Take The Pain

Take The Pain.

take the pain

Cast : Kim Taeyeon–Kim Sunggyu–other.

Genre : Romance–Comfort,

Length : One Shot Story,

Rating : G–Teenager.

Well, sejujurnya ini cuma hasil kekagumanku sama sebuah buku. Berhubung aku ngeship Infiniteshidae, jadi selamat menikmati! Beruntung buat kalian yang tau/pernah baca buku yang aku maksud;D

‘Seperti itulah kepedihan. Kepedihan menuntut untuk dirasakan.’ –The Fault In Our Stars.

Gadis itu mengangkat tangannya. Tersenyum membanggakan dirinya di depan murid lainnya, seolah-olah dirinyalah yang terbaik. Seakan-akan tidak ada yang bisa mengalahkan dirinya, tidak ada seorang pun.

“Tradisional dan Modern memiliki perbedaan, namun keduanya bisa disatukan dengan kebudayaan.” kata gadis itu bersuara.

“Tepat sekali, Taeyeon-ssi,” ujar sebuah suara yang lebih rendah dari arah yang berbeda.

Taeyeon menarik kembali tangannya dan tersenyum puas. Poin keberuntungan lagi Kim Taeyon, bagus sekali, pikirnya.

Pelajaraan hari itu dilanjutkan dengan berbagai materi mengenai alat musik dan kebudayaan-kebudayaan Korea. Guru Lee–lelaki paruh baya yang mengajar kesenian kelas Taeyeon, melontarkan berbagai pertanyaan dengan jaminan sebuah poin. Kemudian, dengan senang hati, murid-muridnya akan mengangkat tangan mereka untuk menjawab pertanyaan tersebut, walaupun hasilnya Taeyeon lebih banyak menjawab pertanyaan tersebut.

Dan ketika bel terakhir pada hari itu menggema di seluruh ruangan, keadaan yang sebelumnya teratur menjadi lebih bebas dan bergaya. Para mahasiswa kesenian itu keluar dengan gaya mereka yang berbeda-beda serta wajah segar yang penuh dengan keceriaan.

Taeyeon melangkah dengan gayanya. Keluar dari ruang kelas dengan tas yang menempel dipundaknya dan sebuah tas laptop yang ia peluk. Kakinya melangkah membawanya pergi menjauh dari kumpulan mahasiswa lainnya yang berusaha membuat kehebohan.

Dengan langkah yang tak terhingga itu, Taeyeon–pada akhirnya–berhenti di bawah sebuah pohon besar. Ia menjatuhkan dirinya di sisi pohon, bersandar seraya mengacaukan keadaan tasnya. Diraihnya sebuah buku dari dalam tasnya, dan detik berikutnya, perhatian gadis itu terpusat pada bukunya.

***

Ia bahkan tidak memperhatikanku, pikirnya.

Sunggyu tersenyum singkat, kembali memperhatikan Taeyeon–yang sejak bel pulang terdengar sudah berkutik dengan bukunya. Jelas bukan kebiasaan seorang mahasiswa kesenian untuk membaca buku-buku fiksi yang tidak berhubungan dengan seni, tapi Taeyeon berbeda. Tidak bisa diragukan lagi, Taeyeon memang berbeda.

Sunggyu melangkah perlahan. Senyum masih terpampang di wajahnya, sementara tangannya menggenggam tas yang tergantung di bahu kirinya. Matanya menatap Taeyeon, mensyukuri keberadaan Taeyeon dan mengagumi keindahan wajah gadis itu.

Dan ketika jarak antar keduanya semakin mengecil, Sunggyu tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum semakin lebar. Setiap harinya, setelah pertemuan pertama mereka, Sunggyu bisa mengerti alasan kenapa Taeyeon lebih memilih untuk membaca dibawah pohon jika dibandingkan dengan membaca di perpustakaan, atau semacamnya.

Dan jawaban gadis itu sangat sederhana; ‘Karena menurutku sebuah buku cinta hanya dapat dirasakan di bawah langit.’ Terdengar membingungkan pada awalnya, tapi jika kau tahu arti kalimat sederhana itu, kau bisa benar-benar jatuh cinta pada seorang Kim Taeyeon.

“Hei,” sapanya pelan. Sunggyu menjatuhkan dirinya di sebelah Taeyeon, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk mengagumi wajah Taeyeon lebih dekat.

“Akan ku balas dengan ucapan selamat sore dan,” Taeyeon memandang Sunggyu sejenak, “Kau keluar lebih cepat hari ini.”

Sunggyu tersenyum, ia memperhatikanku. “Tentu saja karena aku harus menemuimu, dan bintang keberuntungan sedang berpihak padaku hari ini.”

“Apa kau baru saja memenangkan sesuatu?” tanya Taeyeon penasaran. Untuk beberapa saat, Sunggyu menyadari dirinya yang baru saja membuat Taeyeon mengalihkan perhatiannya.

“Tidak,” jawabnya. “Aku berhasil melewati ruang guru tanpa harus bertemu Guru Jo. Kau tahu, yah, dia selalu mencariku untuk hal itu.”

Taeyeon menggerakkan kepalanya sebagai jawaban. Sunggyu yakin ia tidak harus menjelaskan apa yang ia maksudkan dengan ‘itu’ pada Taeyeon, karena tentu saja Taeyeon juga sering kali mengalaminya.

Keduanya memiliki kelompok seni masing-masing. Taeyeon dengan kedelapan temannya, dan Sunggyu dengan keenam temannya. Sedangkan Guru Jo, salah satu guru yang terkenal dengan cafenya–yang terletak tepat di depan Universitas Kesenian Seoul, selalu berusaha mengundang murid-murid terbaiknya untuk membawakan beberapa lagu sebagai hiburan cafenya. Dengan bayaran beberapa poin nilai.

“Kau membawa buku yang berbeda.” Ujar Sunggyu. Ia bisa menangkap segaris senyum simpul dari wajah Taeyeon.

“Tentu saja,” katanya tanpa mengalihkan perhatian. “Buku baru termasuk cinta baru untukku.”

“Kejam sekali.”

“Tidak.”

“Kau berhasil mendapatkan penggantiku.”

“Apa?”

“Kau bahkan belum pernah menerimaku. Tapi kenapa kau sudah mendapatkan yang baru,”

***

“Kau bahkan belum pernah menerimaku. Tapi kenapa kau sudah mendapatkan yang baru,”

Taeyeon mematung di tempatnya. Lidahnya kelu. Seharusnya ia bisa melawan perkataan Sunggyu, tapi saat ini dunia seperti memintanya untuk berhenti bicara dan mulai memikirkan perasaan oranglain yang berada di sekitarnya.

“Kau mengatakannya lagi,” kata Taeyeon akhirnya.

“Apa kau tidak pernah menemukan arti dari kalimat seperti itu sebelumnya?”

“Tidak.”

“Itu menjelaskan sebuah perjuangan,” katanya yang kembali membungkamkan Taeyeon, “Perjuangan untuk meraih cinta seseorang.” Tambahnya.

Lagi, untuk yang kesekian kalinya, ia merasa ditekan. Tidak sepenuhnya, tapi penekanan itu lebih mendalam pada perasaannya. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari sebuah penyataan cinta. Taeyeon membenci hal itu, tapi terkadang ia juga harus berpikir kalau orang-orang disekitarnya tidak berpikir seperti itu.

Lagipula, siapa yang percaya sebuah pernyataan cinta akan memperbaik sebuah hubungan? Sunggyu percaya, jawab Taeyeon dalam hatinya.

Sudah lebih dari setengah tahun keduanya mengenal satu-sama-lain. Dan sudah lebih dari setengah tahun juga Taeyeon mengetahui perasaan Sunggyu padanya. Tapi gadis itu tidak mau bertindak. Hati gadis itu terlalu dingin, terlalu sulit untuk dihangatkan hanya dengan sebuah senyuman.

Taeyeon tidak memiliki phobia terhadap sebuah hubungan. Ia juga tidak memiliki masa lalu yang buruk dengan seorang laki-laki, ia bahkan belum pernah merasakan sesuatu yang oranglain sebut sebagai cinta. Baginya, cinta adalah buku-buku fiksinya.

“Kau ada acara malam ini?” tanya Sunggyu, membuyarkan pikiran Taeyeon.

Ia menatap Sunggyu, “Sepertinya tidak. Ada apa?”

“Pergi denganku. Bagaimana?”

Ia tersenyum, “Beritahu aku kemana kau akan membawaku, dan kukatakan keputusanku setelahnya.”

“Kau benar-benar tidak bisa membuatku menyiapkan sesuatu yang spesial untukmu kalau kau terus bertanya seperti itu.” komentar Sunggyu.

Senyumnya mengembang, “Aku harus tahu kemana kau akan menculikku.”

Sunggyu menghela napasnya, “Baiklah. Katakan padaku, kemana kau ingin aku menculikmu.”

“Toko buku,” jawab Taeyeon cepat.

“Kalau seperti itu kau tidak harus bertanya kemana kita akan pergi.” Ucap Sunggyu pasrah, “Jadi, kau ikut atau tidak?”

“Oh, aku akan dengan senang hati menemanimu malam ini.”

***

Taeyeon mempersiapkan dirinya satu jam sebelum Sunggyu datang menjemputnya. Dengan setelan sederhana, ia tetap menampilkan kecantikannya. Setelah siap dengan penampilan, ia melangkah meraih jaket dan tas genggamnya, lalu menunggu Sunggyu di halaman rumahnya.

Tak perlu waktu lama untuk menunggu, Sunggyu datang dengan cepat dan selalu siap untuk menikmati malam mereka. Tidak seperti kebanyakan pasangan, Sunggyu dan Taeyeon lebih sering menghabiskan malam mereka di sebuah toko buku langganan mereka.

Sementara Taeyeon sibuk memilih buku-buku fiksi terbaru, Sunggyu akan menghabiskan waktunya dengan berubah menjadi seorang penguntit yang siap dengan berbagai komentar.

“Makan malam?” tanya Sunggyu ketika Taeyeon memasuki mobilnya.

Taeyeon memandang Sunggyu dengan senyum cerah di wajahnya, “Seperti biasa?”

Sunggyu kembali mengalihkan perhatiannya pada jalan di hadapannya, “Baiklah.”

***

“Tidak, tidak. Terlalu tua untuk di baca. Kenapa kau tidak mencoba yang itu,”

“Yang mana yang kau maksud?”

Sunggyu menggerakan tangannya, “Yang satu itu. Yang berada di deretan paling depan.”

“Astaga, Kim Sunggyu. Itu buku untuk para calon Ibu.”

Sunggyu tertawa, tawanya hampir pecah ketika ia memandang Taeyeon yang menatapnya jengkel. “Aku tidak tahu, sungguh.” Katanya.

Taeyeon mencibir, tidak ada yang lebih menyebalkan daripada seorang Kim Sunggyu ketika meledeknya. Bukan hanya itu, Kim Sunggyu yang sedang mengidam juga sangat menyebalkan. Laki-laki itu akan melakukan apapun, untuk mendapatkan sesuatu yang sedang diinginkannya.

“Apa yang mengganggu otakmu, Sunggyu-ah?”

“Sejujurnya kau tahu kalau kaulah yang membuatku semakin gila.”

“Kau bercanda,”

“Tidak, aku benar-benar serius.”

“Kalau begitu lanjutkan semaumu.”

Sunggyu tidak membalas. Taeyeon juga tidak memaksa Sunggyu untuk membalas perkataannya. Setidaknya, itulah yang terbaik untuk saat ini. Mengalah.

Keduanya beranjak pada deretan buku lainnya. Ketika Taeyeon menghentikan langkahnya, maka Sunggyu juga akan berhenti. Dan ketika Taeyeon menatapnya, maka Sunggyu akan bersuara. Seperti sebuah rutinitas keduanya.

“Bagaimana dengan yang ini?” tanya Taeyeon.

Sunggyu melakukan pengamatannya, mengamati cover buku tersebut dan perlahan mengangguk-anggukan kepalanya. “Kurasa yang ini bagus. Cocok dengan kepribadianmu yang sulit ditebak dan jenius. Bagaimana?”

Taeyeon tersenyum, “Komentarmu memang yang terbaik. Kau cocok menjadi seorang komentator.”

“Tidak bisa, lidahku kelu kalau harus mengomentari sebuah pertandingan olahraga.”

“Kalau begitu, kau bisa menjadi seseorang yang bekerja pada bidang politik. Menjadi juru bicara mungkin terdengar sedikit cocok denganmu.”

“Aku payah dalam hal politik. Pemimpin negara kita saja aku tidak ingat.”

“Coba saja, aku yakin kau cocok.”

“Lidahku tidak cocok untuk mereka,” jawab Sunggyu. “Lidahku hanya cocok untuk Kim Taeyeon.”

Taeyeon meraih buku dari tangan Sunggyu. Mengecutkan bibirnya.

“Aku ambil yang satu ini. Ayo, cepat bayar dan kita pergi makan. Aku lapar.” Katanya seraya beranjak pergi meninggalkan Sunggyu yang tersenyum puas di tempatnya.

Sunggyu tersenyum menatap punggu Taeyeon yang mulai mejauh. Perlahan di gerakannya satu-demi-satu kakinya, sampai akhirnya kakinya kembali berhenti. Kepalanya berputar, menatap deretan buku yang ada di sekitarnya. Dan tanpa sadar, senyuman itu semakin cerah di wajahnya.

***

“Kau termaksud salah satu laki-laki yang paling lambat yang pernah ku kenal.” Cibir Taeyeon.

“Benarkah?”

“Tentu saja.”

“Kalau begitu kau pasti menyukaiku.”

“Kenapa kau yakin sekali?”

“Karena aku yang menunggumu paling lama dan aku juga yang paling lambat untuk memilikimu.”

Taeyeon terhenyak, “Aku tidak mengerti.”

“Suatu saat kau pasti mengerti.”

Tidak ada jawaban lagi setelahnya. Keduanya hanyut dalam suasana makan malam. Hanya di sebuah cafe–yang dipenuhi pasangan-pasangan lainnya–mereka dapat merasakan arti sebuah kebersamaan. Walaupun, Sunggyu tidak sepenuhnya yakin dengan Taeyeon. Ia sedikit ragu kalau Taeyeon juga merasakan arti sebuah kebersamaan itu.

Setengah tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menahan perasaannya. Dan setengah tahun juga bukanlah waktu yang singkat untuk berpura-pura sabar ketika ia tahu ia tidak bisa menahan semuanya. Banyak yang diinginkannya, tapi banyak juga yang harus ditunggunya.

Taeyeon mungkin memiliki cintanya dari buku-bukunya. Tapi Sunggyu, laki-laki itu memiliki cintanya dari Taeyeon. Dan mengetahui kenyataan bahwa Taeyeon masih belum bisa menerimanya adalah sebuah kepedihan. Dan ia tidak bisa memarahi Taeyeon akan kepedihan itu, yang ia bisa hanya menerimanya dan menunggu sesuatu yang lebih indah.

“Banyak hal yang tidak kutahu.” Sahut Taeyeon tiba-tiba.

Sunggyu tersenyum, “Berikan aku contohnya.”

“Perasaanku.”

“Tunggu,” Sunggyu menyela. “Jangan katakan padaku kalau kau akan mengatakan sebuah pernyataan cinta padaku. Astaga, Kim Taeyeon–”

“Sayangnya tidak Tuan Kim,” potong Taeyeon. “Aku bilang aku tidak tahu perasaanku.”

“Sayang sekali,” ucap Sunggyu, memperlihatkan kekecewaannya. “Kukira aku bisa mendapat kepastian.”

Taeyeon membeku lagi, Sunggyu tahu itu. Ia tahu semua hal yang dapat membuat Taeyeon membeku dalam satu kata ataupun kalimat. Hanya saja ia tidak ingin menghentikan aksinya itu. Sunggyu tahu hal itu menimbulkan kepedihan pada Taeyeon, tapi ia hanya ingin memberitahu Taeyeon. Bahwa sebenarnya, Kepedihan itu dimiliki keduanya.

“Pasti akan ada waktunya,” ujar Sunggyu lembut. “Aku hanya perlu menunggu, bukan?”

***

Taeyeon mengalihkan perhatiannya ketika mendengar sebuah suara dari arah ponselnya. Ia mengeceknya. Satu pesan masuk terpampang di layar ponselnya, dari Sunggyu.

Aku tidak yakin kau sudah melihatnya. Coba cek tas belanjamu dan baca buku yang kupilihkan untukmu.

Ia mengerjap sejenak. Ia hanya membeli satu buku, dan dapat dikatakan ia juga yang memilih buku tersebut. Ia hanya meminta pendapat Sunggyu, bukan berarti buku itu merupakan pilihan Sunggyu.

Tangannya tergerak untuk membalas pesan Sunggyu ketika salah satu otaknya bekerja lebih cepat untuk mengecek tas belanjanya dan mencari buku lain yang–mungkin saja–dimaksud Sunggyu.

Dan memang seperti itulah kenyataannya. Salah satu buku dengan cover sederhana, berdiri tegak di sebelah buku pilihannya. Taeyeon memandang buku itu. Memahami tiap-tiap kata yang terdapat pada cover buku tersebut.

Sebuah novel, pikirnya.

Romance, tambahnya.

Kanker? tanyanya.

Perhatiannya kembali teralihkan ketika sebuah pesan muncul kembali di layar ponselnya. Masih dari pengirim yang sama, ia membuka pesan tersebut.

Lusa, jam biasa, tunggu aku di bawah pohon. Kau harus menceritakan padaku isi novel itu.

Taeyeon terbelalak. Kali ini, berbagai pertanyaan membanjiri otaknya. Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan Sunggyu? Apa lelaki itu sedang memintanya untuk menjadi seorang narator? Atau lelaki sedang menguji kemampuan berbahasanya?

“Sampai sekarang pun aku masih tidak tahu apa yang dipikirkannya.”

***

Taeyeon tersenyum di bawah pohon besarnya. Ditatapnya buku yang dipilihkan Sunggyu padanya. Bisa dikatakan ia terharu, atau mungkin sedih? Entahlah. Hanya penjelasan yang dapat memberikan keterangan.

Sudah sepuluh menit ia menunggu Sunggyu, tapi laki-laki itu belum juga datang. Perkiraan Taeyeon mengarah pada Guru Jo. Guru yang selalu mencampur-adukkan urusan sekolah dengan bisnisnya. Apa Sunggyu terjebak Guru Jo lagi?

Tapi sepertinya tidak karena setelah pikiran itu Taeyeon bisa melihat senyum cerah Sunggyu. Laki-laki itu berjalan mendekat. Taeyeon dapat berpikir adanya kabar baik dari senyum cerah Sunggyu. Namun, saat ini, yang menempel di otaknya hanya satu, cerita mengenai buku yang dipilihkan laki-laki yang menyukai dirinya. Laki-laki yang masih menunggunya.

“Bagaimana hasilnya?” tanya Sunggyu ketika berhasil meraih jarak minimalnya dengan Taeyeon.

Taeyeon tersenyum puas, “Mengagumkan, menakjubkan, dan tidak terduga. Aku tidak bisa menebaknya akhirnya, penulisnya benar-benar hebat.”

“Benarkah?”

“Kau tahu. Aku hampir mengutuk diriku yang menangis ketika membaca buku ini, benar-benar mengagumkan. Dan bagaimana bisa mereka menganggap hubungan mereka sebagai hadiah kecil dari penyakit kanker?”

“Astaga. Apa seleraku benar-benar mempengaruhimu saat ini?”

“Sepertinya iya. Astaga, bagaimana ini. Ada banyak hal yang harus kau ketahui, Sunggyu-ah.”

“Kau tahu,” kata Sunggyu pelan, “Kau punya banyak waktu untuk mengatakan semuanya padaku karena aku akan dengan senang hati menunggu di sini.”

“Jangan katakan.”

“Katakan apa?”

“Perasaanmu.”

Sunggyu mengangkat alis matanya, keningnya berkerut. “Kenapa?”

“Karena itu menyakitiku.”

Perlahan kerutannya tergantikan dengan senyumnya, “Maaf.”

Taeyeon tersenyum, “Kau mengatakan maaf, tapi wajahmu baru saja meledekku.”

“Kalau begitu kukatakan maaf lagi,”

“Aku menolak maafmu.”

Sunggyu menarik napasnya. “Aku yakin kau tahu kalau itu menyakitiku.”

“Aku juga yang membuat luka pedih di hatimu, bukan?”

“Itu memang luka. Tapi tidak pedih,” elah Sunggyu.

“Kalau begitu aku tidak harus mengatakan maaf?”

“Memang tidak. Aku tidak pernah meminta kata maaf darimu,” jawab Sunggyu. “Aku yang menunggumu, aku yang memilih semua ini, jadi biarkan aku yang menanggung luka yang tidak pedih ini.”

Taeyeon membeku. Tapi untuk kali ini, ia tersenyum. Gadis itu masih menunjukkan reaksinya.

“Kim Sunggyu.” Panggil Taeyeon.

“Apa?”

“Terima kasih karena sudah menungguku.”

“Bukan masalah.”

“Dan maaf karena kau masih harus menunggu.”

Sunggyu tersentak, senyumnya hampir menghilang. “Kenapa?”

“Karena,” ujar Taeyeon. “Hatiku masih belum memilih.”

“Tunggu saja.”

Taeyeon kembali tersenyum, ia tahu Sunggyu dapat memahami dirinya.

“Mereka bilang, kepedihan menuntut untuk dirasakan. Dan kukatakan padamu, aku yang membuatmu merasakan kepedihan. Jadi, biarkan aku menata diriku, perasaanku, dan semua sikapku yang sempat membuatmu merasa terluka, pedih, sakit, atau apapun. Kau hanya perlu menungguku lebih lama.”

“Kau tidak harus menghapus pedihnya. Kepedihan memang menuntut untuk dirasakan, dan aku percaya ada kalanya aku mendapatkan kebahagiaan dan melupakan kepedihan–”

“Tapi aku belum siap memilih.” Potong Taeyeon, “Hatiku belum siap memilih. Jadi tolong, tunggu aku.”

Sunggyu tersenyum, keduanya bertatapan cukup lama.

“Aku tahu.”

One response

  1. hi!!!!! baru baca n lngsung suka banget sma ceritany. Author-nim, ini boleh bgt dong dbkinin sequel.Really, highly anticipated. Thanks for sharing.U did such a great job.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s