History (Chapter 2)

HISTORY.

Genre  : Romance–Mystery.

Rating : NC-17

Cast     : Kim Jong In–Lee Tae Min–other cast as showing.

 

Part 2

Hari demi hari berganti secara cepat. Satu hingga dua minggu pun sudah tak terasa lagi. Kesibukan sekolah benar-benar menyita jiwa dan raga Jong In. Tak pernah sedikitpun Ia merasa selelah ini.

Peristiwa dengan gadis misterius pun perlahan memudar, tergantikan dengan tugas-tugas dan kegiatan keseharaiannya.

Tapi Jong In tidak melupakan janjinya.

Terkadang, jika Ia memiliki waktu luang, Ia akan pergi menuju tempat perkumpulan gadis-gadis di sekolahnya. Tidak banyak yang bisa Ia lakukan, hanya menguping dan mencoba mengenali suara yang terdengar bergantian.

Namun sudah beberapa hari ini Jong In tidak melakukan pencariannya. Ia lebih sering melamun dan memikirkan kemungkinan yang Ia miliki untuk menemukan gadis itu, meskipun seringkali Ia merasa gagal.

Hari itu, tepat dua minggu-tiga hari setelah kejadian di ruang persembunyian, Jong In datang ke sekolah berencana untuk mengamati ruang perpustakaan—ruang pertama yang Ia cek sejak kejadian. Dan jika hasilnya nihil, maka mungkin sebaiknya Ia berhenti mencari.

Lagipula apa gunanya menemukan seseorang yang tak ingin ditemukan?

Jong In menggerakkan kakinya secara cepat. Memasuki setiap deretan rak di perpustakaan, kemudian berhenti sejenak ketika melihat gadis-gadis yang tengah membaca atau sekedar melihat-lihat buku. Hanya suara gadis itulah yang menjadi petunjuknya, tapi seiringan waktu, tidak mustahil baginya untuk lupa dengan suara itu, bukan?

“Hei.”

Suara yang berasal dari belakang Jong In berhasil membuatnya terlompat kaget. Ia memutar tubuhnya dan menemukan Tae Min berdiri menatapnya heran.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Jong In menatap sahabatnya, bertanya-tanya apa yang dilakukannya di perpustakaan. Namun ketika matanya menemukan seorang gadis yang tengah membelakangi keduanya, Ia dapat mengerti alasan keberadaan Tae Min.

“Jong In–ah.”

Suara Tae Min mengembalikan kesadaran Jong In. Segera saja Ia memutar otaknya, berusaha mencari alasan yang tepat.

“Aku mencari buku.” Jawabnya beralasan. “Kau fikir apa yang kulakukan di sini.”

Tae Min tertawa, memutar bola matanya sebagai tanda ledekan. “Entahlah. Mencari tempat yang penghuni wanitanya belum pernah kau kencani?”

“Kau gila.” Komentar Jong In. Dengan itu keduanya pun tertawa, sesekali mengatur volume suara mereka.

Tidak ada yang bisa dilakukan Jong In setelahnya. Ia hampir saja berputus asa ketika bayangan ciuman itu kembali bermain di pikirannya. Oh, Ia bisa gila hanya dengan membayangkannya.

Jong In memutuskan untuk bergabung dengan Tae Min, walaupun awalnya menolak. Alasannya sederhana saja: Ia tidak ingin menjadi orang ketiga. Meskipun sejujurnya Ia hanya tak ingin terlihat menyedihkan dengan duduk bersama sahabat dan pacar sahabatnya.

Ketiganya terlibat dalam percakapan yang cukup menarik—sejujurnya tidak bagi Jong In. Mulai dari meledek Jong In yang sedang mencari teman kencan di perpustakaan, hingga bagaimana Tae Min dan pacarnya menasihati Jong In untuk segera menjalin hubungan yang serius. Tapi Jong In tak terlalu memperdulikannya. Ia hanya tidak tertarik dengan kisah cinta yang membuatnya terikat.

“Oh, kau juga harus berhenti berganti-ganti pasangan setiap malamnya.” Saran Tae Min.

Jong In hanya bisa tersenyum di tempatnya, benar-benar tak peduli dengan komentar sahabatnya itu.

Ia dan Tae Min memang terkenal sangat berbeda. Jika Tae Min merupakan sebuah figur calon-suami-idaman, maka Jong In adalah kebalikannya. Keduanya cukup terkenal di lingkungan mereka, tapi tentu saja, dengan alasan yang berbeda.

Tae Min dengan kejantanannya yang tak terkalahkan—tidak dengan seseorang yang terlahir dengan sayap seputih angsa yang melambangkan kelembutannya, sementara Jong In dengan keoptimisannya yang membuat semua wanita merangkak menaiki ranjangnya.

Tae Min dan pacarnya yang selalu menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka, sementara Jong In dan semua koleksi wanitanya.

Tae Min dan segala hal yang bisa di banggakan, sementara Jong In dengan segala hal yang membuatnya terlihat buruk namun juga menarik.

“Kau masih sering berganti pasangan? Astaga, kau memperbesar kemungkinanmu untuk terserang HIV!”

Lagi, Jong In tersenyum. Tae Min dan pacarnya—Son Na Eun, memang selalu memberikan kejutan baginya.

“Terimakasih karena sudah mengingatkan, Na Eun–ah.” Ucap Jong In. “Tapi sudah beberapa hari ini aku tidak melakukan seks.”

Memang benar. Tepatnya dua minggu empat hari setelah seks terakhir yang Ia dapatkan. Alasannya—tentu saja—gadis misterius yang membuatnya kehilangan gairah untuk bercinta.

“Peduli untuk berbagi alasannya, kawan?”

Jong In mengangkat bahunya. Sejujurnya Ia tidak ingin berbagi dengan siapapun, tapi di sisi lain Tae Min berhak tahu. “Kuceritakan kau setelah aku menemukannya.” Katanya memutuskan.

Tae Min mengangkat alisnya, berbagi pandangan bertanya dengan Na Eun yang duduk di sebelahnya. “Sebenarnya apa yang kau cari, Jong In–ah?” tanyanya khawatir.

Sebenarnya Jong In sedang tidak ingin berbagi. Tae Min memang pantas mengetahuinya, tapi tidak sekarang. Tidak ketika Jong In belum mendapatkan petunjuk. Tae Min bisa menyebutnya gila karena mengada-ada cerita.

Jong In menatap sahabatnya, mengira-ngira kemungkinan reaksi yang Ia peroleh jika Tae Min mengetahui ceritanya. Bayangan Tae Min tertawa dan melempar buku ke arahnya muncul dalam benak Jong In, kemudian Tae Min mengatainya ‘gila’, meraih tangan Na Eun lalu beranjak pergi dari perpustakaan, mengabaikan Jong In selama sisa hidupnya.

Tapi tidak, hal itu terlalu berlebihan.

Persetanan dengan reaksi, Jong In pun membuka mulutnya. Ia memulai ceritanya dari pesan suara yang Ia kirim untuk Tae Min. Kemudian menceritakan percakapannya dengan gadis itu. Semuanya termasuk sejarah seks gadis tersebut.

Namun tetap saja, sebuah cerita tidak akan menarik jika pendengarnya mengetahui rahasia cerita tersebut. Di samping semua hal yang diceritannya, Jong In tak menceritakan pengakuan gadis itu pada sahabatnya.

*

Bel terakhir menjadi hal terbaik bagi para siswa, khususnya yanng merasa terbebani dengan kehidupan di sekolah.

Jong In salah satunya.

Ketika bel terakhir berbunyi, sesegera mungkin Ia merapikan semua barangnya. Menjadi yang pertama melangkah keluar dari kelas merupakan hobinya, jadi tak heran jika Ia pergi di tengah-tengah salam.

Biasanya, seusai sekolah Jong In akan pergi menemui Tae Min untuk sekedar mengobrol atau menggoda hubungan sahabatnya itu. Tapi hari ini, Ia memiliki tujuan lain.

Ia berencana mengunjungi perpustakaan dan mengasah pengetahuannya mengenai Dewa Eros—atau Cupid, seperti yang dikatakan Tae Min.

Jong In dapat mengerti beberapa hal tentang Dewa Eros setelah tahu sebutan manusiawi Dewa tersebut. Jadi, Dewa Eros atau yang biasa manusia normal katakan sebagai Cupid, tidak hanya laki-laki dengan panah cinta dan kain putih yang menutupi sebagian tubuhnya.

Dewa dari mitologi Yunani itu memiliki sejarah cinta yang cukup rumit.

Sebelumnya Jong In tak pernah tertarik dengan mitologi Yunani. Baginya, mempelajari sejarah negaranya sudah cukup sulit. Ia tidak ingin memperumit hidupnya dengan semua sejarah di dunia.

Jong In melangkah dengan cepat, mengelilingi setiap rak yang memiliki buku mengenai sejarah Dewa Eros atau Cupid—paling tidak buku mengenai mitologi Yunani. Matanya bergerak lincah dari satu buku ke buku yanglainnya, menatap dengan tajam dan saksama.

Beberapa menit berlalu dan Jong In masih belum menemukan apa pun, hal ini membawanya pada komputer perpustakaan. Tanpa basa basi, Ia membuka setiap folder di komputer tersebut. Terkadang Ia memasukkan kata ‘Yunani’ ‘Dewa Eros’ atau ‘Cupid’ untuk mempermudah pencarian.

Tepat ketika matanya menemukan sesuatu, Jong In merasakan getaran di saku celananya.

Sebenarnya Ia tidak ingin mengalihkan perhatiannya. Namun kemudian Ia berpikir: sebuah pesan tidak mungkin menyita lama waktunya, kan?

Akhirnya pun Ia meraih ponselnya. Membuka kunci ponsel tersebut untuk menemukan sebuah pesan masuk dari Tae Min.

Jong In menekan beberapa tombol di ponselnya, sebelum akhirnya pesan tersebut muncul tepat di layar ponselnya.

Seorang temanku mengundangku ke pestanya. Kau akan ikut atau tidak? Mungkin kau bisa menemukan gadis itu di sana.

Jong In baru saja berfikir untuk menolak tawaran Tae Min ketika sebuah teori melintas dalam fikirannya.

Gadis itu memiliki delapan laki-laki dalam sejarah seksnya. Selain bar, kemana lagi gadis itu akan mencari laki-laki yang mudah di tiduri?

Maka, setelah perdebatan dengan dirinya sendiri, Jong In pun mengambil keputusannya.

Tunggu aku 10 menit lagi.

*

“Kau tidak bilang kalau kita akan bar.”

“Oh Ayolah, tanpa menyebutnya saja aku sudah tahu kalau kau akan ikut.”

Jong In mendesah. Masalahnya bukan bar, tetapi waktu yang Ia habiskan untuk berfikir. Setidaknya, kalau Tae Min berbicara sesuatu tentang bar, Ia tidak harus berfikir lama menerima tawaran tersebut.

“Pada kenyataannya pun aku sempat berfikir untuk menolaknya.” Aku Jong In.

Tae Min tertawa di tempatnya, sesekali meneriakan kekaguman akan sikap Jong In. Pandangannya terfokus pada jalan di depannya ketika Ia bertanya, “Apa yang membuatmu ingin menolaknya?”

“Singkatnya, aku sibuk.” Jong In menatap Tae Min, memasang wajah lelaki-tersibuk. “Aku sedang melakukan pencarian mengenai Dewa Eros ketika pesanmu datang mengacaukan segalanya.”

Tae Min mengangguk perlahan. “Lalu apa yang membuatmu berubah fikiran?”

“Gadis itu.” Jawab Jong In. “Fikirkan saja, dengan delapan laki-laki dalam sejarah seksnya, dimana lagi Ia menemukan kepuasan kalau bukan di tempat yang menyediakan alkohol, kebebasan, dan ruangan untuk bercinta.”

“Wah, Kim Jong In.” Tae Min membuka mulut, memberikan kesan kagum pada sahabatnya. “Aku tak tahu kalau pikiranmu seluas itu.”

Jong In berdecak, mengabaikan Tae Min yang masih mengagum-ngagumkannya. Pandangan Jong In beralih pada jalanan di depannya, sepi dan tersembunyi. Ia tak pernah tahu jika kawasan tersebut memiliki bar.

“Omong-omong, apa yang kau temukan tentang Cupid?”

Jong In menatap sahabatnya, mengingat-ingat kembali beberapa hal yang berhasil di temukannya. “Tidak banyak.” Katanya. “Aku baru membaca halaman pertama ketika kau mengacaukannya.”

“Na Eun pernah memberitahuku suatu hal.” Ucap Tae Min. “Aku tak begitu ingat, tapi aku ingat Ia pernah bilang soal ketenaran Cupid.”

“Ketenaran?”

Tae Min bergumam. Tangannya memutar kendali mobil ke kanan. “Bukan, bukan ketenaran.” Katanya mengoreksi. “Lebih terdengar seperti cerita di balik ketenarannya.”

Jong In mengangkat alis. “Maksudmu sejarahnya?”

“Bisa dikatakan seperti itu. Entahlah—aku tak begitu ingat.” Tae Min berhenti bicara sejenak, berusaha memarkirkan mobilnya dengan benar. “Cupid dan kekasihnya, aku tidak ingat namanya. Kurasa Cupid mengutuk dirinya sendiri dan jatuh cinta pada kekasihnya itu—Peski atau Piske, aku tidak ingat.”

Mobil berhenti setelah beberapa kali di maju mundurkan. Tae Min menatap Jong In sejenak, sementara yang ditatap memiliki pandangan kosong.

“Kau mau turun atau tidak?” tanya Tae Min, mengembalikan Jong In pada dunia nyata.

Jong In tidak perlu berfikir lama. Ketika Tae Min melepas sabuk pengamannya, Ia pun melakukan hal yang sama. Keduanya melangkah bersebelahan melewati beberapa mobil yang terparkir di sana. Sebelum akhirnya memasuki bar yang terlihat seperti pengasingan dari luar.

*

Di setiap zamannya, petua sering mengatakan: Jangan mengomentari sesuatu dari luarnya.

Dan semua itu menjadi kenyataan ketika Jong In melangkahkan kakinya memasuki bar yang tidak-terlihat-seperti-bar.

Jong In sempat mematung di tempatnya. Hampir saja Ia terlihat seperti orang bodoh jika Tae Min tidak memanggilnya. Bar tersebut memiliki properti yang tak biasa. Panggung beserta pengeras suara di setiap sisi, beberapa meja di sudut-sudut, beberapa meja tender, beberapa ruangan VIP, dan bahkan ruang karaoke.

Hal terakhir yang membuat Jong In kagum adalah lantai dansa yang disediakan. Meski tidak jauh berbeda dengan lantai dansa bar lainnya, Jong In tetap tak bisa mengalihkan pandangannya dari tempat itu.

Penerangannyalah yang menarik perhatian Jong In.

Selain lampu atas yang berkedip menerangi puncak kepala setiap pedansa, lantai dansa memiliki lantai yang tidak biasa. Jong In bisa merasakan kehidupan yang bebas dari setiap kedipan lantai dansa yang diinjak.

“Kau mau minum atau apa?” tanya Tae Min, sedikit berteriak menyadari suara musik yang cukup keras.

Jong In tersenyum menyeringai pada temannya, lalu keduanya berjalan menuju salah satu meja tender.

“Temanmu ini, bagaimana caranya menemukan bar sehebat ini?” tanya Jong In setalah keduanya memesan minuman.

“Dia sangat keren.” Tae Min tersenyum, mengucapkan terimakasih ketika pelayan mengantarkan minumannya. “Aku bertemu dengannya seminggu yang lalu—dan Ia benar-benar keren.”

Jong In mengambil gelasnya, meminum sebagian gelas alkohol yang Ia pesan dan berkata, “Kau tidak menceritakannya padaku.” Katanya.

“Kupikir kau sibuk bercinta dengan gadis-gadis.”

Jong In tertawa kecil. “Kau harus memperkenalkannya padaku.”

“Oh aku akan—Itu di sana!” Tae Min menaikkan telunjuknya, mengarahkannya tepat ke belakang tubuh Jong In.

Jong In memutar tubuhnya, mengikuti arah telunjuk dan pandangan Tae Min. Dari tempatnya, Ia bisa melihat seorang gadis yang tengah berbicara dengan seorang laki-laki bertubuh besar. Namun detik berikutnya, Jong In bisa merasakan tatapan gadis itu sebelum akhirnya beralih menatap Tae Min.

“Hei.”

Jong In melirik Tae Min sejenak, lalu beralih pada gadis yang kini melambai ke arahnya. Ia kehilangan ide, tidak tahu harus bersikap seperti apa.

Butuh beberapa menit sebelum akhirnya gadis itu sampai di tempat Jong In dan Tae Min. Dengan penerangan bar yang apa-adanya, Jong In menatap gadis yang kini berdiri di depannya.

Tidak familiar, pikir Jong In pada awalnya.

Gadis itu menatap Tae Min sejenak, kemudian memeluknya seakan-akan keduanya adalah sahabat yang sudah lama terpisahkan. Keduanya bertukar sapa, saling menanyakan kabar masing-masing sebelum akhirnya Tae Min memperkenalkan gadis itu pada Jong In.

“Ini sahabatku, Kim Jong In.” Kata Tae Min pada gadis itu. Kemudian beralih pada sahabatnya. “Jong In, ini gadis yang kuceritakan, Park HyunA.”

HyunA mengulurkan tangannya, menunggu Jong In meraih tangannya. Di tempatnya, Jong In bisa merasakan tatapan HyunA yang sesekali mengarah padanya. Namun dibalik semua itu, Ia—secara jelas—merasakan sesuatu dari tatapan HyunA pada sahabatnya.

“Kalian sedang membicarakanku?” ucap HyunA.

“Ya.” Jong In menjawab, melirik Tae Min yang tengah mengangguk ke arahnya. “Ia baru saja menceritakanku seberapa kerennya dirimu.”

“Benarkah?” kata HyunA, mengalihkan pandangannya pada Tae Min.

Tae Min menjawab pertanyaan HyunA dengan sedikit candaan, sementara Jong In mengamati keduanya. Ia tidak tahu tujuan HyunA mengundang keduanya ke bar, tapi Ia bisa melihat sesuatu dari tatapan gadis itu.

“Jong In–ah, kau tidak akan berkeliling?” Tae Min berteriak dari sisi kirinya, mengalihkan pandangannya dari HyunA.

Jong In mengerjapkan mata, bertanya-tanya arti pertanyaan Tae Min. Kemudian Ia memukul keningnya, teringat dengan tujuannya.

“Kau melupakan sesuatu?” HyunA bertanya, matanya menatap Jong In aneh.

Jong In tersenyum, sedikit malu karena terlihat bodoh. “Tidak.” Jawabnya. “Aku mencari seseorang.”

“Yah, Ia mencari seorang wanita.” Goda Tae Min.

HyunA menyeringai menatap Jong In. Jika saja Tae Min tidak bicara soal wanita, mungkin HyunA tidak akan menatapnya seperti itu. Sungguh memalukan.

Jong In memperhatikan Tae Min dan HyunA yang tertawa karenanya. Ia merasa aneh, tapi sesegera mungkin Ia mengenyahkan perasaan itu. Setelah mengobrol beberapa hal dengan HyunA, Jong In pun mengambil langkah meninggalkan sahabatnya.

Saat itu hanya satu tujuannya: Mencari gadis itu.

*

Tiga puluh menit berikutnya, ketika Jong In gagal menemukan gadis itu, Ia mendapati dirinya menikmati alkohol lebih banyak lagi.

Tae Min dan HyunA sudah jauh dari pandangannya dan Ia tidak peduli. Menatap dua orang itu berbicara dan tertawa dengan setiap lelucon murahan mereka membuat Jong In merasa gelisah.

Jong In tidak akan berfikiran buruk pada Tae Min. Ia sudah mengenal Tae Min kurang lebih empat tahun lamanya. Maka jika sesuatu terlihat aneh, yang harus dicurigai Jong In bukanlah Tae Min, tetapi HyunA.

Setiap tatapannya mengartikan sesuatu. Entah itu kebaikan atau keburukan, Jong In tidak bisa menebaknya.

Untuk beberapa detik, Jong In hanya duduk menikmati setiap gelas yang Ia habiskan. Merasa bawha alkohol adalah satu-satunya pelampiasan dari semua usahanya. Gadis itu tidak ingin ditemukan, apa yang bisa Jong In lakukan?

Tidak ada. Benar-benar tidak ada.

“Kau harus berhenti minum dan mencari kesibukan lain, dude.” Seru seseorang dari sebelahnya.

Jong In memutar kepala, menatap seorang laki-laki bertubuh besar menduduki kursi di sebelahnya. Ia tertawa. “Kau harus mabuk sebelum melakukan hal lainnya.” katanya bangga.

“Kau hanya akan mengacaukannya.” Kata lelaki itu. “Omong-omong, kau datang sendirian?” tanyanya seraya menatap Jong In secara keseluruhan.

“Tidak. Aku datang bersama temanku.” Jong In meneguk minumnya. “Ia pergi beberapa menit yanglalu bersama seorang gadis—entahlah, Ia bilang itu temannya.”

Lelaki itu tertawa di tengah penjelasan Jong In. Ia mengangkat tangannya, lalu menepuk bahu Jong In. “Kau tahu, yang kau butuhkan sekarang ini bukan alkohol, tapi seorang gadis.” Tawanya semakin mengeras. “Kau tunggu saja di sini. Akan kucarikan kau gadis tercantik.”

Jong In membuka mulut, bermaksud menolak tawaran lelaki itu. Tapi tidak sempat karena langkah lelaki itu yang begitu cepat. Ia berjalan menjauh, tubuhnya menghilang di lantai dansa.

Detik berikutnya Jong In menemukan tubuh lelaki itu. Dari tempatnya, Jong In bisa melihat punggung lebar lelaki itu yang menutupi tubuh seorang gadis di depannya. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya lelaki itu berbalik, mengedipkan salah satu matanya ke arah Jong In, kemudian pergi menjauh.

Namun Jong In tidak bisa memperdulikan hal tersebut. Karena ketika lelaki itu berkedip ke arahnya, seorang gadis—tepat seperti yang dijanjikannya—berjalan ke arahnya.

Jong In tahu bahwa gadis itu adalah HyunA, gadis yang dicurigainya. Hanya saja menatap HyunA yang berjalan dengan tatapan tajam ke arahnya seolah menyihirnya. Hilang sudah semua kecurigaan pada gadis itu.

HyunA berjalan mendekatinya. Senyumnya melebar setiap kali matanya bertemu dengan Jong In; Ia juga terkadang tertawa. Dengan latar keramaian, Jong In tidak perlu takut ketahuan Tae Min. Lagipula Ia juga tidak yakin kalau Tae Min masih berada di bar.

Jika Tae Min bisa bersenang-senang karena HyunA. Maka, biarkan Jong In merasakan hal yang sama.

*

tbc

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s