Lost (Chapter 3)

Lost.

Genre : romance–sad.

Rating : General

Cast     : Shin Hye Rin–Jeon Jung Guk–Kim Tae Hyung–Byun Baek Hyun–BTS–EXO–dll.

Part 3

Tae Hyung menggerakkan tangannya, meraih knop pintu dan mendorong pintu tersebut dengan satu gerakan. Meskipun cepat, sepertinya gerakan yang berasal dari tempatnya benar-benar tak mengganggu kegiatan, karna sampai saat ini suara gadis itu masih terdengar.

Tae Hyung menggerakkan kakinya memasuki ruangan. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat rambut gadis itu yang terurai bebas menutupi sebagian punggungnya. Laki-laki itu membeku ditempatnya. Kali ini jelas bukan karena suara ataupun nada, melainkan karena penampakan gadis di depannya yang membuatnya—sedikit—kagum.

Merasa tak ingin mengganggu, laki-laki itu memilih untuk diam di tempatnya dan memperhatikan gadis yang tengah sibuk dengan gitarnya. Entah karena tidak menyadari atau mengabaikan keberadaan Tae Hyung, tapi gerakan gadis itu ketika bernyanyi terlihat ringan—seakan-akan hanya ada dirinya di dunia ini.

Tae Hyung sendiri tidak mengomentari keegoisan gadis itu. Di tempatnya, ia merasa mengenal lagu yang sedang dimainkan gadis itu. Sementara otaknya bekerja untuk mengingan lagu yang tengah dinyanyikan gadis itu, senyumnya terus mengembang—bahkan semakin mengembang.

Detik demi detik berlalu. Suara petikan gitar yang sebelumnya menggema di ruangan tersebut tergantikan dengan pukulan gendang—lebih tepatnya suara pukulan yang berasal dari tubuh gitar.

Tae Hyung terhenyak. Suara gadis itu terdengar jelas ketika petikan gitar ditiadakan. Entah apa dan bagaimana, tapi sepertinya suara gadis itu berhasil menyihir Tae Hyung. Dan ketika gadis itu kembali memetik gitarnya—melanjutkan lagunya dengan iringan gitar—, Tae Hyung masih membeku di tempatnya.

Tanpa bertanya—bahkan tanpa suara. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya. Seperti mendapat teguran, Tae Hyung dengan segera mengumpulkan kesadarannya. Setelah sepenuhnya sadar, laki-laki itu kembali tersenyum dan memandang punggung gadis di depannya.

Gadis itu bergerak-gerak kecil di tempatnya. Menunjukkan reaksinya selagi melanjutkan liriknya, “Kkumeul irchi ankireul jeo haneul soge—”

“—Soksagillae.”

Tae Hyung tersenyum, ia ingat lagu itu. Entah apa yang membuatnya teringat dengan lagu itu, tiba-tiba saja mulutnya seakan memaksa untuk bersuara dan mengeluarkan satu kata sebagai kelanjutan lirik tersebut. Apa itu sebuah kebetulan?

Dan tanpa sepengetahuannya, suaranya berhasil menghentikan permainan gadis di depannya. Kali ini ia merasa sedikit kecewa karena gadis itu menghentikan musiknya; karena sejujurnya ia baru saja menikmati lagu tersebut.

Dan bravo!

Seperti sebuah kejutan—atau mungkin sebuah kebetulan. Ia bertemu dengan gadisnya!

Oh bukan gadisnya. Sesungguhnya ia baru saja bertemu dengan gadis itu kemarin—keduanya bahkan tidak pernah bertukar salam! Bagaimana bisa ia menganggap gadis itu miliknya?

Ia bertemu gadis itu kemarin. Tepat ketika ia melewati salah satu ruangan di gedung teater. Dan sekarang keduanya kembali bertemu. Apa semua itu yang orang-orang katakan sebagai kebetulan?

Atau takdir?

Masih dalam diam, gadis itu memperhatikannya. Tae Hyung sendiri memperhatikan gadis di depannya. Dalam hatinya ia masih tidak menyangka kalau akan bertemu dengan gadis itu di sini. Dan terlebih, gadis itu memiliki suara yang bisa mengutuknya dalam seketika!

Oh aku pasti sudah gila, batin Tae Hyung.

Tae Hyung memperhatikan gadis di depannya. Kini keduanya bertatapan, tapi tak ada suara yang keluar dari mulut keduanya. Tae Hyung sendiri merasa tidak nyaman, tapi tetap saja; lidahnya kelu untuk memulai percakapan.

“Apa kau yang akan menilaiku?”

“Oh,” respon Tae Hyung; terkejut dan gugup untuk sekedar menanggapi. “Ya.”

Gadis itu mengangguk. “Baiklah, kau bisa duduk di kursi itu.” katanya seraya menunjuk kursi panjang yang berada tepat beberapa centi dari tempat gadis itu.

Tae Hyung tidak langsung beranjak dari tempatnya. Ia memilih untuk memperhatikan gadis itu sejenak, sampai akhirnya gadis itu kembali bersuara dan menyadarkannya.

“Kau akan memainkah gitar?” tanya Tae Hyung.

“Sepertinya begitu.” Jawab gadis itu, “Aku hanya perlu memainkan instrumentalnya saja bukan?”

Tae Hyung tak langsung menjawab. Dengan posisi dan jarak yang tidak sejauh sebelumnya, ia bisa menatap wajah gadis itu dengan jelas. Ia bahkan bisa merasakan detak jantungnya yang mulai tak beraturan.

“Lanjutkan saja.” Ujarnya seketika.

Gadis itu menatapnya dengan kening yang berkerut, “Apa?”

“Lanjutkan lagumu saja.” Ulangnya memperjelas. “Sepertinya aku tertarik untuk menilai keduanya.”

“Tapi songsaenim bilang, kau hanya akan menilai permainan musikku.”

Tae Hyung tersenyum, “Tapi kau berhasil membuatku tertarik dengan lagumu.”

Gadis itu tidak menjawab, atau tepatnya tidak tahu caranya menjawab kalimat seperti itu. Jujur saja, Tae Hyung sudah bisa menembak reaksi gadis itu. Hanya gadis dengan hati dinginlah yang tidak bisa mengerti arti dari sebuah kalimat yang berisi rayuan.

“Apa aku harus memulainya dari awal?” tanya gadis itu.

“Terserah saja.”

Tae Hyung bangkit dari kursinya, memilih untuk memperhatikan gadis itu dengan posisi berdiri. Senyumnya mengembang ketika ia menatap gadis itu bersiap-siap dengan chordnya.

“Aku mulai—”

“Tunggu,” potong Tae Hyung, berhasil mengalihkan perhatian gadis itu. “Beritahu aku namamu.”

Gadis itu tertawa kecil, “Shin Hye Rin.” Jawabnya, “Panggil saja aku Hye Rin. Kau?”

“Shin Hye Rin,” sebut Tae Hyung. “Apa kau benar-benar tidak mengenalku?”

“Sepertinya tidak.” Jawab Hye Rin santai.

“Wah, apa aku baru saja diabaikan? Astaga,” eluh Tae Hyung. “Aku—aku Kim Tae Hyung.”

“Oh,” responnya. “Kim Tae Hyung—ssi, Apa aku bisa mulai?”

“Oh, tentu saja.”

Tae Hyung memperhatikan Hye Rin yang siap dengan chordnya. Matanya terpusat dan senyumnya terpampang jelas di wajah tampannya.

***

Tae Hyung menajamkan pendengarannya. Sepertinya telinganya memang sudah terlatih untuk mendengar suara gadis di depannya. Selain itu, detak jantung yang sebelumnya tak teratur, perlahan dapat ia atasi. Namun di balik kelegaannya, ia juga harus menahan mulutnya untuk tidak berkicau bersama Hye Rin.

Walaupun sulit, tapi Tae Hyung benar-benar mencobanya. Bahkan ketika gadis itu memasuki reff pertamanya, Tae Hyung hanya bisa mengunci mulutnya untuk tidak ikut bernanyi. Bagaimanapun, ia ditugaskan untuk menilai, bukan tampil bersama.

“Ini buruk,” sahutnya seketika, menghentikan permainan Hye Rin sekaligus mendapat tatapan yang seakan-akan bertanya: apa-aku-melakukan-hal-yang-salah.

“Ada apa?” tanya Hye Rin. “Apa ada sesuatu yang kulakukan dengan tidak benar?”

“Tidak, tidak.” Jawab Tae Hyung. “Bukan kau, tapi aku.”

Hye Rin menaikkan kedua alisnya, “Ada apa denganmu?”

“Ini hal buruk,” kata Tae Hyung, mengulang perkataannya. “Aku di sini untuk menilaimu, tapi lidahku terus bergerak dan memaksaku untuk ikut bernanyi. Astaga—”

“Bernyanyilah.” Potong Hye Rin. “Jangan jadikan keberadaanmu sebagai alasan kau tidak menanyi.”

Tae Hyung tak menjawab, matanya benar-benar tak bisa lepas dari gadis di depannya. Belum lama keduanya bertemu tapi gadis yang bernama Shin Hye Rin benar-benar sudah membuatnya jatuh. Entah apa yang sudah dilakukan gadis itu padanya.

“Baiklah, aku mulai dari reff awal.”

Tetap saja, Tae Hyung tak merespon atau pun sekedar menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan. Dan dilain tempat, Hye Rin sepertinya memang tidak membutuhkan persetujuan untuk memulai kembali lagunya.

Hye Rin kembali memainkan gitarnya, kali ini di mulai dari bagian reff. Mata gadis itu terarah pada tangan kirinya, seolah-olah tak ingin melakukan kesalahan pada jari yang menekan chord gitarnya.

Dan ketika ia berhasil menyelesaikan bagian reff-nya, ia menunjukkan kemampuannya dalam bermain gitar. Berawal dari kemampuan memetik gitar, sampai dengan kemampuan mengendalikan kunci gitar. Semuanya seperti harus-mencapai-hasil-maksimal.

Walau sedikit ragu Hye Rin terus memaikan gitarnya. Hingga sampai pada waktunya ia bernyanyi. Matanya menoleh sesaat ke arah Tae Hyung yang sedang menatapnya serius. Kemudia bibirnya mulai bergumam.

***

“—Soksagillae.”

Tae Hyung kembali mengambil kata terakhir lagu tersebut. Matanya yang tak bisa lepas dari Hye Rin ia biarkan seperti itu; menatap dan mengagumi wajah Hye Rin. Suaranya mengalun lembut dan di akhirinya dengan senyum. Keduanya pun bertatapan.

“Itu menakjubkan,” ucap Hye Rin.

“Sangat menakjubkan.”

Keduanya bertatapan cukup lama, memamerkan senyum keduanya. Bertukar tatapan dan berbagi kebahagiaan. Sejujurnya Tae Hyung tak cukup yakin dengan penampilannya. Namun ketika ia melihat reaksi Hye Rin, ia yakin ia sudah melakukan yang terbaik.

Tae Hyung membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu ketika ponselnya lebih dulu memecah keheningan. Segera saja ia meraih ponsel—yang berada dalam saku celananya—kemudian menatap layar ponsel dan Hye Rin bergantian.

“Angkat saja.” Katanya lembut.

Tae Hyung tersenyum. Tanpa bergeser tempat—atau pindah tempat—ia mengangkat panggilan yang tertera di layar ponselnya. Telinganya berusaha mendengarkan suara lawan bicaranya, sementara matanya tak bisa lepas dari gerakan Hye Rin.

Hyung,” panggil suara dari arah ponsel.

“Ya?” tanggap Tae Hyung singkat. Tersenyum singkat di tempatnya ketika Hye Rin menoleh padanya.

“Masih belum selesai, hyung? Kami menunggumu di cafe depan.”

“Tidak, tidak.” Jawab Tae Hyung. “Sebentar lagi aku menyusul.”

***

 

Tangannya terus menari di atas senar gitar. Ia tahu ia sedang ditatap. Ia juga tahu kalau laki-laki—yang kini bicara dengan seseorang di sebrang sana—tengah memperhatikannya. Entah apa yang menjadi pusat perhatian laki-laki dengan nama Tae Hyung itu. Sejujurnya Hye Rin benar-benar tidak peduli.

Hanya saja sesuatu terasa seperti mengusik hatinya. Hal itu ia rasakan setiap kali matanya bertemu dengan mata Tae Hyung. Sebenarnya apa?

“Tidak.” Suara Tae Hyung kembali terdengar. “Sebentar lagi aku menyusul.”

Hye Rin membasahi bibirnya. Tae Hyung akan pergi? Apa ia sudah menilaiku? Bagaimana hasilnya?

Kemudian Tae Hyung bicara singkat dengan ponselnya. Laki-laki itu berguman ‘ya’ oh’ dan ‘baiklah’. Meskipun bibirnya berbicara dengan serius, tapi Hye Rin masih bisa merasakan tatapan yang terus-menerus dilayangkan padanya.

“Hye Rin–ah,

Hye Rin menoleh, tersenyum kecil menatap Tae Hyung.

“Aku harus pergi.” Kata Tae Hyung langsung pada intinya. “Kau akan tetap di sini atau bagaimana?”

“Oh, aku juga akan keluar.”

Tae Hyung mengangguk. “Bagaimana kalau keluar bersama?”

“Apa?” Hye Rin membelalakkan matanya. “Maksudku apa tidak masalah? Aku tidak mau membuat gosip.”

“Tidak akan ada gosip.” Tae Hyung tertawa kecil. “Kita hanya akan keluar, bukan kencan.”

Jika gadis lainnya merasa bahagia mendapat tawaran seperti itu, maka tidak dengan Hye Rin. Hatinya masih merasa gelisah jika terus menatap Tae Hyung. Selain itu, entah sejak kapan jantungnya mulai berdegup lebih cepat dari biasanya.

Ya ampun, ada apa denganku? Hye Rin membatin.

Seandainya saja ia tahu penyebabnya, ia pasti bisa mengendalikan dirinya. Tapi untuk saat ini rasanya terlalu berbeda. Hal ini juga berbeda dengan kejadiannya kemarin dengan laki-laki yang tidak ia kenal. Laki-laki yang mengaku bicara dengan burung—

“Bagaimana?”

Hye Rin mengerjap. Terkutuklah ia karena masih saja memikirkan kejadian kemarin. “Oh? Baiklah.”

“Ayo.”

Hening sejenak. Dengan mata yang terarah tepat di mata dan tangan Tae Hyung, Hye Rin meremas tangannya diam-diam. Jantungnya berdetak seakan-akan menyuruhnya untuk mengucapkan kata atau berbuat sesuatu. Walaupun pada akhirnya gadis itu menahan dirinya.

***

 

“Bagaimana?”

Tae Hyung menatap Hye Rin yang tak kunjung bereaksi. Gadis itu memang bersamanya, tapi—entah apa—jiwa dan konsentrasi gadis itu seakan-akan tidak bersamanya. Apa ia sedang menghadapi masalah?

“Oh?” sahut suara di hadapannya. “Baiklah.”

Tae Hyung tersenyum. Meskipun tak cukup yakin kalau gadis bernama Hye Rin benar-benar menerima ajakannya dengan konsentrasi penuh. Wajah gadis itu terlihat lelah—atau mungkin malas.

“Ayo.” Ajak Tae Hyung seraya mengulurkan tangannya.

Tak ada reaksi langsung. Tae Hyung bisa merasakan tatapan Hye Rin yang tertuju pada matanya dan juga tangannya. Ia ragu kalau Hye Rin mau meraih tangannya. Bagaimana bisa ia meraih Hye Rin seutuhnya jika untuk mendapatkan tangan gadis itu saja ia sudah gagal?

Tae Hyung tersenyum meyakinkan. “Percayakan semuanya padaku.”

Lalu, seakan-akan terhipnotis, Hye Rin meraih tangannya. Namun tepat sebelum gadis itu meraih tangannya, Tae Hyung bisa melihat dada gadis itu yang mengembang perlahan. Kemudian disusul dengan hembusan napas yang cukup panjang, menyiaratkan kepasrahannya pada Tae Hyung.

“Aku tidak tahu isi pikiranmu,” kata Tae Hyung. “Anggap saja ini terimakasihku untuk permainanmu yang sangat menghiburku.”

***

 

Keduanya melangkah perlahan. Tangan yang sebelumnya saling terhubung kini menggantung bebas di tubuh masing masing. Tak banyak kata yang keluar dari mulut keduanya selama perjalanan, yang ada hanya hembusan napas dan desas-desis beberapa orang yang melihat keduanya.

Hye Rin berjalan dengan kepalanya yang sedikit ditundukkan. Berusaha mengabaikan komentar orang-orang yang melihatnya. Sejujurnya ia merasa tidak asing lagi dengan gosip-gosip yang beredar tentang dirinya, tapi kali ini berbeda.

Dari segi visual, Hye Rin merasa dirinya berada di posisi yang salah. Ia berjalan dengan seorang idola. Orang-orang mungkin berpikir kalau ia-lah yang berusaha menggoda Tae Hyung dan mengajak laki-laki itu pergi bersama.

Kemudian dari segi kasus pun ia merasa salah. Seorang Shin Hye Rin yang selalu mengencani Idola. Kenapa harus idola? Entahlah. Yang pasti saat ini ia benar-benar tak ingin berhubungan dengan siapapun, baik idola maupun warga negara biasa.

“Hye Rin–ah.

Yang dipanggil mengangkat kepalanya. Langsung saja matanya dihadapkan dengan sepasang mata milik Tae Hyung yang entah sejak kapan menatapnya.

Tae Hyung menampilkan senyum lebarnya. Hye Rin yakin gadis lain mungkin akan jatuh bahkan pingsan di tempatnya berdiri sekarang karena senyuman itu. Tapi bagi Hye Rin, senyuman itu seakan-akan menular dan sudah sering dilihatnya. Entah kapan dan dimana.

“Ya?” respon Hye Rin pendek, bibirnya tertarik membentuk senyum lainnya.

“Aku akan ke sana.” Tae Hyung menunjukkan tujuannya, tanpa menarik senyumannya. “Bagaimana denganmu?”

Hye Rin memutar tatapannya. Matanya terbelalak mengetahui posisinya saat ini. Astaga, sudah berapa lama aku berjalan?

Sambil memikirkan alasan dan tujuannya, Hye Rin menatap Tae Hyung. “Aku akan pulang—tidak, maksudku ke arah sana.”

Tae Hyung mengangguk perlahan. “Rumahmu di sana?”

“Oh?” Kening Hye Rin berkerut. “Tidak tidak. Ada beberapa hal yang harus kulakukan di sana.”

Sejujurnya ia tak yakin kalau Tae Hyung percaya dengan ucapannya. Jujur saja, Hye Rin tak pandai berbohong. Gadis itu tidak pandai memainkan ekspresi wajahnya dalam kesehariannya. Kecuali jika ia harus menjadi oranglain di dalam sebuah drama.

“Berhati-hatilah.”

Hye Rin mendongak seketika. Ia percaya, batin gadis itu. “Ya. Kau juga.” Katanya singkat.

Tae Hyung tersenyum sejenak, kemudian melangkah menjauhi gadis yang kini menatap hampa punggungnya. Hye Rin mengerjap, berusaha mengumpulkan kesadarannya sebelum akhirnya melangkah pergi.

***

 

“Lama sekali, hyung.”

“Aku bertemu seseorang.”

“Siapa?”

“Gadis yang kemarin.”

“Gadis itu?”

“Ya.”

Kata demi kata menghiasi pertemuan mereka. Sementara itu, laki-laki yang duduk tepat di depan si pencerita, ikut mendengar percakapan yang menjadi topik bahasan mereka. Meskipun mulutnya tak tertarik untuk melontarkan pertanyaan ataupun komentar.

“Siapa namanya hyung?”

“Shin—”

Shin Hye Rin.”

Laki-laki—yang sedaritadi hanya mendengarkan—mengalihkan tatapannya seraya bergumam. Suaranya sangat pelan sehingga tidak ada yang menangkap ucapannya. Meski topik yang mereka bicarakan cukup hangat, tapi otak laki-laki itu sedang tak tertarik untuk membahas seorang gadis. Entah bagaimana wujud dan sikap gadis itu.

Terkecuali gadis yang kini berdiri di luar cafe.

Gadis itu berdiri di sana—tepat di depan gerbang Universitasnya. Ekspresinya datar tanpa semangat, kemudian matanya mengerjap. Laki-laki itu tak tahu apa yang sebenarnya dilakukan gadis itu. Tapi yang jelas ia bisa menangkap sosok gadis itu yang tengah mengedarkan pandangannya, seperti mencari-cari sesuatu.

Dan sedetik kemudian jantung laki-laki itu berdetak lebih cepat. Gadis di luar sana tersenyum. Entah apa yang merasuki pikiran gadis itu sampai-sampai tersenyum di pinggir jalan, tanpa memikirkan keadaan dan manusia lain yang berjalan melewatinya.

Apa yang harus kulakukan?

Laki-laki itu menajamkan penglihatannya. Mengabaikan setiap kata yang keluar dari keenam hyungnya. Sampai akhirnya matanya mendapati tubuh gadis itu yang perlahan bergerak.

“Tae Hyung–ah, apa dia gadis—”

Hyung, tunggu aku sepuluh menit lagi.” potong laki-laki—yang sedari tadi diam—seraya bangkit dari kursinya.

Setidaknya aku harus menyapanya.

***

 

Hye Rin menjatuhkan bokongnya perlahan. Meletakkan barang bawaannya di samping tubuhnya seraya mengeluarkan ponsel beserta earphonenya. Gadis itu hendak mendengarkan sebuah lagu ketika pandangannya tertarik untuk menatap beberapa burung yang asik bercanda-ria di ranting pohong.

Hingga tanpa sadar bibirnya tertarik untuk membentuk senyum simpul.

“Apa kau mulai tertarik pada mereka?”

Hye Rin mengerjap, mengira-ngira asal suara yang seketika menggema di sekelilingnya. Sampai akhirnya matanya bertemu dengan sepasang mata yang kini berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.

“Kau lagi.” respon Hye Rin, nada suaranya datar tapi tak seketus sebelumnya.

Laki-laki itu meghampirinya. Tanpa melepas pandangan dari burung-burung tersebut, Hye Rin bisa melihat seulas senyum yang terpampang di wajah laki-laki itu.

“Kau datang lagi.” ucap laki-laki itu, berhasil memotong jarak keduanya. “Apa kau mencariku?”

Hye Rin berdecak. “Teruslah berharap.” Katanya ringan.

Laki-laki di sebelahnya tertawa kecil, kemudian meletakkan bokongnya tepat di sebelah Hye Rin. “Apa yang kau lakukan di sini?”

“Menyendiri.” Jawab Hye Rin tanpa mengalihkan tatapannya. Salah satu tangannya menggenggam ponsel dan earphone yang sebelumnya hendak ia gunakan.

“Kau sedang menyendiri?”

“Tidak juga.”

“Apa kau punya teman?”

“Tentu saja.” Jawab Hye Rin, matanya masih menatap lurus pemandangan di depannya. “Mereka temanku di sini.” Katanya seraya menunjuk dua burung yang—sejak tadi—bertengger di sarangnya.

Hye Rin menoleh sebelum laki-laki di sebelahnya kembali bertanya. Dari tempatnya ia bisa menangkap senyum laki-laki itu yang tengah menatap burung-burut tersebut. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya perlahan.

Laki-laki itu memutar kepalanya, mempertemukan mata keduanya sejenak sebelum berbicara. “Menemui temanku.”

Hye Rin mengangkat tangannya. “Mereka?” katanya seraya menunjuk dua burung di atas mereka.

Laki-laki itu menganggukkan kepalanya, memberikan sinyal dengan bahasa tubuhnya.

Hye Rin kembali mengalihkan perhatiannya. Kini tatapannya tertuju pada kedua burung yang sesekali berkicau bebas menggumamkan bahasa yang tidak ia mengerti. Berkicau bebas meneriakkan isi hati mereka.

“Siapa namanya.” Ujar Hye Rin seketika.

Laki-laki di sebelahnya menoleh, menatap Hye Rin dengan kening yang berkerut.

Hye Rin mempertemukan mata keduanya. “Kau yang menemukan mereka lebih dulu, kau pasti membuatkan nama untuk mereka.”

“Benar.” Kata laki-laki itu setelah hening beberapa detika. “Mereka berpasangan, aku menamai mereka sesuatu yang sangat spesial.”

Hye Rin membuka matanya, tak sabar menunggu kelanjutan ucapan laki-laki di sebelahnya. “Apa?”

Laki-laki itu tersenyum. Matanya menatap kedua burung yang kini bertengger membelakangi mereka.

“Shin Hye Rin dan Jeon Jung Guk.”

***

 

“Kenapa sepagi itu?”

Hye Rin menyentuh keningnya, menghapus beberapa tetes keringat yang menempel di kening mulusnya itu. Kemudian menjatuhkan kepalanya tepat di atas meja tempatnya duduk.

“Akan ku usahakan. Tapi siapa lawan pemainku?” tanya Hye Rin perlahan seraya mengangkat kembali kepalanya. Beberapa detik kemudian ia lanjutkan dengan jawaban ya atau baiklah, setelahnya sambungan telpon pun terputus.

Di letakkannya ponsel itu di sembarang tempat. Gadis itu bergerak untuk membaringkan tubuhnya sejenak ketika matanya menangkap layar ponselnya yang kembali menyala: menandakan pesan ataupun telpon masuk.

Dengan pasrah dan langkah yang tak secepat sebelumnya, ia raih ponsel tersebut. Ditatapnya layar ponsel tersebut sampai akhirnya tangannya bergerak untuk menekan salah satu tombol di ponselnya dan membuka sesuatu.

Keningnya berkerut, Satu pesan dari nomor yang tak ia kenal menghiasi layar ponselnya.

Selamat untuk pementasan pertamamu, Shin Hye Rin.

Hye Rin mengerjap. Ia tak mengenal sang pengirim pesan, dan entah mengapa ia tak tertarik untuk mencari tahu si pemilik nomor. Ia yakin orang tersebut adalah salah satu dari sekian banyak teman satu universitasnya. Ia tak mau memikirkannya. Memikirkannya sama saja menarik masalah lain ke dalam hidupnya.

Kembali ia letakkan ponselnya, kali ini lebih tak peduli dan memperhatikan letak ponselnya. Setelah itu membaringkan tubuhnya, merenggangkan otaknya dan sekian banyak saraf tubuhnya yang bekerja untuknya.

Matanya menatap langit-langit kamarnya. Putih polos, tanpa stiker ataupun hiasan-hiasan yang terkadang terlihat indah namun juga mengganggu. Hye Rin menarik napasnya panjang sambil memejamkan matanya, membayangkan dirinya yang berada dalam kesejukkan dan kesendiriannya. Membayangkan dirinya yang berada dalam tempat terbuka dengan semua hal yang diimpi-impikannya.

Bibirnya terbuka menampilkan deretan giginya, sampai akhirnya sebuah gumaman keluar dari mulutnya.

“Terbang bebas kemanapun, sesuai mimpi, sesuai harapanmu.”

***

 

“Lucia jangan—”

Yang dipanggil menoleh, matanya melebar dengan ekspresi menantang. “Seseorang sepertimu bahkan tak pernah bisa menghentikanku.”

“Lalu siapa?” tanya sebuah suara bernada rendah. “Siapa lagi yang akan menghentikanmu jika bukan aku?”

“Apa yang akan kau lakukan—”

“Aku tidak tahu.” Potong laki-laki itu. “Yang kutahu, aku harus menghentikanmu.”

Gadis yang dipanggil Lucia mendecak. “Kau pikir semua kata-katamu bisa mengobati perasaanku? Hyun, kau pasti bercanda.” Katanya gadis itu tak peduli.

Hyun menatapnya lembut. Tatapan pertama yang diberikan laki-laki itu setelah beberapa tahun menunggu kesempatan tersebut. Kakinya bergerak, menghampiri gadis di depannya yang mematung menunggu jawabannya.

“Kau membuang waktuku Hyun.” panggil Lucia.

Yang dikomentari tak menjawab. Matanya terfokus pada mata Lucia, mengabaikan sekelilingnya dan semua mata yang tertuju padanya.

“Aku harus menghentikanmu. Entah seperti apa caranya—entah baik atau buruk akibatnya, aku tetap harus menghentikannya.”

Tatapan Lucia melunak. Sikap Hyun yang keras kepala berhasil membuat gadis itu penasaran.

Lucia mendongak, menatap mata Hyun yang kini tak jauh dari tempatnya. “Apa—”

“Aku membencimu, Lucia.”

***

Hye Rin mengerjap. Matanya tak bisa ia alihkan. Semuanya terjadi begitu cepat dan gadis itu kini benar-benar harus berpikir keras untuk sekedar melawan laki-laki di hadapannya.

“Apa—”

Laki-laki di depannya masih tak mengubah sikapnya. Secara tidak langsung, laki-laki tersebut berhasil membuatnya membeku karena perubahan skenario yang tak terduga.

“Aku membencimu Lucia.”

Apa-apaan ini? Hye Rin membuka mulutnya, berniat untuk menghentikan adegan yang tengah berlangsung.

“Aku membenci semua hal yang kau lakukan hanya karena laki-laki itu.” sahut suara di hadapannya. “Entah sampai kapan kau akan terus bersikap seperti ini—menyalahkan semuanya pada laki-laki itu dan mengabaikan kenyataan. Apa kau akan terus seperti ini?”

Hye Rin masih diam di posisinya. Matanya menatap heran laki-laki yang merupakan lawan mainnya dalam drama pertamanya—secara resmi.

Seharusnya ia menyatakan perasaannya padaku, batin Hye Rin.

“Berhenti menanggapinya.” Ujar sunbae yang menjadi lawan mainnya. “Kembalilah pada kenyataan bahwa ia tidak mencintaimu.”

Mata Hye Rin menyipit. Kalimat terakhir seniornya berhasil menggores luka di hatinya.

“Berhenti menatapnya.” Ujar laki-laki itu lagi. Kali ini suaranya lebih lembut dan terdengar memohon.

Sepertinya Hye Rin tahu kemana larinya pembicaraan mereka.

“Aku tidak menatapnya.” Bantah Hye Rin seketika, gadis itu memilih untuk membuka suara dan menunjukkan keahliannya. “Aku sedang mengembalikan perasaanku yang tersisa padanya.

Keadaan berbalik, seniornya itu kini menatapnya heran. Matanya seakan-akan menerawang dan mengingat-ingat deretan kalimat tersebut dalam teks skenario. Namun percuma saja, kalimat itu tidak tertulis atau bahkan tidak dijelaskan dalam skenario.

“Mengembalikan perasaanmu?” tanya laki-laki itu, nadanya terdengar ragu.

Hye Rin tersenyum mantap. Wajahnya terlihat puas—sekaligus lega. Lantas saja ia sunggingkan sebuah senyum kemenangan yang—seharusnya—tak terukir di wajah seorang Lucia.

“Ya.” kata Hye Rin mantap. “Memberikan luka-luka sisa yang berhasil ia ciptakan di hatiku.”

***

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s