Happiness (Chapter 14)

Happiness.

Genre  : Romance.

Rating : NC-21

Cast     : Kim Myung Soo–Jung Eun Ji–other cast as showing.

Part 14

“Asshh—mhhh,”

Eun Ji menggeliat geli, desahannya terdengar jelas didalam ruangan kecil tempat keduanya tidur semalam. Dengan tubuh yang sepenuhnya naked, gadis itu menggeliat merasakan lidah Myung Soo yang menari di atas perutnya. Menciuminya dan bahkan menjilati pusarnya layaknya sekeor anjing yang tengah menikmati makanannya.

“Ohh.” Myung Soo teriak terkejut ketika sepasang kaki melingkar di punggungnya. Untuk sejenak ia menghentikan kegiatannya dan mendongak menatap Eun Ji dari tempatnya.

“Aku tidak sengaja.” Katanya seakan-akan mengerti arti tatapan Myung Soo. Eun Ji tertawa kecil, gadis itu menunjukkan seringainya yang juga memancing seringai Myung Soo.

Myung Soo tidak berkomentar. Ia memajukan tubuhnya hingga kening keduanya sejajar, kemudian menatap mata Eun Ji dengan seringai yang tak kalah seram dari gadis di depannya.

Sejak Eun Ji memutuskan untuk melanjutkan permainan, sikap keduanya benar-benar berbeda. Yang terpancar dari mata keduanya hanya kebahagiaan yang tak bisa di tebak. Entah itu bahagia karena memiliki waktu bersama atau bahagia karena dapat berbuat sex.

Setelah kesepatakatan itu, keduanya masih belum mencapai tingkat orgasme lagi. Hanya beberapa cairan yang keluar karena ketidaksengajaan dan dorongan hormon tubuh keduanya. Bahkan keduanya belum mencapai tahap inti lagi. Yang mereka lakukan hanya bermain main dengan tubuh masing-masing, seakan-akan memanjakan tubuh pasangan tak akan ada habisnya.

Myung Soo menatap Eun Ji intens. Salah satu tangannya bergerak untuk menyingkirkan anak-anak rambut Eun Ji yang menempel dan menghalangi wajah cantik gadis itu. Kemudian jemarinya bergerak mengagumi wajah Eun Ji; mata, hidung, pipi, dan bibir ia sentuh. Sampai akhirnya tatapannya tertuju pada bibir Eun Ji dan menyerangnya ganas namun tertuntun.

“Mhhh—” Eun Ji memejamkan matanya. Tangannya menempel di dada Myung Soo. Kepalanya terdorong untuk memperdalam ciuman keduanya. Sementara itu decakan demi decakan semakin jelas terdengar dari tempat keduanya berbaring. Myung Soo menghisap bibir atas Eun Ji, kemudian menjulurkan lidahnya ke dalam mulut gadis itu; mengabsen deretan gigi Eun Ji dan mempertemukan lidah keduanya.

“Ngh—” Myung Soo mendesah. Keduanya kembali berciuman tapi sontak terhenti ketika kaki Eun Ji menjepit junior Myung Soo. Gadis itu tak hanya menjepitnya, tapi juga menggerak-gerakkan kakinya bergantian secara perlahan yang berarti menggoda junior Myung Soo.

Myung Soo mengangkat kepalanya, menoleh sejenak ke bagian bawah tubuhnya kemudian kembali menatap Eun Ji. Gadis di depannya menunjukkan wajah tak-tahu-apa-apa, seakan-akan apa yang baru saja dilakukannya bukanlah sesuatu yang besar.

“Astaga Jung Eun Ji—”

Kening Eun Ji berkerut, sementara bibirnya memanyun. “Aku tidak melakukan apapun.” Katanya berbohong.

Myung Soo tertawa, matanya tertuju pada mata gadis di depannya. “Kau benar-benar bercanda.”

“Aku tidak nghh—” Eun Ji mendesah seketika. Lehernya terasa geli menyambut kehadiran bibir Myung Soo yang tiba-tiba. Tanpa sadar kakinya tidak lagi menghimpit junior Myung Soo. Konsentrasinya buyar seketika ketika Myung Soo membenamkan wajahnya di antara leher dan pundaknya.

“Ouhh—”

Myung Soo benar-benar memanjakannya. Kecupan-kecupan yang sebelumnya Eun Ji terima perlahan berubah menjadi hisapan. Myung Soo tak berhenti menghisap, dihisapnya leher putih jenjang milik Eun Ji, kemudian membuat tanda kepemilikan dirinya atas Eun Ji dengan caranya sendiri. Eun Ji tak bisa menolak, tubuhnya hanya bisa menggelinjang geli dan menjejangkan lehernya, memberi akses lebih untuk Myung Soo.

“Ohh—Myung Soo ngh—” Eun Ji mendesah hebat. Tangannya memeluk tubuh Myung Soo dan mengusap pelan pelan punggung laki-laki di depannya. Keringat membasahi keningnya, sementara matanya terus saja terpejam menikmati setiap sentuhan Myung Soo.

“Sebut namaku, Eun Ji–ah.” Pinta Myung Soo pelan, napasnya yang keluar seiringan dengan ucapannya mengalir lembut dan menyapu hangat kulit Eun Ji. Memberikat sengatan-sengatan godaan yang memacu naluri gadis itu.

“Nghh—” Eun Ji mendesah. Tangan Myung Soo bergerak nakal di dadanya. Meraup dada gadis itu dengan tangannya, seakan-akan mengukur besar payurada Eun Ji kemudian meremasnya pelan. “Ouh Myungh…”

Eun Ji menggelinjang ketika rambut Myung Soo menyapu dadanya. Perutnya terasa geli. Kemudian ia mendapati dirinya digoda oleh beberapa kecupan di dadanya. Kecupan yang semakin lama berubah menjadi hisapan-hisapan kecil di dadanya. “Myung—Nghh—Ouh..”

“Aw—” teriak Eun Ji. Matanya terbuka ketika jari Myung Soo—dengan sengaja—menarik nipple kirinya. Myung Soo menyeringai puas, wajah Eun Ji semakin menggodanya, meningkatkan naluri dan birahinya.

Myung Soo tertawa menyeringai, merasa berhasil memenangi peperangan yang masih belum berakhir. Keduanya masih beradu ekspresi sampai akhirnya salah satu kaki Eun Ji dengan sengaja membentur junior Myung Soo, membuat laki-laki itu mengerang kesakitan.

Satu sama untuk perolehan skor keduanya. Eun Ji menyeringai, matanya menyipit seraya melebarnya senyum yang terpampang di wajahnya. Di tempat lain, Myung Soo berusaha menahan rasa sakitnya. Laki-laki itu meluapkan rasa sakitnya dengan menggigit bibirnya, sementara tangannya ia gunakan untuk menutupi kemaluannya.

“Jung Eunghhh—” Myung Soo mendesah pelan. Bibir Eun Ji menjadi obat terbaiknya. Eun Ji melumat bibir Myung Soo dengan intens, mengalungkan kedua tangannya di leher Myung Soo dan merapatkan dada mereka. Gadis itu juga terkadang mendesah.

Myung Soo menggerakkan tangannya. Perlahan menyentuh perut Eun Ji dan mengelusnya lembut. Kemudian gerakannya turun menuju pinggul Eun Ji, memberi sedikit sengatan di pinggulnya. “Myung Soo–ah..” bisik Eun Ji. Myung Soo tersenyum kecil. Ia sendiri tidak yakin dengan dirinya sendiri—tepatnya sampai saat ini ia masih bertanya-tanya; sejak kapan ia berani menggoda dan meningkatkan napsu Eun Ji.

Eun Ji beralih, gadis itu meninggalkan sebuah kecupan di pipi Myung Soo sebelum akhirnya membenamkan wajahnya tepat di leher laki-laki itu. Kedua tangannya mencengkeram erat pundak Myung Soo. Jika Myung Soo memanjakan lehernya dengan naluri kelakian, maka pula Eun Ji. Gadis itu mengecupi sudut-demi-sudut leher Myung Soo dengan naluri wanitanya. Meski secara lembut, tak jarang kecupan Eun Ji berubah menjadi hisapan yang meninggalkan bekas di leher Myung Soo.

Perlahan ciuman itu semakin turun hingga singgah ke dadanya. Dengan sengaja Eun Ji memanjakan dada bidang Myung Soo, diciumnya nipple Myung Soo lembut, dijilat dan dipelintir.

“Eun Ji–ahhh,” desah Myung Soo, membuat Eun Ji tersenyum puas dan semakin bersemangat. Kemudian tubuh Eun Ji bergerak turun seiringan dengan ciuman yang turun menuju perutnya.

Eun Ji memasang seringainya. Semangatnya terasa mencapai puncak ketika matanya bertemu dengan tonjolan besar yang tak terbalut kain. Berkali-kali ia bermain dengan benda itu, tapi rasanya kali ini berbeda. Selain semangat ia juga merasa bahagia—perasaan lain yang keluar ketika menatap wajah terangsang Myung Soo akibat perbuatannya.

“Ji—Ouhh,” Myung Soo mendesah ketika Eun Ji menyentuh tonjolan itu, menekannya perlahan. “Berhenti mempermainkanku Eun Ji–ah.”

Bukannya mendengarkan Eun Ji justru semakin bersemangat. Dengan sengaja ia duduki paha Myung Soo–menahan kaki laki-laki itu yang terus bergerak seakan-akan menendang sesuatu. Tangannya semakin liar bermain di junior Myung Soo, mulai dari meremasnya pelan sampai menggesek-gesekkan jemarinya hingga terlihat mengkilap karena cairan yang perlahan keluar. Sementara tangannya yang lain menekan twinsball Myung Soo bergantian.

“Jung Eun Ji, Aku—” Myung Soo berhenti berbicara dan mendesah ketika sesuatu yang lembut dan basah mengguyur kelaminnya. Sejenak ia mengalihkan matanya pada Eun Ji dan menatap gadis itu, tapi kemudian ia menyerah dan memilih untuk menutup matanya—menikmati setiap kenikmatan yang diberikan Eun Ji.

Berbeda dengan Eun Ji yang asik bermain. Gadis itu—dengan polosnya—mengoyak-oyak kelamin Myung Soo dengan mulutnya, memberikan tekanan-tekanan lembut dengan lidahnya, dan membasahinya dengan sallivanya. Tak jarang juga ia menerima pasokan cairan yang keluar tanpa sepengetahuan dari kelamin Myung Soo.

“Eun Ji–ah,” Myung Soo menggigit bibirnya. Keringat terus mengalir seiringan dengan permainan Eun Ji yang semakin menjadi. “Jung Eun Ji—Ouhh,”

Eun Ji mengadah. Batang junior yang sebelumnya berada dalam mulutnya kini membesar dalam genggamannya. “Bonus Service.” Katanya menyeringai. Dikecupnya lagi batang itu sebagai penutupan, kemudian dada keduanya kembali menempel.

“Sudah selesai.” Lapor Eun Ji puas, senyum lebar tak lepas dari wajahnya. “Buka matamu, Kim Myung Soo.”

Myung Soo mendesah lega dan membuka matanya. Jung Eun Ji benar-benar membuatnya gila.

“Bagaimana?” tanya Eun Ji polos.

Keduanya bertatapan sejenak. Mata dan tatapan Eun Ji jauh lebih lembut kali ini, dari tatapannya Myung Soo yakin kalau Eun Ji benar-benar melupakan masalahnya. Walau hanya sejenak.

Myung Soo menatap Eun Ji, memikirkan jawaban terbaik yang bisa ia katakan—atau mungkin tindakan terbaik sebagai balasan.

“Apa—Ooooh.” Eun Ji mendesah hebat, menggelinjang ketika merasakan sesuatu yang keras membentur selangkangannya seiringan dengan bertukarnya posisi keduanya; Eun Ji di bawah dan Myung Soo di atas. Myung Soo sengaja melakukannya, menggesek-gesekkan juniornya di liang vagina Eun Ji mebuatnya terangsang beribu kali lipat.

Tapi Myung Soo tidak berniat untuk melakukannya. Laki-laki itu masih ingin bermain dan menggoda Eun Ji sehingga keduanya bisa keluar bersamaan.

Myung Soo turun menuju perut Eun Ji. Tangannya mengelus tubuh gadis itu perlahan—mulai dari bahunya, dadanya, sampai dengan perut dan pinggulnya—sebelum tiba di bagian intim. Tanpa bicara Eun Ji melebarkan pahanya, memberikan akses lebih untuk Myung Soo.

“Ouhh—” Eun Ji kontan mendesah. Napas Myung Soo menyapu hangat liang vaginanya, memberikan sengata-sengatan kehangatan yang menuntunnya untuk mendapatkan hal lebih. Dan benar saja, keinginan Eun Ji terwujud tatkala Myung Soo mengecupi vaginanya, membuat gadis itu mendesah hebat. “Ohh Myung Soo–ahh…”

Myung Soo tak mengubris, senyum jahil menghiasi wajahnya. Sementara peluh membasahi wajah—bahkan tubuh Eun Ji, terjebak antara rasa geli dan nikmat yang diciptakan Myung Soo. Kini daerah intim Eun Ji menjadi santapan Myung Soo, kali ini bukan hanya kecupan melainkan jilatan di antara kedua daging vaginanya membuat Eun Ji terus saja menyebut nama Myung Soo dengan desahan-desahan hebat di antaranya.

“Ouh Myung—Ooooohh—”

Bermacam jenis desahan terus keluar dari mulut Eun Ji. Gadis itu juga terus menggelinjang. Tubuhnya sudah lelah namun hasratnya menginginkan lebih. Dia benar-benar kehilangan kendali untuk kembali mengacuhkan Myung Soo dan mengabaikan perasaannya. Permainan Myung Soo membuatnya terbuai pada kenikmatan sex yang selama ini hanya menjadi pelampiasannya saja.

Myung Soo membuka lubang antara daging vagina Eun Ji lebih lebar, sebelum akhirnya memasukkan lidahnya ke dalam, menjilat klirotisnya, menghisap dan menjilat lagi membuat daging itu membengkak.

“Myung Soo ahhhh—” Eun Ji mendesah hebat. Tanpa sadar gadis itu meremas sendiri payudaranya. Beberapa menit dipermainkan Myung Soo membuat gadis itu cepat mencapai tingkat orgasmenya. Eun Ji menghela napas lega ketika cairannya keluar untuk yang kesekian kalinya, tapi kemudian gadis itu kembali di kagetkan dengan ciuman tiba-tiba yang diberikan Myung Soo. Eun Ji tidak menolak, ia bahkan tidak menolak cairan yang di berikan Myung Soo melalui ciuman keduanya. Ia yakin kalau Myung Soo baru saja membagi cairan cinta keduanya.

“Ough—” Belum selesai Eun Ji meneguk habis cairan itu, Myung Soo kembali mengagetkannya. Kali ini laki-laki itu dengan cekatan memasukkan dua buah jarinya ke dalam vagina Eun Ji, sontak saja membuat gadis itu kelabakan dan melepas ciuman keduanya. “Myung–ahhh,

Myung Soo tertawa kecil, dibungkamnya bibir Eun Ji dengan bibirnya. Jari Myung Soo bergerak perlahan, namun bertambah cepat seiring berjalannya waktu. Kemudian Myung Soo menambahkan jarinya, dengan kecepatan yang sama ia gerakan ketiga jarinya itu, mengoyak-oyak isi dalamnya.

“Ouhh—cepat ough,” Eun Ji mengalungkan lengannya di leher Myung Soo. Jemarinya menyelinap di rambut Myung Soo dan menjambaknya sebagai pelampiasan. “Myung cepat nghh—Aku ouh—”

Myung Soo menggerakkan jarinya dengan intens. Gerakannya semakin cepat—tapi tetap teratur—ketika mendengar kode yang diberikan Eun Ji. Sejujurnya ia ingin keduanya melepas kelegaan bersama, tapi ia sendiri tidak yakin kalau Eun Ji masih bisa menahannya.

“Ouugh—”

Eun Ji menggeleng-gelengkan kepalanya. Sesuatu kembali terasa mendesak dan menunggu untuk di keluarkan. Hingga akhirnya gadis itu memasuki tingkat orgasme tepat ketika Myung Soo menarik keluar ketiga jarinya, membiarkan cairan Eun Ji membasahi kasur keduanya. Sementara Eun Ji bernapas lega, Myung Soo membaringkan tubuhnya. Keduanya berbaring bersebelahan tanpa kain yang menutupi tubuh keduanya.

“Jung Eun Ji,” panggil Myung Soo perlahan.

Eun Ji memutar kepalanya, matanya menatap wajah Myung Soo dari sisi samping. Tanpa bersuara, Gadis itu menunggu Myung Soo melanjutkan perkataannya.

Myung Soo menatap lurus, ekspresi wajahnya datar. “Apa aku terlalu kasar padamu?”

Untuk sejenak Eun Ji diam. Ia yakin kalau Myung Soo baru saja mengajukan sebuah pertanyaan padanya. Tapi entah bagaimana, pertanyaan itu terdengar seperti penolakan secara halus.

Eun Ji tersenyum kecil, ia tidak ingin salahpaham yang dirasakan Myung Soo juga dirasakannya. Jauh dalam hatinya, ia yakin kalau Myung Soo tidak ingin menyakitinya. Bukan menolak dirinya.

“Kim Myung Soo,” panggil Eun Ji, suaranya lembut dengan nada yang tak kalah menggoda. “Lihat aku.”

Butuh beberapa detik sampai akhirnya Myung Soo menolehkan kepalanya. Mata keduanya bertemu. Dari tempatnya berbaring, Eun Ji bisa menatap mata Myung Soo dan setiap sudut wajah Myung Soo. Eun Ji tersenyum cerah, berharap kalau senyumnya dapat menular dan mengobati kesedihan yang menghinggapi wajah Myung Soo.

“Tersenyumlah.” Sahut Eun Ji singkat. “Jangan buat aku merasa buruk dengan wajah itu. Kau membuatku terlihat jahat.”

Myung Soo tidak bergeming. Raut wajahnya masih sama, bahkan pancaran tatapannya pun tak berubah.

“Apapun yang mengganggu pikiranmu, bagaimanapun bentuknya, entah itu ledekan, cemohan atau pendapat oranglain yang menyakitimu—atau bahkan itu pendapatmu sendiri. Tolong jangan kau pikirkan.

“Aku bahagia denganmu. Meskipun cara kita salah tapi bagiku ini semua membuatku bahagia. Caramu menatapku, menyentuh bibirku, atau memandangiku ketika aku tertidur, aku bahagia.

“Buang semua pikiranmu, semua pikiran yang hanya akan menimbulkan kesalahpahaman. Aku bahagia—seperti apapun caranya. Aku bahagia selama aku denganmu.”

Eun Ji menutup matanya. Memberikan penjelasan yang cukup panjang—dan menyangkut perasaannya—membuatnya terbawa suasana. Tanpa sadar kini kening keduanya saling bertautan, jarak keduanya terhapus seiringan dengan berjalannya waktu, napas keduanya pun bersatu dalam jarak yang sangat dekat.

“Nyonya Kim—”

“Apa?” Eun Ji memotong. Matanya masih terpejam.

“Menikahlah denganku.”

Eun Ji berdecak. “Apa ini lamaran untukku?”

“Jadi ibu dari anak-anakku.”

“Kim Myung Soo—”

“Menjadi keluarga yang paling bahagia.”

“Myung Soo–ah.

“Menjadi milikku selamanya—”

“Tuan Kim.” Potong Eun Ji, nadanya tinggi dan terkesan memaksa. Meski begitu bibirnya tersenyum, matanya pun kini terbuka dan menatap mata Myung Soo serius.

Sementara yang ditatap tak bicara. Myung Soo memilih untuk diam dan memberikan kesempatan bicara untuk Eun Ji—atau lebih tepatnya kesempatan menjawab lamaran?

“Tuan Kim.” Ulang Eun Ji, kali ini terdengar lebih halus daripada sebelumnya. “Aku mencintaimu.”

***

 

“Ouh—perlahan,”

“Tahan sebentar saja—Ah,”

Eun Ji mencengkram pundak Myung Soo erat. Cengkramannya semakin kencang ketikam Myung Soo mendorong juniornya semakin mendalam. Tanpa sadar pundak laki-laki itu mulai memerah dan terdapat bekas di sana.

“Myung–ahh.”

Myung Soo meraih bibir Eun Ji. Diciuminya bibir gadis itu sementara tubuhnya masih berusaha memasuki tubuh Eun Ji. Keduanya berperang dalam perang bibir, saling mengisap dan bertukar salliva.

“Oohh—Myung Ouh.” Eun Ji mengarahkan kepalanya, melepas ciuman keduanya. Gadis itu terus saja mendesah dan berusaha menahan rasa sakitnya ketika junior itu mulai tertanam sempura di tubuhnya.

“Ahh…” keduanya mendesah bersamaan. Myung Soo menggunakan tangannya sebagai tumpuan, sementara Eun Ji terjebak dalam kandang tubuh Myung Soo.

Keduanya berhenti sejenak. Berusaha menata napas dan memberi waktu beradaptasi untuk tubuh keduanya. Myung Soo menatap Eun Ji, begitupun sebaliknya. Keduanya bertatapan dengan senyum yang menghiasi wajah keduanya, sampai akhirnya senyum berubah menjadi tawa dan tawa berarti kebahagiaan.

Myung Soo tak henti-hentinya menatap Eun Ji, matanya tersenyum ketika melihat gadis di depannya tersenyum karenanya. Perlahan tapi pasti, tubuhnya bergerak maju dan berhenti tepat di depan bibir Eun Ji. Memberi sejenak jeda sebelum akhirnya mengakhiri perang mata mereka dengan ciuman panas.

“Ouh,” Eun Ji mendesah kecil. Ciuman yang diberikan Myung Soo memberikan gerakan pada tubuh keduanya. Myung Soo menggoyangkan pinggulnya perlahan, begitupun Eun Ji yang menggerakkan tubuhnya berlawanan. Sementara bibir keduanya terus berpacu dalam ciuman yang menambah kenikmatan mereka.

“Ohh.. Myung Soo–ah.” Eun Ji melepas ciumannya dan mendesah. Gerakan Myung Soo yang semakin cepat membuatnya tak bisa menahan desahan. Selain itu, kedua kakinya pun—entah sejak kapan—sudah melingkar di pinggul Myung Soo. Eun Ji memejamkan matanya dan menengadahkan kepalanya, tubuhnya seperti kembali hidup dan ia bisa merasakan sesuatu yang mendorong kencang dalam vaginanya—menekan titik ransangnya dan memacu gairahnya.

“Ahh—” Eun Ji kembali mencengkram ketika Myung Soo kembali menekan titik ransangnya. Kali ini ini gadis itu memilih punggung Myung Soo sebagai pelampiasan kenikmatannya. Pandangannya perlahan mengabur sementara pikirannya buyar. Ia merasa bodoh karena sempat mempermainkan kenikmatan sex.

“Myung Ouhh—”

“Ough—sebentar lagi ooh..”

Eun Ji bergerak lebih cepat. Tubuh keduanya bergerak berlawanan dengan gerakan yang seirama. Suara desahan dan decakan kelamin keduanya memenuhi ruangan mereka, bahkan jeritan kecil tak jarang terdengar dari Eun Ji tatkala Myung Soo menekan titik ransangnya.

“Di situ yaaakh—Ouhh,”

“Ohh—Eun Ji–ahh,”

“Myung aku—keluar—ohh..”

Myung Soo tak menyahut. Otaknya tidak berfungsi dan mulutnya terlalu sibuk untuk menahan desahan ketika sesuatu terasa mendesak keluar dari juniornya.

“Aarghhh—”

Keduanya mendesah, cairan itu tumpah bersamaan. Myung Soo mengguyur spermanya di rahim Eun Ji, meninggalkan rasa hangat pada tubuh gadis itu. Eun Ji menghela napasnya, lega sekaligus merasa puas dengan permainan keduanya.

Myung Soo menghentakkan juniornya, membuat Eun Ji terkejut dan mendesah seketika. Keduanya bertatapan, tatapan yang tak dapat diungkapkan dengan kata melainkan dengan perasaan.

“Berhenti mengagumiku.” Protes Eun Ji.

Myung Soo tertawa, sama sekali tak berniat melepas kaitan tubuh mereka. “Aku mencintaimu Jung Eun Ji.”

“Aku harus pulang—”

“Aku mencintaimu.”

Eun Ji menghela napasnya. Kemudian bibirnya tertarik untuk membentuk simpul. “Aku juga mencintaimu.”

***

 

“Tunggu aku lima menit lagi.”

Myung Soo menyandarkan punggungnya di bangku kemudi. Matanya terarah pada gadis yang duduk di sebelahnya. “Ia bilang kau harus menunggu lima menit lagi.”

“Lima menit?”

“Ya.” Jawab Myung Soo. “Apa lima menit terlalu cepat? Apa aku harus menyuruhnya untuk tidak datang?”

Eun Ji mendengus. “Aku bahkan tidak mengerti kenapa aku harus menunggu.”

Myung Soo tersenyum. Perlahan tangannya bergerak mendekati tangan Eun Ji, lalu menggenggamnya erat membuat si pemilik tangan menatap curiga.

“Aku hanya ingin kau selamat.” Jelasnya sedikit berbohong. Sejujurnya ia hanya ingin memperlambat waktu sehingga keduanya bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi. Tapi bagaimanapun juga ia sudah berjanji untuk mengantar gadis itu pulang.

“Aku tidak akan mati—”

“Astaga Jung Eun Ji, apa kau bercanda?” tanya Myung Soo tegas. “Jangan gunakan kata mati dalam situasi seperti ini.”

Eun Ji memanyunkan bibirnya, “Kau berlebihan.”

Oh sesungguhnya tidak. Setiap orang memiliki hal yang ditakuti, dan hal pertama yang ditakuti Myung Soo adalah kehilangan Eun Ji. Sudah cukup baginya menjaga jarak dan bertingkah seolah-olah keduanya tidak saling mengenal. Bepura-pura memang hal yang menyakitkan.

Myung Soo mengalihkan pandangannya. Tangannya masih menggenggam erat tangan Eun Ji, sementara matanya menatap lurus ke luar kaca mobil. Entah sudah berapa menit berlalu tapi gadis dengan marga Park itu belum juga datang.

“Myung Soo–ssi.”

Tak ada jawaban. Pandangan Myung Soo masih tak beralih dan tak ada tanda-tanda suara dari tempat Myung Soo duduk.

“Kim Myung Soo.” panggil Eun Ji lagi, “Aku harus pergi.”

Tapi entah bagaimana, kata pergi membuat Myung Soo mengalihkan pandangannya dan menatap tajam Eun Ji. Dia benar-benar tak ingin kehilangan.

“Nyonya Park di sini, aku harus pergi.”

Myung Soo menggerakkan bola matanya, menatap kaca mobilnya yang berwarna hitam. Untuk sejenak laki-laki itu tak bereaksi, matanya hanya menatap sesosok tubuh yang berdiri tepat di depan jendela mobilnya.

Sampai akhirnya Eun Ji melepas genggaman tangan keduanya dan mendecak kesal.

“Cepat buka pintunya.” kata Eun Ji tegas.

Myung Soo menatap Eun Ji sejenak, masih tidak bisa merelakan gadis itu pergi. “Buka saja sendiri.” Katanya acuh-tak-acuh.

Eun Ji mencibir. Myung Soo bisa merasakan tatapan tajam yang diberikan gadisnya itu. Sejujurnya Eun Ji bisa saja membuka pintu mobil lalu keluar dari mobil sendiri, meninggalkan dirinya yang—mungkin—akan membeku atau terlihat sedih.

Namun kenyataannya berbeda.

Sejak mobil yang keduanya tumpangi berhenti, Myung Soo sedikitpun tak berniat untuk membukakan pintu—bahkan laki-laki itu masih mengunci pintu mobilnya. Takut-takut Eun Ji pergi tanpa mengatakan sesuatu padanya, seperti sebelumnya.

Myung Soo menyandarkan punggungnya, mengabaikan tatapan sekaligus ocehan Eun Ji yang terus-menerus meminta untuk diturunkan. Matanya terpejam sementara bibirnya tanpa sadar tersenyum kecil mendengar omelan-omelan yang keluar dari mulut gadis di sebelahnya. Tajam tapi terdengar lembut di telinganya.

“Hei Jung Eun Ji, apa kau tidak akan keluar?”

Dengan mata yang terpejam Myung Soo tertawa kecil di tempatnya. Suara gadis dengan marga Park mulai terdengar sampai ke dalam mobilnya. Meski mengganggu, tapi ia yakin kalau Eun Ji-lah yang menurunkan kaca mobilnya.

“Aku tidak bisa keluar.” Jawab Eun Ji seadanya.

Di tempatnya Myung Soo bisa merasakan empat pasang mata yang menatapnya, sepasang tatapan heran dan sepasang tatapan kesal. Tapi ia tak memperdulikannya, ia benar-benar tidak akan membukakan pintu jika gadisnya itu tidak mangatakan perasaannya terlebih dahulu.

“Myung Soo—ssi?”

Myung Soo diam, mengabaikan panggilan gadis bermarga Park itu.

“Hei Kim Myung Soo, apa kau benar-benar akan bersikap seperti ini? Apa aku benar-benar harus ikut pulang denganmu?”

“Kalau begitu ayo kita pulang.” Myung Soo membuka matanya, berniat untuk menyalakan mesin mobilnya ketika sebuah tangan berhasil menggagalkan niatnya.

“Aku hanya bercanda.” Kata Eun Ji lembut, senyumnya mengembang lebar menghiasi wajahnya.

Myung Soo menarik kembali tangannya, kembali membiarkan punggungnya bersandar pada bangku kemudi dan memejamkan matanya.

***

 

“Kenapa tidak kau buka saja pintunya sendiri?” tanya gadis bermarga Park.

Eun Ji menghela napasnya. “Kunci kendalinya ada di pintu itu.” katanya dengan kepala yang mengarah pada pintu di samping Myung Soo.

“Arahkan saja tanganmu, aku yakin kau bisa memencet tombolnya sendiri.”

Eun Ji mengangguk. Mencoba untuk percaya dengan cara yang diberikan kliennya itu. “Akan ku coba.” Katanya.

Perlahan gadis itu bergerak, tangannya mengulur dan terarah pada sebuah tombol yang dapat membebaskannya. Dengan sangat berhati-hati ia gerakkan tubuhnya mendekati kursi Myung Soo, takut-takut Myung Soo membuka matanya dan berbuat macam-macam padanya.

Jarak demi jarak mulai terhapus, hanya perlu beberapa centi lagi menuju tombol kunci. Eun Ji menggigit bibirnya, tangannya berada tepat di atas paha Myung Soo, jika saja gadis itu menyentuh atau—tidak sengaja—menimbulkan pergerakan, Myung Soo mungkin akan menahannya, bahkan membawanya pulang bersama saat itu juga.

“Sedikit lagi—”

Eun Ji mengangkat salah satu kakinya, gadis itu membiarkan kakinya yang berjinjit memberikan sedikit dorongan pada tubuhnya. Dengan susah payah ia kendalikan keseimbangan tubuhnya, sementara matanya sedikitpun tak berani menatap wajah Myung Soo.

Beberapa detik berlalu hingga akhirnya Eun Ji mencapai tujuannya, gadis itu hanya perlu memberikan sedikit lagi dorongan pada tubuhnya untuk menekan tombol tersebut. dengan kedua kaki yang kini saling memberi dorongan, Eun Ji mengarahkan jemarinya pada tombol tersebut dan menekannya.

Dan berhasil.

Gadis itu berhasil menekan tombol tersebut diiringi dengan dentuman kecil pertanda kunci berhasil di buka.

Tapi di sisi lain, gadis itu juga berhasil terjatuh di pangkuan Myung Soo.

Kini mata keduanya bertemu. Setelah bersusah payah mengerahkan kemampuannya, Eun Ji—mau tidak—mau harus berakhir pada tatapan seorang Kim Myung Soo. Tatapan yang tidak terlalu tajam tapi tetap terasa menusuk.

Eun Ji membuka mulutnya, bermaksud untuk menjelaskan kegiatannya ketika Myung Soo lebih dulu mengeluarkan suaranya.

“Tutup mulutmu.” Kata laki-laki itu. Suaranya pelan namun terdengar tergas di telinga Eun Ji. Dua kata yang langsung membuat gadis itu terpana dan membeku di tempatnya.

Eun Ji menatap Myung Soo dalam. Matanya tak bisa lepas mengawasi gerak-gerik bola mata laki-laki di depannya. Dunianya kembali terasa kosong. Mata Myung Soo seakan-akan mengambil alih perhatian dan menghipnotisnya. Membuatnya lupa dengan tujuannya yang sebelumnya.

“Kau harus dihukum Jung Eun Ji.”

Kening Eun Ji berkerut, tak mengerti dengan perkataan Myung Soo. “Apa?”

“Kau harus dihukum.” Ulang Myung Soo.

“Dihukum?” tanya Eun Ji. “Hukuman apa?”

Eun Ji mendelik ngeri. Seringai Myung Soo membuat otaknya berpikir hal lain.

“Kau punya pilihan,” kata Myung Soo menjelaskan. “Pulang sekarang atau kembali ke apartemen?” tanyanya tegas.

Eun Ji mendengus. “Apa tidak ada pilihan lain?” katanya santai.

“Ada.”

“Kalau begitu apa?” Eun Ji mengedip beberapa kali, tanpa sadar menelan sallivanya sendiri. Jantungnya berdetak lebih cepat ketika mata keduanya bertemu dan menyalurkan berbagai macam makna yang dirasakan keduanya.

Keduanya kembali pada kebiasaan mereka: suasana hening dengan mata yang saling terpaut. Tak ada kata yang keluar dari bibir keduanya sampai akhirnya Eun Ji memejamkan matanya, menerima sekaligus membalas ciuman yang dilontarkan Myung Soo secara tiba-tiba.

Di tengah ciuman keduanya, tangan gadis itu bergerak. Menyentuh wajah Myung Soo perlahan dan menahan laki-laki itu dari kegiatannya. Melupakan semua kemungkinan buruk yang mungkin terjadi pada keduanya.

Tidak terkecuali dengan gadis bermarga Park yang kini menyaksikan keduanya. Secara langsung dan tanpa biaya.

Gadis itu memekik, tangannya dengan cepat menutup kedua matanya. Apa kalian bahagia bercinta di depanku?

***

 

“Sungguh, apa aku harus menjadi orang ketiga yang menghentikan kelian berdua—apa aku terlihat seperti seorang pelayan? Yang melakukan apapun karena perintah laki-laki itu dan membiarkan kalian berdua melakukan semua hal yang kalian inginkan? Astaga Jung Eun Ji, aku tak pernah menyangka—”

Eun Ji mengangkat tangannya, mengarahkannya pada knop pintu dan melakukan sedikit pergerakan pada knop tersebut. Hingga akhirnya keduanya sampai di kamar penginapan.

Dengan mata yang—sedikit—terasa berat dan seluruh anggota badan yang terasa lemas, Eun Ji menjatuhkan dirinya tepat di atas kasur. Tak memperdulikan ocehan kliennya yang terus-menerus protes tentang kegitan yang ia lakukan sebelumnya.

“Hei Jung Eun Ji,” panggil gadis itu, nadanya terdengar memaksa. “Sebenarnya siapa laki-laki itu? Dia meminta bantuanku tapi tak mengatakan hubungannya denganmu. Kemudian aku melihatnya—oh tidak, maksudku aku melihat kalian berciuman.” Jelasnya panjang lebar.

Sementara gadis yang ditanya mulai memejamkan matanya. Membayangkan hal-hal indah yang mungkin dapat membangkitkan semangatnya.

“Sejujurnya ada beberapa hal yang mengganggu pikiranku.” Aku gadis bermarga Park yang kini duduk tepat di sebelah Eun Ji berbaring. “Apa kalian memiliki hubungan khusus? Atau mungkin dia tunanganmu—Oh tunggu, apa kalian menuju proses pernikahan?”

“Tidak.” Jawab Eun Ji singkat. Sukses membuat gadis di sebelahnya mengangkat alis mata dan menatapnya heran. Eun Ji tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya. Sementara yang dipamerkan merasa semakin bingung dengan reaksi gadis itu.

Tanpa memperdulikan tatapan yang dilontarkan gadis di sebelahnya, Eun Ji bangkit dari posisinya. Melangkah menuju sudut ruangan dan mengutak-atik kopernya sejenak, kemudian kembali dengan beberapa pakaian di tangannya.

Eun Ji menatap gadis di depannya. “Apa kamar mandi di bawah kosong?” tanyanya perlahan.

“Sepertinya begitu. Kenapa?”

“Aku harus ganti baju.”

Gadis itu menatapnya sejenak. “Kenapa tidak di sini saja? Tidak ada laki-laki—”

“Tidak bisa.” Potong Eun Ji cepat, lagi-lagi menimbulkan keheranan di wajah kliennya itu.

Gadis itu mengangguk. Memilih untuk mengalah dan membiarkan Eun Ji pergi ke kamar mandi sendiri, sementara dirinya mau-tidak-mau kembali berjaga di kamar yang tak memiliki penghuni lain selain dirinya.

“Oh ya, Jung Eun Ji.” panggilnya sebelum Eun Ji menutup pintu. “Kalau mereka menanyakanmu, katakan saja kau menginap di rumah warga.”

Eun Ji tersenyum. Meski awalnya tak mengerti, gadis itu tetap memamerkan senyumannya.

“Terimakasih.

***

Gadis itu menatap pantulan dirinya. Kemudian memainkan bibirnya diiringi dengan perubahan ekspresi wajahnya.

Bosan.

Itulah yang mengganggu otaknya saat ini.

Hampir sepuluh menit ia berdiri di depan cermin tapi Eun Ji tak juga keluar. Sebenarnya ia bisa saja mengabaikan gadis itu dan bertindak seakan-akan tak peduli, tapi ketika melihat kejadian di mobil—ketika Myung Soo dan Eun Ji saling memautkan bibir keduanya—sesuatu mengganggu pikirannya.

Jika seseorang bertanya apa maka ia tak bisa menjelaskannya. Karna sejujurnya hanya Eun Ji yang bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Tapi entah apa yang dilakukan gadis itu di dalam kamar mandi. Apa ia mandi? Entahlah. Tak ada tanda-tanda tetesan air yang jatuh mengenai lantai. Eun Ji juga tidak bersuara. Entah karena kondisi fisik gadis itu yang terlalu lelah untuk mengeluarkan suara atau karena ketidakinginan gadis itu untuk bersuara.

Sampai akhirnya gadis itu mulai panik dan berusaha membuka paksa pintu kamar mandi dengan kunci cadangan. Tangannya bergerak dengan lihai, memasukkan kemudian memutar kunci tersebut sampai akhirnya terdengar suara sebagai pertanda.

Namun semuanya tak berhenti sampai di situ.

Kepanikannya semakin menjadi ketika kepalanya berhasil menembus pembatas ruangan.

Dengan mata yang membesar, gadis itu memekik terkejut. “Astaga—Jung Eun Ji!”

***

TBC

5 responses

  1. Aku pikir chapter ini bakal full nc.nya mereka.. hehe. Ok.

    Ok. Aku selalu suka ama crita ini.. dari segi bahasa, penjelasan. Keren dch!!
    Aku harap, next.nya gk lama” 🙂

  2. Authooorrrr. Lanjutt plissss. Kereeeen. Myung dewasa banget disini. Gak biasanya ada ff yg ngegambarin sikap sewasa myungsoo.. bagus banget author🙂

  3. Saeng please happy ending… jangan sad ending…
    Eunji ah, jadilah gadis yang kuat . Kim Myung Soo jaga lah Eunji baik2. Eunji lebih berharga drpd apapun. Jangan gara2 takut engga punya harta warisan terus sakitin eunji…

    Di tunggu next chapter nya y saeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s