03 Path

Path.

Genre  : Romance—Friendship—Comfort.

Rating : General.

Cast : Lee Ji Eun—Yoon Bo Mi—Kwon Min Ah—Park Sun Young—Park Chan Yeol—other cast as showing.

Baca cerita asli di sini; http://www.wattpad.com/story/26673030-path dengan tokoh fictional.

03

Apa yang sedang kau lakukan? Balas pesanku jika tidak sedang sibuk.

Pesan itu kukirim dua jam yanglalu. Dan sampai saat ini, laki-laki itu belum membalasnya. Tak ada yang tahu perihal kesehariannya, tidak juga denganku yang menyandang status sebagai kekasihnya.

“Kau terlihat frustasi.”

Sebuah suara yang kukenal melantun tepat dari arah kanan. Di sana, kutemukan Sun Young yang tengah berjalan menuju tempatku dengan pipa kesayangannya.

“Tidak juga.” Kataku menanggapi. “Hanya sedang menunggu pesan masuk.”

Sun Young menjatuhkan bokongnya tepat di sebelahku. “Aku tak tahu kalau menunggu pesan bisa membuatmu berantakan.”

Aku mengangkat alis, kemudian menatap Sun Young. “Apa aku terlihat aneh?” kataku seraya menatap bayanganku dari layar ponsel.

Sun Young tertawa kecil. “Yoon Bo Mi, kau benar-benar aneh sekarang.”

Kalimat Sun Young membuatku menggerutu. Gadis di sebelahku benar-benar tahu benar cara membuat seseorang merasa kesal. Sikapnya yang menyebalkan dapat menimbulkan efek samping pada orang-orang di sekelilingnya. Anggap saja orang itu aku, maka efek yang terjadi padaku—tidak lain dan tidak bukan—adalah panik.

Yang lain—Kwon Min Ah dan Lee Ji Eun—juga berpikiran yang sama seperti Sun Young. Hanya saja mereka terkadang mengabaikan kepanikanku, sementara Sun Young semakin mempermainkanku dengan rasa panik yang tiba-tiba muncul.

“Aku hanya bercanda.” Kata Sun Young mengakhiri kepanikanku.

Kali ini aku menatapnya dalam diam. Sun Young menyadari tatapanku, tapi gadis itu memilih untuk diam. Dia sudah terbiasa dipandangi seperti ini, terutama oleh laki-laki.

“Park Chan Yeol bisa membunuhku kalau kau terus memandangiku seperti itu.”

Lagi-lagi ia mengeluarkan kalimat-kalimat menyebalkan.

“Jangan sebut nama itu sekarang.” Pintaku tegas. “Aku sedang tidak ingin memikirkannya.”

Sepertinya kalimatku mengejutkan Sun Young. Detik berikutnya aku menemukan sepasang mata Sun Young yang menatapku intens, seakan-akan berusaha membaca arti perkataanku dari tatapanku.

“Berhenti menatapku.” Kataku. “Kau bisa jatuh pada pesonaku Sun Young–ah.”

Dan dengan kalimat itu, aku mendapat pukulan tepat dikeningku.

***

Sore itu hujan menemani.

Cuaca seperti ini memang tepat digunakan untuk bersembunyi di balik selimut. Terlebih jika tidak ada tugas yang menghantui pikiranmu. Benar-benar waktu yang sangat diidam-idamkan.

Namun yang kulakukan kini berbeda; duduk di tepi kasur berusaha menikmati hujan. Kemudian, aku membuka kunci ponselku, sekedar menatap layar yang sedaritadi tak menunjukkan sesuatu yang kutunggu; pesan masuk.

Rasanya seakan kehilangan, meskipun tidak.

Laki-laki itu—Park Chan Yeol namanya—tak kunjung memberi kabar. Entah apa yang dilakukan laki-laki itu sampai tak satupun pesan yang kukirim terbalas olehnya. Apa menjadi seorang trainer sebuah agensi terkenal membuatnya lupa statusnya?

Menjengkelkan.

Sempat terbesit dalam benakku untuk mengunjunginya, tapi kemudian kuurungkan. Aku tak mau membuatnya kesulitan dengan menyebarkan hubungan kami—sementara ia bahkan belum sempat meraih debutnya.

Tapi tetap saja. Aku bukan orang lain yang bisa ia tinggalkan begitu saja.

Mungkin ia berhak mengabaikanku jika kami berada pada suatu hubungan yang tak pasti seperti Min Ah dan Dae Hyun. Namun semuanya berbeda. Kami terikat. Terikat oleh suatu hubungan yang akhir-akhir ini membuatku sakit. Hubungan yang terisi oleh kata-kata cinta, sayang, dan rindu—Meski pada kenyataannya kata-kata itu tak lagi sering terucap.

Sudah lebih dari dua tahun Aku menjadi kekasihnya. Semasa itu, aku merasa bagai seseorang yang paling beruntung. Bahkan sampai sekarangpun sama; masih tetap beruntung meski kesibukan Chan Yeol menyakitiku.

Semuanya berawal saat kami berada pada sekolah yang sama. Tepatnya saat kami duduk pada bangku sekolah menengah atas. Ia mengenalku dari temanku—begitupun diriku. Sebelum memutuskan untuk menjadi kekasihnya, banyak hal yang harus kupikirkan. Termasuk pula konsekuensi yang—awalnya tak kuyakini—dapat membuatku menyesal.

Dan sekarang semuanya terasa nyata.

Semuanya.

Dari rasa sakitnya sampai hal-hal yang—paling—kutakuti.

“Sepertinya masih belum dibalas.”

Suara Min Ah menggema di kamarku. Yah, gadis itu memutuskan untuk menghabiskan malam di apartemenku, bersama kedua gadis yanglain tentunya.

Aku tersenyum lebar, berusaha sekuat tenaga menunjukkan kebahagiaanku yang menyakitkan. “Chan Yeol memang sibuk, aku memahaminya.”

Min Ah duduk di sebelahku, menatap ponselku yang berada dalam genggamanku. Untuk sementara aku terpaku melihat tatapannya, tapi detik selanjutnya wajah gadis di sebelahku benar-benar memancing emosiku. Min Ah mengejekku!

“Apa yang kau lakukan—Gila.” Komentarku cepat.

Yang dikomentari tak langsung bereaksi. Gadis itu tersenyum lebar ketika melihatku yang bertindak panik. Seakan-akan ketahuan berbohong darinya. Tapi peduli apa dia, hubungannya saja berakhir menyedihkan dengan laki-laki pujaannya itu.

“Jangan membandingkan hubunganmu dengan hubunganku.” Katanya santai.

Apa ia baru saja membaca pikiranku?

“Sebaiknya kau siapkan makanan, aku lapar.” Aku menatapnya, di pikir aku ini pembantu? “Dan yah, jika kau tak ingin melihat Ji Eun dengan kebingungannya dalam memilih makanan, sebaiknya kau siapkan secepatnya—sebelum gadis itu keluar dari kamar mandi.”

Sejujurnya aku malas. Lebih tepatnya aku tak ingin melakukan untuk mereka, terlebih memasak. Kami baru saja sampai dan Min Ah sudah memintaku untuk memasak? Cih. Kenapa tidak dia saja yang memasak?

“Oh Ayolah, aku juga akan membantumu, Bo Mi–ah.” Ucapnya lagi. Astaga, dia benar-benar membaca pikiranku.Kau hanya perlu menyiapkan bahan-bahannya terlebih dahulu.”

“Baiklah.” Kataku pada akhirnya, mengalah pada pertengkaran yang tak akan ada habisnya jika dilanjutkan. “Jangan terlalu lama berdiam diri, bantu aku di dapur.”

Min Ah mengangguk, dan dengan itu aku menggerakkan kakinya menuju dapur. Ponselku masih berada di genggamanku, sekedar memastikan bahwa aku tak ketinggalan satu pesan pun dari Chan Yeol.

Aku menggerakkan tubuhku—cepat dan teratur. Meraih beberapa bahan yang mungkin kubutuhkan untuk makan malam kami. Sambil menunggu Min Ah keluar dari kamar, aku tersenyum sejenak. Bayangan punggung lebar Chan Yeol memenuhi pikiranku. Dia yang sedang memasak untukku, dia yang sedang membersihkan peralatan dapur, dan dia yang menggenggam tanganku ketika aku memeluknya dari belakang. Semuanya tergambar jelas dalam memoriku.

Waktu itu—aku tak ingat tepatnya kapan—kami biasa menghabiskan waktu bersama. Jika pasangan lain lebih sering menikmati kebersamaan mereka di tempat-tempat romantis, maka menurutku tempat romantis yang paling-paling-romantis adalah apartemenku. Banyak hal yang kami lakukan disini; memasak, makan, mini-biskop, hingga duet bersama. Semuanya seperti film yang direkam dalam apartemen ini. Dan semua itu membuatku merasa nyaman. Sangat nyaman.

Banyak yang berpikir bahwa aku menikmati ciuman pertamaku di sini, tak terkecuali gadis-gadis itu—Lee Ji Eun, Kwon Min Ah, dan Park Sun Young—yang berpikiran sama. Namun harus kukatakan, semua itu tidak benar. Entah apa yang membuat mereka berpikir bahwa bibirku berhasil dijamahi. Kenyataannya, sampai saat ini, rasa bibirku masih sama; biasa-biasa saja, bagai permen karet yang tak lagi manis.

Chan Yeol tidak pernah mencium bibirku. Sejauh ini, hal terekstrim yang dilakukannya—yang berhasil membuat jantungku hampir meledak—adalah mencium keningku. Dan selebihnya, tidakan-tindakan nekat itu tertelan kesibukannya.

Saat itu hujan tengah mengguyur deras daerah tempat tinggalku, sementara Chan Yeol harus pulang. Sifatnya yang keras kepala terus bersikukuh untuk melawan hujan, meski aku terus menahannya untuk tinggal dan menunggu hujan berhenti. Tapi ia tak mendengarkanku. Ia tersenyum cerah padaku, kemudian mendaratkan sebuah kecupan tepat dikeningku; membuatku membeku seketika. Ia menatapku lembut—lebih lembut dari bulu-bulu yang menempel pada jaket tebalku—kemudian berkata, “Aku tidak akan sakit. Jangan khawatir.”

Dan bagai sihir, aku mengangguk. Membiarkannya pergi menembus derasnya hujan. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat bajunya yang mulai basah. Tapi aku tak bisa melakukan apapun. Seorang Park Chan Yeol sudah lebih dahulu membekukanku.

“Apa yang kau pikirkan?”

Suara Min Ah membawaku pada kenyataan. Kulihat gadis itu berdiri di sebelahku, menatap beberapa bahan yang sudah kusiapkan.

“Hanya ini?” tanyanya. “Apa kau yakin ini semua cukup untuk kita?”

Kalau boleh jujur, aku tidak yakin. “Persediaanku menipis. Dan lagipula tak ada rencana sebelumnya untuk kegiatan menginap ini, bukan?” tanyaku berusaha mengalihkan kesalahan.

“Kalau seperti ini, sepertinya salah satu dari kita harus menahan rasa laparnya malam ini.”

Aku menatap Min Ah tajam. Tahu maksud dan tujuan dari ucapan gadis itu. Sementara yang ditatap hanya terkekeh pelan di tempatnya, benar-benar senang meledekku.

“Omong-omong, apa yang kau pikirkan sebelumnya?” tanya Min Ah, mengganti topik secara seketika. “Beritahu aku jika itu sesuatu yang menarik.” Katanya sebelum mulutku sempat bersuara. “Tapi jangan beritahu aku jika itu sesuatu yang berkaitan dengan hubunganmu dan Chan Yeol.”

Aha! Gadis itu tak mau merasa iri. Atau tepatnya tidak ingin mendengarkan sesuatu yang kualami secara nyata—dalam ikatan hubungan—sementara dirinya mengalami hal itu dalam ikatan ketidakpastian.

“Aku membayangkan kecupan pertama Chan Yeol di keningku.” Kataku memulai cerita. “Kau tahu, rasanya seperti dunia berhenti dan jantungku tak lagi bekerja sesuai perintah.”

Aku memberi jeda sejenak, menunggu reaksi Min Ah. Dan ketika gadis itu menoleh, aku melihat wajahnya yang tak menampilkan senyum bersahabat. Ia mulai kesal.

Min Ah menghela japasnya, kemudian memaksakan senyu m lebar di wajahnya. “Lalu? Katanya meminta lanjutak ceritaku,

“Lalu aku merasakan panas di pipiku—Tidak bahkan di keningku juga sama. Rasanya sama. Seakan-akan tubuhku terbakar dan mulai matang hanya karena tindakannya. Kupikir aku akan meleleh saat itu juga, tapi kenyataannya—”

“Kau diam membeku tak tahu harus bereaksi seperti apa.”

Aku tertawa kecil. Diantara ketiga temanku, hanya Min Ah yang mengimpii-impikan laki-laki dengan segudang keromantisannya. Menurutnya hal itu manis, bahkan lebih manis dari secangkir teh yang diberikan takaran gula dua kali lipat dari takaran normal.

“Ji Eun pasti langsung mencibirmu.” Aku memajukan bibirku; Ji Eun dan segala keantiannya akan lelaki pengumbar tindakan manis. “Yoon Bo Mi dan Park Chan Yeol dengan kecupan di kening yang membuat dunia berhenti dan jantung tak terkendali. Cih.”

“Gadis itu memang berbeda.” Kataku. Bahkan jika boleh kuralat, maka dengan senang hati akan kukatakan; Ji Eun sangat-sangat berbeda.

Aku menatap Min Ah, begitupun Min Ah. Kali ini mata kami terpaku pada bahan-bahan makanan yang sempat terlupakan. Min Ah menggerakkan alisnya, memberiku tanda perihal makan malam mereka. Lalu aku membalasnya; menggerakkan bahu tanda tak tahu.

“Pesan dari luar saja, bagaimana?”

Aku mempertimbangkan perkataannya. “Aku setuju.” Kataku padanya. “Tapi tolong jangan biarkan Ji Eun memilih menu.”

Dan dengan itu kami tertawa.

***

“Orang bilang cinta adalah sesuatu yang permanen.”

“Omong kosong macam apa itu—”

Aku menggeleng. “Perasaan seseorang bahkan bisa berubah dengan sangat cepat. Jauh lebih cepat dari pesawat yang berangkat dari Korea ke Amerika.”

“Bagaimana dengan perasaanmu, Bo Mi–ah?”

Keningku berkerut untuk beberapa saat. Pertanyaan itu membuat diriku mulai bertanya-tanya, membuatku diam di tempat.

Bagaimana perasaanku? Entahlah.

Apa rasa cintaku masih sama? Entahlah.

Rasanya seakan—

“Kehilangan.” Sun Young menyela pikiranku. Melanjutkanya seperti sebuah kalimat yang berusaha kulengkapi. “Aku tahu rasanya sulit menjalani hubungan yang terhalang jarak.”

Terhalang jarak apanya. Aku dan Chan Yeol hanya tidak memiliki kesempatan untuk—sering-sering—menghabiskan waktu bersama.

“Aku percaya rasa itu masih sama.” Kataku memperbaiki. “Hanya saja kondisinya kali ini berbeda.”

Jika seseorang melihatku mengatakan hal seperti ini, mereka pasti berpikir bahwa aku orang yang sama seperti Min Ah; yang sering memberitahu siapapun mengenai isi hatiku.

Tapi aku tidak. Maksudku aku jarang membagi sesuatu—secara mendetail—kepada yanglainnya.

“Apa kau masih mau mempertahankan hubungan kalian?”

Pertanyaan itu keluar dari mulut Sun Young. Seseorang yang jarang sekali jatuh cinta. Awalnya kukira ia homoseksual, tapi ketika kami menghabiskan waktu membahas tentang laki-laki, aku percaya dia pernah memiliki seseorang yang menghiasi hatinya.

Kembali pada pertanyaan. Kini aku mematung bingung—dan sedikit terkejut tentunya—dengan pertanyaan Sun Young tersebut. Kulihat kini semua mata menatapku, meminta jawaban.

Aku menghela napas dan berkata, “Apa ada alasan untuk mengakhiri hubungan ini?” Kataku mengeluarkan kalimat yang sejaktadi mengelilingi otakku.

“Ada.” Kali ini Ji Eun menyahut. “Sesuatu yang tak pernah—atau mungkin jarang—berada di sisimu, mudah tergantikan.”

“Tapi tidak ada laki-laki lain yang bisa kujadikan alasan—”

“Ini bukan tentang Chan Yeol.” Ji Eun memotongku, membuatku bertanya-tanya tentang isi pemikiran gadis itu. “Semua ini tentang perasaanmu yang mulai tergantikan dengan kejenuhan menghadapi sesuatu yang tak pasti—sama khasnya dengan Min Ah.”

Mendengar namanya disangkutpautkan, Min Ah menyela. “Apa kau yakin mampu bertahan di tengah hubungan yang tertelan oleh kesibukkan dunia?”

Entah kenapa perkataan mereka membuatku harus berpikir keras. Kata-kata yang mereka gunakan terlalu tepat pada sasaranm. Hal ini membuatku merasa semakin tertekan.

“Kau tahu, kau bisa mengakhirinya jika kau mau.”

***

Keesokkan harinya aku tersadar dengan berjuta-juta pikiran yang menghantui. Aku tak ingat kapan terakhir kali merasa seperti ini; terasa berat dan terbebani.

Apa hubungan ini benar-benar harus berakhir?

Sungguh. Saat ini rasanya dunia sedang melakukan roll—entah roll depan atau roll belakang—yang membuatku terasa terombang-ambing. Pikiranku kalut. Benar-benar tak tahu harus berbuat seperti apa.

Jika aku boleh berkata jujur, maka akan kuakui; kesibukan Chan Yeol benar-benar menjengkelkanku. Bahkan jika aku bisa, aku ingin menyuruhnya berhenti menjadi seorang trainer.

Tapi apa boleh buat. Nasi tak mungkin kembali menjadi bubur.

Dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul, aku memejamkan mataku. Kemudian membayangkan diriku yang merasa bebas. Dan beberapa detik kemudian, tanganku meraih ponsel dan mengirim satu pesan untuk Chan Yeol.

***

“Kami resmi putus.”

Kalimat itu keluar dari mulutku lusa harinya. Sontak saja mengundang tiga pasang mata yang kini berada di sekitarku. Aku tak mengerti. Seharusnya mereka memberiku semangat, bukan menatapku heran seperti itu.

“Yoon Bo Mi,” kudengar namaku disebut Sun Young. “Kau, serius?”

Aku mengangguk mantap. Rasanya melegakan karena telah mengambil sebuah keputusan, yang—seharusnya—bisa kulakukan jauh-jauh hari sebelumnya.

“Dia yang memintaku untuk mengakhirinya. Tepat beberapa hari setelah kuputuskan untuk mengakhiri—”

“Park Chan Yeol memutuskanmu?” Min Ah memotong perkataanku. Nada suaranya meninggi dengan—sepertinya—emosi yang memuncak. “Pada akhirnya laki-laki itu yang mengakhiri hubungan kalian?” tanyanya lagi.

Aku tak mengerti. Apa ada yang salah?

Mataku menatap Min Ah heran. Kwon Min Ah dengan tingkahnya yang selalu mengejutkanku. Lalu detik berikutnya aku menangguk, sukses mengundah desahan berat—yang cukup panjang—keluar dari mulut Min Ah.

“Astaga laki-laki itu,” katanya menggerutu. Aku hanya menatapnya dalam diam. Seperti yang kukatakan sebelumnya; Kwon Min Ah dengan sikapnya. “Apa dia mengakhirinya lewat sebuah pesan?” tanyanya dengan ekspresi geram yang tak bisa kujelaskan.

“Tidak. Dia menghubungiku semalam.” Sungguh, aku benar-benar kehilangan akal karena sikap gadis ini.

“Astaga—Seharunya kau yang memutuskannya!” katanya dengan nada sedikit membentakku. “Laki-laki itu tak memberimu kabar selama beberapa hari—bahkan mungkin berminggu-minggu—dan kemudian menghubungimu untuk mengakhiri hubungan kalian? Wah, Park Chan Yeol benar-benar ahlinya—”

“Memangnya apa yang salah?” tanyaku menghentikan segala kata-kata gila yang mulai keluar dari mulut Min Ah. “Intinya sekarang aku terbebaskan dari hubungan kami.”

“Dan kau bahagia?” Sun Young bersuara, sementara Ji Eun masih diam mengikuti alur pembicaraan ini.

Aku menarik bibirku, kemudian mengangguk mantap. “Tentu saja.”

***

 

“Bo Miah, ada yang ingin ku sampaikan.”

Aku menghela napasku. Suara yang terdengar dari ponselku adalah suara yang beberapa hari ini tak kudengar. “Ya.” kataku singkat.

Park Chan Yeol diam sejenak, terjadi kecanggungan di antara kami.

“Aku ingin mengakhirinya.”

Pernyataan itu terdengar dari suara di ujung sana. Membuatku sedikit terkejut—tak begitu terkejut karena aku pribadi sudah memikirkan hal tersebut.

“Bagaimana menurutmu?”

Laki-laki itu menanyakan pendapatku. “Aku setuju.” Kataku tanpa berpikir panjang.

Di tempatku, aku tersenyum. Memang seharusnya seperti ini; tidak terjadi hubungan apapun di antara kami. Kesibukan membuatku merasa kehilangan seseorang yang sangat berarti untukku.

“Terimakasih, Bo Miah.”

Aku tersenyum lagi, kemudian menyadari bahwa Chan Yeol tak bisa meliatku. “Terimakasih kembali untuk semuanya, Chan Yeolah.”

“Percayalah. Akan ada laki-laki lain yang lebih pantas untuk mencintaimu.”

“Aku tahu.” Kataku singkat dengan sedikit terkekeh.

“Semoga sukses dengan kuliahmu, Bo Miah.”

“Ya.” tanggapku. “Semoga sukses dengan debutmu, Chan Yeolah.

Ibu jariku bergerak mematikan sambungan telpon ketika suara Chan Yeol kembali terdengar menyebut namaku.

“Yoon Bo Mi.” Panggilnya seketika. “Kegagalan hubungan kita akan menuntunmu pada cinta yang lebih sempurna.”

Dan aku tersenyum. Senyum yang benar-benar sumrigah bagai mendapat undian. “Benar.”

“Kegagalan merupakan arahan menuju sesuatu yang sempurna.” Katanya mengulang ucapannya. “Selamat malam, Yoon Bo Mi.”

“Selamat malam juga untukmu.”

Dan dengan itu, percakapan kami berakhir.

*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s