Lost (Chapter 2)

Lost.

Genre : romance–sad.

Rating : General

Cast     : Shin Hye Rin–Jeon Jung Guk–Kim Tae Hyung–Byun Baek Hyun–BTS–EXO–dll.

A/N;

Jeon Jung Guk=Jung Kook.

Kalo di chapter sebelumnya Kim Tae Hyung=V. Di chap ini aku milih pake nama aslinya. So, enjoy!

Part 2

Hye Rin mendorong pintu kamarnya perlahan, kemudian melempar tasnya ke sembarang tempat. Di lepasnya jam tangan yang mengalun di pergelangan tangannya, lalu menjatuhkan dirinya di atas kasur yang lima tahun belakangan ini menemaninya di Korea.

Shin Hye Rin, salah satu putri keluarga Shin yang kini menetap di Amerika karena kemajuan teknologi. Hye Rin sendiri memilih kuliah di Korea karena menurutnya Korea merupakan tempat yang terkenal dengan karya seni tari dan musiknya, selain itu ia juga beralasan ia ingin menjadi seperti mantan kekasihnya, Byun Baek Hyun.

Mantan. Hye Rin memasang senyum terpaksanya dan tertawa hambar. Rasanya aneh menyebut seseorang yang ia kagum-kagumi sebagai seorang mantan. Apalagi mengingat Baek Hyun yang selama ini menjadi penyemangat dan alasan Hye Rin untuk menari dan bernyanyi.

Hye Rin memejamkan matanya, mengingat hal-hal yang pernah ia lewati bersama Baek Hyun. Mengingatnya sebagai kenangan dan menanggapnya sebagai sebuah kebaikan, itupun kalau ia bisa melakukannya. Sesuatu yang ia sebut sebagai bayang-bayang, secara tidak sengaja selalu berhasil membuatnya tersenyum sinis.

“Apa aku benar-benar harus menyebutnya sebagai mantan kekasih?” gumam Hye Rin, membuka matanya dan tertawa hambar menanggapi ucapannya.

Wajah gadis itu kembali pada kekecewaannya. Matanya mengarah pada langit-langit kamar yang bercat putih, sementara bibirnya terkatup. Tatapannya tajam tapi tak terfokuskan, matanya seakan-akan menatap langit kamarnya tapi tak menikmati pemandangannya. Pendek kata, gadis itu bertingkah seakan-akan ada yang mengganggu pikirannya.

Dan beberapa detik berikutnya, gadis itu terlelap.

***

Hei Shin Hye Rin, Apa kau tahu alasan burung-burung itu berkicau ketika seseorang merasa sedih?”

Hye Rin tak mengalihkan perhatiannya. Selain tidak mengenal—bahkan tidak sedikitpun mengenal—laki-laki di sebelahnya, gadis itu juga merasa tidak tertarik dengan apa yang dikatakan atau akan dikatakan laki-laki itu.

“Hei, Shin Hye Rin, Apa kau tidak mau tahu?”

Hye Rin menghela napasnya, merasa kesal dan terganggu dengan keberadaan laki-laki di sebelahnya.

“Baiklah kalau kau memang tidak ingin tahu, tapi—”

“Bisakah kau berhenti bicara?” potong Hye Rin, suaranya terdengar tinggi dan menyebalkan. “Apa kau tidak tahu betapa terganggunya aku karena kehadiranmu?”

Hye Rin mendesah, matanya kembali terasa panas. “Oh Astaga!” serunya.

“Kau tahu, kau bisa menangis kalau kau mau.” Ujar laki-laki itu.

“Berhentilah bicara!” teriak Hye Rin, lebih kencang dan tegas dari yang sebelumnya.

Hye Rin memutar tubuhnya, berusaha menghapus air mata yang berusaha keluar dari matanya, tanpa sadar kalau ia hanya memancing tangisannya.

“Kau menangis,” Ujar laki-laki itu, “Tubuhmu bahkan bergetar.”

“Apa kau benar-benar tidak bisa berhenti bicara?” tanya Hye Rin ketus, tubuhnya masih membelakangi laki-laki itu.

Laki-laki itu mendesah perlahan, “Apa yang membuatmu menginginkanku untuk berhenti bicara? Apa kehadiranku sangat mengganggumu—”

“Sangat!” jawab Hye Rin cepat, “Maka dari itu, pergilah!”

“Aku di sini bukan karena dirimu, jadi maaf kalau kau merasa terganggu.” kata laki-laki itu santai, “Aku mendapat panggilan dari mereka,”

Hye Rin memutar tubuhnya, tangisnya perlahan mereda. “Siapa yang kau maksud? Jelas-jelas tidak ada oranglain selain aku dan kau yang berada di sini.”

Laki-laki itu menoleh, untuk sejenak mata keduanya bertemu. Hanya sejenak sampai akhirnya laki-laki itu kembali mengalihkan perhatiannya seraya mengangkat tangannya; menunjuk sesuatu yang berada di atas kepala mereka.

Hye Rin mengikuti arah yang ditunjukkan laki-laki itu, menatap alasan keberadaan laki-laki itu dan kemudian keningnya berkerut—menunjukkan wajah bingungnya.

“Kau di sini karena burung?” tanya Hye Rin, heran sekaligus bingung.

Laki-laki itu menggerakkan kepalanya, membenarkan ucapan Hye Rin. “Kenapa? Apa itu hal yang aneh?”

Hye Rin tertawa sinis, “Tentu saja.” Jawabnya. “Laki-laki macam apa yang pergi ke suatu tempat dengan alasan panggilan dari dua ekor burung? Apa kau pikir aku bodoh?”

“Oh, Aku tidak berpikir seperti itu.” elah laki-laki itu, “Aku di sini benar-benar karena mereka.”

“Sudahlah, lupakan itu. Lalu sekarang bagaimana, apa kau benar-benar tidak akan pergi?”

“Apa kau sedang mengusirku?”

“Apa?” tanya Hye Rin, sedikit terkejut dengan pertanyaan laki-laki di sebelahnya. “Oh, anggap saja seperti itu.”

“Kalau begitu aku tidak akan pergi.”

Hye Rin mematung kesal di tempatnya. Baru kali ini ia bertemu dengan laki-laki yang tidak mau mengalah untuk seorang wanita. Bahkan, Baek Hyun-nya pun akan dengan senang hati mengalah untuk kebahagiannya. Lalu, sekarang laki-laki jenis apa yang berada di sebelahnya?

“Aku yang akan pergi.” Ujar Hye Rin sekatika. “Kalau kau benar-benar tidak akan pergi, maka aku yang akan pergi. Kau—kau bisa tetap di sini, menikmati burung-burung yang tertawa. Kau bisa menikmati kebahagiaanmu di sini dengan burung-burungmu. Biar aku yang pergi.”

Hye Rin menghapus sisa-sisa air matanya, memastikan dirinya tidak terlihat buruk dan menarik perhatian. Gadis itu merapihkan setiap sudut dirinya; wajah, rambut, pakaian, bahkan sepatunya. Kemudian bangkit dari tempatnya, berdiri sejenak sebelum menggerakkan kakinya.

“Aku pergi,” katanya perlahan. “Kuharap kita tidak akan bertemu lagi.”

Hye Rin bicara dengan pandangan lurus, sama sekali tidak melihat wajah lawan bicaranya. Sementara di wajahnya terpasang senyum yang dipaksakan, begitu juga dengan suaranya yang terdengar tegas dan tak bergetar, semuanya karna dipaksakan.

Beberapa detik Hye Rin berdiri di tempatnya, seolah-olah menunggu respon atau reaksi dari laki-laki yang sedaritadi mengganggunya. Namun hasilnya nihil, laki-laki itu memang tak sedikitpun peduli dengan dirinya—bahkan dengan semua hal yang dipaksakannya.

Hye Rin menyeret kakinya. Langkah demi langkah dicapainya seraya perlahan, entah karena lelah atau ia memang sengaja melakukannya. Dan tepat ketika dilangkah ke-enamnya, suara laki-laki itu terdengar, memanggil namanya tanpa mengejarnya.

“Shin Hye Rin,” seru suara itu dari arah belakang. “Burung-burung itu tidak tertawa—”

Hye Rin ditempatnya, tidak membalikkan badannya ataupun memutar kepalanya seledar untuk menatap laki-laki itu. Ia hanya berdiri di posisinya dan menunggu kelanjutan ucapan laki-laki itu.

“—Mereka tidak tertawa karena kesedihanmu,” sambungnya. “Mereka menghiburmu,”

Hye Rin terhenyak, masih dalam posisinya.

“Mereka menghiburmu, mereka ingin kau tertawa bersama mereka, melupakan masalahmu, dan menikmati keindahan dunia. Mereka ingin kau tertawa, tertawa seperti yanglainnya, seperti dirimu yang sebelumnya. Mereka ingin kau tahu kalau kau hidup tidak sendiri, mereka ingin kau melupakan semua hal yang membuatmu menangis—” jelasnya.

“—Sama seperti yang ku inginkan padamu.”

Hye Rin membeku di tempatnya, kali ini ia benar-benar tidak tahu caranya merespon. Ia baru bertemu dengan laki-laki itu, dan laki-laki itu sudah berhasil membuatnya diam membisu hanya karena kata-katanya? Astaga Shim Hye Rin, kau pasti sudah gila.

Awalnya Hye Rin hanya merasa tersentuh dengan perhatian laki-laki itu. Jika saja laki-laki itu tidak mengatakan kalimat terakhirnya, Hye Rin pasti masih bisa menanggapi kalimat laki-laki itu. Tapi apa maksud kalimat terakhirnya? Apa itu alasan keberadaan laki-laki itu?

Sebenarnya ada satu hal yang kini menghantui pikiran Hye Rin. Tapi entah apa itu penyebabnya, ia merasa sedikit ragu untuk bertanya. Selain ragu ia juga tidak berani menatap mata laki-laki itu.

Persetanan dengan dirinya sendiri, ia pun memutar tubuhnya sambil bertanya, “Apa kau bisa bicara dengan burung?”

Pertanyaan itu tak terjawab. Bukan karena sikap laki-laki itu yang seketika membisu, tapi karena keberadaan laki-laki itu yang sudah tak terlihat. Entah sejak kapan laki-laki itu melangkahkan kaki dan meninggalkannya dengan hal-hal yang membingungkan.

“Berapa lama aku berdiri di sini?” gumam Hye Rin.

***

Hye Rin mengerjapkan matanya. Cahaya matahari yang menembus tirai putihnya berhasil membangunkannya dari mimpi yang membuatnya merasa kesal. Entah itu karena akhirnya yang menyisahkan misteri atau laki-laki yang berada di mimpinya.

Hye Rin merenggangkan tubuhnya. Perlahan, ia menyeret kakinya turun dari kasur dan menatap jam dinding yang menempel di ruang tamunya. Ia mematung dengan mata yang menatap jam; seperti mengingat-ingat sesuatu.

“Astaga!” pekik Hye Rin seketika, “Kelas musik pagi ini!”

Hye Rin melangkahkan kakinya lebih cepat, bahkan gadis itu setengah berlari. Dengan segera, ia beralih memasuki kamar mandinya dan membersihkan tubuhnya sebersih dan secepat mungkin. Dan beberapa menit berlalu, hasilnya memang tidak buruk.

Kemudian gadis itu beralih pada sarapannya, menu sederhana yang biasa disiapkannya setiap pagi; sandwich dan susu. Dengan sangat terburu-buru, Hye Rin menghabiskan susunya dengan menyisahkan sandwich di mulutnya. Dan tanpa berpikir panjang, ia meraih tas, keluar, dan mengunci pintu apartemennya.

Jarak apartemen dan Universitasnya memang tidak jauh. Hanya dengan berjalan sekitar beberapa meter ia sudah dapat mencapai Universitasnya. Tapi kali ini berbeda, Hye Rin tidak berjalan. Gadis itu memilih untuk menggunakan segala kemampuannya dalam hal berlari. Selain itu, ia juga memilih untuk melewati jalan yang berbeda; yang lebih dekat dan cepat.

Dan benar saja, dalam waktu sekitar lima sampai enam menit ia sudah bisa mencapai taman yang berada tepat di belakang sekolah. Taman yang sepi, tanpa satu batang hidung manusia.

Hye Rin mempercepat langkahnya, menyadari waktu dimulai kelas musiknya yang hanya tersisa beberapa menit lagi. Tapi sepertinya keberuntungan memang sedang tidak berpihak padanya. Karena tiba-tiba saja tubuhnya seperti tertarik.

Tarikan itu bukan seperti hal-hal yang dilakukan para penculik pada umumnya. Hye Rin merasa tertarik bukan karena hal itu. Ia merasa seperti menemukan magnet lain yang berhasil menarik tubuhnya. Dan siapa sangka kalau Hye Rin akan mengikuti arah tarikan itu?

Hye Rin berhenti tepat beberapa langkah setelah mengikuti arah tarikan itu. Matanya menatap lingkungan di sekelilingnya, lingkungan yang sepi tapi terasa familiar olehnya. Ia memejamkan matanya, berusaha mengingat kembali peristiwa yang terjadi di tempat itu.

Dan Bing!

Bagaikan sihir yang jatuh tepat di tubuhnya, otaknya bereaksi benar-benar cepat. Dalam sekejap Hye Rin dapat mengingat kejadian yang sempat terlupakan olehnya. Tentang hubungannya dengan Baek Hyun ataupun laki-laki misterius yang datang untuk menghiburnya; baik dalam mimpi maupun kenyataan.

“Aku tahu yang semalam itu bukan mimpi,” gumam Hye Rin, tersenyum simpul pada dirinya sendiri.

Hye Rin memutar kepalanya, mengamati tempat pertemuannya dengan laki-laki misterius yang berhasil membuatnya kembali hidup. Hidup menjadi dirinya sendiri.

“Ah, Baiklah. Kau sudah memberiku semangat, jadi aku akan mengucapkan terimakasihku dengan sebuah permintaan,” gumam Hye Rin.

Hye Rin menghela napasnya, “Aku harap Tuhan mempertemukan kita untuk yang kedua kalinya. “

“Ini mungkin terdengar gila. Tapi sungguh—” Hye Rin menghentikan ucapannya, “—aku hanya ingin bertemu denganmu dan mengucapkan termakasihku padamu. Selain itu, kau juga berhasil membuatku penasaran! Oh Astaga, aku pasti benar-benar gila.”

Hye Rin menghela napasnya lagi, kali ini tidak bicara. Ia hanya mengedarkan pandangannya dan menatap kursi yang menjadi tempat bicaranya dengan laki-laki itu. Untuk beberapa detik, ia membayangkan wajah laki-laki itu yang tengah duduk dan tersenyum. Kemudian ia tertawa.

“Aku harus pergi,” katanya tiba-tiba. Ia memutar kepalanya, menjelajahi setiap sudut taman yang tak berpenghuni. Kemudian ia tersenyum, senyum tulus pertamanya hari itu. Dan tanpa kata-kata lainnya, keduan kakinya membawa tubuhnya pergi menjauh dari taman.

***

Hye Rin memejamkan matanya, berusaha mengusir rasa kesal dan malunya. Kesal karena terlambat dan malu karena menjadi pusat perhatian mahasiswa di Universitasnya.

Baru beberapa jam berlalu dan berita mengenai hubungannya dengan Baek Hyun pun sudah menjadi topik utama Universitas Seni Korea Selatan. Sungguh hal yang memalukan karena saat ini—mau tidak mau—ia kembali menjadi pusat perbincangan orang-orang di sekitarnya.

Entah apa yang membuat mereka—mahasiswa kesenian—membicarakan Hye Rin. Apa hubungan percintaan seseorang yang berakhir menyedihkan harus menjadi bahan pembicaraan? Atau mereka semua merasa senang dengan akhir kisah cinta yang menyedihkan?

Hye Rin menghela napasnya. Masih dengan perasaan yang sama ia berusaha menghibur dirinya. Andai saja ia bisa datang lebih cepat dan tidak berhenti di taman itu, ia pasti bisa mengikuti kelas musik dan tidak harus menjadi pusat perhatian mahasiswa yang berada di sekitarnya. Andai saja.

Sejujurnya berandai-andai memang tidak menyelesaikan permasalahannya. Ia bahkan tahu kalau ia hanya memberikan berbagai penekanan pada dirinya sendiri dengan mengandai-andaikan sesuatu yang sudah terjadi. Tapi tetap saja, jauh dalam hatinya ia ingin memperbaiki sesuatu dengan berandai-andai.

Gadis itu mendesah, setengah jam berlalu dan ia masih harus menunggu jam pertama kelas musik berakhir. Sebenarnya ia bisa saja pergi ke ruang tari atau ruang teater untuk sekedar mengisi jam kosongnya. Namun, karena persoalan gosip tentang dirinya yang sedang menggelegar, ia memustukan untuk tetap berada di tempatnya. Duduk dan menunggu.

Wajah gadis itu terlihat tidak baik, raut wajahnya menandakan kalau gadis itu merasa bosan. Dan itu memang benar, karena detik berikutnya, gadis itu meraih earphone dari tasnya dan memainkan sebuah lagu dari ponselnya. Ia mendengarkan musiknya dengan mata terpejam.

“…Maeil maeil bwado nan deo johajyeo, dubeon sebeon naui boreul kkojibeo bwado…”

“..Machi dreaming dreaming kkumeul kkuneun deut..”

“..Saenggangman haedo nan misoga..”

Hye Rin melanjutkan lirik lagunya dengan senandung. Matanya masih terpejam, seolah-olah tak ingin menatap siapapun yang berkomentar tentang dirinya. Bibirnya yang kini terkatup terus bersenandung; menandakan ketidakpeduliannya dengan orang-orang yang berada di sekitarnya.

“…Jjaritjjaritan neukkim jeoldae mam byeonhaji anki—”

“Shin Hye Rin,”

Gadis itu tak melanjutkan liriknya. Ia membuka matanya dan menatap laki-laki yang berada tepat di depannya. Keduanya bertatapan sejenak, sampai akhirnya Hye Rin memutuskan untuk melepas earphone-nya dan memperbaiki posisi duduknya.

“Ada apa?” tanya Hye Rin.

Songsaenim mencarimu.” Jawabnya, “Sepertinya mereka juga akan menilaimu.”

Hye Rin mengerutkan keningnya, “Mereka?”

Laki-laki di hadapannya mengangkat bahunya, “Siapa yang tahu kalau idol akan menilai penampilan kita?”

Idol?” tanya Hye Rin, masih tak mengerti dengan ucapan laki-laki yang tidak lain dan tidak bukan adalah teman sekelasnya.

“Ya.” jawabnya singkat, “Sebaiknya kau temui saja dia. Kau termasuk salah satu yang beruntung karena dapat mengikuti penilaian meskipun tidak dapat mengikuti kelas.”

Hye Rin menundukkan kepalanya. Kemudian menghela napasnya sejenak. Ia memang beruntung, tapi juga tidak beruntung. Dan ketidakberuntungannya bukan hanya karena tidak dapat mengikuti kelas, tapi juga karena kehadiran idol yang datang tanpa sepengetahuan.

Dalam keadaan seperti ini, apa aku bisa menampilkan sesuatu? Batin Hye Rin. Apa aku bisa, Oppa?

“Aku pergi,” sahut temannya, membuyarkan lamuna Hye Rin yang tidak akan terjawab.

“Oh,” respon Hye Rin, “Aku akan segera menyusul.”

***

Pintu salah satu ruangan terbuka, menunjukkan satu per-satu bagian tubuh gadis yang tengah melangkah memasuki ruangan. Gadis itu membawa tasnya, tanpa modal lainnya ia melangkah semakin dalam; melangkah dengan pandangan yang menyapu ruangan.

“Apa aku benar-benar harus menunggu di sini?” tanyanya.

Tak ada jawaban, bahkan tak ada suara manusia lainnya di ruangan itu. Gadis itu hanya menatap sekelilingnya sebelum akhirnya ia memutuskan untuk meletakkan tasnya dan mengelilingi ruangan. Dengan hati-hati ia mengecek setiap sudut ruangan; mengecek semua lemari, meja, atau ruangan yang berada dalam ruangan tersebut.

“Apa benar mereka menyediakan piano di sini?”

Hye Rin melangkahkan kakinya, perlahan membuka salah satu pintu yang belum diceknya. Dengan sigap ia menyalakan lampu di ruangan tersebut, dan betapa kecewanya ia ketika melihat ruangan itu yang dipenuhi dengan gitar dan biola.

“Gitar dan biola,” gumamnya. “Bagaimana bisa songsaenim menyebut ini semua sebagai piano?”

Hye Rin memutar kepalanya, memperhatikan satu-demi-satu gitar dan biola yang berada di ruangan tersebut. Kemudian matanya berhenti menjelajah—atau lebih tepatnya; matanya terpusatkan pada salah satu gitar yang berada di pojok ruangan.

Hye Rin menggerakkan tubuhnya, mendekat ke tempat gitar tersebut dan meraihnya. Tanpa berkomentar atau pun mengecek keadaan gitar yang menjadi pilihannya, ia melangkah keluar dari ruangan tersebut.

***

 

Laki-laki dengan tubuh yang tidak terlalu jangkung—tapi juga tidak pendek—melangkah dengan caranya. Senyum manis dari bibirnya terpampang jelas di wajahanya. Selain itu, di setiap langkahnya, ia dengan senang hati memberikan sapaan pada gadis-gadis yang melewatinya dengan berbagai komentar. Entah itu karena wajah tampannya atau karena kepopulerannya.

Annyeonghaseyo,” sapanya—untuk yang kesekian kalinya—seraya melanjutkan langkahnya.

“Omo!—Bukankah itu—”

Laki-laki itu tersenyum melihat reaksi gadis yang baru saja ia lewati. Ia tampak puas dan bangga. Tanpa sadar, senyumnya semakin melebar. Seakan-akan menandakan bahwa ia baru saja memenangkan sebuah permainan yang bahkan belum ia mulai.

“Astaga, itu benar-benar dia—”

“Apa yang dia lakukan di sini?”

“Dia—dia benar benar tampan, sungguh—”

“Bagaimana bisa—”

Laki-laki itu tak menanggapi setiap komentar gadis-gadis yang menatapnya dengan tatapan terkejut-terkesima-atau bahkan tak percaya. Ia lebih memilih untuk melanjutkan langkahnya dengan senyum yang masih setia menghiasi wajahnya.

Hyung!

Kali ini laki-laki itu berhenti melangkah. Dengan senyum yang masih terpampang, ia memutar kepalanya. Menatap laki-laki lainnya yang kini berjalan menuju tempatnya. Laki-laki itu yang memanggilnya itu juga tersenyum; senyum yang sama seperti yang sebelumnya dia lakukan.

“Oh, Jung Kook-ah,” kata laki-laki itu, memilih untuk diam di tempatnya dan menunggu laki-laki yang dipanggil dengan nama Jungkook mendekat. “Ada apa?”

Laki-laki yang dipanggil Jung Kook menghentikan langkahnya dan menatap Hyung-nya sejenak, “Apa pekerjaanmu sudah selesai?”

“Seharusnya sudah,” jawabnya. “Tapi masih ada satu orang lagi yang harus ku temui.”

Jung Kook mengerutkan keningnya. “Salah satu mahasiswa?”

“Sepertinya begitu,” jawabnya seraya mengalihkan pandangan. “Aku tidak tahu. Dia datang terlambat dan tidak diperbolehkan masuk, tapi dia termasuk salah satu yang beruntung—”

“Kenapa hyung?” potong Jung Kook.

Laki-laki itu menoleh, menatap Jung Kook sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya. “Karena Guru ingin aku menilainya. Guru bilang dia termasuk salah satu murid yang berbakat. Aku harus pergi, dia pasti sudah menunggu.”

Laki-laki itu hendak melangkahkan kakinya ketika Jung Kook menyentuh pundaknya, “Tae Hyung hyung,” katanya pelan, “Aku ikut denganmu.”

Laki-laki yang dipanggil Tae Hyung menoleh, menatap Jung Kook sejenak dan berkata, “Tidak perlu,” katanya. “Sebaiknya kau temui yang lain dan katakan pada mereka kalau aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku.”

Jung Kook terdiam sejenak, wajahnya seperti mempertimbangkan sesuatu.

“Baiklah,” ujar Jung Kook. “Sebaiknya kau cepat-cepat menyeselaikan tugasmu, atau kau harus kembali ke dorm dengan taksi.”

Tae Hyung tertawa kecil, “Aku tahu.”

***

Tae Hyung mempercepat langkahnya. Selain tidak ingin pulang dengan taksi, ia juga tidak ingin membuat oranglain menunggunya. Dengan segera ia melangkahkan kakinya menuju ruangan yang ditunjuk Gurunya.

Dan tepat di depan ruangan tersebut—tepat pula sebelum ia membuka pintu yang menjadi pembatas antara tempatnya dan tempat oranglain di dalam ruangan, Tae Hyung bisa menedengar dengan jelas suara petika gitar.

Suara petikan gitar dari dalam membuatnya senang. Setidaknya dia tidak harus menjelaskan panjang-lebar –pada orang yang tengah bermain gitar—tentang kedatangannya yang tiba-tiba. Terlebih jika seseorang yang berada di dalam itu adalah seorang gadis yang notabane-nya adalah seorang fans-nya. Oh, ia mungkin harus menghabiskan waktu yang cukup lama.

Sebelum menggerakkan tangannya untuk menyentuh knop pintu, Tae Hyung memilih untuk berdiri di depan pintu dan mengintip rupa seseorang yang berada di dalam ruangan. Dan sebelum wajah Tae Hyung dapat menangkap tubuh orang itu, telinganya—yang menempel tepat di pintu—kembali menangkap suara dari dalam ruangan.

Tapi kali ini berbeda, suara itu bukan berasal dari perbuatan. Suara itu terdengar bernada dan serasi dengan intonasi musik yang tengah dimainkan. Sementara telinganya tertarik untuk mendengarkan suara—yang diyakini Tae Hyung berupa suara seorang wanita—, otaknya berusaha untuk mengingat-ingat sesuatu.

Selain berusaha membayangkan si suara, Tae Hyung juga berusaha mengingat lagu yang sedang dinyanyikan gadis yang berada di ruangan tersebut. Ia merasa pernah mendengar tentang lagu itu, hanya saja ia tidak mengingatnya.

Penasaran dengan pemilik suara dan lagu yang dinyanyikan, ia pun memutuskan untuk membuka pintu dengan satu gerakan.

***

TBC

2 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s