Happiness (Chapter 15)

Happiness.

Genre  : Romance.

Rating : NC-21

Cast     : Kim Myung Soo–Jung Eun Ji–other cast as showing.

Part 15

“Bagaimana keadaannya?”

Jemari-jemari menempel lembut di atas pipi Eun Ji. Bergerak perlahan menyentuh pipinya. Sementara si pemilik jemari hanya bisa menatap Eun Ji khawatir. Matanya tidak sedikitpun lepas dari wajah gadis di depannya, bahkan ketika laki-laki itu bersuara.

“Aku tak tahu.” Jawab seorang gadis. “Matanya masih terpejam sejak tadi.”

Myung Soo membasahi bibirnya. Perasaan khawatir dan takut menjadi satu. “Sudah coba hubungi dokter?”

“Tidak ada yang berani.”

Kali ini Myung Soo menghela napasnya, tidak mengerti dengan pemikiran keenam gadis yang kini berdiri di belakangnya. “Menghubungiku tak akan membawa kesadaran padanya.” Katanya pasrah.

Keenam gadis itu tak menjawab. Satu persatu dari mereka mulai meninggalkan ruangan, memberikan kesempatan bagi Myung Soo untuk menunjukkan perhatian lebihnya pada gadis yang sejak tadi berbaring.

Tapi sebelum keduanya benar-benar berdua, gadis bermarga Park memanggilnya. Mengatakan sesuatu yang mungkin bisa membuat Eun Ji terkejut dan malu.

“Aku menemukan bercak-bercak merah di tubuhnya.” Katanya santai. “Kupikir itu ulah kalian berdua. Itulah alasanku menghubungimu dan memintamu datang kemari.”

“Aku bukan dokter yang bisa mendiagnosis keadaannya—”

“Setidaknya ia memilikimu di sisinya.” Potong gadis itu.

Myung Soo mendengus. Merasa dibodohi dengan perkataan gadis di belakangnya.

“Tidak akan sama rasanya jika aku menghubungi dokter.” kata gadis itu lagi. “Matanya memang tidak menyadari kehadiranmu. Tapi hatinya terus bekerja. Tanpa perintah, hatinya akan langsung mengirim sinyal tentang keberadaanmu. Kemudian perlahan meredakan rasa sakitnya, dan membangunkannya dari tidur panjangnya—”

“Apa kau senang berbagi dongeng?” tanya Myung Soo.

“Tidak.” Jawab gadis itu. “Aku mengatakannya karena aku juga wanita.”

Gadis itu menghela napasnya panjang. “Percayalah. Jung Eun Ji pasti bisa merasakan kehadiranmu.”

“Terimakasih.” Tanggap Myung Soo singkat. Mengakhiri perdebatan keduanya tanpa saling bertukar pandangan.

Sementara si gadis langsung saja melangkahkan kakinya keluar dari ruangan. Meninggalkan Myung Soo dengan semua pikiran dan kekhawatirannya.

Meninggalkan Myung Soo dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan.

***

 

“Berapa lama lagi?”

Kalimat itu keluar lagi dari mulutnya. Entah sudah yang keberapa kali ia bertanya, tapi sampai saat ini keinginannya itu masih belum terpenuhi.

Eun Ji memanyunkan bibirnya. Salah satu tangannya menopang dagu gadis itu, sementara matanya memperhatikan gerak-gerik laki-laki yang tengah sibuk dengan kegiatannya.

“Sebentar lagi.” jawab laki-laki itu. Jawaban yang sama dengan yang sebelumnya.

“Apa tidak bisa lebih cepat lagi? Aku lapar.”

“Aku tidak bisa melakukannya dengan sangat cepat. Tanganku hanya dua—”

“Perutku sakit.” Potong Eun Ji. Sukses mengalihkan perhatian laki-laki di depannya.

Eun Ji menyentuh perutnya. Menekannya perlahan sambil menahan rasa nyeri yang menyerangnya secara tiba-tiba.

“Apa yang terjadi?”

Eun Ji menggeleng. Ia benar-benar tak tahu-menahu tentang kondisi tubuhnya yang seketika lemas dan marah padanya.

Sejak sadar dari pingsannya, perutnya terus merujuk. Gadis itu bahkan tak sempat menanyakan alasan keberadaan Myung Soo di penginapannya. Satu-satunya kata yang keluar dari mulut gadis itu setelah membuka matanya dan menyebut nama Myung Soo tidak lain dan tidak bukan lapar.

Ia sendiri tak mengerti dengan keadaannya. Ia baru saja menghabiskan sarapannya di tempat inap Myung Soo beberapa jam yanglalu, kemudian tidak sadarkan diri beberapa jam, dan tersadar dengan perut yang terasa aneh. Hal sederhana yang berhasil membingungkannya.

Kini keduanya berada di satu ruangan berbeda namun terhubung. Eun Ji yang menunggu Myung Soo di meja makan dengan keenam kliennya, dan Myung Soo yang menyiapkan makanannya.

“Apa yang kau rasakan?”

Eun Ji mengangkat pundaknya. “Entahlah. Rasanya aneh.”

“Apa eonnie yakin tidak apa?”

“Aku baik-baik saja.” Eun Ji tersenyum. Rasanya seperti berada di lingkungan yang berbeda. Dengan kehadiran keenam kliennya itu, Eun Ji bisa merasa sedikit terlindungi. Setidaknya ia tidak harus selalu berada di sekitar Myung Soo dan menerima berbagai macam kecupan dari laki-laki itu.

Eun Ji memutar kepalanya. Sebuah suara yang berasal tepat di depan tempatnya duduk kini menjadi perhatian seisi ruangan tersebut.

“Cobalah.” Kata laki-laki di sebelahnya.

Gadis itu mengedarkan pandangannya sejenak, mengawasi reaksi keenam kliennya yang kini menatapnya. “Kau hanya buat satu?” tanya Eun Ji, kembali menatap Myung Soo yang berdiri tepat di sebelahnya.

“Tidak.” Jawab Myung Soo. “Sisanya ku buat terpisah—”

“Dia mementingkan dirimu.”

Pandangan Eun Ji beralih pada gadis yang duduk tepat di sebelahnya. Keningnya mengerut ketika melihat gadis di sebelahnya itu yang kini menatapnya menggoda.

“Makanlah.” Ujar Myung Soo. “Kau bilang kau lapar.”

***

 

“Makanlah. Kau bilang kau lapar.”

Myung Soo menghela napasnya. Tangannya bergerak menarik salah satu kursi kosong yang terletak tidak jauh darinya, kemudian menempatkan kursi itu tepat di sebelah gadisnya.

“Apa ini bisa di makan?” tanya gadis itu ragu.

Myung Soo tak menjawab. Tangannya bergerak cepat meraih sendok yang menganggur di dalam mangkuk tersebut. “Apa perlu aku suapi?” tanyanya.

Eun Ji memanyunkan bibirnya, menolak pertolongan Myung Soo tanpa harus mengeluarkan kata. Gadis itu meraih sendok tersebut, kemudian mengarahkan sendok—yang telah berisi makanan—ke dalam mulutnya.

“Bagaimana?” Myung Soo menatap gadis di depannya. Tak hanya Myung Soo, keenam gadis yang sedaritadi berada di sekelilingnya pun kini memperhatikan Eun Ji.

Gadis itu menggerakkan tangannya, menutup mulut—yang masih berisi makanan—dan mengabaikan pandangan yanglainnya. Myung Soo menunduk, menyamakan posisi keduanya. Matanya terfokus pada gadis di depannya, berharap tak ada yang salah dengan makanannya.

Butuh beberapa menit sebelum Eun Ji membalas tatapan Myung Soo. Gadis itu menatapnya sejenak, kemudian matanya kembali menerawang, seakan-akan memikirkan sesuatu yang tak dimengerti Myung Soo.

“Rasanya aneh.” Komentar Eun Ji.

“Benarkah?” Tanya Myung Soo sedikit ragu. Laki-laki itu yakin kalau masakannya benar-benar bisa dimakan.

“Apa sudah kau pastikan tidak apa?”

Myung Soo menatap gadis di depannya. Pertanyaan yang sedikit mengganggu, tapi—yah—memang sangat tepat. “Sudah kucicipi sebelumnya, dan rasanya baik-baik saja.”

“Sungguh—”

Myung Soo memotong Eun Ji, diraihnya sendok yang sebelumnya digunakan Eun Ji, kemudian dengan gerakan cepat, sendok tersebut berhasil masuk ke mulutnya.

Myung Soo memainkan mulutnya, berusaha mencicipi makanan hasil tangannya dengan sangat-hati-hati. Ia yakin sebelumnya rasanya baik-baik saja. Lagipula ia tidak mungkin membuat masakan yang buruk untuk gadisnya.

“Bagaimana?” tanya salah satu gadis di depannya.

Mata Myung Soo menerawang. Sejujurnya tak ada yang aneh dalam masakannya, hanya saja komentar Eun Ji terus saja membuatnya ingin mencoba—tepatnya mengetahui—kesalahan dalam makanannya.

“Tidak ada—”

Myung Soo menghentikan suaranya. Matanya membesar ketika mengetahui pergerakan—yang cukup cepat—dari gadis yang sebelumnya duduk di sebelahnya. Segera saja ia tinggalkan keenam gadis yang sejak tadi menyaksikan keduanya, mengejar Eun Ji dengan seribu kecemasan yang tidak terduga sebelumnya.

***

 

“Eun Ji–ah!”

“Ya–Jung Eun Ji!”

“Eun Ji eonni!”

Berbagai macam sebutan terus terdengar, memohon bahkan menyuruh gadis—yang kini mengunci dirinya—untuk membukakan pintu.

“Eun Ji–ah, kau baik-baik saja? Cepat buka pintunya.” Pinta seorang gadis.

Myung Soo memperhatikan pintu di depannya. berkali-kali sudah ia berteriak memanggil nama gadisnya itu dan memintanya untuk membukakan pintu. Namun hasilnya nihil, gadis itu seakan-akan mengabaikan permintaannya—atau bahkan keberadaannya.

“Jung Eun Ji buka pintunya—jawab aku Eun Ji–ah,

“Apa yang sebenarnya terjadi—” Gumam salah seorang gadis di belakangnya.

Myung Soo menghela napasnya, dunianya mengabur seketika. Perasaannya gusar atau lebih tepatnya tak terkendali. Ia panik, tapi tak tahu bagaimana caranya mengatasi rasa paniknya. Ia takut terjadi sesuatu pada Eun Ji, tapi ia juga tidakk bisa melakukan apapun untuk mencegah rasa takutnya.

“Apa kau yakin kunci cadangannya benar-benar tidak ada?” tanya Myung Soo sambil menata napasnya yang tidak teratur.

Gadis yang ditanya menatap pintu di depannya, berusaha mengingat-ingat sekaligus. “Sebelumnya kunci itu tergantung di pintu ini. Tepat ketika aku menemukan Eun Ji pingsan di kamar mandi.”

“Eun Ji eonni pasti memindahkan kuncinya—”

“Eun Ji–ah, buka pintunya!” teriak Myung Soo lebih tegas, berhasil membuat keenam gadis yang berada di sekitarnya menatapnya terkejut.

Eun Ji masih tidak menjawab, bersuara pun tidak. Yang terdengar hanya tetesan air yang mengalir—yang membuat Myung Soo semakin gusar, takut-takut jika gadis itu jatuh dan tidak sadarkan diri lagi.

“Dobrak saja pintunya.”

Myung Soo menoleh pada sumber suara, matanya menatap heran gadis yang baru saja memberikannya saran. “Aku mungkin merusaknya, tidak apa?”

Beberapa dari gadis itu saling bertukar pandang. Memikirkan kerugian yang mungkin terjadi jika Myung Soo mendobrak pintu kamar mandi mereka.

“Tidak apa.” ujar salah satu dari mereka seketika.

Myung Soo menatap tajam gadis itu, memastikan tentang keputusan yang diberikan gadis itu. Sementara yang ditatap tersenyum penuh keyakinan.

“Tidak ada yang disebut merugikan dalam hal mencintai.”

***

 

Berbagai suara terdengar dari luar pintu tempatnya bersembunyi. Sementara di kepalanya, hanya ada satu yang menggelegar bebas dan mengganggu pikirannya.

Eun Ji membasuh wajahnya, kemudian meninggalkan telapak tangannya di kening yang kini terasa sedikit berat. Entah apa penyebabnya, baik atau buruk akibatnya, ia benar-benar tak ingin tahu.

Sesungguhnya ia sudah memikirkan kemungkinan yang—bisa saja—terjadi padanya. Tapi jauh di dalam hatinya, ia memungkiri kemungkinan itu. Ia tak ingin mengecewakan Ibunya dan melanggar semua janji yang mereka buat.

“Jung Eun Ji!”

Sebuah suara menggerakkan kepalanya. Matanya membesar ketika mendapati Myung Soo yang berdiri di ambang pintu; menatapnya tajam dengan emosi yang tak terdefinisi. Tidak hanya Myung Soo, keenam kliennya juga mematung memandanginya, seolah-olah ia baru saja melakukan kesalahan besar.

Myung Soo berlari menghampirinya, tatapannya tak lepas dari wajah pucat Eun Ji. Laki-laki itu menatap Eun Ji sejenak, sebelum ahirnya menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Mengabaikan tatapan gadis lain yang kini memandangi mereka.

“Jangan bertindak bodoh.” Komentar Myung Soo.

Eun Ji masih tak bersuara. Gadis itu larut dalam suasana yang tak ia duga. Ia tidak tahu jika Myung Soo akan bertindak seperti ini; memaksa masuk ke dalam toilet yang jelas-jelas berpenghuni. Ia tidak tahu jika tindakan spontanitasnya berdampak besar untuk seorang Kim Myung Soo.

Dan ketika pelukannya terlepas, Eun Ji bisa melihat tatapan itu; tatapan yang sama ketika dirinya hampir kehilangan nyawa.

“Aku baik-baik saja.” Ujar Eun Ji, berusaha menenangkan suasana sekaligus memberikan keterangan mengenai keadaannya.

Myung Soo menatapnya lekat, seperti mencari kejujuran dari penyataan yang diucapkan Eun Ji. Laki-laki itu takut, dan Eun Ji menyadari hal itu. Entah apa yang ditakutkan Myung Soo, tapi sepertinya rasa takut mereka berbeda.

“Ayo pulang.” Kata Myung Soo memecah keheningan mereka.

Eun Ji menatap Myung Soo perlahan, sementara yang ditatap masih menunggu reaksi gadis itu. Tangan keduanya saling berkaitan, berbagi kekuatan dan menjadi penopang tubuh keduanya. Sejujurnya Eun Ji masih belum siap, ia masih tidak ingin kembali pada kenyataan hidup. Hati gadis itu masih memilih untuk lari dan bersembunyi di tempat yang jauh dari masalahnya.

Myung Soo menatapnya lembut, laki-laki itu menarik bibirnya. Bagi wanita lainnya, senyum itu merupakan penyejuk hati. Namun bagi Eun Ji, senyum itu merupakan bebannya. Beban yang membuat sesak di dadanya semakin menjadi.

“Myung Soo–ah,” panggil Eun Ji pelan, berharap keenam kliennya tidak mendengar suaranya. Gadis itu menghela napasnya perlahan, matanya seperti ingin meledak. Meledak karena telalu sering menahan rasa panas akan air matanya.

“Aku takut.” Kata Eun Ji, mengakui isi hatinya.

***

 

Malam itu suhu menurun tak terkendali. Setelah hujan sukses mengguyur seisi Korea, suhu menurun drastis. Beberapa menit setelah kejadian yang menimpa Eun Ji, suasana juga berubah drastis. Tak ada lagi keakraban yang ditunjukan keenam gadis tersebut, mereka lebih sering menatap Eun Ji dengan tatapan kasihan; tatapan yang membuat Myung Soo seketika merasa kesal.

Setelah melalui beberapa perdebatan—kecil dan besar—Eun Ji setuju untuk pulang. Keduanya mengambil kesepatakan untuk kembali ke Seoul setelah hujan berhenti dan tinggal di apartemen Myung Soo untuk beberapa hari ke depan.

Kini keduanya berada dalam mobil; Myung Soo di depan kemudi dan Eun Ji di sebelahnya. Tak ada kata yang keluar dari mulut mereka, hanya sesekali pertanyaan basa-basi yang dilontarkan Myung Soo untuk mengecek kondisi Eun Ji. Sementara Eun Ji, tak ada yang bisa membaca pikiran gadis itu.

Beberapa menit yanglalu, gadis itu mengungkapkan perasaannya. Ia bilang kalau ia takut, meski tak diketahui ketakutan jenis apa yang menghantui gadis itu. Myung Soo sendiri, di tempatnya, ikut merasakan rasa takut itu. Sejujurnya ia juga takut, takut jika harus menghadapi kenyataan bahwa gadisnya benar-benar akan pergi dari hidupnya.

“Kim Myung Soo,” panggil Eun Ji perlahan. Sontak saja membuat Myung Soo memutar kepalanya tanpa mengeluarkan suaranya. “Bisa kita berhenti sebentar?” tanyanya lembut, seakan-akan tak ingin menimbulkan kesalahpahaman.

“Ada apa?” tanya Myung Soo, tak kalah lembut dari suara Eun Ji. “Apa ada yang ingin kau lakukan?”

“Tidak.” Jawab Eun Ji jujur. “Aku hanya ingin menikmati sungai di malam hari.”

Myung Soo mengangguk perlahan, kemudian menggerakkan tangannya untuk memutar kemudi. Otaknya teringat sesuatu. Sesuatu yang mungkin dapat memberikan ketenangan pada diri Eun Ji.

Ia ingin membawa gadisnya ke tempat itu.

Tempat di mana ia pertama kali memeluk Eun Ji.

***

Mobilnya berhenti tepat beberapa meter sebelum sebuah sungai. Myung Soo tersenyum sejenak, kemudian menatap Eun Ji yang kini menatap kosong pemandangan di depannya.

“Kau sengaja membawaku ke sini.” Ujar Eun Ji seketika. Tatapannya hampa, benar-benar mengisyaratkan kekosongan yang tidak dimengerti Myung Soo. Apa yang salah dengan tempat ini?

Myung Soo menghela napas. Berusaha mengabaikan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang sedang menghantui pikiran Eun Ji. “Turunlah,” katanya pada Eun Ji. “Aku tidak ingin melewati malam ini sendirian.”

Eun Ji tidak langsung turun. Gadis itu memilih untuk berdiam diri di dalam mobil selama beberapa menit. Hingga akhirnya sesuatu mendorong dirinya untuk keluar dan duduk tepat di sebelah Myung Soo, menikmati malam dengan suara air yang mengalir sebagai latar suara malam mereka.

Waktu terasa cepat ketika seseorang yang kau harapkan berada di sekitarmu. Rasanya seperti sesuatu dapat mengganggu waktu kalian dan memisahkan kalian dengan berbagai alasan. Sama halnya dengan berbagai hal yang menjumpai hubungan keduanya—Myung Soo dan Eun Ji—cepat dan tak semudah yang keduanya kira.

Myung Soo menghela napasnya, sementara Eun Ji—yang sejak tadi diam membisu—menatap lurus aliran sungai di depannya dengan berbagai pikiran yang tak dimengerti Myung Soo. Keduanya larut dalam suasana tenang yang mengelilingi mereka, membuat keduanya lupa akan masalah yang kini mengejar mereka.

“Jung Eun Ji,” sebut Myung Soo, berusaha mengendalikan suasana. “Apa kau ingat apa yang terjadi di sini?” tanya Myung Soo—pada dirinya sendiri.

Dengan helaan napas, Myung Soo menjawab pertanyaannya. “Saat itu aku menemukanmu di sini. Aku melihatmu menatap matahari yang mulai menghilang. Apa kau tahu apa yang kurasakan saat itu?” tanya Myung Soo, kembali berdialog dengan dirinya sendiri.

“Rasanya menyejukkan. Melihatmu melakukan sesuatu membuatku berpikir kalau hidupku tak akan lagi sama. Rasanya seperti akan ada perubahan yang menuntunku menuju sesuatu. Sesuatu yang kemudian kau sebut kebahagiaan.

“Selama ini rasanya sama. Pekerjaan, kencan, dan urusan-urusan pribadi yang menyibukanku; rasanya sama. Tak ada yang mengira bahwa semua itu akan terasa berbeda ketika aku mengenalmu—”

“Apa itu perubahan yang buruk?” tanya Eun Ji, memotong cerita Myung Soo.

Myung Soo menghela napasnya, memilih untuk mengabaikan pertanyaan Eun Ji. “Sejak saat itu aku merasa menjadi orang yang sangat penting. Menjadi seseorang yang sangat dibutuhkan oleh seorang Jung Eun Ji. Saat itulah perasaan itu tiba—perasaan yang tak akan cukup dijelaskan dengan kata-kata, namun juga tidak akan cukup menjelaskan isi hatiku dengan perbuatan.

“Orang bilang aku terobsesi. Dan memang harus kuakui kalau aku benar-benar terobsesi. Sesuatu terasa aneh jika aku meninggalkan sesuatu-yang-ku-obsesikan, namun orang-orang terus berkata bahwa aku akan menyesal jika terus-terobsesi-dengan-apa-yang-ku-obsesikan.

“Hal ini sempat membuatku bingung. Tapi tak lama sampai akhirnya kuputuskan untuk memilih sesuatu-yang ku-obsesikan. Dan akan sangat disayangkan jika aku harus kehilangan sesuatu-yang-ku-obsesikan.” Myung Soo menarik napasnya, berusaha mengumpulkan oksigen di sekitarnya. “Rasanya pasti menyakitkan.” Ujarnya singkat.

Penjelasan Myung Soo yang mengungkit isi hatinya berakhir dengan keheningan. Tak ada reaksi dari gadis di sebelahnya—bahkan raut wajah Eun Ji tak berubah. Ada sedikit luka di hati Myung Soo ketika menyadari reaksi Eun Ji. Gadis itu tak tersentuh, bahkan tidak menyadari dirinya yang kini menunggu reaksi gadis itu.

Sejujurnya Myung Soo ingin memeluk gadis itu. Jauh dalam hatinya ia berkeinginan untuk lari dari masalah keduanya dan hidup berbahagia.

Tapi roda selalu berputar.

Roda selalu memberikan kesempatan kepada setiap manusia untuk merasakan kebahagiaan, dan juga kesedihan. Bahkan jika roda sedang tak bersahabat dengan manusia, dia bisa memberikan kedua perasaan itu bersamaan.

Dan ketika kedua perasaan itu bersatu, maka rasanya tak dapat dijelaskan. Bagai seorang anak kecil yang—tidak mengerti apapun—mendapat kado dari Sang Ibu sebagai tanda kebahagiaan. Rasanya membinggungkan.

“Kim Myung Soo.”

Suara itu terdengar seperti bom yang meledakan segala emosi dalam dirinya. Berhasil membuat Myung Soo terpaku di tempatnya, menunggu kelanjutkan suara gadis itu.

“Beritahu aku hal yang kau takuti di dunia ini.” katanya meminta.

Myung Soo tersenyum, ia yakin Eun Ji sudah tahu pasti tentang hal yang ditakutinya.

“Selain kehilanganku.”

Myung Soo berpikir sejenak. “Aku takut diabaikan.”

“Kenapa?”

“Sederhana saja. Ketika kau diabaikan, maka dunia sudah lagi tak melihatmu, dunia melupakanmu dan tak memperdulikanmu.”

Eun Ji tidak langsung menanggapinya. Tatapan gadis itu masih sama, hampa. Sulit untuk menebak sesuatu yang mengganjal hatinya, karena ia benar-benar tak memberikan kesempatan untuk Myung Soo mengetahuinya.

“Aku takut, Myung Soo–ah.” Aku Eun Ji. Suaranya terdengar lirih dan menandakan kesedian di sana. Untuk sesaat Myung Soo tak bergeming, suara Eun Ji seakan menyihirnya.

Gadis itu menghela napasnya; masih dengan posisi yang sama. “Aku takut jika suatu saat nanti apa yang kutakuti benar-benar terjadi.” Ucapnya mengakui.

Jika boleh berkata jujur, maka Myung Soo akan langsung bertanya; Sebenarnya apa yang membuat Eun Ji takut? Apa yang merubah senyum manis gadis itu menjadi sesuatu yang bertolakbelakang? Ia ingin mengerti. Ia ingin Eun Ji menceritakan semua kegelisahannya—berbagi rasa takut, karena bagi Myung Soo rasa takut Eun Ji merupakan rasa takutnya.

“Apa yang kau takuti?”

Pertanyaan itu keluar dari mulut Myung Soo. Tak memperdulikan wajah Eun Ji yang cemas dan terlihat enggan berbagi.

Eun Ji terisak, matanya yang mulai berkaca-kaca masih menolak kontak mata. “Aku takut kehilangan kepercayaan kalian. Aku takut kehilangan segalanya—”

“Aku tidak akan meninggalkanmu.”

“Aku tahu.” Eun Ji menyahut, gadis itu seakan-akan tahu dengan respon Myung Soo. “Tapi aku takut memilikimu dengan cara yang tidak seharusnya.”

Pernyataan itu bagai minyak yang sulit menyatu dengan air; terdapat kejujuran dan penolakan di sana. Kejujuran akan ketakutan Eun Ji, juga penolakan Eun Ji akan Myung Soo.

Myung Soo mematung di tempatnya, kata-kata Eun Ji memiliki makna yang rumit untuk seorang pembisnis seperti Myung Soo.

“Kim Myung Soo.”

Eun Ji memanggilnya, mata gadis itu juga berhasil berpaling. Namun sesuatu seperti meminta Myung Soo untuk menahan kalimat yang akan keluar dari mulut Eun Ji. “Tidak ada yang salah.” kata Myung Soo mengambil alih sesi pernyataan.

Keduanya bertatapan lekat, dengan jarak yang tidak mencapai satu meter. Jika bukan karena ketakutannya, mungkin saat ini Myung Soo sudah meraup bibir gadis itu dan menghentikan gadis itu dari penolakannya.

“Tidak ada yang salah dengan cara kita dalam mencintai.” Ulang Myung Soo, menekankan setiap kata yang ia ucapkan.

Eun Ji masih tak bersuara. Bola matanya bergerak mengamati wajah Myung Soo.

“Jika kau berpikir untuk pergi lagi, maka aku tidak bisa merelakannya.”

Myung Soo mendesah, membuang napasnya tepat di depan wajah Eun Ji. “Tidak ada lagi Jung Eun Ji yang melarikan diri atau Jung Eun Ji yang bertindak bodoh karena kesedihannya. Tidak lagi.

“Tak ada jaminan untuk kebahagiaanku, Myung Soo–ah.

“Ada.” Myung Soo menyela cepat, mulai kesal dengan sikap Eun Ji yang seketika berusaha menjauhkan diri. “Aku yang menjaminnya.”

***

 

“Tidak ada jaminan untuk kebahagiaanku, Myung Soo–ah.”

Kalimat itu keluar dengan mulusnya. Jauh dalam hatinya terdapat penyesalan yang menggeryap, memaksanya untuk kembali pada cintanya dan berhenti bertingkah menyebalkan seperti ini. Tetapi ia tak bisa.

Perasaan takut benar-benar menyelimuti dirinya.

Seakan-akan hidupnya bergantung dengan rasa takut itu. Dan ia mungkin saja menyesal jika mempertahankan perasaannya.

“Ada.” Myung Soo meresponnya cepat, membuat jantungnya yang kehilangan kendali semakin kehilangan kendali. “Aku yang menjaminnya.”

Perkataan itu menusuk tepat di hati Eun Ji, menimbulkan luka yang semakin menyesakannya. Ia tak tahu sejak kapan ia mulai membenci perasaan yang dipendamnya. Ia tak ingat kapan tepatnya keinginan untuk melepas Myung Soo terlintas di benaknya.

“Bahkan jika semua yang selama ini terjadi merupakan kesalahan?”

Eun Ji mendapati dirinya bertanya. Suaranya terdengar purau, sedikitpun tak mengandung semangat. Sementara yang mendapat pertanyaan menatapnya mantap; membuatnya semakin merasa bersalah akan perasaannya.

Jika ia boleh meminta, ia ingin Myung Soo menjauh darinya.

Pergi dan mencari kebahagiaan laki-laki itu dengan gadis lainnya.

Melupakan setiap hal yang mereka lalui bersama.

Karena sesungguhnya, Myung Soo berhak untuk bahagia.

“Aku tak mengerti.” Ujar Myung Soo seketika, “Kau mencoba mengujiku? Atau ini sebuah penolakan?”

“Aku berharap ini penolakan—”

“Tapi kenapa?” tanya Myung Soo, suaranya meninggi dengan emosi yang mulai memuncak.

Eun Ji mengedipkan matanya sekali; membiarkan setetes air matanya mengalir halus di pipinya. “Karena kau berhak untuk bahagia.” Jawabnya mengungkapkan isi hatinya.

“Kau tahu kebahagiaanku—”

Bukan aku.” Potong Eun Ji. “Bukan aku kebahagiaanmu, Myung Soo–ah.

Napasnya mulai tak terkendali ketika kata-kata itu keluar dari mulutnya. Air mata yang sebelumnya ia tahan kini mengalir bebas tanpa izin sang empunya.

“Kau bercanda.”

Eun Ji mengendalikan dirinya, berusaha menatap Myung Soo yang kini mengharapkan penjelasan darinya. Sungguh tragis. Gadis itu bahkan tidak tahu bagaimana menjelaskan semuanya pada Myung Soo.

“Tak ada jaminan akan kebahagiaan dari suatu hubungan yang dimulai dari suatu kesalahan.”

Myung Soo menatapnya tajam, kali ini matanya menyipit. Perubahan rautnya seakan-akan ia mengetahui sesuatu yang dirahasiakan Eun Ji. “Jelaskan padaku tentang hubungan itu, Jung Eun Ji.”

Suara itu terdengar memaksanya, membuatnya semakin takut dan tak berani menatap mata laki-laki di hadapannya. Eun Ji masih terdiam di tempatnya, berusaha menimang-nimang kalimat yang bisa ia lontarkan sebagai alasan.

“Kau bilang aku berhak bahagia, tapi kau juga yang berusaha menghentikan kebahagiaanku. Aku tak mengerti.” Ujar Myung Soo lagi, hilang sudah ketegasannya. Yang tersisa hanya keputus asaan akan sesuatu yang—mungkin—akan pergi dari hidupnya.

“Bukan aku—”

“Kau terus mengalihkan inti pembicaraan!” suara Myung Soo meninggi, emosinya sukses mencapai puncak. “Berhenti mengatakan sesuatu yang tidak bermakna—”

“Semua itu bermakna untukmu!” protes Eun Ji, tak kalah frustasi dengan kenyataan yang menghampiri keduanya. Habis sudah kesabarannya dalam menghadapi Myung Soo yang tak kunjung mendengarkannya. Seakan-akan perkataan laki-laki itu lebih bermakna dibandingkan perkataannya.

“Aku tak cukup kuat melihatmu menikahiku hanya karena seseorang yang—mungkin—kini hidup pada diriku.”

***

 

Terkadang sebuah pernyataan memang menyakitkan, tapi harus dikatakan. Memendamnya sama saja mengumpulkan luka yang—seharusnya—tidak kau pendam sendirian.

Itulah yang terpikirkan Myung Soo semenjak kejadian malam itu.

Kejadian yang membawa keduanya pada malam yang penuh dengan kebingungan.

Myung Soo terkejut ketika mendengar pengakuan itu, ia juga sempat tak bereaksi ketika Eun Ji mengatakan hal yang sempat terlupakannya. Bagai berdiri di tengah peperangan yang sedang mengalami jeda tanpa mengetahui apapun, ia bisa mati kapanpun.

“Tidak perlu gugup.” Ucap Myung Soo, berusaha menenangkan Eun Ji yang tak bicara sejak kejadian malam itu.

Gadis itu meluapkan emosinya semalam, menangis dan menyesali semua yang terjadi pada dirinya dalam pelukan Myung Soo. Kemudian ketika tangisannya mereda, gadis itu terdiam. Kini pun ia masih sama, masih enggan mengungkapkan satu-atau-dua patah kata mengenai kejadian semalam. Mengenai seseorang yang menghinggapi tubuhnya.

Kini, keduanya duduk berdampingan menunggu seseorang—yang entah akan memberikan kabar buruk atau kabar baik pada mereka. Tangan keduanya saling terpaut, seakan-akan hanya itu cara mereka berkomunikasi dan meluapkan segala emosi yang tertanam.

Hingga akhirnya pintu ruangan tempat mereka menunggu terbuka. Menampilkan wajah serius seorang wanita paruh baya.

Myung Soo menemukan dirinya berharap akan sesuatu yang membahagiakan dari mulut Ibunya. Sudah cukup bagi keduanya berada di tengah-tengah tali yang menghubungkan dua puncak.

Ia ingin sesuatu yang benar-benar menjamin kebahagiaan keduanya.

Namun bukan dari mereka, tapi dari kedua orangtua mereka.

“Sudah diputuskan.” ujar Nyonya Kim tegas. Tanpa sadar memacu detak jantung sepasang kekasih yang kini merasa digantungkan.

Myung Soo menatap Ibunya mantap, percaya dengan keputusan yang ia yakini bisa membawa sesuatu yang keduanya sebut sebagai kebahagiaan pada keduanya.

Ia tak ingin semuanya berakhir sia-sia.

Meski memang benar, keduanya melakukan kesalahan yang—bisa dibilang cukup—fatal.

Tapi Myung Soo mempelajari satu hal; Jangan pernah takut melakukan kesalahan. Karena sesungguhnya, kesalahanmu merupakan pelajaran terbaik untuk merangkai suatu kebahagiaan dimasa mendatang.

Nyonya Kim menghela napas, sebelum akhirnya menyampaikan keputusannya. “Pernikahannya minggu depan, kalian benar-benar harus mempersiapkannya.”

Dan dengan itu, kelegaan menghapiri keduanya.

***

TBC

A/N

Satu langkah menuju chapter terakhir.

Aku gak tau apa kalian suka karyaku atau kalian hanya suka cerita happiness. So, aku berharap komentar kalian sebelum akhir cerita MyungJi ini! Thank you!

10 responses

  1. Ok!!!!
    Mau chapter terakhir yaa??
    Klo gitu,, jgn lama” yaa thor 🙂

    eung.. q suka koc karya maupun alur.nya dri author.. walo kdg rada’ berbelit,, tpi cara penyampaiannya dpt bgt 😀

  2. ;____; akhirnya menikah, dr ff yg pernah aku baca aku paling suka yg ini. Feelnya dapet banget yaampun…
    Good job aku nunggu chapter selanjutnya 😂😭😭😭

  3. lanjutt ini bagus banget sumpah. nyeseknya berasa. gw jd berasa ada didlm cerita. ikut deg2an jg. next ditunggu bgt endingnya. moga happy ending^^

  4. Annyeong author aku reader baru.. Maafkan baru komen di part ini😦 bru bljar maen blog😀 Cerita nya kren, feelnya dapat bangett.. Dan gara” FF ini jga jdi suka myungji.. Di tunggu chapter slanjutnyaaa, hwaiting!!😉

  5. Annyeong author aku reader baru ^^
    Mianhae baru bisa komen di part ini😦 Sbnernya udah baca dri awal, dan ceritanya bagus, feelnya jga dpet bnget.. Daebakk!! Karna FF ini jga jdi suka myungji😀 Boleh minta PW chap trakhirnya gak thor ? Pengen baca.
    Di tunggu FF yg lainnya, hwaiting!! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s