01 Path

Path.

Genre  : Romance—Friendship—Comfort.

Rating : General.

Cast : Lee Ji Eun—Yoon Bo Mi—Kwon Min Ah—Park Sun Young—Byun Baek Hyun—other cast as showing.

Baca cerita asli di sini; http://www.wattpad.com/story/26673030-path dengan tokoh fictional.

01

Gelombang-gelombang kecil terlihat dari atas kasur berukuran sedang yang dapat memuat dua orang. Aku—Lee Ji Eun—menggubah posisi tidurku, meninggalkan beberapa jejak gelombang yang sedaritadi terbentuk dari pergerakkan selimut yang setia menemaniku. Kemudian perlahan membuka mata dengan tetap bertahan pada posisi tidurku.

Pagi itu, aku harus kembali beraktivitas. Kembali ke tempat dimana perasaanku kembali dipermainkan. Gila memang. Tapi sesungguhnya aku tidak sedikitpun mengharapkan perasaan itu—bahkan tidak pernah membayangkan perasaan itu sebelumnya.

“Lee Ji Eun! Telpon untukmu!” teriak sebuah suara dari balik pintu kamar.

Kembali, aku menggeliat malas dalam selimut. Masih belum siap untuk melihat atau sekedar mendengar suara laki-laki yang beberapa hari belakangan ini menghantui pikiranku.

Namun pada kenyataannya, kerja otak selalu bertolak belakang dengan isi hati seseorang.

Beberapa menit berikutnya, aku mendapati diriku berdiri di depan cermin dengan segala hal yang kuperlukan; mulai dari make up sampai dengan peralatan kuliah sudah ku siapkan. Hanya saja indera tubuhku masih menolak untuk menghadapi kegiatan hariannya.

“Lee Ji Eun, mereka sudah datang!” teriak suara yang sama.

Kuhela napasku sejenak, mencoba menenangkan diri dari rasa gugup yang menyergapku setiap paginya. Aku takut. Tapi bukan rasa takut akan sesuatu yang mungkin membunuhmu seperti di film-film horor. Rasa takut itu terasa seperti sakit yang jatuh tepat pada hati dan memaksaku untuk sadar dan berhenti berharap.

Singkat kata, rasa takutku merupakan penyakit yang—secara langsung—memintaku untuk bercermin dan memperhatikan pantulan diriku secara saksama. Memintaku untuk membandingkan diriku dengan gadis lainnya yang lebih cantik—atau hal lain—dari diriku.

Kaki-ku bergerak cepat. Melangkah dengan saksama menuju sebuah mobil yang berhenti tepat di depan rumah. Di dalam mobil, gadis-gadis lain menungguku sambil terus berbasa-basi membahas hal-hal lain—yang menurutku tidak menarik.

Aku mengenali gadis-gadis itu tepat saat masa orientasi. Ketiganya—Yoon Bo Mi, Kwon Min Ah, dan Park Sun Young—menjadi teman yang sangat dekat denganku, meskipun jurusan dan kelas yang kami ambil berbeda.

“Ji Eun–ah!” teriak Bo Mi tanpa memikirkan tempat dan suasana sekitar yang hening.

Aku melangkah lebih cepat, diiringi beberapa larian kecil yang—secara tidak langsung—menandakan semangatku. Sejujurnya aku menikmati sekolahku. Hanya saja ada beberapa hal yang terkadang membuatku merasa sekolah menjadi beban, terutama beban yang seringkali membuatku jantungku berdetak lebih cepat dan kehilangan kesadaran atas apa yang kurasakan.

“Hari ini kita jadi pergi, ‘kan?”

Ah iya aku lupa! “Akan ku usahakan. Tapi sepertinya kalian harus menunggu sebentar—”

“Pertemuan kelas lagi?” potong Bo Mi mendahului penjelasanku.

“Bukan.” Jawabku. “Kelompokku mendapat giliran mengamati seorang mayat, dan kami sudah sepakat untuk melakukannya hari ini.”

Sun Young mengangguk-angguk mengerti di tempatnya, sementara Bo Mi masih dengan muka masamnya. Aku mengerti kekecewaannya. Dia memang sudah menyewaku hari ini, tapi sungguh—aku benar-benar tidak ingat.

“Aku mengerti.” Min Ah menimpali. “Mahasiswa kedokteran memang yang paling sibuk.” Katanya menambahkan.

Aku tersenyum. Senyum pertama yang kutunjukkan hari itu. Entah karena tertarik untuk memamerkan senyum atau memang kalimat Min Ah berhasil menyejukkan hatiku dan membuatku sedikit merasa lega. Yah, meskipun masih ada sedikit rasa bersalah yang terpendam jauh dihatiku.

“Naiklah, kita harus berangkat pagi kalau kau tidak ingin ketinggalan menu sarapan pagi ini.” ujar Sun Young.

Tanganku bergerak, menarik pedal pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Bokongku menyentuh bantalan kursi mobil Sun Young, duduk tepat di sebelah Min Ah yang kini sibuk bermain dengan ponselnya.

“Ji Eun–ah.” Aku menoleh, menemukan Min Ah menyebut namaku tanpa memandangku. “Manfaatkan kesempatan itu dengan sangat baik.”

Kalimatnya membuatku berpikir sejenak. Berusaha mencerna kata-demi-kata yang dikatakan Min Ah. Lalu menyadari sesuatu. Sesuatu yang bisa mencuri perhatianku. Kata itu; kesempatan, mungkin masih bisa memberikanku harapan.

“Aku tahu, Min Ah–ya.”

***

Menjelang siang hujan turun. Kami menghabiskan waktu di cafe sebrang. Sembari menunggu hujan yang perlahan mereda, kami membicarakan banyak hal; mulai dari yang berbau umum sampai hal-hal pribadi.

Aku tak begitu tertarik dengan tema pribadi yang mengisi meja makan kami. Rasanya tak ada yang pantas dibagi dari semua perasaan yang kini mengendap dihatiku. Rasanya seperti tidak ada nilainya—bahkan tidak sedikitpun memiliki arti yang pasti.

Min Ah memimpin rapat harian kami. Mulutnya dengan sigap bercerita tentang kelanjutan hubungannya dengan laki-laki yang belakangan ini mengisi hari-harinya. Dan ketika gadis itu berkata, “Dia hanya menganggapku sebagai teman.” Aku tercenggang. Sejujurnya kalimat seperti itu sudah terlalu sering kukatakan pada diriku sendiri. Namun mengetahui kalimat tersebut keluar dari bibir mungil Min Ah, membuatku merasa semakin sakit.

“Aku yakin dia punya alasan untuk setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya.” Kataku menenangkan.

“Sebenarnya dia menyebutkan hal yang berbeda. Dia bilang dia menyayangiku sebagai teman. Apa menurutmu itu logis?”

“Dia menyayangimu?” sela Sun Young. “Tapi hanya sebagai teman?” tanyanya pada Min Ah.

“Itu aneh.” Protes Bo Mi, pikirannya memang selalu terarah pada hal yang pasti-terjadi-atau-pasti-akan-terjadi. “Tidak ada kata sayang diantara sepasang wanita dan laki-laki yang tidak memiliki ikatan darah. Aku yakin dia memiliki perasaan khusus padamu.”

Aku mencerna perkataan Bo Mi. Biasanya tebakan gadis itu tidak pernah meleset. Namun entah bagaimana, rasanya perkataan gadis itu kali ini cukup tidak masuk akal.

“Bagaimana kalau rasa sayang sebatas sahabat?” tanyaku. “Apa perasaan itu juga tidak mungkin?”

Bo Mi memainkan bibirnya, terlihat berpikir. “Aku tidak tahu pasti. Tapi dilihat dari bentuk interaksi yang kalian—seorang laki-laki dan seorang wanita—lakukan, pasti terdapat penjelasan atas segala bentuk perkataan ataupun perbuatan yang dilakukan orang tersebut.

“Dan dilihat dari kasus Min Ah,” Bo Mi menimang-nimang, tatapannya beralih pada gadis yang sejak tadi menekuk wajahnya. “Aku yakin ia memiliki perasaan khusus padamu.” Katanya mengakhiri sesi investigasinya.

Ketika topik pembicaraan kembali berganti, aku mengalihkan pandanganku. Beralih menatap jalan raya yang dipenuhi berbagai jenis kendaraan. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat beberapa mahasiswa yang datang dengan sepedamotor tengah mencari lahan kosong untuk tempat parkir.

Dan di sanalah pertama kali aku menangkap tubuhnya; tinggi, kulit putih dengan rona merah menghiasi wajahnya, dan rambut yang tidak tertata namun terlihat rapi. Ia datang lebih cepat dari yang kuperkirakan. Dan lagi, kulihat ia tak menggunakan jaket biru yang biasa dia peluk ketika dosen datang terlambat ke kelas kami.

“Bagaimana kalau ternyata dia mengatakan—atau melakukan—hal yang sama pada gadis lainnya?”

Pertanyaan itu keluar dari mulutku. Tanpa disengaja dan tanpa disadari. Beberapa detik setelahnya, kutemukan ketiga gadis yang mengelilingiku tengah menatapku heran. Mungkin mereka bingung, atau mungkin penasaran dengan maksud pertanyaanku yang keluar secara tiba-tiba.

“Kau membicarakan dirimu.”

Kalimat itu terdengar seperti pernyataan yang dilontarkan khusus untukku. Entah mengapa rasanya aneh mendengar mereka mengomentari perasaanku. Rasanya seperti ada hal lain yang memaksaku untuk mengubah perasaanku. Walaupun pada dasarnya mereka tidak bermaksud untuk mengubah perasaanku.

“Apa perasaan itu datang lagi?” tanya Min Ah perlahan. Matanya menatapku lembut, menanti jawabanku.

Aku mengangguk, mengakui kebenaran. Hanya Min Ah yang mengerti dengan perasaan itu. Sementara Sun Young dan Bo Mi, mulutku masih sulit untuk berbagi.

“Perasaan apa?” tanya Bo Mi antusias. Selain berpikiran mutlak, Bo Mi merupakan gadis yang memiliki antusias tinggi jika sesuatu berhasil membuatnya penasaran.

Perasaan dimana kau merasa nyaman dengan seseorang. “Perasaan yang tidak bisa kujelaskan.” Jawabku berbohong.

Mataku mengedar lagi, menatap sesosok tubuh yang kini berdiri memunggungi penglihatanku. Motornya sudah ia tinggalkan, kini ia siap berjalan masuk ke dalam gedung dan menjauh dari penglihatanku.

“Ceritakan pada kami tentang dia Ji Eun–ah.” Pinta Sun Young.

Aku menghela napas. Belum siap dan—kurasa—tidak akan pernah siap untuk membagi ketidakpastian yang selalu menyergapku.

***

Dia tertidur lagi di kelas.

Kukeluarkan ponselku, diam diam mengambil gambarnya yang tengah terlelap dan mempublikasi gambarnya di salah satu jejaring sosial yang kurahasian. Wajahnya menggemaskan. Ingin rasanya mencubit pipinya yang kemerahan dan berkata; aku suka pipi merah jambumu.

Beberapa menit mencuri pandang membuatku lupa dengan kehadiran dosen yang tak kusadari. Entah sudah beberapa lama aku terlalut, tapi sesungguhnya aku tak memiliki waktu lain—selain sekarang—untuk menatap wajahnya.

Omong-omong soal perasaan. Tidak ada yang spesifik dengan perasaan yang kurasakan padanya. Aku sendiri belum menemukan jawaban atas segala tindakan yang kulakukan padanya. Apa itu suka, sayang, atau cinta. Aku tak pernah tahu.

Yang kutahu; aku merasa nyaman jika berada di dekatnya.

Perasaan itu sering kurasakan—bahkan tidak hanya dengannya. Perasaan aneh yang membuatku selalu mengira kalau aku jatuh cinta. Aku tak tahu kapan tepatnya aku mulai merasakan perasaan itu, namun aku ingat saat pertama kali menyatakan perasaanku pada teman sebangku-ku karena perasaan nyaman itu. Tepat ketika aku duduk di sekolah mengenah pertama.

Saat itu aku masih tak mengerti. Sampai saat ini pun masih sama. Hanya saja kali ini aku lebih suka memendamnya sendiri, merasakannya sendiri dan mengendalikan perasaanku sendiri. Takut-takut kejadian yang sama terulang kembali hanya karena rasa nyaman itu.

“Lee Ji Eun.” Panggil Sang Dosen. Sontak saja membuat semua mata memandangku, termasuk dirinya. “Beri aku satu contoh mengenai sikap seorang pasien yang nyaman pada dokternya.”

Aku mengerjap sesaat, kemudian menatap Dosen yang berdiri di depan kelas dengan mantap. “Rasa nyaman itu ditunjukkan dengan cara tidak menunjukkan kekhawatirannya. Ketika seorang pasien merasa nyaman dengan dokter yang menanganinya, maka ia akan percaya pada Sang Dokter mengenai penyakitnya.”

Hal ini bertolak belakang dengan perasaan nyaman yang selalu kurasakan. Perasaan nyaman yang selalu membuatku kehilangan kepercayaan, entah pada diri sendiri ataupun pada orang-orang disekelilingku.

“Jawaban yang bagus, Lee Ji Eun.”

Aku tersenyum di tempatku. Kemudian setelah Sang Dosen kembali melanjutkan topik pelajaran, aku menatapnya. Hanya sebentar karena detik selanjutnya aku menarik diri dari kenyataan yang mungkin membawa rasa sakit pada diriku sendiri.

***

“Ji Eun–ah!”

Suara lantang itu memenuhi ruang kelas. Keadaan sepi dan aku tengah mempersiapkan diri sebelum memasuki ruang pengamatan. Ini kedua kalinya kami mengamati mayat, tapi rasanya berbeda. Jika pada pengalaman pertama aku merasa gugup, maka kali ini aku lebih merasa enggan. Enggan mengamati, enggan berada di sana, dan enggan menjalani interaksi dengan oranglain.

“Ji Eun–ah!”

Suara itu kembali menggema di telingaku. Memaksaku untuk bergerak lebih cepat dan menyusul langkahnya dengan sedikit berlari.

“Kau tidak harus berteriak, aku mendengarnya.” Kataku begitu berhasil menyamai langkahnya.

“Kau lelet sekali, Ji Eun–ah.”

Aku sengaja melakukannya. “Kau bisa pergi lebih dulu. Sudah kubilang tidak perlu menungguku.”

Dia mencibir perlahan. “Meninggalkanmu di kelas sendirian kemudian membiarkanmu kabur dari jadwal pengamatan? Jangan harap Lee Ji Eun.”

“Aku tidak pernah bilang kalau aku akan kabur, Byun Baek Hyun.”

Baek Hyun tidak merespon, matanya menatap lurus jalanan di depannya. Sementara aku tidak berminat untuk mengisi keheningan yang terjadi di antara kami.

Namanya Byun Baek Hyun. Laki-laki yang berhasil menimbulkan perasaan nyaman padaku. Aku sendiri tak mengerti, rasa nyaman itu timbul seiringan dengan pertengkaran yang terjadi di antara kami. Dan tanpa sadar aku menyukainya; aku menyukai setiap detik dan setiap kata-kata yang ia gunakan dalam pertengkaran kami.

Ia berhasil menimbulkan perasaan nyaman itu dengan cara yang berbeda.

Bagai membuka celah atau jalan kecil menuju sesuatu yang kuharapkan dapat membawaku pada akhir yang bahagia.

“Ji Eun–ah.” Panggil Baek Hyun perlahan.

Aku menoleh tanpa suara, menunggu kelanjutan perkataannya.

“Apa yang kau rasakan saat melihat mayat?”

Pertanyaan itu tidak langsung kujawab, mulutku sibuk ber-hmm ria sambil menimbang-nimbang jawaban yang sesuai. “Aku tidak tahu.” Jawabku pada akhirnya. “Hanya saja kali ini aku tidak merasa takut.”

“Tentu saja kau tidak takut.” Ujar Baek Hyun. “Wajahmu bahkan lebih menyeramkan daripada mayat-mayat tersebut.”

Dia menghiburku. Dan tanpa sadar aku tertawa kecil sambil berusaha memukul tubuhnya. Kami sering bertingkah seperti ini; ledek-meledek kemudian saling membanggakan diri. Aku tidak marah ketika dia meledekku, tidak juga merasa iri ketika dia dengan sangat bangganya menyombongkan diri. Aku merasa terhibur.

Untuk suatu alasan yang tak pasti, dia kembali berhasil membuat jalan-jalan kecil di hatiku. Seakan-akan memaksa untuk masuk ke dalam hatiku, meski aku tak tahu pasti isi hatinya.

Baek Hyun merupakan tipikal orang yang tersenyum pada siapapun. Oleh karena itu, sulit untukku menebak isi hatinya dan memperkirakan sesuatu yang melayang dipikirannya.

“Apa yang kau rasakan saat pertama kali melihat mayat?” tanya Baek Hyun lagi.

Kali ini aku menjawabnya tanpa berpikir. “Rasanya seperti berada di ujung kehidupan, dan kemudian aku tersadar kalau suatu saat aku akan terbaring dan menjadi pusat pengamatan calon-calon dokter lainnya.”

Dia tak langsung membalas. Langkahnya terhenti dan matanya menatapku dalam. “Kau bicara seperti orang yang akan mati.”

“Oh.” Responku seraya menatapnya yang kini berdiri di belakangku. “Kau tidak akan pernah tahu kapan nyawamu berakhir dan kau tidak lagi menatap langit biru.”

Baek Hyun melanjutkan langkahnya. Ruang pengamatan sudah terlihat dari tempat kami berjalan.

“Lee Ji Eun.” Panggil Baek Hyun, tepat beberapa meter sebelum kami sampai. “Kata-katamu membuatku tersentuh, tapi juga takut.”

Aku terhenyak. Apa yang baru saja ia katakan?

“Kita memang tidak tahu kapan kehidupan dunia mengatakan tamat pada cerita kita. Tapi bersikap seakan-akan kau akan mati tidak akan membawamu pada kenyamaan di dunia, sesungguhnya kau harus menemukan kenyamanan itu dihidupmu.”

Bagai batu yang dihempaskan secara bebas ke tubuhku, aku merasa tubuh ini berat. Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya, dan darah yang mengalir di tubuhku terasa membawa sengatan-sengatan yang mengejutkanku.

Baek Hyun melanjutkan langkahnya. Meninggalkan diriku yang mematung sempurna memikirkan semua perkataannya.

Perasaan itu kembali menunjukkan reaksi-reaksi aneh.

Rasanya seperti menemukan sesuatu yang selama ini kau cari.

Seperti menemukan emas di tengah tumpukan sampah.

Terlihat mustahil tapi tak ada yang tahu kebenarannya.

Baek Hyun memintaku untuk menemukan kenyamanan dalam menjalani hidup. Laki-laki itu baru saja memintaku untuk tidak betingkah seakan-akan hidup ini beban yang tidak diketahui kapan berakhirnya. Beban yang membuatku tidak nyaman.

Hanya saja laki-laki itu tak pernah tahu. Ia tidak pernah tahu tentang rasa nyaman yang menyelimutiku setiap ia berada di sisiku.

Ia tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu.

***

Tiga puluh menit terasa sangat cepat. Bahkan untuk ukuran seorang pemula sepertiku, tiga puluh menit tidaklah cukup untuk mengetahui perubahan-perubahan dari tubuh seseorang yang sudah meninggal.

“Kau mencatat hasilnya, ‘kan?” tanya Baek Hyun ketika kami keluar dari ruangan.

“Tentu saja.” Meskipun aku sedikit tak yakin dengan hasil pengamatanku.

Baek Hyun mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kalau begitu kuserahkan semua data padamu.”

“Baiklah.” Tanggapku singkat.

Beberapa menit yanglalu kami berada dalam ruangan yang sama. Mengamati bersama dan saling bertukar pendapat. Harus ku akui; aku suka bekerjasama dengannya. Ia membantuku, dan juga menghiburku. Meski banyak mahasiswa lainnya yang juga melakukan pengamatan, dia tetap fokus padaku sampai tugas kami benar-benar selesai.

Kebahagiaanku tidak hanya sampai di sana. Tadi, di dalam ruang yang berisi mayat-mayat, ia duduk tepat di sebelahku. Mendiskusikan hasil kerja kami yang masih belum sempurna. Jarak kami sangat dekat—bisa dibilang ini merupakan jarak terdekat kami—dan aku berkesempatan untuk menatapnya lebih dekat lagi.

“Ji Eun–ah.”

Aku mengerjap sejenak. Memperhatikan Baek Hyun yang berhenti melangkah. Matanya menatapku sejenak, kemudian beralih pada objek lain yang berdiri tak jauh dari tempat kami.

Aku melihatnya. Gadis yang sangat dekat—mungkin lebih dekat dibandingkan diriku—dengan Baek Hyun.

“Aku harus pergi.” Ujar Baek Hyun, kembali mengalihkan perhatianku dari gadis itu. “Kupercayakan hasil pengamatan itu padamu.” Katanya sebelum meninggalkanku.

Aku tak tahu apa yang membuatku tak bisa memberikan respon. Mulutku terlalu kaku untuk berkata ‘iya’ atau ‘hati-hati di jalan’. Selain itu, otakku juga bekerja dengan sangat lambat.

Yang sempat kulakukan hanya menatap punggungnya yang mulai menjauh dari tempatku berdiri. Tersenyum kecil sambil merelakan kepergiannya.

Aku tak ingin berlarut dalam perasaan ini. Perasaan yang tidak kutahu pasti seperti apa akhirnya dan bagaimana cara mengendalikannya. Aku tidak ingin menjadi seseorang yang berpikir bahwa rasa nyaman sejenak yang kurasakan merupakan rasa cinta yang menuntunku ke dalam hubungan yang—mungkin—tak pernah ada.

Aku menghela napas panjang. Membiarkan perasaan nyaman itu mengalir bergitu saja dalam diriku. Membiarkan laki-laki itu mengisi rasa nyaman di hidupku.

Meski berakhir menyedihkan.

Meski tak ada seorangpun yang tahu.

Meski perasaan itu sedikit-demi-sedikit mempermainkanku.

Tapi aku tahu satu hal; jangan pernah menganggap remeh perasaan nyaman yang menyelinap dalam hidupmu, karena sesungguhnya perasaan itulah yang menunjukkanmu pada jalan kecil yang kau sebut cinta.

*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s