02 Path

Path.

Genre  : Romance—Friendship—Comfort.

Rating : General.

Cast : Lee Ji Eun—Yoon Bo Mi—Kwon Min Ah—Park Sun Young—Jung Dae Hyun—other cast as showing.

Baca cerita asli di sini; http://www.wattpad.com/story/26673030-path dengan tokoh fictional.

02

Dering ponsel mengisi kekosongan ruangan yang tak berpenghuni. Sesungguhnya bukan hanya ruangan yang tak berpenghuni, tapi hatiku pun sama.

Berhari-hari setelah kejadian yang menegangkan—sekaligus menyakitkan, aku—Kwon Min Ah—terpaksa memasang senyum palsu. Sebenarnya senyum ini—yang sampai sekarang menemani hari-hariku—tidak benar-benar palsu. Hanya saja, beberapa diantaranya terkadang memendam perih yang tak bisa kujelaskan.

Hari ini—seperti biasa—tugas-tugas menungguku dan memintaku untuk menjamahi mereka. Tidak hanya satu tugas, tapi tiga tugas sekaligus.

Kakiku melangkah menuruni anak-demi-anak-tangga menuju lantai bawah, siap bertemu dengan ketiga gadis lainnya; Yoon Bo Mi, Park Sun Young, dan Lee Ji Eun. Kami berteman sejak semester awal, dan kini hubungan kami sudah mencapai semester empat. Banyak hal-hal yang terjadi dalam pertemanan kami. Entah itu tawa canda, tangis dan histeris, serta pertengkaran-pertengkaran kecil ataupun besar yang terjadi di antara kami. Tapi aku tetap bersyukur. Karena pada kenyataannya, aku memiliki tempat untuk berbagi isi hatiku.

Di antara mereka bertiga, akulah yang paling sering mencurahkan isi hatiku. Rasanya menenangkan ketika kau berhasil membagi masalahmu dan mendapat masukan dari orang-orang disekelilingmu. Katakan saja mereka diaryku, karena sesungguhnya aku-lah yang menjadi pena mereka.

Jika aku suka berbagi, maka temanku; Lee Ji Eun, adalah satu dari sekian banyak yang tertutup. Gadis itu lebih suka memendam perasaan. Bahkan ia menutup rapat masalalu-nya yang—menurutku—terdengar biasa saja.

“Ini bukan sesuatu yang penting.” Katanya jika kutanya. Namun aku tetap memaksa. Memintanya untuk menceritakan laki-laki yang membuatnya merasa nyaman atau aku tak akan menganggapnya teman. Dan berhasil. Gadis itu menceritakan perasaannya. Meskipun masih ada hal yang ia tutup-tutupi.

Dan ketika ia bertanya, “Bagaimana hubunganmu dengan Dae Hyun?” Aku menghela napasku. Rasanya pertanyaan itu sudah terlalu kuno untuk hubungan yang tak pernah ada kepastiannya, dan untuk segala hal manis yang menimbulkan getaran khusus di hatiku.

Kupejamkan mataku sejenak. Berusaha mengendalikan diri agar tidak terbawa emosi. Hari itu, hari dimana aku menceritakan sesuatu yang membuatku menangis, menjadi hari dimana hatiku memilih untuk berhenti mengharapkannya.

Semuanya keluar dari mulutku; semuanya. Berawal dari percakapan kami yang terdengar melebihi batas pertemanan, sampai kata-demi-kata yang membuatku tersenyum tanpa alasan, dan berakhir pada kenyataan bahwa ia menyayangiku sebagai temannya.

Entah apa yang menyihirku saat itu, tapi aku tersenyum. Sungguh. Aku tersenyum pahit ketika melihat pesan yang bertuliskan; Dae Hyun sayang Min Ah sebagai teman. Rasanya seperti diterjam mamalia yang tengah kelaparan namun mamalia tak menyukaimu sebagai santapannya.

Malamnya aku tak bisa terlelap. Mataku terlalu ringan untuk tertutup dan menolak untuk beristirahat. Seperti ada yang memaksa untuk keluar dari mata. Malam itu aku terjaga, berusaha mengingat-ingat semua yang kami—Aku dan Dae Hyun—bagi. Dan entah bagaimana, beban itu jatuh dari mataku. Jatuh tanpa izin dan membuatku tak bergeming.

Malam itu juga kutumpahkan semuanya yang mengeryap hatiku.

Kucurahkan semuanya dalam bentuk tangisan yang—kuharapkan—tak akan pernah terjadi lagi.

Dan jika kalian berpikir hubungan kami berhenti, maka kalian salah. Sebelumnya kami memang sempat saling tidak bicara, meski terkadang jariku terasa gatal hanya karena keinginan untuk mengirimkannya pesan. Tapi kemudian, tepatnya—tidak sampai—dua hari setelah kejadian, ia kembali menyapaku. Dae Hyun kembali menjadi Dae Hyun yang mengisi keseharianku, meski kami lebih sering berbicara via pesan.

Hari ini pun sama. Dia yang mengirimku pesan dan aku yang membalasnya dengan sangat cepat—bahkan terkadang tak sampai satu menit kami sudah saling berlomba mengirim pesan, seperti sebuah kebiasaan. Dan harus kuakui; aku menyukai kebiasaan itu.

“Bo Mi–ah!” Teriakku ketika Bo Mi melintas beberapa meter di depanku. Gadis itu terlihat sibuk dengan bawaannya; sebuah tas gitar berisi isinya dan ponsel di genggamannya.

Aku menghampiri Bo Mi, lalu melanjutkan perjalanan menuju tempat yang sudah kami janjikan. Bo Mi—seperti biasa—memamerkan senyumnya selama perjalanan kami. Tak banyak yang bisa dibicarakan, karena saat itu perhatianku tertuju pada satu pesan masuk yang tertera di layar ponselku.

Pesan masuk dari Dae Hyun.

***

“Bagaimana kalau horor?”

Aku menggerutu, menolak tegas genre film yang disarankan Bo Mi.

“Ayolah, Min Ah–ya. Kau akan terus terjebak dalam ketakutan belaka kalau seperti ini.”

Untuk yang kesekian kalinya, mulutku bergerak mengumandangkan kata tidak.

“Aku juga tidak mau.” Sambar seseorang, dan jika pendengaranku tidak salah, maka aku harus berterimakasih pada Ji Eun nanti.

Perundingan pun kembali di mulai, dan aku pun tak mau kalah. Jika Bo Mi ngotot memilih film horor maka aku dan Ji Eun tidak ikut. Tapi jika ia mau mengalah, maka kami akan dengan senang hati menonton film lainnya yang tidak membuatku terjaga selama beberapa malam ke depan.

“Kita pilih yang berbau romance saja.” Saran Sun Young, mengakhiri perdebatan singkat yang biasa terjadi di antara kami.

Tak perlu menunggu lama untuk memesan tiket dan membeli beberapa cemilan, karena kami langsung membagi tugas dan berpencar. Aku mendapat tugas membeli tiket, bersama Ji Eun yang selalu kebingungan jika harus memilih salah satu makanan di antara berbagai makanan yang—rata-rata—menggoda seleranya. Tipikal gadis rakus.

“Kau tahu filmnya, Min Ah–ya?” tanya Ji Eun, gadis itu menatap sebuah televisi berukuran sedang yang berada di pojok ruangan. Dan ketika aku melirik televisi itu, trailer film kami di putar.

Aku tak terlalu tertarik, sementara Ji Eun masih pada kesibukannya. Kakiku melangkah perlahan, satu-demi-satu bergerak mengikuti antrianyang sedaritadi kutempati. Sampai akhirnya sesuatu terasa bergetar tepat di paha kananku.

“Dae Hyun ya?”

Tepat ketika jemariku membuka kunci ponsel, suara Ji Eun mengejutkanku. Reaksiku persis seperti seseorang yang ditegur karena ketahuan menyontek oleh gurunya; malu.

Ji Eun memperkecil jarak kami, matanya melirik ke arah layar ponselku. Di sana, tertera pesan singkat yang baru saja dikirim Dae Hyun untukku.

Min Ahya, apa yang sedang kau lakukan?

Tanpa sadar aku tersenyum. Perutku terasa memabukkan. Rasanya seperti dikerubungi berbagai jenis kupu-kupu yang memaksa keluar dari tubuhku, rasanya seperti ingin meluapkan kebahagiaanku.

“Cepat balas.” Saran Ji Eun, mengembalikanku pada kenyataan.

Dengan cepat kugerakan jemariku di atas layar ponsel. Mulai mengetik kata-kata sederhana yang—kuharap—sesuai dengan jawaban yang Dae Hyun inginkan. Lagipula, aku sendiri berharap untuk melanjutkan percakapan kami sampai malam berakhir.

‘Aku bersama yanglainnya. Apa yang kau lakukan Dae Hyunah?’

“Aku sedang memikirkanmu.” Celetuk Ji Eun seketika. “Seharusnya Dae Hyun mengatakan hal semacam itu, karena kalau tidak ia bena-benar seorang pengecut.”

Aku terhenyak. “Kenapa ia harus menjadi seorang pengecut?”

“Karena ia terlalu kaku dan bertele-tele dalam menyampaikan perasaan—”

“Kami hanya berteman, Ji Eun–ah.” Kataku memotong ucapan Ji Eun. Sejujurnya kalimat itu lebih kutunjukkan pada diriku. Takut-takut perasaan berharap itu kembali hadir dan menyita waktuku.

Bahkan rasanya hidupku terlalu sia-sia jika kuhabiskan untuk mengharapkan cinta seorang Jung Dae Hyun.

Sesungguhnya kali ini bukan perihal perasaan, melainkan perihal harga diri yang perlahan tak berarti dalam hidupku.

“Kau mendapat pesan lagi.” sahut Ji Eun, lagi-lagi menyadarkanku dari segala pikiran yang melesit dalam benakku. Tanpa sadar kini kami berdiri di depan loket, siap untuk memesan tiket.

Namun Ji Eun menghalangiku. Gadis itu mengambil beberapa lembar uang yang berada dalam genggamanku dan berkata, “Manfaatkan kesempatan ini dengan sangat baik.”

Kalimat yang sama seperti yang pernah kukatakan padanya sebelumnya.

***

Jam menunjukkan pukul delapan malam. Pandanganku dan seluruh pengunjung tertuju pada layar besar yang kini menayangkan sebuah cerita kisah cinta monyet remaja-remaja masa kini. Mulai dari cinta bertepuk sebelah tangan, sampai kisah cinta segitiga yang mengorbankan persahabatan.

Benar-benar sebuah drama.

Sementara yanglain terpaku pada film di hadapan mereka, mataku tak bisa berhenti untuk sekedar melirik ponsel. Tak perlu kujelaskan, semua tahu kalau saat ini aku menunggu pesan masuk darinya. Bahkan aku menunggunya sejak laki-laki itu memutuskan untuk memberiku waktu bersenang-senang.

Singkatnya, ia membalas pesanku dengan kalimat; Selamat bersenang-senang, Min Ah–ya. Hubungi aku jika kau sudah pulang.

Aku tahu intinya; Ia memintaku untuk mengabarinya lebih dulu. Namun beberapa kali dipikirkan, rasanya aneh jika aku mengirimnya pesan lebih dulu. Bukankah hal itu terkesan sangat aneh untuk sepasang laki-laki dan wanita yang tidak menjalani hubungan apapun?

Astaga, aku pasti gila.

“Kirim saja ia pesan.” suara Bo Mi terdengar dari bangku sebelah. Apa pikiranku benar-benar ketara?

“Jangan bertingkah seolah-olah kau tak peduli.”

Sungguh sebuah tebakan yang tepat. Untuk orang seperti Yoon Bo Mi, hal menebak bukanlah sesuatu yang sulit. Apalagi jika seseorang yang ditebak seperti diriku; yang terlalu sering mengekspresikan isi hatiku

Aku mendengus, menatap film yang kini menampilkan sepasang kekasih yang sedang berkencan. “Bukan tidak peduli.” Kataku pelan. “Hanya lebih berusaha bersikap sesuai dengan kenyataan

“Kenyataan apanya.” Bo Mi memotongku, nada suaranya terdengar meledek. “Kau bersikap seperti seseorang yang berusaha bunuh diri.”

Kali ini aku terhenyak. Apa maksudnya bunuh diri? Sejujurnya dua kata itu sedikitpun tak pernah terbesit di benakku. Hanya saja, aku merasa seperti menyadari sesuatu. Entah apa itu, aku tak ingat.

Yang ku ingat; Aku merasakan sakitnya.

***

Aku sudah sampai di rumah. Bagaimana malammu?

Ibu jariku menyentuh layar, tepatnya pada sebuah logo yang menandakan kirim pesan. Kemudian mataku menyapu ruangan, mencari jam dinding yang terpajang tepat di sebelah lemari.

Jam setengah dua belas malam.

Dae Hyun pasti sudah memasuki dunia mimpinya. Melupakanku yang masih terjaga menunggu balasan pesan darinya. Ia pasti juga lupa satu hal; ia yang memintaku untuk mengabarinya. Dan saat ini juga, ia yang tidak membalas pesanku.

Aku tak tahu pasti apa yang kuharapkan. Tapi jauh dalam hatiku, aku berharap Dae Hyun masih terjaga karena menungguku.

Tanganku kembali meraih ponsel, kali ini berusaha mengirim pesan singkat pada salah satu temanku. Namanya Shin Yoo Na, mahasiswa akuntan yang mengenal Dae Hyun lebih lama dariku. Keduanya berasal dari sekolah menengah tinggi yang sama, dan berada pada kelas yang sama—selama tiga tahun—sebelumnya.

Tujuanku mengirimnya pesan tidak jauh dan tidak bukan mengenai Dae Hyun. Sesuatu mengenai perkataan Bo Mi seakan menyadarkanku atas apa yang selama ini kulakukan pada diriku sendiri, dan Bo Mi benar akan ucapannya.

Entah kapan tepatnya aku menyadari arti perkataan gadis itu. Yang terpenting saat ini, aku menyadarinya. Menyadari segala hal yang selama ini terjadi padaku perlahan berusaha membunuhku. Dan segala hal yang kulakukan untuk diriku sendiri, pada intinya berusaha membunuh diriku secara perhalan.

Rasa sayang, cinta, ataupun harapan yang kuberikan pada Dae Hyun, semuanya menyiksaku.

Itulah inti dari kata bunuh diri yang dikatakan Bo Mi.

Ibu jariku kembali menekan tombol kirim. Tak lama kemudian di susul dengan getaran yang berasal dari ponsel.

Satu pesan baru; Membuatku kembali berharap.

Dari Dae Hyun; Mengundang senyum di wajahku.

Mungkinkah?

***

“Kwon Min Ah, di sebelah sini!”

Gadis itu duduk di sudut cafe, ponselnya ia biarkan tergeletak bebas di atas meja. Aku mempercepat langkahku. Menghampiri gadis itu dengan penuh antusias. Meski separuh hatiku merasa takut.

Semalam, tepat setelah perkataan Bo Mi melesit kembali dalam benakku, aku membuat sebuah keputusan. Sudah kupastikan bahwa aku akan memulai sesuatu yang baru yang membawaku pada kepastian. Tidak seperti saat ini; terombang-ambing oleh perasaanku sendiri, dimainkan seperti sebuah boneka.

“Bagaimana hasilnya?” tanyaku penasaran.

Gadis di depanku tersenyum. Senyum yang sulit diartikan. Aku bisa menyimpulkan bahwa ia membawa kabar baik, tapi senyumnya memancarkan aura yang berbeda—sesuatu seperti permohonan maaf.

“Ia tidak mau memberitahuku.” Kata gadis itu bersuara. Nada suaranya yang lembut membuatku merasa sedih. Pada akhirnya sesuatu kembali ke tempat semula.

“Sejujurnya aku masih tidak yakin—maksudku, ia bilang ia tidak sedang berhubungan dengan siapapun. Dan ketika aku memintanya untuk berkata jujur, dia bertanya; Untuk apa aku menanyakannya. Sungguh.”

Rasanya sakit.

Seakan sebuah pisau siap membunuhmu. Hanya siap, tidak ada yang tahu kapan tepatnya pisau itu benar-benar menusuk tubuhmu dan mencabut semua harapanmu di dunia.

“Mungkin dia hanya tidak ingin mengatakan yang sebenarnya padaku.”

Apa sulitnya mengatakan yang sejujurnya?

Semuanya terasa semakin rumit. Bagiku, menyimpan perasaan bukanlah hal yang sulit. Tapi jika aku harus selalu berhubungan dengannya tanpa kepastian, hal itu tentu saja menggoreskan luka.

Sesungguhnya Dae Hyun benar-benar tidak tahu kalau keberadaannya di sisiku memiliki arti.

Dan untuk sesuatu yang tak memiliki kepastian, aku benar-benar tidak bisa.

Alasannya?

Sederhana saja; aku tidak ingin terjatuh. Sudah cukup untuk terjatuh di tengah sebuah perasaan yang membuatku merasa terbangun, sudah cukup untuk merasakan sakit hati di tengah kebahagiaan yang sedang berlangsung.

Aku takut jika suatu saat kau meninggalkanku.

Tidak apa jika hanya satu atau dua hari. Namun selebihnya? Entahlah, mungkin aku butuh waktu untuk konsekuensi ini.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya gadis di depanku. Suaranya yang lembut membuatku sedikit terhibur, setidaknya—aku yakin—ia berniat menghiburku.

Aku tersenyum sejenak. Yang berbeda kali ini; aku tidak menangis. Tidak sedikitpun merasa panas atau apapun itu.

“Sebelum semuanya terlambat, aku harus melupakannya.”

***

 

Dae Hyun : Astaga, kau hampir lupa waktu Min Ah–ya. Jam berapa sekarang, kau harus tidur Kwon Min Ah.

Min Ah : Kau sendiri masih terjaga.

Dae Hyun : Aku sudah terbiasa. Apa yang sedang kau lakukan?

Min Ah : Tidur larut tidak baik untuk kesehatanmu, jangan berusaha mempercepat kematian Dae Hyun–ah. Sedang mengerjakan tugasku, bagaimana denganmu? Apa ada sesuatu yang sedang kau kerjakan?

Dae Hyun : Aku tidak pernah bilang aku ingin cepat mati, aku menikmatinya. Tidak ada yang harus kukejarkan, hanya sedang menganggur. Seberapa banyak tugasmu?

Min Ah : Kalau begitu tidurlah, aku hanya perlu membuat tiga pernyataan beserta penjelasannya.

Dae Hyun            : Biar kutemani.

Min Ah : Tidurlah. Aku hanya perlu membuat pernyataan lainnya.

Dae Hyun : Berapa lagi yang kau butuhkan?

Min Ah : Astaga Dae Hyun–ah, kau berbeda jurusan denganku!

Dae Hyun : Anggap saja sebagai pelajaran. Jadi, aku hanya perlu mencari sebuah pernyataan yang berhubungan dengan permasalahan antarnegara dengan penjelasaannya?

Min Ah : Dae Hyun–ah, tidak perlu.

Dae Hyun : Kau terlambat, aku menemukannya. Sejujurnya aku merasa sedikit ragu, tapi coba saja kau cek. Mungkin pernyataanku tepat dengan materimu.

Min Ah : Astaga—Jung Dae Hyun, tidurlah. Aku tak mau merepotkanamu. Dan untuk bantuanmu, aku sangat berterimakasih.

Dae Hyun : Bukan masalah, Min Ah–ya. Dan satu lagi, berjanjilah untuk tidak tidur terlalu malam. Jangan mempercepat kematianmu, Min Ah–ya. Selamat malam.

Min Ah : Aku tahu. Selamat malam juga untukmu.

***

Dae Hyun : Bagaimana dengan tugas semalam?

Min Ah : Kuselesaikan dengan sangat sempurna. Dae Hyun–ah, aku benar-benar berterimakasih.

Dae Hyun : Kau berlebihan. Omong-omong, jam berapa kau tertidur?

Min Ah : Berhubungan dengan tugasku yang selesai tepat pukul tiga dini hari, jadi—kiranya—aku tertidur jam tiga pagi. Sebuah pengalaman baru.

Dae Hyun : Astaga Kwon Min Ah, kau bilang kau hanya perlu membuat satu pernyataan lagi. Kenapa bisa semalam itu?

Min Ah : Sejujurnya aku membutuhkan dua pernyataan, bukan satu. Tapi tidak apa, kau benar-benar membantuku.

Dae Hyun : Seharusnya aku menemanimu sampai selesai semalam.

Min Ah : Kau hanya akan menyakiti dirimu.

Dae Hyun : Tidak. Berusahalah mengerti niat baik seseorang, Min Ah–ya.

Min Ah : Aku mengerti. Sungguh. Kau hanya tidak perlu melakukannya lagi. Berusahalan untuk tidak membuat oranglain khawatir Dae Hyun–ah.

Berusahalah untuk mengerti kekhawatiranku.

Berusahalah untuk menyadari isi hatiku.

***

 

Ibu jariku bergerak di atas layar ponsel, menggesernya ke atas lalu turun ke bawah. Saat ini otakku tak bekerja, bahkan jika aku harus mengikuti kata hatiku, aku tak bisa.

Selain membaca dialog terakhir, aku menghela napas. Kemudian ibu jariku perlahan bergerak untuk menekan tombol hapus, dan detik berikutnya bukti akan kenangan itu hilang. Menyisahkan memori yang—entah sampak kapan akan bertahan—tersimpan di pikiranku.

Gadis-gadis itu—Yoon Bo Mi, Lee Ji Eun, dan Park Sun Young—masih belum mengetahui keputusanku. Terbesit sejenak dalam benakku untuk memberitahu mereka secara langsung. Namun jauh dalam hatiku, aku tak ingin mengungkit-ungkit kejadian itu lagi.

Aku hanya ingin melupakannya.

Jauh sebelum ia meninggalkanku, aku ingin meninggalkannya.

Kemudian jemariku membuka pesan lainnya. Kali ini pesan—multichat—yang terdiri dari banyak orang. Ku gerakkan jemariku untuk sekedar membaca obrolan terakhir kami, sampai akhirnya jemariku berhenti pada pilihan mengirim gambar.

Mataku menatap ponsel saksama, berusaha mencari sebuah kalimat mutiara di galeriku yang mendeskripsikan perasaanku saat ini. Dan saat aku menemukan salah satu yang sesuai, aku mengirimnya.

Kamu tidak bisa kehilangan apa yang tidak pernah kamu dapatkan, kamu tidak bisa memiliki sesuatu yang bukan milikmu, dan kamu tidak akan pernah bisa bergantung pada sesuatu yang tidak ingin berada di sisimu.’

Kemudian setelah kalimat mutiara itu kukirim, aku kembali menarikan jariku di atas layar ponsel.

Aku memilih untuk mengakhiri perasaanku untuk Dae Hyun.

Kalimat itu kuketik dengan lancar dan tanpa berpikir, seperti sebuah dorongan untuk memulai sesuatu yang benar-benar baru tanpa rasa gantung yang menyakitiku.

Dan ketika aku tahu seseorang membaca pesanku, aku tersenyum sejenak.

Yoon Bo Mi menanggapi pesanku; Cinta yang sesungguhnya menuntunmu pada kebahagiaan. Semangat Kwon Min Ah!

Dan jawaban Bo Mi membuatku kembali berpikir sejenak. Sebelum akhirnya tersenyum—senyum tulusku.

Bo Mi benar, Cinta bagai arahan menuju sebuah kebahagiaan.

*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s