menyakiti perasaan mereka.

“Seharusnya aku menceritakan padamu lebih banyak lagi.” Eun Ji memberi jeda ucapannya, “Tapi sepertinya aku juga harus kembali ke kamar. Tiga hari di desa tanpa Ibu dan ZIA membuatku harus beradaptasi kembali. Menurut Ibu, apa ini faktor kebiasaanku mengurung diri di dalam apartemen?

“Kalau memang begitu, sepertinya kita harus mencoba untuk tinggal di pedesaan. Ibu pasti akan merasakan perbedaannya. Kalau begitu, biar ku telpon lagi esok, aku harus merenggangkan tubuhku malam ini. Besok pasti menyenangkan. Jaga diri Ibu, dan sampaikan salamku pada Minhwa dan yanglainnya.

“Aku merindukan kalian semua.” Tambahnya sebelum mengakhiri pesan suara tersebut.

Eun Ji menatap ponselnya sejenak. Tersenyum dan menghela napasnya. Kemudian ia kembali meletakkan ponselnya di saku jaket, kembali melangkah ke tempatnya menginap.

Aku harus tidur, pikirnya. Besok pasti lebih menyenangkan, tambanya.

Dilangkahkannya kakinya menyurusi jalan yang sama. Pandangannya tetap menyapu sekelilingnya. Senyumnya pun masih mengembang.

Setidaknya sampai sesuatu yang kekar menarik tubuhnya kebelakang dan menyekap mulutnya.

“Astampph–” jeritnya tertahankan.

Butuh waktu kurang dari satu menit bagi Eun Ji untuk mengenali orang yang memeluk tubuhnya dari belakang sekaligus menyekapnya. Ia tidak bisa mengatakan apapun. Tubuhnya membeku dan ia tahu semua yang terjadi padanya adalah sebuah kesalahan.

“Malam yang indah,” ujar laki-laki itu. “Aku merindukanmu, Eun Ji-ah.”

***

TBC

9 responses

  1. akhirnya ff ini publish juga setelah hampir 1 setengah bulan gak ada lanjutannya,,, next part cepet ya thor,, selalu ditunggu soalnya,, Oke

  2. Akhirnyaaa thor. Setelah tiap hari cek wp, akhirnya publish juga~
    keren kok thor, seperti biasa. Tapi gimana ya, mian sebelumnya. Kok rasanya part ini agak flat, mungkin karena nggak ada konflik myungji aja kali. Apa cuma perasaanku doang kali. Hehehe. Tapi aku menghargai banget usahamu buat nglanjutin ceritanya. Semangat thooor. Lvoe! :*

  3. annyeong, aq reader baru disini. baru coment setelah ngabisin part ff ini.
    keren pake banget ff ini. suka karakter yg dimainin. gregetan juga bacanya. tapi keknya harus nunggu lam buat tau kelanjuttannya hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s