History (Chapter 3)

HISTORY.

Genre  : Romance–Mystery.

Rating : NC-17

Cast     : Kim Jong In–Lee Tae Min–other cast as showing.

 

Part 3

“Kita ketempat terbuka saja!”

Jong In menoleh ke arah gadis yang berjalan di sampingnya. Ia tersenyum menanggapin saran HyunA. Gadis itu suka sekali dengan kebebasan.

Di depan mereka, Tae Min dan Na Eun berjalan berdampingan. Keduanya berhenti dan menatap HyunA ketika gadis itu berteriak.

“Kita bisa ke pantai.” Saran HyunA.

Jong In berdiam diri di tempatnya, memperhatikan HyunA yang sedang tersenyum lebar pada sahabatnya. Mengherankan sekali. Keberadaan HyunA seperti membawa hawa positif di sekitarnya. Gadis itu seperti obat bius atau penenang lainnya. Bersamanya, Jong In bisa merasa lebih santai.

Tae Min menatap Jong In. “Bagaimana menurutmu?”

Jong In mengangguk sekali. “Boleh juga.”

Suara tepuk tangan terdengar dari sebelah Jong In. HyunA tersenyum lebar dengan tangan mengepal ke udara.

Na Eun menggeleng-geleng, sedikit heran dengan sifat kekanak-kanakan HyunA. Tapi gadis itu tetap tersenyum. “Kalau begitu, ayo berangkat.”

Mereka pun berangkat dengan mobil Jong In. Tae Min menyetir, ditemani Na Eun yang duduk di sebelahnya. Sementara Jong In dan HyunA berada di kursi tengah. Keempatnya mengisi perjalanan mereka dengan berbagai topik pembicaraan.

Setelah pertemuan di bar, HyunA—yang ternyata murid baru di sekolah mereka—sering bergabung dan menghabiskan waktu bersama. Jong In tidak keberatan. Senyumnya melebar ketika HyunA pertama kali mendatangi keempatnya dan bertanya. “Apa aku boleh bergabung dengan kalian?”

Sejak saat itulah Jong In sering menghabiskan waktu bersama HyunA. Selain karena Tae Min yang sibuk dengan Na Eun, Ia juga merasa nyaman bersama HyunA. Tidak peduli seberapa kekanak-kanakannya sifat gadis itu ketika mendapatkan sesuatu yang Ia inginkan.

Seminggu berlalu dan di sinilah mereka, di dalam perjalan menuju pantai yang disarankan HyunA. Butuh beberapa menit sebelum akhirnya mobil berhenti di pinggir jalan. Jong In keluar lebih dulu, disusul dengan HyunA, Tae Min dan Na Eun.

Meskipun Jong In berhasil menjadi yang pertama menapakkan kakinya, HyunA lah yang pertama menginjak pasir pantai. Gadis itu berlari kecil di atas pasir dengan tangan yang mengudara. Rambutnya dibiarkan terurai, perlahan berantakan karena hembusan angin.

HyunA menoleh ke belakang, menatap keempat temannya. “Kemarilah!” teriaknya.

Tae Min tertawa, berjalan menuju sisi Na Eun dan mengaitkan tangan keduanya sebelum menyusul HyunA.

Butuh beberapa detik sebelum Jong In memasuki kawasan pantai. Senyumnya mengembang ketika angin pantai bertiup kencang menembus tubuhnya. Ia memutar pandangan, menatap ketiga temannya yang kini bersantai di salah satu gazebo.

“Jong In–ah.” Kata Tae Min ketika Jong In mencapai tempat mereka. “Ayo kita bertaruh, jika HyunA menang melawan Na Eun dalam lomba lari—” Na Eun berdecak. “—Aku akan mentaktir makan malan kita. Tapi jika HyunA kalah, kau yang mentarktir.”

Kening Jong In berkerut memikirkan tawaran Tae Min.

HyunA bergumam. Kemudian berdiri menatap Jong In tegas. “Kau takut? Tenang saja, aku akan menang!” katanya berbangga diri.

Pernyataan HyunA dibalas Tae Min dengan tertawa. Jong In bisa lihat perubahan mood HyunA dari wajah gadis itu, yang semula beteriak kegirangan kini berteriak kesal pada Tae Min.

Oke.” Seru Jong In tiba-tiba, mengalihkan perhatian HyunA yang sedang memukul tubuh Tae Min dengan tangannya.

Mata HyunA membesar, Ia menatap Jong In tak percaya. “Kau setuju?” tanyanya meyakinkan diri. “Kau benar-benar setuju?”

Jong In mengangguk, tersenyum semakin lebar. “Dengan satu syarat.” Katanya. “Kau harus menang.”

“Tentu saja!” HyunA berteriak. Ia meraih tangan Na Eun, berhenti sejenak menatap Jong In. “Aku pasti menang.” Kemudian berjalan menuju garis mulai bersama Na Eun.

*

Jong In menatap kedua gadis yang kini berdiri dengan posisi mereka. Jantungnya berdegup kencang menyadari apa yang akan terjadi. Ia tidak ingin menyaksikan perlombaan ini, tapi Ia juga tidak ingin melewatkannya.

Akan sangat menyenangkan jika HyunA memenangkan perlombaan dan Tae Min dipermalukan.

“Kalian siap?” Tae Min berteriak, tangannya mengarah ke depan sebagai tanda mulai.

Jong In menatap HyunA yang melepas sepatunya. Na Eun juga menatap HyunA, terlihat seperti tatapan yang mengatakan aneh-sekali-dia. Hal ini membuat Jong In sedikit takut. HyunA memang suka bersiap semaunya, tapi tidak seharusnya Ia bersikap seperti itu dalam perlombaan!

“Satu—” Tae Min menggerakkan tangannya ke atas, semakin meninggi seiringan dengan bertambahnya angka yang dihitungnya. “Dua.. Tiga!”

Dan kedua gadis itu pun berlari melawan tiupan angin.

*

“Aku yang terhebat!”

“Kau curang—”

“Akui saja, aku memang yang terhebat.”

“Tidak akan. Seorang pemenang tidak akan berbuat curang.”

“Tapi aku tidak melakukan apapun!”

“Kau melepas sepatumu!”

Teriakan demi teriakan tak berhenti sampai di situ. Jong In memperhatikan keduanya dari gazebo. Na Eun di sebelahnya. Keduanya tersenyum menatap teman mereka yang sedaritadi tak berhenti mempeributkan kemenangan.

“Bukan salahku Na Eun tidak melepas sepatunya!” balas HyunA.

Tae Min berteriak kesal, menatap HyunA tak kalah tajam. “Seharusnya kau memberitahu lawanmu kelemahan berlari di atas pasir!”

“Itu sama saja aku memberitahu kunci kemenanganku!”

Keduanya lanjut berteriak, sama-sama tidak ingin kalah. Sementara Na Eun, yang baru saja dikalahkan, hanya menonton dan tak berkomentar apapun. Gadis itu memang terkenal dengan ketenangannya.

“Jadi,” Na Eun membuka percakapan. Pandangannya masih menatap keributan di depannya. “HyunA berhasil mendapat perhatianmu?”

Jong In mengangkat alis. “Perhatian?” tanyanya bingung.

“Ya.” Na Eun menatap Jong In, tersenyum penuh pecara diri. “Seperti mengalihkanmu dari pencarianmu.”

Tidak juga, batin Jong In. “Kelihatannya memang seperti itu, tapi terkadang aku masih memikirkan gadis tersebut. Kau tahu, menemukannya seperti tantangan untukku.” Katanya sambil tertawa kecil.

“Dan kutebak kau menyukai tantangan.”

Tidak juga, bantin Jong In lagi. Sejujurnya Ia hanya menyukai tantangan dengan bayaran yang seimbang. Dan dalam kasus gadis itu, menemukannya berarti mendapatkannya. Sesuatu yang dianggap setimpal oleh Jong In.

“Sebenarnya kalian berdua terlihat cocok.” Komentar Na Eun tiba-tiba.

Jong In menoleh, menemukan Na Eun yang tidak menatapnya. Ia mengikuti arah pandang gadis itu, memperhatikan Tae Min dan HyunA yang kini saling mengejar.

“Kau bicara seperti itu bukan karena merasa cemburu, kan?” tanya Jong In perlahan. Tidak ingin melukai Na Eun dengan perkataannya.

Na Eun tertawa. “Tidak.” Jawabnya beberapa detik kemudian. “Sungguh, kalian benar-benar cocok.”

“Cocok bagaimana?”

“Entahlah.” Na Eun menghela napasnya. “Aku hanya merasa kalian mampu memahami satu sama lain. Selain itu, aku juga ingin kau menatap ke sekitarmu.”

Jong In membuka mulutnya hendak menyela. Namun gagal mengetahui Na Eun yang senang memotong perkataannya.

“Mungkin kau harus melupakan gadis misterius itu.” Jong In menatap Na Eun, sedikit kecewa dengan saran gadis itu. “Kau harus membuka matamu lebar-lebar dan melihat cinta lain yang tumbuh di sekitarmu.”

“Na Eun–ah, berhenti bermain kata.” Sela Jong In. “Aku tak mengerti.”

Na Eun mengendus dan tertawa. “Intinya, Aku ingin kau membuka hatimu dengan gadis yang nyata.” Katanya. “Jangan hanya menunggu sesuatu yang tak pasti.”

Jong In tidak menjawab. Ia bingung harus menjawab apa.

“Kau tahu, kau hanya hidup sekali di dunia ini.”

*

Keempatnya mengisi kursi kosong di depan mereka. HyunA yang pertama membuka daftar menu, membolak-baliknya penuh antusias.

“Aku harus makan yang banyak.” Katanya.

Tae Min yang tahu pasti arti perkataan HyunA menghela napas. Jika bukan karena kekalahan Na Eun—Tidak, bukan Na Eun yang pantas di salahkan. Jika saja Ia tidak membuat perjanjian bodoh, Ia mungkin tidak harus menghabiskan uangnya untuk Jong In dan HyunA.

Selain HyunA, Jong In merupakan salah satu yang memiliki antusias besar. Oh, menguras dompet Tae Min bisa dikatakan hobinya sejak keduanya bersahabat.

“Na Eun–ah, apa yang kau pesan?” tanya HyunA, memperhatikan Na Eun yang membolak-balik daftar menu.

Na Eun mengatup bibirnya rapat-rapat, membuat gumaman kecil seperti sedang berfikir.

“Bagaimana kalau samakan saja denganku?” tanya HyunA tak sabaran. “Ini—makanan yang kupilih, sepertinya makanan terenak di sini.” Katanya meyakinkan. “Harganya juga lumayan.”

Mendengar kata harga, Jong In bisa merasakan tatapan tajam Tae Min pada gadis di sebelahnya. HyunA mendongak, tersenyum lebar menggoda Tae Min yang kesal karenanya.

“Aku yang pilih makanannya.” Seru Tae Min seketika. Semua mata memandangnya, seolah-olah berkata apa-kau-gila. Tapi dengan santai Ia menjelaskan. “Aku yang bayar, aku yang pilih makanannya.”

Jong In berdecak, menendang kaki Tae Min dari bawah meja. Na Eun hanya tertawa di tempatnya, sementara HyunA, kepalanya terjatuh lemas tepat di atas meja. Tiba-tiba saja kehilangan nafsu makan.

Lima menit kemudian, setelah perdebatan yang cukup panjang, keempatnya pun memanggil seorang pelayan dan memesan makanan mereka. Butuh waktu beberapa menit sebelum akhirya pelayan tersebut kembali ke meja mereka dengan makanan di tangannya.

HyunA meraih makanannya. “Selamat makan.” serunya, lalu menyantap makanan tanpa memperdulikan yanglainnya.

Na Eun dan Tae Min menyusul. Keduanya makan layaknya pasangan kekasih lainnya; terkadang menimati makanan sendiri, suap-menyuapi, atau menyicipi makanan pasangan tanpa izin.

Tidak ada yang bicara untuk beberapa saat. Jong In menikmati makanannya sendiri, membiarkan Na Eun dan Tae Min bertingkah semau mereka. Ia juga membiarkan HyunA menikmati makanannya tanpa bertanya.

“Hei, kalian.” Sahut Tae Min tiba-tiba. “Cobalah tunjukan keharmonisan, tidak usah malu-malu.”

Jong In mendongak menatap Tae Min. Dari sudut matanya, Ia bisa melihat HyunA melakukan hal yang sama. Keduanya mengerjap menatap Tae Min.

“Bersikaplah sedikit berani, Jong In–ah.” Kata Tae Min menatap sahabatnya, lalu beralih pada HyunA. “Kau juga, jangan bersikap malu-malu seperti itu.”

“Apa?”

Jong In menoleh, memperhatikan HyunA dengan wajah kebingungannya.

Tae Min tersenyum lebar. “Ayolah, beritahu aku seberapa jauh perkembangan hubungan kalian.”

“Oh.” Gumam HyunA. Ia meletakkan sendoknya, matanya bertemu dengan Jong In. “Sudah seberapa jauh, ya?” katanya lebih pada dirinya sendiri. “Kau pernah memegang tanganku, tapi kita belum pernah berciuman.” Tambahnya.

Jong In ingin membalas, tapi tiba-tiba saja Ia kehilangan suaranya. Sementara HyunA tersenyum lebar menatap Tae Min dan Na Eun di sebrangnya, Jong In masih mematung di tempatnya.

“Itu yang terjauh.” Katanya kembali menjadi HyunA yang ceria. “Bagaimana dengan kalian? Sudah pernah.. tidur bersama?”

Kali ini giliran Tae Min dan Na Eun yang mematung di tempatnya. Keduanya membuka mulut bersamaan, tapi tak sempat karena HyunA berhasil mendahuluinya.

“Sudah pernah, kan? Wah, kalian memang benar-benar hebat!” Serunya bersemangat. Di raihnya kembali sendok yang Ia tinggalkan, melanjutkan makanannya dengan mata terkagum-kagum.

Tae Min dan Na Eun masih terdiam di tempat mereka, sementara Jong In berusaha melanjutkan makanannya. Ia tidak ingin memikirkan hubungan sahabatnya, meskipun separuh dalam dirinya sedikit penasaran.

Ayolah, Jong In memang tidak tahu apa Na Eun masih menjaga keperawanannya atau Tae Min berhasil merenggutnya atau mungkin laki-laki lain. Selama ini, Ia tidak pernah ikut campur dengan hubungan sahabatnya. Tapi, mendengar HyunA bertanya, Jong In tidak bisa menyingkirkan rasa penasarannya.

“Kalian tidak akan makan?” HyunA bersuara lagi, memecah keheningan. “Jika memang sudah, tidak perlu malu. Dan kalau belum, tidak usah difikirkan. Aku hanya bertanya.”

Tae Min dan Na Eun masih belum berbicara. Keduanya bertatapan sejenak kemudian kembali menatap HyunA. Yang ditatap tak protes, melanjutkan makanan seolah-olah tak ada yang menatapnya. Dalam hati, Jong In tahu bahwa HyunA hanya berusaha bersikap normal.

Namun, ketika HyunA menghela napas, gadis itu menegakkan tubuhnya. Membalas tatapan Tae Min dan Na Eun tanpa ekspresi. Tanpa bersuara, HyunA meraih sumpitnya, mengambil makanan dari piringnya dan menyuapi Na Eun. Tangannya beralih pada Tae Min. Ia melakukan hal yang sama.

Awalnya, tidak ada yang bereaksi. Tapi kemudian HyunA tertawa. Begitupula Tae Min, Na Eun, hingga Jong In—yang tidak mengerti apa-apa—tertawa.

*

Sabtu merupakan kebebasan bagi Jong In. Selain karena pekerjaan sekolah yang menyibukannya, kegiatannya dengan teman-teman juga semakin bertambah. Berawal dari mengobrol santai sampai sekedar jalan bersama, mampu menyita waktu santai Jong In.

Namun, Jong In tidak pernah mengeluh. Ia merasa bersyukur dengan kehadiran teman-temannya.

Hari itu, tepatnya Sabtu, dua minggu setelah HyunA resmi bergabung dengan kelompoknya. Jong In mendapati dirinya duduk di depan komputer. Matanya mengerjap dalam jangka beberapa detik sambil terus membaca artikel di depannya.

Butuh berjam-jam untuk menemukan artikel dengan bahasa termudah. Dan kini, dengan ketenangan mengelilinginya, Jong In ingin bisa mengetahui sejarah di balik Dewa Eros.

Dewa Eros dalam mitologi Yunani merupakan gambaran untuk Cupid atau Amor—dewa cinta erotis—dalam mitologi Romawi. Jong In menarik nafas, lalu membuangnya seraya memperbaiki posisi duduknya. Banyak istilah-istilah yang tidak Ia mengerti mengenai mitologi. Oleh karena itu, butuh waktu yang cukup lama untuk memahaminya.

Sebelumnya, mendengar kata Cupid membuat Jong In berfikir tentang Dewa Cinta yang membawa panahnya kemanapun Ia pergi. Kemudian, Ia akan menargetkan seseorang, dan orang itu akan jatuh cinta.

Pada sejarahnya, Dewa Eros memang digambarkan seperti itu. Hanya saja, yang menarik dari dewa tersebut adalah bagaimana Ia bisa terkenal hanya dengan panah yang dibawanya.

Jong In mendapati dirinya tertarik dengan sejarah itu ketika Ia melihat ilustrasi Eros dan seorang wanita. Dengan lentera di sudut gambar, Eros memeluk wanita tersebut di atas ranjang—tanpa pakaian. Di bawah ilustrasi tertulis ‘Psikhe menjebak Cupid agar dapat mengetahui wujudnya’

Menjebak.

Jika seseorang tak mengerti keseluruhan cerita, mungkin Ia akan berkata; Bagaimana bisa seorang wanita berani menjebak seorang Cupid yang merupakan dewa? Bagaimana bisa Cupid terjebak? Kenapa Cupid merahasiakan wujudnya? Kenapa Psikhe begitu penasaran dengan wujud Cupid?

Jong In pun sempat berfikir hal yang sama. Tapi kemudian Ia kembali mencari sumber lainnya. Sampai akhirnya Ia menemukan kesimpulannya sendiri.

Psikhe tidak menjebak Cupid.

Saudara-saudara Psikhe-lah yang menjebak Psikhe.

Dan Cupid, Ia tidak berhak marah pada Psikhe.

Jam demi jam di habiskan Jong In untuk memahami kisah Cupid dan Psikhe. Dengan sebotol soda di tangan, mata Jong In tak teralihkan sedikitpun.

Hingga fajar terbenam dan matanya mulai melemah. Ia mematikan komputernya. Setidaknya Ia mengetahui sejarah Dewa Eros. Yang kini Ia fikirkan adalah bagaimana caranya mencari gadis itu. Karena, jujur saja, Jong In merasa putus asa.

Gadis itu mengambil sebagian diri Jong In ketika Ia melangkah pergi. Berlebihan memang, tapi seperti itulah menurut Jong In. Ia tidak bisa melalui hari tanpa berfikir seperti apa wujud gadis yang Ia cium.

Seperti Psikhe yang bertanya-tanya seperti apa wujud laki-laki yang bercinta dengannya.

Tapi kemudian bayangan HyunA berkelebat dalam fikirannya. Seakan-akan meyakinkan Jong In bahwa gadis itu tak nyata. Ia-lah yang nyata. Dan Ia-lah yang berhak menjadi pusat perhatian Jong In.

Perkataan Na Eun sebelumnya juga sudah difikirkan Jong In. Mengenai Ia yang melupakan gadis itu dan menatap sekelilingnya. Jong In sadar bahwa yang dimaksud Na Eun saat itu adalah HyunA. Ia tahu kalau Na Eun merasakan sesuatu antar keduanya.

Dan itu tidak salah.

Jong In, bisa dikatakan menyukai HyunA. Terlalu cepat memang. Dengan waktu kurang dari satu bulan, Jong In bisa merasa nyaman bersama gadis itu. Karena sifat kekanak-kanakannnya juga, Jong In bisa merasa lebih santai dan melupakan gadis misteriusnya.

Persetanan dengan gadis ini dan gadis itu, Jong In meyakinkan dirinya. Jika malam ini Ia tidak bertemu dengan gadis itu, maka Ia akan memilih gadis ini.

Dan jika Ia bicara mengenai gadis ini, maka yang dimaksudnya adalah HyunA.

*

“Aku di bar tempat HyunA. Akan kutelfon lagi nanti.”

Suara di sebrang sana berkata ya, kemudian sambungan telfon di matikan. Jong In memasukan ponselnya ke dalam saku celana, melanjutkan jalannya menuju salah satu meja tender.

Ia memesan minuman seperti biasa. Berbicara pada sang bartender seolah-olah ini bukan pertama kalinya mereka bertemu. Sesekali, kepalanya menoleh ke setiap sisi ruangan bar, mencari HyunA.

Sang bartender kembali dengan pesanan Jong In di tangannya. tersenyum lebar dan bertanya. “Sendiri saja?”

“Ya.” jawab Jong In seadanya. “Sebenarnya aku mencari temanku.” Tambahnya sambil mengedipkan salah satu matanya.

Tanpa perlu dijelaskan, sang bartender tahu arti semua itu. Jika bukan teman seks, maka yang dimaksud Jong In adalah teman kencan.

“Sebaiknya kau pergi sekarang, kawan.” Saran sang bartender. “Jangan sampai oranglain merebut temanmu.” Katanya membalas kedipan mata Jong In.

Jong In tidak membalas perkataan bartender itu. Ia menghabiskan seluruh isi gelasnya, lalu meletakkan gelasnya sambil tersenyum lebar ke arah bartender dan berjalan menjauh.

Terakhir kali Ia mengunjungi bar merupakan hari Kamis, yang berarti dua hari yanglalu. Bersama Tae Min dan Na Eun, mereka bertiga memesan sebuah ruang karaoke di bar tersebut dan menghabiskan malam bersama-sama. HyunA mengunjungi mereka beberapa kali, membawa minuman atau sekedar datang untuk mengambil giliran bernyanyi. Selebihnya, gadis itu lebih sering di luar ruangan mengobrol bersama beberapa teman wanitanya atau laki-laki bertubuh besar.

Pada awalnya, Jong In meminta HyunA untuk bergabung dengan mereka. Katanya, berada di luar—bersama orang-orang yang lebih tua dan bertubuh besar—sangat berbahaya. Tidak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi padanya.

Tapi HyunA hanya tersenyum. Menatap Jong In lembut dan berkata. “Mereka teman kakakku, mereka tidak akan berani melukaiku.”

Akhirnya Jong In membiarkan gadis itu. Ia membiarkan HyunA menikmati malamnya sendiri, sementara Ia menikmati malamnya bersama dengan sahabatnya.

Malam ini, setelah bersusah payah mencari gadis misterius, Jong In memutuskan untuk menemui HyunA. Sekedar mengobrol dan menghabiskan waktu bersama.

Jong In berjalan mengitar setiap lantai di bar tersebut. Ia bahkan menyempatkan diri mengintip ke dalam ruangan karaoke dan beberapa ruang VIP. Ia terus menyusuri lorong demi lorong, hingga matanya menemukan HyunA.

Di sana, tepat di salah satu sudut ruangan di lantai tiga—dari tiga lantai. HyunA berdiri membelakanginya. Gadis itu memakai atasan merah dengan leher coak dan celana jeans pendek yang jatuh tepat di atas dengkulnya. Heelsnya memiliki warna yang sama dengan bajunya.

Untuk beberapa detik, Jong In membiarkan dirinya memperhatikan HyunA dari kejauhan. Hingga ketika Ia mulai berjalan mendekat, Ia sadar HyunA tak sendirian di sana. Gadis itu bersama laki-laki bertubuh besar lainnya.

“Kau tidak bisa memerintahku seperti itu!” teriak HyunA.

Jong In masih mematung di tempatnya. Otaknya menguras energi terlalu banyak sampai-sampai tubuhnya tidak dapat bekerja.

“Kakak.” Jong In mendengar HyunA memanggil laki-laki di depannya. Suaranya melembut. “Jika kau menyuruhku melakukan itu, sama saja kau menggandakan tugasku!”

“Tak ada jalan lain!” balas laki-laki tersebut. Suaranya terdengar familiar di telinga Jong In.

“Apanya yang tidak ada.” Kata HyunA. “Seandainya saja Kau percaya padaku, Aku mungkin—sedikitpun—tidak harus bercinta dengan laki-laki itu.”

Jong In membeku di tempatnya. Pengakuan HyunA terdengar seperti kejutan besar baginya. Tapi, siapa laki-laki yang Ia bicarakan?

“Kalau kau terus berleha-leha seperti ini, kita tidak akan mendapatkan pin itu.”

“Tenang saja!” Jong In membayangkan HyunA yang berteriak keras pada Kakaknya. “Kau bisa mengambil tugasku jika dalam waktu seminggu aku tidak masuk kamarnya!”

“Fikirkan juga sahabatnya!”

HyunA tidak langsung menjawab. Jong In tidak bisa membayangkan wajah HyunA dalam suasana sehening ini. Lagipula, sedaritadi Jong In mendengarkan percakapan kedua manusia tersebut tanpa bersembunyi. Sesungguhnya Ia hanya bersandar di lorong, tanpa penerangan, dan mendengarkan.

Jong In melihat HyunA menegakkan tubuhnya. Gadis itu menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya.

“Kakak.” Panggil HyunA lagi. Suaranya melunak dan lebih pelan, tapi Jong In masih mampu mendengarnya.

Jantung Jong In berdegup kencang. Jika bukan karena musik bar yang disetel kencang, mungkin HyunA dan kakaknya bisa mendengar detak jantung Jong In.

Jong In menatap punggung tegap HyunA, menanti gadis itu melanjutkan kalimatnya.

“Target utamaku adalah Lee Tae Min.” Kata HyunA, menatap tajam Kakaknya. “Dan kalaupun seks dibutuhkan dalam tugas ini, maka yang akan kutiduri adalah Lee Tae Min, bukan sahabatnya.”

*

tbc

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s