Happiness (Chapter 13)

Happiness.

Genre  : Romance.

Rating : NC-21

Cast     : Kim Myung Soo–Jung Eun Ji–other cast as showing.

Maaf karena sempet diprotect. Sudah bebas akses!

Well, happy reading!

 Part 13

Detik demi detik berlalu begitu cepat, kemudian detik berubah menjadi menit dan jam. Kejadian itu terus menerus terjadi seiringan dengan rotasi bumi. Sementara bumi terus bekerja—berputar—dalam porosnya, makhluk bumi biasa memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari nafkah.

Ketika pagi tiba itu berarti hari baru telah dimulai. Makhluk bumi—hewan, tumbuhan, dan manusia—kembali melakukan aktivitas mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Hewan dengan berburu makan, tumbuhan dengan fotosintesis, dan manusia dengan berbagai jenis pekerjaan yang menuggu mereka.

Tapi tidak dengan Jung Eun Ji dan Kim Myung Soo.

Jika manusia harus bekerja untuk hidup, maka keduanya harus bercinta untuk hidup.

Entah sudah berapa lama sejak keduanya terbangun dan mulai mempertemukan bibir keduanya. Tanpa memperdulikan waktu dan—bisa jadi—tempat, keduanya terperangkap dalam ciuman panas yang mempengaruhi sistem kerja otak keduanya.

“Nghh—”

Suara desahan yang tak kunjung berhenti sejak keduanya terbangun semakin terdengar jelas. Bagaikan dunia yang kosong dan tak berpenghuni, keduanya mengabaikan keberadaan makhluk hidup lainnya yang—mungkin saja—melihat atau mendengar suara mereka.

Mungkin bercinta pada pagi hari bukanlah sesuatu hal yang baru untuk wilayah perkotaan. Tapi bercinta—bahkan sampai menimbulkan decakan, desahan, dan suara-suara yang tak patas di dengar—di wilayah terpencil yang prioritas masyarakatnya merupakan orang-orang berpikiran polos dengan pikiran positif merupakan hal yang buruk.

Hal buruk yang tak terlintas dalam benak Eun Ji dan Myung Soo.

“Hemp—Berhenti menggelitiku, sungguh—”

Eun Ji menggeliat tak tertahan ketika Myung Soo kembali menyentuh pinggangnya. Entah untuk yang keberapa kalinya laki-laki itu memanfaatkan kelemahan Eun Ji untuk merangsangnya. Atau tepatnya menggoda gadis itu untuk berbuat lebih.

Myung Soo sendiri tak menghentikan kegiataannya. Masih dengan salah satu tangan yang bergerak aktif di pinggang Eun Ji—yang bebas dari halangan kain atau pakaian—Myung Soo menguasai leher Eun Ji.

Seperti sebelumnya, laki-laki itu kembali mencium, mengisap, dan terkadang menggigit leher Eun Ji, meninggalkan beberapa kissmark di sana. Namun kali ini lebih lembut, ia tak ingin meninggalkan kesan yang sama seperti sebelumnya. Ia tak ingin gadis itu menolak perlakuannya untuk yang kedua kalinya.

“Hei Kim Myung Soo, berhenti! Tungggu hentikan—Kim Myung Soo!”

Tepat setelah permohonan yang dilontarkan Eun Ji dengan susah payah, Myung Soo menghentikan permainannya. Dengan tangan sebagai penopang tubunya, Myung Soo menatap Eun Ji. Keduanya bertatapan, kemudian tertawa kecil ketika menyadari wajah mereka yang kacau dan penuh keringat.

“Kau terlihat buruk,” kata Eun Ji meledek laki-laki di depannya.

Sebelum menanggapi ledekan gadis di depan wajahnya dan di bawah tubunya, Myung Soo kembali mendaratkan kecupan. “Tidak seburuk malam itu.” komentar Myung Soo.

Eun Ji tertawa. Ia tak bisa mengatakan tidak karena ia yakin wajahnya pada saat malam-pertama-mereka-bercinta-tanpa-pengaruh-obat,jauh lebih buruk daripada wajahnya saat ini.

Lagipula, saat itu keduanya benar-benar naked. Tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh keduanya. Saat itu Eun Ji benar-benar bisa melihat tubuh—bahkan junior Myung Soo dengan mata kepalanya sendiri. Begitupula dengan Myung Soo, laki-laki itu bebas bermain dengan tubuh Eun Ji.

Namun saat ini, keduanya masih terbatas: masih ada kain yang menutup tubuh mereka, tepatnya bagian bawah tubuh mereka

Meskipun badan Myung Soo terbebas dari balutan pakaian, namun junior laki-laki itu masih terperangkap. Keduanya masih belum membebaskan alat masing-masing, termasuk payudara Eun Ji yang masih terbalut bra hitamnya.

“Kim Myung Soo,” panggil Eun Ji dengan penekanan di setiap kata.

“Mm?” sahutnya dengan kening yang menempel dengan kening Eun Ji.

“Apa aku boleh bertanya satu hal?”

Myung Soo membuka matanya. Ia menggeser tangan yang menjadi penopang tubuhnya secara perlahan, sehingga Eun Ji—yang berada tepat di bawah tubuhnya—mau tidak mau harus menahan tubuh Myung Soo yang menindihnya. Kemudian Myung Soo memutar tubuhnya, membebaskan Eun Ji dari berat tubuhnya dan membiarkan gadis itu berbaring di atas tubuhnya. Dan dengan balutan bra hitam yang hanya menutupi payudaranya, Eun Ji menguasai tubuh Myung Soo yang kini menjadi alas tidurnya.

“Apa yang ini kau tanyakan?” tanya Myung Soo ketika keduanya berhasil menemukan posisi nyaman mereka.

Eun Ji tersenyum, tanpa sadar matanya juga ikut tersenyum. “Kenapa kau menyukaiku?”

“Entahlah.” Jawab Myung Soo tanpa berpikir. “Mungkin karena senyummu?” tanyanya seraya menyentuh bibir Eun Ji dengan ibu jarinya.

“Kau bercanda.” Tanggap Eun Ji dengan bibir yang mengerucut.

Myung Soo tertawa. “Aku serius.” Katanya seraya mendaratkan kecupan di pipi Eun Ji. “Apa aku boleh menanyakan hal lain?”

“Apa?” tanya Eun Ji seraya memajukan wajahnya, menunjukkan antisipasinya.

“Apa kita bisa kembali bermain?”

Eun Ji melebarkan matanya. Gadis itu mendengus dan memajukan bibirnya setelah mendengar pertanyaan Myung Soo.

“Kau mau bermain?” tanya Eun Ji dengan wajah yang dibuat-buatnya.

Myung Soo menangguk. Wajah keduanya terlihat lucu, Myung Soo dengan wajah seorang anak yang tengah memohon pada Ibunya dan Eun Ji dengan wajah seorang kakak yang tengah menggoda adiknya.

“Kau akan menyesal karena bermain denganku.” ucap Eun Ji.

“Benarkah?”

Eun Ji mengangguk. Perlahan wajahnya mendekati wajah Myung Soo. “Kau akan menyesalinya, Kim Myung Soo.”

Tepat pada kalimat Eun Ji, bibir keduanya terjerat. Kali ini Eun Ji mendominasi ciuman mereka. Gerakan Eun Ji terlihat lebih aktif dari yang sebelumnya. Selain itu, tubuh Eun Ji juga bergerak menggoda tubuh yang berada di bawahnya. Seperti memancing nafsu Myung Soo.

Keduanya kembali pada ciuman panas yang memancing gairah tubuh mereka. Bunyi decakan terus terdengar seiringan dengan ciuman mereka yang intens dan berirama. Dengan lidah yang terus berdansa, keduanya saling bertukar salliva. Bahkan tak jarang satu atau beberapa tetes salliva mengalir keluar dari bibir keduanya yang terus terikat ciuman.

Myung Soo di tempatnya, seakan-akan kehilangan kendali atas dirinya. Permainan Eun Ji memang yang terbaik. Selain memberikan kepuasan, Myung Soo juga dapat merasakan kebahagiaan yang mengalir ke dalam tubuhnya seiringan dengan permainan yang berikan Eun Ji.

“Kau menggodaku,” Myung Soo mendapati dirinya bersuara ketika Eun Ji dengan santainya memberikan kecupan lembut pada pipi laki-laki di bawahnya. Kemudian kecupan itu bergerak turun menuju leher Myung Soo. Perlahan tapi pasti, kecupan berubah menjadi hisapan yang di selingi dengan tiupan. Dengan kemampuan yang dimilikinya, Eun Ji mencoba menciptakan beberapa kissmark di leher Myung Soo.

“Kau yang meminta.” ujar Eun Ji di tengah permainannya.

Myung Soo mendengus. Tangannya bergerak untuk menahan Eun Ji dan menghentikan permainan gadis itu. Dengan seringai yang menghiasi wajahnya, keduanya bertatapan sejenak.

“Berhenti mempermainkanku, Jung Eun Ji.”

Eun Ji membuka mulutnya, bermaksud untuk membantah kalimat Myung Soo ketika laki-laki itu lebih dulu mengunci bibirnya. Lagi, untuk yang kesekian kalinya, Eun Ji memejamkan matanya untuk sekedar menikmati ciumannya dengan Myung Soo.

Keduanya kembali dalam ciuman yang panjang dan memabukkan. Saling menghisap bibir keduanya, bertukar salliva dan membuat keributan pada tubuh masing-masing. Seakan-akan ciuman saja dapat memancing tubuh keduanya untuk menari mengikuti irama decakan yang mereka buat.

Myung Soo mengangkat tubuhnya, membuat Eun Ji berada kembali dalam pangkuannya dengan kaki yang melingkar di pinggang Myung Soo.

Eun Ji melingkarkan kedua tangannya di leher Myung Soo, sesekali ia meremas rambut laki-laki di depannya sebagai pelampiasan kebahagiaannya. Sementara Myung Soo menghisap bibir atasnya, mengulumnya sambil menekan ciuman keduanya agar lebih dalam.

Di tengah kesibukan keduanya, Myung Soo memanfaatkan kesempatan. Digerakkannya kedua tangannya—yang bebas bergerak itu—menuju kait bra Eun Ji. Dengan dada yang saling bergesekkan, Myung Soo bisa merasakan payudara Eun Ji yang—secara tidak langsung—menggodanya.

Myung Soo menggerakkan tangannya perlahan. Laki-laki itu menggerakkan tangannya seperti ular yang tengah melingkar di tubuh mangsanya: merabanya perlahan dan berulang-ulang. Jari-jarinya menari dengan lincah di atas kulit Eun Ji, menyalurkan kehangatan dan sengatan-sengatan yang membuat tubuh gadis itu bergerak di atas pangkuannya.

Dan ketika jari-jarinya berhasil mencapai pengait bra, Myung Soo melepaskannya dengan satu gerakan. Namun, belum sempat Myung Soo meloloskan bra hitam Eun Ji, gadis itu sudah menarik dirinya dan bangkit dari pangkuan Myung Soo dengan senyum di wajahnya.

Tapi semuanya tak semudah yang dibayangkan Eun Ji.

Sederhana saja. Myung Soo kembali menarik gadis itu dan menjatuhkannya di atas ranjang. Kemudian ia mendekati Eun Ji dengan merangkak, kembali memperangkapkan Eun Ji di bawah tubuhnya.

Eun Ji menghela napas dan memandang Myung Soo. “Baiklah, baiklah.” Katanya sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Myung Soo. “Aku yang memulai dan aku yang harus menghentikannya.”

Tanpa sadar Myung Soo tersenyum. Entah karena arti kalimat yang dikatakan Eun Ji atau karena perasaannya yang merasa pernah-mendengar-kalimat-tersebut. Entahlah.

Myung Soo memandang Eun Ji. Gadis itu kemudian menariknya dengan sangat cepat, membuat Myung Soo membuka matanya lebar-lebar. Dan ketika Myung Soo berhasil sadar dari keterkejutannya, barulah ia menyadari bibir Eun Ji yang kini menghisap bibirnya.

Di tempatnya, Eun Ji memejamkan matanya, menikmati ciuman yang belum dibalas laki-laki di depannya. Gadis itu menghisap bibir atas Myung Soo sambil terus mengulumnya, tanpa memperdulikan bra hitamnya yang kini menggantung bebas di depan dadanya.

Myung Soo—entah dengan kesadaran yang penuh atau tidak—langsung membalas ciuman Eun Ji. Dengan mata yang juga terpejam laki-laki itu seakan lupa. Ia dengan mudahnya mengabaikan bra Eun Ji yang kini menggesek dadanya: menjadi penghalang dada keduanya untuk bersentuhan secara langsung.

Tapi Myung Soo bisa merasakan payudara Eun Ji. Dengan bra yang hanya menggantung tanpa saling berkaitan, Myung Soo bisa merasakan kedua payudara Eun Ji yang bergerak mengikuti irama tubuh mereka. Diarahkannya salah satu tangannya untuk menyentuh salah satu payudara Eun Ji, meraba bagian yang bisa diraihnya dengan lembut dan perlahan, seakan-akan memberikan pelayanan khusus pada dada gadis di depannya.

“Ngh—” Eun Ji mengerang ketika sebuah tangan—tepatnya beberapa jari menyentuh dadanya, memberikan sensasi tersendiri pada tubuhnya. Kemudian Myung Soo beralih pada pipi gadis itu, hingga pada akhirnya ia membenamkan wajahnya di leher dan pundaknya, lalu menghisap dan memberikan tanda kepemilikan dirinya atas Eun Ji. Sementara si pemilik tubuh hanya bisa menggelinjang tak menentu dan menjulurkan lehernya, memberikan akses lebih pada Myung Soo untuk memanjakan lehernya.

Ciuman Myung Soo semakin turun: bibir, leher, pundak dan beralih pada dada Eun Ji. Sementara si empunya tubuh hanya bisa mengerjapkan matanya, mendesah, dan mengeluarkan kalimat-kalimat pendek yang semakin memacu nafsu laki-laki di depannya. Terkadang Eun Ji meremas rambut Myung Soo sebagai tempat pelampiasannya, terkadang juga menekan kepala laki-laki itu agar memperdalam ciuman dan hisapannya.

“Tunggu,” ujar Eun Ji di tengah pemainan keduanya. Mata gadis itu terbuka lebar, seolah-olah terkejut oleh sesuatu. “Kim Myung Soo, jam berapa sekarang?” tanya nya.

Myung Soo menghentikan ciumannya. Ia memandang Eun Ji sejenak sebelum akhirnya menggerakkan tubuhnya dan mendekati wajah keduanya. “Ada apa?” katanya balik bertanya.

“Jam berapa sekarang?” ulang Eun Ji, matanya tak lepas dari mata Myung Soo. “Kau tahu, aku harus pergi—”

“Oh tidak tidak—”

“Kim Myung Soo!” potong Eun Ji dengan setengah berteriak. “Ku mohon.” Tambahnya perlahan.

Myung Soo memindahkan tubuhnya; memberikan jarak antar keduanya, sementara Eun Ji bangkit dari duduknya dengan tangan yang menahan bra hitamnya.

“Aku tak yakin mengenai waktu, jam 8 mungkin?” kata Myung Soo, bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

Eun Ji tak menjawab. Myung Soo bahkan tidak yakin kalau Eun Ji mendengar perkataannya. Karena saat ini gadis itu tengah sibuk dengan pengait bra nya yang sebelumnya di lepas Myung Soo.

“Biar ku bantu,” kata Myung Soo dengan tangan yang terjulur ke punggung Eun Ji. Dengan mudahnya ia kaitkan kembali bra yang sebelumnya ia lepas.

“Terima kasih,” ucap Eun Ji. “Oh ya, kalau kau pikir saat ini masih jam 8—”

Ia mendengarkanku, bantin Myung Soo.

“—Sepertinya kau harus mengecek penglihatanmu kembali.” Komentar Eun Ji, “Karena menurutku ini sudah terlalu siang.”

Myung Soo membaringkan tubuhnya, mengabaikan Eun Ji yang terus memperkirakan waktu. “Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Aku harus pergi.” Jawab Eun Ji santai.

Myung Soo mengalihkan pandangannya seraya tertawa kecil, sedikit terkejut dengan jawaban Eun Ji.

“Tunggu,” ujar Eun Ji dengan tatapan tajam. “Jangan bilang kau tidak akan mengembalikanku pada mereka. Ayolah, kau bilang padaku kau akan mengantarku kembali. Ingat?”

“Aku memang mengatakannya. Tapi tidak sekarang—”

“Kau bercanda?” potong Eun Ji cepat. “Oh tidak—maksudku, apa kau tidak memikirkan pekerjaanku? Aku tidak pergi sendiri Myung Soo–ah.

Myung Soo mengangguk, ia tahu pasti tujuan dan dengan siapa ia berurusan. “Lalu? Aku hanya perlu menelpon salah satu dari klienmu; aku mengenal satu dari mereka. Dan yah, mereka tidak akan menolak.”

“Kim Myung Soo!”

“Aku serius—”

“Aku juga serius.” Potong Eun Ji cepat, bahkan lebih cepat dari yang biasanya. Gadis itu menatap Myung Soo serius, dadanya yang hanya terbalut bra bergerak naik-turun seiringan dengan napasnya; menahan amarah.

Myung Soo menghela napasnya. “Oh baiklah.” Katanya mengalah.

Eun Ji tersenyum, kemudian beranjak bangkit dari kasur dan meraih pakaiannya—yang entah sejak kapan tergeletak di lantai. Ia berniat mengenakan kembali pakaiannya ketika suara Myung Soo lebih dulu mengalihkan perhatiannya.

“Kau harus mandi, Jung Eun Ji.”

Tepat saat itu juga Eun Ji menoleh dan menatap Myung Soo dengan alis yang terangkat. Apa laki-laki itu baru saja bicara soal mandi?

“Ya, mandi.” Kata Myung Soo menjawab pertanyaan Eun Ji.

Eun Ji masih dengan wajah bingungnya. Sejujurnya ada beberapa hal yang tidak ia mengerti dengan ucapan Myung Soo. Diantaranya merupakan alasan untuk dirinya; Kenapa ia harus mandi?

“Karena kau basah.” Kata Myung Soo lagi, kembali menjawab pertanyaan Eun Ji.

“Apa?”

Myung Soo mendesah, kemudian memutuskan untuk menghampiri Eun Ji yang masih memasang wajah bingungnya. “Kau tak mungkin pulang dengan keadaan seperti ini.” kata Myung Soo.

“Oh Ayolah, kau bercanda—”

“Kau hanya akan menimbulkan kecurigaan Eun Ji–ah,” potong Myung Soo. “Kau harus mandi.”

Eun Ji membuka mulutnya, hendak membantah namun terlambat karena Myung Soo lebih dulu mendorong tubuhnya. Tanpa memperdulikan baju yang belum sempat dipakainya, Eun Ji berjalan keluar dari kamar dengan Myung Soo yang mendorongnya: memaksa sekaligus memberinya tuntunan arah.

Dan dengan beberapa langkah keduanya pun berhenti tepat di depan kamar mandi—tidak terlalu mewah karena mereka hanya berada pedesaan, tapi cukup untuk dua orang.

Myung Soo kembali mendorong Eun Ji memasuki ruangan tersebut. Keduanya masuk bersamaan tanpa baju yang menutupi tubuh mereka. Tanpa memperdulikan tatapan yang dilancarkan Eun Ji, Myung Soo menyalakan shower dengan debit air yang tak besar.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Eun Ji ketika keduanya kembali berhadapan.

Myung Soo mengambil langkahnya, memperkecil jarak keduanya. “Kau pikir aku sedang apa?”

“Mandi?” tanya Eun Ji, nadanya terdengar seperti meledek. “Kau bercanda? Serius Kim Myung Soo?”

“Apa aku harus jawab dengan ya atau aku hanya perlu membuktikannya dengan tindakan?”

Eun Ji mendesah, tangannya bergerak meraih pundak Myung Soo dan mendorongnya keluar dari kamar mandi. “Kau tidak akan mandi.”

Tapi tetap saja, kekuatan Myung Soo jauh dibandingkan Eun Ji. Baru beberapa langkah Myung Soo berjalan mundur, kini laki-laki itu kembali bergerak maju. Keadaan berbalik, terpaksa atau tidak, Eun Ji pun mengambil langkah mundur.

Dan langkahnya terus-menerus seiringan dengan tubuh Myung Soo yang bergerak maju ke arahnya.

Sampai akhirnya Eun Ji terpojokkan. Tanpa sadar gadis itu berada dalam hempitan tubuh Myung Soo dan tembok yang menjadi sandaran punggungnya.

Eun Ji menghela napasnya, memberanikan dirinya untuk menatap Myung Soo dan bicara, “Kau mandi, kalau begitu aku keluar. Aku mandi, kalau begitu kau keluar. Cepat tentukan.”

“Bersama?”

“Kau gila!” teriak Eun Ji. “Cepatlah.”

Myung Soo menghela napasnya, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengalah dan keluar dari kamar mandi. Ia baru saja bermaksud untuk kembali ke kamar ketika suara Eun Ji terdengar di belakangnya.

“Aku tak membawa pakaian,” kata Eun Ji.

Myung Soo tersenyum, ia tahu gadis itu akan mengatakan hal seperti itu. “Kau bisa memakan bajuku.”

“Pakaian dalam?”

“Oh aku tak yakin,” katanya. “Kau mungkin bisa memakai celana dalamku, tapi aku tak yakin dengan bra. Apa itu basah?”

Eun Ji menggigit bibir bawahnya, kemudian mengangkat bahunya seakan-akan mengatakan aku-tidak-tahu-akan-seperti-ini. “Sedikit basah.” katanya menjelaskan ekspresi di wajahnya.

“Mungkin masih sempat di keringkan. Berikan padaku,”

Eun Ji membelalakkan matanya. “Gila—”

“Lepaskan saja.” Tanggap Myung Soo dengan tawa yang memancing kekesalan di wajah Eun Ji.

“Akan kuberikan padamu nanti. Bagaimana dengan handuk?”

“Oh kau tak perlu keluar dengan handuk—”

“Gila.”

Myung Soo yang masih tertawa perlahan mengatur tawanya dan bersikap sejawarnya. “Akan ku ambilkan, cepatlah mandi.”

“Aku tahu.”

“Oh ya, Jung Eun Ji,” panggil Myung Soo ketika Eun Ji membalikkan badannya dan mencoba untuk menutup pintu kamar mandi. “Pintu itu tidak bisa di kunci, kurasa kau mungkin harus berhati-hari karena aku mungkin saja masuk.”

Eun Ji menatap Myung Soo kesal, “Tutup mulutmu Kim Myung Soo!”

***

“Kau sudah selesai.”

Myung Soo memutar kepalanya. Bibirnya spontan tertarik ketika matanya berhasil menemukan sosok Eun Ji. Dengan bertelanjang dada dan rambut yang masih basah, Myung Soo berjalan menuju tempat Eun Ji.

Gadis itu tidak menoleh, matanya tertuju pada beberapa lembar kertas yang tergeletak berantakan di atas sofa. Kedua tangannya bergerak mengumpulkan kertas-kertas tersebut dan menyusunnya.

Beberapa detik kemudian gadis itu menoleh, tepat ketika Myung Soo berada di sebelahnya. Eun Ji melayangkan senyumannya sejenak, lalu melanjutkan kegiatannya. “Pakai bajumu.”

“Kenapa?” Myung Soo tertawa kecil, “Apa kau malu?”

Eun Ji mendesah. “Aku tidak mau oranglain melihat dadamu.” Katanya. “Cepat pakai bajumu.”

Myung Soo tertawa, menunjukkan beberapa deret giginya. Kaki laki-laki itu hendak bergerak menjauh ketika tiba-tiba saraf tubuhnya memilih untuk memberikan satu kecupan di bibir Eun Ji. Memberikan satu kejutan pada tubuh gadis itu.

Di tempatnya Eun Ji membelalakkan matanya. Meski hanya sebuah kecupan biasa Eun Ji bisa merasakan jantungnya yang berdegup lebih kencang—entah karena ia terkejut atau merasa gugup.

Setelah insiden kecupan tersebut Myung Soo menggerakkan kakinya. Tanpa menunggu komentar atau kalimat yang akan keluar dari mulut Eun Ji, laki-laki itu melangkah menjauh menuju kamarnya. Berniat untuk mengenakan pakaiannya ketika sebuah suara menyebut namanya dengan lembut.

“Kim Myung Soo, kau sudah menghubungi mereka?” tanya Eun Ji.

Myung Soo memutar tubuhnya. “Belum. Kenapa?”

“Beritahu mereka sekarang, mereka pasti mencariku.”

“Jangan khawatir,” Myung Soo tersenyum. “Salah satu dari mereka tahu kalau kau sedang bersamaku. Tidak perlu khawatir.”

Eun Ji membasahi bibirnya, “Bagaimana dengan yanglainnya? Ibuku bisa tahu—”

“Percaya padaku.” Potong Myung Soo dengan senyumnya.

Sunyi sejenak. Percakapan keduanya seolah-olah berlanjut melalui tatapan mereka. Sampai akhirnya Eun Ji tersenyum, seakan-akan mengatakan aku-percaya-padamu.

“Aku lapar.” Ujar Eun Ji, mengakhiri kesunyian keduanya.

Myung Soo tertawa lagi—entah karena perasaannya yang bahagia atau memang perkataan Eun Ji terdengar lucu. “Apa aku harus memesan?”

“Oh tidak.” Eun Ji tersenyum jahil. “Aku mau memakan masakanmu.”

***

“Tidak terlalu buruk.”

Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk sekedar menikmati menu sarapan mereka yang sederhana, itulah kalimat yang keluar dari mulut Eun Ji. Komentar pertama Eun Ji pada menu sarapan yang dibuat Myung Soo dengan jerih payah dan kemampuan terbatas laki-laki itu.

Bukannya tidak menghormati, hanya saja kalimat yang terpikirkan oleh Eun Ji hanya itu. Gadis itu tidak ingin mengatakan hal-hal baik yang justru akan meninggalkan kesan buruk. Ia tak ingin berbohong untuk kebahagiaan keduanya.

Lagipula laki-laki itu tidak marah. Sifat dan wajahnya benar-benar tak menunjukkan ketidaksenangan atau kekesalan. Myung Soo bahkan tersenyum dan membiarkan dirinya membantu Eun Ji yang sedang mencuci piring. Bukankah semua itu hadiah dari kejujuran?

“Kalau kau bermaksud mengatakan tidak enak ataumungkin—buang saja makanan ini. Kau bebas mengatakannya.”

Eun Ji tersenyum. “Kau akan menghabisiku nanti.”

Myung Soo mendengus. Kakinya bergerak menghampiri Eun Ji yang memunggunginya, kemudian berdiri sejenak mengamati tubuh gadis di depannya. Sampai akhirnya laki-laki itu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Eun Ji dan menyandarkan kepalanya tepat pada salah satu bahu Eun Ji—bersandar sekaligus menikmati aroma tubuh gadis itu.

Untuk sejenak Eun Ji mengabaikan Myung Soo yang memeluknya dari belakang, tapi kemudian ia berhenti dan menegur Myung Soo dengan nada suara rendah. “Ada apa?” tanya Eun Ji.

“Tidak ada. Hanya ingin memelukmu.”

Eun Ji tersenyum kecil tanpa memutar tubuhnya. “Sampai kapan?”

“Entahlah.”

Eun Ji mendesah kecil. “Berhenti bersikap manja,” Eun Ji memutar kepalanya, menatap wajah Myung Soo yang menempel di pundaknya. “Kau memperlambat pekerjaanku.”

“Kalau begitu lupakan saja.” saran Myung Soo.

“Apa?” Eun Ji menggerakan pundaknya. “Apa kau gila?”

Myung Soo menghela napasnya, kemudian melepas pelukannya dan memutar paksa tubuh Eun Ji. “Katakan saja aku gila. Aku gila semua karenamu, Jung Eun Ji.”

“Benarkah?” tanya Eun Ji, suaranya terdengar meledek. “Apa aku harus menciummu karena perkataanmu?”

“Oh terserah saja.” Myung Soo tersenyum lebar. “Tapi kau tahu aku akan dengan senang hati menerima bibirmu menyentuh bibirku.”

“Kau benar-benar gila.”

Myung Soo tidak berkomentar. Ia memilih untuk mendekatkan wajah mereka dan menyatuhkan keningnya dengan kening Eun Ji. Dengan jarak yang tidak mencapai dua inchi, Myung Soo dapat merasakan napas Eun Ji yang berderu dan menyatuh dengan napasnya.

Di tempatnya Myung Soo menatap wajah Eun Ji lekat-lekat, sementara si empunya wajah hanya memejamkan matanya dan tersenyum kecil. Myung Soo menggerakkan bola matanya, menyusuri setiap sudut wajah Eun Ji dengan rasa kagum yang berbeda.

“Eun Ji–ah.” Panggil Myung Soo pelan. Napasnya yang keluar seiringan dengan suaranya menyapu hangat kulit Eun Ji.

Dengan mata yang masih terpejam Eun Ji menanggapinya singkat. “Hm?”

“Apa aku masih harus menunggu?”

“Menunggu apa?” Eun Ji meletakkan tangannya di pundak Myung Soo.

Myung Soo tidak langsung menjawab, ia menggerakan tangannya dan melingkarkannya tepat di pinggang Eun Ji. “Menunggu semuanya.” Katanya. “Menunggu menjadi bagian dari hidupmu, menunggu waktu yang tepat untuk memilikimu,” Myung Soo memejamkan matanya. “Sepenuhnya.”

Eun Ji tersenyum tanpa sepengetahuan Myung Soo. “Kau sudah memiliku,” katanya membenarkan. “sepenuhnya.

Untuk beberapa saat Myung Soo tidak berkomentar, dan detik setelahnya laki-laki itu tertawa. Entah karena tidak percaya atau merasa dibodohi.

“Apa lagi?” Tanya Eun Ji. Kali ini gadis itu membuka matanya, menatap wajah Myung Soo yang tengah terpejam.

“Tutup matamu.” Sahut Myung Soo, seakan-akan melihat perubahan dari gadis di depannya.

“Aku takut kau menciumku.”

Myung Soo menarik napasnya, kemudian membuangnya perlahan tepat di depan wajah Eun Ji. “Apa aku menakutimu?”

“Apa? Oh tidak.”

“Lalu kenapa?”

Eun Ji tersenyum lebar, senyum yang entah di sadari Myung Soo atau tidak. “Karena aku yang akan menciummu.”

***

“Astagah—” Eun Ji menjerit ketika Myung Soo mendorong tubuhnya ke sudut ruangan. Ia bisa merasakan dan mendengar suara punggungnya yang membentur keras dinding. Kemudian hening sejenak. Dengan posisi yang terampit tubuh Myung Soo dan dinding di belakangnya, Eun Ji mengatur napasnya.

Beberapa detik keduanya lalui tanpa suara. Hanya deruan napas yang terdengar dari tempat keduanya berdiri. Myung Soo masih memojokkan Eun Ji, tapi tidak terjadi apapun.

Setelah ciuman panas yang dimulai Eun Ji, keduanya seakan-akan merasakan hal yang lebih panas: dengan tangan yang melingkar sempurna di pinggang Eun Ji, dan dada yang saling menempel dan—tanpa sengaja—saling bergesekan seiringan dengan gerakan tubuh mereka.

“Apa aku bisa melakukannya?” tanya Myung Soo tepat di telinga Eun Ji.

Eun Ji bergidik geli, napas Myung Soo menyapu hangat kulitnya. “Perlahan,” Katanya. “Aku tidak mau ada yang terluka.”

“Tidak akan ada yang terluka.”

Hening sejenak. Tanpa saling bertukar tatapan, keduanya tersenyum. Eun Ji menggerakkan tangannya, mengalungkannya tepat di leher Myung Soo dan menatap wajahnya. “Aku milikmu, kau milikku, sepenuhnya.”

Bibir keduanya kembali bertemu. Seakan-akan tidak ingin kalah, Eun Ji menunjukkan sikap agresifnya. Kakinya yang semula berpijak ia kalungkan di pinggang Myung Soo, sementara tangannya ia gunakan untuk menekan tengkuk Myung Soo, memperdalam ciumannya.

“Ohhh,” Eun Ji mendesah kecil ketika jemari Myung Soo menyelinap ke dalam bajunya. Mengusap pinggangnya.

Sementara Myung Soo tersenyum kecil di tengah ciuman keduanya. Entah karena tangannya yang berhasil menyusup masuk ke dalam baju Eun Ji atau karena desahan yang terus-menerus keluar dari mulut Eun Ji.

“Aaangh—Aghelihh—” Eun Ji menjerit tertahan, jeritannya semakin menjadi ketika Myung Soo menggoda payudaranya yang bebas dari bra dengan jemari-jemarinya. Ia tidak pernah tau kalau ia memiliki kelemahan di payudaranya.

Myung Soo membiarkan Eun Ji melepas ciuman keduanya, kemudian Myung Soo mengalihkan ciumannya pada leher jenjang Eun Ji. Si empunya tubuh tak berkomentar, matanya terus mengerjap ketika Myung Soo menghisap lehernya, meninggalkan tanda kepemilikan di sana.

Hanya sekali dan hanya satu tanda kepemilikan yang di buat Myung Soo. Laki-laki itu berhenti sejenak tanpa mengubah posisi keduanya. “Kau harus membukanya.”

Eun Ji masih diam, tapi tanda sadar bibirnya tertarik. “Buka saja.” Katanya singkat.

Tidak ada balasan. Hening sejenak sampai akhirnya Myung Soo memilih untuk kembali menggoda leher Eun Ji. Eun Ji tersenyum, ia tahu arti dari setiap gerakan—atau tindakan—yang dilakukan Myung Soo.

“Ah—” Eun Ji memekik terkejut ketika Myung Soo menarik salah satu niplenya dari luar baju tidur. Keduanya bertatapan sejenak. Eun Ji menatap Myung Soo kesal, raut wajahnya terlihat kesal tapi juga bahagia.

Myung Soo tertawa. “Wajahmu lucu sekali.”

Eun Ji mendecak dan mengerucutkan bibirnya. Myung Soo yang bersikap kekanak-kanankan jauh lebih mengesalkan baginya. Namun kekesalannya tak berangsur lama, karena detik berikutnya Eun Ji kembali mendaratkan kecupan lain di bibir Myung Soo.

“Nghh—Jung Eun Ji celanamu,” Myung Soo tersenyum jahil, berusaha mengeluarkan suaranya di tengah-tengah ciuman keduanya.

Suara Myung Soo berhasil mengalihkan perhatian Eun Ji. Keduanya menatap ke bawah, tepatnya ke celana Eun Ji yang kini menggantung bebas di paha gadis itu. Hanya perlu tarikan untuk melepas celana itu sepenuhnya, tapi tidak dengan posisi kaki yang melingkar di pinggang Myung Soo.

“Ini tidak adil.” Protes Eun Ji. Matanya menatap tajam mata Myung Soo. “Telanjangi dirimu lebih dulu.”

Myung Soo tertawa, kemudian mendekatkan wajahnya. “Kau yang melakukannya.” Bisik Myung Soo.

Eun Ji mengeryit. Merasa tertantang dengan kalimat yang dikatakan Myung Soo. “Bantu aku turun.” Katanya seraya menurunkan kakinya, sementara Myung Soo menahan tangannya agar tidak terjatuh.

Keduanya tertawa untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Myung Soo kembali menyudutkan Eun Ji dan menyerang bibir gadis itu. Kali ini Myung Soo mendominasi permainan. Selain itu, tangan Myung Soo juga bergerak cepat pada celana Eun Ji.

Tapi Eun Ji tidak sebodoh itu. Jika Myung Soo berniat menelanjanginya, maka ia juga harus menelanjangi Myung Soo. Cukup adil bukan?

Tangan Eun Ji bergerak mencari pengait celana Myung Soo, sementara bibirnya masih asik berpaut dalam ciuman panas. Terkadang keduanya berhenti, mengambil napas sejenak dan tertawa kecil ketika menyadari wajah keduanya.

“Bantu aku menurunkannya.” Sahut Eun Ji ketika Myung Soo menjamahi lehernya.

Dan benar saja. Bagai angin lewat yang membawa sihir atau kutukan, dalam beberapa menit—bahkan detik, tubuh bagian bawah keduanya terbebaskan. Tak ada lagi kain atau satu helaipun benang yang menutupi alat vital keduanya.

Tiba-tiba Eun Ji melompat. Tanpa sempat melihat junior Myung Soo yang menegang, Eun Ji melompat dan kembali mengaitkan kakinya di tubuh Myung Soo. Kali ini posisi Eun Ji tak setinggi yang sebelumnya, sehingga ia bisa merasakan junior Myung Soo yang menggesek vaginanya.

“Ughh—” Eun Ji melepas ciumannya sambil meringis pelan ketika merasakan junior Myung Soo yang—entah sejak kapan—menerobos masuk vaginanya.

Myung Soo tak menghiraukan. Bibirnya kembali mencari bibir Eun Ji dan membekapnya dengan ciuman, sementara pinggulnya masih bergerak, seakan-akan mencari sesuatu.

“Ohh—Nghhh—” Eun Ji meremas rambut Myung Soo, menjadikannya tempat pelampiasan rasa sakitnya. Meskipun ia sudah melakukan hal seperti ini berulang kali, tapi rasanya sama saja: sakit. Eun Ji menyisipkan jari-jarinya di rambut Myung Soo, menjambaknya kuat.

“Ahh,” Myung Soo mendesah keras beberapa detik setelahnya. Ia tahu Eun Ji kesakitan, tubuh gadis itu bahkan bergerak turun dari posisinya. Namun Myung Soo juga mendapat rasa sakit di bibirnya; luka bekas gigitan Eun Ji ketika dirinya berusaha menerobos masuk pertahan Eun Ji.

Eun Ji membenamkan wajahnya di leher Myung Soo. Masih dalam kondisi beradaptasi, keduanya berusaha untuk mengumpulkan oksigen sebanyak mungkin.

“Bibirmu pasti berdarah,” sahut Eun Ji seketika. “Aku bisa merasakannya. Rasanya asin.”

Myung Soo tersenyum. Tangannya memeluk Eun Ji erat, menarik tubuh gadis itu agar lebih rapat dengannya. Kemudian menyeret tubuhnya—yang berarti menyeret Eun Ji yang berada dalam gendongannya—menuju sofa.

Keduanya masih belum bertatapan. Sampai akhirnya Myung Soo menjatuhkan dirinya di sofa, dengan tubuh Eun Ji dipangkuannya dan dengan kontak tubuh mereka.

“Aku minta maaf tentang luka bibirmu.” Ujar Eun Ji.

Myung Soo tersenyum menyeringai. “Kau harus membersihkan lukanya.” Kata Myung Soo. “Dengan bibirmu.”

Keduanya berperang kembali dalam perang mereka. Jika biasanya Myung Soo yang menghisap bibir Eun Ji, maka kali ini gadis itulah yang menikmati bibir Myung Soo. Mengecupnya lalu menghisap bibir atas dan bawah Myung Soo bergantian. Mengulumnya sambil terus menekan ciuman keduanya.

“Nghh—” Eun Ji mendesah. Tubuh Myung Soo yang menjadi pangkuannya perlahan bergerak. Tangan laki-laki itu juga bergerak mengelus paha Eun Ji dan menariknya, menekan kontak tubuh keduanya.

Gerakan yang perlahan itu detik-demi-detik berubah. Eun Ji di tempatnya terus mengeluarkan desahan-desahan hebat. Diselipkannya jari-jarinya itu di rambut Myung Soo, meresmasnya kuat sambil terkadang mengecup leher Myung Soo.

“Ouhh…”

“Henghh…”

Myung Soo mengecupi pundak Eun Ji yang masih tertutup baju. Napasnya yang tersenggal berderu menyapu hangat sebagian kulit gadis itu.

“Myungghh—” Eun Ji mendesah menyebut nama Myung Soo. Pinggulnya bergerak maju dan mundur, memberikan kesempatan lebih pada junior Myung Soo untuk menusuknya lebih dalam.

Eun Ji mengerang, perutnya terasa geli. “Ouhh—Myunghh, aku—ohh…”

Myung Soo mengabaikannya. Tangannya masih bergerak di sekitar paha dan bokong Eun Ji. Mengelusnya perlahan. Otaknya benar-benar tak berfungsi ketika keduanya melakukan sex. Oh, sejujurnya otaknya memang tak pernah berfungsi jika ia berada dekat dengan Eun Ji. Gadis itu memang selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

“Myunghh lebih cepat—oughh…” pinta Eun Ji dengan suaranya yang terdengar serak.

“Ngh—” Myung Soo menahan desahannya. Sesuatu terasa mendesak dan menjepit alat kelaminnya.

“Aku ohhh—Myunghh—” Eun Ji mendesah keras, desahannya terdengar lembut tepat telinga Myung Soo. “Ahhh…” Dan pada akhirnya Eun Ji berteriak lebih dulu. Gadis itu menjatuhkan kepalanya di pundak Myung Soo. Mengistirahatkan dirinya.

Namun berbeda dengan Myung Soo. Ia masih menggerakkan pinggulnya. Selain itu tangannya juga masih aktif bergerak di paha Eun Ji, menggoda gadis itu agar terus mengeluarkan desahan-desahan yang memancing nafsu Myung Soo.

“Myunghh—” panggil Eun Ji di tengah desahan-desahan kecil yang masih keluar dari mulutnya. “Tungh—ouh,”

Tubuh Myung Soo menegang. Ia semakin kuat menghentakkan dirinya ke dalam vagina Eun Ji. Ujung penisnya membentur keras dinding rahim gadis itu. Sementara vagina Eun Ji terasa semakin sesak karena juniornya yang semakin membengkak.

“Tungh—ouh—tungguhh,” kata Myung Soo dengan suara rendahnya. “Nghh—sebentar lagi, ahhh…”

Sepertinya Myung Soo salah menyebut kata karena detik berikutnya laki-laki itu langsung orgasme. Seharusnya ia menggunakan kata ‘akan’ daripada ‘sebentar’.

Keduanya berhenti bergerak. Hening sejenak. Hanya suara deruan napas keduanya-lah yang mengisi keheningan itu. Myung Soo memindahkan tangannya, kemudian memeluk Eun Ji erat tanpa berkata. Sementara Eun Ji masih diam mengatur napasnya di pundak Myung Soo.

“Terlalu agresif,” sahut Eun Ji menyudahi keheningan keduanya. “Kim Myung Soo.”

Myung Soo tersenyum kecil. “Aku mengeluarkannya di dalam.” Katanya mengabaikan perkataan Eun Ji yang—secara tidak langsung—mengejeknya.

Tidak ada jawaban langsung dari Eun Ji. Gadis itu tampak ragu meskipun tidak mengatakan apapun. “Aku harus pulang.” Katanya mengalihkan topik pembicaraan.

“Kau baik-baik saja?” tanya Myung Soo.

Eun Ji menhela napasnya. “Lupakan saja.”

“Kau marah?”

“Aku,” Eun Ji menarik tubuhnya dari pundak Myung Soo, lalu mempertemukan mata keduanya. “Aku baik-baik saja.” Katanya seraya bangkit dari duduknya yang berarti melepas kontak tubuh keduanya.

“Tunggu dulu,” cegah Myung Soo cepat. Tangannya yang masih melingkar di punggung Eun Ji menarik tubuh gadis itu kembali duduk, membuat juniornya yang masih tertanam di tubuh Eun Ji kembali menusuk dalam vagina gadis itu.

Eun Ji menjerit terkejut. Tindakan Myung Soo membuat vaginanya kembali merasakan tusukan lain yang dilakukan dengan paksa. “Astaga—Kim Myung Soo tubuhmu masih berada di tubuhku.” Omel Eun Ji.

Myung Soo tersenyum menang. Matanya menatap Eun Ji girang, sementara yang ditatap justru melayangkan tatapan tajam tanpa senyum, seakan-akan sedang menerkam mangsanya.

“Masih belum selesai.” Ujar Myung Soo seketika.

Kening Eun Ji berkerut. Ia tidak mengerti dengan sesuatu yang belum diselesaikannya. Bibirnya baru saja bergerak untuk mengatakan sesuatu ketika Myung Soo lebih dulu memotongnya.

“Oh ayolah, kau tidak mungkin menghancurkan hal ini.” ucap Myung Soo dengan hembusan napas berat di akhir kalimat. Matanya menatap mata Eun Ji memohon.

Eun Ji masih tidak mengerti. Gadis itu hanya bisa menatap Myung Soo meminta penjelasan. Tapi sepertinya laki-laki itu tidak bermaksud untuk menjawab kebingungan Eun Ji. Tidak dengan kata.

“Astaga.” Eun Ji membuka mulutnya terkejut. Myung Soo memang tidak mengatakan apapun, melainkan tubuhnya-lah yang mengatakan sesuatu. Tanpa berpikir panjang, Myung Soo menggerakkan pinggulnya, memberi penjelasan sekaligus menggoda Eun Ji.

Hening sejenak. Keduanya bertatapan cukup lama dengan ekspresi masing-masing: Eun Ji dengan tatapan terkejut dan Myung Soo yang terus memohon melalui matanya. Sampai akhirnya Myung Soo berdecak, memecah keheningan yang tak tahu akhirnya.

“Kau tidak akan menghentikannya, bukan?” tanya Myung Soo penuh harap.

Eun Ji memainkan bibirnya, kemudian memasang wajah seolah-olah ragu untuk melanjutkan permainan. “Maaf.” Ujar Eun Ji singkat.

Myung Soo menghela napasnya, kepalanya tertunduk. Hilang sudah harapannya.

“Maaf karena kau harus melepas bajumu.”

Seakan-akan mendapat durian runtuh, Myung Soo mengangkat kembali kepalanya. Matanya bertemu dengan mata Eun Ji yang tengah tersenyum padanya. Sementara dirinya masih dipenuhi keterkejutan.

“Apa?” tanya Myung Soo, masih tidak percaya dengan pendengarannya.

Eun Ji mendecak. “Aku tidak akan mengulangnya.”

Senyum Myung Soo semakin melebar, sementara matanya tidak bisa lepas dari wajah gadis di depannya.

“Jung Eun Ji.”

“Ada dua pilihan,” kata Eun Ji mengabaikan panggilan Myung Soo.

“Apa?”

“Kau yang melepasnya atau aku yang melepasnya.”

“Aku suka yang kedua.”

Eun Ji tertawa kecil. Ia sudah tau dengan jawaban Myung Soo.

Perlahan tangannya bergerak menuju kemeja yang menempel di tubuh Myung Soo. Kemudian tangannya menari di sana, membuka satu-demi-satu kancing yang menghalangi tubuh Myung Soo.

“Jung Eun Ji.” Panggil Myung Soo lagi.

“Hm?” tanggapnya tanpa menoleh.

Myung Soo tersenyum, Eun Ji yang sedang serius memang tak bisa di ganggu. “Lihat aku.” Katanya meminta.

Dan kali ini tak begitu sulit. Eun Ji juga tak marah ketika Myung Soo memintanya untuk saling bertatapan. Mata keduanya bertemu sejenak. Eun Ji tersenyum kecil, tangannya masih menempel di dada Myung Soo. Myung Soo memajukan wajahnya. Perlahan tapi pasti, napas keduanya kembali bertemu.

“Jung Eun Ji,” kata Myung Soo pelan. “Aku tidak akan melepaskanmu.”

***

TBC

6 responses

  1. wah.. keren.🙂 2 part khusus utk MyungJi. haha
    seperti biasa.. kata”nya selalu buat q suka. sperti pny arti..
    WOW! gak sabar utk kelanjutannya.. Next thor. and Fighting!! 🙂

  2. Akhirnyaaa. . . .bisa baca yg chapter 13
    suka bgt ama couple myungji dan ama kisah cinta mereka
    next,,,dipercepat ya thor
    semangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s