Happiness (Chapter 12)

Happiness.

Genre  : Romance.

Rating : NC-21

Cast     : Kim Myung Soo–Jung Eun Ji–other cast as showing.

Part 12

Ruangan sederhana dengan barang yang seadanya menjadi sasaran cahaya matahari pagi. Melalui jendela yang bermodalkan tirai berwarna coklat muda, matahari—dari tempatnya—terus memaksakan dirinya untuk masuk dan mengganggu mereka-mereka yang tengah asik terlelap.

Myung Soo mengerjapkan matanya perlahan, berusaha menerima cahaya yang mengganggu tidurnya. Dan ketika matanya berhasil beradaptasi, objek di depannya langsung mencuri perhatian. Seakan-akan tak bisa menunggu untuk sekedar mengagumi pemandangan di depannya.

Ini yang ketiga kalinya, ucap Myung Soo dalam hatinya. Ia selalu terlambat bangun.

Mata Myung Soo menyapu bersih wajah terlelap Eun Ji, memperhatikan setiap lekuk bentuk wajah—bahkan garis wajah gadis itu. Tak ada suara atau komentar yang keluar dari mulut laki-laki itu, hanya senyum cerah yang dengan setia menemani laki-laki itu.

Pengamatan Myung Soo terus berlanjut. Satu-demi-satu indera Eun Ji berhasil menjadi pusat pengamatan Myung Soo: mata, hidung, pipi, kening, bahkan alisnya. Hingga—tanpa sadar—pengamatannya beralih pada bibir gadis di depannya. Senyumnya perlahan memudar, sementara matanya tak berkedip sedikitpun.

Myung Soo memperbaiki posisinya. Selain memperkecil jarak keduanya, Myung Soo juga memperintens tatapannya. Tanpa senyum di wajahnya, Myung Soo masih memusatkan pandangannya pada bibir Eun Ji. Tak ada pergerakan lain, baik dari tempatnya atau tempat Eun Ji. Keduanya hanya melanjutkan aktivitasnya.

Sampai pada akhirnya laki-laki itu menyerah.

Myung Soo menarik napasnya perlahan. Masih dalam posisi yang berhadapan dengan Eun Ji, ia kembali menatap wajah gadis itu. Kali ini tatapannya berbeda; lebih lembut dan tak terpusat.

Kau benar-benar menganggu Jung Eun Ji.

Gumaman Myung Soo seakan menjadi tanda dimulainya sesuatu yang berusaha ditahannya sejak kemarin. Dengan sigap Myung Soo mengambil posisinya: memajukan wajahnya sedikit-demi-sedikit sampai akhirnya matanya benar-benar tertuju pada bibir gadis di hadapannya.

Tak ada gumaman atau permintaan maaf atas tindakan yang akan dilakukannya. Otaknya seakan-akan tak berfungsi lagi untuk menghentikan kegiatannya. Matanya mulai terpejam, sementara tangannya perlahan bergerak naik dan menyentuh pipi gadis di depannya.

Hanya tersisa beberapa jarak sampai bibir keduanya berpaut—jarak yang tak mencapai 1 milimeter.

Dan benar saja, ketika jarak itu hampir terhapus, Eun Ji menunjukkan reaksinya.

***

 

“Apa kau gila?!”

Eun Ji mengeluarkan tiga perempat dari kemampuan suaranya pada Myung Soo, sementara yang diteriaki hanya menatap dan mengerjap beberapa kali—salah tingkah.

“Kau—” Eun Ji mengeram kesal, “Sudah berapa kali kukatakan jangan berbuat semaumu—Ohh astaga, sebenarnya apa yang kau pikirkan bodoh.”

Suara Eun Ji mengisi ruangan tersebut. Gadis yang tengah berada di atas tubuh Myung Soo itu terus saja mengeluarkan isi hatinya tanpa memikirkan kondisi. Selain itu, fakta bahwa bokongnya menempel dengan tubuh Myung Soo juga tak disadari.

“Hei Kim Myung Soo lihat aku, tatap mataku—apa aku terlihat bercanda? Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini? Sudah kubilang aku tidak ingin membuat anak—”

“Ssstt,”

Eun Ji menghentikan ocehannya. Tepat ketika itu terjadi perang mata. Baik mata Eun Ji maupun Myung Soo, keduanya saling menyipit dan beradu. Keduanya berperang tanpa suara, seakan-akan dunia hanya milik keduanya.

Beberapa menit berlalu keduanya masih mempertahankan perang itu, bahkan Eun Ji—yang sebelumnya mengoceh—pun tidak mengeluarkan satu kata dalam perang tersebut. Entah apa yang membisukan gadis itu. Apa mungkin pengaruh tatapan Myung Soo?

Myung Soo menunjukkan arah dengan menggerakkan kepalanya, perlahan Eun Ji memutar kepalanya mengikuti arah yang ditunjukkan laki-laki itu. Dengan mata yang masih menyipit Eun Ji memperhatian sudut ruangan yang sebelumnya ditunjuk Myung Soo. Tidak ada apa-apa di sana, apa ia baru saja dibohongi?

Belum sempat Eun Ji memuat kembali kepalanya, sesuatu yang berada di bawah tubuhnya bergerak—atau tepatnya dirinyalah yang bergerak mundur.

“Oh astaga—”

Eun Ji yang terkejut dengan gerakan Myung Soo langsung saja menempelkan tangannya di tubuh Myung Soo. Gadis itu hampir saja jatuh karna kehilangan keseimbangan.

Sementara itu, di depannya, kini terpampang dengan jelas wajah seorang Kim Myung Soo. Eun Ji tidak tahu pasti bagaimana cara laki-laki itu membuatnya berada dalam posisi seperti ini; menduduki kedua sisi paha Myung Soo, dengan kaki yang melingkar di pinggang Myung Soo.

“Kau gila.”

Itu bukan pertanyaan, tapi sebuah pernyataan yang keluar dari mulut Eun Ji ketika menyadari posisi keduanya. Entah sudah yang keberapa kalinya gadis itu menyebut laki-laki di hadapannya gila, yang pasti laki-laki itu sedikitpun tidak merasa terganggu atau marah.

“Kau yang memulainya,” ujar laki-laki itu.

Eun Ji menyipitkan matanya, kesal sekaligus tidak memahami perkataan Myung Soo. Bukankah dia benar-benar menyebalkan?

“Dengan naik di atas tubuhku,” ujarnya lagi, seakan-akan menjawab kebingungan Eun Ji.

“Apa—Oh tunggu!” sergah Eun Ji, “Kau salah paham.”

Myung Soo menatap Eun Ji, senyum jahil muncul di wajahnya, “Aku tidak menerima salah paham, Jung Eun Ji.”

Eun Ji menyipit, membuka mulutnya dan berniat membantah ketika sesuatu yang lembut lebih dulu mengunci bibirnya rapat-rapat. Dengan keterkejutan yang menimpanya, ia berusaha melepas sesuatu itu dengan mendorong tubuh di depannya.

“Myung—”

Eun Ji mengerahkan kekuatan yang dimilikinya. Selain berusaha mendorong tubuh Myung Soo, ia juga berusaha menghentikan laki-laki itu dengan menyebut nama laki-laki itu. Bagaimanapun juga, menggunakan kekuatan fisik—dengan mendorong tubuh Myung Soo menjauh menjauh—merupakan hal yang sedikit mustahil mengingat posisi tubuh mereka yang menempel.

“Yah—kaong—” ucap Eun Ji tertahankah.

Di satu sisi, gadis itu tidak berniat untuk mengeluarkan suara. Karena menurutnya suara yang akan keluar—saat Myung Soo menahan bibirnya—hanya akan terdengar seperti desahan desahan kecil tak tertahankan. Tapi di sisi lain, ia harus bebas bukan?

Myung Soo masih sibuk dengan aksinya ketika Eun Ji berusaha memukul dada laki-laki itu. Bahkan gadis itu tak sungkan-sungkan untuk mencakar punggung, bahu, ataupun dada laki-laki di depannya. Seakan-akan Myung Soo memang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu.

Ciuman yang diterima Eun Ji tidak sebuas ciuman-ciuman yang pernah diberikan Myung Soo ketika dalam keadaan terpepet. Namun, ciuman itu cukup kuat untuk sekedar menahan bibir Eun Ji yang sebelumnya dapat bergerak bebas.

“Myung—Ahh,”

Gadis itu mendesah keras. Bibir Myung Soo berhasil terlepas dari bibirnya, tapi hal itu tak menjamin akhir dari permainan. Dengan napas yang tersenggal-senggal, Eun Ji menyandarkan kepalanya tepat di bahu Myung Soo. Bukan untuk memberikan dirinya, tapi untuk mengumpulkan kekuatan dan kembali mengelak dari permainan laki-laki di hadapannya.

“Myung Soh cukuph—” katanya pelan.

Sementara si korban sibuk mengumpulkan oksigen, si pelaku justru tengah asik melakukan observasi terhadap leher korban. Tanpa ragu, Myung Soo mencicipi setiap sudut leher kiri Eun Ji; menciuminya, menjilatnya, bahkan sampai menggigitnya.

“Ahh—”

Eun Ji mendesah tak terhankan ketika Myung Soo kembali menggigit lehernya. Ia tak yakin apa ia masih bisa mengelak atau menyerahkan dirinya saja. Yang pasti, saat ini, ia terus berusaha untuk tidak terbawa suasana.

“Kau gilahh—Dengar aku Kim Myung—Oh astaga, berhenti melakukan itu!”

Eun Ji menggerakkan tangannya dan mendorong tubuh Myung Soo dalam satu sentakkan. Namun sia-sia saja. Bukannya memperbesar jarak, Eun Ji justru memperkecil jarak keduanya, sehingga tubuh depan keduanya semakin menempel.

“Cukup su—Berhenti menjilat kau anjing bodoh!”

“Ohh—Itu menggelikan—hentikan hentikan—ku moh—auw—”

Setiap kata yang keluar dari mulut Eun Ji terdengar tidak sempurna. Selalu ada kata yang terlewatkan atau mungkin tergantikan dengan kata yanglain. Sepertinya penjelajahan Myung Soo terhadap pundaknya benar-benar membuatnya kehilangan kendali.

Atau mungkin ia memang menginginkan itu semua?

Beberapa detik—atau bahkan menit—berlalu seperti itu. Sampai akhirnya Myung Soo membebaskan Eun Ji dari permainannya, tapi tetap mengunci posisi mereka. Dalam posisi yang sama, Myung Soo menyandarkan kepalanya tepat di pundak kiri Eun Ji. Kali ini tanpa pergerakan, hanya sekedar bersandar dan menikmati wangi tubuh Eun Ji.

Eun Ji sendiri tidak berkomentar. Ia menyerahkan pundaknya begitu saja, seakan-akan pundak kirinya merupakan bayaran atas permainan Myung Soo. Dan begitulah keduanya, bersandar pada pundak masing-masing pasangan sambil terus mengumpulkan oksigen.

“Ahh,” desah Eun Ji diiringi dengan pergerakan tubuhnya; membenarkan posisi duduknya.

Dengan tangan—yang sejak kapan—melingkar di leher Myung Soo, Eun Ji tak henti-hentinya membenahi posisi duduknya. Sesuatu di bawah tubuhnya terasa dingin dan basah, membuatnya terus saja merasa tidak nyaman dengan posisinya.

Eun Ji menggenggam masing-masing tangannya yang melingkar pada leher Myung Soo. Kemudian ia kembali membenamkan kepalanya di pundak Myung Soo tanpa mangatakan permisi atau kata lainnya, seakan-akan pundak Myung Soo memang miliknya. Sama seperti yang dilakukan Myung Soo.

“Kau basah,” komentar Myung Soo.

Eun Ji tidak terkejut. Hal yang dikatakan Myung Soo bukanlah sesuatu yang besar dan bukan pula sesuatu yang harus dipermasalahkan. Lagipula, siapa tahu kalau ia akan seperti itu? Bukankah itu keinginan Myung Soo?

“Apa kau senang?” tanya Eun Ji ketus.

“Aku tidak tahu—”

Eun Ji menggerakkan tangannya, mendorong tubuh Myung Soo sekaligus memotong ucapan laki-laki itu. Ia berkeyakinan kalau laki-laki itu bermaksud untuk meminta maaf. Tapi untuk apa?

Setelah mendorong tubuh Myung Soo, keduanya mendapat sedikit jarak. Selain melepas tubuh mereka—yang sebelumnya menempel—keduanya juga mendapat kesempatan untuk menatap wajah dan mata satu-sama-lain. Yah, walaupun wajah keduanya nampak kacau.

“Kim Myung Soo,” panggil Eun Ji lembut. “Kau keterlaluan sekali.”

Tidak ada penekanan dalam kalimat yang dikatakan Eun Ji. Nama bicaranya juga terdengar lembut dan halus, seakan-akan gadis itu tidak ingin melukai seseorang di hadapannya. Selain itu raut wajahnya juga berbeda—jauh berbeda dengan seseorang yang tengah menahan emosi, kesal, ataupun marah.

“Apa kau marah?” tanya Myung Soo, tak kalah lembut dari Eun Ji.

“Bagaimana menurutmu?”

“Aku tidak tahu,” jawab Myung Soo. “Aku tidak bisa menebaknya.”

“Benarkah?”

Eun Ji tak langsung mendapat jawaban. Matanya menerawang menatap mata laki-laki di hadapannya. Meski berhasil memberi sedikit jarak antara keduanya, hal itu tak melepas kontak mata keduanya. Bukankah suatu perasaan bisa muncul dari tatapan?

“Kalau begitu tatap aku,” kata Eun Ji yang mendapat dengusan dan tawa kecil dari laki-laki di hadapannya.

“Kim Myung Soo tatap aku—aku serius,”

Eun Ji menggerakan tangannya, mencoba menahan wajah Myung Soo yang masih saja mengalihkan tatapannya. Selain itu, laki-laki itu juga mengendus tanpa alasan. Apa begitu sulit untuk sekedar bertatap mata?

Beberapa detik berlalu hanya untuk mempersatukan tatapan kedua pasang mata tersebut. Ketika Myung Soo mengelak, tak ada suara. Dan ketika Myung Soo sudah tidak mengelak, masih tak ada suara. Apa Myung Soo begitu menyesal?

Mata keduanya beradu. Tatapan yang tajam namun tetap lembut. Terdapat berbagai perasaan di dalamnya; senang, sedih, haru, kecewa, bahkan menyesal. Perasaan yang hanya dapat dirasakan oleh dua umat yang kini bertatapan.

“Apa kau menyesal karena menciumku?”

“Tidak—”

Eun Ji meletakkan telunjuknya tepat di bibir Myung Soo, “Jangan bicara. Aku tidak memintamu untuk bicara. Cukup tatap aku.” Katanya.

Myung Soo kali ini diam. Matanya mengikuti gerak-gerik bola mata Eun Ji yang kini menatapnya tajam. Keduanya terikat oleh tatapan.

“Kim Myung Soo, tingkahmu benar-benar aneh.” Komentar Eun Ji, “Semua yang kau lakukan terlihat memaksa. Sebenarnya ada apa denganmu? Apa kau haus wanita?”

Eun Ji memindahkan kedua tangannya. Perlahan tapi pasti kedua telapak tangannya berhasil menyentuh kedua sisi pipi Myung Soo. Menyentuhnya dengan kelembutan yang mewakili seluruh perasaannya.

Myung Soo, di tempatnya, mematung dan tidak langsung merespon perbuatan Eun Ji. Seakan-akan sentuhan Eun Ji berhasil membekukannya dan merusak kerja sistem saraf. Tapi, tak sedikitpun mengganggu sistem kerja matanya.

“Kali ini jawab aku,” ujar Eun Ji. “Siapa kau—Apa kau benar-benar Kim Myung Soo yang aku kenal? Apa yang membuatmu bersikap liar? Bagaimana kau memandangku—Apa aku sama dengan wanita-wanita lainnya yang berada di club? Atau—”

Eun Ji menghentikan pertanyaannya ketika sesuatu berhasil menahan salah satu tangannya yang berada di pipi: tangan Myung Soo berhasil mencengkram tangan kanan Eun Ji.

“Berapa banyak pertanyaan yang harus ku jawab?” tanya Myung Soo.

Eun Ji tertawa kecil, tanpa sadar bibirnya tertarik. “Banyak, sangat banyak.”

“Kalau begitu biar kujawab semua itu dengan satu kata.”

“Apa kau bercanda? Salah kalau kau pikir aku bermain-main denganmu—”

“Baiklah, dua kata.” Potong Myung Soo.

Eun Ji mendengus, menarik tangannya yang bebas dan menghentakkannya tepat di salah satu sisi dada Myung Soo. Gadis itu menundukkan kepalanya, menunjukkan ketidakpeduliannya dan kekesalannya pada jawaban Myung Soo.

Cium aku,”

Eun Ji terhenyak. Dengan kepala yang tertunduk dan kontak mata keduanya yang terlepas, cukup membuat Eun Ji merasakan keseriusan dalam suara Myung Soo. Tapi gadis itu tak langsung menjawab, bahkan reaksinya terbilang lama untuk sekedar mencium laki-laki di hadapannya.

“Apa itu sulit? Atau kau takut?” tanya Myung Soo.

Gadis itu sepertinya tak tahu bagaimana caranya bereaksi. Untuk sekedar mencium laki-laki di depannya gadis itu membeku. Lidahnya bahkan kelu untuk sekedar menjawab pertanyaan laki-laki itu. Apa roda baru saja berputar?

“Jung Eun Ji—”

“Jangan panggil aku seperti itu,” respon Eun Ji cepat seiringan dengan matanya yang kembali bertemu dengan mata laki-laki di hadapannya.

“Bagaimana perasaanmu?” tanya Myung Soo.

Tidak ada jawaban dari Eun Ji. Gadis itu kembali membisu dengan pertanyaan yang dilontarkan Myung Soo. Meski matanya sudah berada di posisi awal, tapi hatinya seakan-akan ragu untuk tinggal pergi. Entah apa yang dirasakan Eun Ji, gadis itu hanya bisa diam.

Beberapa detik—atau bahkan menit berlalu. Terjebak dalam keadaan sunyi bukan sesuatu yang baru bagi keduanya. Hanya saja tak ada jawaban untuk pertanyaan yang dilontarkannya merupakan sesuatu yang baru untuk Myung Soo. Biasanya laki-laki tampan itu akan selalu mendapati kebenaran dengan mudah.

Eun Ji tak bergerak. Hal ini—entah sejak kapan—berhasil menarik Myung Soo untuk memberikan gerakan. Perlahan tapi pasti jarak keduanya mengecil. Hingga sampai pada saat bibir keduanya kembali bertemu dan saling berbagi. Sampai pada keduanya menemukan jati diri mereka.

Namun sepertinya pikiran Eun Ji berbeda. Karena detik berikutnya gadis itu mengalihkan wajah dan tidak berani menatap Myung Soo. Napasnya juga tersenggal. Tingkahnya seperti seseorang-yang-menginginkan-ciuman-itu-namun-juga-tak-menginginkannya.

“Aku tidak bisa—Oh sungguh ini semua salah,” kata Eun Ji kesal.

Emosi Eun Ji tak terkendal. Perasaan gadis itu seakan-akan sedang kesal tapi wajahnya terlihat sedih. Matanya terasa panas, dan tanpa sadar sejaktadi ia menahan air matanya. Eun Ji benci menangis, sungguh. Gadis itu benci mengetahui dirinya yang terus saja menangis ketika berada di depan Myung Soo. Ia membenci dirinya yang terlihat lemah di depan Myung Soo.

“Maaf—”

“Oh tidak—jangan katakan itu—kumohon,” sela Eun Ji tepat.

Eun Ji kembali menatap Myung Soo. Dengan air mata yang berusaha ia tahan mati-matian, Eun Ji mempersatukan kontak mata keduanya.

“Jangan katakan apapun—sungguh, kau tidak salah.” kata Eun Ji, suaranya terdengar purau.

“Jangan tahan air matamu,” komentar Myung Soo.

Eun Ji menegadah sejenak, “Tidak tidak, aku tidak akan menangis kali ini.”

“Kalau begitu apa?”

Kembali ke dalam suasana yang sunyi, keduanya terikat oleh tatapan. Baik Myung Soo dan Eun Ji, keduanya memperhatikan mata di depannya. Tak ada suara yang keluar sampai Eun Ji mengerjap dan menatap Myung Soo dengan tatapan yang lebih serius.

“Bodoh,” kata pertama yang keluar dari mulut Eun Ji. “Berapa kali kau akan mengatakan kata maaf?”

“Sampai kau—”

“Jangan jawab,” potong Eun Ji. “Kali ini dengarkan aku. Cukup dengarkan, tak perlu menjawab karena aku tidak akan memberikanmu pertanyaan.”

“Kim Myung Soo, bagiku menyentuh bibirmu bukan sesuatu yang sulit. Kau bahkan tahu bibirku sudah menyentuh beberapa—atau mungkin—semua bibir laki-laki di Korea. Aku tidak sempurna—”

“Apa itu masalahmu?”

Eun Ji mendesah, “Sudah ku bilang jangan potong perkataanku. Aku belum selesai bicara.”

Myung Soo diam. Tak menjawab ataupun merespon perkataan Eun Ji, baik dengan ucapan ataupun gerakan tubuh.

“Menyentuhnya saja bukan sesuatu yang sulit. Itu adalah hal yang sangat mudah,” aku Eun Ji, “Tapi menyatukan perasaanku ke dalam ciuman yang kau mau—itu sesuatu yang sulit. Bukan karena perasaanku yang berubah padamu, tapi karena sesuatu terasa mengganjal.

“Ini aneh. Seharusnya aku bisa meciummu—bahkan aku bisa saja menyerahkan tubuhku padamu. Seperti yang kau katakan, aku juga berpikir kalau ciuman yang kau inginkan dapat menjawab pertanyaanku. Tapi—” Eun Ji menggantung ucapannya.

Myung Soo memperhatikan. Dalam diam laki-laki itu menunggu Eun Ji untuk melanjutkan perkataannya.

“Tapi aku butuh penjelasan,” lanjut Eun Ji, “Bukan tindakan.”

Eun Ji meletakkan salah satu telapak tangannya di pipi Myung Soo. Menyentuhnya perlahan sambil terus menatap mata laki-laki di depannya.

“Kau akan mengatakan alasannya, bukan? Kau—kau juga pasti menjelaskan semua hal yang membuatmu seperti ini. Aku percaya kau akan mengatakannya. Benar bukan?

“Jujur saja, beberapa hari menghilang dari hadapanmu merupakan sesuatu yang tak terbayangkan. Tapi aku berhasil—maksudku aku berhasil hidup tanpamu. Yah, meskipun tak sepenuhnya. Tapi tetap saja, melihat sikapmu yang kacau seperti ini, ini menyakitkan—”

“Fakta bahwa aku mungkin saja kehilanganmu.” Potong Myung Soo, mengabaikan perintah Eun Ji.

Eun Ji kembali terhenyak. Tanpa sadar matanya mengeluarkan satu tetes cairan. Cairan bening tersebut mengalir dan membentuk sungai kecil tepat di pipi kanan Eun Ji.

Myung Soo menggerakkan tangannya, meraih pipi Eun Ji dan menghapus sungai tersebut perlahan, “Aku mungkin gila. Tapi fakta bahwa aku akan kehilanganmu jauh lebih gila.”

“Apa kau takut?”

“Apa aku berhak untuk merasa takut? Atau aku harus membiarkanmu?”

“Aku tidak tahu, tapi—” Eun Ji menghela napasnya, “Kumohon jangan takut.”

Myung Soo terdiam, sementara Eun Ji perlahan membelai pipi Myung Soo dengan jemarinya. Air mata yang sebelumnya sempat keluar dari mata Eun Ji kini menghilang. Tergantikan dengan suara gadis itu yang—masih—terdengar purau tapi juga menyemangati.

“Jangan pernah merasa takut,” kata Eun Ji. “Karena aku juga—”

“—karena aku juga—” Eun Ji menggantung perkataannya, tanpa sadar bibirnya tertarik.

“Karena aku juga tidak pernah merasa takut.”

***

 

Eun Ji menjatuhkan dirinya. Tepat saat gadis itu berhasil menyelesaikan kalimatnya, bibir keduanya bertemu. Entah siapa yang memulainya,tapi kali ini Eun Ji tak menolak. Gadis itu bahkan menggunakan salah satu tangannya untuk menekan tengkuk Myung Soo—memperdalam ciuman keduanya.

Eun Ji tidak sedikitpun mengelak. Gadis itu benar-benar menunjukkan keberaniannya dalam hal mencium-menggoda-dan-memberikan-kepuasan. Perang bibir itu keduanya jalani dengan perasaan yang tak bisa dimengerti; keserahakan, dan ketidaksabaran.

Keserahakan yang berarti keinginan untuk memiliki sepenuhnya, dan ketidaksabaran yang berarti keinginan untuk memiliki pasangan mereka dengan sesegera mungkin. Tidak aneh bukan jika keduanya merasakan hal seperti itu?

Keduanya terjebak dalam ciuman panas, mengabaikan posisi matahari yang semakin meninggi tiap detiknya. Eun Ji bahkan tak ingat dimana ia berada dan apa yang seharusnya ia lakukan. Bagi Eun Ji, bibir yang kini tengah menyerangnya bagaikan nikotin; memberikan efek ketagihan pada penggunanya.

Eun Ji menjerit tertahan ketika sesuatu terasa seperti melukai bibirnya. Gadis itu tanpa sadar membuka mulutnya, memberikan kesempatan pada Myung Soo untuk mengeksplor tiap sudut mulutnya.

Myung Soo sendiri sepertinya tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan cepat laki-laki itu memainkan lidahnya. Menciptakan keributan dengan memancing lidah Eun Ji untuk berperang.

“Nghh—” Eun Ji mengerang ketika sesuatu menyentuh pinggangnya. Sentuhan yang lembut dan berhasil membuatnya merasa geli sekaligus terangsang, namun tak terlalu berpengaruh pada ciuman keduanya. Lidah keduanya berpaut, saling beradu dan berkomukasi dalam bahasa mereka. Sesekali keduanya berhenti, mengambil napas sejenak seraya menatap wajah merah keduanya.

Eun Ji memejamkan matanya ketika keningnya dan kening Myung Soo bertemu. Sementara Myung Soo terus-menerus mengaguminya, gadis itu sibuk mengumpulkan oksigen. Setidaknya ia memiliki keinginan untuk tidak mati karena kehabisan napas karena berciuman.

Myung Soo juga memanfaatkan jeda mereka. Sesekali ia menghela napasnya, kemudian menjelajahi wajah Eun Ji dengan jari-jarinya, mulai dari kening, mata, hidung, sampai bibir gadis itu disentuhnya. Tanpa sadar sentuhan berubah menjadi kecupan.

Bunyi kecupan bibir keduanya terus terdengar. Meski hanya kecupan, namun suaranya terdengar jelas.Walaupun hanya sekedar kecupan, tidak mustahil jika mengundang beberapa desahan-desahan kecilatau bahkan desahan yang cukup panjang—dari keduanya.

“Kim Myung Soo,” panggil Eun Ji, suaranya cukup rendah dengan nada yang menggoda. “Aku lapar.”

Myung Soo tersenyum di tempatnya. Ditatapnya Eun Ji yang berada tepat di hadapannya. Laki-laki itu tertawa kecil dan menjawab, “Kapan terakhir kali kau makan?”

“Hmmm—Entahlah,” kata Eun Ji sambil menggerakkan pinggulnya.

Myung Soo memejamkan matanya sejenak. Wajahnya terasa panas ketika Eun Ji mengatakan sesuatu. Napas gadis itu—yang keluar bersamaan dengan perkataannya—berhasil mengirimkan sengatan-sengatan listrik yang memacu nafsunya.

“Apa kau benar-benar lapar?” tanya Myung Soo seraya memberikan kecupan lainnya tepat di bibir Eun Ji.

“Nghh—” Eun Ji mendesah, merasa geli dengan sesuatu yang menyentuh pinggulnya ketika Myung Soo memberikannya kecupan. Di tempatnya gadis itu berusaha mengangguk, memberikan jawaban atas pertanyaan Myung Soo.

Myung Soo menggerakkan tangannya, kemudian digenggamnya tangan Eun Ji dengan sangat erat. Dengan sekali pergerakan, laki-laki itu berhasil meraih kendali posisi mereka.

Dengan kedua tangan yang menggenggam pergelangan tangan Eun Ji erat, laki-laki itu kembali memulai ciuman panas keduanya. Perlahan tapi pasti, salah satu melepas pergelangan tangan Eun Ji dan bergerak naik.

Sementara si empunya tubuh sibuk membalas ciuman Myung Soo, kini salah satu tangan Myung Soo berhasil menempel lembut di pundak kiri gadis itu. Eun Ji tak berkomentar—atau tepatnya tak menyadari apa yang harus dikomentari.

Myung Soo menggerakkan tangannya yang berada di pundak Eun Ji perlahan, menimbulkan beberapa sengatan kegelian di pundak gadis itu. Respon Eun Ji cukup bagus: mengeluarkan desahan kecil diiringi dengan gerakan tubuh yang mampu menggoda Myung Soo.

Selesai bermain dengan pundak Eun Ji, Myung Soo beralih menggenggam pundak gadis itu. Salah satu tangannya mencengkram pergelangan tangan Eun Ji, dan satunya lagi menggenggam pundak gadis itu.

Dan bruk!

“Ya!” Eun Ji menjerit seiringan dengan punggungnya yang menyentuh permukaan kasur. Gadis itu membuka matanya dan menatap Myung Soo kesal, sementara yang ditatap hanya tersenyum tanpa perasaan bersalah.

“Maaf.” Ujar Myung Soo.

Eun Ji tidak menanggapi ucapan Myung Soo. Matanya beralih menatap tubuh Myung Soo yang kini berada tepat di atasnya: hampir menimpa dirinya. Gadis itu tak bisa berkomentar—atau tepatnya mengatakan komentar yang tepat—untuk posisi keduanya. Eun Ji bahkan tidak tahu bagaimana cara Myung Soo membuat keduanya berada dalam posisi seperti itu. Bagi Eun Ji semuanya terjadi begitu cepat.

“Kau bilang kau lapar,” ujar Myung Soo, mengalihkan pikiran Eun Ji. “Sejujurnya aku juga lapar.”

Tanpa menunggu jawaban Eun Ji— gadis yang kini berada dalam perangkap tubuhnya—, Myung Soo melayangkan sebuah kecupan tepat di kening Eun Ji. Hanya sebuah kecupan biasa. Kecupan biasa yang memiliki berbagai arti bagi kedua makhluk bumi tersebut.

Eun Ji masih diam di tempatnya. Gadis itu tidak bereaksi ketika Myung Soo memberikan kecupan di keningnya. Apa Eun Ji marah dengan posisi keduanya? Atau kecewa? Sepertinya tidak.

Karena detik berikutnya Myung Soo berhasil menyerang bibir gadis itu. Eun Ji tidak menolak. Jika gadis itu marah—atau kecewa—maka seharusnya gadis itu menolak ciuman yang diberikan Myung Soo. Gadis itu menerimanya. Namun juga tidak membalasnya.

“Ahh—”Eun Ji menjerit kecil ketika Myung Soo menggigit bibir bawahnya. Tanpa sadar gadis itu membuka mulutnya dan membiarkan lidah Myung Soo menjelajahi mulutnya. Beradu lidah dan bertukar salliva.

Gadis itu menikmati permainan Myung Soo.

Gadis itu menikmati setiap sentuhan Myung Soo.

Gadis itu ingin lebih. Ia ingin menjadi milik laki-laki itu dan menjadikan laki-laki itu miliknya.

Jung Eun Ji menginginkan Kim Myung Soo. Entah seperti apa penghalang keduanya, gadis itu benar-benar menginginkan laki-laki kini menciumnya. Seandainya ia bisa, ia menginginkan Kim Myung Soo bersamanya untuk waktu yang lebih lama. Untuk waktu yang tak terbatas.

Myung Soo menarik dirinya seiringan dengan berhentinya ciuman keduanya. Keduanya saling menatap: Myung Soo yang tersenyum dan Eun Ji dengan ekspresi yang tak dapat ditentukan. Keduanya mengambil napas sejenak.

Selagi mengatur napasnya, Eun Ji memejamkan matanya sejenak. Gadis itu memilih untuk menenangkan dirinya dalam waktu singkat dan berusaha membuang semua hal yang mengganggu pikirannya. Dan ketika matanya kembali terbuka, gadis itu tersenyum lebar.

Keduanya bertatapan dan saling memamerkan senyum. Di tempatnya, Eun Ji menggerakkan kedua tangannya dan mengalunkannya tepat di leher Myung Soo. Dengan jarak yang sangat dekat dan kening yang saling berpautan, keduanya menikmati waktu mereka.

Hingga beberapa menit berlalu dan Myung Soo berkata, “Selamat menikmati sarapanmu, Jung Eun Ji.”

***

TBC

12 responses

  1. wah.. akhirnya dipublish juga.. Senangnya!!
    mgkin hampir sebulan lbh nunggu ff favoritku.
    n untk chap next nya segera yaa thor! bener” kepo dch.
    Keep Writing! (y) 🙂

  2. hai author yang cakep/? haha^^
    salam kenal, aku silent reader/? dari taun 2013 haha^^
    cukup lama ya? tapi ga pernah koment hehe..
    ffnya bagus bagus lho, sering aku baca berulang kali ga bosen bosen terutama Happiness :”)
    karna emang ff ini ngefeel banget thor hehe, barusan aja ikut nangis baca chapter ini
    aaa ga sia sia aku ngikutin cerita ini, sampe ngestalk tiap hari tapi ga ada updatean baru =____=
    terus lanjut thor! always dukung nih hehe
    udah ya thor maaf banyak bacot/? sebenernya ff happiness ini kalo dijadiin novel pasti bisa masuk best seller /ngayal
    tapi emang cerita ini top!!
    2 thumbs up for you!🙂

  3. Woaaaa udah lama engga buka udah keluar lama ternyata… TnT ketinggalan deh ><"""
    Sorry ya saeng udah lama banget baru buka wp nya saeng and baca kelanjutan ff nya TnT *reader yang buruk // Emank * Bukk
    Lanjut lanjut \^^/ penasaran ma kelanjutannya soalnya lagi seru baca eeehhhh, TBC -_-"
    udah myungsoo jadian aja ama eunji. cocok kok. harus jadi ! *Semangat 45 // Lebay *Plakk
    lanjut ya saeng…

  4. Keren~
    Eh author, kalau mau baca chapter 13 nya bagaimana yah?
    Abisnya pake password sih….
    Anyway, aku juga myungji shipper….. And aku baru ketemu ff ini. And mau baca chap 13 nya ada password…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s