So Long

So Long.

Cast       : Bang Min Ah–Do Kyung Soo–Kim Nam Joo—other.

Genre   : Frienship—Romance–Comfort,

Length : One Shot Story,

Rating   : G/Teenager.

“Ya! Bang Min Ah, cepat lempar bolanya ke sini!”

Suara gadis yang berasal dari salah satu sudut lapangan yang luas itu terdengar sampai ke segala penjuru lapangan tersebut. Sementara yang dipanggil tak menyahut, bahkan tak sedikitpun memperhatikan.

“Bang Min Ah! Sebelah sini!”

Masih sibuk dengan kegiatannya, gadis itu tak sedikitpun menoleh. Matanya hanya terfokuskan pada bola yang berada di depan kakinya dan beberapa gadis lain yang bertubuh—sedikit—lebih besar darinya.

“Ya!” teriak gadis lainnya, “Mau sampai kapan kau berdiam diri di sana? Cepat oper bola itu atau kita akan kalah! Cepatlah!”

Ah, aku tidak bisa melepasnya—”

“Apa-apaan kau ini!” potong salah satu temannya, “Cepat tendang saja!”

“Bagaimana bisa aku membuangnya—”

“Cepatlah!”

Seakan-akan mendapat tekanan yang tak kunjung berhenti, gadis yang disebut-sebut bermarga Bang itu pun menggerakkan kakinya untuk menendang bola yang tepat berada di depan kakinya. Dengan sedikit penyesalan, ia pun harus merelakan perjuangannya untuk mengabulkan permintaan teman-teman satu tim-nya.

Bang Min Ah menarik kakinya ke pinggir lapangan. Gadis itu berhenti sejenak sambil terus berkacak pinggang, berusaha mengambil napas dan mengumpulkan kembali semangatnya.

“Ya Bang Min Ah!” sapa salah satu temannya yang datang menghampiri. “Apa kau gila?”

Min Ah tak merespon, kepalanya masih tertunduk dalam rangka mengumpulkan stok napasnya.

“Dalam sepak bola yang terpenting adalah kerja sama. Kalau kau bermain dengan mempertahankan bola seperti itu, sama saja kau bermain sendiri. Apa kau lupa kunci dasar kemenangan?”

Ah—aku tahu,” jawab Min Ah dengan napas yang tersenggal, “Hanya saja tadi itu posisiku benar-benar sulit.”

“Posisi bukan alasan—”

Min Ah menggerakkan salah satu tangannya, menghentikan ocehan yang terus-menerus keluar dari mulut temannya.

“Sudahlah,” katanya menatap temannya. “Aku harus kembali bermain.”

Dengan kalimat tersebut Min Ah kembali menggerakkan tubuhnya. Dengan tubuh mungilnya ia berlari menuju lawan dan berusaha merebut bola yang berada dalam jangkauan lawan. Tak peduli dengan teriakan temannya yang terus meneriakkan namanya. Sesungguhnya ia bukanlah seorang idola atau semacamnya.

Min Ah mempercepat larinya ketika berhasil mendapat bola. Dengan pandangan yang mengeliling dan senyum—yang sejak kapan terpampang diwajahnya—gadis itu melesat dengan bola yang menggelinding mengikuti arahan kakinya.

“Bang Min Ah, pikirkan yanglainnya—” teriak temannya dari luar lapangan.

“Diamlah Lee Ji Eun!” balas Min Ah tak kalah kencang.

Yang diteriaki tak menjawab. Min Ah di tempatnya masih terfokuskan pada permainannya, tapi terkadang gadis itu menyempatkan dirinya untuk sekedar tersenyum dan tertawa kecil selagi mengiring bola: membayangkan wajah kesal temannya, Lee Ji Eun.

Min Ah menendang bola itu perhalan, memberikannya pada salah satu teman satu timnya. Kemudian mempercepat larinya untuk menyamai temannya itu. Dan ketika posisi keduanya sudah pas, Min Ah memberi tanda kalau ia siap menendang dan mencetak gol.

Langsung saja, temannya itu menendang bola ke arah depan dan sedikit menyamping untuk mempermudah Min Ah dalam menjangkau bola. Min Ah dengan semangatnya yang—seakan-akan—tak pernah habis, mempercepat larinya dan mengejar bola. Dan ketika ia berhasil menggapainya, langsung saja gadis itu menggerakkan kakinya sepenuh tenaga dan mengarahkannya pada gawang di depannya.

Tapi tak semudah itu.

Sebelum Min Ah bisa menampilkan senyum kebanggaannya, Min Ah harus kembali menahan emosinya karena kegagalan tendangannya. Hal itu bukan karena sang kiper yang berhasil menangkap bola atau tendangannya yang meleset.

Namun semuanya terjadi karena salah satu penjaga belakang tim lawan berhasil menggagalkan tendangan Min Ah menggunakan kepalanya.

“Pasti menyakitkan,” gumam Min Ah pelan.

Kejadian langka tersebut berlalu begitu cepat dan meninggalkan reaksi yang berbeda-beda di setiap wajah pemain. Bang Min Ah, gadis yang menendang bola tersebut mematung sambil terus menatap gadis yang menahan tendangannya dengan kepala—antara takut atau kagum.

Kejadian itu berhasil menjadi pusat perhatian. Satu-demi-satu teman satu tim gadis tersebut mulai mengerubungi—bahkan terus-menerur meneriaki nama gadis itu. Tak terkecuali beberapaanggota tim Min Ah yang ikut menonton kejadian tersebut.

Sesungguhnya Min Ah tidak merasa takut ataupun kagum. Ia lebih memilih untuk merasa terkejut dibandingkan takut ataupun kagum. Namun, setelah melihat efek dari keberanian gadis itu, Min Ah bisa saja merasa takut.

Di tempatnya, Min Ah merasa sedikit khawatir. Tapi ketika membandingkan keadaan gadis itu dengan keadaan para pemain sepak bola asli yang mengalami cedera, Min Ah sedikit merasa lega. Setidaknya gadis itu tidak harus diangkut dengan tandu dan menginap di ruang rawat bukan?

“Ya Bang Min Ah!”

Min Ah mengerjapkan matanya, sadar akan dirinya yang tak berkedip sejak tadi. Setelah merasa kesadarannya kembali pulih, ia pun memutar kepala dan menatap si pemilik suara yang memanggilnya tegas.

“Ya Bang Min Ah! Apa kau pikir ini benar-benar pertandingan? Kenapa menggunakan tenaga dalammu hanya untuk menendang sebuah bola? Lihat apa yang kau lakukan!”

“Aku ti—”

“Kau mau bilang kalau kau tidak bermaksud melakukannya?!” potong gadis lainnya. “Ya Bang Min Ah kau pikir kau ini wanita kuat atau apa—”

“Sudahlah kalian.” Potong sebuah suara, lembut tapi menyiaratkan ketegasan.

Min Ah dan sebagian gadis yang berada di sana memutar kepala mereka. Sedikit terkejut ketika mengetahui keberadaan guru mereka yang berdiri dan menatap mereka semua. Tanpa perintah, beberapa dari mereka—yang menyadari keberadaan guru tersebut—membungkuk memberi hormat.

“Bang Min Ah,” panggil guru itu. “Aku tahu kau selalu bersemangat dalam melakukan apapun. Tapi terkadang, ada kalanya kau harus menyimpan energimu itu. Kau tidak akan bisa menebak kapan kau akan membutuhkan semangat membaramu itu.”

Yang diceramahi menatap gurunya santai. Bukan karena ia berani atau sedang melawan, tapi seperti itulah dia: tak pernah menunduk meski ketika dihukum. Menurutnya, menunduk dalam menjalani hidup sama saja menyerah sebelum melalui hidup.

“Bang Min Ah, minta maaflah pada Shim Jae Hee.” Ucap gurunya.

Min Ah menatap gurunya sejenak, kemudian tersenyum lebar seraya memutar kepala untuk menatap gadis yang dipanggil Shim Jae Hee. Min Ah menggerakkan kakinya, melangkah mendekat dan mengulurkan tangannya pada gadis yang tengah memegangi kepalanya dan mengeram kesakitan.

“Shim Jae Hee,” kata Min Ah. “Bangunlah, ayo kita selesaikan semua ini dengan kata maaf dan teman.”

Gadis yang dipanggil Shim Jae Hee mengadah untuk menatap Min Ah. Keduanya bertatapan cukup lama, seperti mencari jawaban dari mata masing-masing. Sampai akhirnya gadis itu menggerakkan tangannya untuk meraih tangan Min Ah, bangkit dari duduknya dan saling berjabat tangan.

“Benar,” ucap Jae Hee. “Kata maaf dan teman memang sesuatu yang menyelesaikan masalah.”

Min Ah tersenyum mendengar reaksi gadis di depannya. Perlahan tangan keduanya mulai merenggang, sampai akhirnya keduanya hanya dihubungkan oleh ikatan mata. Ikatan yang tak dapat diartikan dengan mudah oleh oranglain.

“Kembali ke posisi semula!”

Suara lantang itu kembali terdengar. Kali ini semuanya kembali pada posisi mereka, tak terkecuali Min Ah dan Jae Hee. Keduanya kembali ke posisi semula dan bersiap untuk melanjutkan permainannya. Dan dengan tanda—dibunyikannya peluit oleh guru mereka—permainan pun kembali berlangsung.

Aku tak tahu bagaimana bisa aku mengatakan sesuatu seperti itu,

Semuanya mengalir begitu saja dari mulutku,

Terkadang kau tak bisa menebak apa yang akan kau katakan,

Entah itu merupakan sesuatu yang bagus atau bukan,

Tapi percayalah,

Kata maaf dan teman hanya akan menghasilkan sebuah penyesalah,

Penyesalan yang berangsur sangat lama.

“Bang Min Ah, giliranmu!”

Min Ah menganggukkan kepalanya seraya berlari pelan mengambil bola yang sempat melesat keluar dari lapangan. Setelah kejadian itu Min Ah mulai bermain dengan santai—meskipun masih dengan semangat yang menggebu-gebu. Tapi gadis itu yakin, semuanya akan baik-baik saja.

Karena menurutnya, menepis bola dengan kepala merupakan hal yang baik, dan jika gadis itu mati karena melakukan hal itu maka gadis itu salah. Karena sesungguhnya, kebaikan hanya akan mendapat hasil yang baik pula.

Min Ah mengambil bola dan meletakkannya di sudut lapangan. Gadis itu kemudian mengatur posisinya dan siap menendang. Ketika gadis itu berhasil melakukannya, bola melesat membentur tiang gawang dan melambung tinggi. Membuat semua mata terpaku padanya.

“Apa?” tanya Min Ah menanggapi tatapan yang mengarah padanya,

Beberapa dari mereka menjatuhkan diri untuk merenggangkan otot kaki, dan sebagiannya lagi berusaha untuk menetralkan napas mereka. Sementara Min Ah, masih menatap dalam diam semua teman-temannya.

“Min Ah-ah,” sahut salah seorang temannya. “Kau yang membuat bola itu melambung tinggi, kau juga yang harus bertanggung jawab.”

Min Ah mengangkat bulu matanya. “A—aku?”

“Ya. Tentu saja kau, kau pikir siapa lagi?”

Min Ah memainkan bibirnya, “Kupikir itu tugas seorang kiper.”

“Kami semua lelah, hanya kau yang kelihatannya masih memiliki semangat. Jadi, ini saatnya kau menggunakan semangat dalammu.”

“Ah iya,” tanggap Min Ah, matanya mengamati satu persatu temannya yang berada di dalam lapangan. “Baiklah, akan kulakukan.”

Min Ah memerintahkan kakinya untuk berlari kecil menuju tempat bolanya mendarat. Dengan senyum dan senandung kecil, ia pergi keluar dari lapangan untuk mencari bola tersebut.

“Min Ah-ya,” panggil Ji Eun ketika Min Ah melewatinya. “Kau pasti bisa menemukannya!” katanya memberikan semangat.

Min Ah tersenyum, “Tentu saja.”

Tepat setelah dua kata tersebut Min Ah kembali menggerakkan kakinya. Meskipun tak tahu pasti letak bola yang sebelumnya ia tendang, tapi Min Ah bisa mengingat jelas arah pantulan bola itu.

***

Min Ah melanjutkan langkah lebarnya. Setelah memutuskan untuk berhenti berlari, gadis itu memilih untuk berjalan santai tapi dengan langkah yang—bisa dibilang—besar.

“Di mana bola itu?” tanya nya pada dirinya sendiri, sementara kepalanya terus berputar dan menjelajahi sekelilingnya.

Min Ah mencoba menajamkan matanya sambil terus memutar pandangannya. Senyum gadis itu masih setia menemaninya, seakan-akan menyemangatinya dan menghapus segala emosi yang sejak tadi ditahannya.

“Kau mencari ini?”

Sebuah suara dari arah yang berbeda menghentikan langkah Min Ah. Dengan cepat, gadis itu memutar tubuhnya dan menatap pemandangan di hadapannya dengan wajah yang berbeda: datar tanpa ekspresi.

“Kau mencari bola ini?” tanya suara itu lagi. Suara itu terdengar lembut dan riang. Selain itu, pemiliknya juga mengatakan hal itu dengan senyum yang terpampang di wajahnya.

Min Ah mengerjapkan matanya beberapa kali. Setelah akhirnya berhasil mengumpulkan kesadarannya, gadis itu memilih untuk menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan siapa yang tahu kalau sikap gadis itu dapat merubah raut wajah gadis itu.

Ekspresi datar yang sebelumnya muncul dan menghiasi wajah Min Ah berhasil menghilang dengan beberapa gelengan. Kini, gadis itu menatap laki-laki di hadapannya dengan senyum lebar yang membuat matanya ikut tersenyum. Tanpa tahu apa yang di rasakannya, ia pun melangkah perlahan mendekati laki-laki itu.

“Bang Min Ah!”

Langkah Min Ah terhenti ketika sebuah suara dari arah yang berlawanan meneriakkan namanya. Meski sedikit ragu, ia pun memutar kepalanya dan menatap teman-temannya yang tengah beristirahat sambil menatapnya heran.

“Ada apa Ji Eun—ah?” tanya Min Ah dari tempatnya—sedikit berteriak untuk memastikan pendengaran Lee Ji Eun.

“Lama tak jumpa, Bang Min Ah.”

Untuk yang kesekian kalinya, Min Ah mendengar namanya kembali disebut. Namun kali ini jelas berbeda. Suara yang menyebut namanya terdengar rendah tapi tetap lembut. Menyadari pemilik suara tersebut adalah laki-laki di hapadannya, Min Ah pun kembali memutar tubuhnya tanpa menunggu jawaban Ji Eun.

Min Ah tersenyum lebar, mulutnya berusaha untuk mengeluarkan suara atau mengatakan sesuatu tapi terhenti ketika laki-laki itu mendahuluinya.

“Kau benar-benar tidak berubah, Min Ah—ah.”

“Kau juga,” ucap Min Ah, “Masih sama seperti Do Kyung Soo yanglalu.”

***

 

“Bagaimana sekolahmu?”

Min Ah menghembuskan napasnya, mencoba mengendalikan dirinya dan berusaha mengatur raut wajahnya yang semakin lama semakin tak menentu. Walaupun sebenarnya bukan hanya raut wajahnya yang ia atur, tapi juga hatinya.

“Tak ada yang spesial,” jawab Min Ah. “Tapi setidaknya aku bersyukur. Bagaimana denganmu?”

Laki-laki yang mendapat pertanyaan terdiam sejenak. Melihat sikap dan reaksi laki-laki itu Min Ah dapat menyimpulkan jawaban dari pertanyaannya. Meski tak mengatakannya, Min Ah sudah bisa menebak semuanya.

“Kau tak perlu menjawabnya kalau kau tak mau.” Kata Min Ah menyadarkan laki-laki itu dari pikirannya. “Aku sangat mengenalmu, jadi sebaiknya tak perlu kau katakan.”

“Tidak ada yang menarik dari sekolahku,” ujar laki-laki itu seketika. “Kau sangat mengenalku dan aku juga sangat mengenalmu. Jadi jangan katakan hal-hal yang sangat kupahami, itu tidak menarik lagi untukku.”

Min Ah tersenyum, tak menjawab ataupun menanggapi perkataan laki-laki yang sebelumnya ia sebut sebagai Do Kyung Soo. Beberapa detik—bahkan menit—setelah kalimat panjang yang diberikan Kyung Soo, keduanya tak lagi bersuara.

Entah apa yang merasuk pikiran keduanya. Sejak pertemuan tadi, Min Ah lebih banyak diam. Walaupun wajahnya masih terlihat ceria, tapi tak ada yang tahu bagaimana perasaan atau batinnya berkata. Entah itu mengenai sesuatu yang buruk maupun yang baik.

Setelah berbasa-basi di pinggir lapangan, Min Ah mengajak Kyung Soo pergi. Gadis itu juga sudah meminta izin pada gurunya untuk berhenti bermain. Kemudian keduanya melangkah, menyeret kaki masing-masing menuju tempat yang lebih sepi dan nyaman.

Beberapa menit berjalan keduanya pun berhenti. Tanpa mengucapkan sepatah kata, keduanya memilih untuk duduk bebatuan. Tapi sepertinya mereka tidak benar-benar menduduki sebuah batu, karena dari tempat itu mereka bisa melihat tebing yang cukup dalam.

Min Ah memainkan wajahnya: memanyun-manyunkan bibirnya, mencubit kedua pipinya, dan menekan pipinya. Sedangkan Kyung Soo, hanya menatap Min Ah heran tapi tak kunjung bersuara.

“Hei,” ujar Min Ah seketika. “Aku baru tahu kalau yang di bawah sana itu tebing. Kenapa aku baru melihatnya.”

Kyung Soo masih diam, antara tidak tahu harus mengatakan apa atau memang ia sengaja melakukannya. Tapi yang jelas, matanya tak diam ketika Min Ah berusaha untuk turun dari batu dan berjalan perlahan ke dalam tebing.

“Oh aku harus melakukan hal ini,” kata Min Ah.

Sementara Min Ah menggerakkan tubuhnya perlahan menuruni tebing, Kyung Soo menatap gadis itu dengan senyuman. Baginya, melihat Min Ah melakukan hal-hal aneh bukanlah hal yang baru. Karena sesungguhnya, Bang Min Ah memang gadis yang berbeda.

“Hei, Do Kyung Soo,” panggil Min Ah sambil terus menjaga keseimbangannya. “Apa kau tidak tertarik untuk turun ke bawah?”

Yang dipanggil tersenyum kecil dan menjawab, “Naiklah, kau bisa terjatuh.”

Min Ah menggerutu, kesal mendengar jawaban Kyung Soo yang tak seperti pikirannya. Gadis itu memajukan kepalanya, menatap tebing dengan tangan yang berpegangan pada salah satu ranting pohon.

“Hei,” teriaknya pada tebing. “Apa ada orang di sana?”

Tak ada jawaban, yang terdengar hanya suara Min Ah yang menggema. Selain itu, Kyung Soo pun tak menjawab. Ia hanya menatap Min Ah dengan tatapan meledek dan tertawa kecil di tempatnya.

“Apa menurutmu di bawah sana tidak ada penghuninya?” tanya Min Ah tanpa mengalihkan pandangannya.

“Kau pikir makhluk macam apa yang tinggal di sana?” respon suara di belakangnya. “Cepat naik.”

Min Ah memajukan bibirnya, meledek respon Kyung Soo yang—lagi-lagi—berbeda dengan pemikirannya. Sejujurnya Min Ah tahu jawaban Kyung Soo itu benar, hanya saja jawaban laki-laki itu bersikap seperti orang dewasa yang terlihat membosankan.

Tidak ingin memperpanjang masalah, Min Ah pun kembali mengumpulkan keseimbangannya dan berusaha mendakit tebing. Pelan tapi pasti, gadis itu berhasil duduk tepat di sebelah Kyung Soo.

“Kau masih tetap membosankan, Do Kyung Soo.” cibir Min Ah ketika ia berhasil menjatuhkan dirinya tepat di sebelah Kyung Soo.

Kyung Soo tertawa kecil, menatap Min Ah kemudian berkata, “Kau juga masih tetap bersemangat.”

“Oh, tentu saja.” Ucap Min Ah, “Kau harus terus bersemangat untuk melalui hidup.”

Tak ada jawaban dari Kyung Soo, laki-laki itu kini tersenyum menatap lurus pemandangan di depannya. Min Ah pun sama, menikmati sekaligus menyerap oksigen yang berada di sekitarnya.

Rasanya seperti berada di atas kapal,

Menatap dan menikmati keindahan alam,

Meski terlihat buruk tapi rasanya sangat baik,

Bukankah hal ini sama saja dengan cinta?

“Bang Min Ah,”

Min Ah menoleh, menatap Kyung Soo dengan senyum lebarnya. “Ya?”

Tanpa menoleh laki-laki itu bertanya, “Bagaimana kabarmu?”

“Aku?” tanya Min Ah memastikan. “Aku baik. Seperti yang bisa kau lihat, aku penuh dengan semangat—”

“Bagaimana dengan Nam Joo?”

Kyung Soo memotong ucapan Min Ah, memberikan pertanyaan yang—sepertinya—merupakan sebuah tendangan untuk Min Ah. Gadis itu tak menatap Kyung Soo, melainkan menatap lurus dengan senyum yang semakin lama semakin mengecil. Entah karena pipinya yang terasa lelah atau ia yang menghapus senyumnya.

“Aku tidak tahu,” jawab Min Ah perlahan, tapi berhasil membuat Kyung Soo menatapnya.

“Hari itu—tepat setelah aku dan Nam Joo lulus, kedua orangtuaku memutuskan untuk pindah. Mereka menginginkan aku melanjutkan sekolah di Seoul. Aku tak sempat melihatnya, dan waktu itu juga aku berpikir untuk tak melihatnya—”

“Kau tak perlu melanjutkannya,” ujar Kyung Soo, kembali memotong perkataan Min Ah. “Aku hanya bertanya, kau tak perlu menjelaskan semuanya.”

Min Ah tersenyum, pandangannya menerawang. Seakan-akan berusaha mengingat semua yang menjadi masa lalunya, semua yang selama ini ia simpan.

“Kupikir kau berhak tahu,” kata Min Ah, “Aku tak mau mengatakan kata maaf lagi nantinya. Aku tak mau menyesal untuk yang kedua kalinya.”

“Kau masih memikirkannya.”

Min Ah tersenyum, menoleh pada Kyung Soo dan menunggu laki-laki itu untuk balik menatapnya. Dan ketika mata keduanya bertemu, senyum keduanya pun juga bertemu.

“Aku selalu memikirkannya.”

***

Min Ah mendorong pintu ruang teater ketika seseorang memanggil namanya. Dengan sangat hati-hati, Min Ah pun kembali menutup pintu ruangan yang sempat ia buka. Tanpa berpikir panjang, ia pun memilih untuk melayani salah satu teman sekolahnya, Lee Jae Kyung.

“Ya! Lee Jae Kyung! Kenapa kau lari seperti itu?” tanya Min Ah ketika temannya berhasil berada di dekatnya.

“Ah—kau—ah,”

Min Ah menatap temannya heran, “Bicaralah yang benar, aku tak mengerti apa yang kau katakan.”

Jae Kyung memegang dadanya, berusaha mengatur napas yang masih tersendat.

“Yah, Do Kyung Soo-mu, ahh—”

Min Ah mengangkat alisnya, “Ada apa dengan Kyung Soo?”

“Diah—diah sedang mengungkapkan perasaannyah—Oh astaga!”

Jae Kyung memekik kaget ketika Min Ah—dengan tiba-tiba—menarik tangannya dan menahan kepalanya untuk sekedar mempertemukan mata keduanya.

“Ya! Apa kau gila?!”

Min Ah tak menjawab, gadis itu tak mengatakan kata apapun selain menunggu penjelasan teman di depannya.

“Di kelas—dia sedang menyatakan cinta pada Kim Nam Joo!”

Min Ah membelalakkan matanya, antara tak percaya dan terkejut dengan perkataan Jae Kyung. Dengan segera, ia melepas pegangannya di tangan Jae Kyung, dan melangkah pergi menuju tempat yang dikatakan Jae Kyung.

Dan benar saja, di sana ia bisa melihat dengan sepasang matanya sendiri. Tidak terlalu tepat memang, karena dari yang ia lihat: teman-temannya tengah mengerubungi Kyung Soo dan Nam Joo. Dari tempatnya berdiri, Min Ah bisa melihat setangkai bunga yang digenggam Nam Joo.

Merasa panas, ia pun kembali melangkahkan kakinya. Kali ini bahkan lebih cepat. Tanpa tahu tempat tujuannya, Min Ah memaksakan kakinya untuk berlari. Semangatnya menciut, bahkan senyum yang selama ini ia pertahankan pun menghilang.

***

Kyung Soo menatap Min Ah, tatapannya lembut namun intens. Senyumnya tak lagi terpampang dan wajahnya tak seceria yang sebelumnya. Berbeda dengan Min Ah yang duduk di sebelahnya tanpa memandangnya.

Min Ah menghela napasnya, berusaha menahan emosi yang tertahan dalam dirinya. Selain itu, ia juga tak ingin menunjukkan kesedihannya di depan Kyung Soo. Baginya semua hanya masa lalu. Masa lalu yang sudah berlalu sangat lama.

“Kau tidak malu menceritakannya?” tanya Kyung Soo perlahan.

Min Ah tersenyum, masih pada posisinya. “Malu untuk apa? Bukankah aku pernah melakukan sesuatu yang lebih dari ini sebelumnya?”

Kyung Soo tertawa kecil, “Aku tahu. Aku masih ingat semuanya.”

***

Kyung Soo melangkahkan kakinya perlahan. Senyum cerah menghiasi wajahnya yang tak kalah cerah. Setelah menemukan ruangan yang dituju, ia pun menghentikan kakinya dan meletakkan tangannya tepat di knop pintu. Berniat untuk membuka pintu dengan satu gerakan cepat ketika sesuatu menarik perhatiannya.

Dari tempatnya berdiri ia bisa mendengar sesuatu yang tak seharusnya ia dengar. Selain itu ia juga melihat sesuatu yang tak seharusnya ia lihat. Pada saat itulah ia bisa mengetahui semuanya: kebenaran, perasaan, dan kehidupan dari seorang Bang Min Ah.

“Kyung Soo—ah, apa yang kau rasakan hari ini?”

Kyung Soo terhenyak. Ia tahu benar pemilik suara itu, ia juga ingat benar kapan suara itu menanyakan hal tersebut. Namun hal yang tidak ia tahu benar adalah ia tak ingat kalau saat itu kedua orangtuanya merekam perayaan ulangtahunnya.

“Kyung Soo merasa benar benar senang!” suara yang berbeda terdengar dari dalam ruangan.

Suara demi suara terus terdengar dari dalam ruangan. Kyung Soo tak tahu kalau ia harus merasa tersentuh atau senang saat menonton wajahnya yang masih kanak-kanak. Saat ini satu-satunya organ tubuh yang bekerja adalah matanya.

“Min Ah juga senang!”

“Tentu saja. Sangat senang!”

Video di depannya menampilkan beberapa orang dewasa yang tengah menggendong anaknya. Kyung Soo tersenyum, ia ingat kejadian dimana kedua orangtuanya menggendongnya dan hampir memasukkannya ke kolam renang. Dan gadis kecil yang berada di video itu tertawa.

“Tenggelamkan saja dia bibi! Ayo tenggelamkan dia!” ujar gadis itu terus-menerus, sementara yang ditenggelamkan hanya bisa merengek meminta kedua orangtuanya untuk berhenti.

Kyung Soo tersenyum dan hampir tertawa melihat wajahnya ketika menangis. Ia tak pernah tahu kalau wajah Min Ah yang ada di dalam video itu terlihat sangat senang ketika melihat Kyung Soo kecil yang hampir tenggelam.

“Do Kyung Soo, wajahmu benar-benar buruk.”

Kyung Soo tersenyum ketika mendengar suara gadis yang berada di video itu. Tapi kali ini suaranya berbeda, lebih tegas namun tetap selembut dulu. Gadis itu sudah tumbuh dewasa dengan suara yang semakin lembut dan wajah yang tak kalah cantik.

“Apa aku benar-benar buruk?” tanya Kyung Soo pelan dari tempatnya, sangat pelan sehingga ia yakin Min Ah tak bisa mendengarnya.

“Tentu saja,” jawab gadis itu tanpa menolehkan kepalanya. “Kau semakin buruk, sangat-sangat buruk.”

Kyung Soo terkejut. Mengira-ngira apakah Min Ah benar-benar mendengar suaranya atau tidak. Tanpa memberikan jawaban, ia memilih untuk menggerakkan kakinya secara perlahan menuju tempat gadis yang berada di video itu tengah duduk dan memperhatikan video di depannya. Tak ada suara ketika ia berjalan, bahkan langkah kakinya pun tak terdengar. Yang ada hanya gumaman dari arah Min Ah.

“Kau buruk—laki-laki terburuk yang pernah ku kenal—” katanya dengan suara yang terdengar kesal.

Kyung Soo melanjutkan langkahnya. Masih belum memberitahu Min Ah mengenai keberadaannya. Senyumnya perlahan menghilang ketika mendengar suara gadis itu yang terdengar purau. Bahkan dari tempatnya, Kyung Soo bisa melihat bahu gadis itu yang bergetar.

“—Kau bodoh, sebenarnya apa yang kau pikirkan? Kenapa pergi semaumu, dasar bodoh—”

Suara gadis itu semakin purau. Selain itu, Kyung Soo juga bisa menangkap adanya isakkan di tengah ucapannya. Ia tak bisa menebak penyebab gadis itu menangis, tapi melihat dan mendengar gadis itu menyebutnya ‘bodoh’, ia bisa tahu kalau penyebab gadis itu menangis adalah dirinya.

“Bodoh—Do Kyung Soo bodoh!” teriaknya.

Seakan-akan tak bisa menahan dirinya, Kyung Soo lari menghampiri Min Ah. Gadis yang baru saja mengeluarkan suaranya untuk mengatainya ‘bodoh’ kini harus bertatap mata dengannya. Suaranya tertahan ketika melihat wajahnya, tapi tidak dengan air matanya. Air matanya mengalir semakin deras.

“Bodoh,” ujar Min Ah pelan tanpa melepas tatapannya.

“Kau bodoh apa yang kau lakukan di sini—siapa yang menyuruhmu ke sini—untuk apa kau di sini—sudah kubilang jangan muncul kalau kau sudah pergi—pergi—cepat sana pergi—”

Kyung Soo menatap Min Ah sedih. Ia tak tahu apa yang ia perbuat sampai-sampai Min Ah menyuruhnya untuk pergi. Selain itu ia juga tak mengerti dengan ucapan Min Ah yang menyebut kalau dirinya sudah pergi. Bukankah saat ini Kyung Soo sedang bersama Min Ah?”

“Aku tidak akan pergi,” ujar Kyung Soo pelan.

“Kau—”

“Ya. Aku tidak akan pergi.”

Keduanya bertatapan lama. Sementara Kyung Soo berusaha mencerna semua yang dikatakan Min Ah, di tempatnya Min Ah juga melakukan hal yang sama. Meski dalam arti yang berbeda, tapi tujuan keduanya sama: sama-sama menginginkan kebersamaan.

***

“Hei Do Kyung Soo, apa yang membuatmu datang ke sini? Apa kau bermaksud melakukan pengamatan tentang tubuh wanita? Seperti yang waktu itu.”

Kyung Soo tertawa, “Kau gila.” Komentarnya.

“Kalau begitu kau lebih gila.”

Tak ada jawaban langsung dari Kyung Soo. Keduanya kembali menatap tebing di depan mereka, sampai akhirnya Kyung Soo kembali bersuara.

“Aku merindukan teman kecilku,”

Min Ah menoleh, “Benarkah—Oh tidak, maksudku. Apa kau bercanda?”

Kyung Soo mengangguk di tempatnya sebelum menoleh dan berkata, “Aku sendiri tidak percaya kalau aku merindukanmu.”

“Hei Do Kyung Soo, Apa kau sedang merayuku? Ah, bagaimana bisa aku termakan rayuanmu—”

“Kau sudah pernah termakan sebelumnya,” potong Kyung Soo.

Min Ah membuka mulutnya. Bermaksud untuk mengelah ketika Kyung Soo lebih dulu menambahkan, “Aku berencana untuk membuatmu kembali termakan rayuanku, Bang Min Ah.”

“Kau tidak akan bisa,” kata Min Ah, “Sudah dapat kupastikan kau akan gagal.”

Kyung Soo mendecak, “Kau tidak akan percaya kalau kukatakan aku ini seorang idola.”

“Idola apanya?” tanya Min Ah meremehkan, “Kau tidak lebih dari seorang Do Kyung Soo yang bodoh.”

“Aku bodoh karena kesalahanmu.”

“Memangnya apa yang kulakukan? Aku bahkan pernah mengerjakan tugasmu—”

“Kau tidak pernah mengatakan persaanmu,” potong Kyung Soo. “Hal itu membuatku menjadi sangat bodoh.”

Min Ah tak langsung menjawab. Gadis itu seperti mendapat tembakan—atau mungkin tendangan kebobolan—dari lawannya. Dalam diam, gadis itu menatap Kyung Soo dalam. Senyumnya juga tak secerah dan selebar sebelumnya.

“Itu sudah sangat lama,” ucap Min Ah. Kalimat pertama yang dikeluarkan Min Ah untuk menanggapi ucapan Kyung Soo.

Kyung Soo tak bisa kecewa. Ia juga tak bisa senang dengan jawaban Min Ah. Entah apa yang dia rasakan saat ini, tapi ia berharap untuk kembali ke masa-masa yang ‘sudah sangat lama’ itu.

“Kau menyembunyikan perasaanmu, tak peduli berapa lama kita berteman tapi kau terus menyembunyikannya. Bahkan saat kau histeris dan menyebutku bodoh, kau tidak juga mengatakan perasaanmu. Aku benar-benar bodoh bukan?”

Min Ah tersenyum, tak bisa menanggapi. Mungkin saat-saat seperti inilah ia harus menjadi seorang pendengar yang baik, meskipun hal yang harus di dengarnya merupakan sesuatu yang menyangkut dirinya sendiri.

“Kau selalu berada di sisiku—aku bahkan tidak ingat berapa lama aku memiliki waktu untuk hal pribadi, semuanya terasa seperti sama. Milikku adalah milikmu. Kau juga yang menemaniku—”

“Sudah kubilang semua itu hanya masa lalu. Tidak ada gunanya menyangkutpautkan masa lalu—”

“Tapi aku merasa menyesal dan tak berterimakasih padamu.” Potong Kyung Soo, “Kau yang berada di sisiku harus menangis karena kebodohanku—”

“Tidak,” potong Min Ah. “Seperti yang kau katakan, aku yang membuatmu bodoh. Jadi, semua itu mutlak kebodohanku. Tak ada gunanya menyesal.”

Min Ah menghembuskan napasnya dan menambahkan, “Kalaupun ada penyesalan, yang seharusnya itu aku. Aku yang memilih untuk merahasiakan perasaanku dan membiarkan kalian berdua pergi. Aku yang selalu berpikir bahwa Nam Joo adalah kebahagiaanmu. Semuanya salahku.

“Sampai akhirnya aku berpikir kalau teman dan maaf tak bisa bersatu. Aku tidak mau mengecewakan kalian dengan mengatakan kata maaf, karena menurutku diantara teman tak perlu kata maaf. Maaf hanya akan membuatmu merasa menyesal—terlebih jika itu terhadap seorang teman. Itu yang membuatku menarik diri darimu, atau dari siapapun.

“Tapi sudahlah, tak ada yang perlu kau bahas mengenai masa lalu. Semua itu hanya akan mengundang kata maaf. Dan kau tahu, aku benci mendengar kata itu. Jadi—”

“Bang Min Ah,” panggil Kyung Soo perlahan. “Jangan membahas teman ataupun maaf.”

“Kenapa? Aku hanya ingin kau tahu pemikiranku.”

“Karena itu menggangguku.”

Min Ah tak menjawab. Kalau sesuatu yang ia katakan atau lakukan hanya akan mengusik kenyamanan oranglain, maka ia akan diam.

“Kau diam,” ucap Kyung Soo mengungkapkan sikap Min Ah, “Seharusnya kau meminta maaf.”

“Kau tahu aku—”

“Apa itu tandanya kau masih menganggapku temanmu?”

Min Ah menoleh, menatap wajah Kyung Soo lembut.

“Dengar Bang Min Ah,” kata Kyung Soo tegas, suaranya terdengar serius dan memaksa. “Aku menanyakan hal ini bukan karena Kim Nam Joo, tapi apa kau benar-benar tak ingin memulai semuanya?”

Min Ah mengangkat alisnya, “Memulai?”

“Ya.”

Masih bingung ia bertanya, “Semuanya?”

“Ya.”

Min Ah tersenyum lebar, “Aku tak mengerti.” Katanya seraya tertawa.

“Oh—begini—maksudku, bagaimana kalau kita memulai semua yang sudah sangat lama itu?”

“Maksudmu kenangan kita?”

Kyung Soo mengangguk-angguk yakin, “Tentu saja.”

“Astaga Do Kyung Soo, kau sangat aneh.”

“Kau yang membuatku terlihat aneh.”

“Oh tidak, kali ini kau benar-benar aneh karena sikapmu. Lihatlah!”

Kyung Soo tertawa, “Bagaimana bisa aku melihat wajahku sendiri. Aku butuh cermin, Bang Min Ah.”

“Kalau begitu pulanglah—kau terlihat sangat buruk.”

“Berapa kali harus kukatakan, kau yang membuatku terlihat seperti ini.”

Min Ah tertawa, begitu pula Kyung Soo. Keduanya tertawa bahagia, seakan-akan melepas kerinduan akan masa-masa muda mereka. Beberapa menit keduanya habiskan dengan beradu mulut: saling mengejek dan membahas masa lalu.

“Kyung Soo-ah, apa yang kau rasakan hari ini?” tanya Min Ah ketika keduanya kembali menatap lurus ke depan.

Kyung Soo menatap Min Ah tertegun. Bibirnya terbuka untuk mengatakan sesutu ketika tiba-tiba salah satu tangannya mengepal dan terangkat.

“Do Kyung Soo benar-benar senang!” ujarnya kekanak-kananakan.

Min Ah menoleh, sama seperti reaksi Kyung Soo sebelumnya: tertegun. Ia ingat ketika dirinya menjawab pertanyaan yang diajukan orangtua Kyung Soo. Tanpa sadar, keduanya seakan-akan ingat kejadian hari itu. Hari dimana Kyung Soo menangis bahagia dan Min Ah tertawa bahagia, hari dimana Kyung Soo dan Min Ah saling berbagi kebahagiaan.

Dengan senyum yang mengembang dan tangan yang juga terkepal. Min Ah mengangkat tangannya ke udara layaknya anak-anak.

“Min Ah juga sangat senang!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s