Happiness (Chapter 16)

Happiness.

Genre  : Romance.

Rating : NC-21

Cast     : Kim Myung Soo–Jung Eun Ji–other cast as showing.

Well, Udah tiga bulan ya aku nggak update? Duh, maaf maaf maaf.

Sedikit basa-basi aja, chapter 16 ini adalah chapter terakhir dari Happiness–Jujur, I have no idea about this fanfict. Tapi, terimakasih buat kalian yang setia nunggu! I’m very glad i’ve all of you<3

Sebelum kalian baca chapter ini, ada beberapa hal yang mau aku share. Pertama, there is no sequel for this story. Kenapa? karena menurut aku, melanjutkan cerita berarti menghidupkan kembali tokoh-tokoh dan menciptakan konflik baru–Dan aku nggak berminat untuk melakukannya. Semua yang terjadi di masa depan cerita ini, bisa kalian bayangkan sesuai keinginan kalian.

Yang kedua, buat kalian yang nunggu ff lainnya (khususnya lost yang masih belum selesai), aku mau bilang kalau buat sementara ini aku ngambil hiatus. Ada alasan kenapa aku milih hiatus. Jadi, please keep waiting!

Dan happy reading!

Part 16

Ruangan persegi bercat palem tertata rapi dengan bunga-bunga di setiap sudut ruangan. Tepat di pintu masuk, sebuah karpet merah terbentang luas, memanjang dan berhenti tepat sebelum anak tangga menuju altar. Berbagai jenis bunga tersebar di atas karpet merah, menambah kesan cantik dan wewangian.

Di sisi kiri dan kanan terdapat beberapa kursi, tersusun rapi sesuai baris dan deret yang sudah direncanakan. Di sudut kanan ruangan di sediakan sebuah piano, entah untuk hiburan nantinya atau hal lainnya.

Myung Soo mengamati sekitarnya, merasa bangga dan lega sekaligus. Pernikahannya besok dan semuanya sudah siap. Hanya tinggal menghitung jam dan seluruh dunia akan tahu bahwa dirinya merupakan milik Jung Eun Ji, dan Eun Ji merupakan miliknya.

Ia tidak gugup—tidak sedikitpun. Yang tersisa hanya adrenalin, mengalir cepat di darahnya bagai aliran air terjun; cepat dan deras.

Setelah mengetahui keputusan kedua orangtua mereka, Eun Ji kembali tinggal di apartemennya. Keduanya sempat memiliki pendapat yang berbeda mengenai pernikahan. Namun setelah perdebatan panjang, Eun Ji setuju untuk menikah dan menghabiskan sisa hidupnya dengan Myung Soo.

Myung Soo tersenyum di tempatnya, mengingat wajah Eun Ji ketika gadis itu berkata, “Aku siap menjadi milikmu, Tuan Kim.”

Eun Ji bukan tipikal gadis yang mudah menyerah. Myung Soo tahu pasti sifat keras kepala Eun Ji, dan untuk mendengar seorang Jung Eun Ji menyerah dalam perdebatan mereka membuat Myung Soo merasa sedikit bangga. Lagipula Ia tahu pasti bagaimana perasaa gadis itu.

“Mengagumi kerja kerasmu, Tuan Kim?”

Myung Soo memutar kepalanya, menemukan Eun Ji yang berdiri di pintu masuk dengan senyum di wajahnya. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Myung Soo.

Eun Ji menggerakan kakinya, berjalan ke arah Myung Soo. Gadis itu menggunakan dress biru sederhana yang menggantung beberapa centi di atas lututnya. “Aku baru pulang dari studio.” Jawabnya setelah berhasil menghapus beberapa jarak. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Oh ya, Eun Ji tetap memaksa untuk bekerja meski harus menikah besok. Keduanya sempat meributkan hal ini, hingga akhirnya Myung Soo mengalah dan memberikan sedikit kebebasan pada Eun Ji.

“Seharusnya kau menelfonku.” Kata Myung Soo, mengabaikan pertanyaan Eun Ji sebelumnya. “Aku bisa menjemputmu—”

“Dan aku bukan anak kecil yang harus di antar jemput, Kim Myung Soo.”

Myung Soo tersenyum lebar, satu hal lain yang ia suka dari Jung Eun Ji. “Kau bukan anak kecil.” Katanya santai. “Kau istriku, Jung Eun Ji.”

Eun Ji tertawa kecil, memutar bola matanya sejenak sebelum akhirnya berakhir pada sepasang mata Myung Soo. “Sejujurnya aku masih seorang wanita bebas sampai pengucapan janji besok.”

Myung Soo benci mengakuinya, tapi Eun Ji benar. Gadis itu masih belum miliknya secara sah, tapi jauh dalam hatinya, Myung Soo tahu bahwa gadis itu sudah menjadi miliknya sejak pertama kali mereka bertemu di apartemen Myung Soo.

Semuanya terjadi begitu cepat dan diluar kendali. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada keduanya, tak ada yang menjamin kebahagiaan keduanya selain diri mereka sendiri. Tapi keduanya tahu pasti bahwa ketika salah satu terjatuh, maka yanglainnya akan bangkit. Dan jika keduanya terjatuh, mereka memiliki alasan lain untuk bangkit.

Alasan itu, dapat dipastikan buah hati keduanya.

“Bagaimana pekerjaanmu?” Myung Soo mengangkat tangannya, menyelipkan rambut Eun Ji di balik telinganya.

Eun Ji tertawa kecil. “Baik, kurasa. Hanya perlu sedikit aransemen tambahan, dan satu mini album selesai.” Katanya. “Apa yang kau lakukan di sini, Tuan Kim? Kau tahu, seharusnya kau tidak berada di sini sampai esok hari.”

Myung Soo tersenyum, matanya tak lepas dari mata Eun Ji. “Kupikir tidak ada salahnya untuk sekedar memastikan.” Ia mengambil satu langkah mendekat dan berhenti tepat di samping telinga Eun Ji. “Dan kau juga seharusnya tidak di sini, Nyonya Kim.”

***

Eun Ji membeku di tempatnya. Berdiri dengan Myung Soo yang berada tepat—benar-benar dekat—di depannya bukanlah sesuatu yang baru baginya, tapi mengingat pernikahannya esok, wajar saja kalau ia merasa gugup, kan?

“Dan kau juga seharusnya tidak di sini, Nyonya Kim.” Bisik Myung Soo tepat di telinganya. Napas laki-laki itu menyapu lehernya, mengirimkan kehangatan tersendiri di lehernya.

Eun Ji menahan napasnya. Besok adalah hari pernikahannya dan ia tidak boleh merasa seperti ini. Ia tidak ingin ada hal yang membuat dirinya merasa kotor—Tidak dengan napsu keduanya, tidak juga dengan sex.

Ia ingin semuanya sempurna. Ia ingin merasa normal di hari pernikahannya. Melupakan alasan pernikahan dan melupakan masa lalunya yang begitu kelam; gelap dan kotor.

“Aku melihatmu sendirian.” Ucap Eun Ji, membuang napasnya di sela-sela ucapannya. “Aku bermaksud kembali ke apartemen, dan berhenti ketika melihatmu.”

“Kalau begitu temani aku.”

Eun Ji menatap Myung Soo intens, begitupula dengan Myung Soo dan tatapannya. Keduanya bertatapan lama, mengabaikan waktu yang terus berjalan. Sampai akhirnya Eun Ji merasakan sentuhan hangat di pipinya, lalu bahunya dan berhenti tepat di tangannya.

Myung Soo menyelipkan tangannya tepat di tangan Eun Ji, mengikat tangan keduanya erat. Eun Ji menarik bibirnya, memamerkan senyumannya seraya membalas genggaman Myung Soo.Rasanya hangat berada dalam genggaman laki-laki di depannya, seakan tak ada hari esok dan tak ada kesempatan lainnya.

Oh, Ia akan dengan senang hati menggenggam tangan Myung Soo. Jauh dalam hatinya, Ia tahu kalau Ia tidak pernah—dan tidak akan pernah—menyesal dengan keputusannya. Ia tidak tahu dengan Myung Soo, tapi baginya, menjadi milik seorang Kim Myung Soo merupakan salah satu mimpi-yang-tak-pernah-ia-mimpikan yang berhasil menjadi kenyataan. Ia bahkan bertanya-tanya, apa ada kata lain yang bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini?

“Jung Eun Ji,” panggil Myung Soo, mengembalikan Eun Ji dari pikirannya. Keduanya berdiri menghadap altar, tangan saling menggenggam dan bahu yang bersentuhan. “Bagaimana kondisimu?”

“Kondisiku?” Eun Ji menatap Myung Soo, mengangkat kedua alis matanya, kemudian menurunkannya kembali ketika sadar arti dari pertanyaan Myung Soo.

Ia menanyakan bayinya. “Aku baik-baik saja, Myung Soo–ah.” Jawab Eun Ji. “Begitu juga dengannya.”

“Efeknya masih belum terasa?”

Eun Ji menghela napasnya, Ia tahu kemana arah pembicaraan Myung Soo. Sejujurnya Ia tidak membenci hal ini, hanya saja ia ingin merasa tak terbebani—Ia ingin semuanya normal sampai pernikahan keduanya selesai. Eun Ji tahu ia tidak bisa melupakan janin yang berada dalam tubuhnya—lagipula ia tidak bermaksud untuk mengabaikan janinnya—hanya saja ia ingin menjadi wanita yang menikahi Myung Soo karena cintanya, karena cinta mereka.

“Kim Myung Soo,” panggil Eun Ji, menekan tiap kata. “Aku bahkan tidak sadar kalau aku mengandung sampai kejadian di penginapan. Dan kau tahu apa yang dikatakan dokter?” Eun Ji menatap Myung Soo, menunggu reaksi laki-laki itu.

Dan ketika Myung Soo tak kunjung memberikan jawaban, Ia melanjutkan. “Aku mengandung. Dokter memintaku untuk melakukan pemeriksaan lebih intensif karena usia kandunganku yang masih dini—sekitar tiga atau empat minggu—untuk membuktikan kebenarannya. Ia menujukkanku beberapa foto mengenai janin kecil yang bersarang di tubuhku.

“Janin itu masih sangat kecil. Bahkan—mungkin—terlalu kecil untuk bisa kurasakan detak jantungnya. Melihatnya membuatku merasa takut. Tapi kemudian aku tersadar, janin itu kelak akan membesar. Ia membutuhkanku sebagai tempatnya. Kupikir aku harus kuat, menerima segala efek yang nantinya timbul pada diriku.”

Myung Soo membuka mulutnya, berniat mengatakan sesuatu ketika tangan Eun Ji berhasil menghentikan apa-pun-itu yang berusaha keluar dari mulut Myung Soo.

“Intinya, aku masih terlalu dini untuk merasakan semua efek itu. Dan apapun yang akan kurasakan nantinya—” Eun Ji mengangkat kakinya, meraih bibir Myung Soo dan meninggalkan sebuah kecupan di sana. “—Aku sangat kuat untuk menghadapinya.” Lanjutnya.

Eun Ji mengamati wajah Myung Soo, menunggu reaksi laki-laki itu. 30 detik, 1 menit Myung Soo tak bicara, gadis itu mulai merasa khawatir. Apa ia mengatakan hal yang salah?

Namun beberapa detik berikutnya Myung Soo tersenyum, senyum yang sangat dikenali Eun Ji. Kekhawatiran Eun Ji melenyap seketika, tergantikan dengan perasaan hangat yang menyelinap dan mengalir dalam darahnya.

“Aku mencintaimu, Jung Eun Ji.” Adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Myung Soo. Kalimat sederhana yang merubah segalanya. Kalimat sederhana yang tak akan pernah bosan keduanya katakan dan keduanya dengar.

Oh percayalah, Eun Ji bahkan tak pernah memikirkan kata bosan setiap kali bersama Myung Soo.

***

“Kau sudah berdiri di depan cermin kurang lebih satu jam lamanya, Eun Ji–ah.

Eun Ji mengalihkan pandangannya, menatap Ibunya yang berjalan ke arahnya dari pantulan cermin. Ia tidak ingat sudah berapa lama ia berdiri di depan cermin, tapi melihat perubahan penampilan Ibunya, Ia bisa tahu kalau Ia terbawa pikirannya.

“Kau terlihat sangat cantik, Eun Ji–ah.” Puji Ibunya, meninggalkan kecupan di kening gadis itu. “Apa yang kau fikirkan?”

Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Eun Ji berpikir; Apa yang kulakukan? Tapi kemudian Ia kembali pantulan dirinya di cermin. Apa yang menggangguku?

“Aku tidak tahu.” Jawab Eun Ji, menyuarakan isi pikirannya. Sungguh, Ia benar-benar tidak tahu apa yang membuatnya seperti ini.

Ia gugup. Hal ini sudah Ia pastikan sejak kemarin. Tapi untuk menatap pantulan dirinya di depan cermin selama satu jam… Apa yang menggangguku? Batinnya lagi.

“Apa yang kau lihat, Eun Ji–ah?”

Suara Ibunya mengalihkan perhatian Eun Ji. Mata gadis itu bertemu dengan mata Ibunya, seakan meminta jawaban dari pertanyaan yang memenuhi pikirannya.

“Beritahu aku apa yang kau lihat, Eun Ji–ah.

Eun Ji kembali menatap cermin di depannya. Kali ini matanya memperhatikan pantulan dirinya dengan saksama. Ia ingin tahu jawaban dari pertanyaannya, Ia ingin tahu apa yang mengganggu dirinya.

“Aku melihat diriku.” Eun Ji mengeluarkan suaranya, matanya mengamati setiap sudut pantulan dirinya. “Dengan gaun putih yang menutupi kakiku dan jatuh menyapu lantai. Aku tak tahu apa yang menggangguku, tapi aku merasa berbeda Bu—”

“Tentu saja kandunganmu, Eun Ji–ah.

Eun Ji mematung di tempatnya. Ia tidak bisa menyalahkan kandungannya, tapi Ia juga tak bisa menyalahkan Ibunya. Ibunya sudah terlalu baik dengan mengizinkannya untuk menikah dengan Myung Soo. Meski dengan alasan janin yang berada di tubuhnya.

“Apa mereka akan menyadarinya?” tanya Eun Ji, matanya terfokus pada bagian perutnya. Usia kandungannya masih terlalu dini untuk diketahui publik, bukan?

Ibunya tersenyum. Eun Ji tidak yakin apa itu pertanda baik atau pertanda buruk, hanya saja ia merasa kehilangan percaya dirinya.

“Jung Eun Ji.” Nyonya Jung menyebut nama putrinya perlahan. Tangannya meraih kedua pundak putrinya yang hanya terbalut kain tipis, kulit putihnya terlihat jelas dalam balutan kain. “Kau putriku satu-satunya yang kelak akan menjadi salah satu Istri dari anak keluarga Kim. Aku tak tahu apa keputusan ini tepat atau tidak—Tapi aku tidak bisa membiarkanmu menghadapi dunia sendirian dengan janin di tubuhmu.

“Jangan pikirkan apapun, jangan pernah mencoba untuk merasa takut dengan komentar orang-orang di luar sana.” Perlahan Nyonya Jung menyentuh pipi Eun Ji, matanya mengamati wajah Eun Ji lekat; matanya, hidungnya, bibirnya, bahkan sampai kedua pipi gadis itu.

“Aku pernah memintamu untuk berhenti mencintainya, dan kau mendengarkanku. Tapi Ia—Kim Myung Soo—mengabaikannya. Ia membuktikan padaku bahwa Ia pantas untuk mendapatkanmu, bahwa Ia pantas menjadi laki-laki pertama yang melihat wajahmu ketika Ia bangun dari tidurnya.

“Dan di sinilah kau; berdiri dengan gaun dan semua aksesorisnya, dengan make up sederhana yang membuatmu tampil lebih cantik. Jika Ayahmu berada di sini, aku yakin Ia akan sangat bahagia melihat Putrinya berhasil menemukan laki-laki yang dicintainya.”

Eun Ji membasahi bibirnya, matanya terasa panas dengan air mata yang mulai memupuk di matanya. Tangannya bergerak dan menyentuh tangan Ibunya. Keduanya larut dalam suasana yang mereka ciptakan.

“Jung Eun Ji.” Panggil Ibunya lagi, bibirnya tertarik membentuk sebuah simpul sederhana tanda kebahagiaannya. “Kelak menjadi Kim Eun Ji, jangan menangis—”

“Aku mencintainya.” Aku Eun Ji di depan Ibunya, tanpa sadar membiarkan air matanya membasahi pipinya.

Nyonya Jung tertawa kecil, menampilkan deretan giginya. “Aku tahu, Eun Ji–ah.” Katanya perlahan. “Jangan pernah mencoba untuk meragukan perasaanmu—cintamu, dan cinta kalian.”

Kali ini Nyonya Jung tersenyum lebar, menarik tubuh Eun Ji ke dalam pelukannya.

“Jangan pernah menyesali segalanya—Jangan pernah takut dengan kesalahan yang terjadi di masalalu.”

***

Ruang pertemuan—ruang yang menjadi sanksi janji pernikahan Myung Soo dan Eun Ji—mulai dipenuhi tamu undangan. Beberapa di antaranya menggunakan pakain berwarna putih, namun beberapa dari mereka ada yang menggunakan warna palem.

Myung Soo berdiri dengan di atas altar dengan tuxedo putihnya. Menunggu setiap undangan menempati kursi mereka sebelum acara di mulai. Dan ketika suasana mulai tenang, seorang laki-laki berpakaian serba putih datang dan memulai acara.

Selama pembukaan berlangsung, Myung Soo memamerkan senyumnya. Adrenalinnya memacu ketika pembawa acara mengumumkan kedatangan pengantin wanita. Dan tanpa basa-basi, Myung Soo memfokuskan pandangannya tepat di pintu masuk; menunggu gadisnya.

Pintu terbuka dan menunjukkan gadisnya dengan gaun putih. Myung Soo mematung di tempatnya, kehilangan konsentrasi dengan acara yang terus berlanjut. Bahkan hingga Eun Ji berhenti di bawah altar, Myung Soo masih belum menemukan kesadarannya.

“Aku tidak tahu kalau kau akan bereaksi seperti itu.” Bisik Eun Ji seketika, gadis itu tertawa kecil seraya mengambil tempat di sebelah Myung Soo.

Myung Soo masih belum bicara, bahkan sampai pembawa acara meminta keduanya untuk saling bertukar cincin. Ia baru membuka suaranya tepat ketika upacara pembacaan janji di mulai.

“Aku—Kim Myung Soo, bersedia menerima Jung Eun Ji sebagai Istriku,”

“Aku—Jung Eun Ji, bersedia menerima Kim Myung Soo sebagai suamiku,”

“Dalam kondisi sakit dan sehat, dalam keadaan baik dan buruk, berbagi kebahagiaan dan juga kesulitan. Berjanji untuk mencintainya dalam kondisi apapun, mendukung segala mimpinya, untuk tertawa dan menangis bersamanya, dan berbagi mimpi-mimpiku dengannya.”

Myung Soo menarik napasnya dalam-dalam, menyelesaikan janji keduanya bersama-sama. Ia menarik bibirnya, senyumnya melebar ketika Eun Ji menatapnya penuh penantian; menunggu Myung Soo mengatakan janjinya.

“Dan berjanji untuk berada di sisinya, sesulit apapun rintangan yang akan kuhadapi. Menjaga perasaannya, hatinya, cintanya—semua mengenai dirinya.” Myung Soo menatap Eun Ji yakin, suaranya lembut namun tegas.

“Aku berjanji untuk mencoba mengalah, mengerti dengan sifat keras kepalanya—yang tidak akan pernah mengubah perasaanku, memeluknya, menggenggam tangannya, menatap kedua matanya, dan mengatakan padanya bahwa Aku miliknya dan Ia milikku.

“Dan untuk yang kesekian kalinya, Aku berjanji akan memberikan tubuhku, hatiku, dan cintaku sejak saat ini sampai waktu memisahkan kami.”

Dan ketika Myung Soo berhenti bicara, Ia bisa melihat genangan air mata di mata Eun Ji. Gadis di depannya menangis—atau lebih tepatnya menahan tangisannya. Bibir gadis itu tertarik membentuk senyuman—yang Myung Soo yakini—dipaksakan.

Gadisnya menangis.

Tepat di hadapannya setelah Ia selesai mengatakan janjinya.

“Dan berjanji,” Eun Ji bersuara, mengucapkan janjinya dengan suara purau yang sedikit bergetar. “Untuk selalu menjadi yang pertama dalam hidupnya; yang pertama Ia lihat setiap kali Ia membuka matanya, yang pertama Ia temukan ketika Ia senang atau sedih, yang pertama menyemangatinya dalam menggapai mimpi-mimpinya.

“Berjanji untuk mengerti sifat kekanak-kanakannya, sifat khawatrinya yang berlebihan, untuk menerimanya dengan jati dirinya, untuk berbagi kebahagiaan yang sesungguhnya. Aku berjanji untuk memberikannya diriku, baik hari ini, esok, atau beberapa tahun yang akan datang.

“Bersedia menerima setiap tatapan dinginnya setiap kali Ia marah. Dan berjanji, tidak akan pernah takut untuk lebih mencintainya sampai nafas tak lagi berhembus.”

***

“—Dan berjanji, tidak akan pernah takut untuk lebih mencintainya sampai nafas tak lagi berhembus.”

Dan janji terakhirku, untuk selalu mengingat janjiku.

Eun Ji tersenyum bangga, merasa puas dengan janji spontan yang keluar dari mulutnya. Sejujurnya Ia tak pernah sempat untuk memikirkan janji pribadinya. Baginya, menjadi Istri Myung Soo sama seperti menyerahkan seluruh bagian hidupnya pada Myung Soo.

Ia tidak perlu janji.

Tidak dengan kata-kata yang tidak bisa menjamin kebahagiaannya.

Namun Ia merasa perlu mengatakannya. Membuktikan isi hatinya di depan para undangan—menjadikan mereka sanksi dari isi hatinya.

Myung Soo masih tersenyum ketika Eun Ji menyudahi janjinya. Keduanya kembali hanyut dalam tatapan yang hanya bisa dimengerti keduanya. Tatapan isyarat hati, hasrat, cinta dan kebahagiaan.

Laki-laki di depannya, Kim Myung Soo, mungkin bukan seperti laki-laki yang pernah muncul di mimpi Eun Ji. Myung Soo bukan seorang pangeran yang datang di mimpi Eun Ji ketika gadis itu berusia enam tahun. Bukan juga pendekar tangguh yang menyelamatkan Eun Ji di mimpi gadis itu.

Kim Myung Soo adalah Kim Myung Soo bagi seorang Jung Eun Ji. Kim Myung Soo yang meminjamkan apartemennya untuk Eun Ji, yang hampir membunuh Eun Ji tapi juga menyelamatkannya. Kim Myung Soo yang seperti ini dan seperti itu. Kim Myung Soo, Kim Myung Soo dan Kim Myung Soo.

Eun Ji menggelengkan kepalanya. Mengabaikan memori demi memori yang memutar di pikirannya layaknya kaset yang di putar ulang. Dan tanpa Ia sadari, Myung Soo hanya berjarak beberapa inchi dari tempatnya berdiri.

“Aku tidak ingat kapan terakhir kali menyentuh bibirmu.” Myung Soo menahan dagunya, memaksa kedua mata mereka bertemu. Suaranya perlahan, tidak ingin mengundang kecurigaan.

Eun Ji mendecak dalam sentuhan Myung Soo, gadis itu memutar bola matanya sebelum berbisik. “Aku baru menciummu kemarin malam, Kim Myung Soo.”

Eun Ji menatap Myung Soo tajam, memperhatikan wajah laki-laki itu yang perlahan menujukkan seringainya. Oh ayolah!

Kau tidak akan berani melakukan hal bodoh di depan publik.” Eun Ji mendapati dirinya bersuara, pelan dan tegas. Ia tidak ingin terlihat bodoh, tidak sekarang dan tidak kapanpun. Eun Ji tahu kalau Myung Soo mengerti maksud perkataannya, hanya saja laki-laki itu tak berhenti. Terlalu jauh untuk menghentikan aksi bodohnya.

Myung Soo tersenyum lebar. “Kau tahu aku selalu kehilangan akal ketika bersamamu, Nyonya Kim.” Dan dengan itu Ia mempertemukan bibir keduanya.

Mata Eun Ji membesar, terkejut dengan aksi Myung Soo. Sesungguhnya Ia tahu perihal ciuman di setiap pernikahan. Hanya saja tatapan Myung Soo berbeda—penuh nafsu dan gairah.

Sungguh, jangan biarkan Ia menelanjangiku di hari pernikahanku.

Namun pada kenyataannya, Eun Ji menikmati bibir Myung Soo. Tanpa sadar Ia menutup matanya dan meletakkan kedua tangannya di dada Myung Soo. Bibirnya meraup bibir Myung Soo, hanyut dalam ciuman panas yang diciptakan keduanya. Myung Soo meletakkan tangannya di pinggang Eun Ji, mempererat kontak tubuh mereka.

Dari tempatnya berdiri, Eun Ji bisa mendengar seruan-seruan dari para undangan. Beberapa di antaranya terkejut, dan marah. Tapi Eun Ji tak peduli, yang menjadi pusat perhatiannya saat ini adalah laki-laki di hadapannya; laki-laki yang resmi menjadi pendamping hidupnya.

Keduanya melepaskan ciuman mereka beberapa detik berikutnya. Tersenyum puas dengan napas yang tersenggal-senggal. Keduanya masih sibuk menatap satu sama lain ketika tepuk tangan mulai memenuhi seisi ruangan.

“Kau tahu, kau membuatku merasa seperti pengguna ganja.”

Eun Ji tersenyum, Ia juga merasakan hal yang sama setiap kali bersama Myung Soo. “Kau ganjaku Kim Myung Soo.”

“Aku tahu.” Myung Soo merespon, tangannya membeli pipi Eun Ji perlahan. “Dan aku akan selalu menjadi ganjamu.”

Ganja. Bukan sesuatu yang bagus untuk menyembuhkan, tapi sesuatu yang bagus untuk pemisalan. Eun Ji menyukainya. Tak perlu istilah berlebihan untuk menyadari kebahagiaannya. Ia bahagia. Sangat bahagia dengan ganjanya.

“Dan aku, adalah ganjamu. Selalu ganjamu, Kim Myung Soo.”

***

Jam menunjukkan pukul satu dini hari ketika sebuah mobil hitam berhenti. Mesin mobil dibiarkan menyala, sementara penghuni mobil entah pergi kemana.

Kemudian seorang berseragam hitam memasuki mobil. Dengan kunci yang menggantung di kemudi mobil, mobil mulai berjalan. Meninggalkan tempat pemberhentiannya untuk sekedar mencari tempat pemberhentian lainnya.

Beberapa menit berlalu dan mobil kembali berhenti. Kali ini jelas berhenti dengan mesin yang dimatikan. Laki-laki berseragam keluar dari mobil, berjalan menuju sebuah pintu besar dan menyerahkan kunci mobil. Ia tersenyum pada laki-laki di depannya.

“Terimakasih.” Kata laki-laki di depannya. Ia meraih dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Laki-laki berseragam menerima uang tersebut, mengucapkan ‘selamat malam’ sebelum akhirnya mempersilahkan pelanggannya pergi.

Kim Myung Soo berjalan menuntun Eun Ji menuju kamar keduanya. Perjalanan keduanya masih panjang, tapi keduanya memutuskan untuk bermalam di salah satu hotel. Bagaimanapun juga Eun Ji membutuhkan istirahat yang cukup.

“Tidurlah.” Ujar Myung Soo. Tangannya meraih rambut Eun Ji, menyelipkannya di balik telinga gadis itu.

Kini keduanya berbaring bersebelahan. Salah satu tangan mereka terikat dan saling menggenggam. Myung Soo menatap Eun Ji lama, menyampaikan seluruh perasaannya melalui tatapan. Sementara yang di tatap memejamkan matanya, membiarkan Myung Soo mengaguminya.

“Kau juga butuh tidur.” Seru Eun Ji dengan mata yang terpejam. Gadis itu kehilangan semangatnya setelah pernikahan mereka yang berlangsur lama. “Berhenti menatapiku seperti itu.”

Myung Soo tertawa kecil di tempatnya. Oh sejujurnya, Ia bisa saja menatap Eun Ji setiap saat. “Kau tak tahu apa yang kurasakan setiap kali aku menatapmu, Nyonya Kim.”

“Aku tahu.” Eun Ji membuka matanya. “Karena saat ini aku merasakan apa yang kau rasakan, Tuan Kim.”

“Beritahu aku perasaanmu.”

Eun Ji menarik bibirnya, kemudian mendorong tubuhnya dan meraih bibir Myung Soo. Memberikan sebuah kecupan lembut di sana. “Rasanya sangat beruntung.”

“Beruntung?”

“Ya.” Tanggap Eun Ji. “Tidak ada yang bisa kukatakan mengenai perasaanku. Semuanya terlalu berlebihan—”

“Berlebihan?”

“Aku selalu merasa lebih setiap kali bersamamu, Tuan Kim.”

Myung Soo mengerutkan keningnya. “Apa itu pujian?”

“Tentu saja.” Eun Ji menyentuh wajah Myung Soo. Jemarinya membelai wajah Myung Soo lembut. “Tidak ada kata yang bisa menjelaskan betapa bahagianya aku.”

“Begitu juga denganku.” sahut Myung Soo. “Kau tidak perlu kata untuk menjelaskannya. Tidak juga dengan perbuatan untuk membuktikannya. Kau hanya perlu merasakannya.”

“Aku suka itu, Tuan Kim.” Eun Ji membenarkan posisi tidurnya, menggeser tubuhnya lebih rapat dengan Myung Soo. “Kau tahu, aku selalu suka semua mengenai dirimu.”

Myung Soo melepas genggaman tangannya, menyelipkan salah satu tangannya di bawah tubuh Eun Ji dan memeluk gadis itu. “Aku selalu tahu itu.”

“Lalu bagaimana kau tahu kalau aku bahagia jika aku tidak mengatakannya atau tidak membuktikannya?” tanya Eun Ji, menyandarkan kepalanya di dada Myung Soo.

“Karena aku merasakannya.”

“Apa yang kau rasakan?”

“Kebahagiaanku, Nyonya Kim.”

“Apa itu ada di sini?” Eun Ji meletakan tangannya di atas dada Myung Soo—tepatnya jantung Myung Soo yang berdetak.

Myung Soo tersenyum, mencium puncak kepala Eun Ji. “Kau tahu kebahagiaanku ada di depan mataku.” Katanya dengan tawa kecil. “Di pelukanku.”

“Oh kau terdengar menggelikan, Tuan Kim. Berhenti mengatakan kalimat seperti itu.”

“Sesungguhnya kau tahu betul kalau aku tidak bisa berhenti, Nyonya Kim.”

“Dan kau tahu pasti kalau aku tidak akan menyerah membuatmu berhenti, Tuan Kim.”

“Dan aku percaya kalau kau mencintaiku.”

Eun Ji tersenyum. Tidak ada kata lain selain cinta yang ingin ia dengar dari Myung Soo. Kata itu bagai sihir. “Kau harus percaya.”

***

“Kim Myung Soo, apa ini yang dinamakan happily ever after?”

“Entahlah. Kau percaya?”

Happily ever after?—Oh tidak. Bagaimana denganmu?”

“Sama sepertimu, Nyonya Kim.”

“Beri aku alasan kenapa kau tidak mempercayainya.”

“Eun Ji—ah, bagiku kebahagiaan permanen tidak berlaku di dunia nyata. Semua itu hanya karangan; seperti layang-layang yang dibuat manusia, di yakini bertahan lama meski pada kenyataannya mudah rusak hanya dengan terpaan angin.

“Kebahagiaan, kesedihan, keraguan, perasaan lainnya—bagiku semuanya satu. Merasakan salah satu di antara perasaan itu membuatku merasa tak sempurna; tidak seimbang. Kau membutuhkan perasaan-perasaan itu untuk hidup. Tanpa kehadiran mereka, hidupmu tak lagi sama.”

“Hambar. Apa tebakanku benar, Tuan Kim?”

“Tentu saja. Sekarang berikan aku alasan kenapa kau tidak mempercayainya.”

“Seperti katamu, aku hidup di dunia nyata. Bukan dunia palsu yang kubuat semauku. Dan yang terpenting, bersamamu aku tak membutuhkan kebahagiaan semacam itu.

“Aku bahagia karena aku bernafas di dunia yang sama denganmu—bahkan sekarang aku bernafas di hadapanmu. Aku bahagia karena setiap keributan yang timbul di hidupku, bahagia dengan cara kita bertengkar, mengabaikan, lalu kembali seperti semula.

“Aku bahagia setiap kali aku mengkhawatirkanmu, menangis karenamu, dan tertawa karenamu. Aku bahagia dengan semua hal yang kulalui denganmu. Itu sebabnya aku tak membutuhkan kebahagiaan permanen.”

“Nyonya Kim, apa aku tidak salah dengar?”

“Bagaimana menurutmu, Tuan Kim?”

Myung Soo tertawa kecil, kembali mengeratkan pelukan keduanya. Dengan Eun Ji yang berbaring di dadanya, Ia merasa lebih nyaman. Lebih hidup.

“Kim Myung Soo, Itu caraku merasakan kebahagiaanku.”

***

end of story

4 responses

  1. Ff ini menarik..
    Tapi ada beberapa scene yang membingungkan , tapi masih bisa dipahami thor..
    Mianhae ..
    Aku udah baca dari part 1 – 16 tapi baru komen di part 16 ini :)t

  2. aduh endingnya kurang greget nih, jd pengen ada sequel tp diatas udh ada tulisan no sequel #aduhduhhh tp bagus sih happy end akhirnya mereka bahagia juga 😄
    suka bgt sama tulisanmu ini. myungji lg dong. jd suka couple itu masa :v
    semangat nulis terus yaa, hiatusnya jgn lama2 klo bisa

  3. Yampun astagah akhirnya chapter terakhir keluar!! Aaa kurang greged ni kurang panjang:(((( TAPI SENENG DEH HAPPY ENDING UHUY MYUNGSOO-EUNJI!!!♥♡ bikin lagi cast myungsoo-eunji thor seru bgt:3

  4. Keren2 suka sama cerita ny..
    Sebenar ny mau comment di part sebelum2 ny tapi rasa penasaran aq kambuh jadi comment di part akhir….
    Sorry…
    Jangan lama2 hiatus ny…
    Fighting.!! Buat author ny..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s