Happiness (Chapter 10)

Happiness.

Genre  : Romance.

Rating : NC-21

Cast     : Kim Myung Soo–Jung Eun Ji–other cast as showing.

Part 10

Eun Ji membiarkan matanya  menatap kegelapan dalam ketakutannya. Ia masih belum mau membuka matanya dan menatap laki-laki yang—menurutnya—kini sedang menatapnya lekat-lekat. Ada beberapa hal yang membuatnya merasa ragu dan takut, selain itu ia juga belum siap berhadapan kembali dengan apa yang ditinggalkannya, ia hanya tidak ingin mengecewakan orang-orang di sekitarnya. Walaupun terkadang kekecewaan akan semakin memburuk jika ia—Eun Ji—memilih untuk lari. Percuma saja ia lari, toh tempat persembunyiannya sudah berhasil ditemukan laki-laki di hadapannya.

Eun Ji mengepalkan kedua tangannya, matanya masih terpejam sementara tubuhnya mulai memutar. Perlahan ia bisa merasakan kehangatan dari tangan besar milik laki-laki di hadapannya. Selain itu, dengan jarak yang cukup dekat ia bisa merasakan napas hangat seseorang yang menyelinap ke dalam kulitnya. Menyalurkan kehangatan tetapi juga meninggalkan ketakutan.

Mata Eun Ji yang masih tertutup rapat terkadang bergerak resah, sepasang kaki yang sebelumnya berdiri tegak kini mulai bergetar. Eun Ji menekan kepalan tangannya, menciptakan bekas-bekas cakaran pada bagian telapak tangannya. Perlahan tapi pasti, Eun Ji mengangkat kepalanya dan membuka matanya. Sejenak ia terpaku dan mengerjap. Dan setelahnya, laki-laki itu bicara padanya.

“Malam yang indah. Aku merindukanmu, Eun Ji-ah.”

Eun Ji menahan perasaannya. Ia juga menahan dirinya untuk tidak bertindak semaunya. Ia berada di sini bukan untuk menyalurkan emosi atau membuat masalah, ia di sini untuk berlibur. Dan kalau laki-laki itu berada di tempat yang sama dengan Eun Ji untuk mengacaukannya, maka ia tahu ia harus menahan dirinya. Yang harus ia lakukan hanya menahan diri—seperti yang ia lakukan pada Myung Soo.

Eun Ji tertawa masam, pandangannya beralih pada sepasang tangan yang menggenggam pergelangan tangannya erat. Ia tersenyum sesaat kemudian berkata, “Kau datang ke tempat ini untuk mencariku dan mengatakan hal itu?”

Laki-laki di hadapannya mengendus, membiarkan napasnya menyapu lembut kulit Eun Ji, “Apa aku boleh bersenang-senang denganmu?” tanyanya dengan seringainya.

Seperti memutar ulang sebuah memori, Eun Ji bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Kaki yang terasa lemas membuatnya berpikir betapa lemahnya ia. Eun Ji menatap laki-laki di hadapannya. Wajahnya menunjukkan keseriusan, tak ada sering, tak ada senyum, tak ada tatapan lembut. Tatapannya bagai serigala yang menatap tajam mangsanya.

“Kalau kau berpikir untuk bersenang-senang denganku,” katanya tegas, “Pulanglah. Aku tidak tertarik untuk bersenag-senang denganmu, Kyung Won–sshi.

Eun Ji menarik tangannya, melepaskan dirinya dari geggaman Kyung Won, kemudian membiarkan kakinya bergerak mengambil jarak. Sementara laki-laki itu masih menatapnya, Eun Ji perlahan menjauh. Ditinggalkannya Kyung Won yang berdiri mematung dengan pikirannya sendiri. Yang terpikirkan oleh Eun Ji hanya satu; kembali ke penginapan dan tidur.

Karena sejujurnya ia takut. Gadis itu ketakutan. Ia takut kalau harus berurusan dengan Kyung Won dan menjadi korban laki-laki itu lagi. Untuk beberapa saat ia berharap ia tidak menikmati malam sendirian, ia berharap seseorang melihatnya dan menemaninya sampai penginapan.

Eun Ji menyentuh wajahnya. Ia gunakan telapak tangannya untuk menghapus beberapa tetes air mata yang sempat keluar dari matanya. Kemudian Eun Ji menghentikan gerakan tangannya, menempelkan kedua tangannya di setiap sisi pipinya dan membagi sisa-sisa kehangatan pada wajahnya.

Sejenak ia berhenti melangkah, tubuhnya berputar dan mengamati lingkungan sekitarnya. Tidak ada siapapun, pikirnya. Eun Ji mempertajam penglihatannya, memperhatikan tempat yang sebelumnya ia lewati. Semakin gelap dan semakin sepi, pikirnya lagi. Eun Ji tidak akan merasa takut kalau saja ia tidak bertemu Kyung Won sebelumnya. Karena menurutnya, melihat Kyung Won sama saja seperti memasuki tempat gelap yang tidak berpenghuni—tidak akan ada yang menolongmu dari Kyung Won sampai laki-laki itu merasa puas.

Eun Ji menarik napasnya dan membuangnya dalam satu hembusan. Gadis itu berusaha meyakinkan dirinya dan kembali berjalan. Kali ini lebih cepat, matanya pun terfokuskan pada jalan di depannya. Ia mengabaikan pemandangan malam pedesaan demi keselamatannya.

Dan ketika matanya menangkap cahaya dari sebuah mobil di belakangnya, Ia mempercepat langkahnya. Bahkan bisa dikatakan ia berlari sejenak untuk sekedar mendapat penerangan. Hanya sejenak, karena setelahnya ia kembali pada sikap semula; cepat tapi tidak terlalu cepat dan terfokuskan.

Eun Ji mengambil jalan yang sama dengan yang ia lalui sebelumnya. Awalnya ia tidak akan berpikir kalau ia mengambil jalan yang salah sampai sebuah mobil yang ia temui sebelumnya berada tepat di hadapannya. Mobil itu terparkir di tepi jalan. Eun Ji menghentikan langkahnya, kembali memperhatikan sekelilingnya.

“Aneh,” gumamnya pelan. “Kupikir tidak ada yang tinggal di sekitar sini,”

Gadis itu memilih untuk mencuri pandangan. Ia menatap ke dalam mobil dan mengetuk jendelanya perlahan. Tidak ada balasan, pikirnya. Mungkin pemiliknya sengaja meninggalkan mobilnya di sini.

Setelah mengambil kesimpulan, Eun Ji memilih untuk pergi. Baru saja ia bermaksud menggerakkan kakinya ketika sebuah tangan kembali menariknya. Kali ini bukan untuk sebuah sekapan atau pelukan dari belakang. Melainkan untuk sesuatu yang lebih kasar dan tidak pantas.

Eun Ji bisa merasakan punggunggnya yang menempel pada pintu mobil. Belum sempat ia membantah, seseorang berhasil membungkan mulutnya. Eun Ji teringat ketika dirinya dipaksa menerima ciuman dari seorang laki-laki karena perbuatan gilanya. Tapi kali ini, entah atas dasar kesalahan apa, iaa harus menerima ciuman gila Kyung Won.

Dengan posisi yang diberikan Kyung Won, Eun Ji harus merasa terjepit. Ia harus merasakan dinginnya pintu mobil yang menjadi sandarannya. Selain itu, Kyung Won juga menahan salah satu tangan Eun Ji, membuat gadis itu harus menggerakkan kepalanya untuk menolak tindakan Kyung Won.  Dan dengan satu gerakan, Eun Ji bisa dua hal yang berbeda; tangannya terasa bebas namun kepalanya harus menerima ciuman Kyung Won yang semakin liar.

Eun Ji bisa merasakan tangan Kyung Won yang menekan kepalanya, memaksa Eun Ji menekan ciuman mereka. Tidak ada yang bisa dilakukan Eun Ji selain menahan ciuman itu dengan kedua tangannya yang bebas. Dengan kekuatan yang seadanya, Eun Ji berusaha mendorong Kyung Won sekuat yang ia bisa.

Dalam ciumannya, Eun Ji menahan dirinya untuk bersuara. Ia tidak ingin terlihat seperti seorang wanita yang sedang menggoda laki-laki di hadapannya dengan desahan ataupun kata-kata yang terdengar menggoda. Yang bekerja hanyalah kedua tangannya, dan yang dilakukan kedua tangannya hanyalah mendorong dan mendorong Kyung Won agar menjauh dari dirinya.

Terkadang Eun Ji memanfaatkan kakinya yang bebas. Ia menggerakkan kakinya dan menciptakan keributan di bawah sana. Tak jarang ia menginjak kaki Kyung Won dan menendang tulang kering laki-laki itu. Tapi tetap saja, kekuatan bertahan Kyung Won jauh lebih kuat dibandingkan dirinya.

Eun Ji mengerang. Kali ini kakinya bergerak lebih aktif dan bebas, tangannya juga terus ia gunakan untuk mendorong tubuh Kyung Won. Dan ketika dalam satu sentakan—yang bersamaan—Kyung Won berhasil lepas dari tubuhnya, Eun Ji langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk mengisi paru-parunya dan mengumpulkan kesadarannya.

Selagi Kyung Won mengumpulkan udaranya, Eun Ji merapatkan jaketnya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ketika ia yakin ia sudah sadar, Eun Ji menatap Kyung Won tajam. Amarah yang tertahan terlihat dalam tatapan tajamnnya, sementara yang ditatap masih berusaha mengisi kembali paru-parunya.

“Kau gila Kyung Won!” pekik Eun Ji kesal.

Mengatakan sesuatu yang cukup kasar membuat Eun Ji semakin harus waspada. Kyung Won bisa saja menyerangnya lagi, bahkan lebih dari yang sebelumnya. Dan ketika laki-laki itu mengangkat kepalanya, Eun Ji bisa merasakan kakinya yang melemas.

Laki-laki itu tertawa, tersenyum sinis, tapi juga menatap Eun Ji tajam. Terdapat beberapa sisa air di wajah Kyung Won, entah itu sisa saliva keduanya atau keringat laki-laki itu sendiri. Tapi kalau air itu memang sisa saliva keduanya, maka Kyung Won benar-benar sudah gila. Bahkan sangat.

“Tidak cukup buruk,” katanya ringan, “Setidaknya aku bisa bersenang-senang denganmu.”

“Kau gila!” ulang Eun Ji, lebih keras dan tegas.

Eun Ji mengalihkan pandangannya. Menatap jalan di depannya dan mulai menimbang-imbang sesuatu. Ia harus pergi, dan satu-satunya cara untuk pergi dari Kyung Won adalah melarikan diri. Tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukan Kyung Won padanya. Ia juga tidak tahu apa Kyung Won akan mengejar dan menangkapnya jika ia lari. Tapi tetap saja, ia harus mencoba untuk lari.

“Mencari pertolongan?” ujar Kyung Won tiba-tiba, “Atau mencari jalan keluar?”

Eun Ji mengalihkan pandangannya mendengar pertanyaan Kyung Won yang kedua. Sebelumnya ia tidak pernah tahu kalau Kyung Won dapat menebak pikirannya dengan sangat tepat. Bahkan ketika keduanya masih berhubungan pun, Eun Ji tidak sedikitpun merasakan kesamaan antar keduanya.

“Mengamati suasana dan mancari waktu yang tepat untuk kembali ke penginapan,” jawab Eun Ji tegas, “Kupikir kau sudah puas dengan segala imajinasimu, tapi sepertinya kau selalu kehausan.”

“Aku memang haus saat ini,”

Satu kalimat tersebut berhasil membuat Eun Ji mematung di tempatnya. Entah apa yang akan terjadi pada dirinya kalau ia tidak segera lari dan pergi dari jangkauan Kyung Won. Tapi tatapan mata Kyung Won seakan menguncinya, seakan menyuruhnya untuk menunggu kelanjutan cerita keduanya.

Kyung Won tersenyum sinis, perlahan melangkah mendekat seraya bergumam, “Tapi mungkin tidak di sini,”

“Astaga,” teriak Eun Ji. Lagi-lagi terkejut dengan tindakan Kyung Won yang tiba-tiba dan tidak menentu.

Kalau sebelumnya laki-laki itu memeluknya dari belakang, kemudian menciumnya paksa. Maka saat ini, Kyung Won sedang menggenggam tangannya dan menariknya ke arah pintu mobilnya. Eun Ji mengerang ketika Kyung Won mendorong keras pundaknya dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Ia tidak bisa menolak ataupun lari karena detik berikutnya Kyung Won sudah berhasil menutup pintu mobilnya dan beralih duduk di kursi kemudi.

Untuk yang kesekian kalinya, Eun Ji kembali merasa takut. Keduanya kini berada di dalam mobil. Duduk bersebelahan, tanpa pembatas dan diluar pengawasan. Berbagai firasat buruk perlahan menyelinap ke dalam benak Eun Ji. Mungkinkah Kyung Won bermaksud menghabisinya di mobil? Tapi keduanya bahkan tidak pernah mencoba untuk melakukannya di mobil. Lagipula, Eun Ji menolak untuk melakukan hal itu dengan Kyung Won, dan bagaimanapun caranya Eun Ji akan berusaha menolaknya. Jadi, sebenarnya apa yang dipikirkan laki-laki itu?

Eun Ji memutar kepalanya ketika ia mendengar suara mesin. Ia menoleh ketika Kyung Won menyalakan mobil tanpa memandang ataupun mengatakan sesuatu. Dan tanpa keterangan yang jelas juga, Kyung Won menjalankan mobilnya.

Wajah laki-laki itu ketika mengemudi tidak semenakutkan sebelumnya. Seringainya juga sudah tidak terlihat. Hanya tertinggal tatapan tajam dan senyum sinis pada dirinya sendirilah yang masih membuat Eun Ji merasa cemas. Tapi setidaknya cara menyetir Kyung Won masih sama, cepat dan lembut. Astaga, bagaimana bisa Eun Ji memikirkan hal-hal positif dari laki-laki kejam itu?

“Kemana kau membawaku?” tanya Eun Ji, nada suaranya masih terdengar tegas.

Kyung Won mendengus, “Kau akan tahu.” Katanya tanpa mengalihkan pandangan.

“Jangan gila, Kyung Won–ssi.”

“Oh aku memang sudah gila,” katanya santai.

Cih,” Eun Ji membuang napasnya, “Hentikan mobilnya, Kyung Won–ssi.”

Kyung Won kembali mendengus. Pandangannya masih terfokuskan pada jalan di depannya. Laki-laki itu tidak berniat untuk memenuhi permintaan Eun Ji. Yang dilakukannya hanya memandang lurus tanpa bersuara ataupun tersenyum. Kali ini wajahnya datar, benar-benar datar.

“Ku bilang hentikan mobilnya!” teriak Eun Ji, sontak membuat Kyung Won menghentikan mobilnya dan menatap Eun Ji tajam.

“Lima menit lagi,” ujarnya perlahan, “Kau bisa turun dari mobil ini lima menit lagi.” tambahnya seraya kembali mengemudikan mobilnya.

***

 

Sebuah kunci yang tergantung di sebuah pintu berputar dalam satu gerakan. Kemudian semuanya kembali sunyi dan sepi. Tak ada suara pintu yang dibuka ataupun wajah seseorang yang muncul dari pintu yang baru saja tidak dikunci.

Myung Soo melangkah menjauh dari pintu. Menjatuhkan dirinya di atas sofa dan menyenderkan punggungnya di sana. Terlalu banyak pikiran dan kini ia harus berpikir bagaimana mengungkapkan semua pikirannya itu pada Eun Ji. Omong-omong, ia masih harus menunggu waktu untuk bertemu gadis itu.

Jam dindingnya menunjukkan pukul 11malam ketika–secara tiba-tiba –ponsel laki-laki itu berbunyi. Myung Soo meraih ponsel yang tergeletak bebas itu dan mengeceknya. Tidak ada pesan ataupun panggilan, hanya dering alarm yang berusaha untuk mengingatkan laki-laki itu terhadap sesuatu.

Myung Soo membuang napasnya, kemudian ia meletakkan kembali ponselnya asal dan beranjak dari sofa. Raut wajah yang sebelumnya tidak menentu kini jelas menunjukkan kekhawatiran. Laki-laki itu kemudian memilih untuk berputar mengelilingi rumahnya untuk mengurangi kecemasannya. Terkadang, ia memukulkan salah satu tangannya ke kepalanya dan menggerutu kesal, merasa kecewa pada diri sendiri.

Keadaannya semakin buruk ketika ponselnya kembali berdering, mengingatkannya mengenai lima menit yang berlalu tanpa tanda-tanda. Myung Soo menghela napasnya, tanpa sadar mengepalkan tangannya dan pergi dari ruang tengahnya. Ia butuh ketenangan untuk berpikir, dan–entah benar atau tidak—ia memilih untuk keluar.

***

Eun Ji menatap Kyung Won tajam, matanya tak lepas dari wajah laki-laki itu ketika mobil yang ditumpangi keduanya berhenti tepat di sebuah perkarangan. Kyung Won juga balas menatapnya, tapi tidak setajam yang sebelumnya dan tidak semenakutkan yang sebelumnya. Laki-laki belum melakukan hal apapun, ia hanya menatap Eun Ji—dengan tatapan meledek.

Kemudian, seakan mendapat sengatan, keduanya mengalihkan perhatiannya. Kyung Won perlahan membuka pintu mobilnya dan berjalan keluar. Laki-laki itu tidak pergi begitu saja, ia beralih membukakan pintu untuk Eun Ji dan menyuruh gadis itu keluar dari mobilnya.

Sejenak Eun Ji menatap Kyung Won. Ia tidak bisa menerima begitu saja perintah Kyung Won, walaupun—sebenarnya—ia juga tidak bisa menolak. Karena bagaimanapun, ia tidak tahu letak keberadaan dan nasibnya nanti. Dan dengan terpaksa, ia melangkah keluar dari mobil.

“Lima menit di dalam mobil,” ujar Kyung Won, “Aku menepati perkataanku.”

Eun Ji mendengus, matanya kembali menatap Kyung Won tajam. Tapi mulutnya tak bersuara. Mulutnya terlalu sibuk untuk sekedar merespon omong kosong Kyung Won. Sesungguhnya, ia bahkan sudah bisa menebak kalau Kyung Won akan menculiknya dan memanfaatkannya lagi.

“Cepat masuk.” Kata Kyung Won, suaranya kembali terdengar tegas.

“Tidak.” Tolak Eun Ji cepat, responnya kali ini lebih cepat dari yang diperkirakan, “Aku akan kembali ke penginapanku, jadi aku tidak akan masuk.”

“Jangan macam-macam, kau bahkan tidak tahu ini dimana–”

“Bukan masalah,” potong Eun Ji, “Aku masih ingat dengan jalan yang kau tempuh tadi.”

Kyung Won tertawa kecil, kemudian menatap Eun Ji tajam. “Kau bercanda Eun Ji-ah,” Katanya, “Jaraknya bahkan bisa mencapai lebih dari 5kilometer, kau pikir otakmu itu benar-benar cerdas?”

“Mungkin tidak, tapi mungkin juga iya. Kau tidak perlu tahu.”

Eun Ji menatap tatapan tajam Kyung Won. Keduanya berada dalam posisi yang sama untuk beberapa detik, sampai akhirnya gadis itu melangkah mundur perlahan. Langkahnya benar-benar pelan dan hati-hati, seakan-akan tidak mau memberi tanda kalau ia sudah siap untuk lari. Ia melangkah sampai kiranya berhasil membuat jarak yang cukup jauh antar dirinya dan Kyung Won. Kemudian menatap laki-laki itu dan brof! Ia membalikkan badannya dan berlari.

***

Myung Soo memutar badannya. Kembali melangkah melewati jalan yang sebelumnya sudah ia lewati. Perasaan gelisan masih menyelimutinya, dan ia merasa semakin buruk kalau harus menghabiskan waktu dengan berjalan. Sesungguhnya, yang harus ia lakukan sedaritadi adalah menunggu. Menunggu selama yang ia bisa.

Kakinya melangkah sedikit lebih cepat dari yang sebelumnya, saling balap-membalap untuk menciptakan perpindahan. Terkadang salah satu kakinya menendang batu-batu kecil yang tersebar di jalan, atau bahkan melompat untuk menghindari lubang-lubang yang—sepertinya—belum diperbaiki warga sekitar.

Tak perlu waktu lama bagi Myung Soo untuk mencapai rumahnya. Sebenarnya rumah itu bukan sepenuhnya miliknya, ia hanya menyewa rumah kecil dengan peralatan sederhana untuk tinggal beberapa hari di daerah pedalaman. Ia butuh waktu untuk berpikir dan mengumpulkan konsentrasinya, dan dengan sepengetahuannya juga, ia butuh waktu dengan gadisnya.

Myung Soo meraih knop pintunya, mencoba mendorong kemudian tersadar kalau pintunya terkunci. Ketika pergi tadi, ia memang mengunci pintunya. Ia sengaja melakukannya, dengan harapan ketika ia kembali seseorang sudah berada di dalam rumahnya dan menunggunya. Tapi mengingat pintu yang terkunci, sepertinya harapan Myung Soo masih bernilai kosong.

Suara kunci yang berputar membuat Myung Soo menghela napas. Ia mendorong pintunya, lalu beralih masuk ke dalam dan mengunci pintunya dari dalam. Matanya menyapu keadaan rumahnya yang masih sama—sepi dengan barang-barang sederhana yang tertata rapi.

Tapi tidak sampai sebuah suara mengalihkan perhatiannya.

Myung Soo mempertajam pendengarannya. Kakinya perlahan melangkah tanpa meninggalkan suara, sementara matanya tertuju pada pintu yang berada sekitar beberapa meter dari tempatnya berdiri.  Bahkan, alih-alih bernapas, ia memilih untuk menahan napasnya hanya untuk sekedar mengurangi jejak keberadaannya.

Dan ketika ia berada tepat di depan pintu itu, telinganya dapat menangkap suara langkah kaki yang bergerak tak teratur. Myung Soo juga bisa mendengar satu demi satu napas yang dihembuskan, baik yang secara perlahan maupun kasar.

“—Keluarkan aku dari sini atau aku akan membunuhmu, bodoh—”

Myung Soo tertawa tanpa bersuara di tempatnya, pandangannya perlahan melembut. Ia tahu jelas pemilik suara yang kini berada di dalam kamar tempatnya menginap. Hidungnya juga perlahan bisa menangkap bau khas dari gadis yang membuatnya kehilangan konsentrasi.

“—Percuma saja kau mengurung-ku di sini, aku tidak akan melakukan apapun yang kau katakan!—”

Perlahan, tangannya bergerak  mendekati knop pintu. Sementara gadis yang terkurung terus meneriakkan hal-hal buruk, Myung Soo menghela napasnya. Dengan kesadaran yang penuh ia menyakinkan dirinya akan pilihannya. Kemudian ia menarik knop pintu dan mendorongnya dengan satu hentakan lembut, membuat gadis itu mengeluarkan reaksi yang lambat.

Gadis itu berbalik dalam hitungan ke lima. Matanya terbelalak sedangkan mulutnya tak bicara. Hilang sudah keberanian yang sebelumnya ditunjukkan gadis itu. Wajahnya jelas menunjukkan keterkejutan yang tidak pasti. Entah itu untuk sebuah kebahagiaan atau kesedihan.

Myung Soo melepas pegangannya pada knop pintu. Mengambil langkah pertamanya tanpa suara dengan wajahnya datar tanpa ekspresi. Meskipun begitu, siapapun yang mengerti cerita keduanya pasti menebak kalau naluri laki-laki itu menyuruhnya untuk memeluk gadisnya. Tapi yang terjadi, keduanya hanya berbicara melalui tatapan mata.

Sebenarnya Myung Soo bisa saja langsung menyudutkan gadis itu ke dinding dan memangsa bibir gadis itu, seperti ciuman kasarnya yang selalu berakhir dengan tangisan gadis itu. Namun kali ini berbeda. Ia lebih memilih untuk memulai semuanya dengan wajar dan lembut, tidak terburu-buru dan kasar.

Myung Soo melanjutkan langkahnya lebar, tatapannya yang tajam tapi lembut tertuju mata sepasang mata di depannya yang juga menatapnya. Kemudian ia berhenti tepat pada langkah ke-duanya. Mengalihkan pandangannya sekaligus menghela napasnya, berniat untuk memecah kesunyian ketika gadis di depannya—ternyata—melakukannya lebih dulu.

Sederhana saja. Gadis itu jelas menyebut namanya satu kali dengan wajah yang sama—tidak percaya dan terkejut. Myung Soo tersenyum. Sudah jelas kalau ia merindukan suara gadis itu serta cara gadis itu menyebut namanya. Hanya saja ia berusaha untuk mengontrol dirinya, ia tidak mau membuat kesalahan kecil yang dapat berubah menjadi sebuah kesalahan fatal—yang membuatnya kehilangan satu-satunya kesempatan untuk bicara dengan gadisnya.

Myung Soo menatap gadis di hadapannya. Ia tersenyum lembut. Tapi entah karena apa, gadis di hadapannya justru terlihat ketakutan. Gadis itu menutup mulutnya dengan telapak tangannya, menatap Myung Soo terbelalak tanpa menyebut kata lain selain namanya.

Berada dalam posisi yang sama sepertinya memang bukan tipe seorang Jung Eun Ji. Karena detik berikutnya, telinga Myung Soo menangkap kata-kata lain dari gadis itu. Kata-kata yang disusun menjadi kalimat sederhana—dan sangat umum digunakan—tapi bagi Myung Soo, kalimat itu memiliki arti lain.

Yang membuatnya—sedikit—merasa kecewa.

***

 

“Kenapa kau bisa berada di sini?”

Ia mematung di tempatnya. Banyak hal yang tidak ia mengerti. Keberadaannya, keberadaan Kyung Won yang datang untuk memanfaatkannya lagi, lalu keberadaan laki-laki lain yang kini berada di hadapannya. Sebelum bicara ia yakin ia sudah memikirkan semuanya, tapi saat ini hasil kerja otaknya seperti membuyar. Tepatnya membuyar sebelum terucap jelas dengan suaranya.

Eun Ji mengambil napas sejenak. Hilang sudah keberaniannya dalam menantang Kyung Won. Kata-kata kasar yang sebelumnya terdengar kini seperti memendam dan tak bisa terucap. Bahkan untuk mengalihkan tatapan dari mata lembut itu, ia harus menyiapkan mental kuat dan keyakinannya.

Ia ingin lari, sungguh. Setidaknya ia ingin mencoba lari seperti sebelumnya. Namun, yang dilakukannya kali ini—tidak lain dan tidak bukan—menunjukkan wajah terburuknya. Dalam hati, ia mengutuk dirinya. Ia mengutuk dirinya yang melemas dan terjatuh pada detik selanjutnya.

Myung Soo menolongnya, tentu saja. Bagaimana bisa laki-laki itu diam? Tentu saja ia khawatir. Eun Ji bisa menebak pikiran Myung Soo dari raut wajahnya. Ia bahkan bisa menebak apa yang sedang ditahan Myung Soo hanya dengan menatapnya saksama. Caranya menelan sallivanya sendiri dan caranya berjalan dengan langkah lebar tapi perlahan, juga dengan tangannya yang disembunyikan di kedua saku celananya. Eun Ji bisa merasakannya.

Pertama, laki-laki itu menahan perasaannya. Ia melakukannya. Sama seperti yang dilakukan Eun Ji saat ini.

Kedua, laki-laki itu berusaha untuk bersikap yang sewajarnya. Tidak gusar, tidak ceroboh, tapi juga tidak mengecewakan dirinya sendiri atas apa yang ditemuinya. Sama seperti yang dipertahankan Eun Ji, tapi—sayangnya—gadis itu gagal. Eun Ji terlalu terkejut, sampai ia tidak bisa menguasai ekspresi dan kalimat yang keluar dari mulutnya.

Dan yang terakhir, laki-laki itu menahan kuat jiwa kejantanannya. Ia menahan dirinya untuk tidak langsung menyentuh ataupun melakukan kontak fisik dengan Eun Ji. Benar-benar sama seperti yang dirasakan Eun Ji.

Keduanya kembali berhadapan pada tatapan yang bermakna dengan posisi yang berbeda. Myung Soo yang berjongkok dan mendongak, dan Eun Ji yang terduduk di tepi kasur dengan Myung Soo yang berada—kurang lebih—12inchi tepat di hadapannya.

Eun Ji masih belum menerima jawaban dari Myung Soo. Pertanyaannya seperti terabaikan dan Eun Ji menyadari dirinya yang—seperti—terhipnotis dengan menatap mata Myung Soo. Ia bahkan tidak sadar kalau dirinya berada di dalam kamar. Berdua dan tanpa suara.

Sejujurnya, ia tidak mau terbawa ke hal negatif yang sama. Jadi, ketika matanya berhasil teralih, Eun Ji langsung memecah keheningan tersebut dengan pertanyaan yang sama.

“Menemuimu, bicara denganmu, menyelesaikan semuanya, memulai sesuatu yang baru.”

Myung Soo menjawab pertanyaannya. Eun Ji berpikir kalau jawaban Myung Soo merupakan jawaban yang sempurna. Sangat sempurna sampai ia tidak bisa mengelak ataupun mengatakan satu kata.

“Apa yang kau pikirkan?”

Eun Ji mengalihkan tatapannya lagi. Mata keduanya bertemu sejenak. Tidak sampai lima detik, Eun Ji lagi-lah yang mengalihkan tatapannya.

“Di mana Kyung Won?” tanyanya mengalihkan pertanyaan Myung Soo.

“Pergi.”

Sepertinya keduanya memang tidak bisa untuk tidak saling memandang. Untuk yang kesekian kalinya, Eun Ji kembali mengalihkan tatapannya pada Myung Soo. Hanya menatap, tidak bicara.

“Jangan pernah berpikir untuk mencarinya.”

Kalimat itu seperti ancaman di telinga Eun Ji. Tapi justru terdengar seperti sebuah perlindungan di dalam hatinya. Ia bahkan tidak pernah tahu kalau telinga dan hatinya bisa mendengar sesuatu yang sama, tetapi bermakna tidak sama.

“Kau yang menyuruhnya membawaku ke sini, bukan?”

Entah apa yang sedang mengganggu pikirannya sampai otak dan mulutnya bekerja sama untuk mengatakan kalimat itu. Sepertinya kali ini sepasang mata berhasil menguasai otaknya.

Tapi mungkin juga tebakan otaknya benar, karena Myung Soo tersenyum setelahnya.

“Memang benar,” katanya membenarkan. “Dia tidak melukaimu kan?”

“Tidak, tapi dia menciumku.”

Eun Ji terpaku sejenak. Tatapan Myung Soo berubah dingin, matanya menyipit. Ia tahu ia baru saja salah bicara.

“Hanya sebuah kecupan—”

“Maaf,” potongnya. “Sudah kukatakan padanya untuk tidak menyentuhmu.”

Eun Ji tersenyum. Ada beberapa alasan mengapa ia memilih untuk memamerkan senyumnya. Hal ini jelas berbanding terbalik dengan ekspresinya ketika Myung Soo membuka pintu kamar tempatnya dikurung.

“Lupakan saja,” katanya. “Kau bilang kau ingin bicara denganku?”

“Ya. Ada yang ingin kupastikan.”

Eun Ji menaikkan alis matanya, penasaran, “Apa?”

“Bagaimana keadaanmu?”

Eun Ji tertawa kecil. Ia tidak pernah tahu kalau Myung Soo akan menanyakan hal seperti itu dengan raut wajah yang sangat serius. Keduanya sedang berhadapan bukan? Kenapa laki-laki itu tidak bisa menebak keadaannya?

“Bagaimana menurutmu? Apa aku terlihat sakit?”

“Memang tidak.” Jawabnya, “Tapi tadi kau terjatuh.”

“Aku hanya terkejut dengan apa yang kulihat. Lagipula, aku terjatuh dengan bokong yang menempel tepat di atas kasur, Myung Soo-sshi—”

“Apa kau hamil?”

Satu tembakan berhasil menancap tepat di bagian jantungnya. Wajah humorisnya seketika menghilang, tergantikan dengan wajah yang sama beberapa menit yanglalu. Eun Ji tidak tahu apa ia harus menjawab dengan selera humornya, atau menjawab pertanyaan itu langsung pada pointnya.

“…Apa?”

Seperti skakmat, Eun Ji bisa merasakan pita suaranya yang perlahan tak mengeluarkan suara.

“Mereka bilang kau hamil. Apa kau benar-benar hamil—”

“Aku tidak.” Jawabnya memotong pertanyaan Myung Soo. “Aku tidak hamil dan aku tidak pernah bermaksud untuk memiliki anak saat ini.”

Eun Ji menyelesaikan satu kalimat yang menjadi jawabannya. Keduanya kembali bertatapan. Wajah Myung Soo terlihat dingin, matanya kembali menyipit tanpa senyum di bibirnya.

“Kau… serius?”

Eun Ji balas menatapnya, tidak tahu apakah ia harus menatap Myung Soo lebih tajam atau ia harus merasa sedih untuk Myung Soo.

“Tentu saja.”

“Kau benar-benar tidak bercanda dengan perkataanmu?”

Eun Ji mendengus, “Kalau kau bertanya apa aku bercanda dengan perkataanku, maka jawabanku adalah tidak. Dan kalau kau bertanya sesuatu mengenai kehamilan, maka aku akan menolak.”

“Tapi mereka bilang—”

“Sungguh. Sebenarnya siapa yang kau percaya?!” tanya Eun Ji, suaranya agak meninggi.

Eun Ji mengalihkan pandangannya. Dengan kesadaran penuh, ia menahan air matanya dan menahan isakannya.

“Aku hanya ingin kepastiannya—”

“Kalau begitu dengarkan ucapanku. Sudah kukatakan aku tidak sedang hamil.”

Tak ada jawaban lagi dari Myung Soo. Keduanya kembali kepada kondisi sebelumnya, tak ada suara dan tak ada yang berniat untuk memecah kesunyian. Dalam kesunyiannya, perlahan tapi pasti, Eun Ji bisa merasakan adanya genggaman di tangannya. genggaman yang semakin lama semakin erat, membuatnya tak bisa menahan air matanya.

“Sudah lewat beberapa minggu dari kejadian malam itu.” kata Myung Soo perlahan. “Kau tahu jelas apa yang terjadi dan apa yang mungkin akan terjadi.

“Malam itu diluar perkiraan. Kita melakukannya, dan kau dalam keadaan bebas. Saat itu aku tidak mengharapkan sebuah hasil. Tapi beberapa hari ke depan, tepatnya setelah kau memutuskan untuk pindah dari apartemenmu. Mungkin sebuah keturunan dapat membantu—”

“Jangan katakan,” pinta Eun Ji, “Ku mohon.”

“—Aku mencoba memikirkan setiap kemungkinan. Entah itu positif atau negatif. Kemudian aku berpikir untuk bicara denganmu tentang hal ini. Dan ketika kukatakan semuanya, kau tahu bagaimana wajahmu tadi? Mengerikan.”

Eun Ji mengumpulkan keberaniannya. Matanya beralih menatap tajam Myung Soo.

“Lalu sekarang apa?” tanyanya tegas. “Setelah kukatakan padamu yang sebenarnya. Apa yang ingin kau lakukan? Apa kau bermaksud untuk menghamiliku malam ini?”

Sebenarnya Eun Ji tidak memiliki keberanian. Hanya nalurinya sajalah yang menuntunnya untuk mengatakan hal-hal yang membuatnya bergidik ngeri.

“Seharusnya memang seperti itu,” jawab Myung Soo santai. “Tapi sepertinya kau memang tidak berharap. Tidurlah, akan ku antar kau ke penginapanmu besok.”

Usai kalimat itu, genggaman tangan Myung Soo perlahan merenggang. Laki-laki yang sebelumnya berada tepat di hadapannya kini perlahan menjauh. Keluar dari kamar dan menutup pintunya rapat, tapi tidak menguncinya.

Eun Ji melepaskan air matanya. Tangisannya pecah ketika punggung Myung Soo menghilang dari pandangannya. Ia menutup mulutnya, berusaha terisak tapi tidak bersuara dan menimbulkan kecurigaan pada Myung Soo.

Dan secara tidak langsung, sebuah pertengkaran baru saja terjadi.

***

TBC

8 responses

  1. awalnya aq kira myung soo yg meluk eun ji..
    eh trnyata kyung won..
    authir hebat bgt ngbuat aq slh prkiraan..
    kereennn..
    next art x di tunggu ok😉
    * JANGAN LAMA2 *
    ALWAYS KEEP WRITING

  2. benar- benar butuh konsentrasi penuh bacanya,,,, aku sampai harus baca 2 kali agar bisa memahami maksud dan keinginan Myung Soo -EUN ji… dan pada akhirnya tetep aja gak ngehhh,,,,, kekekekekeke
    so next past tetap ditunggu,,,

  3. Baru baca part yang ini part2 sebelumnya aku belum baca ,,commentnya pun baru pertama kali di sini ,,maklum baru ngefans sama Apink eunji baru2 ini !! Mian yaa klo belum comment di part2 sebelumnnya !!

    Next part di tunggu !!

  4. Annyeong chingu,, mian bru comment d part ini.. Hehe
    Salam kenal,,
    aq suka bgt ama ff kmu,, aplgi cast’nya MyungJi,, ^^ aq MyungJi shipper,, walo dikit moment mreka,, hehe😀
    Kta” d ff kmu,, dalem,, aq suka bgt,, hehe
    Skali lgi mian,, aq bru comment di part ini,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s