History (Chapter 1)

HISTORY.

Genre  : Romance–Mystery.

Rating : NC-17

Cast     : Kim Jong In–Lee Tae Min–other cast as showing.

Hi, please read the note after the story! Thank you and enjoy!

 

Part 1

“Hei Tae Min–ah, ini aku Jong In.” Katanya. Suaranya menyebar memenuhi seisi ruangan. Tak ada oranglain selain Ia di sana. Tanpa penerangan, Jong In membiarkan tubuhnya bersandar pada satu-satunya sofa.

“Dengar, Aku tak bisa menemuimu. Bel pertama baru saja berbunyi, dan aku tidak bisa bertemu dengan Guru Park tanpa tugas bodohnya. Akan kutemui kau setelah pelajaran pertama usai.”

Jong In berbicara dengan cepat, kemudian menutup sambungan kontak suara. Ia menarik nafasnya, merasa lega karena sudah memberitahu.

Tetapi hal lain mengalihkan perhatiannya. Jantungnya berdetak lebih cepat ketika langkah kaki terdengar dari pintu masuk ruangan. Jong In memutar pandangannya, mencari tempat persembunyian yang cocok untuk tubuh besarnya.

“Oh Ayolah.”

Jong In menghentikan langkahnya, memutar kepalanya menuju arah datangnya suara. Ia yakin ia mendengar suara wanita, bukan suara Guru Park yang berusaha membunuhnya.

“Aku tidak harus bercinta dengannya.”

Tanpa penerangan, Jong In tidak bisa mengenali pemilik suara. Selain itu, cara wanita itu menyebut kalimat ‘bercinta’ terdengar asing. Ia tak tahu jika sekolahnya memiliki siswi yang senang bercinta—Kebanyakan dari mereka hanya melakukannya demi melenyapkan status keperawanan, setelahnya tidak ada seks.

“Kau tahu, jika aku melakukan hal ini, maka Ia bisa menjadi lelaki ke sembilan yang masuk sejarah seksku.”

Jong In mengangkat alisnya. Ke sembilan?

Sejujurnya Jong In sendiri bukan tipikal laki-laki yang menyimpan kejantanannya untuk calon istri, Ia lebih memilih menerima kepuasan dari setiap gadis yang datang padanya.

Tapi Ia tak pernah menyangka akan bertemu dengan gadis yang sering bercinta, dan bahkan memiliki sejarah seksnya.

“Kau bercanda.” Kata gadis di depannya, Jong In bisa membayangkan wajah kesal gadis itu. “Sembilan memang bukan angka yang besar untuk laki-laki pencinta tubuh wanita sepertimu, tapi aku—Oh Ayolah!”

Gadis itu berteriak, cukup keras hingga mampu membuat Jong In takut orang-orang di luar ruangan mendengarnya. Sesungguhnya, Ia masih membutuhkan ruangan tersebut untuk mengumpat.

“Dia pasti gila.” Seru gadis itu.

Kali ini suaranya terdengar lebih jelas. Jong In juga dapat merasakan keberadaan gadis itu yang tak jauh dari tempatnya.

“Astaga, Aku bisa gila.”

Jong In tertawa kecil, membayangkan tangan gadis itu menutupi wajahnya, lalu mengacak-acak rambutnya layaknya orang putus asa. Tapi sepertinya Ia melakukan kesalahan, karena detik berikutnya gadis itu berbicara kepadanya. Tepat kepadanya.

“Siapa di sana?” tanyanya cepat. “Aku tahu kau ada di sana. Siapa kau?”

Jong In tak tahu apa yang seharusnya Ia katakan, tapi Ia tetap menjawab pertanyaan gadis itu. “Aku sama sepertimu: aku manusia.” Katanya tanpa berfikir. “Kecuali kalau kau bukan manusia, maka kita tak sama.”

Gadis itu berdecak. Menggunakan instingnya, Jong In bisa merasakan gerak-gerik gadis itu.

“Yang benar saja.” Katanya kesal. Suaranya masih terdengar santai pada kalimat pertama, namun detik berikutnya, gadis itu terdengar seperti maling yang baru menyadari kejahatannya. “Apa yang kau lakukan disini? Sejak kapan kau berada di sini? Kau—kau mendengar perkataanku, bukan? Akui saja. Kau mendengarnya, kan?”

Jika gadis itu mengharapkan Jong In yang ketakutan, maka Ia tidak akan mendapatkannya. Karena takut merupakan hal terakhir yang terpikirkan oleh Jong In.

“Seberapa banyak yang kau dengar?” tanya gadis itu lagi, kali ini terdengar lebih normal di telinga Jong In.

“Tidak banyak.” Jawab Jong In. “Kebanyakan mengenai sejarah seksmu.” Tambahnya memperjelas.

Gadis itu mengerang. Di tempatnya, Jong In bisa merasakan sebuah tubuh yang mengisi ruang kosong di sebelahnya. Jong In mengarahkan pandangannya pada tubuh itu, namun tak mendapat petunjuk apapun mengenai si pemilik tubuh.

“Kau benar-benar terlihat gila.”

Jong In menatap tubuh gadis itu—meskipun sebenarnya tak ada yang bisa terlihat—lalu menutup mulutnya ketika merasakan tatapan tajam dari gadis di sampingnya.

“Apa karena sejarah seksku?” Gadis itu tertawa, tawa pahit seakan mengatakan aku-tak-percaya-ini. “Ayolah, apa terlalu buruk kalau aku tidur dengan delapan laki-laki?”

“Mungkin tidak.” jawab Jong In. Dan yah, mungkin memang tidak seburuk itu. Jong In yakin masih ada wanita lain yang bercinta dengan belasan—atau puluhan laki-laki di luar sana. Beberapa dari mereka bahkan menjual diri mereka.

“Sebenarnya kau ini apa. Pertama kau meledek sejarah seksku, kemudian kau mencoba menghiburku dengan bilang ‘oh itu tidak buruk’. Apa kita benar-benar sama?”

Jong In mematung di tempatnya. Matanya masih berusaha menangkap petunjuk mengenai pemilik tubuh di depannya ketika sebuah tangan menyentuh pipi kirinya.

“Hei, kau benar-benar manusia, kan? Aku tidak sedang bertemu makhluk alien dan semacamnya, bukan?”

Gadis itu memukul pipi Jong In perlahan, seperti memastikan. Jong In tertawa kecil, meraih tangan gadis itu dan membawanya ke dalam genggamannya. Ia bisa mendengar reaksi terkejut dari gadis itu, tapi Ia mengabaikannya. Kini, Ia benar-benar kehilangan akal.

Gadis di depannya pasti benar gila.

“Aku minta maaf soal seksmu.” Jong In mendapati dirinya bersuara. “Ayolah, delapan laki-laki memang terhitung banyak untuk seorang wanita. Tapi itu tidak buruk—maksudku, aku bahkan bisa mendapatkan kepuasan dari dua wanita setiap harinya.”

“Kau bercanda.”

“Oh tidak, laki-laki memang seperti itu.”

“Dua wanita setiap harinya? Ayolah kau pikir kau itu apa? Dewa kepuasan? Kau bahkan bukan Dewa Eros.”

Jong In mengangkat alisnya. Ia yakin seseorang pernah menceritakan sejarah Dewa Eros sebelumnya. Tapi Ia tak yakin jika gadis di depannya tahu sejarah Dewa Cinta Erotis itu. “Kau tahu soal Dewa Eros?”

Gadis itu mengambil jeda sebelum akhirnya berkata, “Aku tidak tahu banyak.”

Suara gadis itu memecah keheningan di antara keduanya. Jong In tak tahu reaksi apa yang harus Ia berikan. Ia yakin pernah mendengar Dewa Eros sebelumnya. Tapi siapa yang memberitahunya?

“Apa yang kau tahu tentang Dewa Eros?” tanya Jong In, berusaha mencarikan ketegangan.

Gadis itu gugup. Jong In bisa merasakan gerakan tak menentu dari tangan gadis itu di genggamannya.

“Aku hanya tahu ceritanya.” Jawabnya. “Terkadang ceritanya bisa terdengar menakjubkan, tapi juga menyedihkan.”

Sebenarnya Jong In tidak tahu apapun mengenai Dewa Eros. Ia hanya yakin seseorang pernah menyebut Dewa itu. Namun jauh dari itu, Ia tidak tahu apapun.

“Apa kau salah satu siswa kutu buku di sini?”

Kalimat itu keluar dengan mudahnya dari mulut Jong In. Ia tak tahu bagaimana gadis itu menilainya, tapi Ia tak peduli. Persetanan dengan penilaian diri, saat ini Ia benar-benar penasaran dengan gadis pemilik tangan di genggamannya.

Gadis itu tertawa kecil. Tanpa menjawab pertanyaan Jong In, Ia menarik tangannya.

Oh, Jong In tahu pasti apa yang difikirkan gadis itu.

Segera saja Ia bangkit dari duduknya, menahan tubuh gadis itu sebelum Ia bisa keluar dari ruangan. Keduanya kembali pada suasana canggung, tak lupa juga jarak yang cukup dekat.

“Kau masih belum menjelaskan dirimu.” Kata Jong In perlahan, memecah kesunyian di antara keduanya. Gadis itu masih belum bersuara beberapa detik berikutnya, namun ketika Ia bersuara, Jong In mendapati dirinya menahan diri untuk tidak memojokkan gadis itu.

“Apa penting jika kau tahu siapa aku?” katanya dalam kegelapan. “Bukanlah lebih baik tidak saling mengenal jika pada akhirnya hanya saling mengabaikan?”

“Kau berfikir aku akan mengabaikanmu.” Jong In bersuara, mempersingkat pernyataan gadis di depannya.

Gadis itu menarik tangannya perlahan. Mengabaikan Jong In yang—entah sejak kapan—mulai tertarik dengan objek yang ditatapnya.

“Kau berfikir aku akan mengabaikanmu?” ulang Jong In, dengan intonasi yang berbeda berusaha menarik perhatian gadis di depannya. Dan ketika gadis itu tak bereaksi, tepat setelah Ia berhasil melepaskan genggaman Jong In, gadis itu beranjak pergi.

Namun gadis itu sepertinya bukan pencinta olahraga karena—lagi—Jong In berhasil menahannya.

Kali ini tertahan sempurna di antara tubuhnya dan dinding di punggungnya.

Jong In bisa merasakan nafas gadis di depannya, menyebar hingga mengenai permukaan kulitnya. Ia memang tidak dapat melihat wajah gadis di depannya, tapi setidaknya dengan posisi mereka, Ia bisa memperkirakan tinggi gadis itu.

“Apa?” tanya gadis di depannya. Jarak wajah keduanya yang terlalu dekat membuat Jong In bisa merasakan deruan nafas yang keluar setiap kali gadis itu bicara.

Jong In mempertajam pernglihatannya, meski yakin gadis di depannya tak bisa menerima tatapan tersebut.

“Kau belum menjawabku.” Ucap Jong In.

Gadis itu menghela napasnya, Jong In bisa tahu kalau gadis itu baru saja membuang muka. “Apa yang harus kujawab? Bukankah sudah jelas?”

Memang. Jong In tahu kalau Ia baru saja di tolak. Tapi, ayolah, ditolak sebelum mengenal wajahnya? Yang benar saja. Ia bukan laki-laki yang menerima penolakan. Tidak dalam kondisi seperti ini.

“Kau tahu, kau baru saja memasuki kandang harimau.”

Jong In tak tahu bagaimana, tapi Ia langsung mengutuk mulutnya setelah kalimat itu Ia katakan. Jika Tae Min tahu Ia bicara seperti itu pada seorang wanita—yang bahkan tidak Ia kenali, Tae Min pasti menghentikan persahabatan mereka.

“Lalu apa?” tanggap gadis di depannya, suaranya ringan disertai tawa hambar yang mengatakan apa-kau-bercanda. “Kau akan memaksaku untuk memberikanmu kepuasan? Memperkosaku di sini?”

“Mungkin.” Terkutuk kau Jong In.

“Oh Ayolah, aku baru saja menolak laki-laki ke sembilan yang disarankan kakakku. Dan kemudian kau memaksaku untuk membiarkanmu menjadi laki-laki ke sembilan? Kau bercanda.”

“Sembilan angka yang bagus.” Sialan kau.

Keduanya bertahan pada posisi yang sama. Bersama keduanya tidak saling mengetahui seperti apa lawan bicara mereka. Tidak tahu sedikitpun tatapan yang diberikan lawan mereka.

Jong In melunak di tempatnya. Matanya masih berusaha mencari petunjuk mengenai gadis misteriusnya ketika Ia menyadari tangannya perlahan bergerak. Sejujurnya Ia ta tahu apa yang mendorongnya. Namun ketika tangannya berhasil menemukan pipi gadis itu, Ia kembali mengutuk dirinya.

“Aku ingin menciummu.”

Terdapat beberapa alasan mengapa Ia tak bisa menguasai tubuhnya. Satu, karena seorang gadis. Dua, karena jarak gadis keduanya yang cukup dekat sehingga hanya perlu sebuah ciuman untuk memulai suatu yang panas. Dan ketiga, karena gadis di hadapannya memiliki laki-laki dalam sejarah seksnya.

Ya, mungkin terdengar gila. Tapi sejarah seks gadis itu membuat Jong In semakin ingin menciumnya.

Jong In tidak lagi bersuara setelah kalimat terakhirnya, melainkan perlahan menghapus jarak keduanya hingga Ia bisa merasakan permukaan bibir gadis di depannya. Jong In belum mencium gadis itu, hanya mendekati bibir keduanya untuk melihat reaksi gadis itu. Dan ketika gadis itu tak bereaksi, Jong In merasa bersalah dengan tindakannya.

Namun tepat ketika Jong In berusaha membuat jarak antar keduanya, gadis itu bergerak.

Bergerak tepat menciumnya.

Tidak ada kata selain terkejut yang dapat menggambarkan perasaan Jong In. Tapi Ia tidak berpikir panjang, segera saja Ia membalas ciuman tersebut. Memojokkan tubuh gadis itu dan memperdalam ciuman keduanya.

Beberapa detik setelahnya Jong In bisa merasakan sepasang tangan yang bertengger di dadanya. Tangan itu bergerak perlahan hingga akhirnya melingkar tepat di lehernya. Jong In memperdalam ciumannya, melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu.

Ciuman keduanya benar-benar panas. Tanpa petunjuk akan wujud lawan jenis di depan mereka, keduanya berciuman tanpa ampun. Jong In sempat terpaku beberapa detik, tapi tak lama ketika lidah gadis itu menyusup masuk ke dalam mulutnya.

Jong In benar-benar kehabisan kata ketika lidah keduanya bertemu. Sejujurnya, Ia bukan pengguna lidah yang baik dalam berciuman. Tapi dengan gadis itu, rasanya Ia adalah rajanya—dan gadis itu ratunya. Dan semua di dunia ini, semua yang menjadi pembatas antar mereka untuk saling mengenal; semua itu fana.

Jong In menarik tubuh gadis itu, menghapus jarak yang tersisa antar tubuh mereka. Gadis itu tak menolak, kegiatannya saat ini hanya beradu lidah, mencium Jong In hingga kehabisan nafas, dan terkadang mengacak-acak rambut Jong In.

Oh aku pasti sudah gila, batin Jong In.

Keduanya berciuman dalam waktu yang cukup lama. Dan ketika nafas keduanya sudah tak bisa bekerja sama, gadis itu lah yang pertama kali menyudahi ciuman keduanya.

Kening keduanya bertemu. Nafas berderu tak karuan. Jong In dan rambutnya yang kini tak terbentuk, dan gadis itu—entahlah, Jong In tak bisa menebak.

“Aku harus pergi.” Katanya perlahan.

Jong In tidak bisa mencerna dengan jelas perkataan gadis itu. Yang Ia dengar hanya suara gadis itu setelah berciuman panas, kemudian nafasnya yang berderu lebih cepat, dan tubuhnya yang masih berada dalam pelukan Jong In.

“Aku harus pergi.” Ulangnya.

Butuh beberapa detik bagi Jong In untuk mengumpulkan kesadarannya. Namun, membiarkan gadis itu pergi merupakan hal terakhir yang ingin di lakukan Jong In setelah ciuman keduanya.

“Hei, aku harus pergi.”

“Aku tahu.” Sahut Jong In cepat. “Apa kita bisa bertemu lagi?”

“Entahlah, aku takut aku tidak bisa.”

Jong In mengangkat alisnya. “Kau bukan salah satu mahasiswa atau guru yang tengah berkunjung ke sekolah ini, kan?”

Gadis itu tertawa, nafasnya tepat beradu dengan nafas Jong In. “Tidak.”

“Kalau begitu siapa kau?”

“Apa hal ini benar-benar penting?”

Jong In berteriak kencang dalam hatinya. Mengungkan segala hal yang ingin Ia sampaikan pada gadis di depannya. Tentang bagaimana Ia merasa penasaran dengan gadis itu, dan tentang ciuman gadis itu yang menyihirnya.

Tapi pada akhirnya, Ia hanya menganggukkan kepala dan berkata. “Ya.”

Tidak ada jawaban dari gadis di hadapannya, tapi Jong In masih bisa merasakan deruan nafas gadis itu. “Aku tidak akan mengomentari fisikmu, kau tahu.” Aku Jong In, meskipun agak sedikit ragu dengan kesungguhan perkataannya.

Namun gadis itu tertawa, tawa kecil pertamanya setelah ciuman keduanya. “Bukan fisik.” Katanya menanggapi perkataan—yang lebih cocok di bilang lelucon—Jong In. “Sebenarnya aku cukup percaya diri dengan fisikku.”

“Lalu apa?” Jong In menyela, mengaktifkan mode anti-kesabaran pada dirinya.

Gadis itu diam sejenak, menghembuskan nafasnya sebelum kembali bicara. “Kuberitahu kau hal terpenting: Aku bukan orang baik.”

Mendengar pengakuan seperti itu rasanya Jong In ingin tertawa. Apa itu bisa disebut pengakuan? Ayolah, Jong In sendiri merasa dirinya bukan orang baik. Orang baik macam apa yang kabur di jam pelajaran dan menyebut guru mereka menyebalkan? Oh sesungguhnya, Jong In tidak seperti Tae Min.

“Ayolah, semua orang memiliki sisi jahat mereka—”

“Bukan seperti itu.” potongnya. “Aku bukan gadis baik yang menerima bunga dan hati dari para lelaki yang ditidurinya, aku bukan gadis yang melakukan sesuatu karena cinta. Aku tidak seperti yang kaufikirkan.”

Jong In terdiam. Ia tidak mengenal gadis di depannya, jadi tak ada alasan baginya untuk menanggapi perkataan gadis tersebut.

“Aku harus pergi—”

“Kita benar-benar tidak akan bertemu lagi.” Potong Jong In. Lebih cepat dari yang diperkirakan.

Gadis itu mengangguk. “Kita anggap ini yang pertama dan terakhir kalinya.”

“Tidak akan ada ciuman kedua, ketiga, keempat, dan lainnya.”

“Tidak, tidak akan ada.”

“Aku tidak akan menjadi lelaki kesembilan dalam sejarah seksmu.”

Kalimat itu membawa tawa ringan dari gadis di hadapannya. Jong In tidak pernah tahu bahwa sejarah seks gadis itu bisa menjadi lelucon. Dan Ia juga tidak pernah tahu bahwa dirinya berharap dapat masuk dalam daftar itu.

Setidaknya tidak sampai keesokan harinya.

“Simpan semua hayalanmu, Tuan-siapa-pun-namamu.”

Sebutan itu membawa senyum kecil untuk Jong In. Ia tersenyum di tempatnya, berusaha menikmati momen-momen terakhir bersama gadis-yang-tak-ingin-dikenal.

“Aku akan menemukanmu.”

Seperti menyuarakan inti dari semua keinginannya, Jong In mendapati dirinya menjanjikan sesuatu pada gadis di depannya. Ia tak yakin bisa, tapi Ia akan berusaha.

“Aku ingat suaramu, aku juga ingat caramu menciumku.” Ucap Jong In, berusaha menyemangati dirinya sendiri. “Akan kutemukan kau.”

“Kau harus mencium semua gadis untuk menemukanku.”

“Akan kulakukan itu.” kata Jong In seraya melepas pelukannya, memberi sedikit jarak antar keduanya sehingga Ia bisa membiarkan gadis itu pergi. “Dan ketika kutemukan kau, akan kupastikan aku tercantum dalam sejarah seksmu.”

“Hanya itu?”

Jong In memamerkan senyumnya, walaupun kenyataannya tak ada yang dapat melihat keseriusan dalam matanya.

“Dan akan kupastikan, aku penutup sejarah seksmu.”

*

tbc

A/N, Rating berdasarkan adegan dan kalimat yang digunakan, there won’t be any details for sex session. Cast lainnya (utama atau sampingan) bisa diketahui di setiap chapternya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s