History (Chapter 4)

HISTORY.

Genre  : Romance–Mystery.

Rating : NC-17

Cast     : Kim Jong In–other cast as showing.

Part 4

Minggu, hari pertama.

Jarum jam bergerak lebih lambat dari yang Jong In kira. Mungkin karena Ia tidak memiliki kegiatan, mungkin juga karena Ia terlalu sering menatap jam.

Hari itu Jong In memang membatalkan semua kegiatan yang sudah dirancangnya. Ia berencana untuk membuat rencana lainnya—rencana menghalangi HyunA.

Pada awalnya, Jong In ingin menghadapi HyunA secara langsung. Bertanya mengenai tujuan gadis itu, sudah sejauh mana rencananya berhasil, dan menyuruh gadis itu berhenti melakukan apapun yang Ia lakukan.

Tapi rencana itu terdengar mustahil mengingat kenalan HyunA yang—sebagian besar—laki-laki bertubuh besar.

*

Senin, hari kedua.

Hari itu Jong In datang ke sekolah, tapi Ia tidak memiliki tujuan untuk berdiam diri di kelas dan belajar sementara HyunA menjalankan rencnanya.

Oleh karena itu, Jong In pun siap dengan rencananya.

Menemui HyunA sepagi mungkin, kemudian membututi gadis itu. Bahkan Jong In berencana menunggu dan mengamati gadis itu, baik ketika Ia pergi ke toilet maupun ketika berada di dalam kelas. Ia tidak boleh kehilangan jejak sedikitpun.

Namun rencananya tidak berjalan sesuai yang Ia inginkan.

Dari pagi, sebelum bel pelajaran pertama berbunyi, HyunA tidak terlihat di lorong. Jong In bahkan mengintip ke beberapa kelas dan tidak menemukan HyunA di sana.

Ia menigirim pesan pada Tae Min, tapi lelaki itu juga tidak tahu.

*

Selasa, hari ketiga.

Sekolah berjalan seperti biasanya. Dan kali ini, Jong In menghadiri setiap kelasnya.

Yang tidak berubah adalah Ia masih menunggu HyunA sebelum bel pertama berbunyi. Tapi gadis itu tetap tidak bisa ditemukan. Tidak ingin melewati kelas, Jong In memilih untuk menemui HyunA ketika jam istirahat atau seusai sekolah.

Tapi sepertinya keberuntungan tidak berada di pihaknya.

Karena kali ini, HyunA tidak datang lagi.

Tidak datang di hari Senin mungkin masih bisa dipahami Jong In. Tapi dua hari berturut-turut tidak hadir menimbulkan sedikit kecurigaan.

Apa terjadi sesuatu pada HyunA? Apa gadis itu sakit? Apa kakaknya menyuruh Ia melakukan sesuatu? Apa rencananya terlalu sulit sehingga Ia tidak memiliki waktu untuk sekolah? Sepenting itukah meniduri Tae Min?

Pertanyaan terakhir membuat Jong In mendegus kesal. Tidak seharusnya Ia berfikiran seperti itu.Tae Min adalah sahabatnya, dan HyunA adalah gadis yang—menurut Jong In, pernah—menarik perhatiannya.

Gadis yang seperti itu tidak seharusnya tidur dengan sahabatnya.

*

Rabu, hari keempat.

Sebelum fajar menunjukkan dirinya, Jong In mendapat kabar bahwa HyunA menghubungi Tae Min.

Jong In kesal. Ia ingin Tae Min menjauhi HyunA tapi Ia tidak ingin memberitahu alasan yang sebenarnya.

Tae Min bisa menyebutnya gila.

Hari itu di sekolah, ketika Jong In bertanya pada Tae Min apa yang HyunA dan dirinya—Tae Min—bahas dalam telfon, Tae Min tidak memberitahunya. Ia hanya berkata bahwa HyunA ingin menyendiri karena suatu alasan, dan alasan itu—alasan yang sangat Jong In tahu merupakan suat kebohongan, Tae Min merahasiakannya.

Setelah itu Jong In berusaha menghubungi HyunA. Beberapa kali percobaan dengan hasil yang sama: ponsel gadis itu mati.

Menerima penolakan yang berulang-ulang membuat Jong In memutuskan untuk mencari gadis itu. Dimana pun tempatnya, Ia harus menemukan HyunA sebelum gadis itu merangkak ke dalam ranjang Tae Min.

*

Kamis, hari kelima.

Dua hari sebelum Sabtu lainnya datang menandakan dua hari untuk mencari HyunA.

Jong In sempat merasa frustasi. Ingin rasanya Ia menyuruh Na Eun untuk menginap di rumah Tae Min dan menyuruh gadis itu tidur di ranjang Tae Min. Menemaninya sampai Sabtu berakhir.

Tapi Ia tidak bisa. Meminta Na Eun melakukan hal itu sama seperti memancing rasa penasaran. Dan ketika seseorang penasaran, maka Jong In harus menceritakan semuanya.

Dan Ia tidak siap.

Ia tidak siap jika kedua sahabatnya mendengar cerita yang tidak masuk akal. Jong In bahkan terkadang berfikir dengan arti percakapan HyunA dengan kakaknya.

Bel terakhir sekolah berbunyi, para siswa berhamburan dari kelas mereka. Hari itu, Jong In menjadi siswa terakhir yang keluar dari kelasnya. Berjalan menuju ruang administrasi dengan kunci mobil di tangannya.

Sudah empat hari HyunA tidak menampakkan dirinya. Gadis itu bahkan tidak memberi kabar. Satu-satunya makhluk di dunia ini yang mengetahui kondisi gadis itu hanya Tae Min.

Tapi Tae Min, dengan kesetiaannya dalam memegang janji, merahasiakannya dari Tae Min.

“Apa yang kau butuhkan di sini, Nak?” tanya seseorang bersuara rendang di sebrang meja. Jong In tidak mengenal lelaki tersebut. Sebelumnya, Ia tidak pernah datang ke ruang administrasi selain untuk mengisi formulir pengajuan Universitas.

Jong In tersenyum. “Aku butuh alamat temanku, sudah empat hari ini Ia tidak datang sekolah.”

Lelaki dengan nametag bertuliskan Han Gyeong Soo membalas senyum Jong In, mengutarakan sesuatu seperti ‘perhatian sekali’ atau ‘baik sekali’—Jong In tidak dengar jelas—sebelum akhirnya menanyakan nama teman Jong In.

“Park HyunA.” Jawab Jong In.

Detik demi detik berlalu, kemudian Tuan Han berhenti menatap komputernya. Menatap Jong In bertanya-tanya. “Apa kau yakin Ia sekolah di sini?”

Jong In menatap Tuan Han heran. “Ya.” jawabnya. “Pindahan baru, kurasa sudah hampir sebulan Ia bersekolah di sini.”

Tuan Han kembali pada komputernya. Tangan kanannya berada pada mouse, semetara tangan kiri berada pada keyboard. Butuh beberapa detik sampai akhirnya lelaki itu kembali berbicara.

“Tidak ada Park HyunA di daftar siswa pindahan.” Kata Tuan Han. “Yang kutemukan adalah Park Hyun Yeong, dan kurasa bukan dia yang kau cari.”

Kening Jong In berkerut. “Benar-benar tidak ada?” tanyanya masih tidak percaya.

Tuan Han mengangguk perlahan. Wajahnya menunjukkan penyesalan. “Aku benar-benar minta maaf tapi Park HyunA bukan siswa sekolah ini.”

Dengan itu Jong In mengucapkan permintaan maafnya dan berterima kasih. Ia melangkah keluar dari lingkungan sekolah menuju mobilnya. Mengendarainya secepat mungkin.

Kali ini, Ia merasa benar-benar di permainkan.

*

Jum’at, hari keenam.

Hanya tersisa satu hari sebelum HyunA menyelesaikan tugasnya.

Sejujurnya Jong In tidak tahu sudah sejauh mana gadis itu bertindak. Tapi yang Ia tahu, HyunA sudah memiliki kepercayaan Tae Min. Hanya perlu menghitung hari—Tidak, jam—sebelum akhirnya Jong In menemukan HyunA dan Tae Min terlelap di atas ranjang yang sama.

Tanpa pakaian. Hanya selimut yang menutupi tubuh telanjang keduanya.

Jong In menggeleng cepat. Membayangkan sahabatnya tidur dengan wanita lain selain Na Eun merupakan hal yang liar. Ia mempercayai Tae Min—tentu saja. HyunA-lah yang tidak bisa dipercayainya.

Kamis kemarin, setelah mendapat keterangan bahwa HyunA bukan siswa asli sekolahnya, Jong In langsung menuju bar tempat keduanya pertama kali bertemu.

Di sana Ia tidak bisa menemukan HyunA. Bahkan Kakak gadis itu, yang ternyata laki-laki yang ditemui Jong In dihari pertamanya memasuki bar, tidak ada di lokasi tersebut.

Fakta tentang kecerdikan keluarga HyunA dalam bersembunyi membuat Jong In semakin curiga. Sebenarnya siapa mereka? Apa tujuan mereka? Dan kenapa harus Tae Min yang menjadi korban mereka?

Jum’at malam, Jong In berencana untuk kembali ke bar. Mungkin saja bintang keberuntungan sedang berada di pihaknya. Kakinya melangkah lebih cepat, menyelusuri setiap sudut ruangan seperti singa yang mengejar mangsanya.

Setiap ruangan kembali Ia telusuri. Bahkan sampai tempat HyunA dan Kakaknya menyendiri pun Ia datangi, sekedar memastikan jika keduanya sedang membicarakan sesuatu lagi. Jong In kembali menelusuri. Sama seperti yang Ia lakukan ketika mencari gadis misteriusnya.

Tapi Ia tidak menemukan apapun.

Tidak ada HyunA ataupun Kakaknya.

Jong In mungkin menemukan beberapa lelaki yang pernah berbicara dengan HyunA, tapi Ia tidak menemukan gadis itu. Ia ingin bertanya. Tapi ide itu Ia pertimbangkan kembali memikirkan konsekuensi yang menunggunya.

Pada akhirnya pun Ia menyerah. Jong In membiarkan dirinya memasuki sebuah ruang karaoke tak berpenghuni, lalu menjatuhkan bokongnya di atas sofa. Ia berada di lantai tiga—lantai dimana semua kejujuran terbuka.

Untuk sesaat, Jong In hanya terdiam dalam posisinya. Ia memikirkan segala kemungkinan mengenai HyunA. Tentang bagaimana gadis itu bisa berada di sekolahnya tanpa menjadi siswa, siapa sebenarnya gadis itu, dan apa yang diinginkannya. Kemudian hal lain terbesit dalam benak Jong In, bagaimana bisa Ia terjebak dalam perangkap gadis itu?

Jong In merasa bodoh memikirkan hal tersebut. Ia memang memiliki keganjalan sejak awal mengenal HyunA. Tapi yang Ia sesali, kenapa Ia bisa begitu cepat menyingkirkan kecurigaannya itu?

Kutukan demi kutukan melesat tak tertahankan dari mulut Jong In. Sedikit nyaman rasanya mengutuk diri sendiri. Karena bagaimanapun, sebagai satu-satunya orang yang mengetahui rencana HyunA, sudah seharusnya Ia menghentikan HyunA.

Jong In baru saja mengutuk HyunA ketika pintu ruang karaoke terbuka.

Penerangan di dalam ruangan memang tak banyak, tapi Jong In masih bisa melihat sosok tubuh yang memasuki ruangan. Tidak seperti ketika Ia bertemu dengan gadis misterius.

Penglihatan Jong In menajam. Kini, sebuah punggung berdiri membelakanginya. Mata Jong In terbelalak. Jika saja penerangannya lebih jelas, Jong In mungkin tidak akan ragu mengenali gadis di depannya.

Gadis itu HyunA.

Setidaknya begitulah menurut Jong In. Di sisi lain, Ia tidak bisa menduga seseorang. Lagi, setidaknya Ia tidak bisa sampai gadis itu bersuara.

Suara yang sangat dikenalnya.

“Tidak bisakah kalian menunggu satu hari lagi? Kupikir aku menjanjikan seminggu.” Katanya pada telfon di telinga kanannya.

“Kalian bisa pergi lebih dulu, aku bisa mengatasi semuanya.” Gadis itu berbalik. Beruntung bagi Jong In, wajah HyunA membuktikan kecurigaannya.

“Setelah mendapatkan pinnya, aku akan kembali secepatnya—Oh tidak, Ga Young akan pergi bersamaku.”

Sementara HyunA memfokuskan diri dengan percakapannya, Jong In memperhatikan gadis itu. Mendetail. Ia tidak ingin melewatkan satupun petunjuk mengenai gadis itu. Beberapa menit berlalu, HyunA masih belum selesai dan gadis itu masih belum menyadari Jong In di sana.

Percakapan HyunA tidak mengejutkan Jong In seperti sebelumnya. Entahlah, mungkin karena Jong In sudah mengetahui rencana gadis itu dan hanya perlu menahannya. Selama percakapan, HyunA tidak pernah menyebut nama Tae Min. Kata-kata seperti pin, pulang, tiket, Ga Young–dan beberapa kata yang tidak dimengerti Jong In—terlontar lebih sering.

“Aku tidak tahu.” Kata HyunA. Jong In menyadari keraguan dalam suara HyunA. “Katakan pada yanglainnya, percayakan saja padaku.”

Jong In terpaku. Apa kini HyunA membicarakan rencananya?

Tiga menit setelahnya, HyunA terbebas dari sambungan telfon. Jong In mendengar gadis itu menarik nafas berat kemudian membuangnya. Ketika, HyunA mengangkat kepalanya, matanya bertemu dengan mata Jong In.

Saat itulah dunia terasa berhenti.

Dan Jong In bisa merasakan detak jantungnya yang jauh dari kata normal.

“Oh sial.” Jong In mendengar HyunA bergumam. Matanya terbelalak menemukan Jong In yang berdiri menatapnya tajam, mengurung gadis itu dengan tatapannya.

Berada dalam suasana tegang—dan canggung—bersama HyunA ternyata lebih buruk dari yang Jong In bayangkan. Tapi Ia tidak ingin mundur. Dengan langkah pertama yang Ia ambil, Jong In bisa melihat HyunA yang bersiap lari.

Tepat ketika HyunA membuka pintu, Jong In mengambil langkah besar. Tangannya menarik pergelangan tangan HyunA hingga gadis itu sedikit terlempar ke belakang, disusul dengan suara pintu yang ditutup paksa.

Kini Jong In berada di depan pintu; menghalangi satu-satunya jalan keluar. HyunA berdiri di tengah ruangan. Salah satu tangan gadis itu berada di pinggang, sementara yanglainnya mengacak rambut. Frustasi.

“Seberapa banyak yang kau dengar?” tanya HyunA memecahkan kesunyian.

“Entahlah.” Jong In memutar otak, berusaha mencari jawaban yang bisa membuat HyunA kalah telak. “Berawal dari rencanamu meniduri Tae Min.”

Oh tidak. Sebenarnya tidak ada percakapan apapun mengenai tidur-meniduri. Hanya saja, Jong In ingin tahu bagaimana reaksi HyunA. Gadis itu mungkin terlihat kekanak-kanakan dari luar, tapi siapa yang bisa menebak akal liciknya?

“Apa?” tanya HyunA. Kedua alisnya terangkat, membentuk keriput di keningnya. “Kau bercanda.”

Jong In tertawa. Ternyata HyunA jauh lebih licik dari perkiraannya. “Apa itu terdengar lucu?” tanyanya setengah-tidak-serius. “Untuk seseorang yang menyamar sebagai siswa sekolahaan, lalu bersikap tidak mencurigakan hanya untuk meniduri seseorang.” Tatapan Jong In menajam, wajahnya jauh lebih serius. “Apa menurutmu itu lucu?”

Tidak ada jawaban langsung dari HyunA. Keduanya hanya bertatapan, seperti mengirim emosi masing-masing. Kemudian HyunA mengambil gerakan, mendekati Jong In tanpa tanda-tanda ketakutan.

“Dengar,” ucap HyunA setelah beberapa langkah. “Aku tidak punya waktu untuk permainan detektifmu ini—”

Oh tentu saja kau sibuk!”

“—Beritahu aku apa saja yang kau dengar!”

Begitu HyunA berteriak padanya, besar keinginan Jong In untuk membalas gadis itu. Namun di sisi lain, Ia tidak mengenal HyunA. Gadis itu terlalu misteri untuk dikenali.

Jadilah Ia menceritakan awal-mula Ia mencurigai HyunA. Berawal dari malam ketika Tae Min memperkenalkan mereka hingga Jong In—tanpa sengaja—menguping pembicaraan HyunA dengan Kakaknya. Dan, tentu saja, kejadian yang baru saja terjadi.

“Apa kau memberitahu oranglain?” HyunA memotong cerita Jong In. “Tentang aku, pin, bercinta—Semuanya.” Tambahnya.

“Tidak.”

Jong In menarik nafas. Cerita yang panjang membuatnya kekurangan oksigen, ditambah lagi dengan suara intimidasi HyunA.

“Bagus.” Tanggap HyunA. Gadis itu berbalik membelakangi Jong In. Meraih ponselnya sedikit terburu-buru. Detik berikutnya, gadis itu berusaha menelfon seseorang.

Sejujurnya, Jong In merasa situasi yang Ia alami merupakan kesalahan besar. Mengapa? Yah sederhana saja, karena tidak seharusnya HyunA mengintimidasinya. Gadis itu berbohong. Gadis itu menipu semua orang. Bahkan perasaan Jong In dipermainkan gadis itu. Lalu, bagaimana bisa Ia membiarkan gadis itu mengambil alih kendali?

“Ga Young–ah.” Suara HyunA memenuhi ruangan. “Kita batalkan yang sebelumnya.. Tidak, tidak—sedikit masalah di sini.. Ya, percepat saja.” HyunA berbalik, menatap Jong In tajam. “Kita selesaikan malam ini.”

*

“Begini rencananya.” Ucap HyunA. “Kau akan ke rumahnya, ajak dia keluar selama mungkin. Ga Young akan menyelinap, langsung ke kamarnya—”

“Kalian akan mencuri?” potong Jong In.

Keduanya berada di dalam mobil HyunA—setidaknya itu yang difikirkan Jong In. Sejak sambungan telfon di putuskan, HyunA bersikap memerintah. Jika bukan karena raut gadis itu yang sangat-serius, mungkin Jong In sudah melarikan diri sekarang.

Mobil HyunA terparkir beberapa blok dari rumah Tae Min. Bersiap menjalankan rencana yang tidak dimengerti Jong In.

“Tidak.” Jawab HyunA. “Kami mengambil apa yang menjadi milik kami.” Jelasnya. “Sekarang, diam dan dengarkan.”

Layaknya seekor anjing, Jong In menurut. Ia membiarkan HyunA membicarakan rencana mereka. Atau tidak, rencananya.

“Kau masuk dan cek kondisi di dalam rumah Tae Min. Pastikan semua manusia yang tinggal di sana menjauhi ruangan Tae Min, kemudian ajak Tae Min keluar dari kamar—kalau bisa rumahnya—selama mungkin.” HyunA meraih sesuatu di sakunya. “Gunakan ini untuk berkomunikasi.”

Jong In menatap benda kecil yang diberikan HyunA. Headseat, Jong In tahu betul benda itu. Hanya saja, ini pertama kalinya Ia menggunakan headseat tanpa kabel. Dan dari informasi yang Ia tahu, headseat seperti itu memiliki batas jarak antar pendengar.

“Apa benda ini bekerja dengan jarak sejauh ini?” tanya Jong In, menujuk jarak antar mobil HyunA dengan rumah Tae Min.

HyunA menghela napas. “Tentu saja.” Ucapnya. “Sekarang, angkat bokongmu dan lakukan sesuai perintah!”

*

Jika boleh berkata jujur, sebenarnya Jong In benci diperintah. Terutama oleh seorang wanita yang tidak Ia kenal. Namun di sisi lain, Ia tidak bisa menolak. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika Ia berusaha menolak. HyunA penuh dengan kejutan.

Pada akhirnya, Ia pun melakukan tugasnya. Pertama, mengetuk pintu rumah Tae Min. Nyonya Lee menyambutnya, menyuruhnya masuk sambil tersenyum lebar.

Kedua, Ia mengelilingi setiap lorong rumah Tae Min. Setelah memastikan bahwa sebagian besar anggota keluarga Lee—termasuk Tae Min—berada di ruang utama, Jong In mencari alasan untuk naik ke lantai dua.

Ketiga, Jong In mengecek setiap ruangan di lantai dua. Ia tidak menemukan siapapun di sana. Lalu beralih mengecek setiap ruangan, termasuk kamar Tae Min. Ia tidak menemukan siapapu.

Merasa lega, Ia berkata pada headseatnya. “Tidak ada siapapun.” Bisiknya. “Kurasa aman.”

Yah, Jong In rasa memang aman,

Setidaknya semuanya terasa aman sampai suara langkah kaki mengagetkannya. Dan suara itu, berasal dari kamar Tae Min.

Jong In baru saja hendak memberitahu HyunA ketika gadis itu lebih dulu bersuara. “Aku tahu apa yang kau fikirkan.” Suara HyunA terdengar jelas. “Itu Ga Young, dia melakukan tugasnya.”

Mendapat penjelasan dari HyunA membuat Jong In sedikit merasa lega. Meskipun sebenarnya Ia jauh merasa bersalah pada Tae Min. Oh ayolah, menyusup masuk ke dalam rumah sahabat sendiri? Tentu saja bukan sesuatu yang keren.

Setelah memastikan lokasi yang aman, Jong In kembali pada lantai dasar. Ia menemukan Tae Min dan keluarnya asik berargumen. Sesuatu yang semakin membuat Jong In merasa bersalah.

Jong In hendak bergabung ketika suara HyunA terdengar. Kali ini gadis itu memintanya untuk keluar dari rumah Tae Min.

Tanpa berfikir, Jong In menurutinya.

*

tbc

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s