Happiness (Chapter 11)

Happiness.

Genre  : Romance.

Rating : NC-21

Cast     : Kim Myung Soo–Jung Eun Ji–other cast as showing.

latepost;-; sorry for keeping the chap:-(

Well, di chapter ini full MyungJi moment<3

Aku nunggu komentar kalian! Comment&Like are love, enjoy!

Part 11

Gadis itu menatap pintu di hadapannya. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya, yang terdengar hanya hembusan napas yang keluar seiring dengan penyesalannya. Terkadang ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, atau bahkan memukul kepalanya dengan kepal tangannya sendiri.

Eun Ji menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Berharap seseorang di luar ruangan dapat mendengar hembusan napasnya dan membukakaannya pintu. Atau mungkin membiarkannya pergi tanpa rasa sesal seperti yang kini tengah dirasakannya.

Belum sampai setengah jam, Jung Eun Ji—gadis yang tengah digosipkan berbadan dua—sudah bisa merasakan emosinya yang meluap. Ia tidak marah. Tidak juga kesal. Hanya saja ia tidak mau menerima gosip yang beberapa menit lalu didengarnya. Dan menurutnya, mendengar gosip itu keluar dari laki-laki yang—seharusnya—ia hindari, tidak lebih dari sebuah rasa sakit.

Kenapa? Entahlah. Eun Ji sendiri tidak pernah tahu alasannya. Ia merasa emosinya meluap karna ucapan laki-laki itu, tapi ia juga tidak bisa marah ataupun kesal padanya. Walaupun rasa kesal itu ada, tapi untuk saat ini, penyesalan-nyalah yang menghantui hatinya.

Eun Ji menyeret kakinya perlahan menuju pintu yang sejak tadi dipandanginya. Hatinya seperti menyuruhnya untuk menarik knop pintu dan bicara dengan lelaki itu. Tapi di sisi lain, ia merasa ragu dan malu untuk sekedar bertemu atau menatap wajah lelaki itu. Untuk sesaat ia merasa dirinya sangat lemah. Lemah untuk menghadapi masalah dan lemah dalam hal memperbaiki suatu kesalahan.

Sementara si pemilik tubuh bergerak gelisah tanpa arah, pertarungan antara hati dan mulut Eun Ji pun terus berjalan. Kedua sisi dirinya seperti menunjukkan hal terbaik dan hal terburuk yang akan terjadi dari pilihan Eun Ji.

Persetanan dengan kedua sisi dirinya, Eun Ji pun memilih untuk meraih knop pintu dan menarik pintu tersebut dalam satu sentakan. Cepat , namun tak bersuara.

***

Pintu itu terbuka, menampilkan sesosok lelaki yang tengah duduk dengan keseimbangan yang masih dipertahankannya. Rambut yang sebelumnya tertata rapi, kini berdiri tanpa aturan, membentuk barisan-barisan yang terlihat aneh.

Tapi lelaki itu tidak diam. Kedua tangan dan seluruh tubuhnya masih terus aktif bergerak. Walaupun gerakan yang dilakukannya terlihat sangat tidak logis.

Eun Ji membeku di tempatnya. Sementara mulutnya merasa bangga dan kecewa dengan keputusan yang diambil Eun Ji, hatinya seakan diam saat menatap pemandangan di hadapannya. Tak ada kata. Bahkan napas pun seperti sulit untuk sekedar dihembuskan.

Mata gadis itu menatap lekat bagian belakang kepala lelaki itu. Sementara kakinya perlahan tergerak untuk mendekat. Ditahannya air mata yang memaksa keluar tanpa perintah, kedua tangannya terasa lemas. Semuanya terjadi begitu saja, tanpa perintah ataupun kehendaknya.

Eun Ji menghentikan langkahnya tepat ketika lelaki di hadapannya menyuarakan sesuatu. Tak begitu kencang, tapi jelas terdengar seperti gerangan. Sebuah gerangan yang mampu membuat kerja saraf tubuhnya berhenti sejenak.

Kembali ia menatap bagian belakang kepala lelaki itu. matanya mengamati gerak-gerik lelaki yang sejak tadi tidak menyadari keberadaannya. Perhatiannya terpusatkan, sementara hatinya terus mencerna semua hal yang berada di hadapannya.

Di hadapannya, tampak berbagai hal buruk dan segala emosi yang bisa dirasakan. Matanya menatap sedih Myung Soo dan segala hal yang membuat lelaki itu terlihat buruk. Bahkan sama buruknya dengan kebiasaan Eun Ji dulu.

Eun Ji memejamkan matanya sejenak. Berusaha menenangkan dirinya dan mengumpulkan segala keberaniannya. Dan ketika matanya mulai terbuka, tubuh gadis itu langsung saja terjatuh.

Gadis itu menjatuhkan tubuhnya tepat di belakang Myung Soo dengan tangan yang mengalung di leher lelaki itu. Memeluknya dari belakang.

***

Myung Soo memejamkan matanya. Ia masih ingat suara lembut gadisnya ketika bernanyi, dan ia juga masih ingat suara lembut gadisnya yang menolak dan menusuk hatinya. Keduanya terdengar lembut namun memiliki rasa yang berbeda.

Hanya dalam beberapa kalimat, Myung Soo bisa merasakan dirinya yang tak terkendali. Terkadang, mulutnya tak sadar melontarkan kata-kata kasar atau bahkan hinaa. Entah apa yang membuatnya mengerluarkan kata-kata kasar, yang pasti ia tidak bermaksud—bahkan tidak sedikitpun bermaksud untuk menghina gadisnya.

Myung Soo mengubah posisi duduknya, bergerak tak karuan dan bahkan sesekali mengacak-acak rambutnya. Beribu-ribu kata yang mengganggu pikiran membuatnya mau tak mau berubah menjadi seseorang yang berkepribadian buruk. Bahkan kehadiran gadis yang dirindukannya-pun, sangat tidak membantu.

“Ahh…” desah Myung Soo tak tertahankan.

Ia kembali mengubah posisinya. Kali ini kedua telapak tangannya menutup sebagian wajahnya yang—mungkin—terlihat kacau.

Perlahan tapi pasti, tubuh laki-laki itu mulai bergerak dan bangkit dari sofanya. Myung Soo mengambil langkah besar tapi tidak terlalu cepat. Di hentikannya kakinya itu tepat di depan mesin pendingin—kulkas—yang bukan miliknya. Dibukanya kulkas itu, dan sejenak ia hanya berdiri dan menatap. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya, matanya seperti sedang mengamati atau bahkan mengobservasi.

Kemudian ia kembali bergerak. Lagi dan lagi Myung Soo mengacak rambutnya. Entah untuk alasan apalagi laki-laki itu terlihat semrawut dan kebingungan. Setelah beberapa detik menunjukkan gerak yang tak menentu, Myung Soo mengarahkan kedua tangannya ke dalam kulkas. Kemudian ditariknya kembali kedua tangannya itu, beserta beberapa botol besar yang berisi cairan.

Myung Soo meletakkan botol itu di sebuah meja kecil tepat di depan sofa tempatnya duduk. Kemudian kakinya kembali bergerak menuju suatu tempat dan mencari sesuatu di sana. Dan beberapa detik berikutnya, ia sudah berada di sofanya. Menatap botol-botol dan sebuah gelas berukuran sedang secara bergantian. Sementara kedua tangannya saling berkaitan kencang dan saling memberika tekanan, seperti berbagi rasa sakit.

Myung Soo menggerakkan tubuhnya cepat. Beralih meraih salah satu botol dan menuangkan caiteran tersebut ke dalam gelas. Terlihat keraguan dalam gerakannya, tapi pada akhirnya ia memberanikan dirinya. Dalam satu tegukan, cairan dalam gelasnya lenyap tertelan.

Merasa kurang puas, Myung Soo pun kembali menuangkan cairan tersebut. Lagi, lagi, dan lagi. Hal yang sama terus dilakukannya. Tanpa tahu efek dari cairan yang diminumnya. Yang dirasakannya hanya satu, perih.

Myung Soo menghentikan kegiatannya. Diletakkannya gelas yang sedaritadi melekat dalam genggamannya. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa, memejamkan matanya seraya memegang keningnya. Otaknya kembali bekerja, menayangkan kejadian demi kejadian yang membuatnya kacau.

“Argh,” geram Myung Soo, mewakili rasa kesal dan kecewanya.

Ditegakkannya lagi tubunnya itu, berniat untuk menghabiskan gelas berikutnya. Namun terhenti ketika sesuatu menghalanginya. Sesuatu yang hidup dan cukup berat di pundaknya.

***

Waktu serasa berhenti ketika keduanya berada dalam jarak yang dekat. Tak ada kata atau bahkan kalimat yang keluar dari mulut keduanya. Hanya kontak fisik yang menghubungkan keduanya ke dalam sebuah dunia yang diciptakan oleh ikatan keduanya.

Myung Soo membeku ditempatnya. Udara disekelilingnya terasa dingin, namun tubuhnya memilih untuk terasa hangat. Jantungnya bekerja lebih cepat, sementara napas—entah sejak kapan—tertahan.

Detik demi detik terus berjalan, Myung Soo masih diam ditempatnya. Matanya memandang lurus ke depan, tanpa objek yang pasti. Ia menelan sallivanya. Mulutnya bergerak untuk mengatakan sesuatu ketika sebuah suara lebih dulu memotongnya.

“Jangan,” sahut sebuah suara.

Myung Soo tak menoleh, tidak juga menjawabnya. Ia memilih untuk diam dan berusaha mengumpulkan kesadarannya yang sedaritadi menghilang. Selain itu, jauh dalam dirinya juga berusaha untuk tetap menikmati kehangatan yang berasal dari pelukan gadisnya.

“Jangan melakukan hal bodoh,”

“Apa yang kau sedang lakukan?” tanya Myung Soo tiba-tiba, suaranya terdengar datar dan tak bersemangat.

Myung Soo menyadari dirinya yang berbicara. Suaranya terdengar menyebalkan tapi juga spontan. Entah hal apa yang membuat laki-laki itu berani mengeluarkan suaranya.

“Melakukan hal yang seharusnya kulakukan.”

Perlahan Myung Soo menggerakkan tubuhnya, memperbaiki posisi sebelumnya. Ia juga bisa merasakan gerakan gadis yang memeluknya dari belakang, gadis itu bergerak memperbaiki posisinya—seperti mempererat pelukannya.

“Apa?” tanya Myung Soo.

Jung Eun Ji tidak memberikan jawabannya. Myung Soo bisa merasakan gerakan Eun Ji yang perlahan meletakkan kepalanya tepat di pundak kanan milik Myung Soo. Gadis itu bergerak memperbaiki posisinya dan mempererat pelukannya.

“Berhenti melakukan hal bodoh, Jung Eun Ji—”

“Kim Myung Soo,”

Myung Soo terpaku di tempatnya. Beberapa hari tanpa melihat ataupun mendengar suara lembut gadisnya—terutama ketika gadis itu menyebut namanya—berhasil membuatnya kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Bahkan, untuk sepersekian detik, Myung Soo membayangkan dirinya yang menghabiskan waktu dengan Eun Ji di sebuah ruangan tertutup.

“Kim Myung Soo,” sahut Eun Ji, lagi.

Meskipun kesadarannya kembali, Myung Soo masih tidak menjawab. Bukan karena ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya, tapi sesungguhnya, ia lupa bagaimana cara mengatakan sesuatu dalam jarak yang sangat dekat dengan seorang Jung Eun Ji.

Berlebihan memang—bahkan sangat berlebihan. Sebenarnya, jauh dalam hati Myung Soo terdapat berbagai macam penolakan. Entah penolakan terhadap dirinya sendiri atau oranglain disekitarnya. Entahlah, tak ada yang tahu isi hati seorang Kim Myung Soo.

“Kim Myung Soo,” panggil Eun Ji lagi, “Hei, berapa kali aku harus memanggil namamu?”

Myung Soo menggelengkan kepalanya, sedikit salah tingkah.

“Ada apa?” tanyanya.

Lagi, Myung Soo merasakan gerakan di pundak kanannya. Ia bisa merasakan kening Eun Ji yang menempel tepat di bahu kanannya.

“Kenapa kau begitu pendiam—”

“Kenapa kau harus bertanya?” potong Myung Soo.

“Apa boleh kukatakan bahwa aku peduli?”

Myung Soo tertawa kecil, “Peduli pada siapa?”

“Tentu saja padamu.”

“Untuk apa memperdulikanku?”

“Entahlah.” Jawab Eun Ji, “Menurutku, memperdulikanmu sama seperti menaati perintah yang terucap dari diriku sendiri.”

Myung Soo tersenyum kecil di tempatnya, “Kau menggodaku.”

“Astaga,” pekik Eun Ji tiba-tiba.

Myung Soo bisa merasakan gerakan Eun Ji yang menarik tangannya cepat, melepas pelukannya dan berhasil membuat Myung Soo menolehkan kepalanya untuk sekedar memastikan keadaan. Dalam satu gerakan, mata keduanya kembali beradu.

“Kim Myung Soo!” pekik Eun Ji lagi.

Myung Soo membuka matanya lebih lebar, “Ada apa?”

“Kau baru saja tergoda, astaga!” pekik Eun Ji, lebih keras seraya menutup mulutnya. “Jangan katakan kau terangsang, Myung Soo-ssi.”

Myung Soo terbelalak. Dialihkannya tatapan yang sebelumnya menatap mata Eun Ji, sementara tangannya bergerak menggaruk kepalanya yang sedikitpun tidak terasa gatal. Terlihat salah tingkah.

“Lucu sekali,” sahut Eun Ji dengan tawanya.

“Apa?” tanya Myung Soo, kembali memusatkan perhatiannya pada Eun Ji.

“Reaksimu,” jawabnya. “Kau harus lihat bagaimana wajahmu ketika aku mengatakan hal itu.”

***

“Lucu sekali,” kata Eun Ji seketika.

“Apa?”

Eun Ji menarik bibirnya sejenak, memamerkan senyum dan berkata, “Reaksimu. Kau harus lihat bagaimana wajahmu ketika aku mengatakan hal itu.”

Myung Soo tidak menjawab. Wajahnya datar tanpa ekspresi, hanya matanyalah yang memandang Eun Ji dengan tatapan yang tidak bisa di mengerti.

“Ada apa?” tanya Eun Ji, merasa risih dengan tatapan Myung Soo.

Lagi, Eun Ji tidak mendapat jawaban, sementara jantungnya berdetak lebih dari yang diharapkan. Di tempatnya, Eun Ji menundukkan kepalanya. Berharap agar Myung Soo dapat menarik kembali tatapan tajamnya itu.

Setidaknya jangan tatap aku seperti itu, gumam Eun Ji.

“Kemarilah,”

Eun Ji tersentak, sontak saja ia menaikkan kembali kepalanya. Mengadu mata keduanya. Ditatapnya mata Myung Soo yang perlahan melembut. Tanpa kata, keduanya bertatapan sejenak. Hingga pada akhirnya Myung Soo mengeluarkan suaranya.

“Kenapa diam?” tanya suara di depannya, “Apa sekarang kau yang menjadi seorang pendiam?”

“Apa?” tanya Eun Ji cepat, “Oh, tidak.”

“Kalau begitu kemarilah.”

Eun Ji menatap Myung Soo lama. Kakinya seakan sulit untuk sekedar bergerak. Banyak hal yang berputar di otaknya, entah itu perkiraan tentang apa yang akan terjadi jika ia mendekati Myung Soo atau tentang apa yang harus dilakukannya ketika berada di dekat Myung Soo.

Myung Soo mendengus, “Ada apa? Apa saat ini aku menakutkan untukmu?”

Eun Ji tak menjawab. Matanya seakan menjelajah, mencari-cari sesuatu dari tatapan Myung Soo.

“Sungguh,” ujar Myung Soo. “Aku tidak akan melakukan apapun padamu.”

Tak ada jawaban.

“Jung Eun Ji,” panggil Myung Soo.

“Eun Ji-ah, ku mohon.”

Myung Soo mendengus, “Ayolah, Jung Eun Ji—”

“Berhenti menyebut namaku, Myung Soo-ssi,” potong Eun Ji.

“Ada apa denganmu?”

Eun Ji menundukkan kepalanya seraya menarik napas dan membuang napas perlahan. Kemudian gadis itu kembali menegakkan kepalanya dengan senyum yang terpampang di wajahnya. Tanpa sadar darimana asal senyumnya.

Perlahan, dari tempatnya berdiri, Eun Ji menggerakkan salah satu kakinya. Mendorong tubuhnya satu langkah ke depan dengan senyum yang masih menghiasi wajanya.

“Kau terlihat buruk, Jung Eun Ji.”

Eun Ji mendengus seraya melanjutkan langkahnya, “Kau mengingatkanku pada Kyung Won, Myung Soo-ssi.”

Tak ada jawaban untuk kalimat terakhir Eun Ji. Myung Soo hanya menatapnya, sementara Eun Ji terus melanjutkan langkahnya. Mata keduanya masih beradu. Seperti dihubungkan oleh benang yang terikat di kedua pasang mata tersebut.

Beberapa detik setelahnya—tepatnya ketika Eun Ji berhasil meraih jarak terdekatnya dengan Myung Soo, bibir keduanya tertarik. Tanpa perintah dan tanpa sepengetahuan, keduanya memamerkan senyum termanisnya.

Eun Ji menghentikan langkahnya. Memfokuskan perhatiannya pada tatapan di depannya. Masih terus tersenyum, Eun Ji tidak menyadari gerakan Myung Soo yang memperkecil jarak keduanya. Entah kehilangan kesadaran atau apa, Eun Ji tak menyadari tubuh Myung Soo yang berada tidak lebih dari 10 centi dari tempatnya berdiri.

“Apa aku masih menakutkan?”

Eun Ji menarik bibirnya lebih lebar, “Kau sungguh menyeramkan.”

“Apa aku masih mengingatkanmu pada Kyung Won?”

“Bagaimana menurutmu?”

Myung Soo tertawa kecil, “Menurutku—”

Eun Ji menatap Myung Soo, tatapannya tajam namun lembut. Dalam diam, ia menunggu kelanjutan kalimat Myung Soo.

“Menurutku,” ulang Myung Soo. “Aku adalah aku.”

Dan setelah satu kalimat tersebut, Eun Ji memejamkan matanya. Tanpa pemberitahuan, bibir keduanya bertemu.

***

Jam dinding yang menempel bebas di rumah sederhana tempat Myung Soo menginap menunjukkan pukul 2 dini hari ketika keduanya tengah duduk berdampingan di sofa. Tak ada hal buruk atau kejadian menegangkan yang terjadi setelah ciuman panas mereka pada hari itu. Hanya godaan dan sapaan halus yang terus keluar dari mulut keduanyalah yang menjadi penghibur.

Eun Ji memejamkan matanya, berusaha menikmati waktu demi waktu yang berjalan dengan Myung Soo di sampingnya. Tak banyak kata yang keluar dari mulut keduanya. Keduanya terlihat lelah dan mengantuk, tapi entah alasan apa yang membuat keduanya untuk tetap bertahan pada posisi yang sekarang.

Posisi keduanya cukup sederhana. Myung Soo yang duduk bersandar merangkul Eun Ji yang duduk bersandar pada pundak laki-laki itu. Keduanya terlihat nyaman dengan posisi seperti itu. Tanpa gangguan dan melupakan masalah keduanya.

Eun Ji mengadahkan kepalanya, menatap wajah lelah Myung Soo yang bersandar di sofa. Ia tersenyum.

“Kau mengantuk,” ujarnya tiba-tiba.

Myung Soo yang tengah memejamkan matanya pun terpaksa membuka matanya. “Kau juga.”

Eun Ji menggerakkan tangannya. Di pukulnya pelan salah satu sisi pipi Myung Soo, seperti berusaha menyadarkan laki-laki itu.

“Kau benar-benar mengantuk,” ujarnya.

Myung Soo mengangguk dengan mata yang terpejam, “Kalau begitu ayo kita ke kamar—”

“Apa?” tanya Eun Ji cepat, nada suaranya terdengar tinggi.

“Kekamar—”

Eun Ji mendengus, “Apa-apaan kau ini, sudah ku bilang aku tidak mau.”

Myung Soo menegakkan badannya, menatap mata Eun Ji dan berkata, “Ada apa denganmu? Kau terlalu banyak berimajinasi Nyonya Kim.”

“Berimajinasi apanya?” tanya Eun Ji seraya menolehkan kepalanya.

“Pikiranmu kotor.”

“Apa?”

Myung Soo berdecak, “Astaga, aku pasti sudah gila menyukai wanita sepertimu.”

“Apa maksudmu—”

“Ayo, temani aku tidur.” potong Myung Soo seraya menarik lengan Eun Ji.

Eun Ji menahan tubuhnya untuk tidak bergerak. Sementara matanya masih menatap Myung Soo, kali ini tatapannya tajam dan sinis. Wajahnya terlihat seperti seseorang yang sedang marah tapi juga terlihat seperti seseorang yang sedang merajuk.

“Kenapa?” tanya Myung Soo, memperhatikan wajah Eun Ji.

Eun Ji membuang mukanya, “Kalau kau mengantuk, pergilah tidur sendiri. Jangan bicara yang macam-macam—”

“Astaga, Jung Eun Ji,” potong Myung Soo. “Lagi-lagi kau berfikir berlebihan.”

Eun Ji tak menjawab. Gadis itu memilih untuk melipas kedua tangannya di depan dada dan menghindari tatapan Myung Soo.

“Hei, Jung Eun Ji.” Panggil Myung Soo.

Ia tidak menjawab.

“Jung Eun Ji,”

……..……….

“Nyonya Kim, lihat aku.”

Eun Ji memutar tubuhnya. Bukan karena ia menginginkan hal itu, karena sebuah tangan kekar yang tiba-tiba saja memutar tubuhnya secara paksa. Mau tidak mau, ia pun harus berhadapan dengan laki-laki di depannya.

“Nyonya Kim,” panggil Myung Soo. “Sudah kukatakan padamu, aku bukan Kyung Won—”

Eun Ji menghela napasnya, terlihat tidak tertarik dengan hal yang ingin disampaikan Myung Soo.

“—Dan sudah kukatakan padamu, aku tidak akan berbuat apapun.” Lanjut Myung Soo. “Oh astaga, ada apa denganmu? Apa kau masih merasa takut?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa?”

Eun Ji diam. Antara tidak memiliki jawaban atau tidak tahu harus berkata apa. Tunggu, apa bedanya?

“Nyonya Kim yang terhormat,” ucap Myung Soo, melebih-lebihkan intonasinya. “Kita pernah tidur di satu ranjang yang sama, bahkan kita pernah melakukan hal itu. Lalu apa yang membuatmu takut?”

Eun Ji menundukkan kepalanya. Sesungguhnya ia tidak takut, tidak juga merasa enggan. Hanya saja, rasanya, ia harus menjaga jarak antara dirinya dengan laki-laki di depannya. Karena ibunya.

“Apa ini karena Ibumu?”

Eun Ji tersentak, sokntak saja ia menegakkan kapalanya dan kembali menatap mata Myung Soo. Tepat saja, pertanyaan Myung Soo seakan-akan mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.

“Tidak,” jawab Eun Ji berbohong.

Myung Soo menghela napasnya, “Kalau begitu temani aku. Malam ini saja, ku mohon.”

***

Eun Ji membuang napasnya. Hatinya mengatakan ya tapi tubuhnya berkata tidak. Walaupun pada akhirnya keduanya berada di satu ruangan yang sama.

Setelah melalui perdebatan yang cukup lama dengan dirinya sendiri. Eun Ji pun tak sanggup untuk mengatakan tidak. Entah karena hatinya atau hanya sekedar rasa kasihan.

Eun Ji menjatuhkan dirinya di pinggir kasur ketika Myung Soo tengah merebahkan dirinya di sisi lain kasur. Tak ada kata yang dapat terucap dari mulutnya. Sedangkan dalam hatinya, ia menggumamkan maaf dan janji. Maaf pada Ibunya karena tidak menepati janji dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

“Berbaringlah,” ujar Myung Soo, membuyarkan seluruh pikiran Eun Ji. “Aku benar-benar tidak akan melakukan apapun.”

Eun Ji menatap Myung Soo lama. Sama seperti yang ia lakukan sebelumnya, mencari kebenaran dalam tatapan mata Myung Soo.

Laki-laki di sebelahnya tengah berbaring dengan mata yang terbuka. Laki-laki itu menatapnya, seolah-olah menunggu dirinya untuk berbaring tepat di sebelah laki-laki itu.

Eun Ji meyakinkan dirinya untuk tidak takut. Ia juga meyakinkan dirinya bahwa ia tidak akan melakukan hal bodoh lagi. Selain itu, ia juga mengatakan pada dirinya sendiri kalau malam ini adalah malam terakhir ia melihat wajah tampan laki-laki di depannya.

Detik demi detik, Eun Ji pun mengalihkan tatapannya. Memilih untuk memamerkan senyum dan merangkak menaiki kasur. Keduanya berbaring bersebelahan dengan pakaian lengkap yang menutupi tubuh keduanya.

“Tidurlah,” ujar Eun Ji. “Aku di sini.”

Myung Soo mengubah posisi tidurnya. Begitu juga Eun Ji, keduanya tidur saling berhadapan.

“Nyanyikan aku sebuah lagu,” pinta Myung Soo.

“Aku tidak bisa bernanyi—”

“Kau berbohong,” potong Myung Soo. “Aku melihatmu bernanyi hari itu. Di ruanganmu, kau bernyanyi diiring piano.”

“Kau mengikutiku.”

Myung Soo tersenyum, “Nyanyikan aku satu lirik saja.”

“Aku lelah,” ucap Eun Ji beralasan.

“Kalau begitu tidurlah.”

Eun Ji menarik bibirnya, “Kau juga.”

Keduanya bertatapan sejenak. Sebelum akhirnya memutuskan untuk menutup mata dan memasuki alam bawah sadar.

Tapi tidak untuk Jung Eun Ji.

Gadis itu masih tersadar. Sementara matanya menatap wajah terlelap Myung Soo, mengamatinya dalam diam dan tertawa kecil seketika. Sampai akhirnya, laki-laki di hadapannya itu bersuara.

“Apa wajah tidurku selucu itu?” tanya Myung Soo, masih dengan mata terpejam.

“Tidak juga,” jawab Eun Ji. “Ada hal lain yang membuatku tertawa.”

Myung Soo membuka matanya, “Apa?”

Eun Ji memperbaiki posisinya, dengan suara rendah yang dibuat-buat ia berkata, “Kenapa kau memanggilku Nyonya Kim?”

Kali ini giliran Myung Soo yang tertawa. Laki-laki di hadapan Eun Ji benar-benar menunjukkan respon yang jauh berbeda dari yang diharapkan Eun Ji. Entah berbeda dalam segi apa.

“Berhenti tertawa bodoh!” kesal Eun Ji, “Aku serius bertanya padamu.”

Myung Soo menghentikan tawanya. Untuk sejenak, keduanya bertatapan. Di tepatnya, Eun Ji menatap Myung Soo. Kali ini gadis itu menyadari gerakan Myung Soo yang berusaha memperkecil jarak keduanya.

“Itu karena,” jawab Myung Soo perlahan, seraya menghapus jarak antar keduanya.

“Karena apa?” tanya Eun Ji, memotong perkataan Myung Soo dengan semua rasa penasarannya.

Myung Soo berhenti bergerak. Bibirnya tertarik untuk membentuk sebuah senyum simpul sebelum akhirnya mendaratkan kecupan tepat di bibir Eun Ji.

“Karena itu,” katanya seraya mendaratkan kecupan lain di bibir Eun Ji. “Dan karena ini.”

Eun Ji tidak terkejut. Raut wajah gadis itu terlihat bingung.

“Karena aku milikmu, dan kau milikku.” Katanya menjelaskan. “Sekarang tidurlah. Sudah terlalu larut untuk terjaga.” Lanjutnya seraya melingkarkan tangannya di tubuh Eun Ji.

Eun Ji tidak menolak pelukan Myung Soo. Keduanya kembali dalam malam yang singkat tapi penuh kehangatan. Tanpa berkata apapun, Myung Soo memejamkan matanya, begitu pun dengan Eun Ji.

“Selamat malam Tuan Kim,” kata Eun Ji dengan mata terpejam.

***

TBC

8 responses

  1. Wow daebak daebak!!
    Perkenalkan saya readers baru disini yeay
    Ff nya bagus banget :))
    Aku dapet feelnua eunji bgt :’)
    Lanjut ya!😀

  2. hahahaha akhirnya setelah sekian lama keluar juga… tapi agak pendek ya? –”
    gpp, pokok nya udh keluar yyeeeee……
    di tunggu part selanjutnya ya saeng. jangan lama2 please… ak tungguin kok lama banget keluar nya…. TnT”
    ok? ok ! sipp

  3. Harus lanjuuuuuuttt! Next part jangan delay lagi huhu;; jujur ini satu-satunya ff yang bikin aku penasaran dan nunggu terus. I love the way you write, thor!❤

  4. annyeong, aku reader bru dsni,,^^
    maaf ya bru comment pas part ini aja …

    aaku sukaaaa bangeettt sma ceritanyaaaa ><
    pliiss cepet2 update kelanjutannyaa doong …
    aku tunggu yaaaa ..
    hwaiting ^^

  5. aaaaaaa author o_o myungji…. gue baca nih ff keren, mana gue bayangin lagi *loll…. bikin penasaran astaga
    next chap thor gue menunggu *-*)-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s