04 Path

Path.

Genre  : Romance—Friendship—Comfort.

Rating : General.

Cast : Lee Ji Eun—Yoon Bo Mi—Kwon Min Ah—Park Sun Young—Kang Min Hyuk—Lee Tae Min—other cast as showing.

Baca cerita asli di sini; http://www.wattpad.com/story/26673030-path dengan tokoh fictional.

04

“Park Sun Young!”

Ketika namaku disebut aku menoleh, hal normal yang dilakukan kebanyakan orang—kecuali jika orang itu memiliki pendengaran yang kurang. Di sana, tepat beberapa meter dari tempatku berdiri, kutemukan Bo Mi yang tengah berjalan cepat menyusulku.

“Ada apa?” tanyaku ketika ia berhasil mencapai tempatku.

Napasnya tak teratur, sementara mukanya persis seperti seseorang yang hampir putus asa dalam perlombaan lari maraton. “Ji Eun mencarimu, ia bilang ia butuh bantuanmu.”

Aku menatap Bo Mi penuh tanda tanya. “Dimana Ji Eun?”

“Terakhir kulihat ia di perpustakaan. Coba saja cek dikelasnya—”

Dan aku melangkah pergi, meninggalkan Bo Mi yang kini meneriakan namaku tanpa memandang lingkungannya. Tapi aku acuh, berusaha untuk meneriakan sesuatu di tengah keramaian lorong kampus. “Kau cari Min Ah dan ajak dia ke perpustakaan!”

Aku tak menemukan jawaban setelahnya, suara Bo Mi sudah lagi tak terdengar, sesudahnya kakiku melangkah membawaku ke suatu tempat yang kuyakini perpustakaan.

Mataku menyapu keseluruhan ruangan, kemudian terpaku pada sosok gadis yang tengah membaca bukunya—atau mungkin tepatnya membolak-balik bukunya. Mukanya terlihat bosan, sementara tangannya sesekali menggaruk kepala yang kuyakini tidak gatal.

“Ji Eun–ah.” Sapaku tepat setelah sampai di tempatnya. Ia menatapku lama, tapi tak membalas sapaanku. Kemudian matanya kembali terpaku pada buku yang berada di hadapannya, menatapnya dengan tatapan tidak suka-enggan-dan-frustasi.

Aku mengikuti arah pandangannya, lalu tersenyum ketika menemukan sebuah sketsa manusia yang belum sempurna. “Kau perlu bantuan?” tanyaku.

“Ralat,” katanya mengoreksi. “Aku benar-benar butuh bantuanmu, Sun Young–ah.”

Aku tersenyum, menggambar bukan sesuatu yang sulit untukku. “Biar kubantu.” Kataku seraya mengambil alih bukunya, kemudian meraih sebuah pensil dan mulai membuat garis-demi-garis di sana.

Ji Eun membiarkanku, gadis itu hanya bicara jika aku membutuhkan informasi perihal sketsa yang ia butuhkan. Dan selebihnya kami diam. Selain karena tempat kami—perpustakaan—yang tak memungkinkan untuk membuat kebisingan, kami juga tak memiliki topik percakapan yang cukup menarik untuk dibahas.

Kecuali jika tiba-tiba Ji Eun memilih untuk membahas laki-laki.

“Kudengar Kang Min Hyuk sekarang di Amerika.” Katanya menyebut nama laki-laki yang—baru-baru ini—kuhapus dari hidupku.

Aku tersenyum kecil, sejujurnya mengingat nama laki-laki itu membuatku sedikit merasa tidak nyaman. “Dia pergi seakan-akan menghindari dariku.”

“Apa kalian masih sering berkomunikasi?”

Aku menatap Ji Eun, berusaha menyusun kata-kata yang sesuai. “Tidak juga. Tapi beberapa hari yanglalu ia menjadi orang pertama yang memberiku selamat di hari ulangtahunku.”

“Benarkah?” tanya Ji Eun, wajahnya terlihat lebih bersemangat dan berantusias. “Apa yang dia katakan?”

Aku menghembuskan napas. Sepertinya tugas Ji Eun tak akan selesai dalam waktu yang—sebelumnya—kuperkirakan.

***

 

Malam itu—tepat di hari ulangtahunku—untuk beberapa alasan, aku menjadi seseorang yang supersibuk berkutat dengan ponselku. Berbagai pesan datang bergantian, membuatku tersenyum dan langsung menarikan jariku di layar ponsel; menyusun beberapa kata untuk membalas pesan mereka.

Dan ketika jemariku membuka twitter—salah satu media sosial yang popular dikalangan remaja—mataku menangkap beberapa kalimat yang ditunjukan untukku. Aku mengenal pengirimnya. Yah, setidaknya aku cukup mengenal Kang Min Hyuk, meski kami hanya saling berinteraksi melalui dunia maya.

Di pesan itu bertuliskan; Selamat ulang tahun Sun Young–ah! Semoga sukses dengan kuliahmu dan semoga juga semua keinginanmu tercapai. Segala yang terbaik untukmu!

Aku membacanya berulang-ulang, seperti tak percaya dengan apa yang kulihat. Kemudian membalasnya dengan singkat; Amiin, terimakasih harapan dan ucapannya, Min Hyuk–ah.

Begitulah percakapan kami berakhir. Ia tak membalas dan akupun tidak berusaha memulai percakapan. Ego dan gengsi menguasai kami berdua.

Sampai akhirnya jemariku—entah disengaja atau tidak—membuka profil Min Hyuk. Mataku terpana pada satu post berbunyi; Semoga kau bahagia dengannya.

Sungguh. Kalimat itu terdengar sedikit lancang di telingaku. Dan cara laki-laki itu menulisnya, seakan-akan ia masih tidak menerima keputusanku untuk mengakhiri hubungan kami. Apa cinta benar-benar membuatmu kehilangan akal sehat?

Menjengkelkan.

Laki-laki itu bahkan tak tahu apa yang kulakukan—atau korbankan—untuk menjadi kekasihnya. Ia benar-benar tak tahu bahwa perkenalan kami membuatku kehilangan seseorang yang—seharusnya kini—berada di sisiku.

Ia tak tahu bahwa aku mengorbankan cinta seseorang untuknya.

***

 

“Jadi, kau memilih setia pada Min Hyuk?”

Suara Ji Eun menggema di telingaku, disusul dengan anggukan singkat dari kepalaku.

“Dan kau,” gadis itu menggantung perkataannya. “Menolak cinta Tae Min–ssi?

Tae Min–ssi. Ya, benar. Namanya Lee Tae Min. Laki-laki pertama yang kusakiti—tidak terlalu parah, tapi luka itu mampu membuatnya menjauhkan diri dariku.

Dan untuk yang kedua kalinya, aku merespon pertanyaan Ji Eun dengan anggukan singkat.

“Astaga Sun Young–ah, kenapa kau tidak pernah cerita?” Ji Eun bertanya lagi, kali ini nada suaranya terkesan memendam amarah. “Lalu apa yang terjadi pada Tae Min ketika kau menolaknya?”

“Aku tidak benar-benar menolaknya, Ji Eun–ah.” Kataku membenahi pertanyaan gadis itu. “Yang kukatakan saat itu sama seperti yang dikatakan Dae Hyun pada Min Ah: aku menyukainya sebagai teman. Aku tidak menolaknya.”

“Tapi tadi kau mengangguk—”

“Bukan berarti aku menolak pernyataan cintanya.” Potongku, tak mau berlama-lama membahas topik percintaan. “Aku menolak cintanya sebelum ia menyatakan perasaannya.

“Tapi bagaimana kau bisa tahu?”

Aku menaikkan alis mataku, kali ini bingung dengan pertanyaan Ji Eun. “Tahu apa?”

Ji Eun menatapku was-was, takut-takut aku memotong perkataannya. “Tahu kalau ia mencintaimu.”

Pernyataan itu membuatku sedikit tersentak. Ingatanku kembali pada memori-memori yang terjadi beberapa tahun yanglalu, tepatnya beberapa bulan sebelum kelulusan sekolah menengah atas.

Aku menghela napas panjang, menatap Ji Eun yakin. “Akan kuceritakan nanti, sebaiknya kuselesaikan tugasmu lebih dulu.”

***

Ingatanku beralih pada masa-masa remaja yang—sampai saat ini—menghantuiku. Bagai hutang yang tak sempat terlunasi, kenangan-demi-kenangan menyelimutiku. Terkadang membuatku tersenyum sendiri, dan terkadang menjadi penyesalan tersendiri.

Memang benar kata petua: Kenangan tak akan pernah terhapus, meski kepalamu terbentur benda keras, kenangan itu akan tetap ada. Hidup dan menemanimu. Percayalah, kenangan dapat membuatmu merasa hidup.

Ada beberapa kenangan yang tak bisa dilupakan, dan ada beberapa yang mudah dilupakan. Dan entah untuk yang keberapa kalinya, kenangan mengenai laki-laki itu terus menemaniku.

Kami pertama bertemu di bus, saling bertukar sapa hingga akhirnya menjadi teman pulang. Kemudian hubungan itu semakin erat. Berawal dari percakapan-percakapan sederhana sampai percakapan yang menyangkut perasaan kami. Sebelumnya terasa nyaman, hingga akhirnya aku menyadari perasaan laki-laki itu. Perasaan suka dan rasa ingin memiliki.

Suatu hari—tepatnya sehari setelah ujian berakir—Ia, Lee Tae Min, memberikanku sebuah cokelat melalui salah satu temannya. Awalnya aku tak bisa menebak siapa pengirimnya, tapi setelah kutanya, mereka—teman-teman Tae Min—menyebut nama Tae Min.

Mendengar nama laki-laki itu disebut membuatku harus menahan napas. Jujur saja, aku benar-benar tak mengira keberanian laki-laki itu. Dan satu hal yang membuatku gusar: saat itu aku tengah menjalin hubungan dengan Kang Min Hyuk.

Kemudian pikiranku terbagi. Semua ini—perasaan Tae Min dan hubunganku dengan Min Hyuk—membuatku kehilangan akal dan lupa cara untuk berpikir jernih.

Aku bimbang, tapi tak mau mengakuinya.

Aku meragui perasaanku, tapi enggan untuk mengakuinya.

Semuanya benar-benar dikendaliku. Hingga aku sadar bahwa aku percaya dengan perasaanku pada Min Hyuk, lalu meluruskan perasaanku pada Tae Min. Jemariku menari di layar ponsel, menyusun satu persatu kata hingga membuat kalimat menyedihkan.

‘Aku menyukaimu sebagai temanku, kuharap kita bisa tetap seperti ini.’

Dan aku adalah orang terbodoh yang mengira bahwa semuanya akan tetap sama.

Tentu saja semuanya berubah. Sikapnya, perkataannya, perubahan wajahnya, sampai keberadaannya di sisiku—menemaniku pulang, berbicara bersama, chatting sampai tengah malam—semuanya berubah. Tak ada lagi Lee Tae Min yang mengisi waktu kosongku—yang mengisi kekosongan dihidupku.

Bahkan setelah hari kelulusan, aku tak ingat bahwa kami sempat berinteraksi. Ia terlalu sibuk dengan dunianya, laksana induk ikan yang tak peduli dengan anak-anaknya. Di sisi lain, aku mendapati diriku mencuri pandang, menggamatinya dan mengulang semua memori kami dengan wajah Tae Min sebagai latar.

Hubunganku dengan Kang Min Hyuk terus berlanjut. Min Hyuk tak pernah tahu mengenai Tae Min, ia tak pernah tahu dan tak perlu tahu.

Aku melanjutkan hubunganku, seakan-akan masalalu hanya angin. Yang tak bisa kulihat, namun terus kurasakan.

***

“Hei Park Sun Young, kalau menolak Tae Min benar-benar membuatmu menyesal, kenapa kau tidak berusaha memperbaiki hubungan kalian?”

“Ia menjauh.”

Klasik.” Komentar Bo Mi, kembali berpikir realistis. “Salah paham. Itulah yang terjadi pada kalian berdua.”

Aku mendengus. Perkiraan Bo Mi kali ini salah. Gadis itu seakan tak mau menyalahkanku atas semua yang terjadi, Bo Mi seakan mencoba membuatku tidak-terlalu-merasa-bersalah.

“Tidak ada salah paham, Bo Mi–ah.” Ralatku. “Semuanya murni kesalahanku—maksudku, wajar saja jika Tae Min menghindariku.” Aku menghela napas sejenak, penyesalan selalu datang tiap kali aku mengingat laki-laki itu. “Ia tidak ingin terluka dengan berada di sisiku.”

“Ya, kau benar.” Bo Mi berujar, tepat setelah kalimatku selesai. “Tapi caranya salah—Oh tidak, cara kalian berdua salah. Itulah yang kusebut sebagai salahpaham.”

Aku menanutkan kedua alisku, merasa bingung dengan arah pembicaraan Bo Mi. Tidak hanya aku, tapi kedua gadis lainnya yang sedaritadi diam memperhatikan.

“Kau bersama Min Hyuk ketika kau tahu bahwa Tae Min menyukaimu, kemudian kau ragu—ragu akan perasaanmu yang mulai beralih. Tapi kau memilih Min Hyuk, meninggalkan Tae Min dengan kata teman. Dan semuanya berubah. Tae Min tak lagi bersamamu, sementara Min Hyuk disisimu tanpa mengetahui apapun.”

Bo Mi menghela napasnya, sementara matanya menatapku tajam. “Sun Young–ah, kau salah dalam merangkai kata-kata. Memilih kata teman dibandingkan mengungkapkan kebenaran adalah kesalahanmu. Dan Tae Min, laki-laki itu salahpaham atas kata-katamu—”

“Tunggu,” Ji Eun menyela. Jika perkiraanku tidak salah, maka kali ini gadis itu tengah kebingungan. “Kupikir kata teman adalah jalan terbaik untuk mengakhiri suatu hubungan.”

“Tepat sekali.” Bo Mi menjentikan jemarinya, kemudian perhatiannya kembali terpaku padaku. “Tae Min berpikir kau ingin mengakhiri hubungan kalian—atau mungkin kau tengah berusaha menolak kehadirannya tepat sebelum ia menyatakan perasaannya.”

Sungguh. Jika seseorang membutuhkan kamus, maka akan kuberikan mereka Bo Mi, secara gratis.

Karena saat ini kata-kata gadis itu terdengar membingungkan. Seperti kamus-kamus satu bahasa—kamus definisi tepatnya.

“Bo Mi–ah, aku masih tidak paham.” Kataku berkomentar. “Saat itu, kubilang aku menyukainya sebagai teman, dan aku ingin semuanya tetap seperti itu. Lalu kenapa ia harus berpikir bahwa aku menolak kehadirannya?”

“Karena ia merasa dipermainkan.” Kali ini Min Ah menyela. “Aku mengatakannya karena aku merasakannya, Sun Young–ah.

Aku menatap Ji Eun, meminta keterangan dari pengakuan Min Ah yang tiba-tiba. Tapi nihil, kami berdua terlihat seperti orang bodoh yang tak mengerti apapun.

“Ia—Tae Min—sadar kalau kau mengetahui perasaannya, dan ia merasa dipermainkan ketika kau memintanya untuk menjadi temanmu. Kau tahu, itu bagian yang paling menyakitkan.”

Oh ya, Min Ah benar. “Lalu?”

Min Ah menatapku, matanya mulai berkaca-kaca; faktor perasaan yang kembali timbul di dalam dirinya. “Lalu ia menjauh, tidak ingin disakiti lebih jauh. Dan—”

“Dan kesalahan kalian berdua karena tidak berusaha memperbaiki kondisi.” Bo Mi menimpali, mereka berdua seperti berbagi tekanan padaku.

Dan kini semuanya mulai jelas. Semuanya.

Sejujurnya, aku tak pernah tahu kalau kemungkinan seperti ini ada. Dan jika memang ada, aku tak pernah tahu kalau kemungkinan itu terjadi padaku. Lagipula, siapa yang akan memperhatikan efek samping dari pemilihan kata?

Seakan tersadar dari mimpi, aku mengerjap dan menyadari satu hal; bahwa Bo Mi tidak bermaksud menyalahkan kami—Aku dan Tae Min. Gadis itu berusaha memperjelas semuanya berdasarkan sudut pandang lainnya.

Masalah tak hanya datang dari satu sudut pandang.

Jika kau menghadapinya dengan satu sudut pandang, maka kau tak akan pernah tahu apa yang terjadi di sudut pandang lainnya. Dan jika kau menatap keduanya, kau mungkin dapat menyelesaikan kedua sudut pandang itu secara bersamaan, dan dengan satu penyelesaian.

“Apa yang akan kau lakukan?” Ji Eun bersuara, menyadarkanku dari rentetan kalimat yang berusaha kususun dalam benakku.

Aku menatap Ji Eun lama, kemudian menatap Min Ah dan Bo Mi bergantian. “Apa aku harus menghubunginya?” tanyaku. “Mencoba memperbaiki kesalahpahaman yang terjadi di antara kami, mungkin?”

Bo Mi tertawa kecil, kemudian menimpali. “Jika perasaan itu masih ada, maka seharusnya kau mengganti kata mungkin menjadi harus.”

Oh sungguh, kau harus pintar untuk menghadapi permainan kata seorang Yoon Bo Mi.

“Sun Young–ah, apa kau tahu arti cinta?”

Aku terhenyak. Apa aku tahu?

“Cinta berarti arah.” Jawab seseorang. “Sebuah arah yang membawamu pada dunia kau dan dirinya.”

“Apa ini berarti aku harus memilih?”

Gadis itu tersenyum, memamerkan deretan giginya. “Kami semua memilih arah itu. Aku, Min Ah, dan Bo Mi, kami semua memilih cinta kami.”

Aku menelan ludah sejenak, kemudian menatap Ji Eun mantap. “Apa kehilangan seseorang itu cinta?”

“Ya.” jawabnya mantap. “Kehilangan membuatmu merasakan cinta. Entah itu cinta pada orang yang sama, atau cinta yang tumbuh pada oranglain.”

“Sun Young–ah,” Panggil Min Ah perlahan. “Percayalah, tak ada yang menakutkan dalam memilih sebuah arah—”

“Kau hanya perlu mencoba.” Potong Bo Mi. “Cobalah pilih arah yang—kau yakini—akan membawamu pada cintamu.”

Aku tersenyum. Mereka memang paling mengerti dalam hal nasihat. Dan kali ini, tak ada kerumitan dalam susunan kalimat Bo Mi.

“Kalian benar.” Kataku. Bibirku mengembang, sementara mataku menatap ketiga gadis itu bergantian. “Aku hanya perlu mencoba, kan?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s